nilai-nilai materi pendidikan karakter pada ...e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/4385/1/ida...

of 125/125
i NILAI-NILAI MATERI PENDIDIKAN KARAKTER PADA NOVEL AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG KARYA TERE LIYE SKRIPSI Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Oleh: IDA RISQI AFITA 111-14-048 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TERBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA 2018

Post on 10-Nov-2020

5 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • i

    NILAI-NILAI MATERI PENDIDIKAN KARAKTER

    PADA NOVEL AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG

    KARYA TERE LIYE

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan (S.Pd)

    Oleh:

    IDA RISQI AFITA

    111-14-048

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    FAKULTAS TERBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

    2018

  • ii

  • iii

    NILAI-NILAI MATERI PENDIDIKAN KARAKTER

    PADA NOVEL AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG

    KARYA TERE LIYE

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan (S.Pd)

    Oleh:

    IDA RISQI AFITA

    111-14-048

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    FAKULTAS TERBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

    2018

  • iv

  • v

  • vi

  • vii

    MOTTO

    “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan

    dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana

    mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (Q.S Al-Isra’:24)

  • viii

    PERSEMBAHAN

    Alhamdulillahi robbilalamin, atas limpahan rahmat dan karuniaNya

    penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tanpa suatu halangan apapun. Skripsi ini

    penulis persembahkan untuk:

    1. Ayahanda Kukuh Santoso dan Ibunda Khomsatun yang telah menjadi

    alasan untuk selalu semangat, dan yang tak pernah berhenti memberikan

    doa, nasihat, kasih sayang, semangat, dan motivasi.

    2. Nenekku tercinta Hj. Toyimah dan Alm. Supinah yang selalu memberikan

    doa dalam setiap langkahku.

    3. Kakakku Devi Hermawanti beserta suami Muhammad Saukani Jamil yang

    selalu memberikan semangat dan dukungan.

    4. Ponakan tercinta As-Sakya Najid Mauzza Azzavi yang selalu menjadi

    alasan untuk tetap tersenyum bahagia disaat hati berantakan.

    5. Edi Wiyanto yang selalu berusaha memberikan semangat, dukungan, dan

    doanya.

    6. Dosen pembimbing skripsiku Bapak Drs. Bahroni, M.Pd yang selalu

    memberikan pengarahan serta bimbingan dengan penuh kesabaran selama

    poses skripsi ini.

    7. Alm. Abah Mahfud Ridwan,Ibu Nyai Hj. Nafisah, Gus Muhammad Hanif,

    dan Ibu Nyai Rosyidah selaku pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro

    yang selalu memberikan doa untuk santri-santrinya dan selalu saya

    harapkan ridho dan berkah ilmunya.

  • ix

    8. Sahabat-sahabat Pondok Pesantren Edi Mancoro yang selalu setia

    memberikan semangat dan doa dalam menyelesaikan skripsi ini.

    9. Sahabat seperjuangan Nurul Hidayah yang selalu berusaha ada

    disampingku dalam kondisi apapun, yang tak pernah berhenti saling

    mendoakan dan memberikan semangat.

    10. Teman seperjuangan bimbingan Miftakhul Farid, Hesti Setianungrum, dan

    lainnya yang selalu memberikan motivasi, semangat, dan dukungan dalam

    menyelesaikan skripsi ini.

    11. Teman-teman kamar 7 dan kamar 12 Pondok Pesantren Edi Mancoro

    (Fariqotul Adhimah, Nurul Ermawati, Ni’matul Wafiroh, Siti Qoniah,

    Alfiyah, Anik Meilinda, Fiki Rizkia, Vina Yuliyanti, Siti Mualimah, Siti

    Masitoh, Rosy, Siti Rofiqoh, dan Anggun) yang tidak pernah berhenti

    memberi semangat, doa dan ikut serta membantu menyelesaikan skripsi

    ini.

    12. Sahabat-sahabat Purworejo Squad (Tatu, Muza, Izza, Eka, Hima, Ruli,

    Hana) yang selalu saling memberi semangat dan mendoakan satu sama

    lain.

    13. Teman-teman PPL SMK Negeri 1 Salatiga.

    14. Teman-teman KKN posko 36 (Alviyan, Rino, Vivi, Anik, Rizka, Vivin,

    Qisma) yang selalu menjadi penyemangat untuk dapat wisuda bersama-

    sama.

  • x

    15. Sahabat-sahabat seperjuangan PAI angkatan 2014.

    16. Dan untuk semua pihak yang telah memberikan bantuan, semangat dan

    doa untuk kelancaran dalam menyelesaikan skripsi ini.

  • xi

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillahi robbil’alamin atas ke hadirat Allah SWT yang telah

    memberikan nikmat, rahmat, karunia, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis

    dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Nilai-Nilai Materi Pendidikan

    Karakter Pada Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye dengan baik

    dan lancar.

    Sholawat serta salam semoga senantiasa selalu tercurahkan kepada Nabi

    Agung Muhammad SAW, dimana semoga kelak dapat berjumpa dan

    mendapatkan syafaatnya di Yaumul Akhir, amin.

    Skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik dan lancar tanpa bantuan

    dari berbagai pihak yang telah berkenan membantu dalam menyelesaikan skripsi

    ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:

    1. Bapak Dr. H. Rahmat haryadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.

    2. Bapak Suwardi, M.Pd. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN

    Salatiga.

    3. Ibu Siti Rukhayati , M.Ag. ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam.

    4. Bapak Drs. Bahroni, M.Pd. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah

    memberikan bimbingan dan pengarahan dari awal hingga akhir dalam

    proses menyelesaikan skripsi ini.

    5. Bapak Prof. Dr. Mansur, M.Ag. selaku pembimbing akademik yang

    senantiasa membimbing dan mengarahkan dalam proses bimbingan

    akademik selama kuliah.

    6. Bapak dan Ibu dosen yang telah membekali berbagai ilmu pengetahuan,

    serta karyawan IAIN Salatiga sehingga penulis dapat menyelesaikan

    jenjang pendidikan S1.

  • xii

    7. Ayah, Ibu, Nenek, dan kakakku beserta suami.

    8. Semua pihak yang sudah mendukung dan memberikan semangat, doa, dan

    ikut serta membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa

    disebutkan satu persatu.

    Penulis sepenuhnya sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari kata

    sempurna, maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis

    harapkan. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya,

    serta pembaca pada umumnya.

    Salatiga, 29 Agustus 2018

    Penulis

    Ida Risqi Afita

    NIM. 111-14-048

  • xiii

    ABSTRAK

    Afita, Ida Risqi. 2018. Nilai-Nilai Materi Pendidikan Karakter Pada Novel

    Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye. Skripsi. Fakultas

    Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Program Studi Pendidikan Agama

    Islam. Institut Agama Islam Negeri salatiga. Pembimbing Drs.

    Bahroni, M.Pd.

    Kata Kunci: Nilai Pendidikan Karakter

    Pendidikan karakter merupakan salah satu komponen inti dalam

    menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas untuk membangun

    atau memajukan bangsa dan negara. Karena pada dasarnya negara tidak

    hanya membutuhkan generasi penerus yang cerdas namun juga memiliki

    karakter yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-

    nilai-nilai materi pendidikan karakter yang terkandung dalam novel

    Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye . Pertanyaan utama yang

    akan dijawab dalam penelitian ini adalah: (1) Apa saja nilai-nilai materi

    pendidikan karakter pada novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere

    Liye, dan (2) Bagaimana relevansinya terhadap karakter remaja di era

    globalisasi.

    Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research).

    Sedangkan dalam pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi.

    Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Nilai-nilai materi

    pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong diantaranya: disiplin, kerja keras, peduli, kemandirian,

    tanggung jawab, penuh kasih sayang, rasa ingin tahu, santun,

    kesederhanaan, keikhlasan, dan kejujuran. (2) Relevansi nilai-nilai materi

    pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong karya Tere Liye pada karakter remaja di era globalisasi saat

    ini yaitu dengan semakin merosotnya karakter bangsa maka harus

    membiasakan atau menanamkan pendidikan karakter pada anak sejak usia

    dini, agar memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi berbagai hal

    negatif yang dapat menyebabkan rusaknya karakter anak-anak.

  • xiv

    DAFTAR ISI

    HALAMAN SAMPUL LUAR ............................................................................. i

    LEMBAR BERLOGO IAIN ............................................................................... ii

    HALAMAN SAMPUL DALAM ......................................................................... iii

    HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... iv

    HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN ..................................................... v

    HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ............................ vii

    MOTTO ............................................................................................................. viii

    PERSEMBAHAN ..............................................................................................viii

    KATA PENGANTAR ........................................................................................ xi

    ABSTRAK ........................................................................................................ xivi

    DAFTAR ISI ...................................................................................................... xiv

    BAB I. PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1

    B. Rumusan Masalah ............................................................................. 4

    C. Tujuan Penelitian .............................................................................. 4

    D. Manfaat Penelitian ............................................................................ 5

    E. Metode Penelitian.............................................................................. 5

    F. Penegasan Istilah ............................................................................... 8

  • xv

    G. Sistematika Penulisan .............................................................................. 9

    BAB II. KAJIAN PUSTAKA

    A. Penelitian Terdahulu ....................................................................... 11

    B. Pengertian Nilai .............................................................................. 14

    C. Pendidikan Karakter ................................................................................. 15

    1. Pengertian Pendidikan Karakter .......................................................... 15

    2. Macam-Macam Nilai Pendidikan Karakter..........................................

    .21

    3. Tujuan Pendidikan Karakter ................................................................ 25

    4. Fungsi Pendidikan Karakter ................................................................. 27

    5. Landasan Pendidikan Karakter ............................................................. 29

    6. Ciri Dasar Pendidikan Karakter ............................................................ 34

    D. Novel ......................................................................................................... 35

    1. Pengertian Novel ................................................................................. 35

    2. Unsur Intrinsik Novel ........................................................................... 35

    3. Macam-Macam Novel ......................................................................... 37

    BAB III. GAMBARAN UMUM NOVEL AYAHKU (BUKAN)

    PEMBOHONG

    A. Biografi Penulis Novel .................................................................... 40

    B. Profil Novel .................................................................................... 43

    C. Unsur Intrinsik Novel ...................................................................... 44

    D. Sinopsis ......................................................................................................... 62

  • xvi

    BAB IV. PEMBAHASAN

    A. Analisis Pendidikan Karakter Pada Novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong ................................................................................... 72

    B. Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Pada Remaja Di Era

    Globalisasi ....................................................................................... 90

    BAB V. PENUTUP

    A. Kesimpulan .................................................................................... 95

    B. Saran .............................................................................................. 98

    DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 100

    LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................ 102

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Dewasa ini, semakin banyak anak bangsa yang menciptakan karya-

    karya yang luar biasa. Salah satunya adalah menciptkan atau menerbitkan

    karya sastra berbentuk novel. Dimana setiap penulis memiliki karakteristik

    yang berbeda-beda pada karyanya. Salah satu contoh yang ada yaitu

    perbedaan pada novel ini dengan novel lainnya. Pada novel yang lain,

    biasanya penulis mengangkat cerita yang berhubungan dengan kisah cinta

    remaja, pra-nikah, atau kehidupan rumah tangga, dan lain sebagainya

    Namun berbeda dengan novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere

    Liye ini, yang memberikan pesan-pesan pendidikan dan inspirasi bagi

    kehidupan sehari-hari di dalamnya. Terlebih pada saat ini bahwasanya

    keadaan karakter remaja, masih banyak sekali yang harus diperbaiki. Hal

    tersebut merupakan salah satu dampak dari globalisasi yang terjadi saat ini

    yang menyebabkan masyarakat Indonesia melupakan pendidikan karakter

    bangsa. Padahal pendidikan karakter merupakan suatu pondasi bangsa yang

    sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.

    Novel Ayahku (Bukan) Pembohong ditulis ketika Tere Liye berusia 37

    tahun. Pada usia tersebut Tere Liye mampu menciptakan karya yang luar

    biasa dengan menunjukkan perbedaan yang cukup menonjol dibandingan

  • 2

    dengan karya-karyanya yang sebelumnya dan dengan karya-karya penulis

    lainnya.

    Ada beberapa pesan yang ingin Tere Liye sampaikan kepada pembaca,

    yaitu bahwasanya agar setiap anak memiliki karakter yang lebih baik

    dibandingan dengan anak-anak yang lainnya, yang mana harus dimulai dan

    ditanamkan sejak dini, yaitu dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana.

    Selain itu pelajaran penting yang akan disampaikan adalah tentang sebuah

    kemewahan sejatinya tidak selamanya membuat kita bahagia, namun ternyata

    sebuah kesederhanaan jika memang kita mensyukuri adalah sebuah

    kebahagiaan yang sejati. Karena kebahagiaan itu diciptakan pada diri kita

    sendiri bagaimana kita menikmati hidup ini meskipun dalam keadaan yang

    sulit atau terbatas sekalipun. Selain itu pentingnya pantang menyerah dalam

    melakukan sesuatu, sekalipun badai menghadang. Karena tidak ada hasil

    yang menghianati sebuah usaha sekecil apapun itu.

    Pada novel Dam digambarkan sebagai anak lelaki yang memiliki

    rambut keriting dan berkulit hitam. Dam adalah seorang anak yang memiliki

    kepribadian yang baik dibandingkan teman-teman seusianya. Dam berasal

    dari keluarga yang sederhana, dan dididik dengan cara yang sederhana pula

    yang tidak banyak dilakukan oleh orang tua mana pun, yaitu dengan cara

    memberikan cerita atau dongeng-dongeng yang menginspirasi yang

    menjadikannya anak yang baik. Ayahnya hanyalah seorang pegawai swasta

  • 3

    yang berpenghasilan pas-pasan. Namun keluarga Dam sangat dihormati dan

    disegani banyak orang.

    Bahkan semua orang di kota tempat mereka tinggal, mengenal Ayah

    Dam sebagai orang yang paling jujur dan baik kepada semua orang meskipun

    tidak mengenalnya. Hal tersebut membuat Ayah Dam menjadi orang yang

    sangat dipercaya. Setiap apa yang dikatakan Ayah Dam, semua orang

    mempercayainya.

    Semasa kecil, Dam selalu mendengarkan dan menantikan cerita-cerita

    dari Ayahnya. Ia lebih memilih mendengarkan cerita Ayahnya dibandingkan

    bermain seperti anak seusianya. Baginya cerita-cerita Ayahnya adalah hal

    yang paling mengagumkan. Karena Ayahnya selalu menceritakan

    petualangan pada masa mudanya dulu. Meskipun terkadang cerita-cerita itu

    sangatlah tidak masuk akal. Dari mulai sang Ayah yang bersahabat dengan

    sang kapten pemain bola legendaris pada masanya, petualangan di Lembah

    Bukhara, mengenal baik si Raja Tidur, mengenal si penguasa angin dan lain

    sebagainya.

    Hingga suatu hari, Dam tidak mempercayai lagi cerita-cerita Ayahnya.

    Bahkan membenci Ayahnya yang ia anggap selama ini telah membohonginya.

    Namun saat hari pemakaman Ayahnya, Dam mempercayai semua yang

    dikatakan Ayahnya, dan sejak itu Dam sadar bahwa Ayahnya bukanlah

    seorang pembohong seperti yang ia pikirkan selama ini.

  • 4

    Penulis tertarik untuk meneliti novel ini karena pada novel ini penuh

    dengan inspirasi dan motivasi yang sangat baik bagi pembacanya. Dengan

    demikian penulis mengungkapkannya sebagai bahan untuk skripsi dengan

    judul “NILAI-NILAI MATERI PENDIDIKAN KARAKTER PADA NOVEL

    AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG KARYA TERE LIYE”.

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka rumusan masalah

    yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah :

    1. Apa saja nilai-nilai materi pendidikan karakter pada novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong karya Tere Liye?

    2. Bagaimana relevansinya terhadap karakter remaja di era globalisasi?

    C. Tujuan Penelitian

    Dengan adanya permasalahan di atas maka penelitian ini bertujuan

    untuk :

    1. Untuk mendeskripsikan nilai-nilai materi pendidikan karakter dalam novel

    Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye.

    2. Untuk mendeskripsikan relevansi nilai-nilai materi pendidikan karakter

    pada novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye terhadap karakter

    remaja di era globalisasi saat ini.

  • 5

    D. Manfaat Penelitian

    Adapun manfaat hasil penelitian ini adalah ditinjau secara teoritis dan

    praktis. Penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut :

    1. Secara Teoritis

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi

    dunia pendidikan dalam menambah wawasan pengetahuan, khususnya

    tentang pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Ayahku

    (Bukan) Pembohong karya Tere Liye.

    2. Secara Praktis

    Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara

    langsung kepada masyarakat umum, dan khususnya para pendidik.

    Bahwa banyak pelajaran yang dapat diambil di dalamnya.

    E. Metode Penelitian

    1. Jenis Penelitian

    Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah

    penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan (library research). Bahan-

    bahan yang digunakan adalah buku-buku perpustakaan dan sumber-

    sumber lainnya yang berbasis kepustakaan.

    Pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengkaji pada sebuah

    buku dan menjelaskan teks-teks yang mengandung nilai-nilai pendidikan

    karakter.

  • 6

    2. Jenis Pendekatan

    Abrams membagi pendekatan penelitian menjadi beberapa bagian.

    Yaitu:

    a. Pendekatan Ekspresif, yaitu berhubungan dengan pengarang.

    b. Pendekatan Objektif, yaitu menitikberatkan pada teks sastra yang

    kelas disebut strukturalisme atau instrinsik.

    c. Pendekatan Mimetik, yaitu penelitian sastra yang berhubungan dengan

    kemestaan.

    d. Pendekatan Pragmatik, yaitu penelitian sastra yang berhubungan

    dengan persepsi pembaca terhadap teks sastra (Endraswara, 2003:9).

    Berdasarkan penjelasan di atas, pendekatan yang digunakan

    penulis adalah pendekatan pragmatik. Dimana suatu karya sastra yang

    melatih persepsi atau cara pandang penikmatnya.

    3. Metode Pengumpulan Data

    Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis menggunakan

    metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan

    data dengan menyelidiki benda-benda tertulis sepeti buku, majalah,

    dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan

    sebagainya (Suharsimi, 2010:201).

  • 7

    Pengumpulan data dilakukan dengan teknik membaca, menyimak

    dan mencatat hal-hal yang bekaitan dengan unsur pendidikan karakter

    yang terdapat dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye.

    4. Sumber Data

    Sumber data yang dijadikan bahan-bahan dalam kajian ini

    merupakan sumber data yang diperoleh dari bahan-bahan kepustakaan

    yang dikategorikan sebagai berikut :

    a. Sumber Data Primer

    Sumber data primer mencakup data pokok yang dijadikan

    obyek kajian, adapun sumber data tersebut adalah novel Ayahku

    (Bukan) Pembohong karya Tere Liye.

    b. Sumber Data Sekunder

    Data sekunder yang diambil dalam penelitian ini adalah buku-

    buku tambahan yang menurut peneliti di dalamnya mendukung dalam

    pembahasan skripsi ini.

    5. Metode Analisis Data

    Metode analisis data yang digunakan adalah analisis isi (content

    analysis), yaitu sebuah analisis yang digunakan untuk mengungkapkan,

    memahami dan menangkap pesan karya sastra (Endraswara, 2013:160).

  • 8

    F. Penegasan Istilah

    1. Nilai

    Nilai berasal dari bahasa Latin Vale’re yang artinya berguna,

    mampu akan, berdaya, berlaku, sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat

    dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang

    (Adisusilo, 2013:56).

    2. Pendidikan Karakter

    Pendidikan merupakan terjemahan dari education yang berasal dari

    kata educate atau bahasa Latinnya educo. Educo berarti mengembangkan

    diri dalam mendidik, melaksanakan hukum kegunaan. Ada juga yang

    mengatakan Education berasal dari bahasa Latin Educare yang berarti

    melatih atau menjinakkan (seperti manusia melatih hewan-hewan yang

    liar menjadi semakin jinak sehingga bisa diternakkan) (Najib dkk,

    2016:55).

    Adapun menurut John S. Brubacher, pendidikan adalah proses

    pengembangan potensi, kemampuan, dan kapasitas manusia yang mudah

    dipengaruhi oleh kebiasaan, kemudian disempurnakan dengan kebiasaan-

    kebiasaan yang baik, didukung dengan alat (media) yang disusun

    sedemikian rupa, sehingga pendidikan dapat digunakan untuk menolong

    orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah

    ditetapkan (Suwarno, 2006:20).

  • 9

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karakter

    merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang

    membedakan seseorang dengan yang lain. Dengan demikian karakter

    adalah nilai-nilai yang unik yang berparti dalam diri dan dalam perilaku

    (Kementrian Pendidikan Nasional, 2010) (Samani dan Hariyanto,

    2014:42).

    Scerenko mengatakan bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai

    sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana ciri kepribadian

    positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan,

    kajian (sejarah, dan biografi para bijak pemikir besar), serta praktik

    emulasi (usaha yang maksimal untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa

    yang diamati dan dipelajari) (Samani dan Hariyanto, 2014:45).

    G. Sistematika Penulisan Skripsi

    Sistematika dalam penulisan skripsi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu

    bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal terdiri dari sampul,

    lembar berlogo, halaman judul, halaman persetujuan pembimbing, halaman

    pengesahan kelulusan, halaman pernyataan orisinalitas, halaman motto dan

    persembahan, halaman kata pengantar, halaman abstrak, halaman daftar isi,

    halaman daftar lampiran.

    Bagian inti dalam penelitian ini, peneulis menyusun kedalam lima bab

    dengan rincian sebagai berikut :

  • 10

    BAB I PENDAHULUAN

    Pada bab ini membahas mengenai: latar belakang masalah,

    rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,

    metode penelitian, penegasan istilah dan sistematika

    penulisan.

    BAB II KAJIAN PUSTAKA

    Pada bab ini membahas tentang: penelitian terdahulu dan

    landasan teori.

    BAB III GAMBARAN UMUM NOVEL AYAHKU (BUKAN)

    PEMBOHONG

    Bab ini membahas tentang: biografi penulis novel, profil novel,

    unsur instrinsik, dan sinopsis.

    BAB IV PEMBAHASAN

    Pada bab ini penulis memberikan sebuah analisis terhadap

    kandungan nilai-nilai materi pendidikan karakter yang terdapat

    pada novel Ayahku (Bukan) Pembohong dan relevansinya

    dengan keadaan karakter remaja pada globalisasi sekarang ini.

    BAB V PENUTUP

    Bab penutup berisi kesimpulan dan saran.

  • 11

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    A. Penelitian Terdahulu

    Dari pengamatan penulis, ada beberapa hasil penelitian yang

    berhubungan dengan peneilitian ini, antara lain:

    1. Skripsi berjudul Nilai Pendidikan Karakter Dalam Novel Amelia Karya

    Tere Liye Dan Relevansinya Bagi Anak Usia Madrasah Ibtidaiyah (MI)

    hasil penelitian Bayu Cahyo Rahtomo, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

    UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2014). Skripsi ini membahas tentang

    nilai-nilai pendidikan karakter yang ada dalam novel Amelia dan

    relevansinya bagi anak usiaMadrasah Ibtidaiyah (MI), dan mengatakan

    bahwa masyarakat Indoneisa sudah mulai kehilangan karakter bangsa

    yang santun dan jujur, hal tersebut sudah banyak disaksisakan di media

    massa seperti televisi yang menayangkan sikap generasi muda yang

    kurang hormat terhadap kedua orang tuanya, guru, dan orang yang lebih

    tua. Selain itu Bayu Cahyo Rahmoto menyebutkan nilai-nilai pendidikan

    karakter yang ada dalam novel Amelia antara lain: religius, jujur,

    toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin

    tahu, cinta tanah air, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar

    membaca, peduli sosial, dan tanggung jawab.

  • 12

    2. Skripsi berjudul Nilai Pendidikan Karakter Novel Bumi Cinta Karya

    Habiburrahman El-Shirazy Dan Relevansinya Terhadap Materi

    Pembelajaran Sastra Di SMA hasil penelitian Reny Nawang Sakti,

    Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (2013). Skripsi

    ini membahas tentang nilai pendidikan karakter dalam novel Bimi Cinta

    serta relevansinya terhadap materi pembelajaran sastra pada siswa SMA.

    Nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam novel Bumi Cinta

    mencakup nilai jujur, religius, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif,

    mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, komunikatif,

    peduli lingkungan, dan peduli sosial. Novel Bumi Cinta dapat digunakan

    sebagai materi pembelajaran sastra di SMA karena menggunakan bahasa

    yang mudah dipahami, memunculkan situasi baru yang menarik bagi

    peserta didik, merupakan bacaan yang memiliki kisah romansa berbalut

    dakwah.

    3. Skripsi berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Novel Sang Pemimpi

    Karya Andrea Hirata Dan Pembelajarannya di SMA hasil penelitian Lusy

    Tri Lestari, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

    (2018). Skripsi ini membahas tentang nilai-nilai pendidikan karakter yang

    ada dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dan menyusn

    rancangan pembelajarannya di SMA. Nilai-nilai pendidikan karakter

    dalam novel Sang Pemimpi antara lain, religius, toleransi, disiplin, kerja

  • 13

    keras, kreatif, mansiri, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, bersahabat,

    peduli sosial, tangggug jawab. Lusy juga mengatkan bahwa nilai

    pendidiikan karakter tersebut hadir dengan berbgai cara. Ada yang

    tampak melalui ucapan atau perkataan tokoh, ada yang hadir melalui

    peristiwa yang terjadi dalam novel, ada juga yang tampak melalui perilaku

    atau perbuatan tokoh. Nilai pendidikan karakter yang paling baik

    dijadikan bahan ajar sastra adalah nilai pendidiikan karakter yang hadir

    lewat perilaku tokoh. Hal tersebut akan nmemudahkan siswa dalam

    menginterprestasi nilai yang terkandung dalam novel sehingga dapat

    diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu novel Sang Pemimpi

    dapat dijadikan rancangan pembelajaran alternatif bahan pembelajaran di

    SMA, khususunya kelas XII semester genap, dengan kompetensi dasar

    menginterpretasi makna teks novel secara lisan maupun tulisan.

    Skripsi ini berbeda dengan skripsi di atas, dikarenakan skripsi ini

    membahas tentang nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam

    novel Ayahku (Bukan) Pembohong dan relevansinya terhadap karakter remaja

    di era globalisasi. Pada skripsi ini tidak mengkhususkan pada remaja usia

    tertentu yang menjadi pembahasan. Akan tetapi yang menjadi objek

    pembahasan remaja dari berbagai usia dan latar belakang yang berbeda-beda.

  • 14

    B. Nilai

    Nilai berasal dari bahasa Latin Vale’re yang artinya berguna, mampu

    akan, berdaya, berlaku, sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling

    benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang (Adisusilo,

    2013:56).

    Menurut Steeman, nilai adalah sesuatu yang memberi makna pada

    hidup, yang member acuan, titik tolak dan tujuan hidup dan sesuatu yang

    dijunjung tinggi, yang dapat mewarnai dan menjiwai tindakan seseorang

    (Adisusilo, 2013:56).

    Adapun Raths, Harmin dan Simon mengatakan bahwa nilai itu

    merupakan panduan umum untuk membimbing tingkah laku dalam rangka

    mencapai tujuan hidup seseorang (Adisusilo, 2013:59).

    Diryakara mengatakan bahwa inti pendidikan adalah pemanusiaan

    manusia muda.Pada dasarnya pendidikan adalah pengembangan manusia

    muda ke taraf insane (Suwarno, 2006:21).

    Maka dapat disimpulkan, nilai merupakan sesuatu yang berharga,

    bermutu, menunjukkan kualitas, sehingga membuat orang berpikir dalam

    bertingkah laku. Bagi orang yang menghayatinya akan menjadi bermartabat.

    Karena nilai berhubungan sangat erat dengan etika.

  • 15

    C. Pendidikan Karakter

    1. Pengertian Pendidikan Karakter

    Pengertian pendidikan sangat erat kaitannya dengan pengertian

    pengajaran, sehingga sulit untuk dipisahkan dan dibedakan. Pendidikan

    tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya pengajaran, dan pengajaran tidak

    akan berarti jika tanpa diarahkan ke tujuan pendidikan.

    Pendidikan merupakan terjemahan dari education yang berasal dari

    kata educate atau bahasa Latinnya Educo. Educo berati mengembangkan

    diri dalam mendidik, melaksanakan hukum kegunaan. Ada juga yang

    mengatakan Education berasal dari bahasa Latin Educare yang berarti

    melatih atau menjinakkan (seperti manusia melatih hewan-hewan yang

    liar menjadi semakin jinak sehingga bisa diternakkan) (Najib dkk,

    2016:55).

    Pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

    Pendidikan Nasional diungkapkan bahwa pendidikan merupakan usaha

    sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

    pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

    dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

    kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta berbagai keterampilan yang

    diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara(Najib dkk, 2016:56).

  • 16

    Menurut Azyumardi Azra pendidikan merupakan suatu proses di

    mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan

    kehidupannya dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan

    efisien. Bahkan ia menegaskan, bahwa pendidikan lebih sekedar

    pengajaran, artinya bahwa pendidikan adalah suatu proses dimana suatu

    bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara

    individu-individu (Muslich, 2015:48).

    Dengan demikian, pendidikan adalah sebuah proses bimbingan

    atau sarana transfer ilmu pengetahuan yang dilakukan secara sadar dengan

    tujuan membentuk kepribadian yang berkualitas.

    Pendidikan dapat dipandang dari sudut keilmuan tertentu

    (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:80), misalnya:

    a. Sosiologi memandang pendidikan dari aspek sosial.

    b. Antropologi memandang pendidikan adalah enkulturalisasi.

    c. Psikologi memandang pendidikan dari aspek tingkah laku individu.

    d. Ekonomi memandang pendidikan sebagai usaha penanaman modal

    insani yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karakter

    merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang

  • 17

    membedakan seseorang dengan yang lain (Samani dan Hariyanto,

    2014:42).

    Prof. Suyanto, Ph.D (Muslich, 2015:70) menyatakan bahwa

    karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas

    setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup

    keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik

    adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap

    mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.

    Karakter identik dengan akhlak sehingga karakter merupakan

    nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas

    manusia baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri,

    sesama manusia, maupun lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap,

    perasaan, perkataan, dan perbuatannya berdasarkan norma-norma agama,

    hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Karakter seseorang

    dipengaruhi oleh faktor bawaan,faktor lingkungan, serta faktor bawaan

    dan lingkungan.

    Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakter

    merupakan cara berpikir dan berperilaku khas yang dimiliki setiap

    individu dan membedakan dengan individu yang satu dengan yang

    lainnya dalam kehidupan sehari-harinya, seperti dalam lingkungan

  • 18

    keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan agama. Individu yang

    berkarakter baik adalah individu yang mampu membuat keputusan dan

    siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang

    diambilnya.

    Dari berbagai definisi sebagimana diuraikan, dapat diperoleh

    pengertiam jelas tentang pendidikan karakter, yaitu: karakter itu

    merupakan ssuatu yang mengualifikasi seorang pribadi (Foerster);

    keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan

    terlebih dahulu (Ibnu Miskawaih); “hal” keadaan atau kondisi jiwa yang

    bersifat bathiniah (Al-Ghazali); sifatalami seseorang dalam merespons

    situasi secara bermoral (Thomas Lickona); cara berpikir dan berperilaku

    yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik

    dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara (Suyanto);

    serangkaian sikap, perilaku, motivasi, dan keterampilan (Tadkiroatun

    Musfiroh); watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang

    terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan yang diyakini dan

    digunakan sebagai landasan utuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan

    bertindak (Wibowo, 2012:35).

    Berdasarkan deskripsi di atas, maka pendidikan karakter adalah

    sebagai usaha sadar dan terencana yang dilakukan pada diri seseorang

    dalam setiap tindakannya agar dapat menjadi ciri khas yang dimiliki yang

  • 19

    membedakan dirinya dengan individu lain dan salah satu usaha agar

    berperilaku positif dalam menjalin hubungan dengan Tuhan, dirinya

    sendiri, orang lain, dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

    Dasar pendidikan karakter diterapkan sejak usia kanak-kanak atau

    yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas karena usia dini

    terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan

    potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas

    kecerdasan orang dewasa terjadi ketika anak berusia 4 tahun.

    Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya

    pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini sudah sepatutnya

    pendidikan karakter dimulai dari dalam pendidikan keluarga, yang

    merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

    Akan tetapi, bagi sebagian keluarga, proses pendidikan karakter

    yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orangtua yang

    terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, sebaiknya pendidikan

    karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk di lingkungan

    sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Disinilah

    peran guru yang dalam filosofi Jawa disebut digugu dan ditiru menjadi

    ujung tombak di lingkungan sekolah, yang berhadapan langsung dengan

    peserta didik (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:56).

  • 20

    Adapun peserta didik yang memiliki ciri-ciri :

    a. Memiliki kesadaran spiritual

    b. Memiliki integritas moral

    c. Memiliki kemampuan berpikir holistic

    d. Memiliki sikap terbuka

    e. Memiliki sikap peduli

    Menurut Arif Rahman Hakim (pakar pendidikan) (Salahudin dan

    Alkrienciehie, 2013:57), pendidikan dikatakan berhasil apabila memenuhi

    lima karakteristik, yaitu:

    a. Bertakwa

    b. Kepribadian matang

    c. Berilmu mutakhir dan berprestasi

    d. Mempunyai rasa kebangsaan

    e. Berwawasan global

    2. Macam-Macam Nilai Pendidikan Karakter

    a. Disiplin

    Disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan

    patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan (Salahudin dan

    Alkrienciehie, 2013:54).

  • 21

    b. Kerja Keras

    Kerja keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-

    sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta

    menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya (Wibowo, 2012:43).

    c. Peduli

    Peduli adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin

    memberikan bantuan pada orang lain dan masyarakat yang

    membutuhkan (Wibowo, 2012:44).

    d. Kemandirian

    Kemandirian adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah

    tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas

    (Wibowo, 2012:43).

    e. Tanggung Jawab

    Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk

    melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan,

    terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya,

    negara dan Tuhan Yang Maha Esa) (Wibowo, 2012:44).

  • 22

    f. Penuh Kasih Sayang

    Penuh kasih sayang adalah sikap memiliki dan menunjukkan

    perasaan penuh kasih sayang, mencintai, dan bersikap penuh

    kelembutan (Samani dan Hariyanto, 2014:118).

    g. Rasa Ingin Tau

    Rasa ingin tau adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya

    untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang

    dipelajarinya, dilihat, dan didengar (Wibowo, 2012:43).

    h. Santun

    Santun adalah berperilaku sopan, berbudi bahasa halus sebagai

    perwujudan rasa hormat dengan orang lain (SamanidanHariyanto,

    2014:119).

    i. Kesederhanaan

    Kesederhanaan yakni sikap dan perilaku yang menunjukkan

    kesahajaan dan tidak berlebihan dalam berbagai hal (Zuchdi, 2013:28).

    j. Keikhlasan

    Keikhlasan yakni sikap dan perilaku seseorang untuk

    melakukan suatu perbuatan dengan ketulusan hatinya (Zuchdi,

    2013:28).

  • 23

    k. Kejujuran

    Kejujuran yakni sikap dan perilaku seseorang yang didasarkan

    pada upaya menjadikan dirinya selalu dapat dipercaya dalam perkataan

    dan perbuatannya (Zuchdi, 2013:26).

    l. Keadilan

    Keadilan yakni sikap dan perilaku seseorang yang

    menunjukkan upaya untuk melakukan perbuatan yang sepatutnya

    sehingga terhindar dari perbuatan yang semena-mena dan berat sebelah

    (Zuchdi dkk, 2013:28).

    m. Religius

    Religius yakni sikap dan perilaku yang patuh dalam

    melaksanakan ajaran agama yang dianutnya (Salahudin dan

    Alkrienciehie, 2013:111).

    n. Toleransi

    Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai

    perbedaan agama, suku, etnis, sikap, dan tindakan orang lain yang

    berbeda dari dirinya (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:111).

  • 24

    o. Cinta Tanah Air

    Cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap, danberbuat yang

    menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi

    terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik

    bangsa (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:111).

    p. Menghargai Prestasi

    Menghargai prestasi adalah sikap dan tindakan yang

    mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi

    masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain

    (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:111).

    q. Bersahabat atau Komunikatif

    Bersahabat atau komunikatif adalah tindakan yang

    memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama

    denganorang lain (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:112).

    r. Gemar Membaca

    Gemar membaca adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk

    membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

    (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:112).

  • 25

    3. Tujuan Pendidikan Karakter

    Tujuan pertama, pendidikan karakter adalah memfasilitasi

    penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam

    perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun ketika sudah menjadi

    alumni. Penguatan mengarahkan proses pendidikan pada proses

    pembiasaan yang disertai oleh logika dan refleksi terhadap proses dan

    dampak dari proses pembiasaan yang dilakukan di sekolah. Penguatan

    juga memiliki makna adanya hubungan antara penguatan perilaku melalui

    pembiasaan di sekolah dengan pembiasaan di rumah. Hal ini berimplikasi

    bahwa proses pendidikan harus dilakukan secara kontekstual.

    Tujuan kedua, pendidikan karakter adalah mengoreksi perilaku

    peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang

    dikembangkan oleh sekolah. Yang bermaksud bahwa pendidikan karakter

    memiliki sasaran untuk meluruskan berbagai perilaku anak yang negatif

    menjadi positif. Proses pelurusan yang dimaknai sebagai pengkoreksian

    perilaku dipahami sebagai proses yang pedagogis, bukan suatu pemaksaan

    atau pengkondisian yang tidak mendidik.

    Tujuan ketiga, pendiidkan karakter setting sekolah adalah

    membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat

    dalam memerankan tanggungjawab pendidikan karakter secara bersama.

  • 26

    Yang bermakna bahwa proses pendidikan karakter di sekolah harus

    dihubungkan dengan proses pendidikan karakter di keluarga. Jika saja

    pendidikan karakter di sekolah hanya bertumpu pada interaksi antara guru

    dengan peserta didik di kelas dan sekolah, maka pencapaian berbagai

    karakter yang diharapkan akan sangat sulit diwujudkan (Najib dkk,

    2016:69).

    Berdasarkan deskripsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

    tujuan pendidikan karakter sebagai berikut:

    1. Menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi peserta didik

    pada khususnya dan seluruh warga sekolah pada umumnya dalam

    menjalin interaksi edukasi yang sesuai dengan nilai-nilai karakter.

    2. Membentuk peserta didik yang memiliki kecerdasan emosional dan

    kecerdasan spiritual (emotional and spiritual quotient/ESQ).

    3. Menguatkan berbagai perilaku positif yang ditampilkan oleh peserta

    didik baik melalui kegiatan pembelajaran maupun pembiasaan di kelas

    dan sekolah.

    4. Mengoreksi berbagai perilaku negatif yang ditampilkan oleh peserta

    didik ketika berada di lingkungan sekolah maupun di lingkungan

    keluarga.

  • 27

    5. Memotivasi dan membiasakan peserta didik mewujudkan berbagai

    pengetahuan tentang kebaikan dan kecintaannya akan kebaikan ke

    dalam berbagai perilaku positif di lingkungan sekolah dan lingkungan

    keluarga (Najib dkk, 2016:71).

    Adapun tujuan pendidikan karakter menurut Kementerian

    Pendidikan Nasional adalah mengembangkan karakter peserta didik agar

    mampu mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila (Salahudin dan

    Alkrienciehie, 2013:110).

    4. Fungsi Pendidikan Karakter

    Masyarakat memandang pendidikan sebagai pewaris kebudayaan

    atau nilai-nilai budaya, baik yang bersifat keterampilan, keahlian dari

    generasi tua kepada generasi muda agar masyarakat tersebut memelihara

    kelangsungan hidupnya atau tetap memelihara kepribadiannya. Dari segi

    pandangan individu, pendidikan berarti upaya pengembangan potensi

    yang dimiliki individu yang masih terpendam agar teraktualisasi secara

    konkret, sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh individu dan masyarakat.

    Fungsi pendidikan karakter menurut Kementerian Pendidikan

    Nasional (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:105), sebagai berikut:

    1. Pengembangan potensi dasar, agar berhati baik, berpikiran baik, dan

    berperilaku baik.

  • 28

    2. Perbaikan perilaku yang kurang baik dan penguatan perilaku yang

    sudah baik.

    3. Penyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur

    Pancasila.

    Adapun fungsi pendidikan karakter menurut Ahmad Fikri

    (Salahudin dan Alkrienciehie, 2013:104), yaitu:

    a. Pengembangan

    Pengembangan potensi dasar peserta didik agar berhati,

    berpikiran, dan berperilaku baik.

    b. Perbaikan

    Untuk memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang

    multikutur untuk menjadi bangsa yang bermartabat.

    c. Penyaring

    Untuk menyaring budaya yang negarif dan menyerap budaya

    yang sesuai dengan nilai budaya dan karakter bangsa untuk

    meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan

    dunia.

  • 29

    5. Landasan Pendidikan Karakter

    Landasan pelaksanaan pendidikan karakter sangat jelas. Hal ini

    tampak dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

    Pendidikan Nasional pada Pasal 3 yang menyatakan “Pendidikan Nasional

    berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta

    peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

    kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik

    agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

    Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan

    menjadi warga yang demokratis serta tanggung jawab” (Wiyani, 2013:31-

    32).

    Dalam penelitian berjudul “Revitalisasi Pendidikan Karakter di

    Sekolah Dasar”, Sa’dun Akbar menemukan tujuh landasan pendidikan

    karakter sebagai berikut:

    a. Landasan Filsafat Manusia

    Secara filosofis manusia diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan

    “belum selesai”, mereka dilahirkan dalam keadaan belum jadi.

    Manusia yang ketika dilahirkan berwujud anak manusia belum tentu

    dalam proses perkembangannya menjadi mansuia yang sesungguhnya.

    Agar dapat menjadi manusia yang sesungguhnya, dalam proses

    pertumbuhan dan perkembangannya, anak-anak manusia memerlukan

  • 30

    bantuan. Upaya membantu manusia menjadikan manusia yang

    sesungguhnya itulah yang disebut pendidikan. Dalam proses

    perkembangannya, karakter manusia bahkan dapat menjadi lebih buruk

    daripada hewan. Oleh sebab itu, pendidikan karakter sangat

    diperlukan bagi manusia sepanjang hidupnya, agar menjadi manusia

    yang berkarakter baik.

    b. Landasan Filsafat Pancasila

    Manusia Indonesia yang ideal adalah manusia Pancasila, yaitu

    menghargai nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan,

    Kerakyatan, dan Keadilan sosial.Nilai-nilai Pancasila tersebut

    harusnya menjadi cover value dalam pendidikan karakter di negeri ini

    (Wiyani, 2013:33).

    Pendidikan dan pendidikan karakter berbasis Pancasila sangat

    dibutuhkan oleh bangsa dan rakyat Indonesia dewasa ini. Sangat

    dibutuhkan karena mengingat banyaknya ideologi dan praktik-praktik

    hidup yang bertentangan dengan ideologi dan praktik hidup Pancasila

    (Dwiyanto dan Saksono, 2012:171). Pancasila sebagai ideologi

    pembentukan karakter bangsa yang bernuansa pembebasan tidak boleh

    impoten atau tak berdaya (Dwiyanto dan Saksono, 2012:173).

  • 31

    Pendidikan harus dijadikan arena bagi pembebasan manusia,

    yang akan mengantar orang untuk menemukan dirinya sendiri, yang

    kemudian secara kritis dapat menghadapi realitas di sekitarya dan

    secara kreatif mengubah dunianya. Perubahan semacam ini yang

    dikehendaki oleh sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab (Dwiyanto

    dan Saksono, 2012:162).

    Pendidikan karakter yang berbasis Pancasila akan mengajak

    setiap insan manusia untuk menghormati hak asasi manusia lain,

    manusia sebagai manusia, bukan manusia yang boleh ditindas dalam

    sistem kapitalisme yang sedang mencengkram manusia Indonesia

    sekarang (Dwiyanto dan Saksono, 2012:163).

    c. Landasan Filsafat Pendidikan

    Pendidikan pada dasarnya bertujuan mengembangkan

    kepribadian utuh dan mencetak warga negara yang baik. Seseorang

    yang berkepribadian utuh digambarkan dengan terinternalisasikannya

    nilai-nilai dari berbagai dunia makna (nilai). Yaitu simbolik, empirik,

    estetik, etik, sinoptik, dan sinnoetik. Nilai simbolik ada dalam bahasa,

    ritualis keagamaan, dan matematika. Nilai empirik terdapat dalam

    Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. Nilai etik berupa pilihan-pilihan

    moral yang dikembangkan melalui pendidikan moral, budi pekerti,

  • 32

    adab, dan akhlak.Nilai estetik terdapat pada kesenian. Dan nilai

    sinnoetik adalah nilai yang bersifat personal yang hadir dari

    pengalaman-pengalaman personal. Nilai sinoptik di dalamnya

    terangkum nilai simbolik, estetik, etik, dan sinnoetik. Nilai-nilai

    tersebut hadir dalam pendidikan agama, sejarah, dan filsafat.

    d. Landasan Agama atau Religius

    Pada hakikatnya manusia membutuhkan agama. Hal ini

    disebabkan agama berfungsi sebagai pembimbing dan petunjuk arah

    atau haluan. Agama memiliki peran besar dalam pembangunan

    karakter manusia. Agama menjamin pemeluknya memiliki karakter

    mulia, jika ia memiliki komitmen tinggi dengan seluruh ajaran

    agamanya. Apabila pemeluk agama memiliki agama hanya sebagai

    formalitas belaka tanpa memperhatikan dan mematuhi ajaran

    agamanya, maka yang terjadi sering kali agama tidak bisa

    mengantarkan pemeluknya berkarakter mulia, malah agama sering

    menjadi tameng di balik ketidakberhasilan membangun karakter

    pemeluknya (Zuchdi dkk, 2013:19).

    Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh

    karena itu, dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam berhubungan

    dengan sesama ataupun berhubungan dengan kebangsaan dan

  • 33

    kenegaraan selalu didasari pada ajaran agama yang dianutnya. Maka

    nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan

    pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

    Untuk menjadikan manusia yang memiliki karakter mulia

    (berakhlak mulia), manusia berkewajiban menjaga dirinya dengan cara

    memelihara kesucian lahir batin, selalu menambah ilmu pengetahuan,

    membina disiplin diri, dan berusaha melakukan perbuatan-perbuatan

    terpuji serta menghindari perbuatan-perbuatan tercela (Zuchdi dkk,

    2013:18).

    e. Landasan Sosiologis

    secara sosiologis manusian Indonesia hidup dalam masyarakat

    heterogen yang terus berkembang. Karena berada di tengah-tengah

    masyarakat dengan suku, etnis, agama, golongan, status sosial, dan

    ekonomi yang berbeda-beda. Di smaping itu, bangsa Indonesia juga

    hidup berdampingan dan bergaul dengan bagsa-bangsa lain. Oleh

    sebab itu upaya mengembangkan karakter saling menghargai dan

    toleran pada aneka ragam perbedaan menjadi sangat mendasar.

  • 34

    f. Landasan Psikologis

    Dari segi psikologis perkembangan terdapat tahapan-tahapan

    dalam perkembangan manusia.Perkembangan manusia tercermin dari

    karakteristik masing-masing dalam setiap tahap perkembangan.

    g. Landasan Teoretik

    Ada beberapa teori pendidikan dan pembelajaran yang dapat

    dirujuk untuk pengembangan karakter, antara lain: teori-teori yang

    berorientasi behavioristik, teori-teori yang berorientasi kognitivistik,

    teori-teori yang berorientasi komprehensif.

    6. Ciri Dasar Pendidikan Karakter

    Menurut Foester (Muslich, 2015:127), pencetus pendidikan

    karakter dan pedagog Jerman, ada empat ciri dasar dalam pendidikan

    karakter, yaitu:

    a. Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hieraki

    nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.

    b. Koherensi yang memberi keberanian, membantu seseorang teguh pada

    prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut

    resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya

  • 35

    satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas

    seseorang.

    c. Otonomi, dimana seseorang menginternalisasikan aturan dari luar

    sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat

    penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak

    lain.

    d. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang

    guna menginginkan apa yang dipandang baik, dan kesetiaan

    merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

    D. Novel

    1. Pengertian Novel

    Novel merupakan sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan

    naratif. Biasanya dalam bentuk cerita (Maslikhah, 2017:126).

    2. Unsur-Unsur Instrinsik Novel

    Unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra

    itu sendiri (Nurgiyantoro, 2013:30). Berikut ini adalah beberapa unsur

    instrinsik yang ada di dalam novel:

  • 36

    a. Tema

    Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang

    menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam

    cerita (Kurniasari, 2014:160).

    b. Tokoh dan Penokohan

    Menurut Baldic menjelaskan bahwa tokoh adalah orang yang

    menjadi pelaku dalam cerita fiksi atau darma, sedangkan penokohan

    adalah penghadiran tokoh dalam cerita fiksi atau drama dengan cara

    langsung atau tidak langsung dan mengundang pembaca untuk

    menafsirkan kualitas dirinya lewat kata dan tindakannya

    (Nurgiyantoro,2013:247).

    c. Alur

    Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita

    (Kurniasari, 2014:160).

    d. Latar (Setting)

    Latar atau setting disebut juga sebagai landasan tumpu,

    menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu sejarah, dan

    lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang

    diceritakan (Nurgiyantoro, 2013:302).

  • 37

    e. Sudut Pandang

    Sudut pandang adalah cara memandang penulis dalam

    menempatkan dirinya pada posisi tertentu dalam cerita tersebut

    (Kurniasari, 2014:161).

    f. Gaya Bahasa

    Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang

    dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah

    (Kurniasari, 2014:161).

    g. Amanat

    Amanat merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh

    pengarang kepada pembaca, dan merupakan makna yang terkandung

    dalam sebuah karya, makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyanto,

    2013:429).

    3. Macam-Macam Novel

    a. Novel Serius

    Novel serius adalah novel yang membutuhkan konsentrasi yang

    tinggi dalam membacanya agar memahami dengan baik isi dari novel

    tersebut (Nurgiyantoro, 2013:21).

  • 38

    Pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditampilkan

    dalam novel jenis ini disoroti dan diungkapkan sampai ke inti hakikat

    kehidupan yang bersifat universal. Di samping memberikan hiburan,

    novel serius juga memberikan pengalaman yang berharga kepada

    pembaca dan merenungkan secara lebih sungguh-sungguh tentang

    permasalahan yang diangkat. Hakikat kehidupan, boleh dikatakan

    tetap bertahan sepanjang masa. Tidak pernah ketinggalan zaman.

    Itulah sebabnya novel serius tetap menarik sepanjang masa, tetap

    menarik untuk dibicarakan. Misalnya seperti, Romeo dan Juliet

    (Nurgiyantoro, 2013:22).`

    b. Novel Populer

    Novel popular adalah novel yang popular pada masanya dan

    banyak penggemarnya, khususnya pembaca kalangan remaja

    (Nurgiyantoro, 2013:21).

    Novel popular lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati

    Karena semata-mata menyampaikan cerita (Nurgiyantoro, 2013:22).

    Contoh novel popular pada tahun 70-an seperti, novel Cewek

    Komersil, Gita Cinta dari SMA, dan Musim Bercinta. Sedangkan

    novel populer pada saat ini seperti, novel Dilan 1990, Dear Nathan,

    Merindu Baginda Nabi, dan lainnya.

  • 39

    c. Novel Teenlit

    Novel teenlit adalah novel yang mengangkat tokoh-tokoh

    sebaya yang pada umunya adalah perempuan (Nurgiyantoro, 2013:27).

    Biasanya novel teenlit berkisah tentang dunia remaja seperti

    percintaan dan persahabatan dengan bahasa gaul yang khas remaja,

    maka amat digandrungi oleh kaum remaja putri yang haus akan bacaan

    yang sesuai dengan kondisi kejiwaan mereka. Contoh novel

    teenlitseperti, Backstreet, Dea Lova, Me vs High Heelas!dan lainnya.

  • 40

    BAB III

    GAMBARAN UMUM NOVEL AYAHKU (BUKAN) PEMBOHONG

    A. Biografi Penulis Novel

    Nama “Tere Liye” adalah nama pena seorang penulis berbakat di

    tanah air. Yang diambil dari bahasa Indian yang memiki arti untukmu. Tere

    Liye mempunyai nama asli Darwis. Untuk sebagian orang yang mendengar

    nama Tere Liye, pasti akan beranggapan bahwa dia adalah seorang

    perempuan. Meskipun Tere Liye banyak menghasilkan karya-karya best

    seller, akan tetapi sangat sulit sekali mencari biodata atau biografi Tere Liye.

    Oleh karena Tere Liye tidak seperti penulis lainnya yang mencantumkan

    biografi ataupun foto dalam setiap karyanya.Tere Liye tidak ingin

    mempublikasikan kehidupan pribadinya pada umum. Bagi para penggemar

    yang ingin berkomunikasi dengan Tere Liye hanya dapat melalui email yaitu

    [email protected] inilah yang dia pilih, cukup dengan berusaha

    memberikan hasil karya yang terbaik. Hal tersebut terbukti dari beberapa

    karyanya yang menjadi best seller dan pernah diangkat ke layar kaca.

    Inilah sedikit informasi mengenai biografi Tere Liye yang penulis

    dapatkan dari berbagai sumber di internet.Nama asli Tere Liye adalah Darwis,

    yang lahir di Lahat pada 21 Mei 1979. Tere Liye lahir dan tumbuh di

    pedalaman Sumatera. Istrinya bernama Riski Amelia. Dikaruniai dua orang

    anak yang diberi nama Abdullah Pasai dan Faizah Azkia.Tere Liye adalah

    mailto:[email protected]

  • 41

    anak ke enam dari tujuh bersaudara yang berasaldari keluarga sederhana.

    Orang tuanya hanya sebagai petani biasa.Namun hal tersebut tidak

    menghalanginya untuk terus berjuang menjadi seseorang yang luar biasa.

    Tere Liye menyelesaikan masa pendidikan dasar dan menengah

    pertama di SD Negeri 2 dan SMP Negeri 2 Kikim Timur, Sumatera

    Selatan.Kemudian melanjutkan sekolah menengah atas di SMU Negeri 9

    Bandar Lampung.Setelah selesai SMU di Bandar Lampung, ia melanjutkan

    pendidikannya di Universitas Indonesia Fakultas Ekonomi.

    1. Karakteristik Novel Karya Tere Liye

    Setiap penulis memiliki karakteristik yang berbeda-beda pada hasil

    karyanya. Sama halnya dengan Tere Liye yang mempunyai karakteristik

    tersendiri pada karya-karyanya yang dapat memikat pembacanya. Tere

    Liye memiliki ciri khas tersendiri dengan mengangkat tema yang

    bernuansa Islami dan kemanusiaan. Dalam setiap karya-karyanya,ia

    mampu membuat pembaca tersentuh hatinya, memberikan pelajaran

    hidup, dan mampu membius pembaca seolah-olah ikut serta dalam cerita

    tersebut.Baik dalam kejadian yang menyedihakn ataupun yang

    membahagiakan.Selain itu, dalam penggunaan bahasa Tere Liye lebih

    cenderung menggunakan bahasa yang halus, indah, dan mudah dipahami

    oleh berbagai kalangan pembaca. Desain cover dan pemberian judul juga

    sangat berbeda dengan penulis lainnya. dimana penulis lainnya

  • 42

    menggunakan cover yang berkaitan dengan judul, sehingga mudah sekali

    pembaca menebak isi dari novel tersebut. Berbeda dengan Tere Liye yang

    sering menggunakan cover dan judul novel yang terkadang jauh sekali

    dengan isi novel yang sebenarnya. Sehingga membuat para pembaca

    penasaran dengan isinya. Salah satu contoh adalah novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong yang menggunakan cover atau sampul yang bergambarkan

    layang-layang yang tersangut di pohon.Bagi orang yang melihat, hal

    tersebut sangatlah tidak menyambung antara judul dengan gambar sampul.

    Dari setiap karya-karyanya Tere Liye memberikan pemahaman

    bahwa hidup tidaklah serumit seperti yang dipikirkan kebanyakan

    orang.Hidup adalah anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa yang harus

    kita jalani dan syukuri.Ia selalu memberikan pelajaran di setiap karyanya

    bahwa kita tidak boleh berhenti berusaha dalam meraih apa yang kita cita-

    citakan. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita tetap berusaha dan

    berdoa.

    2. Karya-Karya Tere Liye

    Tere Liye merupakan salah satu dari sekian banyak penulis di

    tanah air yang menghasilkan karya-karya best seller.Salah satunya adalah

    novel Ayahku (Bukan) Pembohong yang menjadi bahan penelitian ini.

    Beberapa karya Tere Liye yang lainnya, sebagai berikut :

  • 43

    a. Tentang Kamu (Republika, 2016)

    b. Bintang (Gramedia Pustaka Utama, 2017)

    c. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Gramedia Pustaka

    Utama, 2010)

    d. Moga Bunda Disayang Allah (Republika, 2006)

    e. Bidadari-Bidadari Surga (Republika, 2008)

    f. Hafalan Shalat Delisa (Republika, 2005)

    g. Negeri Di Ujung Tanduk (Gramedia Pustaka Utama, 2013)

    h. Hujan (Gramedia Pustaka Utama, 2016)

    i. Bulan (Gramedia Pustaka Utama, 2015)

    j. Matahari (Gramedia, 2016)

    B. Profil Novel

    Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong

    Penulis : Tere Liye

    Tahun Terbit : 2016

    Cetakan ke :16

    Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

    Jl. Palmerah Barat 29-37 Blok 1, Lt 5 Jakarta 10270

    Tebal Buku : 304 halaman; 20 cm

  • 44

    C. Unsur Instrinsik Novel

    Adapun unsur-unsur instrinsik dalam novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong adalah sebagai berikut :

    1. Tema

    Tema yang diangkat dalam novel Ayahku (Bukan)

    Pembohongmengungkapkan tentang sebuah keluarga yang membesarkan

    anak dengan dongeng-dongeng, sederhana, dan tentang definisi

    kebahagiaan yang sesungguhnya.

    2. Tokoh dan Penokohan

    Tokoh-tokoh dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong adalah

    sebagai berikut:

    a. Dam

    1) Tokoh Dam dalam cerita digambarkan sebagai anak laki-laki yang

    memiliki tubuh pendek dan berambut keriting. Hal ini ditunjukkan

    ketika Jajrit mengejeknya. Yang terdapat pada kalimat sebagai

    berikut:

    “Ternyata menarik melihat anak pendek, keriting, telanjang bulat

    di tengah kolam….” (Liye,2016:46).

  • 45

    2) Dam juga digambarkan memiliki sifat yang pekerja keras. Hal

    tersebut tertulis pada kalimat sebagai berikut :

    “Satu jam lalu, bahkan saat ayah dan ibu belum bangun, saat

    jalanan masih gelap, aku juga sudah menggowes sepeda,

    mengantar koran, mengepel lantai, menyiram tanam,

    mengerjakan seluruh tugas rumah yang kuabaikan sebuan

    terakhir.”(Liye, 2016:57).

    3) Memiliki semangat yang tinggi. Hal tersebut tertulis pada kalimat

    sebagai berikut:

    ”Aku berlatih dua kali lebih semangat dibanding anggota klub

    lain-datang lebih awal, pulang paling akhir.”(Liye, 2016:51).

    4) Menerima resiko dan bertanggung jawab atas apa yang

    dilakukannya. Hal tersebut tertulis pada kalimat sebgai berikut:

    “Baiklah aku akan membayar denda.Itu malah lebih mudah

    dibandingkan membersihkan sesuatu selama

    sebulan.”(Liye,2016:200).

    5) Membantu sesama, meskipun tidak mengenal orang tersebut. Hal

    tersebut tertulis pada kalimat sebagai berikut :

  • 46

    “Dia anak yang baik.Dia menjaga wanita tua ini sepanjang

    perjalanan.” Nenek itu tertawa renyah….”(Liye,2016:172).

    “Nenek tua itu melakukan perjalanan sendirian, ia bilang

    punggungnya sakit kalau terlalu lama duduk.Aku memberikan

    separuh kursiku padanya agar ia bisa

    bersandar.”(Liye,2016:172).

    6) Perhatian dan penuh kasih sayang. Hal tersebut tertulis pada

    kalimat sebagai berikut :

    “Aku sempat menemani Ibu makan malam di kamarnya, memijat

    hingga ia jatuh tertidur.Mematikan lampu, berjinjit keluar.”

    (Liye,2016:175).

    7) Mandiri. Hal tersebut tertulis pada kalimat sebagai berikut :

    “Ini hari libur, sepatu dan seragam sekolah kau belum dicuci,

    Dam?Dan kau juga belum mengepel lantai, membersihkan

    halaman,” Ibu mengingatkanku yang asyik memasang poster

    baru.”(Liye,2016:55).

    “Sejak kecil Ayah tidakmembiasakanku minta tolong-bahkan

    mengambil sendok di seberang meja makan, aku memilih berdiri

    dan meraihnya sendiri.”(Liye, 2016:195).

  • 47

    8) Optimis. Hal tersebut tertulis pada kalimat sebagai berikut :

    “Aku akan mengumpulkan uang Bu.Lihat, aku sudah dewasa, aku

    sudah bisa bekerja,” aku berkata menyakinkan, memegang lengan

    Ibu.” (Liye, 2016:196).

    9) Kreatif, hal tersebut tertulis pada kalimat sebagai berikut :

    “Maka esok harinya aku memasang pengumuman tentang

    kesempatan bekerja di perkampungan bagi siapa saja yang

    berminat.”(Liye,2016:206).

    10) Mudah bersosialisasi, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Aku ingin bekerja di luar, membantu perkampungan dekat

    Akademi Gajah.Setiap sore, lepas jadwal di kelas, aku bisa

    membantu mereka mengurus mereka ngurus ladang, menangkap

    ikan, dan jenis pekerjaan yang tersedia.”(Liye,2016:204).

    11) Rasa ingin tahu yang besar, hal tersebut terdapat pada kalimat :

    “Bagaimana rumah sang kapten, Yah? Besar?Kecil? Ayah ke

    kamarnya? Apakah ada poster-poster seperti kamarku? Apakah

    sang kapten punya koleksi gambar idolanya?” Aku mencengkram

    lengan Ayah.”(Liye,2016:35).

  • 48

    b. Ayah

    1) Seorang Ayah yang digambarkan memiliki kehidupan yang sangat

    sederhana. Hal tersebut tertulis pada kalimat sebagai berikut :

    “Keluarga kami tidak kekurangan, meski tidak juga kaya (jangan

    bandingkan dnegan keluarga Jajrit). Walaupun lulusan master

    hukum luar negeri, Ayah hanya menjadi pegawai negeri golongan

    menengah, bukan hakim, jaksa, atau pejabat penting seperti

    teman-temannya yang bahkan lulusan sekolah hukum terbaik

    dalam negeri pun tidak. Lebih tepatnya, hidup kami apa

    adanya.”(Liye, 2016:51).

    2) Memiliki kejujuran yang luar biasa. Hal tersebut tertulis pada

    kalimat sebagai berikut :

    ”Ayahku bukan pembohong.Seluruh penghuni kota kami tahu

    ayahku pegawai yang jujur dan sederhana.”(Liye, 2016:141).

    3) Perhatian. Hal tersebut tertulis pada kalimat sebagai berikut :

    “Pulang sekolah, dengan menumpang angkutan umum, Ayah

    menjemputku. Ia langsung mengantarkanku ke klub renang kota

    kami.”(Liye,2016:22).

    4) Mudah tersinggung, hal tersebut tertulis pada kalimat :

  • 49

    “Kau tidak menuduhAyah berbohong kan?”Ayahbertanya

    tajam.”(Liye,2016:191).

    5) Mudah marah, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Astaga?Setelah bertahun-tahun tidak ada satu pun penduduk kota

    yang berani meragukan apa yang keluar dari mulut Ayah, malam

    ini, anakku satu-satunya meragukan sendiri ucapanku.”Ayah

    berdiri, berkata lantang, menatap tajam, mengacungkan telunjuk.”

    (Liye,2016:192).

    c. Ibu

    1) Penuh kasih sayang , hal tersebut tertulis dalam kalimat :

    “Jangan lupa makan, Dam, “Ibu berbisik, setengah menit tidak

    melepaskan pelukannya.” (Liye,2016:122).

    2) Perhatian, hal tersebut tertulis dalam kalimat :

    “Bergegas, Dam. Kau sudah terlambat!”Sambil mengomel, Ibu

    memasukkan celana dan kacamata renang ke dalam kantong

    plastik, mencari sepatu, sekaligus meneriakiku yang masih

    berkutat memasang seragam sekolah.”(Liye,2016:19).

    3) Mudah terharu, hal tersebut dituliskan pada kalimat :

  • 50

    “Ibu terharu dan berkata, “ini kado terindah yang pernah Ibu

    terima, saying.Terima kasih.”(Liye,2016:191).

    d. Taani

    1) Optimis, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Aku berani bertaruh, dia paling juga tidak menonton, hanya

    melihat beritanya tadi pagi, sekarang berlagak paling

    tahu….”(Liye,2016:21).

    2) Perhatian, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Sejauh ini, Taani rajin mengunjungi Ayah, mengirimi makanan,

    membantu mengurus rumah, dan tentu saja menemani Ayah,

    mendengarkan cerita-cerita itu.”(Liye,2016:266).

    3) Tanggung jawab, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Taani melakukan apa saja untuk membuat mereka berhenti,

    termasuk sengaja meninggalkan buku hariannya lagi di laci meja,

    yang di dalamnya sudah ditulis bahwa papa Jajrit juga teman

    dekat sang kapten.”(Liye,2016:94).

  • 51

    4) Keras kepala, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Berhari-hari Taani menolak berbicara denganku… “Kau harus

    sabar, Dam.Sejak kecil Taani memang keras

    kepala.”(Liye,2016:262).

    5) Tidak mudah putus asa, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Ia berkali-kali sengaja membawa Zas dan Qon yang berusia

    enam dan empat tahun mengunjungi Ayah.Membiarkan Ayah

    bercengkrama dengan cucu-cucu menggemaskan, seru-seruan

    Qon,celetukkanZas,tawa dan seringhai lebar

    mereka.”(Liye,2016:271).

    6) Pandai membagi waktu, hal tersebut tertulis pada kalimat:

    “Ia pandai mengurus rumah, mengurus Zas dan Qon,

    mengurusku, serta megurus toko dan kebun bunganya sekaligus.

    Taani juga tetap disiplin mengunjungi Ayah, mengirimkan

    makanan, bertanya apakah Ayahmemerlukan

    bantuan.”(Liye,2016:270).

    e. Jajrit

    1) Suka mengejek, hal tersebut tertulis pada kalimat :

  • 52

    “Kau terlalu pendek untuk menjadi perenang, dan rambut kau,

    astaga, “Jajrit terbahak melirik kepalaku,” Kau harus hati-hati,

    jangan-jangan kalau kolamini ada ikannya, mereka menyangka itu

    sarangnya.”(Liye,2016:24).

    2) Senang membuat keributan, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Sepertinya dugaanku benar kawan.Rambut jeleknya membuat dia

    tenggelam.Meluncur ke bawah seperti patung batu.”Jajrit tertawa,

    diikuti kameradnya yang selalu setia.”(Liye.2016:36).

    3) Peduli, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Biar kau tidak perlu memotong rambut kau itu.”Jajrit

    menyeringai lebar, menunjuk kepalaku.”(Liye,2016:85).

    f. Pelatih Renang

    1) Tegas, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Kalian siap, hah?” (Liye,2016:76).

    2) Penuh semangat, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Bagus.Hajar lawan kalian.Berenanglah seolah itu kesempatan

    terakhir kalinya kalian renang. Berenanglah seperti besok semua

  • 53

    air di planet Bumi menguap.”Pelatih mengepalkan

    tangan.”(Liye,2016:98).

    g. Zas dan Qon

    1) Rasa ingin tahu yang tinggi, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Pa, apakah cerita-cerita kakek itu benar?Zas sudah berdiri di

    belakang kursi, memeperhatikanku yang sibuk dengan program

    grafis di layar laptop.”(Liye,2016:188).

    “Tetapi apa susahnya menunggu setengah menit, Kek? Bukankah

    sang kapten hampir melewati bangku Papa? Bukankah Nenek

    hanya merasa lelah?Bukankah Papa juga memenagkan piala

    renangnya?Qon yang baru berusia tujuh tahun saja bahkan tidak

    bisa menerima logika Ayah.”(Liye,2016:108).

    2) Penurut, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Zas dan Qon menurut, saling menatap.”(Liye,2016:219).

    h. Retro

    1) Mudah marah, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Retro bersungut-sungut sepanjang lorong, menolak bicara

    denganku.”(Liye, 2016:127).

  • 54

    2) Penasaran, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “…Apakah kau berhasil soal itu, Dam. Aku bertanya soal Ayah

    kau. Apakah kau berhasil mendapatkan bukti bahwa cerita-cerita

    itu sungguhan atau bohong…”(Liye, 2016:197).

    3) Keras kepala, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Namaku harus ada!”Retro mengancam, tangannya bergerak

    cepat, hendak merampas kertas di tanganku.”(Liye, 2016:207).

    4) Senang bercanda, hal tersebut tertulis pada kalimat :

    “Dia palinag hebat di seluruh Akademi Gajah, Pak.Satu anak

    panah bisa membelah diri membunuh tiga ekor babi sekaligus,”

    Retro membual, membuatku tertawa lebar.”(Liye, 2016:214).

    3. Alur atau Plot

    Alur atau plot yang digunakan pada novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong yaitu menggunakan alur sorot balik, flash back. Dimana

    urutan kejadian yang dikisahkan dalam cerita tidak bersifat

    kronologis.Melainkan pembaca langsung disuguhkan dengan konflik-

    konflik yang telah meruncing.Sedangkan pembaca belum mengetahui

    situasi dan permasalahan yang menyebabkan terjadinya konflik dan

    pertentangan itu (Nurgiyantoro, 2013:214).

  • 55

    4. Sudut Pandang

    Adapun sudut pandang yang digunakan dalam novel Ayahku

    (Bukan) Pembohong adalah sudut pandang orang pertama.Karena pada

    novel Ayahku (Bukan) Pembohongini menggunakan kata “Aku” ketika

    tokoh utama berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri,

    mengisahkan peristiwa dan tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar,

    dialami, dan dirasakan, serta sikapnya terdahap orang (tokoh) lain kepada

    pembaca(Nurgiyanto, 2013:352).

    5. Latar atauSetting

    Adapun latar yang terdapat pada novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong sebagai berikut :

    a. Latar Tempat

    Latar tempat menunjuk lokasi terjadinya peristiwa yang

    diceritakan dalam sebuah karya fiksi(Nurgiyanto, 2013:314).

    Adapun latar tempat yang terdapat pada novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong, sebagai berikut :

    1) Ruang keluarga, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Menahan rasa jenhgkel, aku akhirnya memilih meningglkan

    ruang keluarga kami.” (Liye, 2016:7).

  • 56

    2) Sekolah, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Tadi pagi, seluruh teman di sekolah sibhuk meributkan

    pertandingan ini, bertengkar membela klub kesayngan masing-

    masing.” (Liye, 2016:8).

    3) Angkutan kota, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Angkutan umum yang kami tumpangi berhenti untuk kesekian

    kali.”(Liye,2016:22).

    4) Kolam renang, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Cahaya matahari terhalang dinding tribun dan pohon, kolam

    renang tidak panas lagi.”(Liye,2016:44).

    5) Ruang kerja, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Aku bergegas meraih charger laptop yang tertinggal, kembali

    masuk ke ruang kerja.”(Liye,2016:31).

    6) Halaman sekolah, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Esok harinya, di halaman sekolah, aku bertengkar dengan Jajrit.”

    (Liye,2016:35).

  • 57

    7) Lorong sekolah, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Di lorong sekolah, ibu berkali-kali minta maaf pada ibu Jajrtit.”

    (Liye,2016:37).

    8) Toilet sekolah, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Jajrit membersihkan toilet laki-laki, bagianku toilet

    perempuan.”(Liye, 2016:40).

    9) Ruang ganti, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Anak-anak yang berada di ruangan ganti berusaha melerai.”

    (Liye, 2016:46).

    10) Kamar , yang ditunjukkan pada kalimat :

    “Aku hanya mendengarkan diskusi mereka dari kamarku sambil

    belajar.”(Liye, 2016:51).

    11) Dapur, yang ditunjukkan pada kalimat :

    “ …membuat langit-langit dapur hanya menyisakan suara ketel air

    panas.”(Liye,2016:58).

  • 58

    12) Stadion, yang ditunjukka pada kalimat :

    “…lautan manusia yang sudah memenuhi stadion.”

    (Liye,2016:103).

    13) Akademi Gajah, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Tahun pertama di Akademi gajah terlewati.” (Liye,2016:115).

    14) Stasiun, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Pagi ini Ayah dan Ibu mengantarku ke stasiun kereta.”

    (Liye,2016:122).

    15) Halaman rumah, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Kami membawa meja dan kursi ke halaman rumah, makan malam

    beratapan bintang gemintang.” (Liye,2016:117).

    16) Bangunan rumah kaca, yang ditunjukka pada kalimat:

    “Kepala sekolah menghukum kami di bangunan rumah kaca

    (tempat praktik pelajaran tumbuh-tumbuhan).”(Liye,2016:119).

    17) Perpustakaan sekolah, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Kami datang ke gedung perpustakaan pukul lima, saat pintu

    perpustakaan siap ditutup.” (Liye, 2016:128).

  • 59

    18) Pinggir danau, yang ditunjukka pada kalimat:

    “Salah satu perahu merapat ke pinggir danau, menyilakan kami

    loncat ke dalamnya, mendayung kembali ke perahu satunya.”

    (Liye,2016:203).

    19) Hutan, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Di bagian hutan lain, kelompok lain juga mulai mengejar

    sasaran.”(Liye,2016:222).

    20) Rumah Sakit, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Saat aku selesai menumpang mandi di toilet rumah sakit, kembali

    menunggui Ibu….” (Liye,2016:230).

    “Ayah masih di ruang gawat darurat.” (Liye,2016:285).

    21) Makam, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Langit mendung, awan gelap sejauh mata memandang. Taman

    perkuburan hanya menyisakan aku dan Ayah.” (Liye,2016:236).

    “Di tepi pemakaman terdengar teriakan-teriakan.”

    (Liye,2016:296).

  • 60

    22) Kampus, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Jurusan ini berisik sekali, berbeda dengan gedung

    jurusanku.Wajah mahasiswa jurusanku tertekuk seperti gambar

    arsitek.”(Liye,2016:244).

    23) Kantin, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Tidak ada kembaliannya. Petugas kantin menggeleng.”

    (Liye,2016:244).

    b. Latar Waktu

    Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya

    peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi(Nurgiyanto,

    2013:318).

    Adapun latar waktu yang terdapat pada novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong , sebagai berikut:

    1) Pagi, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Masih pagi, sekolah belum ramai saat Taani tergopoh-gopoh

    datang.”(Liye,2016:40).

    “Pagi yang cerah, hari libur, deadline desainku tinggal

    seminggu.”(Liye,2016:188).

  • 61

    2) Malam, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Kota bercahaya.Ini malam festival kembang api.”

    (Liye,2016:248).

    3) Sore, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Sore ini kolam renang kota kami ramai.” (Liye,2016:42).

    “Persis pukul lima sore, tibalah pertandingan besar itu.”

    (Liye,2016:105).

    4) Dini hari, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Dini hari, pertandingan putaran kedua semifinal Liga

    Champions Eropa tiga puluh tahun lalu.”(Liye,2016:49).

    5) Tiga puluh menit, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Tiga puluh menit lepas, cuaca semakin menyenangkan.”

    (Liye,2016:44).

    6) Empat puluh lima menit, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Empat puluh lima menitterlewati, salah satu anak

    mengacungkanangka 15,itu jumlah putaranku.” (Liye,2016:44).

  • 62

    7) Lima puluh lima menit, yang ditunjukkan pada kalimat:

    “Menit lima puluh lima menit, separuh undangan mulai berdiri,

    menyemangati.”(Liye,2016:44).

    6. Amanat

    Amanat yang terkandung dalam novel Ayahku (Bukan)

    Pembohong karya Tere Liye ini yaitu agar tidak mudah putus asa dan

    tetap semangat dengan apa yang dicita-citakan, meskipun berbagai

    rintangan besar menghadang. Mendidik anak dengan cara yang sederhana

    dan berbeda dengan cara orang lain, bukanlah hal yang salah selama itu

    akan tetap berdampak positif untuk anak dan orang sekitarnya. Karena

    setiap orang tua memiliki cara yang berbeda-beda untuk mendidik dan

    menjadikan anak-anaknya orang yang lebih baik di masa depan.

    Menyadarkan semua manusia bahwa kemewahan bukanlah kebahagiaan

    yang sesungguhnya. Karena kebahagiaan itu tumbuh dan tercipta dari diri

    kita sendiri meskipun dengan sebuah kesederhanaa. Keluarga adalah harta

    terbesar, maka dengan menjalin komunikasi yang baik akan menciptakan

    sebuah keharmonisan dan kebahagiaan tersendiri.

    D. Sinopsis

    Novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye menceritakan

    tentang sebuah keluarga yang membesarkan anak lelaki sematang wayangnya

  • 63

    dengan cara yang sederhana. Dengan carayang tidak biasa, unik dan berbeda

    dengan yang dilakukan oleh jutaan orang tua manapun. Yaitu mendidik

    anaknya dengan dongeng-dongeng yang penuh dengan inspirasi, motivasi,

    pemahaman yang baik, hati yang baik, dan semangat yang begitu besar. Yang

    membuat ia tidak tertarik bermain diluar rumah seperti teman-teman

    seumurannya. Ia lebih senang menghabiskan hari-harinya dengan

    mendengarkan cerita-cerita dari Ayahnya, membantu pekerjaan rumah, dan

    kegiatan lainnya seperti rutin melakukan latihan di club renang daerahnya.

    Dam seorang anak lelaki dengan rambut keriting dan memiliki tubuh

    yang kurus.Hal tersebut sering menjadi bahan ejekan teman-teman

    sekelasnya.Ia sering dipanggil dengan panggilan si keriting. Namun ia hanya

    diam meskipun terkadang membuat hatinya jengkel. Ia lebih memilih diam

    daripada rebut dengan teman-temannya meskipun telah mengejeknya.

    Dam berasal dari keluarga yang sederhana dan setiap harinya hanya

    mendengarkan cerita dari Ayahnya dan membantu pekerjaan rumah, namun

    Dam memiliki kepribadian yang mandiri dan tidak manja seperti teman

    seumurannya.Ia terbiasa dengan kehidupan yang apa adanya. Bahkan banyak

    sekali orang yang menilai bahwa keluarga Dam adalah keluarga

    teladan.Keluarga yang banyak menginspirasi keluarga lainnya. Bahkan setiap

    apa yang dikatakan Ayah Dam, orang di kota tempat mereka tinggal

    mempercayainya. Hal tersebut dikarenakan Ayah Dam dikenal dengan

  • 64

    seseorang yang paling jujur dan paling baik dengan siapapun di kota tempat

    mereka tinggal. Dari mulai sopir angkutan umum, pedangan, hingga pejabat

    tinggi sekalipun mengenal Ayah Dam.Meskipun Ayah Dam bukanlah seorang

    pejabat tinggi namun karena kepribadiannya yang sangat baik membuat

    dirinya banyak dikenal orang dari berbagai golongan.

    Ibu Dam hanyalah seorang mantan bintang film terkenal pada

    jamannya.Namun ketika sudah berkenalan dan memutuskan menikah dengan

    Ayah Dam, ia memilih untuk meninggalkan hingar bingar dan popularitas

    yang ia miliki. Dan memutuskan menjadi seorang ibu rumah

    tangga.Meskipun begitu ia sudah merasa bahagia dan cukup. Karena baginya

    keluarga adalah segalanya.

    Karena banyak orang yang mengetahui bahwa Dam adalah anak dari

    seseorang yang dianggap paling jujur di kotanya, banyak orang yang

    menyukai Dam karena sikapnya yang baik dan peduli terhadap semua orang

    seperti Ayahnya. Bahkan tidak sedikit orang tua dari teman sekelasnya yang

    selalu membandingkan anak mereka dengan Dam.Mereka menginginkan

    anaknya bersikap sopan dan baik seperti Dam.Seperti Jajrit teman sekelasnya

    yang berasal dari keluarga berada yang selalu membuat keributan dengan

    Dam.Jajrit selalu mengganggu Dam, dan dialah orang yang pertama kali

    memanggil Dam dengan sebutan si keriting dan si pengecut.Jajrit selalu

    membuat keributan dengan Dam yang akhirnya mereka berdua mendapat

  • 65

    hukuman dari sekolah. Mulai dari panggilan untuk orang tua, membersihkan

    toilet sekolahan selama satu minggu, bahkan hingga mendapatkan skors dari

    sekolahan.Hingga suatu hari karena mereka ribut di kolam renang, mereka

    dihukum oleh pelatih untuk membersihkan kolam renang setiap harinya.

    Alasan Jajrit yang selalu mengganggu dan membuat keributan dengan

    Dam adalah dikarenakan ayah Jajrit selalu membandingkan dirinya dengan

    Dam. Hal tersebut membuat Jajrit merasa bahwa dirinya selalu salah di mata

    Ayahnya yang dikarenakan ia tidak bisa seperti Dam. Seorang anak laki-laki

    dari keluarga sederhana yang selalu dibandingkan dengan dirinya. Mengetahui

    hal tersebut Dam hanya terdiam dan berfikir sebenarnya apa yang membuat

    ayah Jajrit menyuruh Jajrit untuk seperti dirinya.

    Taani adalah teman sekelas Dam yang tidak pernah memanggilnya

    dengan sebutan si keriting dan si pengecut.Taani adalah teman satu-satunya

    yang paling setia dan peduli dengannya.Ia selalu mendengarkan cerita Dam

    dan membantu Dam.Bahkan ia adalah satu-satunya orang yang selalu Dam

    beritahu mengenai cerita-cerita Ayahnya. Mulai dari cerita sang kapten

    (pemain sepak bola legendaris pada masa itu), lembah Bukhara, penguasa

    angin dan lainnya. Cerita yang terkadang tidak masuk akal.Namun Taani

    tetap saja menanggapi apa yang Dam katakan padanya.