oleh : drs. h. mulya hudori, m.pd kepala bagian tata usaha ... file2 dp3-pns secara substantif...

Click here to load reader

Post on 01-May-2019

219 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Oleh :Drs. H. Mulya Hudori, M.Pd

Kepala Bagian Tata UsahaKanwil Kementerian Agama Provinsi Bengkulu

Nama : Drs. H. Mulya Hudori, M.PdTgl Lahir : Bandung, 5 Nopember 1963Pangkat/Gol : Pembina Tk 1 (IV/b)Pendididikan :1. S.1 : IAIN Bandung tahun 19882. S.2 : Universitas Bengkulu Tahun 2007Riwayat Pekerjaan :1. Kepala MA Al-Hidayah IPUH tahun 19922. Kepala MAN IPUH 19973. Kepala MAN Arga Makmur 20034. Kepala MAN 2 Padang Kemiling 20075. Kepala Seksi Penyuluhan Haji dan Umroh pada Bidang Hazawa

Kanwil Kemenag tahun 20076. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Lebong (2007-2013)7. Kabag TU Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu (2013)

Nama : Drs. H. Mulya Hudori, M.PdTgl Lahir : Bandung, 5 Nopember 1963Pangkat/Gol : Pembina Tk 1 (IV/b)Pendididikan :1. S.1 : IAIN Bandung tahun 19882. S.2 : Universitas Bengkulu Tahun 2007Riwayat Pekerjaan :1. Kepala MA Al-Hidayah IPUH tahun 19922. Kepala MAN IPUH 19973. Kepala MAN Arga Makmur 20034. Kepala MAN 2 Padang Kemiling 20075. Kepala Seksi Penyuluhan Haji dan Umroh pada Bidang Hazawa

Kanwil Kemenag tahun 20076. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Lebong (2007-2013)7. Kabag TU Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu (2013)

1. UU Nomor 43 Tahun 1999 jo UU no 8 Tahun 1974tentang Pokok-Pokok Kepegawaian

2. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011tentang Penilaian Prestasi kerja PNS

3. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010tentang Disiplin PNS

4. Peraturan Kepala BKN Nomor 1 Tahun 2013tentang Ketentuan Pelaksanaan PeraturanPemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentangPenilaian Prestasi kerja PNS

1. UU Nomor 43 Tahun 1999 jo UU no 8 Tahun 1974tentang Pokok-Pokok Kepegawaian

2. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011tentang Penilaian Prestasi kerja PNS

3. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010tentang Disiplin PNS

4. Peraturan Kepala BKN Nomor 1 Tahun 2013tentang Ketentuan Pelaksanaan PeraturanPemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentangPenilaian Prestasi kerja PNS

1. Kenyataan empirik menunjukkan proses penilaianpelaksanaanpekerjaan PNS cenderung terjebak ke dalamproses formalitas. DP3-PNS telah kehilangan arti dan maknasubstantif, tidak berkait langsung dengan apa yang telahdikerjakan PNS.

2 DP3-PNS secara substantif tidak dapat digunakan sebagaipenilaian dan pengukuran seberapa besar produktivitas dankontribusi PNS terhadap organisasi. Seberapa besarkeberhasilan dan atau kegagalan PNS dalam melaksanakantugas pekerjaannya.

3. Penilaian DP3-PNS, lebih berorientasi pada penilaiankepribadian (personality) dan perilaku (behavior) terfokuspada pembentukan karakter individu dengan menggunakankriteria behavioral, belum terfokus pada kinerja, peningkatanhasil, produktivitas (end result) dan pengembanganpemanfaatan potensi.

1. Kenyataan empirik menunjukkan proses penilaianpelaksanaanpekerjaan PNS cenderung terjebak ke dalamproses formalitas. DP3-PNS telah kehilangan arti dan maknasubstantif, tidak berkait langsung dengan apa yang telahdikerjakan PNS.

2 DP3-PNS secara substantif tidak dapat digunakan sebagaipenilaian dan pengukuran seberapa besar produktivitas dankontribusi PNS terhadap organisasi. Seberapa besarkeberhasilan dan atau kegagalan PNS dalam melaksanakantugas pekerjaannya.

3. Penilaian DP3-PNS, lebih berorientasi pada penilaiankepribadian (personality) dan perilaku (behavior) terfokuspada pembentukan karakter individu dengan menggunakankriteria behavioral, belum terfokus pada kinerja, peningkatanhasil, produktivitas (end result) dan pengembanganpemanfaatan potensi.

4. Proses penilaian lebih bersifat rahasia, sehingga kurangmemiliki nilai edukatif, karena hasil penilaian tidakdikomunikasikan secara terbuka.

5. Pengukuran dan penilaian prestasi kerja tidak didasarkanpada target goal (kinerja standar/harapan), sehinggaproses penilaian cenderung terjadi bias dan bersifatsubyektif = terlalu pelit/murah, nilai jalan tengah denganrata-rata baik untuk menghindari nilai amat baik ataukurang, apabila diyakini untuk promosi dinilai tinggi, bilatidak untuk promosi cenderung mencari alasan untukmenilai sedang atau kurang.

6. Atasan langsung sebagai pejabat penilai, hanya sekedarmenilai, belum/tidak memberi klarifikasi hasil penilaiandan tidak lanjut penilaian.

7. Atasan pejabat penilai hanya sebagai legalitas hasilpenilaian belum berfungsi sebagaimotivator dan evaluatoruntuk mengevaluasi seberapa efektif dan konsistensipejabat penilai dalam melaksa-nakan proses penilaian.

4. Proses penilaian lebih bersifat rahasia, sehingga kurangmemiliki nilai edukatif, karena hasil penilaian tidakdikomunikasikan secara terbuka.

5. Pengukuran dan penilaian prestasi kerja tidak didasarkanpada target goal (kinerja standar/harapan), sehinggaproses penilaian cenderung terjadi bias dan bersifatsubyektif = terlalu pelit/murah, nilai jalan tengah denganrata-rata baik untuk menghindari nilai amat baik ataukurang, apabila diyakini untuk promosi dinilai tinggi, bilatidak untuk promosi cenderung mencari alasan untukmenilai sedang atau kurang.

6. Atasan langsung sebagai pejabat penilai, hanya sekedarmenilai, belum/tidak memberi klarifikasi hasil penilaiandan tidak lanjut penilaian.

7. Atasan pejabat penilai hanya sebagai legalitas hasilpenilaian belum berfungsi sebagaimotivator dan evaluatoruntuk mengevaluasi seberapa efektif dan konsistensipejabat penilai dalam melaksa-nakan proses penilaian.

1. Penilaian prestasi kerja PNSberdasarkan Pasal 12 ayat 2:II. UU 43 Tahun 1999 bertujuanuntuk menjamin objektifitaspembinaan PNS yg dilakukanberdasarkan sistem prestasikerja & sistem karier, ygdititikberatkan pada sistemprestasi kerja.

1. Penilaian prestasi kerja PNSberdasarkan Pasal 12 ayat 2:II. UU 43 Tahun 1999 bertujuanuntuk menjamin objektifitaspembinaan PNS yg dilakukanberdasarkan sistem prestasikerja & sistem karier, ygdititikberatkan pada sistemprestasi kerja.

2. Penilaian prestasi kerja PNSdiarahkan sebagaipengendalian perilaku kerjaproduktif yg disyaratkan untukmencapai hasil kerja ygdisepakati.

2. Penilaian prestasi kerja PNSdiarahkan sebagaipengendalian perilaku kerjaproduktif yg disyaratkan untukmencapai hasil kerja ygdisepakati.

3. Penilaian prestasi kerja PNSdilakukan berdasarkan prinsip: objektif, terukur, akuntabel, partisipatif, dan transparan.

3. Penilaian prestasi kerja PNSdilakukan berdasarkan prinsip: objektif, terukur, akuntabel, partisipatif, dan transparan.

4. Penilaian prestasi kerja PNS terdiri atas :a. unsur sasaran kerja pegawai (SKP)b. unsur perilaku kerja.

5. Penilaian prestasi kerja PNS dilaksanakanoleh Pejabat Penilai sekali dalam 1 tahun(akhir Desember tahun bersangkutan/akhirJanuari tahun berikutnya), yang terdiri atasunsur:a. SKP bobotnya 60 %b. Perilaku kerja bobotnya 40 %

4. Penilaian prestasi kerja PNS terdiri atas :a. unsur sasaran kerja pegawai (SKP)b. unsur perilaku kerja.

5. Penilaian prestasi kerja PNS dilaksanakanoleh Pejabat Penilai sekali dalam 1 tahun(akhir Desember tahun bersangkutan/akhirJanuari tahun berikutnya), yang terdiri atasunsur:a. SKP bobotnya 60 %b. Perilaku kerja bobotnya 40 %

6. Unsur perilaku kerja ygmempengaruhi prestasi kerja yangdievaluasi harus relevan &berhubungan dgn pelaksanaan tugasjabatan PNS yg dinilai.

6. Unsur perilaku kerja ygmempengaruhi prestasi kerja yangdievaluasi harus relevan &berhubungan dgn pelaksanaan tugasjabatan PNS yg dinilai.

1. Setiap PNS wajib menyusun SKPberdasarkan RKT instansi.Dalam menyusun SKP harusmemperhatikan hal-hal sbb:JelasDapat diukurRelevanDapat dicapaimemiliki target waktu

1. Setiap PNS wajib menyusun SKPberdasarkan RKT instansi.Dalam menyusun SKP harusmemperhatikan hal-hal sbb:JelasDapat diukurRelevanDapat dicapaimemiliki target waktu

2. SKP memuat kegiatan tugas jabatandan target yg harus dicapai. Setiapkegiatan tugas jabatan yg akandilakukan harus berdasarkan padatugas dan fungsi, wewenang, tanggungjawab, dan uraian tugas yg telahditetapkan dalam Struktur Organisasidan Tata Kerja (SOTK).

2. SKP memuat kegiatan tugas jabatandan target yg harus dicapai. Setiapkegiatan tugas jabatan yg akandilakukan harus berdasarkan padatugas dan fungsi, wewenang, tanggungjawab, dan uraian tugas yg telahditetapkan dalam Struktur Organisasidan Tata Kerja (SOTK).

3. PNS yg tidak menyusun SKPdijatuhi hukuman disiplin sesuaidengan ketentuan peraturanperundang - undangan yangmengatur mengenai disiplinPNS.

3. PNS yg tidak menyusun SKPdijatuhi hukuman disiplin sesuaidengan ketentuan peraturanperundang - undangan yangmengatur mengenai disiplinPNS.