nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab...

of 115/115
i NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB KHULASHAH NURUL YAQIN KARYA MUHAMMAD KHUDHARI BEK SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Oleh: SAIFUL AMRI NIM: 111 12 074 FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK) JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA TAHUN 1437 H/ 2016 M

Post on 06-Sep-2020

6 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • i

    NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM

    KITAB KHULASHAH NURUL YAQIN KARYA

    MUHAMMAD KHUDHARI BEK

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan

    Oleh:

    SAIFUL AMRI

    NIM: 111 12 074

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

    TAHUN 1437 H/ 2016 M

  • ii

  • iii

  • iv

  • v

  • vi

    MOTTO

    Artinya: “dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah

    sangat besar atasmu”. (Qs. An-Nisaa’:113)

    “Tiap tempat akan menjadi sempit bila di masukkan sesuatu ke dalamnya, kecuali tempat ilmu. Ia akan bertambah luas, jika dimasukkan ilmu ke dalamnya”

    (Sayyidina Ali Ra)

  • vii

    PERSEMBAHAN

    Skripsi yang sederhana ini penulis persembahkan kepada:

    Bpk Ibuku (Bpk Tarkim dan Ibu Suwarni), adik-adikku (Emi Bahrul

    Munif dan Heri Yanto), seluruh keluargaku yang selalu melengkapi

    kehidupanku dalam segala hal. Selalu memberikan kasih sayang,

    semangat dan do‟a yang tiada henti, sehingga skripsi ini bisa penulis

    selesaikan.

    Abah Cholid Ulfi Fatkhurrohman, Abah As‟ad Haris N.F., Abah

    Taufiqurrahman, Ibunda Fatichah Ulfah dan Ummah Chusnul Halimah,

    serta segenap keluarga besar kepengasuhan Yayasan Al-Manar yang

    senantiasa memberi tempat untukku dalam menuntut ilmu.

    Pon-pes Al-Manar yang telah mengajarkanku berbagai ilmu pengetahuan.

    Jajaran kepengurusan Pon-pes Al-Manar dan seluruh kang-kang, mb-mb

    Pon-pes Al-Manar.

    Almamaterku tercinta IAIN Salatiga.

    Semua teman-teman seperjuangan kelas 7 yang koplak, bakren, kote,

    rondeng, gembong, gendon, ahsun, mbokke, eli, mb ris, mb na, mb jul, mb

    arin, mb mbem, ulfa, iruk, ndok, kuna, rini, yang selalu memeberiku

    inspirasi dan semangat.

    Kepada mz Hum, mz Dumb, kang Arip, Tamban, Diduk, wahab, Guz

    Faza, gepeng, giweng, Kamal, Nurul Aliyah dan Mb Muddah yang telah

    sangat berjasa kepadaku.

  • viii

    Ndukku Choir Al-Um yang selalu menemani, mendoakan serta memberi

    motivasi dan semangat kepadaku.

    Teman-teman seperjuangan angkatan 2012 IAIN Salatiga. Terkhusus PAI

    B, teman-teman KKL, teman-teman PPL dan teman-teman KKN.

    Seluruh kaum muslimin dan muslimat yang senantiasa menuntut ilmu,

    dan seluruh pembaca yang telah mendo‟akan dan memberi semangat yang

    tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

  • ix

    KATA PENGANTAR

    بسم اهلل الّرمحن الّرحيم

    Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah

    menganugerahkan kenikmatan yang tak terhingga jumlah dan nominalnya.

    Kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami

    berlindung kepada Allah dari kejahatan- kejahatan diri kami dan keburukan-

    keburukan amal dan perbuatan kami. Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang patut

    disembah kecuali Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan

    aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya.

    Shalawat dan salam semoga terlimpah curah Baginda Nabi Muhammad SAW,

    juga kepada keluarga, Sahabat, dan Umatnya. Semoga kelak semua umatnya

    akan mendapatkan syafa‟atul „uzmah di hari kiamat nanti.

    Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini

    tidak sedikit halanagan, hambatan, gangguan dan kesulitan yang dihadapi.

    Namun berkat bantuan, bimbingan dan motivasi barbagai pihak akhirnya

    penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu penulis menyampaikan

    ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada:

    1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. Selaku Rektor Institut Agama

    Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

    2. Bapak Suwardi, M.pd. Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

    Keguruan.

    3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama

    Islam.

    4. Bapak Mohammad Ali Zamroni, M.A. Selaku Pembimbing skripsi

    dan Pembimbing Akademik yang telah membimbing dalam

    penulisan skripsi ini.

  • x

  • xi

    ABSTRAK

    Saiful Amri. 2016. Analisis Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Khulashah Nurul Yaqin Karya Muhammad Khudhari Bek. Skripsi. Jurusan

    Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut

    Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Mohammad Ali Zamroni,

    M.A

    Kata kunci: Nilai-nilai Pendidikan Akhlak. Kitab Khulashah Nurul Yaqin Karya Muhammad Khudhari Bek

    Muhammad Khudhari Bek adalah ulama serta tokoh Pendidikan yang

    menguasai berbagai bidang disiplin ilmu keagamaan. Salah satu kitabnya adalah

    Khulashah Nurul Yaqin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana

    pendidikan akhlak menurut Muhammad khudhari Bek dalam kitab Khulashah

    Nurul Yaqin. Pertanyaan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: (1)

    Bagaimanakah nilai pendidikan akhlak dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin karya

    Muhammad Khudhari Bek dibutuhkan dalam memahami moralitas Islam, (2)

    Bagaimana metode pengajaran yang digunakan Muhammad Khudhari Bek dalam

    kitab Khulashah Nurul Yaqin, dan (3) Bagaimanakah aplikasi nilai pendidikan

    akhlak pada kitab Khulāşah Nūrul Yaqīn dalam kehidupan sehari-hari.

    Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library

    research). Sumber data primer adalah kitab Khulashah Nurul Yaqin, sumber

    sekundernya adalah terjemahannya serta buku-buku lain yang bersangkutan dan

    relevan dengan penelitian.

    Teknis analisis data menggunakan metode Content Analysis (analisis isi).

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan akhlak yang ada

    dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin karya Muhammad Khudhari sangat relevan

    dengan kehidupan sekarang, pendidikan akhlak Rasulullah SAW sangat di

    butuhkan dalam mendidik akhlak pada kehidupan sekarang karena Rasulullah

    SAW merupakan suri tauladan dalam segala hal. Nabi Muhammad SAW telah

    menampilkan cermin kehidupan yang wawasannya demikian luas, seluas ragam

    kehidupan kita yang berkaitan dengan berbagai aspek dan profesi kita masing-

    masing. Model pendidikan akhlak dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin

    menggunakan pendekatan uraian narasi dan pertanyaan, dengan tujuan untuk

    meningkatkan daya kefahaman. Aplikasi Nilai-Nilai pendidikan akhlak dalam

    kitab Khulashah Nurul Yaqin dalam kehidupan sehari-hari dari sifat-sifat

    Rasulullah SAW yaitu: (1) shidiq, (2) Amanah, (3) Tabligh, (4) Fathanah.

  • xii

    DAFTAR ISI

    1. JUDUL .................................................................................................. i

    2. LOGO IAIN ......................................................................................... ii

    3. NOTA PEMBIMBING ....................................................................... iii

    4. PENGESAHAN KELULUSAN ......................................................... iv

    5. PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN........................................... v

    6. MOTTO................................................................................................ vi

    7. PERSEMBAHAN................................................................................ vii

    8. KATA PENGANTAR......................................................................... x

    9. ABSTRAK ........................................................................................... xi

    10. DAFTAR ISI ....................................................................................... xii

    BAB I. PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang .................................................................. 1

    B. Rumusan Masalah ............................................................ 6

    C. Tujuan Penelilitian ........................................................... 6

    D. Manfaat Penelitian ........................................................... 6

    E. Penegasan Istilah ............................................................. 7

    F. Metode Penelitian .......................................................... 10

    G. Sistematika Penulisan .................................................... 12

    BAB II. BIOGRAFI DAN KARYA ILMIAH MUHAMMAD

    KHUDHARI BEK

    A. Riwayat Hidup Muhammad Khudhari Bek ................... 13

  • xiii

    B. Beberapa Karya Muhammad Khudhari Bek .................. 13

    BAB III. DESKRIPSI PEMIKIRAN MUHAMMAD KHUDHARI

    BEK TENTANG NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM

    KITAB KHULASHAH NURUL YAQIN

    A. Pengertian Nilai Pendidikan akhlak ............................... 31

    1. Pengertian Nilai ...................................................... 31

    2. Pengertian Pendidikan ............................................ 32

    3. Pengertian Akhlak .................................................. 35

    B. Pemikiran Muhammad Khudhari Bek Tentang Nilai

    Pendidikan Akhlak Dalam Kitab Khulashah Nurul

    Yaqin............................................................................... 36

    1. Pendidikan keujuran dalam amanah ....................... 38

    2. Pendidikan Keadilan ............................................... 40

    3. Pendidikan Kesabaran ............................................ 42

    4. Pendidikan Keberanian ........................................... 43

    5. Pendidikan Kpemimpinan ...................................... 44

    BAB IV. ANALISIS RELEVANSI NILAI-NILAI PENDIDIKAN

    AKHLAK KITAB KHULASHAH NURUL YAQIN

    A. Latar Belakang Penulisan Kitab Khulashah Nurul Yaqin

    ........................................................................................ 48

    B. Metode yang Digunakan dalam Pendidikan Akhlak ..... 52

    C. Aplikasi Pendidikan Akhlak dalam Kitab Khulashah Nurul

    Yaqin dalam Konteks Kehidupan .................................. 56

  • xiv

    1. Pendidikan Kejujuran ............................................. 66

    2. Pendidikan Amanah ................................................ 70

    3. Pendidikan Keadilan ............................................... 73

    4. Pendidikan Kesabaran ............................................ 77

    5. Pendidikan Kepemimpinan ..................................... 79

    BAB V. PENUTUP

    A. Kesimpulan .................................................................... 83

    B. Saran .............................................................................. 88

    11. DAFTAR PUSTAKA

    12. LAMPIRAN-LAMPIRAN

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW diyakini

    dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan

    batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya

    manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam

    arti yang seluas-luasnya. (FIP-UPI, 2007:17).

    Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia,

    yang berkaitan dengan tingkah laku manusia nampak amat ideal dan agung.

    Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal

    fikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap

    seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa

    mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu, bersikap terbuka,

    demokratis, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak

    mulia, dan sikap-sikap positif lainya. (Al-Jamil, 1992:11-12).

    Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan

    dan teknologi canggih untuk mengatasi berbagai masalah kehidupanya,

    namun pada sisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi canggih tersebut tidak

    mampu menumbuhkan moralitas (akhlak) yang mulia. Dunia modern saat ini

    termasuk Indonesia ditandai dengan gejala kemrosotan akhlak yang benar-

  • 2

    benar pada taraf yang mengkhawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan,

    tolong-menolong, dan kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan,

    penipuan, penindasan, saling menjegal dan saling merugikan. Di sana sini

    banyak terjadi adu domba dan fitnah, menjilat, mengambil hak orang lain

    sesuka hati dan perbuatan-perbuatan biadab lainya. (Nata, 2003:126).

    Gejala kemerosotan akhlak tersebut dewasa ini bukan saja menimpa

    kalangan dewasa, melainkan juga telah menimpa kalangan pelajar tunas-tunas

    muda, orang tua, ahli didik, dan mereka yang berkecimpung dalam bidang

    agama dan sosial banyak mengeluhkan perilaku sebagian pelajar yang

    berprilaku nakal, keras kepala, mabuk-mabukan, tawuran, pesta obat-obatan

    terlarang, bergaya hidup yang berlebih-lebihan, di Eropa, Amerika, dan

    sebagainya. (Nata, 2003:126).

    Dari permasalahan ini penulis mencoba mendeskripsikan secara

    umum mengenai pendidikan akhlak yang membahas bagaimana

    mengendalikan kehendak nafsu manusia yang sering menghanyutkan

    manusia kepada hal-hal yang negatif dan merugikan, bagaimana suatu akhlak

    manusia itu benar-benar menjadi akhlaqul karimah.

    Dengan bekal pendidikan akhlak, orang dapat mengetahui batas mana

    yang baik dan batas mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu

    sesuai dengan tempatnya. Orang yang berakhlak dapat memperoleh irsyad,

    taufik, dan hidayah sehingga dapat bahagia di dunia dan di akhirat.

    Kebahagian hidup oleh setiap orang selalu didambakan kehadiranya di dalam

  • 3

    lubuk hati. Hidup bahagia merupakan hidup sejahtera dan mendapat ridha

    Allah SWT dan selalu disenangi oleh sesama makhluk.

    Dalam agama yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperbaiki

    akhlak manusia, antara lain anjuran untuk selalu bertaubat, bersabar,

    bersyukur, bertawakal, mencintai orang lain, mengasihani dan menolongnya.

    Anjuran anjuran itu, sering didapatkan dalam ayat-ayat Al-Qur‟an, sebagai

    nasihat orang-orang yang sering melakukan perbuatan buruk. (FIP-UPI,

    2007:18).

    Pendidikan akhlak yang Islami sangat dibutuhkan dan diperlukan di

    zaman sekarang ini. Karna kebudayaan yang baik dari suatu bangsa tidak

    menjamin memiliki akhlak dan perilaku yang baik bagi bangsa tersebut.

    Sejalan dengan permasalahan di atas, tulisan ini akan mencoba

    mencarikan solusi untuk mengatasi tragedi masyarakat tersebut, dengan

    memfokuskan kajian-kajian pada tarikh Islam.

    Salah seorang ulama yang mengkaji tarikh Islam secara khusus adalah

    Muhammad Al-Khudhari Bek. Dia seorang inspektur kementrian dan dosen

    sejarah Islam di Universitas Mesir. (Khudhari, 2007:vii). Dan beliau telah

    memberikan sumbangan 3 karya dari bidang tarikh Islam, yaitu Khulāşhah

    Nūrul Yaqīn jilid pertama, yang mengupas Sejarah Rasulullah SAW dari

    masa pertama kehidupan beliau sampai masa kedua dari kehidupan beliau,

    dan dilanjutkan Khulāşhah Nūrul Yaqīn jilid kedua, yang cakupan

    pembahasannya dari tahun pertama hijrah sampai tahun kesebelas hijrah

  • 4

    Rasulullah SAW, dalam menyusun kitab Khulāşhah Nūrul Yaqīn ini,

    pengarang menemukan kesukaran-kesukaran karena bahan yang sedikit.

    (Djabbar, tt:3).

    Dan dilanjutkan penyusunan Khulāşhah Nūrul Yaqīn jilid ketiga dari

    tasilul-„arabia yang berguna untuk pelajar bahasa Arab, dengan maksud

    untuk melancarkan lidah dalam mempergunakan bahasa percakapan, yaitu

    dengan memperbanyak latihan-latihan yang mungkin melebihi pelajar-pelajar

    yang ada, dan dengan mengulangi kata-kata beberapa kali dalam bermacam

    bentuk dan cara sehingga tidak mudah dilupakan. (Djabbar, tt:3). Dan ketiga

    buku ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia untuk mempermudah dalam

    memahami kitab ini, yang telah diterjemhakan oleh Ustadz Umar Abdul

    Djabbar.

    Di antara kitab-kitab tarikh, yang penulis pilih ialah kitab “Khulashah

    Nurul Yaqin” tentang perjalanan penghulu bagi Rasul-Rasul, susunan

    Muhammad Khudhari Bek sebagai kajian dalam skripsi ini, karena dalam

    meriwayatkannya, ia bersandar kepada Al-Qur‟an dan Al-Hadits, karena

    masyhurnya antara umum dan yang tertentu, dan karena jauhnya dari

    perasaan cinta dan benci yang bisa menyebabkan hilangnya faidah

    perjalanan-perjalanan itu karena perasaan cinta kepada sesuatu itu

    menjadikan baik tiap-tiap yang tidak baik dan berusaha memutar balik

    kejadian-kejadian dengan jalan yang rendah, sehingga membawa kepada

    kejatuhan yang dibuatnya dan sia-sia, sedang perasaan benci kepada sesuatu,

  • 5

    mengajak kepada kesebalikan dari itu, yaitu yang baik ia jadikan tidak baik

    dan dari yang baik ia keluarkan keburukan. (Djabbar, tt:3).

    Umar Abdul Jabbar menyusun kitab ini setelah menterjemahkannya

    secara bebas dari kitab asalnya yang bertajuk Khulāşah Nūrul Yaqīn yang

    telah diringkaskan dari kitab yang bernama Nūrul Yaqīn karangan Syeikh

    Muhammad Khudhari Bek, ia seorang pemeriksa di kementerian waqaf serta

    merangkap pensyarah dalam bidang tarikh Islam di Perguruan Tinggi Mesir.

    (Bek, 2007: vii)

    Kitab Khulāşah Nūrul Yaqīn merupakan bagian dari ilmu tarikh Islam

    yang perlu dipahami secara detail. Dengan menguasai sejarah perjalanan Nabi

    Muhammad SAW, dan bagaimana para pahlawan Islam dahulu dapat

    mengalahkan penderitaan-penderitaan untuk membuat kenyataan pada cita-

    cita mereka, dan lagi agar dapat diketahui hasil kelezatannya, kembalinya-pun

    kepada ummat manusia yaitu yang mengikuti agama dan berjalan menurut

    ketentuan-ketentuan itu. (Djabbar, tt:5)

    Berangkat dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengkaji

    beberapa hal berkaitan dengan pemikiran, metode, dan aplikasi nilai-nilai

    pendidikan akhlak Syeikh Muhammad Khudhari Bek dalam kitab Khulāşhah

    Nūrul Yaqīn karyanya, karena menurut penulis hal itu sangat penting dalam

    kehidupan.

    Di samping itu penulis berharap dapat memberikan inspirasi bagi

    lembaga pendikan formal maupun non formal, untuk dapat mengembangkan

  • 6

    pembelajaran Khulāşhah Nūrul Yaqīn (sejarah Nabi Muhammad SAW)

    dengan rujukan karya Syeikh Muhammad Khudhari Bek. Karena walaupun

    karyanya ditulis dengan Bahasa Arab namun tetap mudah dipahami bagi

    siswa dan mahasiswa.

    B. Rumusan Masalah

    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

    1. Bagaimanakah Nilai Pendidikan Akhlak dalam kitab Khulashah Nurul

    Yaqin karya Muhammad Khudhari Bek dibutuhkan dalam memahami

    moralitas Islam?

    2. Bagaimanakah metode pengajaran yang digunakan Muhammad Khudhari

    Bek dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin?

    3. Bagaimanakah aplikasi Nilai Pendidikan Akhlak pada kitab Khulāşah

    Nūrul Yaqīn dalam kehidupan sehari-hari?

    C. Tujuan Penelitian

    1. Mengetahui bagaimana Nilai Pendidikan Akhlak dalam kitab Khulashah

    Nurul Yaqin karya Muhammad Khudhari Bek dibutuhkan dalam

    memahami moralitas Islam.

    2. Mengetahui metode pengajaran yang digunakan Muhammad Khudhari

    Bek dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin.

    3. Mengetahui aplikasi Nilai Pendidikan Akhlak dalam kitab Khulāşhah

    Nūrul Yaqīn dalam kehidupan sehari-hari.

  • 7

    D. Manfaat Penelitian

    a. Secara teoritis

    Penelitian tentang pendidikan akhlak ini diharapkan dapat

    membantu dan memperbaiki akhlak bangsa terutama bagi kaum muda.

    Selain itu diharapkan juga dapat menambah pengetahuan dan

    pengalaman bagi saya pribadi, teman-teman, dan bagi semua yang

    membacanya. Dan memberikan kontribusi pemikiran dalam upaya

    peningkatan pengetahuan tentang kajian sejarah perjalanan Nabi

    Muhammad SAW dan juga pengetahuan tentang ilmu tarikh Islam,

    sehingga dapat diketahui bagaimana proses perjalanan Nabi Muhammad

    SAW. Dengan demikian diharapkan setiap individu dalam keadaan

    tertentu dapat mengambil i‟tibar dari sifat-sifat Rasulullah SAW sebagai

    suritauladan dalam melangkah setiap perilaku kehidupan manusia

    menuju kebahagiaan dunia sampai akhirat.

    b. Secara praktis

    Sebagai sumbangan fikiran dalam bentuk tulisan yang berbentuk

    ilmiah bagi lembaga IAIN Salatiga guna dapat dimanfaatkan oleh

    berbagai pihak yang memerlukanya khususnya bagi umat Islam dalam

    rangka memperbaiki akhlak, sebagai tujuan dari visi dan misi Rasulullah

    SAW diutus ke muka bumi. Dan penelitian ini diharapkan dapat

    menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi penulis dan mahasiswa

    jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Salatiga khususnya dan

    mahasiswa jurusan lainya dan para pembaca pada umumnya .

  • 8

    E. Penegasan Istilah

    Untuk menghindari kekeliruan penafsiran dan kesalah pahaman, maka

    penulis kemukakan pengertian dan penugasan judul proposal ini sebagai

    berikut:

    1. Nilai Pendidikan Akhlak

    Nilai adalah sesuatu yang dipandang baik, disukai, dan paling

    benar menurut keyakinan seseorang atau kelompok orang sehingga

    preferensinya tercermin dalam perilaku, sikap dan perbuatan-

    perbuatannya. (Ensiklopedia Pendidikan, 2009:106).

    Menurut Spranger, nilai diartikan sebagai suatu tatanan yang

    dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif

    keputusan dalam situasi sosial tertentu. (Asrori, 2008:153).

    Menurut UU No. 20 th 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan

    terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran

    agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

    memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

    kecerdasan, akhlak mulia, seta keterampilan yang diperlakukan dirinya,

    masyarakat, bangsa, dan negara. (Hasbullah, 2012:4).

    Kata akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari “khuluqun” yang,

    menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi‟at.

    (Mustofa, 1997:19).

  • 9

    Menurut pengertian sehari-hari umumnya akhlak itu disamakan

    dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun. Khalq merupakan

    gambaran sifat batin manusia, akhlak merupakan gambaran bentuk lahir

    manusia, seperti raut wajah dan body. Dalam bahasa yunani pengertian

    khalq ini dipakai kata ethicos atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan

    batin, kecendrungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian

    berubah menjadi etika. (Nasir, 1991:14).

    2. Muhammad Khudhari Bek

    Beliau adalah seorang inspektur kementrian dan dosen sejarah

    Islam di Universitas Mesir, yang memiliki nama asli Muhammad bin Afifi

    Al-Bajuri dikenal sebagai As-Syeikh Muhammad Khudhari Bek,

    dilahirkan di daerah propinsi Khortum, Kairo, Mesir. beliau meninggal

    pada tahun 1345 H dimakamkan di Kairo, Mesir. (http:// shamela.ws/

    index./php author).

    3. Kitab Khulashah Nurul Yaqin

    Kitab Khulāşhah Nūrul Yaqīn merupakan bagian dari ilmu tarikh

    Islam yang perlu dipahami secara detail. Dengan menguasai sejarah

    perjalanan Nabi Muhammad SAW, dan bagaimana para pahlawan Islam

    dahulu dapat mengalahkan penderitaan-penderitaan untuk membuat

    kenyataan pada cita-cita mereka, dan lagi agar dapat diketahui hasil

    kelezatannya kembalinya-pun kepada ummat manusia yaitu yang

    mengikuti agama dan berjalan menurut ketentuan-ketentuan itu. (Djabbar,

    tt:5).

  • 10

    Kitab ini terdiri dari 3 jilid yaitu Khulāşhah Nūrul Yaqīn jilid

    pertama, yang mengupas Sejarah Rasulullah SAW dari masa pertama

    kehidupan beliau sampai masa kedua dari kehidupan beliau, dan

    dilanjutkan Khulāşhah Nūrul Yaqīn jilid kedua, yang cakupan

    pembahasannya dari tahun pertama hijrah sampai tahun kesebelas hijrah

    Rasulullah SAW. Dan dilanjutkan penyusunan Khulāşhah Nūrul Yaqīn

    jilid ketiga dari tasilul-„arabia. (Djabbar, tt:3).

    F. Metode Penelitian

    1. Jenis Penelitian

    Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian

    kepustakaan (library research), karena yang dijadikan objek kajian

    adalah hasil karya tulis yang merupakan hasil pemikiran.

    2. Sumber Data

    Karena jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library

    research), maka data yang diperoleh bersumber dari literatur. Adapun

    yang menjadi sumber data primer adalah buku Khulāşah Nūrul Yaqīn dan

    terjemahanya juz pertama dan kedua serta ketiga karya Muhammad

    Khudhari Bek.

    Kemudian yang menjadi sumber data sekunder diantaranya

    adalah buku sejarah kebudyaan Islam, sirah nabawiyah, terjemahan kitab

    Izhatun Nasi‟in, buku keimanan ilmu tauhid, ilmu dan aplikasi

  • 11

    pendidikan kapita selekta pendidikan Islam dan buku-buku yang lain

    yang bersangkutan dengan obyek pembahasan penulis.

    3. Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan dalam penelitian

    ini adalah dengan mencari dan mengumpulkan buku yang menjadi

    sumber data primer yaitu kitab Khulashah Nurul Yaqin dan terjemahanya

    dan sumber data sekunder yaitu kitab Izzathun Nasyiin, ilmu dan aplikasi

    pendidikan Kapita Selekta, Ensiklopedi dan buku yang relevan lainnya.

    setelah data terkumpul maka dilakukan penelaahan secara sistematis

    dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti, sehingga diperoleh

    data yang atau informasi untuk bahan penelitian.

    4. Teknik Analisis Data

    Dalam menganalisis data yang ada, penulis menggunakan dua

    metode yaitu:

    a. Metode Content Analysis

    Metode Content Analysis (analisis isi) menurut Weber

    sebagaimana dikutip oleh Soejono dalam bukunya yang berjudul:

    Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan, adalah:

    “metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur

    untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau

    dokumen”. (Soejono, 2005: 13). Dengan teknik analisis ini penulis

    akan menganalisis terhadap makna atau pun isi yang terkandung

  • 12

    dalam ulasan-ulsan kitab Risalatul Mu‟awanah dan kaiatanya dengan

    nilai-nilai pendidikan akhlak.

    G. Sistematika Penulisan

    Untuk memberikan kesan runtutnya pembahasan dan memberikan

    yang penulis jabarkan dalam skripsi ini, maka disusunlah pembahasan dalam

    suatu sistematika sebagai berikut:

    Bab Pertama. Pendahuluan, menguraikan tentang : latar belakang

    masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan

    istilah, metode penelitian, dan Sistematika penulisan sebagai gambaran awal

    dalam memahami skripsi ini.

    Bab Kedua. Biografi dan pemikiran Syeikh Muhammad Al-Khudhari

    Bek menguraikan tentang; Biografi syeikh Muhammad Al-Khudhari Bek

    yang meliputi riwayat kelahiran, perjalanan karirnya. Selain itu dalam bab ini

    juga membahas tentang karya-karyanya.

    Bab Ketiga. Deskripsi pemikiran Muhammad Khudhari Bek dalam

    kitab Khulāşhah Nūrul Yaqīn.

    Bab Keempat. Pembahasan nili-nilai pendidikan akhlak dalam kitab

    Khulāşhah Nūrul Yaqīn serta menguraikan latar belakang penulisan, metode

    yang digunakan dan aplikasi dalam konteks kehidupan.

    Bab kelima. Penutup, menguraikan kesimpulan dan saran.

  • 13

    BAB II

    BIOGRAFI DAN KARYA ILMIAH MUHAMMAD KHUDHARI BEK

    A. Riwayat Hidup Muhammad Khudhari Bek

    Beliau adalah Muhammad Bin „Afifi Al-Bajuri (nisbah kepada Al-

    Bajuri sebuah perkampungan di dalam daerah Al-Manufiyyah di Mesir).

    Beliau dikenali dengan panggilan "Syheikh Al-Khudhari". Beliau lahir pada

    tahun 1289 H bersamaan dengan tahun 1927 M. Beliau dibesarkan di Al-

    Zaitun di Cairo. Beliau berkelulusan dari Madrasah Darul Ulum dan setelah

    itu bertugas sebagai Qadhi Syar'i di Khurtoum, kemudian sebagai tenaga

    pengajar di Kuliah Al-Qadha' as-Syar'i di Cairo.

    Beliau juga mengajar mata pelajaran Al-Tarikh Al-Islami (Sejarah

    Islam) di Universitas Mesir, kemudian menjadi Dekan di sebuah Kuliah Al-

    Qadha' As-Syar'i, sebelum akhirnya beliau dilantik secara resmi menjadi

    Inspektor di dalam Kementerian Pendidikan Mesir pada waktu itu.

    (https://id.wikipedia.org/wiki/Ensiklopedia.).

    Beliau meninggal pada tahun 1345 H, dan dimakamkan di Cairo.

    Muhammad bin „Afifi Al-Bajuri lebih dikenal sebagai Syeikh Muhammad

    Khudhari Bek, seorang sarjana hukum dan sastra serta sejarah Islam dari

    Mesir. (Al-Muttaqin, 2007:vii).

    https://id.wikipedia.org/wiki/Ensiklopedia

  • 14

    B. Beberapa Karya Muhammad Khudhari Bek

    Sebagai ulama serta tokoh Pendidikan yang menguasai berbagai

    bidang disiplin ilmu keagamaan dan juga merupakan salah satu tokoh

    pensyarah sejarah Islam di Universitas Mesir, Muhammad Khudhari Bek

    berhasil menghasilkan karya-karya hingga saat ini manfaatnya masih dapat

    dirasakan oleh kalangan pelajar, siswa dan mahasiswa serta masyarakat

    umum.

    Adapun karya-karya Muhammad Khudhari Bek selengkapnya adalah

    sebagai berikut:

    1. Kitab Ushul-fiqih

    Diterbitkan oleh Pustaka Amani Jakarta cetakan 1 Sya‟ban 1428

    H. / September 2007 M. kitab ini ditulis dengan bahasa Arab dan terlahir

    dari kumpulan diktat yang disampaikan kepada para mahasiswa tingkat

    dua Mahkamah Syariah Mesir, yang beliau kumpulkan selama empat

    tahun mengajar. (Al-Muttaqin, 2007:vii).

    Kitab ini didasari pengamatan penulis bahwa dari kitab-kitab para

    ulama Salaf dan bahkan ulama Khalaf, tidak ada yang menjelaskan

    kaidah dasar yang diakui oleh syari‟ dalam pembentukan hukum dan

    menjadi dasar dalil qiyas. Maka sangat manfaat dalam menentukan

    hukum Islam dan problem dalam kehidupan lainnya. (Al-Muttaqin,

    2007:vii).

  • 15

    Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan

    kitab ushul fiqih ini merupakan bagian studi penting dalam kurikulum

    syari‟at Islam, oleh karena itu Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) di

    Indonesia seperti IAIN, STAIN, UIN dan PTAI swasta senantiasa

    meletakan ilmu tersebut sebagai komponen penting dalam kurikulum

    studinya. (Al-Muttaqin, 2007:vii).

    2. Kitab Tārikh Nūrul Yaqīen tentang perjalanan penghulu bagi Rasul-rasul

    Kitab ini diterbitkan oleh Maktab Syeikh Salim bin As‟ad Nabhan,

    maktab Muhammad bin Ahmad Nabhan, kitab ini merupakan disiplin

    ilmu tarikh Islam dan kitab dasar pembelajaran tarikh Islam di pondok-

    pondok pesantren tradisional, dan di nusantara pada umumnya.

    Bahan referensi dalam tulisan ini adalah Al-Qur‟anul Karim dan

    Hadits-hadits Sahih yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam

    Muslim. Kami sengaja tidak mengambil referensi lain kecuali dalam

    masalah-masalah yang tidak dapat dielakan lagi untuk memperjelas

    penyajian. Dalam hal ini banyak sekali menolong kami bahan-bahan

    referensi yang kami ambil dari kitab as-Syifa karya Qadhi “Iyadh, kitab

    as-Shiratul Halabiyah dan kitab al-Mawahibul Ladunniyah, keduanya

    merupakan karya Al-Qashthalani, dan kitab Ihya „ulumid-din karya Imam

    Al-Ghazali. (Bek, 2014:3).

  • 16

    Di samping itu kitab ini terdiri dari tiga jilid, dengan bahasa Arab

    dan telah diterjemahkan oleh Ustadz Umar Ibnu Djabbar dan Sejarah

    Rasulullah SAW dengan beberapa sumber, yaitu:

    Pertama. Al-Qur‟ānul Karīm (Al-Qur‟an yang mulia) Al-Qur‟an

    menyebutkan secara tegas nama dua puluh lima Nabi/Rasul; delapan

    belas diantaranya disebutkan dalam Al-Qur‟an surat Al-An‟am (6): 83-

    86, sisanya didapatkan dari berbagai ayat berkaitan dengan Nabi

    Muhammad SAW. Seperti dinyatakan Al-Qur‟an surat Al-A‟raf (7): 158

    diutus kepada seluruh manusia, dan beliau merupakan khtaman nabiyyin

    (penutup para nabi) QS. Al-Ahzab (33): 40). (Shihab, 1999:42)

    Al-Quran merupakan sumber sejarah Rasulullah SAW yang

    paling fundamental, dari Al-Qur‟an ini kita akan mendapatkan gambaran

    sejarah Rasulullah SAW. Ada beberapa ayat Al-Qur‟an yang berbicara

    tentang Nabi Muhammad SAW sebelum kenabian beliau. Antara lain:

    Artinya:”Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia

    melindungimu, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung

    lalu Dia memberikan petunjuk. dan Dia mendapatimu sebagai seorang

    yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. (QS. Adh-dhuhaa:

    6-8).

  • 17

    Beliau yatim sejak di dalam kandungan, kemudian dipelihara dan

    dilindungi oleh paman dan kakeknya. Beliau hidup dalam keresahan dan

    kebimbangan melihat sikap masyarakatnya, lalu Allah SWT memberinya

    petunjuk, dan mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul. Beliau hidup

    miskin karena ayahnya tidak meninggalkan warisan untuknya, kecuali

    beberapa ekor kambing dan harta lainya yang tidak berarti. Tetapi Allah

    SWT memberinya kecukupan, khusunya menjelang dan saat hidup

    berumah tangga dengan istrinya Khadijah. (Shihab, 1999:44).

    Al-Qur‟an juga mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad

    SAW. Memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan

    konsideran pengangkatan beliau sebagi Nabi adalah keluhuran budi

    pekertinya. (Shihab, 1999:51).

    Hal ini dipahami dari wahyu ketiga yang antara lain menyatakan

    bahwa:

    Artinya:“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak

    yang” . (QS. Al-Qalam:4).

    Al-Qur‟an memaparkan mengenai siksaan dan kesulitan yang

    dialami Rasulullah SAW ketika mendakwahkan risalahnya, demikian

    juga hal-hal yang dibuat-buat oleh orang-orang Musyrik dengan

    menyebutnya sebagai seorang penyihir dan orang yang tidak waras,

    mereka lakukan hal tersebut untuk berpaling dari agama Allah SWT yang

  • 18

    dibawa oleh Muhammad SAW. Al-Qur‟an menjelaskan tentang hijrah

    Rasulullah SAW dan peperangan-peperangan penting yang diikuti

    Rasulullah SAW setelah beliau berhijrah, Al-Qur‟an bercerita tentang

    perang Badar, Uhud, Ahzab, perjanjian Hudaibiyah, Fathu Makkah, dan

    Hunain. Dan juga beberapa mukjizatnya, seperti mukjizat Isra‟ dan

    Mi‟raj.

    Secara keseluruhan Al-Qur‟an telah menjelaskan banyak

    mengenai kejadian-kejadian yang terdapat dalam sejarah Rasulullah

    SAW dan jika Al-Qur‟an adalah kitab yang paling kuat dan valid yang

    terdapat dimuka bumi ini, dia kuat dengan bentuk yang Mutāwatir

    (istilah ahli hadits) yang manusia tidak akan mungkin meragukan

    keabsahan atau kevalidan teks-teksnya serta kevalidannya dari segi

    sejarah, maka hal-hal yang Al-Qur‟an ceritakan mengenai kejadian-

    kejadian yang terdapat dalam sejarah Rasulullah SAW adalah merupakan

    sumber yang paling valid secara mutlak.

    Akan tetapi sesuai dengan pengamatan, Al-Qur‟an tidak

    menjelaskan kejadian-kejadian yang terdapat dalam sejarah Rasulullah

    SAW secara terperinci, ia hanya memaparkannya dengan bentuk yang

    global (garis besarnya saja), misalnya ketika Al-Qur‟an bercerita tentang

    peperangan ia tidak menceritakan sebabnya, begitupun jumlah orang-

    orang muslim dan musyrik yang ikut berperang, dan juga tidak

    menjelaskan jumlah orang-orang yang terbunuh dan yang tertawan dari

    pihak orang-orang musyrik, akan tetapi ia hanya bercerita tentang

  • 19

    pelajaran-pelajaran yang terdapat dalam peperangan begitupun nasihat-

    nasihat yang bisa dipetik darinya, beginilah gaya Al- Qur‟an yang mulia

    dalam memaparkan setiap kisah-kisah tentang para Nabi dan umat-umat

    terdahulu.

    Oleh karena itu kita tidak cukup dengan teks-teks Al-Qur‟an yang

    berkaitan dengan sejarah Rasulullah SAW akan tetapi kita memerlukan

    sumber-sumber yang lain yang dapat menjelaskan sejarah Rasulullah

    SAW secara terperinci, supaya kita dapat menggambarkan sejarah

    kehidupan Rasulullah SAW secara detail dan utuh.

    Kedua. Sunnah (hadits-hadits) Rasulullah SAW yang Şahih.

    yang dimuat oleh kitab-kitab ulama-ulama hadits yang dikenal dengan

    sifat keterpercayaan mereka dalam dunia Islam, seperti: kitab sunnah

    yang enam, yaitu: kitab Şahih Bukhari, kitab Şahih Muslim, kitab Abu

    Daud, kitab Tirmidzi, Kitab an- Nasaa‟i, dan kitab Ibn Majah, serta

    kitab-kitab yang lain seperti: kitab al Muwaţa‟ oleh Imam Malik dan

    kitab Musnad Imam Ahmad bin Hambal, dll.

    Pada abad ke-3 H dan ke-4 H usaha pembukuan hadits mengalami

    masa kejayaanya. Karna pada umumnya buku-buku tersebut menjadi

    bahan rujukan hadits bagi yang ingin mengetahui dan belajar ilmu hadits.

    (Murodi, 2007:6-7).

    Di bawah ini daftar ahli-ahli hadits dan masa hidup mereka: (At-

    tirmidzi, 1998:20).

  • 20

    1. Imam Bukhari, yakni Muhammad bin Ismail Abu Abdillah. Beliau

    dilahirkan pada bulan Syawal tahun 194 H. Dan wafat pada hari

    sabtu pertengahan bulan Syawal tahun 256 H.

    2. Imam Muslim bin Al-Hajj Al-Qusyairi Abul Hasan. Ia dilahirkan

    pada tahun 209 H. Dan wafat tanggal 25 Rajab tahun 256 h.

    3. Imam Al-Hafidh At-Tirmidzi. Ia dilahirkan pada tahun 209 H. Dan

    wafat pada tanggal 13 Rajab tahun 279 H.

    4. Abu Daud, Sulaiman bin Al-„Asy‟ats As-Sajistani. Ia dilahirkan

    pada tahun 202 H. Dan wafat pada tanggal 16 Syawal tahun 257 H.

    5. An-Nasai, yakni Ahmad bin Syuu‟aib, Abu „Abidirrahman

    (panggilanya). Ia dilahirkan tahun 215 H. Dan wafat pada tanggal 13

    Shafar tahun 303 H.

    6. Ibnu Majah, yakni Muhammad bin Yazid bin Majah, Abu Abdillah

    (nama panggilanya). Ia dilahirkan pada tahun 209 H. Dan ia wafat

    pada tanggal 22 ramadan tahun 273 H.

    Dari kitab-kitab ini yang memuat jumlah yang besar tentang

    kehidupan Rasulullah SAW, kejadian-kejadian yang terdapat di dalam

    sejarahnya, peperangannya dan aktivitasnya, dengan hal ini, kita mampu

    untuk membuat gambaran yang sempurna dan menyeluruh, meskipun

    terkadang tidak sempurna tentang sejarah Rasulullah SAW, diantara

    faktor yang menambahkan rasa kepercayaan kita kepada sejarah

    Rasulullah SAW tersebut ialah sejarahnya diriwayatkan dengan sanad

  • 21

    (istilah ilmu hadits) yang bersambungan sampai kepada Sahabat-sahabat

    Rasulullah SAW.

    Dari merekalah kemudian kita banyak menperoleh informasi

    mengenai perkembangan ilmu hadits hingga kini. Mereka amat berjasa di

    dalam upaya melestarikan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Karya-

    kaya mereka menjadi bahan rujukan para ulama untuk mengambil sebuah

    keputusan hukum Islam. (Murodi, 2007:7).

    Ilmu hadits adalah ilmu yang paling berkah, ilmu yang paling

    afdhal, ilmu yang paling banyak memberikan manfaat di dunia dan

    akhirat, serta merupakan ilmu yang paling sempurna setelah Kitab Suci

    Al-Qur‟an. (Az-Za‟bi, 1998:13).

    Sesungguhnya ilmu hadits yang di dalamnya terdapat sejarah

    kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah merupakan suatu ilmu yang

    besar sekali kadarnya dan amat istimewa kedudukanya. Orang-orang

    yang mampu menghimpun ilmu itu akan meraih keutamaan yang banyak.

    sedangkan orang yang berhasil mendapatkan ilmu pengetahuan tentang

    hal itu, berarti mencapai kebaikan yang banyak. (Al-Kasynawi, 1998:15-

    16).

    Ketiga. Kitab-kitab sejarah fakta-fakta sejarah Rasulullah SAW

    adalah suatu bentuk periwayatan yang diriwayatkan oleh para sahabat

    untuk orang-orang setelah mereka, sebagian dari mereka ada yang hanya

    meriwayatkan bagian-bagian yang terperinci dari sejarah tersebut,

  • 22

    kemudian hal ini di nukil (ambil) oleh para tabi‟in (generasi setelah

    sahabat) dan menulisnya di dalam kitab mereka, dan sebagian yang lain

    ada yang meriwayatkan sejarah hidup Rasulullah SAW dengan

    sempurna.

    Kitab-kitab yang bertalian dengan sunah Rasulullah SAW

    diantaranya meliputi: Al-Maghazi (jihad yang dilakukan Rasulullah

    SAW), At-Tarikh (sejarah kehidupan Rasulullah SAW), dan As-Syamail

    (kepribadian dan budi pekerti Rasullah SAW), Nūrul Yaqīn Siyari

    Sayyidul Mursalīn oleh Muhammad Khudary rahimahullah.

    Kesemuanya telah dapat menghimpun perkataan, perbuatan dan sifat-

    sifat Nabi, semenjak masa pengembanganya hingga beliau dipanggil oleh

    Allah SWT, lebih-lebih pada masa kerasulannya. (At-Tirmidzi, 1998:16).

    Tiada sesuatupun yang menyangkut beliau, baik kecil maupun

    besar, melainkan tersebut di dalam kitab-kitab itu. Sehingga kita dapat

    menemukan bagaimana cara Rasulullah SAW berpakaian, duduk, bangun

    tidur, tertawa, tersenyum, berjalan, beribadah dimalam hari maupun

    disiang hari, perbuatannya tatkala mandi, ketika makan, ketika minum,

    demikian pula bagaiman beliau berbicara dengan orang lain, cara

    menyapa ketika beliau bertemu dengan orang lain, warna kesukaanya,

    serta seluruh sifat yang terpuji yang senatiasa menghiasi dirinya serta

    pribadinya. (At-Tirmidzi, 1998:17).

  • 23

    Demikianlah, senantiasa para ulama menyusun kitab tentang

    sejarah Rasulullah SAW dengan bentuk yang semakin baru, yang

    diterima oleh khalayak ramai, diantara kitab yang sempurna

    menceritakan pribadi dan budi pekerti Rasulullah SAW adalah kitab “fi

    Nūrul Yaqīn Siyari Sayyidul Mursalīn” oleh Muhammad

    Khudhary rahimahullah, kitabnya diterima dengan baik oleh khalayak

    ramai, dan dipelajari di sekolah-sekolah agama di seluruh penjuru dunia

    Islam.

    Sistematika penulisan karya Syeikh Muhammad Khudhori Bek

    selengkapnya sebagai berikut:

    a. Khulāshah Nūrul Yaqīen jilid pertama versi cetakan Indonesia

    Kitab ini diterbitkan oleh toko kitab Ahmad Nabhan,

    panggung No. 146 kotak pos No. 350 Surabaya. Di terjemahkan oleh

    Al-Ustadz Umar Abdul-Djabbar.

    Kitab khulashah ini dibagi menjadi dua pembahasan, yaitu

    pembahasan pertama tentang masa pertama kehidupan Rasulullah

    SAW, dan pembahasan kedua masa kedua dari kehidupan Rasulullah

    SAW.

    1) Masa pertama kehidupan Rasulullah SAW, meliputi:

    a) Penghulu kita, Muhammad SAW.

    b) Nasab beliau dan kewafatan Ayah Nabi SAW.

    c) Kelahiran dan penyusuan beliau.

    d) Kematian Ibu beliau dan pengasuhan beliau.

  • 24

    e) Pendidikan Nabi SAW.

    f) Pengembalaan dan perjalanan bisnis Nabi ke Syam pertama

    kalinya.

    g) Perjalanan kedua kalinya ke Syam.

    h) Perkawinan Nabi dengan Siti Khadijah.

    i) Peletakan Hajar Aswad.

    j) Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

    k) Kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul.

    2) Masa kedua dari kehidupan Rasulullah SAW, meliputi:

    a) Permulaan turun Wahyu.

    b) Keadaan bangsa Arab sebelum Islam.

    c) Ajakan dakwah dengan tidak terang-terangan.

    d) Orang yang pertama beriman.

    e) Ajakan dakwah dengan terang-terangan.

    f) Nabi kumpulkan keluarga.

    g) Panas hati Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW.

    h) Kedatangan Quraisy kepada Abi Thalib kedua kalinya.

    i) Kedatangan Quraisy ketiga kalinya kepada Abi Thalib.

    j) Gangguan Quraisy kepada Rasulullah SAW.

    k) Gangguan kepada Sahabat Nabi Muhammad SAW.

    l) Tuntutan Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW.

    m) Hijrah ke Habasyah pertama.

    n) Hamzah dan Umar masuk Islam.

  • 25

    o) Nabi dan Anggota keluarganya diblockade.

    p) Hijrah ke Habasyah kedua kalinya.

    q) Raja Habasyah masuk Islam.

    r) Nabi keluar dari kepungan.

    s) Utusan Najraan.

    t) Wafat Khadijah dan pernikahan beliau dengan Saudah dan

    Aisyah r.a.

    u) Paman Nabi wafat.

    v) Gangguan Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW.

    w) Hijra ke Thaif.

    x) Isra‟ dan Mi‟raj Nabi Muhammad SAW.

    y) Mengajak beberapa Pemuka keagamaan.

    z) Permulaan Islam kaum Anshar.

    aa) Bai‟ah „Aqabah pertama.

    bb) Aqabah yang kedua.

    cc) Hijrah kaum Muslimin ke Madinah.

    dd) Kesepakatan Quraisy membunuh Nabi Muhammad SAW.

    ee) Hijrah Rasulullah SAW.

    ff) Quraisy mencari Nabi Muhammad SAW.

    gg) Nabi Muhammad SAW keluar dari Gua.

    hh) Singgah di Quba‟.

    ii) Awal jum‟at dan khutbah dalam Islam.

    jj) Kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin.

  • 26

    kk) Hijrah keluarga nabi,adanya qunut,dan demam madinah.

    b. Khulāshah Nūrul Yaqīen jilid kedua

    Kitab ini diterbitkan oleh tokoh kitab al-hikamah, jl. KH.

    M. Mansyur No.63 Surabaya. Diterjemah dari susunan ustadz

    Umar Abdul-Djabbar.

    Kitab Khulāshah Nūrul Yaqīen jilid kedua ini dibagi

    menjadi 11 pembasan, diantaranya:

    1) Tahun pertama hijrah, meliputi: mendirikan masjid, permulaan

    adzan, adzan fajar ramadhan dan adzan jum‟at, kaum yahudi

    Madinah, peperangan.

    2) Tahun kedua hijrah, meliputi: beberapa peperangan tahun ini

    dan perang Qainuqa‟, perang Badar besar, tuan diutus

    membawa kebenaran dan keadilan, tebusan tahanan perang

    Badar, beberapa syari‟at Islam.

    3) Tahun ketiga hijrah, meliputi: peperangan, cerita Da‟tsur dan

    keislamnya, perang Ghathafan, perang Uhud, Rasulullah SAW

    tetap diperang Uhud, korban dalam perang Uhud, beberapa

    kejadian (peristiwa).

    4) Tahun keempat hijrah, meliputi: peperangan Banu Nadlir,

    beberapa kejadian dalam perang Dzatur-riqa‟.

    5) Tahun kelima hijrah, meliputi: sebab-sebab masuk Islamnya

    Banu mus-thaliq, khabar bohong, perang Khandaq, peperangan

    Banu Quraidlah, masalah Zaid dan Zainab, membatalkan

  • 27

    pengangkatan anak angkat sebagai anak kandung, ayat hijab

    dan kewajiban haji.

    6) Tahun keenam hijrah, meliputi: peperangan yang terjadi, dan

    masuk Islamnya Tsummah dan pengakuannya, perang

    Hudaibiah dan bai‟atur-ridlwan, perdamaian Hudaibiah.

    7) Tahun ketujuh hijrah, meliputi: penaklukan Fadak, perdamaian

    Taima‟ dan peperangan Wadi-Qura,‟umrah Qadla‟, beberapa

    peristiwa Zainab binti Harits.

    8) Tahun kedelapan hijrah meliputi: pesan Rasulullah SAW

    terhadap tentara mu‟tah dan pembebasan kota Mekkah,

    pembebasan kota Mekkah pada tanggal 20 Ramadhan, hari

    pengampunan, pengampun itu, ketika berkuasa, berjanji dan

    bai‟at, perang Hunain, perang Thaif, Rasulullah SAW kembali

    ke Madianh.

    9) Tahun kesembilan hijrah, meliputi: perang Tabuk, orang-orang

    munafik membangkang, Rasulullah SAW kembali ke Madinah.

    10) Tahun kesepuluh hijrah, meliputi: pengiriman utusan ke negeri

    Yaman, Haji Wada‟, beberapa kejadian dalam tahun kesepuluh

    ini.

    11) Tahun kesebelas hijrah, meliputi: persiapan tentara Usamah,

    Rasulullah SAW mulai sakit, Rasulullah SAW wafat, putera-

    puteri Rasulullah, isteri-isteri Rasulullah SAW, paman dan bibi

  • 28

    beliau, bentuk tubuh dan sebagian keadaan Rasulullah SAW,

    budi perangai Rasulullah SAW , mu‟jizat Rasulullah SAW.

    c. Khulāshah Nūrul Yaqīen Jilid Ketiga

    Kitab ini diterbitkan oleh Awad Abdullah At-tamimi,

    Ampel lonceng 50 Surabaya. Jilid yang ketiga ini menguraikan

    sejarahnya para khalifah rasyidien yang bijaksana-bijaksana, dan

    kitab ini telah dijual di pasar-pasar buku, sehingga mudah

    didapatkan.

    Kitab jilid ketiga ini memuat beberapa pembahasan, yaitu

    ada 40 pelajaran, diantaranya:

    1) Pengertian Khulafah Rasyidīn.

    2) Kekhilafahan Abu Bakar Ashshidiq r.a.

    3) Perjalanan Abu Bakar setalah Islam.

    4) Ketabahan Abu Bakar r.a..

    5) Pengangkatan Abu Bakar r.a.

    6) Pengiriman balatentara Usamah.

    7) Memerangi orang-orang Murtad.

    8) Permulaan perang Parsi.

    9) Penaklukan Khalid bin Walid di Negri Irak.

    10) Pengiriman beberapa tentara untuk menaklukan Negeri Syam.

    11) Perang Yarmuk.

    12) Wafat Abu Bakar r.a, dan kekhilafahan Umar r.a.

    13) Kekhilafahan Umar Ibnu khathab r.a.

  • 29

    14) Penaklukan Negeri Syam.

    15) Penaklukan Baitul-Maqdis.

    16) Penaklukan Mesir, Iskandaria dan Shahra‟.

    17) Lanjutan penaklukan Irak, peristiwa jembatan pertama.

    18) Peristiwa jembatan yang kedua.

    19) Seruan perang umum.

    20) Penaklukan Qadisyah.

    21) Menaklukan kota Madain (ibu kota Parsi).

    22) Berakhirnya kerajaan Parsi.

    23) Ringkasan Sejarah Umar r.a.

    24) Apa-apa yang dipelopori Umar r.a.

    25) Hal-hal seputar Umar r.a.

    26) Janji Umar dengan musyarawarah.

    27) Kekhilafahan Utsman r.a.

    28) Biografi Ustman r.a.

    29) Penaklukan-penaklukan dimasa Utsman r.a.

    30) Terbunuhnya Utsman r.a.

    31) Pengangkatan Ali r.a.

    32) Biografi Ali r.a.

    33) Perang Unta.

    34) Enggannya Mu‟awiyah dalam pembai‟atan.

    35) Perang Shiffien.

    36) Peristiwa pengadilan (tahkim).

  • 30

    37) Kaum Khawarij dan perang Nahrawan.

    38) Kemenangan Mu‟awiyah atas sebahagian besar daerah-daerah.

    39) Terbunuhnya Ali r.a.

    40) Kekhilafahan Hasan dan turunnya kepada Mu‟awiyah.

    3. Tarikh At-Tasyri‟ Al-Islami (sejarah hidup Nabi Muhammad)

    4. Kitab itmamul wafa‟ dalam perjalanan khulafa‟ (sejarah para Khulafa‟

    rasyidin) ia adalah kesinambungan bagi kitab sirah "Nurul Yaqin" yang

    menceritakan tentang perkembangan dakwah Islam.

    5. Kitab mahdzibul aghoni, ada 9 juz.

    6. Muhadharat fi Naqd Kitab As-Syi'r Al-Jahili (tulisan kritikan terhadap

    buku sastra Arab jahiliyyah karangan Dr. Taha Hussein).

    7. Muhadharat fi Tarikh Al-Umam Al-Islamiyyah (sejarah masyarakat-

    masyarakat Islam) - 2 jilid.

    8. Al-Ghazali; Ta'alimuhu wa Ara'uhu (Imam Ghazali; Ajaran-ajarannya

    dan pendapat-pendapatnya).

    9. Durus Tarikhiyyah (pelajaran-pelajaran sejarah).

    Meskipun seluruh kitab Karya Syeikh Muhammad Khudhari Bek

    ditulis dengan bahasa arab, namun tetap mudah dipahami oleh santri, siswa

    dan mahasiswa, karena pembahasannya disesuaikan dengan kebutuhan

    masyarakat pelajar. Buku-buku tersebut dijadikan rujukan diberbagai

    pesantren di Indonesia, antara lain di pesantren Darussalam Gontor, pesantren

    Al-Kuddus Salam, pesantren Busytanul Usyaqul Qur‟an, dan di pesantren Al-

    Manar Bener, Tengaran, Semarang.

  • 31

    BAB III

    DESKRIPSI PEMIKIRAN MUHAMMAD KHUDHARI BEK TENTANG

    NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB KHULASHAH NURUL

    YAQIN

    A. Pengertian Nilai Pendidikan Akhlak

    1. Pengertian nilai

    Di antara definisi nilai yang dikemukakan para ahli, maka definisi

    oleh spranger (Asrori, 2008: 153), termasuk yang dikenal secara luas.

    Menurut Spranger nilai diartikan sebagai suatu tatanan yang dijadikan

    panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan

    dalam situasi sosial tertentu. Dalam perspektif Spanger, kepribadian

    manusia itu terbentuk dan berakar pada tatanan nilai-nilai dan

    kesejahteraan. Meskipun penempatan konteks sosial sebagai dimensi nilai

    dalam kepribadian manusia, tetapi spranger tetap mengakui kekuatan

    individual yang dikenal dengan “roh subjektif” (subjective spirit).

    Sementara itu, kekuatan nilai-nilai budaya merupakan “roh subjektif”

    (objective spirit). Dalam kacamata Spranger, kekuatan individual atau roh

    subjektif didudukkan dalam posisi primer, karena nilai nilai budaya hanya

    akan berkembang dan bertahan apabila didukung dan dihayati oleh

    individu. (Asrori, 2008:153).

  • 32

    Nilai memeiliki 3 hiraki yaitu perasaan yang abstrak, norma-norma

    moral, dan keakuan. Ketiganya ditemukan dalam kepribadian seseorang.

    Perasaan dipakai sebagai landasan bagi seseorang untuk membuat

    keputusan dan menjadi standar untuk tingkah laku. Sedangkan norma-

    norma menjadi tingkah laku yang yang berfungsi sebagai kerangka

    patokan dalam berinteraksi. Keakuan berperan dalam membentuk

    kepribadian melalui proses pengalaman sosial. Karenanya nilai menjadi

    faktor penentu bagi pembentukan sikap. (FIP-UPI, 2007:41).

    Dengan demikian pengertian nilai merupakan sesuatu yang

    diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya. Nilai

    merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial

    untuk membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai

    sesuatu yang ingin dicapai. Secara dinamis, nilai dipelajari dari produk

    sosial dan secara perlahan diinternalisasikan oleh individu ke dalam

    dirinya serta diterima sebagai milik bersama dengan kelompoknnya. Nilai

    merupakan standar konseptual yang relatif stabil yang secara eksplisit atau

    implisit membimbing individu dalam menentukan tujuan yang ingin

    dicapai serta aktivitas dalam memenuhi kebutuhan psikologisnnya.

    (Asrori, 2008:153).

    2. Pengertian Pendidikan

    Pendidikan berasal dari kata didik, yaitu memelihara dan memberi

    latihan mengenai akhlak dan kecerdasan fikiran. (FIP-UPI, 2007:20).

  • 33

    Pendidikan dapat diartikan secara sempit, dan dapat diartikan

    secara luas. Secara sempit dapat diartikan: “bimbingan yang diberikan

    kepada anak-anak sampai ia dewasa” (Maribah, 1981:31). Sedangkan

    pendidikan dalam arti luas adalah “segala sesuatu yang menyangkut

    proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya

    menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik”. (Nata,

    2003:10).

    Dalam buku kapita selekta pendidikan Islam, bahwa Untuk

    memahami pengertian pendidikan dengan benar, pendidikan dapat

    dibedakan dari dua pengertian, pengertian yang bersifat teoritik filosofis

    dan pengertian yang bersifat pendidikan dalam arti praktis.(Nata,

    2003:210).

    Pengertian pendidikan dalam arti teoritik filosofis adalah

    pemikiran manusia terhadap masalah-masalah kependidikan untuk

    memecahkan dan menyusun teori-teori baru dengan mendasarkan pada

    pemikiran normatif, spekulatif, rasional empirik, nasional filosofis,

    maupun historis filosofik. (Nata, 2003:210).

    Pendidikan dalam arti praktis adalah suatu proses pemindahan

    pengetahuan ataupun pengembangan-pengembangan potensi-potensi

    yang dimiliki subyek didik untuk mencapai perkembangan secara optimal

    serta membudayakan manusia melalui transformasi nilai-nilai utama.

    (Nata, 2003:211).

  • 34

    Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional (UUSPN, BAB

    1 pasal 1) pendidikan diartikan sebagai “ usaha sadar untuk

    mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran

    dan latihan bagi perannya dimasa yang akan datang “. (Nata, 2003:211).

    Pendidikan adalah semua perbuatan dan usaha dari seorang

    pendidik untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya,

    kecakapannya, serta keterampilannya. (Saliman, Sudarsono, 1993:178).

    Dikatakan dalam kitab „Idzhotun-Nasyiin, bahwa anak-anak itu

    dikemudian hari akan menjadi generasi penerus, jadi ketika telah terbiasa

    berperilaku baik yang bisa meningkatkan derajatnya, dan menghasilkan

    ilmu yang manfaat bagi negaranya. (al-Ghulayaini, 2009:69).

    Anak-anak itu akan menjadi pondasi kokoh yang akan menjadi

    landasan bagi umat, ketika membiasakan budi pekerti yang baik dan

    meninggalkan ilmu yang dapat merusak negara yang ditempati umat itu

    sendiri. (al-Ghulayaini, 2009:69).

    Pendidikan bagi kaum muslim itu merupakan hal yang wajib,

    sebagaimana dikatakan Imam Ghozali bahwa, mendidik anak adalah

    suatu kewajiban bagi kedua orang tuanya, sebab anak adalah amanah bagi

    kedua orang tuanya, hati anak yang bersih itu merupakan hal yang paling

    berharga dibanding berlian, karena anak yang dididik dan terbiasa

    berbudi baik dan ia menjadi ahli kebaikan, maka orang yang mendidik

    dan kedua orang tuanya dapat pahala dari amal yang dikerjakan oleh anak

    tersebut. (al-Ghulayaini, 2009:70).

  • 35

    Mendidik anak itu adalah menanamkan pekerti yang baik di

    hatinya para pemuda, sehingga dapat menciptakan generasi yang ikhlas

    beramal, lebih mementingkan maslahah umat dan akan menjadikan

    negara yang makmur dan diridhai Allah SWT. (al-Ghulayaini, 2009:70).

    Jadi, pendidikan itu merupakan sesuatu yang mendasar bagi

    manusia yang harus diberikan, karena pendidikan kunci kesuksesan

    dalam menjalankan kehidupan ini, baik berkeluarga, bermasyarakat

    ataupun bernegara dan berbangsa.

    Seseorang yang dididik akan menimbulkan suatu talenta tersendiri

    yang dapat dilihat dalam perilaku atau moralitasnya setiap memberikan

    keputusan, setiap bertindak dan bersosialisasi dengan masyarakat.

    3. Pengertian Akhlak

    Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan

    akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasan) dan pendekatan

    terminologik (peristilahan). (Nata, 2002:1).

    Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu isim

    mashdar dari kata akhlaka, yukhliqu, ikhlaqan, yang berarti al-sajiyah

    (perangai), ath-thabi‟ah (kelakuan, tabi‟at, watak dasar), al-„adat

    (kebiasaan, kelaziman), al-maru‟ah (peradaban yang baik), dan al-din

    (agama). (Nata, 2002:1).

    Secara linguistik kata akhlaq merupakan isim jamid dan isim ghair

    musytaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut

    memang sudah demikian adanya. Kata akhlaq bentuk jamak dari kata

  • 36

    khilqun atau khuluqun yang artinya sama dengan arti akhlaq sebagaimana

    telah disebutkan di atas. (Nata, 2002:2).

    Akhlak menurut imam al-Ghazali dalam “Ihya‟ Ulumuddin”

    adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari sifat itu timbul perbuatan-

    perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran

    terlebih dahulu. (Tadjab, 1994: 243).

    Akhlak Menurut Ibnu Maskawih dalam kitabnya Tahdzibul Akhlaq

    Wa Tathhirul A‟raq adalah sikap jiwa seseorang yang mendorongnya

    untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan

    (terlebih dahulu). (Siroj, 2009:2).

    Berangkat dari beberapa definisi dan uraian di atas, dapat kita

    peroleh suatu kesimpulan bahwa akhlak merupakan gerakan spontan yang

    keluar dari dalam lubuk hati manusia. Dorongan jiwa yang melahirkan

    akhlak tersebut bersumber dari kekuatan batin manusia. (Tualeka,

    2011:178).

    B. Pemikiran Muhammad Khudhari Bek tentang Nilai Pendidikan Akhlak

    dalam kitab Khulāshah Nūrul Yaqīn

    Pada hakikatnaya aktivitas pendidikan selalu berlangsung dengan

    melibatkan pihak-pihak sebagai aktor penting yang ada di dalam aktivitas

    pendidikan tersebut. Aktor penting itu oleh Noeng Muhadjir (1994) disebut

    sebagai subjek yang menerima disatu pihak dan subjek yang memberi dipihak

    yang lain dalam suatu interaksi pendidikan. Subjek yang memberi disebut

  • 37

    pendidik, sedang subjek yang menerima disebut dengan peserta didik.

    (Rohman, 2013:105).

    Sesungguhnya segala bentuk pendidikan adalah bersumber pada

    Rasulullah SAW, karena beliau merupakan suri tauladan yang baik, dan

    sebaik-baik tauladan dari zaman sebelum Rasulullah SAW ataupun setelah

    Rasulullah SAW. Peri kehidupan Rasulullah SAW merupakan suri tauladan

    bagi kaum muslimin, karena itu wajib bagi setiap muslim mengetahuinya

    untuk diikuti dan diamalkan sesuai dengan petunjuknya. (Bek, 2014:iv)

    Nabi Muhammad SAW adalah sosok pribadi yang agung dimana

    beliau telah berhasil membawa misi risalahnya sebagai seorang Nabi dan

    Rasul dengan sangat gemilang, yakni dengan jalan berdakwah secara damai

    dan simpatik dalam kurun waktu 23 tahun telah banyak mengislamkan jutaan

    orang penduduk dunia. Sosok Nabi Muhammad SAW telah dianggap sebagai

    manusia sempurna (insanul kamil) dan telah diakui oleh para ahli dari

    berbagai disiplin ilmu di dunia baik muslim maupun non muslim akan

    keberhasilanya mengubah wajah dunia yang biadab menjadi beradab, dari

    zaman jahiliah menjadi zaman yang penuh hidayah. Keberhasilan Nabi

    Muhammad SAW sebagai seorang pribadi, seorang kepala rumah tangga,

    pemimpin umat sedunia, dan juga kepala pemerintahan Madinah telah banyak

    menginspirasi dan memberi teladan kebaikan bagi seluruh umat manusia di

    dunia sebagaimana misi risalahnya adalah rahmatan lil„alamin. Sehingga

    tidaklah berlebihan dan sangatlah tepat jika nama beliau diletakan diperingkat

  • 38

    pertama sebagai tokoh berpengaruh dan idola tingkat dunia dari 100 tokoh

    yang disurvei. (Hermawan, 2015:1)

    Rasulullah SAW memiliki beberapa sifat sempurna sehingga beliau

    menjadi panutan seluruh alam semesta ini, sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah

    SAW tersebut, yaitu: shidiq, amanah, tabligh, fathanah. (Saberanity,

    2006:57)

    Dalam kiab Khulāshah Nūrul Yaqīn karya Muhammad Khudhari Bek,

    menyebutkan bahwa malaikat Jibril mengajar Nabi bagaimana hendaknya

    beliau memimpin manusia kejalan yang lurus dan bagaimana mestinya,

    Rasulullah SAW menutuntun mereka supaya menurut agama yang benar.

    (Djabbar, tt:15).

    Aisyah menjelaskan akhlak Rasulullah SAW sangat sempurna, tidak

    ada cela sedikitpun sebagaimana halnya Al-Qur‟an. Bahkan bisa dikatakan

    bahwa Rasulullah SAW adalah Al-Quran yang berjalan. (Tualeka, 2011:8).

    Pendidikan akhlak tersebut dijelaskan dalam kitab Khulashah Nurul

    Yaqin diantaranya:

    a. Pendidikan kejujuran dalam amanah

    Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:

    ًِ َّ ٌَْؼ لَِذ ْإْخزَب َسْرُٗ ٌََِٙز ا ِش٠ْفَخِ َٚ ِٗ اٌشَّ أَْخََللِ َٚ ِٗ ب َٔزِ َِ أَ َٚ ِٗ َؼْذ ثِِصْذلِ ِّ َْٔٙب َس ِِلَ

    Artinya: Khadijah memilih Nabi untuk pekerjaanya itu, karena ia pernah

    mendengar tentang kebenaran Nabi SAW tentang amanat-amanatnya dan

    tentang akhlak-akhlak beliau yang mulia. (djabbar, tt:9).

  • 39

    Rasulullah SAW adalah orang yang terkenal sangat jujur dalam

    ucapanya bahkan beliau senantiasa mengatakan dengan sejujur-jujurnya

    sekalipun pahit dirasakan dan mengandung resiko yang tinggi bagi dirinya

    sendiri sehingga karena kejujurannya itulah Rasulullah SAW mendapat

    gelar al-amin, artinya dapat dipercaya. Sifat jujur itu sudah dimulai sejak

    beliau kecil. Ini terbukti ketika beliau berdagang, mengabdi kepada

    saudagar Arab yang bernama Khadijah. Dengan modal kejujuranya itu,

    Rasulullah SAW dijadikan sebagai orang kepercayaan dan akhirnya

    Khadijah jatuh cinta kepada beliau. (Siroj, 2009:52).

    Rasulullah SAW ketika beliau berdagang selalu mengatakan

    kepada pembeli bahwa barang yang baik dikatakan baik dan barang yang

    ada sedikit cacat dikatakan cacat dan ditunjukan cacat, barang yang

    kualitasnya bagus di katakan bagus serta barang yang kurang bagus

    kulitasnya dikatakan kurang bagus. Dari situlah perbuatan beliau tidak

    merugikan orang lain. (Al-arif, 2009:53).

    Allah SWT berfirman:

    Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada

    Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki

  • 40

    bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan

    Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah

    mendapat kemenangan yang besar”. (Q.S. Al-Ahzab:70-71).

    Dalam kitab Izhatun Nasi‟in karya Mushtafa al-Ghulayani,

    halaman 12 mengatakan bahwa dusta dan jujur dalam masalah ini

    bukanlah sifat (budi pekerti) yang sudah dimaklumi dalam masyarakat

    karena dusta dan jujur yang seperti ini adalah salah satu perkara dengan

    mudah untuk diketahui, anak kecil pun mengetahui hal ini. Karena dusta

    dan jujur dalam pekerjaan inilah yang akan menjadi hasil dari ucapan

    ketika jujur atau berdusta. (Ghulayaini, 2009:12).

    b. Pendidikan keadilan

    Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:

    يَ َّٚ ُُ أَ ٌَْحَى َْ ا ْٛ ْْ ٠َُى ا َػٍَٝ أَ ْٛ َُّ ارَّفَمُ َىبَُٔٗ ثُ َِ َد َٛ ٌَْحَجَشاِْلَْس ْٓ ٠ََضُغ ا َّ اْخزٍََفَْذ لَُش٠ٌْش ف١ِْ َٚ

    ُي للاِ ْٛ ًٍ َسُس َي َداِخ َّٚ َْ أَ ْسِجِذ فََىب َّ ٌْ َٓ ا ِِ ًٍ ا َسِض١َْٕب ثِب َداِخ ْٛ لَبٌُ َٚ ِٗ فَفَِشَحْذ لَُش٠ٌْش ثِ

    ِٓ ١ْ ِِ ِْلَ

    Artinya: Kaum Quraisy berselisihan tentang siapa yang harus

    menaruhkan Al-Hajarul Aswad di tempatnya, kemudian mereka sepakat,

    bahwa pendamainya, ialah orang yang pertama masuk Masjidil Haram.

    (Muhammad Khudhari Bek, tt: 11)

    Saat peristiwa peletakan hajar-aswad, kaum quraisy berselisih

    pendapat tentang siapa yang berhak meletakan hajar-aswad tersebut,

    Quraisy bersepakat bahwa pendamainya, ialah orang yang pertama masuk

    masjidil-haram, maka Rasulullah SAW saat itu yang pertama kali masuk

    masjidil-haram, orang-orang Quriasy bergembira karena Rasulullah SAW

    setelah meletakan batu itu disatu kain selendang dan beliau minta setiap

  • 41

    ketua Quraisy supaya masing-masing memegang ujung selendang itu.

    (Djabbar, tt:11).

    Maka Nabi Muhammad SAW meletakkan batu itu disatu kain

    selendang dan beliau meminta dari tiap-tiap ketua Quraisy supaya

    masing-masing memegang ujung selendang itu. Kemudian Nabi

    Muhammad SAW menyuruh mereka mengangkat batu tadi. Tatkala

    mereka sampai ditempatnya, Rasulullah SAW mengambil batu itu dengan

    tangan beliau sendiri, dan meletakkan batu tersebut ditempatnya dengan

    tangan beliau sendiri, dengan begini hilanglah perselisihan dalam

    penetapan urusan itu, serta kaum Quraisy ta‟jub akan kecerdasan fikiran

    Rasulullah SAW. (Djabbar, tt:11).

    Allah SWT berfirman:

    Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan

    berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang

    dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi

    pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (Q.S.

    An-Nahl:90).

    Rasulullah SAW terkenal sebagai seorang yang cerdas, cerdik atau

    pandai. Bahkan, tidak hanya sekedar cerdas akan tetapi sangat arif dan

    bijaksana. Di dalam mengambil keputusan Rasulullah SAW selalu

    didasari dengan pertimbangan dan pemikiran yang cukup matang.

  • 42

    Ucapanya senantiasa dijadikan sebuah konsep, tingkah lakunya dijadikan

    sebuah tuntunan dan percontohan. (Siroj, 2009:83).

    Sikap atau tindakan bijaksana dalam menyelesaikan sebuah

    permasalahan apapun bentuknya, merupakan sebuah keharusan yang

    harus dilakukan oleh seorang muslim, tidak terkecuali itu pelajar, orang

    tua, ustadz, pegawai dan lain sebagainya. (Tualeka, 2011:119).

    c. Pendidikan kesabaran

    Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:

    َُ ٠ُمَب ثِ َسٍَّ َٚ ِٗ َْ َصٍَّٝ للاُ َػ١ٍَْ َوب َٚ ِٛ ٌَْؼْف ا َٚ اٌٍُّْطِف َٚ ْجِش اٌصَّ َٚ ُِ ٍْ ٌِْح ُْ ثِب ٍُُٙ

    Artinya: Adalah Rasulullah SAW menghadapi mereka dengan sifat tidak

    lekas marah, sabar, lemah-lembut dan suka mema‟afkan. (Djabbar, tt:23).

    Kaum Quraisy mulai menyakiti Rasulullah SAW tetapi beliau

    menghadapi mereka dengan tenang dan sabar. (Djabbar, tt:25).

    Abu Lahab pernah meletakan kotoran didepan pintu rumah

    Rasulullah SAW, dan mencekik Nabi disaat beliau shalat, tapi Rasulullah

    selalu berbuat baik dan tetap menggaulinya dengan baik, dengan hormat

    dan bijaksana.

    Ketika Nabi Muhammad SAW ingin berangkat ke masjid, ada

    seorang Quraisy yang melemparkan kotoran kepada beliau, bahkan

    berkali-kali dan pada suatu saat orang tersebut sakit, Nabi Muhammad

    SAW menjenguk orang tersebut dan saat itu juga orang itu masuk Islam.

    Allah SWT berfirman:

  • 43

    Artinya: “bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu

    melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati

    terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada

    terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta

    orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat

    kebaikan”.(Q.S. An-Nahl:127-128).

    Sifat sabar Rasulullah SAW juga dapat kita lihat dalam perjuangan

    beliau yang tidak pernah mengenal lelah dan putus asa, sekalipun

    menghadapi banyak cobaan, hambatan, gangguan, serta rintangan, yang

    luar biasa. Sikap kesabaranya yang luar biasa inilah sehingga Rasulullah

    SAW termasuk golongan Rasul Ulul Azmi (golongan rasul-rasul yang

    memiliki kesabaran luar biasa). (Siroj, 2009:25).

    d. Pendidikan keberanian

    Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:

    َٓ اٌثَّجَبِد ِِ ب أَْػطَبُٖ للاُ َّ ٍََٙب ثِ َّّ خٌ رََح َّ ََ َشِذائُِذ َػِظ١ْ اٌَسَلَّ َٚ ََلحُ ِٗ اٌصَّ لَْذ أََصبثَُٗ َػ١ٍَْ َٚ

    ْجشِ اٌصَّ َٚ

    Artinya: Dalam perang itu, beliau ditimpa kesusahan dan bahaya yang

    besar. Tetapi sekalipun demikian, dapat diterima dengan teguh dan

    kebesaran hati, apa yang diberikan Alah SWT kepadanya itu. (Djabbar,

    tt:18)

    Rasulullah SAW telah banyak mengikuti keadaan yang amat sulit

    dalam peperangan. Pada saat itu semua orang kuat dan para pendekar

    perang sering sekali meninggalkan Rasulullah SAW. Akan tetapi

  • 44

    Rasulullah SAW tetap teguh bertahan menghadapi musuh dan tidak lari

    serta tidak goyah dari posisinya dalam berbagai peperangan. Tiada

    seorangpun yang dibilang pemberani yang tidak pernah terpukul mundur

    dan tidak pernah melarikan diri kecuali Rasulullah SAW. (Bek,

    2014:364).

    Rasulullah SAW pantang mundur ataupun lari dari peperangan,

    pada saat perang Uhud umat Islam kalah karena tidak mengikuti

    peraturan Nabi Muhammad SAW, tapi Nabi Muhammad SAW tetap

    berperang dengan gigih dan berani penuh semangat bahkan sampai

    Rasulullah SAW masuk ke jurang, dan luka-luka pada badan Rasulullah

    SAW.

    Sahabat Abdullah Ibnu Umar r.a. meceritakan, “aku belum pernah

    melihat seseorang yang lebih berani, lebih suka menolong, dan lebih rela

    dari pada Rasulullah SAW”. Sahabat Ali r.a menceritakan pula,

    “sesungguhnya, apabila keadaan sangat kritis dalam menghadapi suatu

    peperangan dan suasana peperangan sedang berkecamuk dengan

    hebatnya, kami berlindung di belakang Rasulullah SAW. Pada saat itu

    tiada seorangpun dari kaum Muslimin yang lebih dekat kepada musuh

    dari pada Rasulullah SAW. (Bek, 2014:364).

    e. Pendidikan kepemimpinan

    Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:

    ِٗ ُي َصٍَّٝ للاُ َػ١ٍَْ ْٛ ُس ٌَُٗ َجََّٙضاٌشَّ ْٛ ا َسُس ْٛ ُ ْٓ لَزٍَ َِ ًٍ ٌِمِزَبِي ْؤرَخَ ثَََلثَخَ اَََلِف َسُج ُِ َُ إٌَِٝ َسٍَّ َٚ

    ١ِْش ثُْصَشٜ ِِ إٌَِٝ أَ

  • 45

    Artinya: Rasulullah SAW menyiapkan balatentaranya sebesar 3.000

    orang ke Mu‟tah untuk memerangi golongan yang membunuh utusan

    beliau, ketika dia diutus kepada Amir (gubernur Busra). (Djabbar, tt:45)

    Rasulullah SAW selain seorang Nabi dan Rasul, beliau juga

    seorang pemimpin dalam Negara Islam yang mengatur segala hal yang

    bersangkutan dengan kenegaraan baik dari pembangunan, ekonomi,

    politik dan dalam peperangan.

    Allah SWT berfirman:

    Artinya: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-

    pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami

    wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan

    sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka

    selalu menyembah”. (Q.S. Al-Anbiya:73).

    Rasulullah SAW selalu pertama kali dalam terjun di lapangan

    sebelum menyuruh sahabat untuk melakukannya dan Rasulullah selalu

    mengiringi perkataannya dengan perbuatan, sehingga para sahabat sangat

    terkagumkan dengan sosok seorang Rasulullah SAW.

    Selain sifat-sifat di atas, disebutkan juga mengenai sifat Rasulullah

    SAW yang agung dan mulia dalam buku Pesona Akhlak Rasulullah SAW

    karya Syaikh Abdurrahman Ya‟qub (2005) tentang beberapa gambaran

    akhlak mulia Rasulullah SAW sebabgai berikut:

    1) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling hebat dalam berjihad di

    jalan Allah dan paling kuat dalam bersabar.

  • 46

    2) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling mengasihi semua

    makhluk.

    3) Rasulullah adalah manusia yang paling murah hati dan mempunyai

    toleransi yang tinggi.

    4) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling mulia dalam

    bermasarakat.

    5) Rasulullah SAW adalah manusia yag paling menepati janji.

    6) Rasulullah adalah manusia yang paling tawadhu‟, lapang dada, lemah

    lembut, ramah, penuh dengan belas kasih, dan selalu tampak riang

    gembira, baik kepada keluarganya maupun kepada para sahabatnya.

    7) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling wara‟ sehingga beliau

    mengharamkan harta baitul mal bagi diri dan keluarganya.

    8) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling pemalu, bahkan lebih

    pemalu daripada seorang perawan di dalam kamarnya.

    9) Rasulullah SAW lebih banyak diam dan tidak bicara jika tidak ada

    keperluan.

    10) Rasulullah SAW adalah seorang pemaaf.

    11) Rasulullah SAW itu indah dan suka akan keindahan.

    12) Rasulullah SAW adalah orang yang paling zuhud di dunia.

    13) Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah dan dermawan.

    14) Rasulullah SAW dalah manusia yang paling adil dalam perkataan,

    perbuatan, dan penyelesaian masalah.

  • 47

    15) Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling tawakal kepada Allah

    SWT.

    16) Rasulullah SAW selamanya takut kepada Allah SWT.

    17) Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling banyak bersyukur dan

    memuji.

    18) Rasulullah SAW selalu merenungi kerajaan langit, bumi dan semua

    ciptaan allah SWT.

    19) Al-Quran adalah penyenang mata, pengobat hati, penenang jiwa, dan

    penghidup semangat Rasulullah SAW.

    20) Rasulullah adalah makhluk yang paling kuat berzikir dan paling

    banyak berdoa.

    Al-Qur‟an mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW

    memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan bahwa

    konsideran pengakuan beliau sebagai Nabi adalah keluhuran budi

    pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ke 3 yang antara lain

    menyatakan: (Shihab, 199:51).

    Artinya:“dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang

    agung”. ( QS. Al-Qalam:4 ).

    Tidak ada jalan lain bagi kaum Muslim selain mencontoh sosok Nabi

    Muhammad SAW dalam mengikuti jejak langkah dan peninggalan beliau,

    baik dalam urusan yang kecil maupun yang besar, menjalankan ketetapan

  • 48

    hukum dan syariat, beribadah dan berpikir, berjihad dan melakukan

    perenungan, berpolitik dan berdakwah, serta menuntut ilmu dan mengambil

    hikmah. Semua jalan menuju Allah tertutup, kecuali jalan yang ditempuh

    Rasulullah SAW. Seandainya semua orang datang dari berbagai penjuru dan

    mereka minta dibukakan semua pintu serta jendela, tidak akan dibukakan

    kecuali pintu yang dimasuki oleh Nabi Muhammad SAW. Dan tidak akan

    dibentangkan kecuali jalan yang dilalui oleh beliau. (Ya‟qub, 2005:257-258).

  • 49

    BAB IV

    ANALISIS RELEVANSI NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM

    KITAB KHULASOH NURUL YAQIN

    A. Latar Belakang Penulisan Kitab Khulasoh Nurul Yaqin

    Muhammad Khudhari Bek dalam menyusun kitab ini memiliki

    berbagai alasan, tujuan dan latar belakang. Semenjak beliau masih kecil

    beliau telah mempunyai kegemaran membaca buku-buku sejarah tentang

    orang-orang zaman dahulu dan kisah-kisah tentang mereka. Ternyata beliau

    menjumpai bahwa sejarah dan riwayat hidup mereka merupakan pelajaran

    yang paling baik dan guru yang paling berharga bagi manusia. Beliau telah

    mempelajari sejarah Nabi Muhammad SAW dan hal-hal yang pernah

    dialaminya berupa perlakuan yang menyakitkan dari pihak kaumnya, yaitu

    sewaktu dia menyerukan ajakannya ke jalan kebenaran. Beliau juga

    mempelajari pula tentang kesabaranya yang dapat dijadikan petunjuk bagi

    mereka dalam melakukan apa yang seharusnya mereka ikuti dan apa yang

    seharusnya mereka jauhi supaya mereka menjadi orang-orang yang berjaya

    sebagaimana para pendahulu mereka memperoleh kejayaan. (Bek, 2014:1).

    Khususnya hal-hal yang menyangkut masalah kepemimpinan yang

    dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW maupun menarik hati kaumnya dan

    mampu pula mempersatukan hati mereka. Mengenai hal-hal yang

    menyangkut kemiliteran dan para panglima tentara, dengan penuh

    kebijaksanaan akhirnya terhimpun personil tentara yang kuat dengan

  • 50

    peralatan yang dapat dipersiapkan sehingga mereka mampu memperoleh

    kemenangan atas musuh-musuh mereka. Begitupun hal-hal yang berkaitan

    dengan integritas mereka sehingga hati mereka bersatu dan merupakan

    kekuatan yang menyatu atas musuh mereka. (Bek, 2014:1-2).

    Selain dengan alasan itu semua, memang juga karena Muhammad

    Khudhari Bek merasa sangat kecewa bila mengingat banyaknya kaum

    muslimin yang kurang membaca dan memperhatikan buku tentang sejarah

    perjalanan Nabi Muhammad SAW. dan sedikit sekali orang yang mau

    menyibukkan diri denganya. Akan tetapi, beliau menyadari akan keengganan

    mereka terhadap hal ini karena mengingat bertele-telenya buku-buku yang

    ditulis dalam hal ini. (Bek, 2014:2).

    Tatkala beliau tiba di kota Al-Manshurah, beliau dipertemukan

    dengan Mahmud Bek Salim yang menjabat sebagai qadhi pada mahkamah

    kota Al-Manshurah. Ternyata setelah beliau bergaul dengannya, beliau

    mengetahui bahwa dia adalah orang yang alim dalam masalah agama dan

    sangat langka tandinganya. Adapun mengenai pengetahuanya tentang sejarah

    hidup Rasulullah SAW, dia adalah orang yang membidangi hal ini dan sangat

    mantap. Beliau sering mendengar ungkapan dan keinginan hatinya untuk

    membuat suatu karya yang tidak bertele-tele dan berbelit-belit sehingga dapat

    dimanfaatkan oleh kalangan awam kaum Muslimin. Hal ini membuat hati

    beliau tergugah, ternyata orang yang beliau muliakan ini mempunyai

    keinginan dan tekad yang sama dengan dirinya. Hanya saja pada waktu itu

    tekad beliau masih belum bulat untuk melaksanakan niat dan cita-cita yang

  • 51

    luhur ini. Beliau menyadari bahwa untuk merealisasikan hal ini tidak mudah

    dan banyak kesulitanya. (Bek, 2014:2).

    Akan tetapi, setelah beliau sering mendengar dari para tokoh ulama‟

    Al-Manshurah, yaitu tentang keinginan mereka untuk mengerjakan suatu

    karya tulis dalam bidang ini yang bermanfaat untuk segala lapisan

    masyarakat, beliau mengangap hal ini suatu keharusan yang tidak bisa

    dielakkan lagi. Dengan tekad yang bulat dan penuh rasa percaya akan

    pertolongan Allah SWT, serta berharap kepadanya semoga Allah SWT

    memberikan taufik kepada beliau terhadap hal-hal yang diridlainya, akhirnya

    beliau tempuh juga pekerjaan ini sehingga tercapailah apa yang beliau cita-

    citakan itu. Alhamdulillah, akhirnya terciptalah suatu karya tulis yang mudah

    dicerna dan tidak berbelit-belit sehingga dapat bermanfaat bagi kalangan

    awam. Selain itu dapat pula dijadikan bahan referensi oleh kalangan khusus.

    (Bek, 2014:2-3).

    Bahan referensi dalam menulis kitab ini adalah Al-Qur‟anul Karim

    dan hadits-hadits sahih yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam

    Muslim. Beliau sengaja tidak mengambil referensi lain kecuali dalam

    masalah yang tidak dapat dapat dielakkan lagi untuk memperjelas penyajian.

    Di antara bahan referensi yang beliau ambil adalah dari kitab as-Syifa karya

    Qadhi “Iyadh, kitab as-Siratul Halbiyah dan kitab al-Mawahibul Ladunniyah,

    keduanya merupakan karya al-Qasthalani, dan kitab Ihya‟ Ullumud-Din karya

    Imam Ghazali. (Bek, 2014:3).

  • 52

    Dengan kearifannya, Muhammad Khudhari Bek juga memohon

    kepada Allah SWT akan limpahan kemurahannya, semoga Allah SWT

    memberikan taufik kepada imam-imam dan para pemimpin kami untuk dapat

    mengikuti jejak junjungan kita Rasulullah SAW dan menghidupkan syair-

    syair agamanya sehingga mereka mendapat dukungan dari sisi Allah SWT.

    Maka sudah tiba saatnya bagi beliau memulainya dengan pertolongan Allah

    SWT untuk mendapatkan kebahagiaan, kesehjatraan dan ridha Allah SWT.

    (Bek, 2014:3).

    Walaupun demikian, untuk mendapatkan kebahagiaan, kesehjatraan

    dan ridha Allah SWT tidak mudah. Manusia harus dapat memilih mana yang

    buruk dan mana yang baik. Membedakan keduanya berarti dapat menilai.

    Apabila orang dapat berpegang pada kebaikan dan dapat membuang

    keburukan, inilah jalan kelurusan. Lebih lanjut seseorang dapat memilih yang

    baik dan kemudian meninggalkan tindakan yang buruk. Orang yang sudah

    mencapai pemilihan terhadap kebaikan, diupayakan ada proses keyakinan dan

    menjadikan dirinya kontinuitas (terus menerus) dalam tindakan untuk

    membiasakan diri pada kebaikan, akhirnya dapat menumbukan kegemaran.

    (FIP-UPI, 2007:19).

    Pendidikan akhlak yang Islami sangat dibutuhkan dan diperlukan di

    zaman sekarang ini. Karena kebudayaan yang baik dari suatu bangsa tidak

    menjamin memiliki akhlak dan prilaku yang baik bagi bangsa tersebut. (FIP-

    UPI, 2007:19).

  • 53

    Pemberian pembelajaran akhlak tidak hanya sekedar menyeluruh

    menghafal nilai-nilai normatif secara kongnitif yang diberikan dalam bentuk

    ceramah dan ulangan umum. Tetapi akhlak harus diberikan dan diajarkan

    untuk mendukung bidang studi lainya. Pendidikan akhlak yang Islami sangat

    dibutuhkan dan diperlukan di zaman sekarang ini. Karena kebudayaan yang

    baik dari suatu bangsa tidak menjamin memiliki akhlak dan prilaku yang baik

    bagi bangsa tersebut. (FIP-UPI, 2007:30).

    Pendidikan akhlak merupakan suatu proses mendidik, memelihara,

    membentuk, dan memberikan latihan mengenai akhlak dan kecerdasan

    berfikir baik yang bersifat formal maupun informal yang didasarkan pada

    ajaran ajaran Islam. Pada sistem pendidikan Islam ini khusus memberikan

    pendidikan tentang akhlak dan moral yang bagaimana yang seharusnya

    dimiliki oleh seorang muslim agar dapat mencerminkan kepribadian seorang

    muslim. (FIP-UPI, 2007: 39).

    B. Metode yang Digunakan dalam Pendidikan Akhlak

    Metode yang digunakan dalam kitab Khulasah Nurul Yaqin untuk

    mendidik akhlak seseorang supaya memiliki kemampuan, pemahaman, sikap

    dan keterampilan dalam berprilaku sebagai manusia yang terbiasa berbuat

    baik dan berakhlak mulia adalah dengan cara pemberian pengetahuan dengan

    metode narasi dan pertanyaan. Di mana narasi tersebut memaparkan dan

    menyajikan suatu karya tulis tentang sejarah Nabi Muhammad SAW dengan

    penyajian yang mudah dicerna dan tidak berbelit-belit sehingga dapat

    bermanfaat bagi kalangan awam.

  • 54

    Jenis narasi yang digunakan adalah narasi ekspositorik. Narasi

    ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi

    secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan

    orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis

    menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang

    ditonjolkan biasanya, satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai

    saat ini atau sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini

    diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada

    penulisan narasi ekspositorik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan

    bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur

    sugestif atau bersifat objektif. (https://id.wikipedia.org/wiki/Narasi).

    Pertanyaan yang digunakan adalah menggunakan pertanyaan retoris.

    Pertanyaan retoris dikemukakan dengan bermacam-macam maksud sesuai

    dengan pokok pembahasan. Pertanyaan retoris ini bertujuan untuk memberi

    semangat, menggugah hati, memotivasi, dan memberi kesadaran terhadap

    pembaca, audiens, atau pendengar. (https://id.wikipedia.org/wiki/Retoris).

    Dengan metode ini, diharapkan mampu mengantarkan mereka dalam

    berprilaku sesuai dengan prinsip-prinsip akhlak mulia Rasulullah SAW, ini

    merupakan usaha untuk menumbuhkan motivasi kegemaran dalam

    mempelajari, membaca buku-buku sejarah tentang orang-orang zaman dahulu

    dan kisah-kisah tentang mereka, khususnya Nabi Muhammad SAW.

    https://id.wikipedia.org/wiki/Narasihttps://id.wikipedia.org/wiki/Retoris

  • 55

    Di antara contoh pemaparan dan penyajian yang mudah dicerna dan

    tidak berbelit-belityang diajarkan atau diberikan oleh Muhammad Khudhari

    Bek dalam kitab Khulasah Nurul Yaqin yang terdapat pada jilid 1 antara lain:

    ًِ َسبدَ ْٓ َْٔس ِِ َٛ ُ٘ َٚ ِخ ِد٠ًْٕب َغ١َْشُٖ. َِ ٌْم١َِب