optimalisasi kontribusi umk dlm makroekonomi indonesia

Click here to load reader

Post on 27-Nov-2015

15 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    OPTIMALISASI KONTRIBUSI UMK DALAM MAKROEKONOMI INDONESIA

    Small is beautiful, kesimpulan Schumacer atas sektor usaha kecil, bersesuaian dengan banyak penilaian tentang usaha mikro dan kecil (UMK) di Indonesia pada saat ini. UMK dianggap penyelamat perekonomian selama masa krisis moneter, khususnya bagi kelangsungan hidup mayoritas rakyat Indonesia. UMK dinilai cukup tangguh menahan goncangan ekonomi, dari eskternal sekalipun. Fakta UMK di Indonesia memperlihatkan, antara lain: sektor usaha yang paling banyak jumlahnya, penyerap tenaga kerja terbesar, melayani sebagian besar kebutuhan barang dan jasa, berlokasi di semua wilayah kota dan desa, dan menjadi sumber penghidupan ekonomi utama bagi rakyat kecil.

    Akan tetapi, big is powerful, dan the huge is more powerful. Sektor korporasi besar dan raksasa memiliki pengaruh yang lebih besar pada kebijakan makroekonomi Indonesia. Kebijakan fiskal dan moneter pada umumnya dirancang dengan pertimbangan akibatnya bagi mereka, bukan dampak terhadap UMK. Alasannya, eksplisit maupun implisit, usaha besar memberi kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan PDB (ekonomi), serta dianggap manageable bagi pemangku kebijakan makroekonomi.

    Sementara itu, argumentasi berbasis angka-angka makroekonomi mendominasi isi dokumen atau laporan resmi perekonomian, seperti Nota Keuangan dari Pemerintah dan Laporan Perekonomian Tahunan dari Bank Indonesia. Indikator makroekonomi menjelma menjadi ukuran paling otoritatif atas kondisi perekonomian secara keseluruhan, serta menjadi populer karena pemberitaan yang terus menerus.

    Suasana ini berpengaruh juga kepada para pegiat UMK, termasuk ekonom atau pihak pembela lainnya. Argumen yang dikembangkan dalam upaya menuntut kebijakan ekonomi yang lebih kondusif pun terkesan mengalah. Permasalahan UMK lebih dikedepankan sebagai persoalan mikroekonomi, dan jarang dibahas dalam perspektif makroekonomi. Wacananya berputar-putar di sekitar proteksi, kebutuhan permodalan dan soal pemberdayaan lainnya.

    Tulisan ini mencoba memberi gambaran berbeda. Argumentasi mikroekonomi mengenai UMK sangat penting dan harus terus digali, agar semua pihak (terutama para

  • 2

    pemangku kebijakan) mengerti seluk beluknya secara lebih baik. Namun, persoalan UMK bisa dilihat dalam perspekif makroekonomi. Argumentasi urgensi pengembangan UMK, bukan sekadar penyelamatannya, dapat diajukan dengan penalaran makroekonomi. Rekomendasi terkait pun bisa diberikan.

    Urutan pembahasannya berkebalikan dengan judul. Soal makroekonomi dibicarakan terlebih dahulu, soal UMK terkemudian. Soal UMK yang disoroti pun dipilih atas dasar kaitannya dengan perspektif makroekonomi. Sekalipun demikian, soal UMK diupayakan didasari atas kondisi mikro yang sebenarnya serta prospek yang memang masuk akal secara ekonomi.

    I. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI INDONESIA Makroekonomi berkembang menjadi kata yang populer sekaligus powerful di

    Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Pemberitaan dan ulasan tentangnya setiap hari dilakukan oleh media, cetak dan elektronik. Pidato presiden dan pejabat pemerintah sering menggunakan istilah itu, begitu pula para pengkritiknya, meskipun dengan nada yang berbeda. Semua pihak suka menyebut angka-angka yang berhubungan dengan kata makroekonomi.

    Sebenarnya, makroekonomi adalah istilah yang bersifat teknis dalam lingkup ilmu ekonomi. Ada persoalan ekonomi yang dicakup istilah tersebut, dan ada banyak teori tentangnya. Urgensi persoalan serta pesatnya perkembangan teori yang terkait, bahkan telah melahirkan cabang ilmu ekonomi tersendiri, yaitu ilmu makroekonomi (macroeconomics).

    Menariknya, sebagian penggunaan istilah makroekonomi di Indonesia yang disinggung tadi, tidak sepenuhnya bersesuaian dengan textbook makroekonomi. Sebagian karena kekurangtahuan, sebagian memang disengaja untuk tujuan tertentu, dan sebagian lainnya masih debateable. Hal ini tidak selalu berarti negatif, karena teori juga terus berkembang. Selama bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka bisa saja tercipta beberapa konsensus baru dalam ilmu makroekonomi.

    Salah satu fokus utama tulisan ini adalah perkembangan kondisi makroekonomi Indonesia, terutama dinamika selama beberapa tahun terakhir. Mengingat adanya sedikit ketidaksesuaian tadi, namun bersifat cukup vital, maka soal-soal tertentu yang bersifat

  • 3

    textbook akan dibahas terlebih dahulu. Pembahasan mengenai beberapa pengertian terkait istilah makroekonomi diberikan secara singkat.

    A. Ilmu Makroekonomi sebagai Cabang dari Ilmu Ekonomi Ada ungkapan dalam ilmu ekonomi yang berbunyi: everything depends upon

    everything else. Ungkapan tersebut menggambarkan saling ketergantungan antar variabel ekonomi. Ada hubungan saling ketergantungan antara negara-negara di dunia, antar berbagai sektor dan subsektor ekonomi di dalam negeri, antar pelaku ekonomi, dan lain sebagainya. Setiap perubahan dalam suatu variabel ekonomi akan berdampak ke banyak variabel lainnya. Oleh karena sifatnya yang dinamis dan dalam perspektif waktu yang tidak terputus (kontinum), perubahan tersebut berasal dari dinamika sebelumnya pula.

    Sepintas, pemahaman semacam itu sudah dimiliki oleh masyarakat umum, dan tampak kurang jelas kegunaannya. Memang demikian, sehingga ilmu ekonomi bergerak lebih jauh lagi. Ilmu ekonomi berambisi memperlihatkan bahwa hubungan tersebut memiliki keteraturan tertentu yang dapat difahami dan dianalisa. Bahkan, sebagiannya dapat dijadikan teori. Teori adalah formulasi keteraturan mengenai hal tertentu, yang dianggap penting, ke dalam bentuk hubungan fungsional dan hubungan kausalitas atau sebab akibat. Dilihat dari prosesnya, teori berasal dari dugaan atau hipotesa tentang keteraturan tersebut, yang bisa berasal dari pengetahuan empiris atau dari penalaran logis. Meskipun demikian, suatu teori sering hanya berhubungan dengan satu masalah yang dihubungkan beberapa variabel ekonomi.

    Keinginan untuk mengembangkan suatu teori yang bersifat umum bukannya tidak ada, bahkan sempat menjadi perhatian utama ekonom di masa lalu. Namun, yang berkembang kemudian bukanlah teori umum, melainkan teori-teori yang bersifat khusus. Ungkapan di atas tadi mulai menjadi semacam latar belakang umum saja. Penyebab utamanya adalah perkembangan realitas yang makin kompleks dalam perekonomian.

    Bagaimanapun, kebanyakan ahli ekonomi tetap percaya bahwa dengan memakai teori, berbagai kekuatan dan pola hubungan yang kompleks tersebut masih dapat dimengerti dan diperhitungkan. Terkait dengan hal ini, ekonom mengandalkan penggunaan model ekonomi sebagai alat analisanya. Model adalah penyederhanaan dari

  • 4

    kenyataan. Penyederhanaan dilakukan untuk memilah aspek-aspek yang dianggap relevan dan yang tidak relevan, memilah kekuatan yang dianggap esensial dan yang tidak esensial, dalam permasalahan yang diselidiki. Model sengaja dibuat untuk mengabaikan banyak bagian kecil atau kekuatan kecil, yang jika dibuang, masih akan dapat difahami cara bekerjanya (dinamika) suatu permasalahan yang diamati.

    Pada masa awal ilmu ekonomi, ekonom menganalisa segala sesuatu lebih banyak secara kualitatif. Model ekonomi diungkapkan dengan kata-kata, paling jauh dengan aritmatika sederhana. Argumen yang dikembangkan mengutamakan penalaran secara verbal, kadang ditunjang dengan sedikit data statistik. Hubungan antar data statistik ekonomi masih lebih banyak diduga dengan penalaran teoritis dan aritmatika sederhana tadi. Sebagai contoh, ekonomi membuat model untuk menduga seberapa banyak bagian pendapatan rumah tangga, dalam sebuah perekonomian negara, yang dipergunakan untuk konsumsi dan seberapa banyak yang ditabung.

    Sekarang, kebanyakan ekonom merumuskan dan memecahkan masalah secara lebih kuantitatif. Mereka sering mengungkapkan argumentasinya dengan peralatan dan bahasa matematika, yang makin lama semakin rumit dan canggih (sophisticated). Model ekonominya pun bersifat kuantitatif. Perkembangan ini terjadi secara bertahap, mulai dari penggunaan metode kuantitatif sederhana sampai dengan yang rumit, dengan berdasar pada ilmu statistika dan matematika. Ekonometri, yang mempelajari alat analisa kuantitatif bagi variabel-variabel ekonomi, tumbuh pesat sebagai cabang ilmu ekonomi tersendiri. Kemajuan dalam bidang komputer membuat banyak model rumit dari ekonometri dapat diaplikasikan. Banyak variabel yang bisa dimasukkan ke dalam suatu model kuantitatif, dengan entry data yang sangat banyak untuk masing-masingnya.

    Sebagian ekonom, sebenarnya sudah mulai mengkritik dengan keras kecenderungan akan penggunaan matematika yang berlebihan dalam analisa ekonomi. Sebagian dari penggunaan matematika tersebut membuat asumsi ekonomi yang diutarakan menjadi tidak realistis. Sebagai contoh, Paul Omerod (1997) mengecam bahwa penggunaan matematika itu tampaknya tidak menyangkut keperluan, tetapi kebiasaan dan kesukaan (convenience). Katanya juga, ekonom susah menolak godaan menggunakan matematika, karena matematika tampak memancarkan wibawa ilmiah, dan uraiannya akan terlihat mengesankan. Padahal, kerumitan dan perhitungan kuantitatif

  • 5

    yang canggih tersebut bisa menyesatkan, dalam artian tidak mengarah kepada pemahaman pola hubungan yang sebenarnya terjadi.

    Terlepas dari kebenaran kritik Omerod itu, metode kuantitatif dalam ilmu ekonomi memang diterima luas oleh ahli ekonomi. Dalam ilmu ekonomi, kita baru dianggap mengetahui sesuatu, jika kita dapat mengukur secara kuantitatif tentang hal yang dibicarakan tersebut. Jika tidak bisa diukur atau dihitung, maka pengetahuan tersebut dinilai tidak cukup meyakinkan.

    Masalah dan Instrumen Kebijakan Makroekonomi Sampai sejauh ini, ilmu ekonomi terus dipelajari karena dianggap berguna untuk

    memberikan petunjuk-petunjuk mengenai kebijakan apa yang bisa diambil untuk menanggulangi berbagai permasalahan ekono