obesitas dalam islam

Click here to load reader

Post on 31-Oct-2014

111 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ilmu penyakit anak

TRANSCRIPT

BAB III PENCEGAHAN OBESITAS PADA ANAK DITINJAU DARI SUDUT PANDANG ISLAM

Kesehatan merupakan nikmat Allah SWT yang tak terhingga sehingga harus disyukuri dan digunakan untuk beribadah kepada-Nya. Bersyukur dapat dilakukan dengan hati, lisan dan anggota tubuh. Bersyukur dengan hati berarti mengikrarkan dalam hati bahwa Allah sebagai pemberi kesehatan, dengan lisan berarti pengakuan dalam bentuk ucapan dan dengan anggota tubuh artinya menggunakan kesehatan untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT (Zuhroni, 2003). Tak selamanya seseorang akan sehat, segala sesuatu yang melampaui batas keseimbangan atau kewajaran akan menyebabkan terganggunya fisik, mental dan bahkan kesempurnaan amal seseorang. Jika dirumuskan maka sakit adalah gangguan fisik, mental, sosial serta adanya penyakit atau cacat pada seseorang. Sakit disebutkan dalam al-quran dengan kata al-maradh. Berbagai penyakit disinggung dalam al-Quran seperti al-Akmaha (buta), alAbrasha (sopak), dan al-Araj (pincang). Dalam Islam, penyakit dibagi atas penyakit jasmani atau fisik, penyakit jiwa, penyakit sosial dan penyakit akidah (Zuhroni, 2003). Memelihara kesehatan yang dijelaskan oleh Al-Quran dan Al-Hadits dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (Nashr, 2004): 1. Menjaga Kesehatan Allah SWT mengisyaratkan dalam firmanNya:

Artinya: (yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Q.S al-Baqarah [2]: 184) Imam Ibnu Qayyim mengatakan: Dalam ayat ini, Allah SWT membolehkan berbuka bagi orang yang sakit, karena alasan sakitnya. Bagi orang yang bersafar karena berkumpulnya kesusahan-kesusahan yang akan menyebabkan lemahnya badan maka Allah membolehkan bagi mereka untuk berbuka, untuk memelihara kekuatan mereka dari hal-hal yang bisa melemahkannya.(Al-Jauziyah, 2004) 2. Menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan Kaidah ini diisyaratkan Allah SWT dalam firmanNya:

Artinya: Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). (Q.S alMaidah [5]: 6)

Dalam ayat ini Allah membolehkan orang yang sakit untuk menggunakan debu yang suci dan tidak menggunakan air demi menjaga badan dari hal-hal yang bisa membahayakan. Dalam ayat ini juga terdapat peringatan untuk menjaga diri dari setiap hal yang membahayakan, baik dari dalam maupun luar tubuh (Al-Jauziyah, 2004). 3. Menyingkirkan zat-zat yang merusak Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam firmanNya:

Artinya: Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu:berpuasa (QS. al-Baqarah [2] : 196) Dalam ayat ini Allah SWT membolehkan orang yang sakit atau yang ada gangguan di kepalanya, seperti: kutu, rasa gatal, atau yang lainnya pada saat berhaji untuk memotong rambut. Hal ini bertujuan untuk menyingkirkan zat-zat yang menyebabkan penyakit di kepalanya. Menahan zat-zat yang rusak di dalam tubuh dapat menjadi penyebab utama timbulnya penyakit-penyakit ganas. Para dokter dan ulama seperti Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang jika ditahan bisa menimbulkan penyakit ganas, yaitu darah apabila tekanannya naik, mani jika telah memuncak (tidak tersalurkan), air kencing, kotoran, muntah, bersin, mengantuk, lapar dan haus. Hal-hal tersebut apabila ditahan akan mengakibatkan penyakit sesuai dengan kadarnya. Sudah menjadi kesepakatan ulama bahwa menjaga kesehatan lebih baik dari pada mengobati, untuk itu perlu upaya sejak dini agar seseorang

tetap sehat. Dalam menjaga kesehatan dapat dilakukan dua tindakan yaitu tindakan pencegahan atau preventif dan perlindungan kesehatan tubuh. Tindakan pencegahan sendiri ada dua jenis yaitu pencegahan dari hal-hal yang dapat menimbulkan sakit dan pencegahan dari sesuatu yang dapat memperparah penyakit yang sudah ada. Cara pertama disebut pencegahan primer yaitu mencegah timbulnya penyakit pada orang yang sehat. Cara yang kedua adalah pencegahan bagi orang yang sakit agar penyakitnya tidak bertambah parah. Dasar dari amalan ini adalah firman Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 6 yang menjelaskan pencegahan penyakit dengan air karena air bisa membahayakan kesehatan seseorang yang menderita penyakit tertentu (Al-Jauziyah, 2004). Dalam hal ini, tindakan yang paling nyata dalam mencegah terjadinya penyakit adalah dengan melakukan pola hidup yang baik, dari mulai makan hingga beraktivitas. Islam mengajarkan ummatnya bagaimana cara makan yang baik, seperti jenis makanan, cara makan, porsi makanan, hingga pola atau waktu makan. (As-Syayyid, 2006) Nutrisi yang Baik Untuk Anak Menurut Islam Bayi di Bawah Lima Tahun (Balita) Memerhatikan makanan seimbang bagi anak akan sangat membantu menghindarkan mereka dari makanan yang buruk sekaligus membantu pertumbuhan mereka secara alami. Sebab, kebutuhan mereka terhadap energi dan unsur-unsur makanan saat beraktivitas sehari-hari lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan orang dewasa. (As-Syayyid, 2006)

Oleh karena itu, seorang anak harus mengonsumsi makanan beragam secara rutin setiap hari, khususnya karena mereka tidak bisa mengonsumsi makanan sendiri sebanyak makanan yang dikonsumsi oleh orang dewasa. Sebagaimana mereka juga harus diarahkan dan dibimbing untuk membiasakan diri memakan makanan yang baik dan benar sejak dini sekaligus memotivasi mereka untuk melakukan aktivitas gerakan atau olahraga sehingga tidak mengalami obesitas atau kegemukan. (As-Syayyid, 2006) Anak yang Masih Menyusui Setelah lahir dan hidup di dunia ini, sang buah hati pun menjadi demikian bersandar dan membutuhkan ibu, layaknya kebutuhan cabang pada akar. Dia membutuhkan makanan yang sama yang dulu pernah diserapnya di dalam darah, ketika masih menjadi janin. Kemudian dengan ilmu, kekuasaan dan kalimat Allah, darah itu berubah menjadi susu yang bersih dan murni yang mengandung berbagai unsur yang sesuai bagi pertumbuhannya. Kemudian susu itu mengalir ke payudara untuk kemudian atas hidayah Allah pula sang anak menyerap makanan melalui anggota tubuh sang ibu tersebut. Allah berfirman, (As-Syayyid, 2006)

Yang menentukan kadar (masing-masing) dan menentukan petunjuk (Q.S alAla [87]: 3) Al-Quran al-Karim telah menyebutkan beberapa aturan yang mengatur masalah penyusuan alami dan aturan pemeliharaan anak yang masih menyusu kepada selain ibu kandung, yakni ibu susuan dan bukan termasuk salah satu nasab. Berkenaan dengan masalah ini, Allah berfirman, (As-Syayyid, 2006)

Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna (Q.S al-Baqarah [2]: 233) Dari ayat tersebut terlihat jelas aturan sebagai berikut: Seorang ibu berkewajiban untuk menyusui anaknya melalui payudara dan tidak mengingkari pentingnya hak anak untuk menikmati air susu dari payudara ibunya, bila mampu, dan tidak menolak memberikannya selama masa menyusui, bagi siapa saja yang ingin menyempurnakan penyusuan, yakni selama 2 tahun. (As-Syayyid, 2006) Namun demikian dibolehkan juga menyapih anak sebelum masa yang telah ditetapkan oleh Al-Quran al-Karim, yaitu 2 tahun, dengan syarat ada kesepakatan antara ayah dan ibu, tanpa harus mengesampingkan kemaslahatan sang buah hati dan jaminan pengasuhannya. Hal itu sesuai dengan firman Allah, (As-Syayyid, 2006)

Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa antara keduanya (Q.S. al-Baqarah [2]: 233) Menyusukan anak kepada wanita lain, padahal dia mampu melakukannya, merupakan suatu tindakan yang tidak dibenarkan agama. Oleh karena itu, Islam benar-benar telah menancapkan tiang penopang materi untuk kepentingan penyusuan ini, di mana Islam telah memberikan nafkah penyusuan jika terjadi

perceraian dengan suaminya, sehingga kepentingan anak tidak terabaikan dan bisa memenuhi segala makanan yang dibutuhkan. Allah berfirman, (As-Syayyid, 2006)

Tenpatkanlah mereka (para istri) di mana kalian bertempat tinggal menurut kemampuan kalian dan janganlah kalian menyusahkan mereka dan

menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan, kemudian jika mereka menyusui (anak-anak) kalian maka berikanlah imbalannya kepada mereka; dan musyawarahkanlah di antara kalian (segala sesuatu) dengan baik; jika kalian menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya (Q.S. ath-Thalaq [65]: 6) Dengan demikian Allah SWT telah menjamin kebutuhan makanan bayi melalui air susu ibunya. Pada tiga hari pertama, payudara mengeluarkan cairan yang berwarna kekuningan dalam jumlah yang tidak banyak yang disebut kolostrum. Cairan ini bisa mencukupi kebutuhan makanan bayi di awal kehidupannya di dunia, yang kaya akan protein, antibodi, vitamin dan mineral. Sebagaimana cairan ini juga memiliki manfaat lain, yaitu membiasakan alat pencernaan bayi untuk bisa beradaptasi dan menerima sekaligus mencerna makanan. (As-Syayyid, 2006) Dan pada hari keempat, barulah payudara ibu mengeluarkan zair susu yang merupakan makanan bayi. Susu ibu mengandung zat-zat yang menambah kemampuan tubuh bayi untuk melawan berbagai macam penyakit. Sebagaimana

ia merupakan makanan aman yang mengandung berbagai macam unsur makanan yang dibutuhkan bayi pada usia enam bulan pertama. (As-Syayyid, 2006) Ketika bayi telah mencapai 6 bulan, maka seorang ibu harus memberikan makanan pendamping yang kaya akan energi, protein, vitamin dan mineral, mi