paper daskom

Click here to load reader

Post on 05-Dec-2014

111 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain dilingkungannya. Satusatunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain dilingkunganya adalah komunikasi baik secara verbal maupun non verbal (bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh suku bangsa). Keterampilan berbahasa terdiri dari empat aspek, yaitu menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Seorang mahasiswa harus menguasai keempat aspek tersebut agar memiliki keterampilan dalam berkomunikasi. Dengan demikian, pembelajaran keterampilan berkomunikasi tidak hanya menekankan pada teori saja, tetapi mahasiswa dituntut untuk mampu menggunakan bahasa sebagaimana fungsinya, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi. Salah satu aspek berbahasa yang harus dikuasai oleh mahasiswa adalah berbicara, sebab keterampilan berbicara menunjang keterampilan lainnya (Tarigan, 1986:86). Keterampilan ini bukanlah suatu jenis keterampilan yang dapat diwariskan secara turun temurun walaupun pada dasarnya secara alamiah setiap manusia dapat berbicara. Namun, keterampilan berbicara secara formal memerlukan latihan dan pengarahan yang intensif. Stewart dan Kennert Zimmer (Haryadi dan Zamzani, 1997:56) memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan setiap individu maupun

kelompok. Mahasiswa yang mempunyai keterampilan berbicara yang baik, pembicaraannya akan lebih mudah dipahami oleh penyimaknya. Berbicara menunjang keterampilan membaca dan menulis. Menulis dan berbicara mempunyai kesamaan yaitu sebagai kegiatan produksi bahasa dan bersifat menyampaikan informasi. Kemampuan siswa dalam berbicara juga akan

1

bermanfaat dalam kegiatan menyimak dan memahami bacaan. Akan tetapi, masalah yang terjadi di lapangan adalah tidak semua mahasiswa mempunyai kemampuan berbicara yang baik. Oleh sebab itu, pembinaan keterampilan berbicara harus dilakukan sedini mungkin. Pentingnya keterampilan berbicara atau bercerita dalam komunikasi juga diungkapkan oleh Supriyadi (2005:178) bahwa apabila seseorang memiliki keterampilan berbicara yang baik, dia akan memperoleh keuntungan sosial maupun profesional. Keuntungan sosial berkaitan dengan kegiatan interaksi sosial antarindividu. Sedangkan, keuntungan profesional diperoleh sewaktu menggunakan bahasa untuk membuat pertanyaa-pertanyaan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan dan mendeskripsikan. Keterampilan berbahasa lisan tersebut memudahkan mahasiswa berkomunikasi dan mengungkapkan ide atau gagasan kepada orang lain. Keterampilan berbicara harus dikuasai oleh para mahasiswa karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar mahasiswa pada saat kuliah maupun nantinya terjun ke lapangan secara langsung. Keberhasilan belajar mahasiswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar perguruan tinggi sangat ditentukan oleh penguasaan

kemampuan berbicara mereka. Mahasiswa yang tidak mampu berbicara dengan baik dan benar akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Oleh sebab itu maka, pelajaran komunikasi di kalangan kedokteran khususnya kedokteran hewan harus lebih digalakkan lagi agar mahasiswa kedokteran hewan kelak memiliki suatu keterampilan berkomunikasi saat nantinya akan terjun ke masyarakat. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang muncul sebagai berikut : 1. 2. Bagaimana latar belakang dan asal usul dari komunikasi? Seberapa penting komunikasi itu untuk manusia, dan khususnya untuk mahasiswa kedokteran hewan?2

3. 4.

Bagaimana definisi atau istilah dari komunikasi? Berapa model komunikasi yang dipergunakan saat komunikasi ?

1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah sebagai berikut: 1. 2. Untuk dapat memahami latar belakang dan asal usul dari komunikasi. Untuk dapat memahami pentingnya komunikasi untuk manusia, dan khususnya untuk mahasiswa kedokteran hewan. 3. 4. Untuk dapat memahami definisi atau istilah dari komunikasi. Untuk dapat memahami model komunikasi yang dipergunakan saat komunikasi. 1.4 Manfaat Adapun manfaat dari penulisan paper ini adalah sebagai berikut: 1. Melalui paper ini diharapkan kalangan mahasiswa Universitas Udayana, khususnya Kedokteran Hewan memiliki wawasan lebih mengenai dasar komunikasi khususnya mengenai keterampilan berkomunikasi. 2. Hasil tugas ini dapat menjadi arsip yang dapat membantu untuk mengerjakan tugas yang berhubungan dengan dasar komunikasi khususnya mengenai keterampilan berkomunikasi.

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Latar Belakang dan Asal Usul Komunikasi Pada saat ini, dengan membuat tugas ini kami berusaha lebih memperkenalkan mahasiswa kedokteran hewan Universitas Udayana dan praktisi untuk megetahui bagaimana cara memiliki keterampilan

berkomunikasi yang efektif terhadap klien (pemilik) hewan, kolega dan pekerjaan lainnya, dimana semuanya ini akan kita hadapi setiap hari. Pentingnya komunikasi itu diperlukan oleh berbagai profesi, sehingga disini suatu lembaga membuat referensi khusus tentang komunikasi untuk salah satu profesi yaitu profesi kesehatan. Keterampilan yang dibutuhkan agar mencapai kesuksesan saat berkomuikasi yaitu kita harus mengetahui istilah istilah atau kunci yang berkaitan saat komunikasi diantaranya kita harus mengetahui definisi dari komuikasi itu, dimana definisi komunikasi ialah suatu proses pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang dan atau di antara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Definisi tersebut memberikan beberapa pengertian pokok yaitu komunikasi adalah suatu proses mengenai pembentukan, penyampaian, penerimaan dan pengolahan pesan. Selain mengetahui definisi komunikasi untuk memperoleh komunikasi yang sukses, kita juga harus mengetahui beberapa model yang digunakan untuk komunikasi agar bisa terurai dengan jelas dan direlevansikan. Dalam konteks konsultasi hewan, sebuah model melingkar diusulkan karena dianggap berguna, kemampuan untuk dapat mengajukan pertanyaan yang efektif diakui dan ada beberapa pedoman umum yang ditawarkan. Setelah itu, pentingnya mendengarkan saat komunikasi berlangsung merupakan elemen inti dari komunikasi dan yang terakhir pengaruh

lingkungan dan budaya pada proses komunikasi juga dianggap sangat penting.

4

Dalam bidang kesehatan seperti, kedokteran, keperawatan dan fisioterapi, serta pelatihan keterampilan komunikasi merupakan kurikulum tambahan yang relatif baru. Pada tahun 1980 diterbitkan sebuah gagasan yang diidentifikasi dalam sejumlah makalah keperawatan yang berbunyi talking isnt working atau dapat diartikan berbicara itu bukan suatu pekerjaan (Melia 1982). Dan pada saat dikaitkan dengan pemberian obatobatan, ada suatu pandangan bahwa saat terjadinya konsultasi medis sangat sulit untuk mencapai komunikasi yang efektif, walaupun pada saat itu sudah banyak ada tulisan mengenai komunikasi (Roberts et al. 2003). 2.2 Pentingnya Komunikasi "Tidak mungkin untuk tidak berkomunikasi." Pernyataan ini sering digunakan oleh seorang ahli teori komunikasi (Laurent 2000). Komunikasi dapat membantu kita untuk belajar tentang orang lain dan diri kita sendiri dan yang bersangkutan dengan apa yang ditransmisikan, bagaimana itu harus disampaikan dan apa yang menghalangi sehingga semua itu memerlukan proses (Arnold & Underman-Boggs 2007). Telah diingatkan juga bahwa komunikasi interpersonal sangat penting untuk semua orang yang memilki sikap profesional dan peduli terhadap diri sendiri, dan disarankan bahwa banyak masalah yang terkait dengan kurangnya pemahaman antara orang yang bergerak di bidang kesehatan dengan klien dapat dihindari dengan meningkatkan keterampilan berkomunikasi (Ley 1988). Kurangnya

komunikasi yang efektif dapat terlihat seperti adanya keluhan atau pengaduan mengenai kesehatan atau fasilitas kesehatan (Roberts & Bucksey 2007). Komunikasi antara orang yang profesional di bidang kesehatan dan klien yang telah memahami tentang kesehatan bahwa mereka sudah mendapatkan perawatan yang diberikan tersebut, sehingga memiliki pengalaman yang positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam bidang kedokteran dan keperawatan, komunikasi telah lama dilihat sebagai kompetensi inti untuk menjelaskan gejala-gejala pasien, masalah dan kekhawatiran dan, menurut penelitian terbaru, keterampilan klinis yang penting untuk memastikan promosi kesehatan, pengobatan dan5

kepatuhan (Ammentorp et al. 2007). Komunikasi yang efektif sebagian besar dianggap merupakan faktor kunci dalam kepuasan klien, kepatuhan dan pemulihan (Chant et al, 2002;. Rider & Keefer 2006). Pernyataan oleh Faulkner (1998), 'untuk dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang lain adalah mengenali pemahaman mengenai rasa dari semua pasien adalah relevan untuk setiap diskusi tentang pentingnya komunikasi. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika klien terlibat dalam pengambilan keputusan mereka lebih mungkin untuk mematuhi rekomendasi (Rainer et al. 2002). Pernyataan tertulis untuk mahasiswa keperawatan dan kesehatan juga relevan bagi mereka dalam profesi kedokteran hewan. Secara internasional, keterampilan mengajar dan menilai interpersonal dan komunikasi sekarang diterima sebagai komponen integral dari program pendidikan kedokteran dan yang terkait (Rider & Keefer 2006; Roberts et al. 2003). Meskipun meningkatnya kesadaran akan pentingnya komunikasi yang baik dan efektif dalam dunia kesehatan, sebagian besar keluhan pasien masih berhubungan dengan masalah komunikasi (Ammentorp et al 2007.). Kurangnya informasi dan kurangnya respon yang dianggap berada di garis depan dari keluhan tersebut dalam peringkat kepuasan pasien (Ammentorp et al. 2007). Sebagai dokter hewan tentu dituntut untuk dapat melakukan suatu hubungan yang baik dengan klien atau si pemilik pasien. Hubungan tersebut merupakan suatu proses komunikasi. Komunikasi adalah proses pengiriman informasi dari satu pihak kepada pihak lain untuk tujuan tertentu. Komunikasi dikatakan efektif apabila komunikasi yang terjadi menimbulkan arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain (Larry King. 2002). Dalam diagram universal komunikasi tanda panah dari satu sumberpenerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang

6

anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis (Deborah Tannen. 1996). Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk umpan balik. Sehingga nantinya terciptalah hubungan antar individu yang saling berinterkasi (Susanto, Astrid. 1995). Terciptanya hubungan yang baik dapat dipengaruhi oleh efektif tidaknya komunikasi yang terjadi di dalamnya. Komunikasi efektif dalam suatu hubungan tertentu merupakan proses transformasi pesan berupa pengetahuan mengenai kesehatan khusunya kesehatan hewan dari dokter hewan atau sejenisnya kepada klien atau pemilik hewan tersebut, dimana klien mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan dan lebih mengetahui tentang kesehatan. Sehingga nantinya menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pada konteks ini dokter hewan memiliki peran ibaratkan wartawan yang akan melakukan reportase. Sehingga dokter hewan adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam hubungan ini. Antara keterampilan komunikasi dan keterampilan klinis masih menjadi sumber perdebatan (Chant et al, 2002;. Noble & Richardson 2006). Dari semua pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki, pengetahuan dan keterampilan yang menyangkut komunikasi termasuk di antara yang paling penting dan berguna. Melalui komunikasi intrapribadi kita berbicara dengan diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengevaluasi diri sendiri tentang ini dan itu, mempertimbangkan keputusan-keputusan yang akan diambil dan menyiapkan pesan-pesan yang akan kita sampaikan kepada orang lain. Melalui komunikasi antar pribadi kita berinteraksi dengan orang lain, mengenal mereka dan diri kita sendiri, dan mengungkapkan diri sendiri kepada orang lain. Apakah kepada pimpinan, teman sekerja, teman seprofesi, kekasih, atau anggota keluarga, melalui komunikasi antar pribadilah kita

7

membina,

memelihara,

kadang-kadang

merusak

(dan

ada

kalanya

memperbaiki) hubungan pribadi kita. Dalam literatur medis, contoh seorang sentralitas komunikasi diilustrasikan dalam kaitannya dengan perawatan kanker di mana para peneliti memprediksi bahwa ahli onkologi melakukan antara 150.000 sampai 200.000 konsultasi terhadap pasien dan keluarga yang menderita penyakit kanker selama 40 tahun (Noble & Richardson 2006). Sangat penting untuk kita ketahui bahwa penyedia layanan kesehatan dengan mengembangkan kesadaran tentang apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan komunikasi yang efektif. Peneliti sebelumnya dan teoretikus telah berusaha untuk memprediksi keterampilan yang diperlukan untuk komunikasi yang efektif. Menurut MacLeod Clark (1983), yang termasuk komunikasi efektif sebagai berikut : Mengamati dan mendengarkan Memperkuat dan mendorong Mempertanyakan Menanggapi

Dengan demikian, hal tersebut dapat digunakan untuk berkomunikasi lebih dari sekedar ucapan kata-kata tetapi juga pertukaran ide dan informasi antara dua orang atau lebih. Dalam mengembangkan kerangka suatu wawancara medis, maka pentinglah untuk memahami pedoman dalam komunikasi untuk dokter dan mahasiswa kedokteran (Kurtz et al 2003; Silverman et al 1998). Model konsultasi disesuaikan untuk para praktisi di bidang kedokteran hewan dan mahasiswanya (Bab 2). Seperti pada pengobatan manusia, komunikasi dalam konsultasi hewan adalah harus tetap terarah dalam waktu yang terbatas namun terfokus (Arnold & UndermanBoggs 2007). Komunikasi selalu mempunyai efek atau dampak atas satu atau lebih orang yang terlibat dalam tindak komunikasi. Pada setiap tindak komunikasi selalu ada konsekuensi. Sebagai contoh, anda mungkin memperoleh pengetahuan atau belajar bagaimana menganalisis, melakukan sintesis, atau

8

mengevaluasi sesuatu; ini adalah efek atau dampak intelektual atau kognitif. Kedua, anda mungkin memperoleh sikap baru atau mengubah sikap, keyakinan, emosi, dan perasaan anda, ini adalah dampak afektif. Ketiga, anda mungkin memperoleh cara-cara atau gerakan baru seperti cara melemparkan bola atau melukis, selain juga perilaku verbal dan noverbal yang patut, ini adalah dampak atau efek psikomotorik. 2.3 Definisi atau Istilah Komunikasi Komunikasi adalah elemen dasar interaksi antara orang-orang diizinkan manusia dimana

untuk membangun, mengatur dan meningkatkan

kontak dengan lainnya. Ini adalah sarana penyampaian pesan, bagaimana pesan itu disampaikan dan apa faktor penghalangnya. Menurut literatur

mengenai keterampilan komunikasi, jika keterampilan ini adalah sama dengan keterampilan interpersonal dan saya setuju perbedaan keterampilan interpersonal berbeda dari keterampilan sosial (Chant et al.2002). Literatur ini menyarankan istilah yang sering digunakan secara bergantian (Chant et al.2002; Hargie 2007). Proses ini menyampaikan kesulitan dalam

menyajikan definisi secara inklusif. Variasi ini terlihat jelas dalam bidang Sumber Daya Manusia. Dalam era persaingan dalam mencari pekerjaan sekarang ini, banyak perusahaan membutuhkan pekerja yang memiliki keterampilan bersosialisasi dan berkomunikasi yang baik. Komunikasi adalah proses saling memahami dan saling berbagi.

Komunikasi sekarang sebagai sebuah proses yang tidak berawal dan tidak ada akhir (Hargie 2007; Wolvin dan Coakley 1996 ). Dengan demikian, komunikasi itu akan terus berlanjut dan mengalami perubahan karena tidak ada dua interaksi yang sama (Wilson dan Sabee 2003). Proses ini mengalami kesulitan jika tidak berkompeten dalam keterampilan berkomunikasi (Hargie 2007). Menyarankan bahwa kompetensi berkaitan dengan tiga hal yaitu pengetahuan, motivasi dan keterampilan (Hargie 2007). Pada dasarnya, arti kata komunikasi adalah memberikan, mengirimkan, dan menghubungkan (Simpson dan Weiner 2005). Keterampilan

berkomunikasi dikaitkan dengan hasil di mana tujuan dari interaksi ini adalah9

untuk mendapatkan hasil tertentu, seperti umumnya terjadi disaat tatap muka dan konsultasi dengan profesional (McConnell 2004). Terlihat, beberapa literatur yang berkaitan dengan komunikasi menekankan pentingnya pertukaran informasi antara pengirim dan penerima, sementara lainnya pentingnya kesepahaman dan timbal balik (Odell 1996). Hargie (2007) kemampuan berkomunikasi sudah dimiliki sejak usia dini sebagai kinerja terampil dan memandang keterampilan komunikasi interpersonal. Hargie menyamakan perolehan keterampilan komunikasi dalam cara yang sama seperti keterampilan motorik kasar atau halus. Mengingat bahwa unsur-unsur dasar sosial untuk tingkat yang lebih besar atau lebih kecil dari bayi. Dalam mencoba untuk membedakan antara interaksi sosial dan komunikasi interpersonal, Hargie (2007) berdasarkan Penelitian sebelumnya dan menegaskan bahwa tiga unsur kesamaan dengan keterampilan sosial dan keterampilan lainnya. Dia menyebutkan enam elemen dasar diidentifikasi oleh studi (Michelson et al.2007) sebelumnya sebagai pusat untuk akuisisi keterampilan sosial: 1) Tingkat pendidikan 2) Gabungan dari perilaku verbal dan non verbal 3) Memerlukan inisiasi yang tepat dan tanggapan 4) Memaksimalkan manfaat lainnya yang tersedia 5) Memerlukan waktu yang tepat dan kontrol perilaku tertentu 6) Dipengaruhi oleh faktor kontekstual yang berlaku Berdasarkan Asumsi bahwa elemen ini sangat penting untuk aspek keterampilan, definisi berikut keterampilan sosial adalah (Hargie 2007) sebuah proses di mana individu menerapkan satu set tujuan yang diarahkan, saling terkait, situasional berkaitan dengan perilaku sosial yang dipelajari dan dikendalikan. Dalam rangka untuk menempatkan definisi ini dalam konteks, teoritis komunikasi, diyakini memiliki dasar dalam tiga area, menurut (Arnold dan Underman-Boggs 2007) : 1) Pengetahuan yang mendukung praktek termasuk teori dari psikologis dan manajemen

10

2) Faktor teknis sebagai keterampilan yang digunakan dalam praktek, misalnya keterampilan komunikasi seperti mendengarkan. 3) Komponen kreatif, kontribusi pribadi diri. Keyakinan ini sama dengan prinsip-prinsip yang disarankan oleh Calgray-Cambridge (Kurtz et al.2003), yang secara utuh mendukung asumsi tiga elemen, namun memiliki sedikit perbedaan dengan yang lainnya. Komponen dalam diri dan keterampilan teknis diperlukan dalam memulai wawancara dan membangun hubungan, dan memberikan struktur proses. Pengetahuan elemen yang digunakan dalam mengumpulkan informasi selama pemeriksaan fisik dan dalam menjelaskan dan merencanakan tindakan dan perawatan. Pentingnya elemen kreatif dalam diri untuk menyelesaikan proses komunikasi dan memastikan bahwa klien atau pemilik telah menerima dan memahami pesan yang disampaikan. 2.4 Model Komunikasi Willbur Schramm mengibaratkan komunikasi dengan kampung Bab elh-Dhra pada lebih kurang 5000 tahun silam. Tempat itu dikunjungi oleh setiap musafir karena kandungan air tawar yang dimiliki kampung itu. Demikian pula halnya komunikasi yang telah ditelaah dari berbagai perspektif ilmu (Rakhmat, 1985: 6-7). Model secara sederhana bisa dipahami sebagai representasi suatu fenomena, baik nyata maupun abstrak dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Sebagai suatu gambaran yang sistematis. sebuah model bisa menunjukkan berbagai aspek dari suatu proses. Model komunikasi merupakan alat untuk menjelaskan atau untuk mempermudah penjelasan komunikasi. Dalam pandangan Sereno dan Mortensen (dalam Mulyana. 2001:121), suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Oleh karena itu model bisa disebut sebagai gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori atau penyederhanaan teori. Gordon Wiseman dan Larry Barker (dalam Mulyana, 2001:123) menjelaskan tiga fungsi model komunikasi yaitu melukiskan proses komunikasi, menunjukkan

11

hubungan visual, membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi. Sebelum mempelajari model komunikasi, mari kita pelajari unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi. Unsur-unsur ini terdiri atas pengirim, pesan, dan penerima. Proses komunikasi dimulai dengan adanya pengirim yang mengkodekan ide, perasaan, atau pikirannya kepada pihak lain yang menerima pesan dan mulai memproses isi dari pesan tersebut. Dari berbagai model komunikasi yang sudah ada, di sini akan dibahas dua model paling utama, serta akan dibicarakan pendekatan yang mendasarinya dan bagaimana komunikasi dikonseptualisasikan dalam perkembangannya. 1. Model Komunikasi Linear

Gambar 1.1 Model komunikasi linear (satu arah) Sebuah model digambarkan sebagai sebuah deskripsi atau analogi (perbandingan) yang digunakan untuk membantu memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat langsung diamati (Simpson dan Weiner 2005). Model komunikasi ini dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of

Communication. Gambar 1.1 menggambarkan model ini sebagai proses linear (Grover 2005). Ini menunjukkan pengirim dan penerima melalui suatu saluran yang mana membawa pesan yang dikirim dan diterima. Mereka mendeskripsikan komunikasi sebagai proses linear karena tertarik pada teknologi radio dan telepon dan ingin mengembangkan suatu model yang dapat menjelaskan bagaimana informasi melewati berbagai saluran (channel). Hasilnya adalah konseptualisasi dari komunikasi linear (linear communication model). Pendekatan ini terdiri atas beberapa elemen kunci:

12

sumber (source), pesan (message) dan penerima (receiver). Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima. Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit terhadap partisipanpartisipan dalm proses komunikasi. 2. Model Interaksional Saluran Pengirim Penerima

Pesan

Umpan balik/ Feedback

Gambar 1.2 Model ini merupakan proses lingkaran umpan balik. Pesan dikodekan oleh pengirim dan penerima membaca/ mengartikan kode/ sandi tersebut. Umpan balik merupakan proses dua arah yang sedang berlangsung, seperti yang ditunjukkan oleh anak panah tersebut.

Pesan yang dikirim dalam sebuah konteks tertentu, sering kali terdapat pesan yang tersembunyi atau tidak tersampaikan dalam interaksi verbal (Ellis et al. 2006). Pengirim yang berniat untuk menyampaikan pikiran atau perasaanya, namun pesan yang disampaikan tidak dapat tersampaikan dengan baik dalam interaksi tersebut. Ini penting dalam aspek proses komunikasi (Ellis et al. 2006). Penerima dapat memahami pesan yang dimaksudkan, di luar dari aspek lainnya. Selanjutnya, pengirim dan penerima berinteraksi satu sama lain, dimana terdapat umpan balik dari jawaban yang mereka keluarkan (Ellis et al. 2006). Model sederhana diuraikan dalam Gambar 1.1 dimana terdapat unsur penting dari proses dua arah yang berlangsung pada proses umpan balik tersebut. Upaya telah dilakukan untuk meningkatkan model dengan menambahkan sebuah

13

putaran atau lingkaran umpan balik (Gambar 1.2). Penambahan lingkaran umpan balik dapat mengenali pesan yang tersembunyi yang disampaikan dalam aspek non-verbal. Pesan disandikan/ dikodekan oleh pengirim dan penerima membaca atau mengartikan kode/ sandi tersebut. Dan itu merupakan umpan balik dari sebuah proses dua arah yang sedang berlangsung. Karena itu, pengirim harus mengirimkan pesan secara efektif sehingga penerima dapat menafsirkan atau mengkode pesan tersebut (Grover 2005). Dengan menggunakan sebuah model melingkar untuk

mengilustrasikan, proses komunikasi dapat divisualisasikan sebagai sebuah proses siklus (melingkar) daripada proses linear. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung. Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui pengambilan peran orang lain. Patut dicatat bahwa model ini menempatkan sumber dan penerima mempunyai kedudukan yang sederajat. Satu elemen yang penting bagi model interaksional seperti yang telah dijelaskan di atas adalah umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan. Berikut merupakan model melingkar (Gambar 1.3) yang menggambarkan tujuh tahap proses komunikasi dan menggambarkan bagaimana beberapa dari tahapan tersebut saling mempengaruhi sebagai kesesuaian dari saluran yang dipilih.

14

Termasuk komunikasi non-verbal

1. Pengirim memutuskan untuk mengirim pesan

Pengirim memilih saluran yang tepat

7. Penerima memberi responTingkat pengetahuan atau pemahaman

2. Pesan terkirim

Masalah lingkungan, suara, dan elemen non-verbal

6. Mengingat pesan sebelumnya

3. Pesan sampai ke penerima

5. Umpan balik dimulai

4. Pesan diproses oleh penerima

Tingkat pengetahuan atau pemahaman

Gambar 1.3 Model melingkar dari proses komunikasi. Menyajikan tujuh tahapan dalam proses komunikasi. Menggambarkan bagaimana beberapa dari tahapan tersebut saling mempengaruhi sebagai kesesuaian dari saluran yang dipilih, masalah lingkungan, dan tingkat pengetahuan dan pemahaman dari penerima.

Apa dampak dari melengkapi pesan verbal dengan informasi tertulis atau mengurangi suara dalam lingkungan dimana komunikasi

berlangsung? Dianjurkan untuk memiliki buku panduan yang berisi informasi yang ditulis dengan baik untuk meningkatkan proses komunikasi dimana pemilihan tempat yang tenang yang jauh dari kebisingan juga

15

diperlukan. Sebagai tambahan, jumlah dan ukuran informasi yang disampaikan atau jika penerima memahami informasi, akan menentukan apakah komunikasi berhasil atau tidak. Pemahaman merupakan unsur penting dalam sebuah komunikasi (Odell 1996). Menghindari penggunaan kata-kata yang tidak perlu dan penggunaan kata-kata medis yang tidak umum (tidak dimengerti oleh khalayak umum), penting untuk diperhatikan dan penyediaan waktu untuk pertanyaan dan jawaban juga diperlukan. Model melingkar disajikan dalam Gambar 1.3 yang mengaplikasikan apek verbal dan non-verbal dalam komunikasi, terutama dalam situasi konsultasi bidang veteriner, dimana pesan dikirim dan diterima oleh dokter hewan dan pemilik hewan. Konsep yang diuraikan dalam model Calgary-Cambridge yang pada tahun 2003 model tersebut ditingkatkan apakah kongruen dengan gagasan komunikasi menjadi sebuah proses melingkar, seperti diuraikan dalam gambar 1.3 (Kurtz et al. 2003; Silverman et al. 1998). Lingkaran ini akan dilalui beberapa kali selama proses konsultasi bidang veteriner (kedokteran hewan) berlangsung. Hambatan komunikasi, dan memahami pesan yang sedang dikirim, dapat terjadi pada setiap titik lingkaran tersebut. Beberapa dari ini adalah pilihan saluran, kesesuaian dari isyarat nonverbal, kesadaran lingkungan dan memastikan tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang klien/ pemilik hewan. Dalam sebuah konsultasi bidang veteriner (kedokteran hewan), tahap 1 melibatkan dokter hewan untuk memulai suatu proses. Saluran yang dipilih, kata-kata, dan nada bicara digunakan sebagai tata cara dalam berkonsultasi. Dalam mengembangkan hubungan, proses bergerak ke tahap 2, dimana melibatkan faktor-faktor disekeliling, seperti suara, kenyamanan dan aspek non-verbal dari klien/ pemilik hewan dan dokter hewan. Kemudian masuk ke tahap 3, dimana pengumpulan informasi dimulai. Proses pengumpulan informasi melalui tahapan 4 dan 5, yang akan termasuk pemeriksaan fisik dan kronologi masa lalu hewan yang diingat atau diketahui (tahap 6). Hal ini penting, karena pada tahap ini

16

diperlukan kesepahaman sehingga penjelasan atau pengobatan yang dipilih dapat dipahami. Membangun hubungan yang baik selama proses berlangsung, konsultasi dapat mendatangkan kesimpulan dengan sebuah sesi tanya jawab yang memungkinkan suatu klarifikasi dan siklus dimulai lagi.

17

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Keterampilan berkomunikasi merupakan dimana kita harus bisa berkomunikasi efektif terhadap klien (pemilik), hewan, kolega dan pekerjaan lainnya, dimana semuaya ini akan kita hadapi setiap hari. Keterampilan yang dibutuhkan agar mencapai kesuksesan saat berkomuikasi yaitu harus mengetahui istilah istilah atau kunci yang berkaitan saat komunikasi

diantaranya kita harus mengetahui difinisi, model-model komunikasi, dan yang paling penting kita harus mengetahui asal-asul dari keterampilan berkomunikasi. Komunikasi merupakan suatu ilmu yang sangat penting di berbagai bidang. Sebagai seorang dokter hewan kita dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik, karena nantinya akan di gunakan untuk menjelaskan segala macam situasi medis kepada pasien atau klien yang kebanyakan situasi medis ini belum terlalu populer di kalangan mereka. Maka dari itu, kita diwajibkan untuk mampu menyampaikannya secara efektif, sehingga dapat dengan mudah di mengerti dan di pahami oleh pasien atau klien. Apabila mereka sudah paham terhadap apa yang kita sampaikan secara langsung mereka akan mengikuti petunjuk yang kita berikan sehingga nantinya akan dapat bermanfaat bagi kesehatan mereka. Kemampuan berkomunikasi sudah kita miliki sejak usia dini. Kemampuan dasar ini nantinya akan bertambah luas dipengaruhi oleh lingkungan dan tingkat pendidikan. Dalam berkomunikasi sangatlah penting memahami lawan bicara agar dapat melakukan komunikasi secara efektif sehingga menghasilkan kesepahaman, karena kunci dari komunikasi yang baik adalah Kesepahaman antar komunikator dengan komunikan. Terdapat tiga unsur utama dalam model komunikasi, yaitu pengirim, pesan, dan penerima. Dari model komunikasi yang sudah ada, terdapat dua model komunikasi yang utama, yaitu komunikasi linear (satu arah) dan

18

komunikasi interaksional. Komunikasi linear menunjukkan pengirim dan penerima melalui suatu saluran yang mana membawa pesan yang dikirim dan diterima. Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima. Sedangkan pada model interaksional terdapat satu elemen penting yaitu adanya suatu umpan balik (feedback), atau tanggapan terhadap suatu pesan. Proses umpan balik yang berbentuk melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung, dimana pengirim dan penerima berinteraksi satu sama lain dan terdapat umpan balik dari jawaban yang mereka keluarkan. 3.2 Saran Disarankan kepada masyarakat khususnya mahasiswa kedokteran hewan untuk dapat mengaplikasikan proses komunikasi yang efektif sehingga meningkatkan keterampilan berkomunikasi dalam melakukan konsultasi kepada klien/ pemilik hewan. Sehingga terjadi interaksi yang menimbulkan pemahaman informasi yang tepat dalam penanganan medis.

19

DAFTAR PUSTAKA

Ammentorp J, Sabroe S, Kofoed PE,Mainz J (2007) The effects of training in communication skills on medical doctors and nurses self-efficacy: a randomized controlled trial. Patient Education and Counseling 66(3):270 277. Arnold E, Underman-Boggs K (2007) Interpersonal Relationships: Professional Communication Skills for Nurses, 5th edn. Saunders, St Louis, MO. Chant S, Jenkinson T, Randle J, Russell G, Webb C (2002) Communication skills: some problems in nursing education and practice. Journal of Clinical Nursing 11(1):1221. Deborah, Tannen. 1996. Seni komunikasi Efektif: Membangun Relasi Dengan Membina Gaya Percakapan, (alih bahasa dra. Amitya Komara). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Ellis RB, Gates B, Kenworthy N (2006) Interpersonal Communication in Nursing, 2nd edn. Churchill Livingstone, Edinburgh. Grover SM (2005) Shaping effective communication skills and therapeutic relationships at work: the foundation of collaboration. American Association of Occupational Health Journal 53(4):177178. Hargie O (2007) The Handbook of Communication Skills, 3rd edn. Routledge, London. Haryadi dan Zamzani.1996/1997. Peningkatan Keterampilan Berbahasa

Indonesia. Depdikbud Dirjen Dikti bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Kurtz SM, Silverman JD, Draper J (2003) Teaching and Learning Communication Skills in Medicine, 2nd edn. Radcliffe Medical Press, Oxford.

Larry King, Bill Gilbert. 2002. Seni Berbicara: kepada siapa saja, kapan saja, dimana saja (editor Tanti Lesmana). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Laurent CA (2000) Nursing theory for nursing leadership. Journal of Nursing Management 8: 8387.

20

Ley P (1988) Communication with Patients: Improving Patients Satisfaction and Compliance. Croom Helm, London. McConnell CR (2004) Interpersonal skills: what are they, how to improve them and how to apply them. The Health Care Manager 25(2):177187. Melia KM (1982) Tell it as it is: qualitative methodology and nursing research: understanding the student nurses world. Journal of Advanced Nursing 7(4):327. Michelson L,Wood R, Sugai D, Kadzin A (2007) In: Hargie O (ed.), The Handbook of Communication Skills, 3rd edn. Routledge, London, Part 1, Chapter 1, p. 13. Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosdakarya. Noble LM, Richardson J (2006) Communication skills teaching: current needs. The Clinical Teacher 3(1): 2328. Odell A (1996) Communication theory and the shift handover report. British Journal of Nursing 5(21):13231326. Rainer S, Beck MD, Daughtridge R, Sloane PD (2002) Physicianpatient communication in the primary care office: a systematic review. Journal of the American Board of Family Medicine 15(1):2538. Rakhmat, Jalaluddin. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya. Rider EA, Keefer CH (2006) Communication skills competencies: definitions and a teaching toolbox. Medical Education 40:624629. Roberts L, Bucksey SJ (2007) Communicating with patients: what happens in practice? Physical Therapy 87(5):586594. Roberts C, Wass V, Jones R, Sarangi S, Gillett A (2003) A discourse analysis study of good and poor communication in an OSCE: a proposed new framework for teaching students. Medical Education 37:192201. Silverman JD, Kurtz SM, Draper J (1998) Skills for Communicating with Patients. Radcliffe Medical Press, Oxford. Simpson JA,Weiner ESC (eds) (2005) Compact Oxford Dictionary. Oxford University Press, Oxford.

21

Supriyadi, dkk. 2005. Pendidikan Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Depdikbud Susanto, Astrid. 1995. Globalisasi dan komunikasi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Tarigan, H.G. 1986. Berbicara sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Wilson SR, Sabee CM (2003) Explicating communication competence as a theoretical term. In: Greene JO, Burleson BR (eds), Handbook of Communication and Interactive Skills. Lawrence Erlbaum, Mahwah, NJ. Wolvin A, Coakley CW (1996) Listening, 5th edn. McGraw-Hill, Boston, p. 69.

22