narasi mgl

Click here to load reader

Post on 05-Jul-2018

221 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPANGAN DAN CARA-CARA PEMAKAINNYA.
geologi lapangan dilaksanakan.
Bab 3 CARA MENENTUKAN KEDUDUKAN TITIK-TITIK PENGAMATAN
DAN PLOT LOKASI DIATAS PETA
Bab 4 CARA-CARA MEMBUAT CATATAN DI DALAM BUKU LAPANGAN
Bab 5 PEMETAAN – PENGAMATAN GEOLOGI DENGAN CARA “ LINTASAN
KOMPAS DAN LANGKAH “ (PACE AND COMPASS)
Bab 6 PEDOMAN UNUK PENGAMBILAN CONTOH-CONTOH BATUAN, SEDIMEN
DAN TANAH DAN DESKRIPSI ANALISA GEO-KIMIA UNTUK EKSPLORASI
GEO-KIMIA
7.3. Beberapa teknik dalam pembuatan sketsa bentang alam yang perlu
diperhatikan
8.1. Tujuan
9.1. Tujuan
9.4. Cara Bekerja
Buku ini disusun dengan maksud untuk dipergunakan sebagai penuntun bagi
para mahasiswa Geologi, yang untuk pertama kalinya belajar melakukan
pengukuran-pengukuran, pengamatan dan analisa-analisa geologi di lapangan serta
pemetaan Geologi.
Selain itu, buku ini dapat juga digunakan sebagai pegangan bagi para ahli Geologi
atau ahli pertambangan dalam melaksanakan tugasnya terutama dal;am pemetaan
Geologi.
Peta Geologi adalah sesuatu yang paling penting dan merupakan dasar bagi
segala kegiatan geologi yang doperlukan dalam segala jenis perencanaan dan
pembangunan.
Suatu rencana akan mencapai kesempurnaan apabila peta geologi yang
digunakan sebagai dasar dibuat dan disusun secara sempurna. Dan ini sangat
tergantung kepada pengamatan-pengamatan dan pengukuran-pengukuran di
lapangan yang dilakukan oleh si pemeta. Pemeta geologi harus mempunyai
pengetahuan yang luas mengenai stratigrafi, sedimentologi, geologi struktur,
petrologi, geomorfologi, paleontologi, dan mempunyai pandangan-pandangan
mengenai masalah endapan-endapan cebakan.
Disamping itu, ia juga harus mengenal dan menguasai konsep-konsep geologi
seperti konsep geosinklin, pembentukan pegunungan atau tektonik lempeng dan
sebagainya.
memecahkan persoalan-persolan geologi, akan dapat mempengaruhi corak dari
pada peta geologi yang dibuatnya.
Didalam pendidikan geologi lapangan ini, kepada para mahasiswa, terutama
 
batas singkapan dengan topografi. Kemudian dibantu pula dengan jalan membuat
beberapa latihan-latihan menggambar peta singkapan dan penampang geologi.
Tugas daripada seorang ahli geologi lapangan memang cukup berat, karena
data yang dihimpun baik olehnya sendiri maupun oleh pembantu-pembantunya akan
menjadi tanggung jawabnya. pengalaman-pengalaman menunjukan bahwa
walaupun beberapa pekerjaan seperti penentuan usia dengan micro fossil, cara
radioaktip atau analisa geokimia dilakukan oleh orang lain, namun dia harus mampu
menguasai cara-cara tersebut agar dapat menyediakan dan mengambil contoh-
contoh batuan yang disyaratkan, dan dengan sendirinya sebagai penanggung jawab,
harus dapat menilai apakah hasil-hasil yang didapat dari para peneliti tersebut cukup
baik.
LAPANGAN DAN CARA-CARA PEMAKAINNYA :
lapangan dilaksanakan adalah :
1. Kompas Geologi
2. Palu Geologi, baik dengan “pick” atau “Chi-sel” point, tergantung dari
keadaan batuan di daerah yang akan diselidiki
3. Hands lens ( kaca pembesar, loupe ) dengan pembesaran 8 dan 15 x atau
10 dan 15 x
5. Buku catatan lapangan; lengklap dengan alat-alat tulisnya :
-  Pensil 2 atau 3 H
-  Penghapus
-  Segitiga ( satu pasang )
Khusus buku catatan :
Harus dipilih yang paling baik kwalitasnya, dan mudah dibawa, karena buku ini akan
merupakan hasil catatan pengamatan yang permanen dalam pemetaan yang
kemudian akan disimpan dan harus tahan sampai bertahun-tahun.
Terutama di daerah tropis, buku catatan harus tahan terhadap kelembaban atau
hujan.
Cara penggunaanya akan dibahas tersendiri.
6. Pita ukuran ( dari logam )
7. Tas peta yang dapat berfungsi untuk menyimpan peta lapangan, buku
catatan dan clipboard untuk peta
 
8. Tas khusus untuk membawa contoh batuan yang dikumpulkan di lapangan
dan juga untuk bekal dan tempat kamera (seperti sebuah ransel kecil )
9. Perlengkapan lainnya yang harus diperhatikan :
a. Kantong contoh batuan dari kertas tebal, kain atau plastik
b. Plester untuk memberi tanda No. Pada contoh batuan
c. Pensil berwarna untuk peta dasar lapangan
d. Sebuah kamera
Jenis-jenis kompas :
beda. Ada yang mempunyai bagian-bagian yang lengkap seperti kompas
Brunton ( Gambar II-IA ) dan ada pula yang kurang lengkap.
Tetapi bagian-bagian utamanya yang harus ada adalah sebuah jarum
magnit, lingkaran pembagi dalam derajat, dan sebuah kilometer untuk
mengukur kemiringan. Bila terdapat perbedaan antara 2 macam kompas
geologi adalah pada lingkaran derajatnya.
 Ada kompas yang membaginya dalam 3600  dan ada pula yang 900  atau
disebut juga quadrant ( Gambar IV-2 ). kadang-kadang jenis kompas yang
sama umpamanya Brunton mempunyai kedua cara pembagi tersebut. Artinya
ada Brunton yang dibagi 3600, tetapi ada juga yang 900.
Pembagian ini penting, karena akan menyangkut bagaimana cara
pembacaannya, yang akan diuraikan lebih lanjut nanti. Perlu diperhatikan disini
bahwa letak arah mata angin yang terlihat pada dasar lingkaran pembagi
derajat untuk Barat ( W ) dan Timur ( E ) dibalik dari keadaan sebenarnya.
Cara memakai kompas geologi :
pekerjaan.
pembacaan yang terganggu dan dapat menimbulkan suatu
kesalahan yang total.
biasanya tiap kompas ada ) pada tangan-tangan jarum ke ujung
atau ke tengah, pada tangan utara jarum kalau untuk tempat-
tempat di belahan bumi selatan Indonesia. ( Gambar IV-IA )
Tiap wilayah mempunyai deklinasi yang berlainan “ Local
declenation “ ini dapat dilihat pada salah satu tepi dari peta.  
Kompas yang dipergunakan di daerah itu harus disesuaikan
dengan deklinasi setempat dengan jalan memutar lingkaran
berderajatdari kompas itu ke kiri atau ke kanan sesuai dengan
letak Magnetic North terhadap True North ( lihat Gambar II-I
adjusting acrew ). Titik 0 disesuaikan terhadap “indeks pin” pada
kompas berdasarkan besarnya deklinasi.
 Artinya Magnetic N berada 150 sebelah Barat dari True N.
Jadi lingkaran harus diputar sehingga index akan menunjukan
angka 15 sebelah Barat titik 0 ( lihat Gambar II-3A ).
Bagaimana cara membaca kompas geologi :
Kompas yang mempunyai lingkaran pembagian 3600 :
Lakukan sdengan cara selalu membaca jarum Utara, dan kemudian diamati
angka yang ditunjuknya. Biasanya jarum Utara pada kompas dibedakan dari jarum
Selatan dengan diberi tanda putih atau merah pada ujungnya. Dalam hal ini seperti
di atas, maka untuk menyatakan arah kita baca :
N 500E ( pembacaan selalu melalui E, Gambar II-2E ).
Kompas denfgan lingkaran pembagi dalam Quadrant :
Tetap dibaca jarum Utara, disebutkan angka yang ditunjuk, dan didalam
 
Gambar II-2C dan N 750W ( Gambar II-2D ))
Cara menentukan arah :
Yang dimaksudkan disini, adalah arah yang dituju dari satu titik ke lainnya. Cara
yang paling lazim dipakai apabila menggunakan Kompas tipe Brunton, adalah
dengan membaca jarum kompas pada saat “Sighting arm” menunjuk pada titik yang
dituju. Menentukan arah, dapat juga diartikan sebagai menentukan lokasi daripada
suatu titik, yang nampak dihadapan kita atau yang akan kita tuju terhadap tempat
dimana kita berdiri.
Untuk mendapatkan hasil yang teliti dalam menentukan arah atau lokasi suatu titik,
dianjurkan untuk mengikuti prosedur seperti di bawah ini (lihat gambar II-1C, II-1B) :
a. Kompas dipegang dengan tangan kiri setinggi pinggang atau dada
b. Kompas dibuat level dan dipertahankan demikian selama pengamatan
c. Cermin ( tutup kompas ) dibuka ±135 dan menghadap kemuka / kedepan
objek
d. Pada Brunton “Sighting arm” dibuka horizontal dan “peep sight” diteggakkan. 
e. Kompas diputar sedemikian rupa sehingga titik atau benda yang dimaksud
tampak dalam cermin dan berimpit dengan ujung jari “sighting arm” dan garis
hitam pada cermin.
f. Baca jarum utara dari kompas ( biasanya diberi tanda putih pada ujungnya )
setelah jarum tidak bergerak, dan dibaca seperti telah diutarakan dalam bab
membaca kompas
Cara mengukur besarnya lereng :
Besarnya sudut suatu lereng dapat diukur dengan kompas dengan cara membaca
kilometer. Pada kompas tipe Brunton pembacaannya dapat dilakukan sangat teliti
sampai mendekati perempat derajat.
cara-cara pelaksanaannya dapat dituturkan sebagai berikut : (lihat gambar II-4 A)
a. pertama-tama tutup kompas dibuka sehingga hanya membuat sudut ±450.
tangan-tangan penunjuknya ( sighting arm ) dibuka dan ujungnya ditekuk 900 (
Gambar )
 
b. kompas dipegang dengan tangan yang ditekuk ±900 dan pada posisi vertikal (
Gambar ).
c. Melalui lubang “peep sight” dan “sighting window” kita bidik titik yang dituju (
titik itu harus mempunyai ketinggian yang sama dengan mata ) dengan cara
menaik-turunkan kompas.
d. Kilometer kemudian digerakkan, dengan jalan memutar pengatur datar yang
terdapat di bagian belakang kompas, sehingga gelembung dalam “kilometer
level” berada di tengah dapat dilihat melalui cermin. 
e. Dibaca angka yang ditunjuk oleh kilometer.
Menentukan benda tinggi :
Cara mengukur lereng gtersebut di atas, dapat juga digunakan untuk menghitung
benda tinggi antara titik dimana kita berpijak dengan titik yang dibidik apabila
 jaraknya dapat diukur dengan langkah.
Benda tinggi = jarak lereng x Sin sudut lereng.
Cara mengukur jurus dan kemiringan :
Kedudukan daripada struktur-struktur batuan yang berbentuk bidang seperti :
-  Bidang perlapisan
-  Bidang kekar
-  Bidang sesar
Mengukur jurus dan kemiringan daripada struktur-struktur tersebut harus betul-
betul dipahami, dikuasai oleh seorang pemeta Geologi dan dilakukan dengan teliti.
kesalahan-kesalahan yang sering dibuat, terutama mereka yang baru pertama kali
menggunakan kompas, adalah dalam cara melatakkan kompas tersebut pada bidang
yang diukurnya. Akibatnya akan terjadi salah pembacaan, yang menyebabkan apa
yang dicatat adalah suatu angka yang menyimpang.
Kita mengenal adanya beberapa cara untuk pengukuran jurus dan kemiringan
 
yang menurut pengalaman penulis adalah yang paling banyak diterapkan di
Indonesia .
 A. Untuk kompas dengan pembagian 3600 
1. Letakkan sisi yang bertuliskan E pada bidang yang diukur ( Gambar II-2A ) ;
pada kompas Breithaupt sisi ini mempunyai pinggiran yang tumpul. “Bulls
eye” harus di tengah ( Gambar II-1A )
2. Baca jarum Utara
3. Kemudian letakkan kompas seperti pada Gamvbar II-2B tegak lurus pada
 jurus yang telah ditentukan pasa 1. Baca kilometer. Disini tidak perlu
ditentukan kemana arah kemiringan bidangnya.
catat seperti berikut :
 Arah dari pada kemiringan dapat diketahui dengan jalan menambahkan 900
dari arah searah dengan jarum jam ( Gambar II-2F ).
Untuk kompas dengan pembagian Quadrant :
1. Letakkan sisi yang bertuliskan E pada bidang yang diukur ( sama seperti di atas )
2. Baca jarum Utara ( cara membacanya seperti diutarakan dalam hala membaca
kompas ).
3. Untuk kemiringan sama seperti di atas, tetapi disini harus dicatat ke mana arah
kemiringannya.
Sebenarnya untuk kompas demikian tidak perduli apakah yang diletakkan
itu sisi E atau W pada bidang itu, asal yang penting adalah arah
kemiringannya dibaca dan dicatat.
Cara menentukan kemiringan suatu lapisan yang mempunyai sudut kemiringan kecil,
dengan memakai kompas Brunton.
lapisan-lapisan yang mempunyai sudut kemiringan 50  sukar diukur dengan teliti.
Untuk mengatasi hal ini digunakan cara sebagai berikut :
1. Putar klinometer sedemikian sehingga menunjukan angka nol.
2. Kompas dalam keadaan terbuka penuh, tempelkan W pada bidang perlapisan
sedemikian rupa, sehingga buble klinometer dalam kedudukan datar ( buble di
tengah ).
Tandailah garis potong antara bidang lapisan dan kompas. Garis ini adalah
garis jurus.
3. Letakkan kompas pada   garis tersebut, klinometer di datarkan.
Hasil pembacaan merupakan kemiringan lapisan.
Mengukur kedudukan bidang dengan menentukan kemiringannya.
akhir-akhir ini banyak digunakan cara lain untuk mengukur kedudukan suatu bidang,
yaitu dengan cara menentukan arah dan besarnya kemiringan. Kompas diletakkan
horizontal pada bidang yang diukur, dengan cara menempelkan sisi dimana
tercantum tanda arah “S” pada bidang yang diukur. 
Dengan membaca jarum utara maka kita kan mengetahui “ arah “ daripada
kemiringan. Besarnya sudut kemiringan diukur seperti biasa.
Cara mencatatnya : 30 N 420E
 Artinya : sudut kemiringan sebesar 300 ke arah N 450E.
Jurus darpada bidang dapat diketahui dengan jalan menarik garis pada arah
kemiringan.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti lagi, terutama dalam menentukan arah dan
lereng, edapat digunakan kaki – tiga seperti terlihat pada gambar II-4, B, C.
Cara menentukan ketinggian suatu titik.
Kompas geologi dapat juga digunakan sebagai “ hand level “ dan dipakai untuk
menentukan ketinggian suatu titik atau benda tinggi dari satu titik terhadap bebnda
lainnya. Caranya dilakukan seperti pada pengukuran lereng, tetapi disini kompas
dipegang dalam kedudukan klinometer = 0. Kemudian titik yang dibidik diberi tanda
 
menerus menuju titik akhir yang ditentukan. Dengan jalan menghitung jumlah sekian
kali ketinggian pengukur ( dari mata ke kaki ) maka kita dapat menetukan beda
tinggi antara titik permulaan dengan titik akhir ( Gambar II-5 ).
 
 
 
 
 
Di dalam kalangan pemeta geologi secara populernya disebut “ penentuan lokasi “
atau “ lokasi “ saja. 
Perlu diketahui bahwa prosedur yang penting di dalam melakukan suatu pemetaan
geologi ada 3, yakni :
2. Penentuan letak daripada tempat-tempat dimana pengamatan tersebut dilakukan,
dan kemudian
3. Memasukkan data yang diamati tersebut ke dalam peta dasar.
Disini jelas bahwa hla (2) dan (3) harus dilakukan dengan teliti. Secara tidak
berlebihan dapat dikatakan bahwa nilai dari suatu peta geologi akan sangat
ditentukan oleh ketelitian dan ketepatan memasukkan data yang diamati di dalam
peta. Kesalahan menentukan lokasi akan mengakibatkan dihasilkannya suatu peta
geologi yang menyesatkan.
Di bawah ini akan dikemukakan beberapa cara yang dapat ditempuh oleh
pemeta untuk menentukan letak dari pada titik-titik pengamatan dengan
menggunakan peta topografi dan kompas. Cara mana yang paling baik masih harus
dipilih oleh si pemeta dengan melihat kedaan medan.
1. Dengan melihat dan mengamati keadaan bentuk bentang alam di sekitar titik
pengamatan, dan disesuaikan dengan peta.
Umpamanya : kelokan sungai, suatu bukit yang menonjol atau perpotongan
sungai, jalan dan sebagainya.
2. Dengan jalan menarik garis yang terarah terhadap suatu objek yang jelas yang
dapat dikenal dengan segera dalam peta. Hanya data-data yang terletak pada
bentuk-bentuk yang berupa garis lurus sering dapat ditentukan dengan cara
demikian seperti jalan, sungai, punggung.
3. Dengan menentukan titik perpotongan antara garis-garis yang terarah pada
objek-objek yang dapat dikenal dari peta, misalnya puncak-puncak bukit.
 
4. Kadang – kadang kita hanya dapat menarik satu garis saja. Dan kalau kita dapat
mengetahui ketinggian dari tempat dimana kita berada, maka perpotongan antara
garis itu dengan garis contour adalah titik lokasi yang dimaksud.
Untuk mendapatkan ketelitian, biasanya kalau mungkin kita terapkan lebih dari satu
cara untuk menentukan satu titik pengamatan.
 
Cara Mencatat :
Seperti telah dikemukakan dalam bab 2, buku catatan lapangan merupakan bagian
yang penting dalam pemetaan geologi, karena di dalamnya tersimpan data hasil
pengamatan yang umumbnya harus dicapai dan didapat dengan susah payah. Data
tersebut merupakan hasil setelah berhari-hari atau berbulan-bulan bekerja di
lapangan dan telah menelan biaya yang tidak sedikit.
Karena itu disamping buku lapangan itu harus terawat baik, juga harus dapat dibaca
dan dimengerti dengan jelas oleh orang lain, yang mungkin memerlukannya atau
yang dikemudian hari akan melanjutkan pekerjaan Saudara, seandainya pekerjaan
pemetaan itu belum selesai.
Buku catatan ini akan merupakan dasar untuk penyusunan laporan nanti ( lihat 5.1 ).
Dianjurkan agar pemeta menuliskan datanya di dalam buku dengan huruf cetak dan
mempergunakan pinsil ( jangan terlalu lunak ) atau ballpoint yang baik. Tidak
dianjurkan menulis dengan tinta, karena ini oleh air ( hujan akan segera hilang ).
Terdapat beberapa jenis bentuk buku lapangan yang umumnya tergantung dari
instansi yang mengeluarkannya. Umpamanya untuk pekerjaan geologi lapangan di
perusahaan minyak mungkin bentuknya sedikit berbeda dengan yang dipakai oleh
Direktorat Geologi dan sebagainya. Tetapi sebagai pegangan, umumnya terdapat
persamaan-persamaan sebagai berikut :
1. Pada tiap buku lapangan yang dapat dibuka ke kiri dan ke kanan, halaman
sebelah kiri dipergunakan bagi pembuatan sketsa-sketsa lapangan, sedangkan
halaman kanan disediakan untuk catatan gejala-gejala geologi yang diamati di
lapangan.
kadang-kadang diperlukan membuat sketsa, yang harus dibuat pada halaman
sebelah kiri. Pada beberapa buku lapangan halaman ini diberi bergaris kotak-
kotak ( Gambar IV-1 )
 
2. Tiap hari selalu mulai dengan halaman baru. Di atasnya dicantumkan :
Tanggal/hari :
4. Cara memberi nomor :
Sebaiknya berupa nomor urut sampai selesai. nomor-nomor ini harus dapat
dilihat kembali dalam peta lapangan.
Di bawah ini adalah salah satu contoh daripada bagaimana suatu catatan dibuat (
tidak perlu “ harus “ seperti ini ). 
Cara menulis : singkatan tetapi jelas, dan sebaiknya menggunakan perpendekan-
perpendekan lazim,
Pengamatan singkapan ( observasi )
Pada satiap akhir suatu pekerjaan lapangan kita akan diwajibkan untuk
menyusun suatu laporan ( Bab 11 ). Dan laporan ini akan didasarkan kepada data,
fakta-fakta yang kita lihat dan amati di lapangan, setelah diolah dan dianalisakan
geologinya.
akan mungkin dibuat bilamana data yang dicatat tidak lengkap. Ketidak
lengkapannya dapat saja disebabkan karena pengamatan yang kurang sempurna.
Bilamana itu dipaksakan disusun maka hasilnya adalah suatu laporan yang sifatnya
tidak sempurna.
Suatu laporan geologi yang lengkap, akan memuat di dalam nya
a. keadaan bentang alam daerah penyelidikan ( Geomorfologi )
b. stratigrafi
gambar-gambar dan foto.
Untuk dapat mencapai sasaran tersebut, maka di dalam melakukan pengamatan
terhadap suatu singkapan, hendaknya diperhatikan :
1. Keadaan geografi daripada-singkapan ( di tepi sunqai, pada belokan, di puncak
bukit dan sebagainya, kalau perlu juga keadaan vegetasinya ).
Dianjurkan pula disertai oleh sketsa, gambar atau foto. Dengan demikian akan
lebih memudahkan orang ke dua untuk mengenali kembali singkapan tersebut.
2. Penyebaran atau ukuran daripada singkapan ( mungkin juga ketebalan ).
3. Jenis dan sifat daripada batuannya ( bathu beku, sedimen, metamorfis ), antara
lain yang pentihg :
-  sifat fisik ( kekerasan, porositas dan sebagainya )
 
-  struktur.
4. Hubungan dengan batuan sekitarnya, atau sifat dari pada bidang batas :
-  Keselarasan
-  pengaruh kontak kalau pada batuan beku dan sebagainya.
5. Sugesti atau analisa sementara
Umpama : mengenai lingkungan pengendapan, cara terjadinya bentuk batuan
beku dan sebagainya.
 Analisa ini tidak selalu dapat dilakukan, karena akan tergantung pula kepada
lengkap atau tidaknya data yang diperlukan dan kemampuan dari si pemeta.
Seringkali sugesti atau analisa ini baru dapat diberikan setelah ditunjang dengan
literatur dan pemeriksaan Labotorium, atau bahkan setelah si pemeta kembali lagi ke
tempat singkapan.
 
" LINTASAN KOMPAS DAN LANGKAH "
Cara ini biasanya diterapkan dalam penyelidikan atau pemetaan yang bersifat
pendahuluan ( recounnaissance mapping ), dan bila peta dasar tidak ada. Dalam
cara ini dibuat lintasan-lintasan dan tiap lintasan akan merupakan deretan daripada
tittk-titik pengamatan. Jenis - jenis lintasan ada yang (a) terbuka dan
(b) tertutup.
Terbuka : Yakni suatu lintasan yang tidak berakhir pada titik permulaan, sedang
Tertutup : ialah yang kembali di tempat kita bermulai
( Gambar V – I ) Suatu lintasan terbuka dapat juga merupakan garis lurus
yang menembus bukit-bukit dan lembah.
Umpamanya : pada pemetaan geologi di daerah berhutan lebat, tanpa ada sarana
 jalan.
dahulu supaya tidak membuang waktu dan tenaga tetapi mencapai
hasil yang maximal.
Umpamanya : (a) lintasan sebaiknya diusahakan tegak lurus pada arah umum
daripada jurus ;
(c) melalui daerah-daerah yang tidak terlalu sukar untuk ditempuh.
Yang dua terakhir ini untuk daerah tropis seperti Indonesia, perlu diperhatikan.
Umpamanya : singkapan-singkapan yang baik umumnya akan didapat di sungai-
sungai, potongnn-potongan jalan-jalan Ketera Api atau jalan raya,
dimana sering dibuat penggalian-pengnalian.
Untuk menentukan arah dan besarnya sudut lereng digunakan kompas geologi dan
klinometernya, sedangkan untuk mengukur jarak digunakan pita ukur atau langkah (
lihat lampiran, untuk koreksi langkah ).
Koreksi-koreksi yang harus dilakukan :
 
1. Koreksi pada langkah untuk naik turun. Langkah akan berbeda dibandingkan
dengan kalau berjalan pada yang datar. Koreksi dilakukan dengan mamakai
lampiran pada halaman.
2. Koreksi pada lereng : jarak peta = jarak lereng x cosinus sudut vertikal dari
lereng.
b. besarnya Sudut Lereng, dan
c. pengamatan geoIogi ( jenis batuan, batas formasi, pengukuran struktur dan
sebagainya )
Sebelum Saudara memuiai, tentukan dulu besarnya langkah Saudara dengan cara :
menjalani suatu jarak yang telah ditentukan dengan menggunakan pita
pengukur pada permukaan yang datar.
Umpamanya :
Untuk menempuh jarak 50 m berapa langkah Saudara yg di perlukan. Jadi tiap
langkah dapat diketahui jaraknya.
No  Arah Jarak
Pembacaan arah dapat juga dilakukan dengan membidik kembali dari titik
pengamatan yang baru ke titik terakhir (arah belakang).
Umpamanya : Catatan pada titik 3 : N 2720E back sight;
artinya titik 2 dibidik dari titik 3 dan
 
Karena itu dinyatakan menggunakan tanda-tanda yang jelas ( patok, bendera, dan
sebagainya ) pada titik-titik yang baru saja dilakukan pengamatan.
Keterangan pada contoh :
Titik 3 : arah muka berarti arah titik 4 yang dibidik dari titik 3, sedangkan N 272 E
artinya arah titik 2 setelah dibidik kembali dari titik 3.
30 m adalah jarak dari titik 2 ke 3 dart 54 m adalah jarak dari titik 3 – 4.
00 adalah lereng antara 3 - 4 dsd
Yang dipetakan :
Untuk memudahkan pemasukan data dalam gambar ( peta ) biasanya dipergunakan
kertas mm. Perhatikan skala yang akan dipiIih dan penempatan titik permulaan, agar
peta yang dihasilkan tidak terlalu besar atau kecil dan tidak melebihi batasan kertas
yang tersedia.
3. jurus dan kemiringan lapisan
4. jejak sesar
6. poros lipatan
Pada setiap satuan batuan sebelah menyebelah daripada batas yang ditarik,
(kontak), dinyatakan jenis lithologinya dengan perpendekan contoh : (Gambar V - 1).
 Angka-angka dan tanda-tanda di peta dibuat dengan pinsil dengan kekerasan
sedang yang runcing.
Cara membuat koreksi terhadap lintasan tertutup dalam lintasan kompas.
Bila titik amat terakhir dalam cara lintasan tertutup…