pbl 30 cila sk2

Download Pbl 30 Cila sk2

Post on 22-Dec-2015

6 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

nvgyhbjk

TRANSCRIPT

Pembunuhan Anak Sendiri

Priscila Ratna Suprapto*NIM : 1020102626 Desember 2013Mahasiswa Fakultas kedokteran UKRIDA PendahuluanSesosok mayat bayi lahir ditemukan di suatu tempat sampah. Masyarakat melaporkannya kepada polisi. Mereka juga melaporkan bahwa semalam melihat seorang perempuan yang menghentikan mobilnya didekat tempat sampah tersebut dan berada disana cukup lama. Seorang dari anggota masyarakat sempat mencatat nomor mobil perempuan tersebut.Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai dokter direktur rumah sakit. Polisi juga mengatakan bahwa sebentar lagi si perempuan yang dicurigai sebagai pelakunya akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Anda harus mengatur segalanya agar semua pemeriksaan dapat berjalan dengan baik dan akan membriefing para dokter yang akan menjadi pemeriksa.

*Alamat KorespodensiPriscila Ratna SupraptoFakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510.No. Telp (021-8476756) email: cila.cipuk@gmail.com

Aspek HukumPasal 341 KUHPSeorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama sesudah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak, dihukum, karena makar mati terhadap anak, dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun.Pasal 342 KUHPSeorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambilnya sebab takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan melahirkan anak, menghilangkan jiwa anaknya itu pada ketika dilahirkan atau tidak lama kemudian daripada itu, dihukum karena pembunuhan anak yang direncanakan dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun.Pasal 343 KUHPBagi orang lain yang turut campur dalam kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dianggap kejahatan itu sebagai makat mati atau pembunuhan. Pasal 181 KUHPBarang siapa mengubur, menyembunyikan, mengangkut, atau menghilangkan mayat dengan maksud hendak menyembunyikan kematian atau kelahiran orang itu, dihukum penjara selama-lamanya 9 bulan atau denda sebanyak-banyaknya 4500 rupiah.Pasal 304 KUHPBarang siapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan, sedang ia wajib memberi kehidupan perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut perjanjian, dihukum penjara selama 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah.Pasal 305 KUHPBarang siapa menaruhkan anak yang dibawah umur 7 tahun di suatu tempat supaya dipungut oleh orang lain, atau dengan maksud akan terbebas dari pada pemeliharaan anak itu, meninggalkannya, dihukum penjara sebanyak-banyaknya 5 tahun 6 bulan.Pasal 306 KUHP(1) Kalau salah satu perbuatan yang diterangkan dalam pasal 304 dan 305 itu menyebabkan luka berat, maka di tersalah dihukum penjara selama-lamanya 7 tahun 6 bulan(2) Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang lain mati, si tersalah itu dihukum penjara selama-lamanya 9 tahun.Pasal 307 KUHPKalau si tersalah karena kejahatan yang diterangkan dalam pasal 305 adalah bapak atau ibu dari anak itu, maka baginya hukuman yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 dapat ditambah dengan sepertiganyaPasal 308 KUHPKalau ibu menaruh anaknya di suatu tempat supaya dipungut oleh orang lain tidak lama sesudah anak itu dilahirkan oleh karena takut akan diketahui orang ia melahirkan anak atau dengan maksud akan terbebas dari pemeliharaan anak itu, meninggalkannya, maka hukuman maksimum yang tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi seperduanya.1

Prosedur medikolegalKewajiban dokter dalam membantu peradilan tercantum dalam Pasal 133 KUHAP:(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya.(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehamikan atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.1,2

Tempat Kejadian Perkara (TKP)Tempat kejadian perkara (TKP) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau tempat terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian. Meskipun kelak terbukti bahwa di tempat tersebut tidak pernah terjadi suatu tindak pidana, tempat tersebut tetap disebut sebagai TKP. Disini hanya akan dibicarakan TKP yang berhubungan dengan manusia sebagai korban, seperti kasus penganiayaan, pembunuhan dan kasus kematian mendadak (dengan kecurigaan). Diperlukan atau tidaknya kehadiran dokter di TKP oleh penyidik sangat bergantung pada kasusnya, yang pertimbangannya dapat dilihat dari sudut korbannya, tempat kejadiannya, kejadiannya atau tersangka pelakunya. Peranan dokter di TKP adalah membantu penyidik dalam mengungkap kasus dari sudut kedokteran forensik. Pada dasarnya semua dokter dapat bertindak sebagai pemeriksa di TKP, namun lebih baik bila dokter ahli forensik atau dokter kepolisian. Dasar pemeriksaan adalah hexameter, yaitu menjawab 6 pertanyaan: apa yang terjadi, siapa yang tersangkut, dimana dan kapan terjadi, bagaimana terjadinya dan dengan apa melakukannya, serta mengapa terjadi peristiwa tersebut. Pemeriksaan kedokteran forensik di TKP harus mengikuti ketentuan yang berlaku umum pada penyidikan di TKP, yaitu menjaga agar tidak mengubah keadaan TKP. Semua benda bukti yang ditemukan agar dikirim ke laboratorium setelah sebelumnya diamankan sesuai prosedur. Selanjutnya dokter dapat memberikan pendapatnya dan mendiskusikannya dengan penyidik untuk memperkirakan terjadinya peristiwa dan merencanakan langkah penyidikan lebih lanjut. Bila korban masih hidup maka tindakan yang utama bagi dokter adalah menyelamatkan korban dengan tetap menjaga keutuhan TKP. Bila korban telah mati, tugas dokter adalah menegakkan diagnosis kematian, memperkirakan saat kematian, sebab kematian, cara kematian, menemukan dan mengamankan benda bukti biologis dan medis. Bila perlu dokter dapat melakukan anamnesa dengan saksi-saksi untuk mendapatkan gambaran riwayat medis korban. Beberapa tindakan dapat mempersulit penyidikan, seperti memegang setiap benda di TKP tanpa sarung tangan, mengganggu bercak darah, membuat jejak baru, atau memeriksa sambil merokok. Saat kematian diperkirakan pada saat itu teori tanatologi. Cara kematian memang tidak selalu mudah diperkirakan, sehingga dalam hal ini penyidik menganut azas bahwa segala yang diragukan harus dianggap mengarah adanya tindak pidana lebih dahulu sebelum dapat dibuktikan ketidakbenarannya. Pemeriksaan dimulai dengan membuat foto dan sketsa TKP, termasuk penjelasan mengenai letak dan posisi korban, benda bukti dan interaksi lingkungan. Mayat yang ditemukan dibungkus dengan kantung plastik khusus untuk mayat setelah sebelumnya kedua tangannya di bungkus plastik sebatas pergelangan tangan. Pemeriksaan sidik jari oleh penyidik dapat dilakukan sebelumnya.Bercak darah yang ditemukan di lantai atau di dinding diperiksa dan dinilai apakah berasal dari nadi atau dari vena, jatuh dengan kecepatan (dari tubuh yang bergerak) atau jatuh bebas, kapan saat perlukaannya, dan dihubungkan dengan perkiraan terjadinya peristiwa. 1Benda bukti yang ditemukan dapat berupa pakaian, bercak mani, bercak darah, rambut obat, anak peluru, selongsong peluru, benda yang diduga senjata diamankan dengan memperlakukannya sesuai prosedur, yaitu di'pegang' dengan hati-hati serta dimasukkan ke dalam kantong plastik tanpa meninggalkan jejak sidik jari baru. Benda bukti yang bersifat cair dimasukkan ke dalam tabung reaksi kering. Benda bukti yang berupa bercak kering di atas dasar keras harus dikerok dan dimasukkan ke dalam amplop atau kantong plastik, bercak pada kain diambil seluruhnya atau bila bendanya besar digunting dan dimasukkan ke dalam amplop atau kantung plastik. Benda-benda keras diambil seluruhnya dan dimasukkan ke dalam kantung plastik. Semua benda bukti di atas harus diberi label dengan keterangan tentang jenis benda, lokasi penemuan, saat penemuan dan keterangan lain yang diperlukan. Mayat dan benda bukti biologis/medis, termasuk obat atau racun, dikirim ke Instalasi Kedokteran Forensik atau ke Rumah Sakit Umum setempat untuk pemeriksaan lanjutan. Apabila tidak tersedia sarana pemeriksaan laboratorium forensik, benda bukti dapat dikirim ke Laboratorium Kepolisian atau ke Bagian Kedokteran Forensik. Benda bukti bukan biologis dapat langsung dikirim ke Laboratorium Krimini/Forensik Kepolisian Daerah setempat. Perlengkapan yang sebaiknya dibawa pada saat pemeriksaan di TKP adalah kamera, film berwarna dan hitam-putih (untuk ruangan gelap), lampu kilat, lampu senter, lampu ultra violet, alat tulis, tempat menyimpan benda bukti berupa amplop atau kantong plastik, pinset, skalpel, jarum, tang, kaca pembesar, termometer rektal, termometer ruangan, sarung tangan, kapas, kertas saring serta alat tulis (spidol) untuk memberi label pada benda bukti. 3

Pembunuhan Anak SendiriYang dimaksud dengan pembunuhan anak sendiri menurut undang-undang di Indonesia adalah pembunuhan yang dilakukan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak. 3Terdapat 3 faktor penting pada tindak pidana pembunuhan anak sendiri IbuHanya ibu kandung yang dapat dihukum karena melakukan pembunuhan anak sendiri. Tidak dipersoalkan apakah ia kawin atau tidak. Sedangkan bagi orang lain yang melakukan atau turut membunuh anak tersebut dihukum karena pembunuhan atau pembunuhan berencana, dengan hukuman yang lebih berat, yaitu