nilai-nilai pendidikan ukhuwah dalam novel daun yang...

of 117/117
i NILAI-NILAI PENDIDIKAN UKHUWAH DALAM NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN KARYA TERE LIYE SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh N. NAFISATUR ROFIAH NIM 11112167 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA 2016

Post on 23-Nov-2020

8 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • i

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN UKHUWAH DALAM

    NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH

    MEMBENCI ANGIN KARYA TERE LIYE

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan

    Oleh

    N. NAFISATUR ROFIAH

    NIM 11112167

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

    SALATIGA

    2016

  • ii

  • iii

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN UKHUWAH DALAM

    NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH

    MEMBENCI ANGIN KARYA TERE LIYE

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan

    Oleh

    N. NAFISATUR ROFIAH

    NIM 11112167

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

    SALATIGA

    2016

  • iv

  • v

  • vi

  • vii

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    MOTTO

    Sebaik-baik manusia adalah mereka (manusia) yang bermanfaat bagi orang lain.

    PERSEMBAHAN

    Untuk orang tuaku,

    para guruku, keluargaku,

    serta siapapun mereka yang pernah berjasa dalam kehidupanku.

  • viii

    KATA PENGANTAR

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan

    hidayah-Nya hingga penulis dapat menyelesikan skripsi ini yang berjudul “Nilai-

    Nilai Pendidikan Ukhuwah dalam Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci

    Angin Karya Tere Liye.”

    Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi

    Agung Muhammad SAW yang telah membimbing manusia dari zaman kegelapan

    hingga terang benderang, semoga kita semua diakui sebagai umatnya yang kelak

    mendapatkan syafaatnya di akhirat.

    Selanjutnya penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada berbagai

    pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini, kepada yang terhormat:

    1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor Intitut Agama Islam

    Negeri Salatiga.

    2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

    Keguruan.

    3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam.

    4. Bapak Imam Mas Arum, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang

    telah dengan sabarnya memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis

    dalam penyusunan skripsi ini.

    5. Bapak Yedi Efriadi selaku Pembimbing Akademik.

  • ix

  • x

    ABSTRAK

    Rofiah, N. Nafisatur. 2016. Nilai-nilai Pendidikan Ukhuwah dalam Novel Daun

    yang jatuh tak pernah membenci angin. Skripsi. Jurusan Pendidikan

    Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam

    Negeri Salatiga. Pembimbing: Imam Mas Arum, M.Pd.

    Kata Kunci : Nilai-nilai Pendidikan Ukhuwah

    Pendidikan ukhuwah sangat penting bagi manusia untuk membentuk

    solidaritas seseorang. Maraknya konflik yang bersumber pada masalah-

    masalah yang melahirkan perbedaan dapat membongkar bangunan

    kebersamaan. Padahal perbedaan seharusnya dapat melahirkan hikmah

    positif. Namun, dalam kenyataan perbedaan justru seringkali melahirkan

    hancurnya nilai ukhuwah, hanya karena ketidaksiapan untuk memahami

    cara berfikir, atau karena keengganan menerima perbedaan sebagai buah

    egoisme yang tidak sehat. Karenanya, perlu adanya kajian mengenai

    pendidikan ukhuwah yang mampu mengurangi permasalahan tersebut.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Nilai-nilai pendidikan

    ukhuwah (2) Karakter tokoh utama yang patut di teladani (3) Implikasi nilai-

    nilai pendidikan ukhuwah di kehidupan sehari-hari dalam novel Daun yang

    Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere-Liye.

    Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library research),

    pengumpulan datanya menggunakan metode dokumentasi. Data mengenai

    penelitian ini diperoleh dari sumber data primer dan sekunder dengan

    menggunakan pendekatan deskriptif analisis (descriptive of analyze

    research), yakni menggunakan literatur dan teks sebagai objek utama untuk

    dideskriptifkan, diinterpretasi, lalu dianalisis dan kemudian disimpulkan.

    Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa nilai-nilai pendidikan

    ukhuwah dalam novel Daun yang jatuh tak pernah membenci angin karya

    Tere Liye adalah: (1) Ukhuwah ubudiyah; menjaga & menciptakan

    lingkungan dengan baik. Ukhuwah insaniyah (Basyariyah); menjaga

    silaturahim, ramah-tamah, bekerja sama. Ukhuwah Wathoniyyah wa an-

    nasab; kasih sayang, peduli, tolong menolong, saling menasehati. Ukhuwah

    fi din Al-Islam; berduka ketika orang lain berduka, berjabat tangan bila

    berjumpa (kecuali non muhrim), mengingatkan dalam kebaikan, mendoakan

    orang lain. (2) Karakter tokoh utama yang patut di contoh yakni Tania;

    berbakti kepada orang tua, giat (pekerja keras), amanah , optimis. Danar;

    baik hati, ikhlas, sederhana, sopan santun. Ratna; sabar, pengertian, setia.

    (3) Implementasi nilai-nilai pendidikan ukhuwah yakni dapat menjadi

    gambaran dalam mendidik ukhuwah anak serta dapat menjadikan karya

    sastra sebagai media pendidikan khususnya dalam menghadapi kemajuan

    pengetahuan seperti sekarang ini.

  • xi

    DAFTAR ISI

    LEMBAR SAMPUL .................................................................................... i

    LEMBAR BERLOGO.................................................................................. ii

    LEMBAR JUDUL SKRIPSI ....................................................................... iii

    PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................ iv

    PENGESAHAN KELULUSAN .................................................................. v

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .................................................... vi

    MOTTO ....................................................................................................... vii

    PERSEMBAHAN ........................................................................................ vii

    KATA PENGANTAR .................................................................................. viii

    ABSTRAK ................................................................................................... x

    DAFTAR ISI ................................................................................................ xi

    DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xiv

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

    B. Rumusan Masalah ......................................................................... 6

    C. Tujuan Penelitian ........................................................................... 6

    D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 7

    E. Metode Penelitian .......................................................................... 7

    F. Penegasan Istilah ........................................................................... 10

    G. Sistematika Penulisan ................................................................... 13

  • xii

    BAB II BIOGRAFI NOVEL

    A. Biografi Tere Liye ........................................................................ 15

    B. Karakteristik Novel Tere Liye ....................................................... 16

    C. Karya-karya Tere Liye................................... ................................ 17

    D. Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ................. 19

    1. Profil Novel ................................................................ ............... 19

    2. Sinopsis ................................................................ ..................... 19

    3. Unsur Intrinsik ................................................................ .......... 24

    BAB III DESKRIPSI PEMIKIRAN

    A. Nilai Ukhuwah .................................................................................. 42

    B. Karakter Tokoh Utama ..................................................................... 49

    BAB IV PEMBAHASAN

    A. Nilai Ukhuwah ............................................................................... 54

    1. Ukhuwah Ubudiyah ................................................................... 55

    2. Ukhuwah Insaniyyah ................................................................. 58

    3. Uhkuwah Wathaniyyah wa an-nasab ........................................ 63

    4. Ukhuwah Fii din Al-Islam ......................................................... 68

    B. Karakter Tokoh Utama .................................................................. 75

    1. Tania ......................................................................................... 75

    2. Danar ......................................................................................... 79

    3. Ratna ......................................................................................... 84

    C. Implementasi Nilai Pendidikan Ukhuwah .......................... ......... 88

  • xiii

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ................................................................................... 93

    B. Saran ............................................................................................. 94

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • xiv

    DAFTAR LAMPIRAN

    1. Riwayat Hidup Penulis

    2. Nota Pembimbing Skripsi

    3. Lembar Konsultasi

    4. Nilai SKK

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Manusia merupakan makhluk individu sekaligus makhluk sosial.

    Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu

    sama lain dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Sedangkan sebagai

    makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah

    kelompok yang mengakui keberadaannya. Kebutuhan untuk berkelompok ini

    merupakan naluri alamiah, sehingga muncullah ikatan-ikatan yang dalam

    islam dikenal dengan istilah ukhuwah.

    Ukhuwah atau persaudaraan merupakan salah satu kekuatan perekat

    sosial untuk memperkokoh kebersamaan. Fenomena kebersamaan ini dalam

    banyak hal dapat memberikan inspirasi solidaritas sehingga tidak ada lagi

    jurang yang dapat memisahkan silaturahmi di antara umat manusia sebagai

    makhluk sosial yang dianugrahi kesempurnaan. Meskipun demikian,

    bangunan kebersamaan ini seringkali terganggu oleh godaan-godaan

    kepentingan yang dapat merusak keutuhan komunikasi dan bahkan

    mengundang sikap dan perilaku yang saling berseberangan. Karena itu,

    semangat ukhuwah secara sederhana dapat terlihat dari ada atau tidak adanya

    sikap saling memahami untuk menumbuhkan interaksi dan komunikasi yang

    menunjukkan pentingnya unsur solidaritas dan kepedulian dalam upaya

    merakit bangunan ukhuwah. Sebab setiap individu dalam posisi yang sama,

    masing-masing memiliki kelebihan lengkap dengan segala kekurangannya.

  • 2

    Sehingga untuk menciptakan wujud yang utuh diperlukan kebersamaan untuk

    saling melengkapi, usaha saling tolong menolong, saling menjaga, saling

    membela dan saling melindungi.

    Dewasa ini nilai-nilai ukhuwah tidak lagi menjadi dasar melakukan

    interaksi sosial dalam bangunan masyarakat tempat hidupnya sehari-hari.

    Konflik yang bersumber pada masalah-masalah yang melahirkan perbedaan

    dapat membongkar bangunan kebersamaan dalam seluruh tatanan

    kehidupannya. Padahal perbedaan itu sendiri seharusnya dapat melahirkan

    hikmah dalam bentuk kompetisi positif, mempertajam daya kritis maupun

    dalam membangun semangat mencari tahu sesuai dengan anjuran

    memperbanyak ilmu. Sayangnya, dalam kenyataan perbedaan itu justru

    seringkali melahirkan hancurnya nilai-nilai ukhuwah, hanya karena

    ketidaksiapan untuk memahami cara berfikir yang lain, atau karena

    keengganan menerima perbedaan sebagai buah egoisme yang tidak sehat.

    Allah SWT berfirman,

    “… Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan

    jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu

    dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu

    terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat

    kebajikan” (QS. Al-Maidah: 48).

    Dalam ayat tersebut Allah swt menjelaskan bahwa perbedaan

    merupakan kehendak-Nya yang berlaku dalam kehidupan. Selain perbedaan,

    juga untuk kelestarian hidup sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan

    makhluk di bumi ini.

  • 3

    Subhanallah, meskipun sudah dijelaskan begitu jelasnya bahwa

    perbedaan adalah kehendak Ilahi, namun tetap saja ukhuwah telah menjadi

    barang antik yang sulit dinikmati secara bebas dan terbuka. Karena ukhuwah

    dimungkinkan hanya dapat terwujud apabila masyarakat sudah mampu

    memiliki dan menghayati prinsip-prinsip toleransi, sekaligus terbuka untuk

    melakukan tausiyah (saling mengingatkan).

    Sejalan dengan hal diatas, seorang sastrawan ingin menyampaikan

    pesan-pesan atau nilai-nilai pendidikan ukhuwah melalui karya sastranya

    sebagai bentuk budaya manusia yang dapat dikatakan sebagai salah satu

    bentuk pendidikan informal. Karya sastra khususnya novel merupakan bentuk

    karya sastra yang paling populer dan banyak beredar karena daya

    komunikasinya yang luas pada masyarakat. Sehingga novel sangat efektif

    apabila digunakan sebagai sarana pendidikan dengan memasukkan nilai-nilai

    pendidikan dalam alur ceritanya. Maka membaca sebuah novel adalah

    memanfaatkan seluruh panca indera untuk berimajinasi mengikuti alur cerita

    novel.

    Novel yang baik adalah novel yang tidak hanya menghibur

    pembacanya, namun juga mengajak pembaca untuk melihat dunia lain yang

    lebih luas. Salah satunya adalah novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah

    Membenci Angin karya Tere-Liye. Novel ini merupakan novel pembangun

    jiwa, karena kisah di dalamnya dapat dijadikan cermin diri. Selain itu novel

    ini juga mempunyai fungsi sosial, sehingga dapat ikut membina masyarakat

    menjadi manusia yang bersosial.

  • 4

    Tokoh utama yang menonjol dalam novel ini adalah Danar dan Tania.

    Danar merupakan lelaki bujang dan bekerja di sebuah perusahaan, memiliki

    karakter baik, sosial tinggi juga peduli pendidikan. Ia diceritakan sebagai

    seorang yang mempunyai perangai yang sangat halus, sabar dan juga

    bijaksana. Novel ini menceritakan kepedulian Danar terhadap orang lain,

    yakni pengamen jalanan yang pada awalnya tidak ia kenal hingga mampu

    mengantarkan ke gerbang kesuksesan. Dialah Tania, gadis kecil yang

    berjuang melawan kerasnya hidup sebagai pengamen jalanan di ibu kota

    hingga mendapatkan beasiswa sekolah di Singapura. Ia mampu bersosialisasi

    dengan baik dengan teman barunya dari berbagai penjuru Negara, bahkan

    hingga menjadi owner toko bakery disana.

    Tokoh utama lainnya dalam novel ini Ratna, sebagai tokoh protagonis

    menurut sudut pandang aku “Tania”. Sedangkan tokoh pendukungnya yaitu

    Ibu, Ane, Adi, dkk. Konflik dalam novel ini dikemas dengan sangat indah.

    Sehingga akan membawa manfaat dan memberikan motivasi untuk senantiasa

    peka dan peduli terhadap lingkungan, bekerja keras untuk masa depan yang

    lebih baik dan juga menjaga keikhlasan kita dalam berjuang untuk kebaikan.

    Tere-Liye merupakan novelis terkemuka di abad ini. Banyak novel

    yang diterbitkan sarat akan muatan nilai pendidikannya, pun pada novel ini.

    Karakter tokoh yang mampu menyuguhkan nilai-nilai persaudaraan

    (ukhuwah) tanpa melihat status sosial, ekonomi, suku bahkan kebangsaan

    mampu menjadi teladan, sehingga dengan novel yang sarat akan nilai

    ukhuwahnya, maka penanaman ukhuwah dalam jiwa melalui sebuah cerita

  • 5

    akan lebih efektif. Karena dengan cerita pembaca mampu menuju kealam

    imajinatif dan dimungkinkan dapat dengan mudah mengambil hikmahnya

    untuk diterapkan dalam dirinya.

    Penanaman ukhuwah sejak dini sangat penting bagi bekal hidup

    manusia. Sebagai karya sastra, novel ini dimungkinkan mampu mengajak

    pembacanya menjadi manusia yang bisa memahami dan mengamalkan nilai

    ukhuwah yg dipelajarinya melalui alur cerita yang dibawakan masing-masing

    tokoh dengan berbagai karakternya.

    Bermula dari pentinganya pendidikan ukhwah ini, maka penulis

    beranggapan bahwa novel ini sangat menarik untuk diteliti lebih dalam. Oleh

    sebab itu penulis menulis skripsi yang berjudul “NILAI-NILAI

    PENDIDIKAN UKHUWAH DALAM NOVEL DAUN YANG JATUH

    TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN KARYA TERE-LIYE”

    B. Rumusan Masalah

  • 6

    Berdasarkan dari pemaparan latar belakang diatas, maka penulis

    formulasikan menjadi rumusan masalah sebagai berikut:

    1. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan ukhuwah yang terkandung dalam

    novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere-Liye?

    2. Bagaimanakah karakter tokoh utama yang patut diteladani dalam novel

    Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere-Liye?

    3. Bagaimanakah implikasi nilai-nilai pendidikan ukhuwah dalam novel

    Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere-Liye dalam

    kehidupan sehari-hari?

    C. Tujuan Penelitian

    Sehubungan dengan adanya tiga permasalahan di atas maka penelitian

    ini bertujuan untuk:

    1. Mengetahui bagaimanakah nilai-nilai pendidikan ukhuwah yang terdapat

    dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere-

    Liye.

    2. Mengetahui bagaimanakah karakter tokoh utama yang patut diteladani

    dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere-

    Liye.

    3. Mengetahui implikasi nilai-nilai pendidikan ukhuwah dalam novel Daun

    yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere-Liye di kehidupan

    sehari-hari.

    D. Manfaat Penelitian

  • 7

    Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memiliki kegunaan

    diantaranya:

    1. Bagi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga, bisa digunakan

    sebagai pustaka bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti tentang nilai

    pendidikan dalam sebuah novel.

    2. Memberikan kontribusi kepada masyarakat luas sebagai tambahan

    keilmuan, sehingga bisa mendapatkan beragam wawasan pengetahuan dan

    akan menjadikan semakin luas pula wawasan yang dimiliki.

    3. Bagi penulis, sebagai bahan latihan dalam penulisan ilmiah sekaligus

    memberikan tambahan pengetahuan tentang pendidikan ukhuwah sehingga

    dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

    E. Metode Penelitian

    Metode berasal dari kata methodos (Yunani) yang berarti cara atau

    suatu jalan. Adapun komponen dalam metode penelitian ini adalah:

    1. Jenis Penelitian

    Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library research),

    data mengenai penelitian ini diperoleh dengan menggunakan pendekatan

    deskriptif analisis (descriptive of analyze research). Deskriptif analisis ini

    mengenai bibliografis yaitu pencarian berupa fakta, hasil dan ide

    pemikiran seseorang melalui cara mencari, menganalisis, membuat

    interpretasi serta melakukan generalisasi terhadap hasil penelitian yang

    dilakukan. (Moleong, 2005:29)

  • 8

    Penelitian ini menggunakan literatur dan teks sebagai objek utama

    analisis, yaitu novel yang kemudian dideskripsikan dengan cara

    menggambarkan dan menjelaskan teks-teks dalam novel yang

    mengandung nilai-nilai pendidikan ukhuwah dengan menguraikan dan

    menganalisis serta memberikan pemahaman atas teks-teks yang

    dideskripsikan.

    2. Metode Pengumpulan Data

    Metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah metode

    dokumentasi. Metode dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk

    mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip,

    buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, legger, agenda dan

    sebagainya (Arikunto, 2006:231).

    Melalui metode dokumentasi ini, diperoleh data penelitian dengan

    cara menghimpun data dari berbagai literatur, baik artikel, jurnal, majalah,

    maupun buku-buku yang yang berkaitan dengan pembahasan penelitian

    guna menjadi referensi dalam penyusunan skripsi ini.

    3. Sumber Data

    Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat

    diperoleh (Arikunto, 2006:231).

    Dalam penulisan skripsi ini, sumber data yang digunakan terdiri

    dari sumber data primer dan sekunder.

  • 9

    a. Sumber Data Primer

    Berupa novel Daun yang jatuh Tak Pernah Membenci Angin,

    yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Umum Jakarta pada tahun

    2010.

    b. Sumber Data Sekunder

    Yaitu berbagai literatur yang berhubungan dan relevan dengan

    objek penelitian, baik itu berupa wawancara, buku, artikel, website dan

    blog di internet yang berupa jurnal.

    4. Metode Analisis Data

    Metode yang digunakan adalah analisis isi, dengan menguraikan

    dan menganalisis serta memberikan pemahaman atas teks-teks yang

    dideskripsikan.

    Sebagaimana metode kualitatif, dasar pelaksanaan metode analisis

    isi adalah penafsiran, sehingga peneliti menekankan bagaimana memaknai

    isi komunikasi, memaknai isi interaksi simbolik yang terjadi dalam

    peristiwa komunikasi.

    Dalam penelitian ini, penulis akan mengkaji isi novel Daun Yang

    Jatauh Tak Pernah Membenci Angin yang mengandung nilai-nilai

    pendidikan ukhuwah.

  • 10

    Langkah-langkah yang penulis gunakan dalam pengolahan data

    adalah sebagai berikut:

    a. Langkah deskriptif, yaitu menguraikan teks-teks dalam novel Daun

    Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yang berhubungan dengan

    nilai-nilai pendidikan ukhuwah.

    b. Langkah interpretasi, yaitu menjelaskan teks-teks dalam novel Daun

    Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yang berhubungan dengan

    nilai-nilai pendidikan ukhuwah.

    c. Langkah analisis, yaitu menganalisis penjelasan dari novel Daun Yang

    Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yang berhubungan dengan nilai-

    nilai pendidikan ukhuwah.

    d. Langkah pengambilan kesimpulan, yaitu mengambil kesimpulan dari

    novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin yang

    berhubungan dengan nilai-nilai pendidikan ukhuwah.

    F. Penegasan Istilah

    Untuk memperjelas dan mempertegas istilah serta menghindari

    kesalah pahaman terhadap judul yang penulis bahas maka perlu adanya

    penegasan istilah dengan arti atau pengertian masing-masing kata agar mudah

    dipahami, yakni sebagai berikut:

    1. Nilai

    Nilai menurut Tyler dalam Darmiyati Zuchdi (2011: 195) adalah

    suatu objek, aktivitas atau ide yang dinyatakan oleh inividu yang

  • 11

    mengendalikan pendidikan dalam mengarahkan minat, sikap dan

    kepuasan.

    Sedangkan menurut Rokeach dalam Darmiyati Zuchdi (2011:195)

    nilai merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau

    perilaku yang dianggap baik dan dianggap jelek.

    Dari pendapat ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai

    adalah suatu objek, ide atau tindakan dari keyakinan atau kepercayaan

    tentang perbuatan baik ataupun buruk untuk memperoleh tujuan.

    2. Pendidikan Ukhuwah

    Pendidikan menurut UU No. 20/2003 tentang SISDIKNAS dalam

    Suwarno (2006: 21) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

    suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

    mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual

    keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

    serta ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan

    Negara.

    Sedangkan ukhuwah adalah persaudaraan dari adanya persamaan

    dan keserasian dengan pihak lain, baik meliputi persamaan keturunan,

    suku, bangsa, agama dan lainnya (Firdaus, 2006: 163).

    Dari pengertian pendidikan dan ukhuwah di atas dapat disimpulkan

    bahwa pendidikan ukhuwah adalah usaha sadar dan terencana untuk

    mewujudkan persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh

    islam sehingga muncullah rasa simpati, tolong menolong, saling mengasihi

  • 12

    dan lain sebagainya sehingga terbentuklah solidaritas yang kuat diantara

    mereka.

    3. Novel

    Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif,

    biasanya dalam bentuk cerita (Maslikha, 2013:126).

    Sedangkan Komaruddin dan Yooke (2006: 162) mendefinisikan

    bahwa novel merupakan karangan sastra prosa yang panjang dan

    mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di

    sekitarnya dengan cara menonjolkan sifat dan watak tokoh-tokoh itu.

    Dapat ditarik kesimpulan bahwa novel adalah karya fiksi berbentuk

    prosa panjang yang tertulis dan mengandung rangkaian cerita kehidupan

    tokoh.

    4. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Karya Tere Liye

    Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin adalah salah satu

    karya sastra berbentuk novel yang berkualitas dan sangat menginspirasi.

    Novel ini karya Tere Liye. Sastrawan Indonesia yang produktif dan

    menginspirasi lewat karyanya.

    Dari penegasan istilah di atas, nilai Pendidikan ukhuwah dalam

    novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye

    adalah tindakan atau perbuatan yang dapat menjaga persaudaraan antar

    manusia, baik persaudaraan keturunan, suku, bangsa, agama dan lainnya

    sesuai ajaran agama islam yang ditunjukkan dalam sebuah novel yang

  • 13

    sangat menginspirasi yaitu Tere Liye dalam novel Daun Yang Jatuh Tak

    Pernah Membenci Angin.

    G. Sistematika Penulisan

    Skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-masing bab terdiri dari

    beberapa sub-sub yang antara satu dengan lainnya saling berhubungan.

    Adapun rinciannya sebagai berikut:

    BAB 1: PENDAHULUAN

    Pada bab pendahuluan ini memberikan deskripsi tentang latar

    belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

    penelitian, ruang lingkup dan pembatasan masalah, penegasan

    istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan penelitian.

    BAB II: BIOGRAFI NOVEL

    Dalam bab ini akan memuat tentang biografi penulis, biografi novel

    yang mencakup unsur intrinsik dalam novel Daun yang Jatuh Tak

    Pernah Membenci Angin.

    BAB III: DESKRIPSI PEMIKIRAN

    Dalam bab ini akan diuraikan mengenai pemikiran penulis

    mengenai nilai-nilai pendidikan ukhuwah dan karakter tokoh utama

    yang patut di teladani dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah

    Membenci Angin.

  • 14

    BAB IV: ANALISIS

    Dalam Bab ini akan disajikan analisis mengenai: Nilai-nilai

    pendidikan ukhuwah dalam novel, karakter tokoh utama yang patut

    diteladani dalam novel, dan implikasi nilai-nilai pendidikan

    ukhuwah dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci

    Angin di kehidupan sehari-hari.

    BAB V: PENUTUP

    Merupakan bab terakhir dari rangkaian penulisan skripsi yang

    terdiri kesimpulan dan beberapa saran terkait dengan studi novel.

  • 15

    BAB II

    BIOGRAFI NOVEL

    A. Biografi Penulis

    Tere Liye merupakan nama pena seorang penulis tanah air yang

    produktif dan berbakat, sedangkan nama aslinya adalah Darwis. Meskipun

    Tere Liye termasuk salah satu penulis yang telah banyak menghasilkan novel-

    novel best seller dengan penyampaian yang unik serta sederhana dan sudah

    berulang kali dicetak bahkan sudah ada yang diangkat di layar lebar, namun

    biodata dan biografi yang bisa ditemukan sangatlah sedikit. Apalagi disetiap

    halaman belakang novel-novelnya tidak ada biografi singkat tentang

    kehidupan dirinya dan keluarganya. Penulis yang satu ini memang berbeda

    dengan penulis lain, mungkin itu cara yang dipilih untuk tidak

    mempublikasikan terkait kehidupan pribadinya. Ia hanya berusaha

    memberikan karya terbaik dengan tulus dan sederhana.

    Tere Liye lahir pada tanggal 21 mei 1979. Lahir dan tumbuh dewasa

    di pedalaman Sumatra Selatan. Anak ke enam dari tujuh bersaudara ini

    berasal dari keluarga sederhana yang orang tuanya berprofesi sebagai petani

    biasa. Tere Liye menyelesaikan masa pendidikan di SD N 2 dan SMP N 2

    Kikim Timur Sumatera Selatan, kemuadian melanjutkan ke SMU N 9 Bandar

    Lampung. Setelah itu melanjutkan belajarnya di Universitas Indonesia dengan

    mengambil fakultas Ekonomi. Saat ini telah menikah dengan Riski Amelia

    dan sudah dikaruniai seorang putra bernama Abdullah Passai dan seorang

    putri bernama Faizah Azkia (Fathurrohman, 2016: 1).

  • 16

    Bagi masyarakat umum yang ingin berkomunikasi dengan Tere Liye

    bisa melalui e-mail [email protected] atau [email protected]

    dan bisa juga melalui web site www.darwisdarwis.multiply.com (Mutakin,

    2013: 2).

    B. Karakteristik Novel Tere Liye

    Dari karya-karyanya, penulis bernama asli Darwis ini selalu

    mengangkat hal-hal sederhana namun sarat pesan akan makna, sehingga

    mampu menggugah hati pembacanya. Tere Liye ingin membagi pemahaman

    bahwa sebetulnya hidup ini tidaklah serumit seperti yang dibayangkan

    kebanyakan orang. Hidup adalah anugerah Yang Maha Kuasa dan sudah

    semestinya harus disyukuri. “bekerja keras dan selalu merasa cukup,

    mencintai, berbuat baik dan selalu berbagi, senantiasa bersyukur serta

    berterima kasih, maka ia percaya bahwa kebahagiaan itu sudah berada di

    genggaman kita”. Sederhana dan sangat menginspirasi. Karena

    kesederhanaanlah yang mampu membuka hati, sehingga dengan hati yang

    sudah terbuka maka setiap pesan-pesan positif itu dapat diterima dengan

    sangat mudah (Mutakin, 2013: 2).

    Begitulah karakteristik novel karya Tere Liye. Terkesan bahwa ia

    menegaskan syukuri saja setiap apapun yang kita miliki, baik itu berupa

    kekurangan terlebih kalau itu suatu kelebihan. Karya Tere Liye biasanya

    menyelipkan seputar pengetahuan, moral dan agama islam. Sangat sederhana

    dan inspiratif. Salah satunya adalah novel Daun yang Jatuh Tak Pernah

    Membenci Angin ini diceritakan secara sederhana dengan kalimat-kalimat

    mailto:[email protected]:[email protected]://www.darwisdarwis.multiply.com/

  • 17

    yang menarik, lucu, ceria, mengharukan, penuh keteladanan, menginspirasi

    dan sarat dengan nilai pendidikan khususnya pendidikan ukhuwah.

    C. Karya-karya Tere Liye

    Berikut merupakan karya Tere-Liye di tahun 2014-2015 beserta

    kutipan sinopsis yang telah diterbitkan dan sudah tersebar di seluruh

    Indonesia, yaitu:

    1. Bumi (Gramedia, 2014)

    Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh.

    Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga

    kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam.

    Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru.

    Teman-temanku baik dan kompak.

    Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang

    kusimpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.

    Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

    2. Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta ( Gramedia, 2014)

    “Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta”

    Kumpulan 24 sajak dengan ilustrasi terbaik dari Tere Liye.

    Sajak tentang memiliki, pun tentang melepaskan.

    Sajak tentang pertemuan, juga tentang perpisahan.

    Sajak tentang kebahagiaan, juga tentang kesedihan.

    Tambahkan pula sajak bergurau, bercanda dengan perasaan.

    Para pecinta adalah pujangga terbaik yang pernah ada.

    Dan kasih sayang pun adalah sumber inspirasi paling deras yang

    pernah ada.

    Hadiahkan sajak-sajak ini untuk orang yang paling kita sayangi.

    Agar mereka paham tentang perasaan.

    Karena sungguh:

    “Dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta”

  • 18

    3. Rindu (Republika, 2014)

    “Apalah arti memiliki,

    ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

    Apalah arti kehilangan,

    ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,

    dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

    Apalah arti cinta,

    ketika kami menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah?

    Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg

    seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

    Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?

    Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?

    Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

    4. About Love (Gramedia, 2015)

    Jatuh cinta adalah salah satu anugerah terbaik. Cinta memberi kita

    kesempatan untuk memahami banyak hal. Cinta juga menjadikan

    kita lebih dewasa, lebih berani, dan bertanggung jawab. Cinta pula

    yang menjadikan manusia sebagai manusia.

    Masing-masing dari kita memiliki kutipan favorit tentang cinta. Satu,

    sepuluh, atau bahkan seratus kutipan seperti yang ada dalam buku ini

    bisa menjadi pegangan kita dalam mencinta.

    5. Bulan (Gramedia, 2015)

    Namanya Seli, usianya 15 tahun, kelas sepuluh. Dia sama seperti

    remaja yang lain. Menyukai hal yang sama, mendengarkan lagu-lagu

    yang sama, pergi ke gerai fast food, menonton serial drama, film, dan

    hal-hal yang disukai remaja.

    Tetapi ada sebuah rahasia kecil Seli yang tidak pernah diketahui

    siapa pun. Sesuatu yang dia simpan sendiri sejak kecil. Sesuatu yang

    menakjubkan dengan tangannya.

    Namanya Seli. Dan tangannya bisa mengeluarkan petir.

  • 19

    6. Pulang (Republika, 2015)

    “Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di

    tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak

    dibanding di matanya.”

    Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi

    pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

    D. Novel

    1. Profil Novel

    Judul : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

    Penulis : Tere Liye

    Desain dan ilustrasi Sampul : eMTe

    Percetakan : PT Gramedia, Jakarta

    Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

    Tahun terbit : 2010

    Ukuran : 264 hlm; 20 cm

    ISBN : 973-979-22-5780-9

    2. Sinopsis

    Tania adalah seorang gadis kecil berusia 8 tahun yang mempunyai

    adik bernama Dede, mereka putus sekolah dan menjadi pengamen dengan

    menyanyikan lagu-lagu dewasa demi mengumpulkan pundi-pundi uang di

    jalanan ibu kota sepeninggal ayahnya. Sejak itulah kehidupan yang pas-

    pasan berbalik menjadi serba kekurangan. Mereka diusir dari kontrakan

    dan memutuskan tinggal di rumah kardus dekat dengan sungai dan tempat

    pembuangan bersama ibunya yang bekerja serabutan dan sakit-sakitan.

  • 20

    Setiap hari mereka membantu ibunya mencari nafkah dari bus satu ke bus

    lainnya tanpa kenal lelah menerjang teriknya panas dan hujan.

    Tanpa disangka-sangka kehidupan yang malang itu mendadak sirna

    sejak Tania bertemu dengan seseorang yang dikirim Tuhan kepadanya.

    Waktu itu malam mulai larut, Tania dan Dede sedang mengamen di sebuah

    bus kota yang penuh dengan orang-orang yang baru pulang kerja. Saat

    mengamen itulah kaki Tania yang tanpa alas dan berbaju lusuh menginjak

    sebuah paku payung, menciptakan luka di telapak kakinya dan membuat

    darah mengalir deras. Tania mencoba menahan rasa sakit, sementara

    adiknya hanya bisa panik tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Orang-

    orang dalam bus hanya melirik tanpa rasa iba. Ketika itulah seseorang pria

    muda tampan dengan wajah ramahnya menolong dan membalut kakinya

    dengan sapu tangan putih bersih miliknya.

    Dengan kaki yang masih pincang, keesokan harinya Tania kembali

    mengamen bersama Dede. Mereka bertemu lagi dengan seseorang itu, dia

    datang menghampiri dan memberikan dua buah kotak. Kotak tersebut

    berisi sepatu. Hari itu juga seseorang itu berkunjung kerumah kardus untuk

    bertemu dengan Ibu Tania dan Dede, lalu mengatakan kalau dia akan

    menyekolahkannya.

    Sejak itulah kehidupan Tania mulai berubah. Tania kembali

    bersekolah, kembali menuntut ilmu berkat seseorang yang dianggap

    malaikat kiriman Tuhan untuk merubah kehidupan mereka dan

    menjanjikan kehidupan baru yang jauh lebih baik. Seseorang itu bernama

  • 21

    Danar. Dia tidak hanya membiayai sekolah Tania dan Dede, namun juga

    mencukupi seluruh kebutuhan mereka. Memberikan tempat tinggal baru

    bahkan sekarang Ibu diberi modal untuk membuka bakery sehingga sudah

    tidak lagi bekerja serabutan. Hubungan keluarga Tania dan Danar

    sangatlah dekat, bahkan Danar sangatlah senang dapat merasakan

    kehangatan keluarga yang selama ini tidak dia dapatkan.

    Pada suatu hari Danar mengenalkan sahabat wanitanya ke keluarga

    Tania, namanya Ratna. Melihat kedekatan mereka, Tania tidak suka. Rasa

    tidak suka itu bukan sekedar perasaan iri, tapi Tania kecil belum bisa

    menerjemahkan apa arti perasaan itu. Lambat laun setelah Tania beranjak

    dewasa, Tania ahirnya sadar bahwa perasaan yang diam-diam tumbuh di

    hatinya sejak dulu, sejak rambutnya masih dikepang dua bukanlah

    perasaan biasa selayaknya seorang adik kepada kakaknya. Danar menjadi

    pria yang membuka babak baru yang baik dalam kehidupan Tania, juga

    menjadi cinta pertama baginya.

    Beberapa tahun kemudian Ibu menyusul kepergian ayah Tania

    karena sakit. Tania dan Dede sangat terpukul dengan kejadian itu. Sebelum

    Ibu meninggal, Ibu menyampaikan pesan kepada Tania “ berjanjilah, nak..

    kau tak akan pernah menangis sesulit apapun keadaan yang akan kau

    hadapi. Kecuali demi dia”. Setelah kepergian ibu, Tania dan Dede tinggal

    bersama Danar. Meski duka masih menyelimuti hati Tania, tapi hidupnya

    harus terus berlanjut. Tania tumbuh menjadi gadis yang pintar dan

    mendapatkan beasiswa ASEAN Scholarship untuk bersekolah menengah

  • 22

    pertama di Singapura. Dengan nasihat Danar, Tania berangkat ke

    Singapura. Meninggalkan Dede, pusara ibu, dan tentu saja meninggalkan

    Danar.

    Hari-hari Tania di Singapura disibukkan dengan banyak kegiatan,

    sibuk belajar dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang serba

    disiplin, teman-teman dari berbagai penjuru Negara yang tentunya

    mempunyai banyak perbedaan namun tetap satu tujuan.

    Suatu hari Danar dan Dede mengunjungi Tania di Singapura dalam

    rangka merayakan ulang tahun Tania yang ke-tujuh belas. Danar

    memberikan liontin kepada Tania, juga Ibu dan Dede mendapatkan liontin

    yang sama. Tiga tahun terlewati. Tania kembali pulang ke Indonesia dan

    menghabiskan masa liburannya.

    Tania kembali menerima biasiswa untuk melanjutkan studi Sekolah

    Menengah Atas-nya di Singapura lagi. Saat hari kelulusan SMA-nya

    Danar datang dengan Ratna. Pada saat mereka makan malam bersama

    dengan Tania, mereka memberi kabar yang sangat menyakitkan bagi

    Tania. Karena Danar dan Ratna memutuskan untuk menikah dan meminta

    kepada Tania agar bisa pulang ke Indonesia untuk membantu menyiapkan

    pernikahan tersebut. Akan tetapi Tania selalu menjawab tidak bisa pulang

    untuk pernikahan mereka setiap Ratna, Dede dan Danar bertanya, bahkan

    tekadnya untuk tidak pulang ke acara pernikahan mereka sudah ada sejak

    kembalinya mereka ke Indonesia.

  • 23

    Beberapa hari sebelum pernikahan, Ratna mengunjungi Tania

    husus untuk meminta agar Tania bisa pulang, akan tetapi tetap saja tidak

    membuatnya berubah fikiran bahwa Tania tidak bisa pulang. Meskipun

    kehadirannya sangatlah dinanti, Tania tidak mau datang karena ia mengira

    jawaban dari pertanyaannya selama ini tentang perasaan Danar yang

    sebenarnya sudah jelas. Malaikatnya itu tak pernah mencintainya.

    Sejak pernikahan mereka, Tania tidak berkomuniakasi dengan

    Danar. Sebaliknya Ratna selalu menceritakan kehidupan setelah

    pernikannya yang tidak bahagia kepada Tania via e-mail. Ratna merasa ia

    sedang bersaing dengan bayangan yang tidak tahu siapa orangnya. Hingga

    Ratna memutuskan kembali ke orang tuanya untuk sementara. Akhirnya

    Tania pulang ke Jakarta dan menanyakan langsung kepada Danar

    sebenarnya apa yang terjadi.

    Hari itu terbongkarlah teka-teki yang selama ini mengganjal di

    fikiran Tania, saat sesampai di Indonesia. Dede akhirnya bercerita tentang

    semuanya. Maksud dari semua perlakuan Danar selama ini. Juga tentang

    sebuah draf novel “Cinta Pohon Linden” di laptop Danar yang pernah ia

    baca, yang katanya tidak akan selesai. Novel itu bercerita tentang Tania

    dan Danar. Tentang perasaan Danar yang sebenarnya. Tapi novel itu

    berhenti, pada saat hari pernikahan Danar dengan Ratna.

    Tania kemudian bergegas mencari Danar. Tania bertemu dengan

    Malaikatnya itu dibawah pohon linden, dekat rumah kardus mereka dulu.

    Dan disinilah akhirnya semua kebenaran terungkap, semua perasaan

  • 24

    terluapkan. Tetapi tidak ada yang berubah, karena semuanya sudah

    terlambat. Biar bagaimanapun Danar telah menikah dengan Ratna, dan

    Ratna sedang mengandung. Akhirnya, Tania kembali ke Singapura.

    Memutuskan untuk meninggalkan semua cerita cintanya, sama-sama

    melepaskan dan mengikhlaskan perasaan yang selama ini mereka pendam

    diam-diam itu.

    3. Unsur Intrinsik Novel

    Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membangun prosa

    (Wiyanto, 2012: 213). Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur

    yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Unsur yang

    dimaksud untuk menyebut sebagian saja misalnya, cerita, plot, penokohan,

    tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-

    lain (Nurgiyantoro, 2012: 23).

    Adapun unsur-unsur intrinsik dalam novel Daun yang Jatuh Tak

    Pernah Membenci Angin adalah sebagai berikut:

    a. Tema

    Tema adalah suatu gagasan, ide atau pikiran utama yang

    terdapat dalam suatu karya sastra. Sedangkan Karina (2008: 10)

    mendefinisikan bahwa tema merupakan struktur dasar sebuah cerita

    yang sangat penting dan mendasar. Dengan tema, desain keseluruhan

    cerita akan tepat, kata-kata akan mengalir juga karakterisasi tokoh dapat

    terbentuk dengan baik.

  • 25

    Wiyanto (2012: 214) mengemukakan bahwa adakalanya dalam

    satu cerita memiliki lebih dari satu tema yang dibicarakan. Meskipun

    demikian, pasti ada salah satu tema yang dominan.

    Tema yang diambil dalam novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah

    Membenci Angin karya Tere Liye yaitu ikhlas dalam menerima takdir

    Tuhan. Dalam novel ini, penulis berhasil menggabungkan antara

    perjuangan, romantisme, serta solidaritas yang tinggi diantara berbagai

    perbedaan yang ada dalam lingkungan kehidupan tokoh-tokoh.

    b. Penokohan

    Suroto (1989: 92) mendefinisikan bahwa penokohan adalah

    bagaimana pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam ceritanya.

    Tokoh dalam cerita biasanya ditampilkan secara lengkap, yakni yang

    berhubungan dengan ciri-ciri fisik, keadaan sosial, tingkah laku,

    kebiasaan dan berbagai sifat lainnya (Nurgiyantoro, 2000: 13).

    Adapun tokoh-tokoh dalam novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah

    Membenci Angin karya Tere Liye yang berperan sebagai tokoh

    protagonis adalah Tania, Danar, Dede, Ibu, Ane, Adi, Miranti, Sophi,

    karyawan toko buku. Sedangkan yang berperan sebagai tokoh antagonis

    yakni Ratna, Jhony Chan, Maggie dkk, Miss G.

    1) Tokoh Protagonis

    Tokoh protagonis merupakan tokoh yang menampilkan

    sesuatu sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita, sebagai

    pembaca.

  • 26

    a) Tania

    Merupkan tokoh utama, ia adalah gadis kecil yang hidup

    serba kesusahan bersama dengan Ibu dan adiknya sejak ayahnya

    meninggal dunia. Pekerjaan sehari-harinya menjadi pengamen

    jalanan di ibu kota. Kemudian Tania tumbuh menjadi gadis yang

    cantik dan cerdas, menerima beasiswa sekolah di Singapura dari

    SMP sampai bangku perkuliahan. Ia memendam perasaan

    terhadap Danar, akan tetapi pada ahirnya Tania memilih untuk

    pergi dari kehidupan Danar dikarenakan tak sanggub menjalani

    kisah cintanya yang rumit. Berikut kutipan novelnya:

    Aku juga pekerja keras (Liye, 2010: 33).

    “Kau anak yang pintar, Tania! Amat pintar!” (Liye, 2010:

    36).

    Karena beasiswa bulananku lebih dari cukup, semua uang

    transfer itu tidak pernah ku sentuh. Ku tabung. (Liye,

    2010: 90).

    b) Danar

    Merupakan seorang pria muda yang baik hati, penyayang

    dan penolong. Yakni seseorang yang menolong keluarga Tania

    dari kerasnya kehidupan. Menyekolahkan, memberi tempat

    tinggal, merawat dan menjaga Tania sejak kecil tanpa meminta

    balasan. Pria yang memiliki perbedaan usia cukup jauh dengan

    Tania ini memiliki perasaan cinta yang tak mungkin di

    ungkapkan. Dengan keadaan yang tidak memungkinkan itu,

  • 27

    Danar memendam perasaanya dan memutuskan untuk menikah

    dengan Ratna. Berikut kutipan novelnya:

    Aku ingat sekali saat menatap mukanya untuk pertama

    kali. Dia tersenyum hangat menentramkan. Mukanya amat

    menyenangkan. Muka yang memesona oleh cahaya

    kebaikan (Liye, 2010: 23).

    Dia meminjamkan buku-buku dalam lemari tersebut

    kepada kami. Tanpa perlu repot-repot mencatatnya. Siapa

    saja bisa mengambil sendiri. Dan terserah mau

    dikembalikan kapan. Dia tidak peduli kami akan

    mengembalikannya atau tidak (Liye, 2010: 38).

    “Kau lihat siapa yang akan kehilangan kalau dia

    meninggal. Anak-anak itu tak punya siapa-siapa lagi

    selain dia. Ya Tuhan, lakukanlah apa saja aku mohon….”

    (Liye, 2010: 56).

    c) Dede

    Merupakan adik Tania, kini menjadi pemuda yang baik,

    menyanyangi keluarganya, cerdas, memiliki nalar yang tinggi,

    tampan, amanah, serta tidak bisa diam. Dede seringkali

    menyeletuk dan mengoceh ketika sedang berkumpul dengan Oom

    Danar, Tania, dan Kak Ratna. Ia memiliki hobi bermain lego,

    sejak lego pertama yang ia dapatkan dari Oom Danar sewaktu

    masih kecil dulu. Ia juga pandai bercerita, karena sering bercerita

    bersama Oom Danar di kelas mendongeng. Berikut kutipan

    novelnya:

    Dede juga sudah bisa menghapal semua abjad.

    Bayangkan, hanya dalam waktu satu hari (Liye, 2010: 34).

    Soal menepati janji, Dede sama seperti aku, bisa

    dibanggakan. Yang susah adalah membuatnya bersepakat

    di awal dengan janji tersebut. Sekecil itu Dede paham

    betul soal tawar menawar janji (Liye, 2010: 52).

  • 28

    d) Ibu

    Seorang wanita paruh baya yang sangat baik dan

    menyayangi keluarganya. Beliau seorang pekerja keras yang rela

    banting tulang untuk bekerja serabutan agar dapat memenuhi

    kebutuhan anak-anaknya meski jauh dari kata cukup. Ibu

    pengertian, serta sangat sabar dan tabah dalam menghadapi

    kehidupan. Beliau juga seorang pencemas yang mengkhawatirkan

    anak-anaknya. Berikut kutipan novelnya:

    Ibu bekerja serabutan, apa saja yang bisa dikerjakan,

    dikerjakan (Liye, 2010: 30).

    Ibu sibuk mengingatkanku untuk beranjak tidur. Aku

    menjawabnya singkat belum mengantuk. Setiap setengah

    jam sekali Ibu menyuruh tidur. Dan aku selalu

    menjawabnya sama (Liye, 2010: 34).

    e) Adi

    Merupakan teman Tania di Singapura yang sama-sama

    dari Indonesia, juga penerima beasiswa. Ia Pemuda yang

    mencintai Tania dan ia sangat mengenal sifat Tania yang cuek

    dan tidak peduli dengan lelaki yang mengidolakannya, maka dia

    memilih menjadi teman Tania untuk lebih dekat dengan Tania

    meskipun dia cenderung diperalat oleh Tania. Berikut kutipan

    novelnya:

    “Ketahulailah, Tania, aku bisa menghentikan hujan ini….

    Tetapi itu hanya bisa ku lakukan jika aku tidak sedang

    dengan seseorang yang ku cintai…. Dan malam ini

    sepertinya aku tidak bisa menghentikannya….” (Liye,

    2010: 14).

  • 29

    Adi bisa menjadi sopir yang baik, deliveryman bisnis

    kueku, tukang fotokopi bahan kuliah, dan berbagai

    pernak-pernik lainnya (Liye, 2010: 186).

    Adi beranjak mendekat ingin menggenggam tangannya.

    Mengajak bersalaman (Liye, 2010: 188).

    f) Ane Teman baik Tania di Singapura, berasal dari Kuala

    Lumpur. Ia mengetahui perasaan Tania kepada Danar, dia sering

    memberikan nasehat dan menghibur Tania saat merasa sedih.

    Berikut kutipan novelnya:

    Anne tahu seluruh ceritanya. Aku memang dekat

    dengannya. Anne satu-satunya sahabatku di Singapura.

    Sahabat yang baik (Liye, 2010: 94).

    “… Dan tahukah kau, saat melihatmu sekarang menangis,

    hatiku juga seperti ikut tertusuk…” (Liye, 2010: 143).

    Anne mengantarku ke bandara. Berbisik soal bersikaplah

    dewasa (Liye, 2010: 235).

    g) Miranti

    Salah seorang teman waktu Tania masih kecil yang

    kemudian meneruskan usaha toko kue ibu Tania. Ia sangat baik,

    juga menghargai ibu Tania dan merasa berjasa kepada beliau

    sehingga royalti dari hasil usahanya dia berikan kepada Dede adik

    Tania. Berikut kutipan novelnya:

    “Ah iya, Dede bawa oleh-oleh kue dari Kak Miranti…”

    (Liye, 2010: 173).

    “Royalti dan lain sebagainya. Kak Tania pokoknya harus

    setuju” Miranti membujukku habis-habisan di email agar

    aku mengizinkan Dede menerima uang transfer tersebut”

    (Liye, 2010: 183).

  • 30

    Miranti benar-benar gadis yang baik (Liye, 2010: 183).

    h) Sophi Kekasih Dede yang memiliki paras cantik, tatapan mata

    yang teduh dan menentramkan sama seperti tatapan mata Ibu.

    Selain itu ia juga religius. Berikut kutipan novelnya:

    Gadisnya berkerudung (Liye, 2010: 205).

    “Hubungan kami itu unik. Karena bagi dia tidak ada

    istilah pacaran. Dia justru mengajak segera menikah. Kan

    repot banget, Kak Tania…” (Liye, 2010: 205).

    Karakter yang tercermin dari wajah Sophi menjadi

    padanan yang sempurna. Matang, pengertian, mau

    mendengarkan, dan penyabar (Liye, 2010: 206).

    2) Tokoh Antagonis

    Tokoh Antagonis adalah tokoh penyebab terjadinya konflik.

    Tokoh antagonis berperan sebagai penghalang tokoh protagonis dan

    menggagalkan segala rencana yang dibuat tokoh protagonis (Sambu,

    2013: 64).

    a) Ratna

    Seorang perempuan yang berperawakan seperti artis. Ia

    baik, cantik, pengertian, penyabar, dan tulus. Ia begitu

    menyayangi keluarga Tania, dan ialah yang ahirnya menikah

    dengan Danar. Adapun tergolong tokoh antagonis hanya

    merupakan dari sudut pandang tokoh utama yakni Tania yang

    memiliki karakter dinamis. Berikut kutipan novelnya:

    Aku menolak mentah-mentah saran Kak Ratna yang ingin

    mengantar kami pulang. Aku meneriaki Kak Ratna keras

  • 31

    sekali. Kak Ratna tidak marah, bahkan berkaca-kaca

    matanya (Liye, 2010: 56).

    Kak Ratna membimbingku pelan-pelan. Pulang (Liye,

    2010: 64).

    Aku terkesima saat membuka pintu flat. Kak Ratna

    tersenyum lebar aku terbata menyilakan dia masuk. Kak

    Ratna memelukku hangat dan bersahabat layaknya teman

    akrab. Ah, Kak Ratna memang sudah lama menganggabku

    sebagai teman, bukan adik kecil lagi (Liye, 2010: 147).

    b) Jhony Chan

    Seorang pemuda yang sering mengganggu Tania dengan

    tingkah lakunya yang jahat menurut Tania. Dia teman di

    singapura yang menyukai Tania tetapi karena sikapnya yang sejak

    awal tidak disukai oleh Tania maka dia hanya bisa

    mengganggunya. Berikut kutipan novelnya:

    Aku mengeluhkan satu cowok Singapura bertampang

    China-Melayu yang selalu menggangguku. Namanya

    Jhony Chan, tampangnya seperti artis Hongkong terkenal

    itu (namanya juga mirip), tetapi kelakuannya jauh lebih

    jahat dibandingkan penjahat kelas berat manapun (Liye,

    2010: 88).

    Si Jhony Chan itu juga semakin menyebalkan. Dia

    beberapa kali terang-terangan mengajakku jalan

    bareng… (Liye, 2010: 108).

    c) Maggie dkk

    Salah satu teman kuliah Tania di Singapura yang orang

    tuanya tinggal di Selangor. Ia dan kawan-kawannya (gengnya)

    terkenal dengan kecentilan dan kegenitannya, sehingga terkadang

    membuat Tania jengkel. Berikut kutipan novelnya:

  • 32

    “Wow, cute” saat bersalaman dengannya. Teman-

    temannya ikut tertawa. Berbisik dengan genitnya (Liye,

    2010: 95).

    Mereka malah iseng minta alamat e-mail dia, mau

    bertanya. Duh, benar-benar geng cewek ganjen (Liye,

    2010: 108).

    d) Miss G Merupakan pengurus makanan para siswa di sekolah

    Tania di Singapura. Dia terkenal galak dan disiplin sehingga

    banyak siswa yang tidak menyukainya termasuk Tania. Berikut

    kutipan novelnya:

    Tania: “Semalam Miss Gendut marah-marah lagi di

    dorm” (Liye, 2010: 73).

    Lebih galak daripada Miss G (Liye, 2010: 94).

    c. Alur (Plot)

    Alur adalah suatu rangkaian peristiwa-peristiwa dalam cerita

    yang saling bersinambung berdasarkan logika sebab akibat. Sehingga

    memperlihatkan bagaimana sebuah cerita itu berjalan. Biasanya dimulai

    dengan perkenalan tokoh disertai wataknya yang nanti akan muncul

    dalam peristiwa berikutnya (Wiyanto, 2012: 213). Alur atau Plot dibagi

    menjadi 3, yaitu: alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

    Alur yang digunakan dalam novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah

    Membenci Angin karya Tere Liye adalaha alur campuran karena

    susunan peristiwa yang diceritakan dalam novel tersebut ada yang maju

    dan ada yang mundur. Hal ini dibuktikan oleh tahapan cerita berikut ini:

    1) Alur Maju

  • 33

    Berikut ini merupakan kutipan dalam novel yang

    menunjukkan alur maju:

    Dua minggu kemudian, kami pergi ke toko buku ini. Toko

    buku terbesar di kota kami. Berkeliling membeli

    perlengkapan sekolah. Minus sepatu, karena dia sudah

    membelikannya waktu di bus kota dulu, minus seragam

    merah-putih, karena Ibu sudah memesannya pada tetangga

    tukang jahit dua hari lalu (Liye, 2010: 29).

    Esok harinya setelah dari toko buku ini bersamanya,

    jadwalku berubah seratus delapan puluh derajat. Pagi-pagi

    aku berangkat ke sekolah. Masuk jam tujuh teng. Sekolahku

    dekat dengan rumah kardus. Berangkat bersama adikku.

    Jalan kaki (Liye, 2010: 33).

    Enam bulan kemudian aku justru benci kata “kesibukan”!

    Gara-gara itu, belakangan dia semakin jarang singgah di

    kontrakan kami saat pulang dari kantornya. Seminggu sekali.

    Dua minggu sekali. Lantas hanya sebulan sekali. Padahal

    saat-saat berkunjungnya selalu menyenangkan buat aku dan

    adikku (Liye, 2010: 47).

    2) Alur Mundur

    Berikut ini merupakan kutipan dalam novel yang

    menunjukkan alur mundur:

    Sama tidak mengertinya saat salah seorang teman lamaku,

    Adi, melakukan sesuatu yang lebih gila lagi daripada

    sekadar sapaan cowok tadi setahun silam. Di toko buku ini

    juga.

    Waktu itu sama seperti sekarang, musim hujan. Hujan deras

    turun membungkus kota ini. Suara jutaan butir air yang

    menghunjam bumi terdengar keras hingga ke dalam. Adi

    yang “kebetulan” menemaniku berkeliling mencari novel

    karangan seseorang tiba-tiba menarik tanganku. (Liye, 2010:

    13).

    Toko buku ini menjadi penanda perjalanan sepuluh tahun

    terakhir hidupku yang penuh warna.

    Tonggak indah yang akan selalu kukenang.

    Sepuluh tahun silam di toko inilah untuk pertama kalinya aku

    bisa merasakan janji masa depan yang baik. Merasakan

  • 34

    kesenangan kanak-kanak yang sempurna. Merasakan betapa

    nyaman memiliki seseorang yang memperhatikan dan

    melindungimu. Seseorang.

    Kalian tak akan pernah menyangka, seperti apa rupa Tania

    sepuluh tahun silam saat masuk ke toko buku ini untuk

    pertama kalinya. Tania yang melangkah gemetar ragu-ragu.

    Tania yang mulutnya terbuka sempurna membentuk huruf O.

    malu menatap sekitar, dan takut sekali memecahkan barang-

    barang yang dipajang. Padahal, bukankah disini satu pun

    tidak ada gelas ataupun pring? (Liye, 2010: 16-17).

    Aku ingat, terakhir memakai baju sebaik ini tiga tahun silam.

    Saat pulang kampong berlebaran. Saat ayah masih hidup.

    Saat kehidupan kami masih berjalan normal. Tiga tahun

    berlalu, baju itu sudah kekecilan, membuat aku dan adikku

    terlihat tidak nyaman malam itu. Tetapi siapa yang peduli?

    (Liye, 2010: 18).

    d. Sudut pandang

    Sudut pandang adalah posisi pengarang terhadap kisah yang

    diceritakannya (Wiyanto, 2012: 217). Menurut Rakai (2013: 73) sudut

    pandang adalah sarana bercerita yang digunakan oleh penulis untuk

    menyampaikan plot cerita kepada pembaca, sehingga sudut pandang

    sangat berpengaruh terhadap jalannya cerita.

    Secara garis besar terdapat tiga jenis sudut pandang, yaitu sudut

    pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua dan sudut pandang

    orang ketiga. Akan tetapi dari masing-masing sudut pandang

    mempunyai variasi sendiri sesuai perkembangannya. Selain tiga

    tersebut ada juga sudut pandang yang bersifat campuran,

    Dalam novel ini penulis (Tere Liye) menggunakan sudut

    pandang orang pertama pelaku utama. Cerita ini dikisahkan melalui

  • 35

    sudut pandang Tania, sang tokoh utama yang menyebutkan “aku”

    disetiap sudut novel. Berikut kutipan novelnya:

    Aku menghela napas panjang. Tanganku pelan menyentuh kaca

    yang berembun (Liye, 2010: 7).

    Aku menyeringai datar. Pertanyaan itu pura-pura. Aku tahu

    persis. Dia tahu, seperti karyawan toko buku lainnya, setiap

    malam aku datang kesini selalu sendirian (Liye, 2010: 12).

    Aku semakin bingung. Adi berhasil menarikku ke dalam tumpah

    ruahnya hujan yang membasahi tepi jalan Margonda. Basah

    kuyup. Dia memegang lenganku. Kami berdiri berhadapan. Aku

    tak mengerti apa maksud semua ini (Liye, 2010: 13).

    e. Gaya bahasa

    Gaya bahasa adalah cara khas yang digunakan penulis untuk

    menyampaikan pikiran dan perasaan sehingga kalimat-kalimat yang

    dihasilkan menjadi hidup, dapat menimbulkan perasaan dan tanggapan

    tertentu dari pembaca. Semua itu membuat karya sastra semakin indah

    dan bernilai seni (Wiyanto, 2012: 218).

    Gaya bahasa dalam novel Daun yang Jatuh Tak Pernah

    Membenci Angin ada beberapa macam, yaitu:

    1) Hiperbola Suara jutaan butir air yang menghunjam bumi terdengar

    keras hingga ke dalam (Liye, 2010: 13).

    Esok malamnya e-mail Kak Ratna berdara-darah (Liye,

    2010: 228).

    Demi membaca e-mail berdarah-darah itu, esoknya aku

    memutuskan pulang segera ke Jakarta (Liye, 2010: 230).

    2) Personifikasi Hujan deras turun membungkus kota ini (Liye, 2010: 13).

  • 36

    Bagian tajamnya menghadap ke atas begitu saja, dan tanpa

    ampun menghunjam kakiku yang sehelai pun tak beralas saat

    melewatinya (Liye, 2010: 22).

    Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. (Liye, 2010:

    63).

    Menuju tempat rumah kardus kami dulu berdiri kokoh

    dihajar hujan deras, ditimpa terik matahari (Liye, 2010:

    231).

    Angin malam memainkan anak rambut (Liye, 2010: 236).

    Suara aliran sungai terdengar takzim (Liye, 2010: 238).

    f. Latar atau setting

    Latar atau setting merupakan setting tempat dan waktu serta

    keadaan dibalik sebuah karangan yang diceritakan. Latar bisa

    menunjukkan tempat, waktu atau kondisi dari cerita atau dialog tokoh

    yang terdapat didalam sebuah narasi itu sendiri (Ipnu, 2014: 200).

    Latar atau setting yang terdapat dalam novel Daun Yang Jatuh

    Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye adalah:

    1) Tempat

    Yang menjadi latar tempat dalam novel ini yaitu di Negara

    Indonesia dan Singapura. Lebih tepatnya di toko buku terbesar,

    rumah kardus, kontrakan Danar, rumah sakit, bandara, dufan, pusara

    ibu dan lingkungan sekitar di kota Depok. Sedangkan di Singapura

    yakni di bandara, lingkungan sekolah penerima beasiswa ASEAN

    scholarship, NUS, toko buku terbesar, tempat perbelanjaan, tempat

    kerja Tania dan lingkungan tempat tinggal Tania di flat, asrama dan

    apartemen.

  • 37

    a) Indonesia

    Toko buku ini penting. Selalu penting.

    Toko buku ini menjadi penanda perjalanan sepuluh tahun

    terakhir hidupku yang penuh warna (Liye, 2010: 16).

    Aku semakin bingung. Adi berhasil menarikku ke dalam

    tumpah ruahnya hujan yang membasahi tepi jalan

    Margonda. Basah kuyup (Liye, 2010: 13).

    Tiga tahun lamanya aku dan dede menjalani kehidupan di

    rumah kardus itu. Mengenal hampir semua tikungan jalan

    kota. Hafal mati semua bangunan yang berderet

    memenuhinya. Sehafal kami dengan jumlah tumpukan

    sampah di dekat rumah kardus. Rumah kardus dengan

    sebatang pohon linden di sebelahnya (Liye, 2010: 30).

    “Kenapa kalian tidak mengajak Ibu, Kak Ratna, dan Kak

    Danar naik bianglala?” Kak Ratna bertanya sambil

    tersenyum, waktu kami makan malam bersama di salah

    satu kedai makanan yang banyak tersedia di Dufan (Liye,

    2010: 42).

    Meskipun kata “kesibukan” menyebalkan, aku sebenarnya

    tetap bertemu dengannya seminggu sekali. Saat kelas

    mendongeng. Maka setiap hari minggu tiba, aku dan dede

    menyambutnya dengan senang. Itu menjadi pengganti

    kunjungan malamnya. Kami berboncengan sepeda menuju

    kontrakannya (Liye, 2010: 48).

    Hari minggu. Kami semua sedang berkumpul di sisi

    ranjang ibu, termasuk kak ratna. Suster dan dokter

    berlarian membawa ibu ke ruang gawat darurat. Aku dan

    dede berlari mengiringi ranjang ibu yang didorong buru-

    buru (Liye, 2010: 54).

    Saat aku akhirnya bisa pulang ke Depok. (Liye, 2010: 78).

    Ketika tiba di bandara, dia dan Dede sudah berdiri

    menjemputku di lobi kedatangan luar negeri (tidak ada

    kak ratna di sana, dan itu kabar baik untukku) (Liye,

    2010: 78).

    Aku tersenyum sambil bersibak, agar mereka berdua bisa

    merapat ke pusara ibu (Liye, 2010: 195).

  • 38

    b) Singapura

    Hari-hariku penuh dengan hal-hal baru di Singapura

    (Liye, 2010: 72).

    Aku lulus urutan kedua dari seluruh siswa di sekolah.

    Nomor satu untuk dua puluh dua penerima ASEAN

    scholarship seluruh Negara (Liye, 2010: 77).

    Buktinya, saat Dede ingin membeli buku-buku di salah

    satu toko buku terbesar di Singapura, dia hanya

    mengangguk. Mengiyakan (Liye, 2010: 97).

    Aku mengajaknya jalan-jalan di Kampus National

    University of Singapore (NUS) (Liye, 2010: 100).

    Pukul 15:00 aku mengantar mereka ke Bandara Change

    (Liye, 2010: 102).

    Kepala Sekolah SMA-ku, seorang ibu dengan wajah

    menyenangkan memelukku. “pidato yang bagus, Tania…

    well, meskipun kami tetap sedikit pun tidak punya ide

    siapa seseorang itu (Liye, 2010: 129).

    Malamnya kuhabiskan berburu lego di salah satu

    shopping center orchard road. Aku mesti berkali-kali

    mengingatkan Dede bahwa uangku terbatas (memangnya

    seperti dia dulu yang bisa membelikan kami apa saja, aku

    kan masih mahasiswa) (Liye, 2010: 175).

    Esok paginya saat hari Minggu, setengah hari dihabiskan

    di kelas mendongeng. Kami (aku dan Anne) menggunakan

    salah satu gudang di bangunan flat. Menyingkirkan semua

    barang yang tidak perlu, menyulapnya menjadi kelas

    mendongeng yang nyaman (Liye, 2010: 176).

    Sehari setelah graduation day, statusku berubah menjadi

    full-time senior associate di perusahaan pialang tempatku

    selama enam bulan terakhir magang (Liye, 2010: 202).

    Meskipun harus kuakui, setiap pulang ke apartemen-

    sekarang aku menyewa satu unit di dekat kantor-

    kehidupanku terasa kosong (Liye, 2010: 203).

  • 39

    2) Waktu

    Rentang waktu yang digunakan dalam novel Daun yang Jatuh

    Tak Pernah Membenci Angin adalah sejak Tania masih kecil dengan

    rambut berkepang dua hingga ia dewasa dan menjadi gadis yang

    sukses dan bekerja di Singapura. Akan tetapi jikalau dilihat dari

    waktu, menunjukkan sebagai berikut:

    a) Pagi

    Besok pagi-pagi, ibu mengganti perban itu dengan lap

    dapur, saputangan itu dicuci (Liye, 2010: 24).

    Esok pagi selepas subuh, Ibu mengatakan beberapa hal

    kepadaku dan Dede (Liye, 2010: 27).

    Pagi itu ibu tiba-tiba tak sadarkan diri (Liye, 2010: 54).

    b) Siang

    Siang itu dia mengajak teman wanitanya. Namanya Ratna

    (Liye, 2010: 39).

    Kami makan siang di kantin mahasiswa (Liye, 2010: 101).

    Kelas itu bubar pukul dua belas tepat, seperti di kota kami

    dulu. Kami makan siang di rumah makan dekat flat (Liye,

    2010: 177).

    c) Sore Sore itu, Ibu menggosok tubuh hitam dekilku,

    menggunakan sampo banyak-banyak di rambutku yang

    mengeriting dan bau karena terkena sinar matahari

    seharian (Liye, 2010: 17).

    Aku ingat sekali, sore hari Minggu itu seperti biasa aku

    dan adikku pulang lebih lama dibandingkan anak-anak

    lain (Liye, 2010: 38).

    Sore itu juga Ibu dibawa pulang ke kontrakan (Liye, 2010:

    61).

  • 40

    d) Malam

    Malam ini hujan turun lagi. Seperti malam-malam yang

    lalu. Menyenangkan (Liye, 2010: 7).

    "Setiap malam aku datang ke toko buku ini" (Liye, 2010:

    11).

    Desau angin malam menerbangkan sehelai daun pohon

    linden. Jatuh di atas rambutku. Aku memutuskan pergi

    (Liye, 2010: 254).

    3) Suasana

    Latar suasana dalam novel ini sangatlah beragam, mulai dari

    kebahagian, kemarahan, kesedihan dan lainnya.

    Salah satunya yang paling ku ingat dan seketika membuatku

    berlonjak gembira, aku akan kembali sekolah. Dede juga

    akan di sekolahkan. Ibu tersengal haru saat mengatakan itu.

    Bahkan menangis. Mendekap kami erat (Liye, 2010: 27).

    Aku membalikkan badan sejenak. Menatap keramaian lantai

    dua toko buku. Keramaian yang tadi kubelakangi. Orang-

    orang memadati lantai dua toko buku. Hujan! Beberapa dari

    mereka sebenarnya hanya mencari tempat berteduh. Sekalian

    berteduh, sekalian melihat-lihat (Liye, 2010: 51).

    Semua terasa lamban. Tersa menakutkan. Aku takut melihat

    kalender. Aku takut melihat jam. Namun, pelan tapi pasti,

    waktu terus bergerak. Tidak ada tangan yang bisa

    menghentikannya (Liye, 2010: 153).

    KAULAH YANG SALAH. KARENA KAU TAK PERNAH

    MAU MENGAKUINYA! Aku membentaknya (Liye, 2010:

    244).

  • 41

    g. Amanat

    Amanat yang ingin disampaikan dalam novel Daun Yang Jatuh

    Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye ini adalah:

    1) Bagaimanapun kerasnya hidup, harus tetap dijalani dengan penuh

    semangat dan rasa syukur.

    2) Mengikhlaskan segala sesuatu yang sudah menjadi keputusanNya

    (takdir).

    3) Belajar menjadi orang yang peka dengan lingkungan, yakni dengan

    membantu orang lain yang membutuhkan tanpa memandang status

    meskipun tidak diminta bantuan.

    4) Bahwasanya dalam hidup harus tetap melakukan hal-hal yang baik,

    meski terkadang tidak di dihargai oleh orang lain.

    5) Menjalin hubungan baik yakni menjaga tali silaturahim dengan

    siapapun, tanpa memandang ras, suku, agama dan Negara.

    Kutipan Novel:

    “Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah.

    Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar.

    Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus.

    Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan

    pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian

    yang sedih dan menyakitakan” (Liye, 2010: 196)

  • 42

    BAB III

    DESKRIPSI PEMIKIRAN

    A. Nilai Ukhuwah

    Ukhuwah yang sering diartikan sebagai “persaudaraan” berasal dari

    akar kata yang pada awalnya berarti “memperhatikan”. Hal ini

    menggambarkan bahwasanya untuk mewujudkan persaudaraan diperlukan

    adanya perhatian diantara mereka yang bersaudara. Sehingga makna tersebut

    kemudian berkembang hingga ukhuwah diartikan sebagai persamaan dan

    keserasian dengan pihak lain, baik meliputi persamaan keturunan, suku,

    bangsa, agama dan lainnya (Firdaus, 2006: 163).

    Berikut nilai ukhuwah yang terdapat dalam novel Daun yang Jatuh

    Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye.

    1. Menjaga & Menciptakan lingkungan dengan baik

    Manusia diciptakan sebagai kholifah di muka bumi, sudah

    sepantasnya menjaga dan menciptakan lingkungan dengan baik. Hal ini

    ditunjukkan Tania menanam bunga bugenvil hingga berbunga indah.

    Proses berbunga memerlukan banyak hal, salah satunya dirawat dengan

    baik tanaman tersebut.

    Aku sedang rileks membaca buku di teras belakang. Duduk di

    kursi rotan beralas bantal-bantal besar. Menatap bugenvil yang

    mekar berbunga. (Liye, 2010: 188)

    Juga perilaku menjaga dan menciptakan lingkungan dengan baik

    ditunjukkan Danar dengan mengubah tempat yang dulunya menjadi

  • 43

    pembuangan sampah, kini disulap menjadi taman yang indah dan tetap

    membiarkan pohon linden hidup dikarenakan mengetahu kalau pohon

    tersebut memberikan manfaat yakni menambah keindahan lingkungan

    taman sekitar.

    Tanah itu sekarang sudah ada yang membeli. Tidak tahu siapa.

    Dan sudah disulap menjadi setengah taman. Tetapi pohon linden

    itu tetap berdiri di sana. (Liye, 2010: 194)

    Tidak ada sampah yang dulu banyak berserakan.

    Sepotong tanah di bantaran itu sudah indah. Tanahnya digerus

    menjadi datar sedemikian rupa. Atasnya ditanami rumput lembut

    seluruhnya… kalian bisa duduk nyaman disana.

    Pohon linden itu sedang berbunga. Bunga yang elok. Membuat

    kuning seluruh permukaan pohonnya. Dan wanginya semerbak

    memenuhi langit-langit malam. (Liye, 2010: 231-232).

    2. Menjaga silaturahim

    Menjaga silaturahim merupakan sesuatu hal yang berpahala,

    silaturahim dalam hal ini ditunjukkan teman-teman Tania di Singapura

    dengan menghadiri undangan acara ulang tahun Tania.

    Beberapa temanku juga datang, termasuk si Jhony Chan itu.

    (Liye, 2010: 94)

    Juga dilihatkan pada saat Tania mengunjungi temannya di Kuala

    Lumpur.

    Aku memutuskan berkunjung ke rumah Anne di Kuala Lumpur.

    (Liye, 2010: 132)

    3. Ramah-tamah

    Danar mempunyai karakter yang ramah, sehingga orang yang

    berada di sekelilingnya merasa nyaman. Hal ini ditunjukkan saat Danar

  • 44

    bersama teman-teman Tania sewaktu merayakan ulang tahun Tania di

    Singapura. Meskipun usia mereka terpaut jauh lebih muda, namun Danar

    tetap bisa menyesuaikannya.

    Dia seperti biasa amat menyenangkan bagi orang yang baru

    mengenalnya. Bercanda. Bercerita banyak hal. Membuat ruang

    tamu itu terkadang diam mendengarkan. Melanjutkan

    perbincangan lain, dan seterusnya. (Liye, 2010: 95)

    Tidak hanya Danar, Tania juga mempunyai sifat yang ramah.

    Dilihat dari banyaknya teman-teman dari penjuru negara di kelasnya yang

    nyaman tolong kepadanya.

    “Wajahmu menyenangkan, tania. Dan itu membuat banyak orang

    nyaman untuk bertanya dan bersamamu….” Itu yang dia jelaskan

    saat kami pernah membahasnya dalam chatting singkat soal

    kenapa teman-teman sekelasku lebih banyak bertanya kepadaku

    dibandingkan dengan anak lain. (Liye, 2010: 106)

    4. Bekerja sama

    Bekerja sama dilakukan Tania sama Encik Faisal, Tania tanpa

    memandang suku, kebudayaan bahkan dari Negara mana Encik Faisal

    berasal. Yang terpenting kerja sama yang dilakukan memberikan

    maanfaat dan orangnya amanah.

    Bisnis kueku memang berkembang baik, sekarang sudah dua toko;

    tetapi sekarang sepenuhnya dikendalikan Encik Faisal, salah

    seorang karyawan lamaku… Encik Faisal menyerahkan laporan

    dan aku memeriksanya. (Liye, 2010: 203)

    5. Kasih sayang

    Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya memang tiada tara,

    mulai dari hal-hal yang kecil dan tidak disadari. Ini ditunjukkan ibu Tania

    dengan memilihkan pakaiaan terbaik yang dimiliki untuk dipakai agar

  • 45

    anaknya patut dilihat. Meski pakaian terbaik miliknya adalah pakaian

    yang super seadanya. Juga kasih sayangnya dapat dilihat saat ibu Tania

    memberikan nasehat sebelum keberangkatan Tania dan Dede jalan-jalan

    bersama Danar.

    Kata ibu, “Tania, hati-hatilah disana! Kita harus mengganti

    setiap barang yang rusak karena kita sentuh! Jaga adikmu, jangan

    nakal…..” (Liye, 2010: 17)

    Ibu memberikan pakaian terbaik yang disimpannya dalam

    buntalan plastik diatas para-para kardus…. Aku senang saja

    memakainya. Dede bahkan banyak menyimpul senyum. (Liye,

    2010: 17)

    Lain halnya dengan Danar yang menunjukkan kasih sayangnya

    lewat tutur kata yang baik saat membujuk Dede.

    Aku terkesima melihat cara dia membujuk Dede soal pensil

    tersebut. Caranya memandang adikku, mengelus rambutnya,

    tersenyum, dan berkata pelan menjelaskan sungguh memesona.

    (Liye, 2010: 19).

    6. Peduli

    Danar mempunyai karakter yang peduli, dilihat bagaimana dia

    bisa mengapresiasi kepada Tania dan Dede dengan tepat. Yakni bisa

    menempatkan pujian sesuai porsi dan tempatnya.

    Adikku Dede tersipu malu saat dipuji oleh dia (“Lihatlah!

    Ternyata kau keren sekali.”). aku juga malu dengan “penampilan

    baru” itu (“Dan kau cantik sekali, Tania!”). (Liye, 2010: 18)

    “Kau anak yang pintar Tania!, Amat pintar!” (Liye, 2010: 36)

    “Kau pandai bercerita, Tania! Amat pandai,” dia memujiku sore

    itu. Aku tersenyum malu (Liye, 2010: 45)

  • 46

    7. Tolong menolong

    Tolong menolong merupakan suatu keadaan yang menunjukkan

    kesiapan dan ketersediaan membantu meringankan beban penderitaan dan

    kesulitan orang lain tanpa mengharapkan pamrih atau balas jasa. Saling

    membantu atau bekerja sama dengan orang yang ditolong.

    Tolong menolong merupakan wujud peduli dan sayang terhadap

    orang lain, hal ini dilakukan Danar kepada keluarga Tania. Danar

    membantu membiayai sekolah Tania dan Dede, memberi modal untuk

    membuka usaha kue serta merawat Tania dan Dede selepas ibunya

    meninggal.

    “Tetapi siapa yang akan membayarinya?” aku tersadarkan dari

    kegembiraan sesaat. Jangankan sekolah, tiga tahun terakhir ini,

    makan saja kami susah.

    “Oom Danar…,” Ibu berkata pelan sambil menyeka sudut

    matanya. Tersenyum. (Liye, 2010: 27)

    Tentu saja semua modal usaha kue itu dari dia. Termasuk soal

    saran bentuk kue-kuenya. Dia sedikitpun tidak meminta bagian

    dari penjualan. Tidak sekalipun meminta ibu untuk

    mengembalikannya. Hanya tersenyum lebar saat ibu memberikan

    bungkusan kue untuknya. (Liye, 2010: 46)

    Sehari setelah ibu meninggal, aku dan adikku pindah ke

    kontrakannya. Kontrakan ibu dikosongkan (“Biar mereka bisa

    segera melupakan semua kejadian menyakitkan ini,” itu katanya

    kepada Kak Ratna saat berbenah-benah pindah). Kak Ratna

    membantu banyak proses kepindahan itu. (Liye, 2010: 67).

  • 47

    8. Saling menasehati

    Danar memberi nasehat kepada Tania dan Dede saat mereka

    merajut di pemakan ibunya dan tak mau pulang. Juga menasihati Tania

    agar tetap berangkat ke Singapura untuk mengambil beasiswa yang

    diterimanya meskipun ibunya baru saja meninggal.

    “Ketahuilah, Tania dan Dede…. daun yang jatuh tak pernah

    membenci angin…. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak

    melawan. Mengikhlaskan semuanya… Kita harus pulang, Tania.”

    (Liye, 2010: 63)

    “Tania, kehidupan harus berlanjut. Ketika kau kehilangan

    semangat, ingatlah kata-kataku dulu. Kehidupan ini seperti daun

    yang jatuh…. Biarkanlah angin yang menerbangkannya…. Kau

    harus berangkat ke Singapura!” (Liye, 2010: 70)

    Menasihati banyak hal (dia tak pernah langsung bilang seperti

    apa; dia selalu mengatakannya lewat sebuah cerita).

    Memotivasiku untuk terus belajar. Mengingatkan untuk menjaga

    kesehatan, “Jangan lupa makan tepat waktu, Tania!” (Liye, 2010:

    76)

    9. Berduka ketika orang lain berduka

    Tetangga sekitar ikut merasakan kesedihan atas kepergian ibu

    Tania, mereka ramai melayat ke kontrakannya.

    Sore itu juga ibu dibawa ke kontrakan. Dua tahun terakhir karena

    kehidupan kami berjalan normal di kontrakan baru, tetangga

    sekitar ramai melayat. (Liye, 2010: 61)

    Adikku duduk bingung menatap tubuh ibu yang terbungkus kain

    kafan. Semua mata memandang bersedih ke arahku dan Dede.

    (Liye, 2010: 61)

    10. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)

    Berjabat tanggan merupakan wujud peduli yang dapat dilakukan

    kepada selain non muhrim, setidaknya dengan berjabat tangan ada

  • 48

    interaksi yang dapat dirasakan bersama. Hal ini ditunjukkan Adi sebagai

    tamu di rumah Danar sebagai sapaan hormat dan perkenalan.

    Adi beranjak mendekat ingin menggengam tangannya. Mengajak

    bersalaman. (Liye, 2010: 188).

    11. Mengingatkan dalam kebaikan.

    Merupakan kewajiban setiap muslim untuk senantiasa

    mengingatkan untuk kebaikan, hal ini dilakukan Tania kepada Dede agar

    dia semakin rajin melakukan shalat.

    Aku tertawa mengingatkan agar dia lebih rajin shalat. (Liye,

    2010: 205)

    12. Mendoakan orang lain

    Mendoakan orang lain sama halnya berdoa untuk diri kita sendiri,

    untuk itu mendoakanlah untuk sesuatu hal yang baik saja. dalam hal ini

    Tania, Adi dan Dede tetap mendoakan ibunya yang sudah meninggal.

    Tidak hanya itu, Tania juga mendoakan Ratna sewaktu dia sakit.

    Aku, adikku, dan Adi (yang pagi-pagi sudah datang ke rumah)

    pergi ke pusara ibu. Dede membawa empat tangkai mawar merah.

    Ini kebiasaanya. Adikku setiap minggu selama delapan tahun

    terakhir selalu datang ke pemakaman ibu. Membawa mawar

    merah. Mengadu. Bercerita. (Liye, 2010: 189)

    Aku sudah jauh lebih sehat, Tania. Terima kasih. Kau pasti

    banyak mendoakanku. Doa gadis sebaik dirimu pasti terkabul.

    (Liye, 2010: 223)

  • 49

    B. Karakter Tokoh Utama

    Berikut merupakan karakter tokoh utama yang patut di teladani dalam

    novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye yaitu:

    1. Tania

    a. Berbakti kepada orang tua

    Berbakti kepada orang tua sering disebut dengan birrul walidain,

    yang artinya berbuat baik kepada kedua orang tua (Ilyas, 2007: 148).

    Tania membantu ibunya berbisnis membuat kue. Hal ini

    menunjukkan bahwa Tania melakukan pekerjaan sebagai wujud

    berbakti kepada orang tuanya.

    …aku dan adikku tetap sibuk. Membantu Ibu membuat kue-kue

    itu, mengantarkannya ke tetangga, warung-warung, toko-toko,

    juga beberapa koperasi di kampus. (Liye, 2010: 46).

    Tania juga menunjukkan karakter berbakti kepada orang tuanya

    b. Giat (Pekerja Keras)

    Kerja keras merupakan perilaku yang menunjukkan upaya

    sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan dalam belajar

    dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. (Zuchdi,

    2013: 75). Karakter pekerja keras Tania ditunjukkan dalam

    pengakuannya bahwa dirinya pekerja keras.

    Aku juga pekerja keras. (Liye, 2010: 33)

  • 50

    Juga dibuktikan dengan beberapa kutipan yang menggambarkan

    bahwa Tania bekerja keras dalam belajar, sehingga ia mampu menjadi

    lulusan terbaik juga tercepat.

    Setelah berjuang habis-habisan di ujian terakhir, akhirnya aku

    berhasi melampaui 0,1 digit si nomor 1 selalu. Tipis sekali. Aku

    mendapatkan predikat terbaik. (Liye, 2010: 127)

    Aku hanya butuh dua tahun setengah untuk menyelesaikan

    bachelor degree-ku di jurusan Commerce NUS. GPA (grade

    point average)-ku tak kurang satu pun dari nilai maksimal.

    Sempurna. Terbaik dalam catatan sejarah kampus tersebut.

    (Liye, 2010: 159)

    c. Amanah

    Amanah adalah dipercaya, seakar dengan kata iman. Sifat ini

    lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang

    semakin pudar pula sifat amanah yang ada pada dirinya (Ilyas, 2007:

    89).

    Tania yang berjanji akan belajar sebaik mungkin, dalam hal ini

    Tania memeperlihatkan karakter amanah terhadap dirinya, yaitu dengan

    janjinya yang akan selalu ditepati.

    Janji yang selalu kupegang. Aku akan belajar sebaik mungkin.

    (Liye, 2010: 77)

    d. Optimis

    Optimis adalah suatu pandangan, harapan dan keyakinan baik.

    Tania memiliki akhlak yang baik terhadap diri sendiri, yaitu dia

    memandang masa depannya dengan penuh optimis.

  • 51

    Anak kumuh dan kotor itu sudah berubah. Anak yang berlepotan

    jelaga asap mobil, debu jalanan, sekarang tumbuh menjadi

    gadis berambut hitam legam dengan tatapan mata yakin

    memandang masa depan (Liye, 2010: 128).

    2. Danar

    a. Baik hati

    Danar mempunyai sikap dan perilaku yang baik terhadap

    sesama manusia dengan menunjukkan perhatian kepada orang lain,

    meskipun itu belum kenal. Yakni ditunjukkan saat Danar membantu

    Tania yang kakinya terkena paku disaat mengamen di dalam bus kota.

    Dia beranjak dari duduknya, mendekat. Jongkok dihadapanku.

    Mengeluarkan saputangan dari saku celananya. Meraih kaki

    kecilku yang kotor dan hitam karena bekas jalanan. Hati-hati

    membersihkannya dengan ujung saputangan. Kemudian

    membungkusnya perlahan-lahan. (Liye, 2010: 23)

    b. Ikhlas

    Ikhlas merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk

    melakukan suatu perbuatan dengan ketulusan hatinya. (Zuchdi, 2009:

    28). Atau dengan kata lain berbuat tanpa pamrih, hal ini ditunjukkan

    kepada Danar saat membantu Ibu Tania meberikan modal usaha kue.

    Akan tetapi Danar tidak mau dikasih uang persenan laba penjualan.

    Bahkan uang modalpun tidak mau dikembalikan.

    Dia sedikitpun tidak meminta bagian dari penjualan. (Liye,

    2010: 46)

  • 52

    c. Sederhana

    Sederhana merupakan sikap dan perilaku yang menunjukkan

    kesehajaan dan tidak berlebihan dalam berbagai hal. (Zuchdi, 2009: 28)

    Kesederhanaan Danar ditunjukkan saat dia memilih syukuran

    ulang tahun Tania dengan acara yang sederhana, bukan pesta-pesta

    besar.

    “… Om Danar paling benci kalau mesti pesta-pesta besar.

    (Liye, 2010: 91)

    d. Sopan Santun

    Sopan santun merupakan akhlak terpuji, Islam mengajarkan agar

    setiap muslim menjaga sopan santun dan kehormatan diri serta

    keluarganya, agar bersopan santun kepada orang lain, yakni kepada

    orang yang lebih tua juga kepada siapa saja. Dalam hal ini Danar

    dengan mengalihkan pembicaraan dengan lembut, dan termasuk

    perilaku yang sopan.

    Dia mengalihkan pembicaraan dengan lembut. (Liye, 2010:

    142)

    3. Ratna

    a. Sabar

    Karakter sabar ditunjukkan saat Ratna menghadapi sifat Tania

    yang keras, namun Ratna tetap tidak marah bahkan menghadapinya

    dengan mata berkaca-kaca.

  • 53

    Aku menolak mentah-mentah saran Kak Ratna yang ingin

    mengantar kami pulang. Aku meneriaki Kak Ratna keras sekali.

    Kak Ratna tidak marah, bahkan berkaca-kaca matanya. (Liye,

    2010: 56)

    b. Pengertian

    Saat mengunjungi Tania ke Singapura, Ratna tidak mau

    merepotkan Tania dengan mengantarkannya pulang ke bandara. Hal

    itulah yang menunjukkan bahwa Ratna mempunyai karakter

    pengertian.

    “Tak usah, Sayang. Aku sudah mengganggu harimu. Biar aku

    pulang sendiri.” (Liye, 2010: 150)

    c. Setia

    Suatu hari Ratna pulang ke rumah orang tuanya, karena rumah

    tangganya sedang ada masalah dan dia butuh menenagkan diri. Namun,

    setiap saat Ratna tetap mengharap kehadiran suaminya yaitu Danar

    untuk bisa bersama-sama lagi memperbaiki rumah tangganya yang

    sempat renggang.

    …Kak Ratna menunggu kedatangannya setiap saat. (Liye, 2010:

    255-256)

  • 54

    BAB IV

    PEMBAHASAN

    A. Nilai Ukhuwah

    Selama ini masyarakat muslim dimungkinkan mengenal istilah

    ukhuwah islamiyyah dengan makna persaudaraan yang dijalin oleh sesama

    muslim. Oleh karena itu kata islamiah dianggab sebagai pelaku ukhuwah itu

    sendiri. Padahal kata islamiah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih

    tepat dipahami sebagai adjektifa, sehingga ukhuwah islamiah berarti

    “persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh Islam”. Dua

    alasan menurut Shihab (1996: 477-478) yang dijadikan sebagai pendukung

    hal tersebut, yakni:

    1. Al-Quran dan hadis memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan.

    2. Karena alasan kebahasaan. Didalam bahasa arab, kata sifat harus

    disesuaikan dengan yang disifati.

    Ukhuwah yang diajarkan oleh islam telah dikemukakan di beberapa

    ayat Al-Quran yang mengisaratkan bentuk atau jenis persaudaraan. Dari

    semuanya itulah dapat disimpulkan bahwa kitab suci memperkenalkan empat

    macam persaudaraan (Shihab, 1996: 480), yakni sebagai berikut:

    1. Ukhuwah Ubudiyah (saudara kesemakhlukan dan kesetundukan dengan

    Allah).

    2. Ukhuwah Insaniyah (Basyariyah) yakni dalam arti seluruh umat manusia

    adalah bersaudara, dikarenakan berasal dari ayah dan ibu yang sama.

  • 55

    3. Ukhuwah Wathoniyyah wa an-nasab, persaudaraan