narasi mgl

of 64 /64
 Teori dan Penuntun Lapangan UNIVERSITAS TADULAKO FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI METODE GEOLOGI LAPANGAN Palu, 2016

Author: a-nurul-novia-rahmaningrum

Post on 05-Jul-2018

222 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPANGAN DAN CARA-CARA PEMAKAINNYA.
geologi lapangan dilaksanakan.
Bab 3 CARA MENENTUKAN KEDUDUKAN TITIK-TITIK PENGAMATAN
DAN PLOT LOKASI DIATAS PETA
Bab 4 CARA-CARA MEMBUAT CATATAN DI DALAM BUKU LAPANGAN
Bab 5 PEMETAAN – PENGAMATAN GEOLOGI DENGAN CARA “ LINTASAN
KOMPAS DAN LANGKAH “ (PACE AND COMPASS)
Bab 6 PEDOMAN UNUK PENGAMBILAN CONTOH-CONTOH BATUAN, SEDIMEN
DAN TANAH DAN DESKRIPSI ANALISA GEO-KIMIA UNTUK EKSPLORASI
GEO-KIMIA
7.3. Beberapa teknik dalam pembuatan sketsa bentang alam yang perlu
diperhatikan
8.1. Tujuan
9.1. Tujuan
9.4. Cara Bekerja
Buku ini disusun dengan maksud untuk dipergunakan sebagai penuntun bagi
para mahasiswa Geologi, yang untuk pertama kalinya belajar melakukan
pengukuran-pengukuran, pengamatan dan analisa-analisa geologi di lapangan serta
pemetaan Geologi.
Selain itu, buku ini dapat juga digunakan sebagai pegangan bagi para ahli Geologi
atau ahli pertambangan dalam melaksanakan tugasnya terutama dal;am pemetaan
Geologi.
Peta Geologi adalah sesuatu yang paling penting dan merupakan dasar bagi
segala kegiatan geologi yang doperlukan dalam segala jenis perencanaan dan
pembangunan.
Suatu rencana akan mencapai kesempurnaan apabila peta geologi yang
digunakan sebagai dasar dibuat dan disusun secara sempurna. Dan ini sangat
tergantung kepada pengamatan-pengamatan dan pengukuran-pengukuran di
lapangan yang dilakukan oleh si pemeta. Pemeta geologi harus mempunyai
pengetahuan yang luas mengenai stratigrafi, sedimentologi, geologi struktur,
petrologi, geomorfologi, paleontologi, dan mempunyai pandangan-pandangan
mengenai masalah endapan-endapan cebakan.
Disamping itu, ia juga harus mengenal dan menguasai konsep-konsep geologi
seperti konsep geosinklin, pembentukan pegunungan atau tektonik lempeng dan
sebagainya.
memecahkan persoalan-persolan geologi, akan dapat mempengaruhi corak dari
pada peta geologi yang dibuatnya.
Didalam pendidikan geologi lapangan ini, kepada para mahasiswa, terutama
 
batas singkapan dengan topografi. Kemudian dibantu pula dengan jalan membuat
beberapa latihan-latihan menggambar peta singkapan dan penampang geologi.
Tugas daripada seorang ahli geologi lapangan memang cukup berat, karena
data yang dihimpun baik olehnya sendiri maupun oleh pembantu-pembantunya akan
menjadi tanggung jawabnya. pengalaman-pengalaman menunjukan bahwa
walaupun beberapa pekerjaan seperti penentuan usia dengan micro fossil, cara
radioaktip atau analisa geokimia dilakukan oleh orang lain, namun dia harus mampu
menguasai cara-cara tersebut agar dapat menyediakan dan mengambil contoh-
contoh batuan yang disyaratkan, dan dengan sendirinya sebagai penanggung jawab,
harus dapat menilai apakah hasil-hasil yang didapat dari para peneliti tersebut cukup
baik.
LAPANGAN DAN CARA-CARA PEMAKAINNYA :
lapangan dilaksanakan adalah :
1. Kompas Geologi
2. Palu Geologi, baik dengan “pick” atau “Chi-sel” point, tergantung dari
keadaan batuan di daerah yang akan diselidiki
3. Hands lens ( kaca pembesar, loupe ) dengan pembesaran 8 dan 15 x atau
10 dan 15 x
5. Buku catatan lapangan; lengklap dengan alat-alat tulisnya :
-  Pensil 2 atau 3 H
-  Penghapus
-  Segitiga ( satu pasang )
Khusus buku catatan :
Harus dipilih yang paling baik kwalitasnya, dan mudah dibawa, karena buku ini akan
merupakan hasil catatan pengamatan yang permanen dalam pemetaan yang
kemudian akan disimpan dan harus tahan sampai bertahun-tahun.
Terutama di daerah tropis, buku catatan harus tahan terhadap kelembaban atau
hujan.
Cara penggunaanya akan dibahas tersendiri.
6. Pita ukuran ( dari logam )
7. Tas peta yang dapat berfungsi untuk menyimpan peta lapangan, buku
catatan dan clipboard untuk peta
 
8. Tas khusus untuk membawa contoh batuan yang dikumpulkan di lapangan
dan juga untuk bekal dan tempat kamera (seperti sebuah ransel kecil )
9. Perlengkapan lainnya yang harus diperhatikan :
a. Kantong contoh batuan dari kertas tebal, kain atau plastik
b. Plester untuk memberi tanda No. Pada contoh batuan
c. Pensil berwarna untuk peta dasar lapangan
d. Sebuah kamera
Jenis-jenis kompas :
beda. Ada yang mempunyai bagian-bagian yang lengkap seperti kompas
Brunton ( Gambar II-IA ) dan ada pula yang kurang lengkap.
Tetapi bagian-bagian utamanya yang harus ada adalah sebuah jarum
magnit, lingkaran pembagi dalam derajat, dan sebuah kilometer untuk
mengukur kemiringan. Bila terdapat perbedaan antara 2 macam kompas
geologi adalah pada lingkaran derajatnya.
 Ada kompas yang membaginya dalam 3600  dan ada pula yang 900  atau
disebut juga quadrant ( Gambar IV-2 ). kadang-kadang jenis kompas yang
sama umpamanya Brunton mempunyai kedua cara pembagi tersebut. Artinya
ada Brunton yang dibagi 3600, tetapi ada juga yang 900.
Pembagian ini penting, karena akan menyangkut bagaimana cara
pembacaannya, yang akan diuraikan lebih lanjut nanti. Perlu diperhatikan disini
bahwa letak arah mata angin yang terlihat pada dasar lingkaran pembagi
derajat untuk Barat ( W ) dan Timur ( E ) dibalik dari keadaan sebenarnya.
Cara memakai kompas geologi :
pekerjaan.
pembacaan yang terganggu dan dapat menimbulkan suatu
kesalahan yang total.
biasanya tiap kompas ada ) pada tangan-tangan jarum ke ujung
atau ke tengah, pada tangan utara jarum kalau untuk tempat-
tempat di belahan bumi selatan Indonesia. ( Gambar IV-IA )
Tiap wilayah mempunyai deklinasi yang berlainan “ Local
declenation “ ini dapat dilihat pada salah satu tepi dari peta.  
Kompas yang dipergunakan di daerah itu harus disesuaikan
dengan deklinasi setempat dengan jalan memutar lingkaran
berderajatdari kompas itu ke kiri atau ke kanan sesuai dengan
letak Magnetic North terhadap True North ( lihat Gambar II-I
adjusting acrew ). Titik 0 disesuaikan terhadap “indeks pin” pada
kompas berdasarkan besarnya deklinasi.
 Artinya Magnetic N berada 150 sebelah Barat dari True N.
Jadi lingkaran harus diputar sehingga index akan menunjukan
angka 15 sebelah Barat titik 0 ( lihat Gambar II-3A ).
Bagaimana cara membaca kompas geologi :
Kompas yang mempunyai lingkaran pembagian 3600 :
Lakukan sdengan cara selalu membaca jarum Utara, dan kemudian diamati
angka yang ditunjuknya. Biasanya jarum Utara pada kompas dibedakan dari jarum
Selatan dengan diberi tanda putih atau merah pada ujungnya. Dalam hal ini seperti
di atas, maka untuk menyatakan arah kita baca :
N 500E ( pembacaan selalu melalui E, Gambar II-2E ).
Kompas denfgan lingkaran pembagi dalam Quadrant :
Tetap dibaca jarum Utara, disebutkan angka yang ditunjuk, dan didalam
 
Gambar II-2C dan N 750W ( Gambar II-2D ))
Cara menentukan arah :
Yang dimaksudkan disini, adalah arah yang dituju dari satu titik ke lainnya. Cara
yang paling lazim dipakai apabila menggunakan Kompas tipe Brunton, adalah
dengan membaca jarum kompas pada saat “Sighting arm” menunjuk pada titik yang
dituju. Menentukan arah, dapat juga diartikan sebagai menentukan lokasi daripada
suatu titik, yang nampak dihadapan kita atau yang akan kita tuju terhadap tempat
dimana kita berdiri.
Untuk mendapatkan hasil yang teliti dalam menentukan arah atau lokasi suatu titik,
dianjurkan untuk mengikuti prosedur seperti di bawah ini (lihat gambar II-1C, II-1B) :
a. Kompas dipegang dengan tangan kiri setinggi pinggang atau dada
b. Kompas dibuat level dan dipertahankan demikian selama pengamatan
c. Cermin ( tutup kompas ) dibuka ±135 dan menghadap kemuka / kedepan
objek
d. Pada Brunton “Sighting arm” dibuka horizontal dan “peep sight” diteggakkan. 
e. Kompas diputar sedemikian rupa sehingga titik atau benda yang dimaksud
tampak dalam cermin dan berimpit dengan ujung jari “sighting arm” dan garis
hitam pada cermin.
f. Baca jarum utara dari kompas ( biasanya diberi tanda putih pada ujungnya )
setelah jarum tidak bergerak, dan dibaca seperti telah diutarakan dalam bab
membaca kompas
Cara mengukur besarnya lereng :
Besarnya sudut suatu lereng dapat diukur dengan kompas dengan cara membaca
kilometer. Pada kompas tipe Brunton pembacaannya dapat dilakukan sangat teliti
sampai mendekati perempat derajat.
cara-cara pelaksanaannya dapat dituturkan sebagai berikut : (lihat gambar II-4 A)
a. pertama-tama tutup kompas dibuka sehingga hanya membuat sudut ±450.
tangan-tangan penunjuknya ( sighting arm ) dibuka dan ujungnya ditekuk 900 (
Gambar )
 
b. kompas dipegang dengan tangan yang ditekuk ±900 dan pada posisi vertikal (
Gambar ).
c. Melalui lubang “peep sight” dan “sighting window” kita bidik titik yang dituju (
titik itu harus mempunyai ketinggian yang sama dengan mata ) dengan cara
menaik-turunkan kompas.
d. Kilometer kemudian digerakkan, dengan jalan memutar pengatur datar yang
terdapat di bagian belakang kompas, sehingga gelembung dalam “kilometer
level” berada di tengah dapat dilihat melalui cermin. 
e. Dibaca angka yang ditunjuk oleh kilometer.
Menentukan benda tinggi :
Cara mengukur lereng gtersebut di atas, dapat juga digunakan untuk menghitung
benda tinggi antara titik dimana kita berpijak dengan titik yang dibidik apabila
 jaraknya dapat diukur dengan langkah.
Benda tinggi = jarak lereng x Sin sudut lereng.
Cara mengukur jurus dan kemiringan :
Kedudukan daripada struktur-struktur batuan yang berbentuk bidang seperti :
-  Bidang perlapisan
-  Bidang kekar
-  Bidang sesar
Mengukur jurus dan kemiringan daripada struktur-struktur tersebut harus betul-
betul dipahami, dikuasai oleh seorang pemeta Geologi dan dilakukan dengan teliti.
kesalahan-kesalahan yang sering dibuat, terutama mereka yang baru pertama kali
menggunakan kompas, adalah dalam cara melatakkan kompas tersebut pada bidang
yang diukurnya. Akibatnya akan terjadi salah pembacaan, yang menyebabkan apa
yang dicatat adalah suatu angka yang menyimpang.
Kita mengenal adanya beberapa cara untuk pengukuran jurus dan kemiringan
 
yang menurut pengalaman penulis adalah yang paling banyak diterapkan di
Indonesia .
 A. Untuk kompas dengan pembagian 3600 
1. Letakkan sisi yang bertuliskan E pada bidang yang diukur ( Gambar II-2A ) ;
pada kompas Breithaupt sisi ini mempunyai pinggiran yang tumpul. “Bulls
eye” harus di tengah ( Gambar II-1A )
2. Baca jarum Utara
3. Kemudian letakkan kompas seperti pada Gamvbar II-2B tegak lurus pada
 jurus yang telah ditentukan pasa 1. Baca kilometer. Disini tidak perlu
ditentukan kemana arah kemiringan bidangnya.
catat seperti berikut :
 Arah dari pada kemiringan dapat diketahui dengan jalan menambahkan 900
dari arah searah dengan jarum jam ( Gambar II-2F ).
Untuk kompas dengan pembagian Quadrant :
1. Letakkan sisi yang bertuliskan E pada bidang yang diukur ( sama seperti di atas )
2. Baca jarum Utara ( cara membacanya seperti diutarakan dalam hala membaca
kompas ).
3. Untuk kemiringan sama seperti di atas, tetapi disini harus dicatat ke mana arah
kemiringannya.
Sebenarnya untuk kompas demikian tidak perduli apakah yang diletakkan
itu sisi E atau W pada bidang itu, asal yang penting adalah arah
kemiringannya dibaca dan dicatat.
Cara menentukan kemiringan suatu lapisan yang mempunyai sudut kemiringan kecil,
dengan memakai kompas Brunton.
lapisan-lapisan yang mempunyai sudut kemiringan 50  sukar diukur dengan teliti.
Untuk mengatasi hal ini digunakan cara sebagai berikut :
1. Putar klinometer sedemikian sehingga menunjukan angka nol.
2. Kompas dalam keadaan terbuka penuh, tempelkan W pada bidang perlapisan
sedemikian rupa, sehingga buble klinometer dalam kedudukan datar ( buble di
tengah ).
Tandailah garis potong antara bidang lapisan dan kompas. Garis ini adalah
garis jurus.
3. Letakkan kompas pada   garis tersebut, klinometer di datarkan.
Hasil pembacaan merupakan kemiringan lapisan.
Mengukur kedudukan bidang dengan menentukan kemiringannya.
akhir-akhir ini banyak digunakan cara lain untuk mengukur kedudukan suatu bidang,
yaitu dengan cara menentukan arah dan besarnya kemiringan. Kompas diletakkan
horizontal pada bidang yang diukur, dengan cara menempelkan sisi dimana
tercantum tanda arah “S” pada bidang yang diukur. 
Dengan membaca jarum utara maka kita kan mengetahui “ arah “ daripada
kemiringan. Besarnya sudut kemiringan diukur seperti biasa.
Cara mencatatnya : 30 N 420E
 Artinya : sudut kemiringan sebesar 300 ke arah N 450E.
Jurus darpada bidang dapat diketahui dengan jalan menarik garis pada arah
kemiringan.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti lagi, terutama dalam menentukan arah dan
lereng, edapat digunakan kaki – tiga seperti terlihat pada gambar II-4, B, C.
Cara menentukan ketinggian suatu titik.
Kompas geologi dapat juga digunakan sebagai “ hand level “ dan dipakai untuk
menentukan ketinggian suatu titik atau benda tinggi dari satu titik terhadap bebnda
lainnya. Caranya dilakukan seperti pada pengukuran lereng, tetapi disini kompas
dipegang dalam kedudukan klinometer = 0. Kemudian titik yang dibidik diberi tanda
 
menerus menuju titik akhir yang ditentukan. Dengan jalan menghitung jumlah sekian
kali ketinggian pengukur ( dari mata ke kaki ) maka kita dapat menetukan beda
tinggi antara titik permulaan dengan titik akhir ( Gambar II-5 ).
 
 
 
 
 
Di dalam kalangan pemeta geologi secara populernya disebut “ penentuan lokasi “
atau “ lokasi “ saja. 
Perlu diketahui bahwa prosedur yang penting di dalam melakukan suatu pemetaan
geologi ada 3, yakni :
2. Penentuan letak daripada tempat-tempat dimana pengamatan tersebut dilakukan,
dan kemudian
3. Memasukkan data yang diamati tersebut ke dalam peta dasar.
Disini jelas bahwa hla (2) dan (3) harus dilakukan dengan teliti. Secara tidak
berlebihan dapat dikatakan bahwa nilai dari suatu peta geologi akan sangat
ditentukan oleh ketelitian dan ketepatan memasukkan data yang diamati di dalam
peta. Kesalahan menentukan lokasi akan mengakibatkan dihasilkannya suatu peta
geologi yang menyesatkan.
Di bawah ini akan dikemukakan beberapa cara yang dapat ditempuh oleh
pemeta untuk menentukan letak dari pada titik-titik pengamatan dengan
menggunakan peta topografi dan kompas. Cara mana yang paling baik masih harus
dipilih oleh si pemeta dengan melihat kedaan medan.
1. Dengan melihat dan mengamati keadaan bentuk bentang alam di sekitar titik
pengamatan, dan disesuaikan dengan peta.
Umpamanya : kelokan sungai, suatu bukit yang menonjol atau perpotongan
sungai, jalan dan sebagainya.
2. Dengan jalan menarik garis yang terarah terhadap suatu objek yang jelas yang
dapat dikenal dengan segera dalam peta. Hanya data-data yang terletak pada
bentuk-bentuk yang berupa garis lurus sering dapat ditentukan dengan cara
demikian seperti jalan, sungai, punggung.
3. Dengan menentukan titik perpotongan antara garis-garis yang terarah pada
objek-objek yang dapat dikenal dari peta, misalnya puncak-puncak bukit.
 
4. Kadang – kadang kita hanya dapat menarik satu garis saja. Dan kalau kita dapat
mengetahui ketinggian dari tempat dimana kita berada, maka perpotongan antara
garis itu dengan garis contour adalah titik lokasi yang dimaksud.
Untuk mendapatkan ketelitian, biasanya kalau mungkin kita terapkan lebih dari satu
cara untuk menentukan satu titik pengamatan.
 
Cara Mencatat :
Seperti telah dikemukakan dalam bab 2, buku catatan lapangan merupakan bagian
yang penting dalam pemetaan geologi, karena di dalamnya tersimpan data hasil
pengamatan yang umumbnya harus dicapai dan didapat dengan susah payah. Data
tersebut merupakan hasil setelah berhari-hari atau berbulan-bulan bekerja di
lapangan dan telah menelan biaya yang tidak sedikit.
Karena itu disamping buku lapangan itu harus terawat baik, juga harus dapat dibaca
dan dimengerti dengan jelas oleh orang lain, yang mungkin memerlukannya atau
yang dikemudian hari akan melanjutkan pekerjaan Saudara, seandainya pekerjaan
pemetaan itu belum selesai.
Buku catatan ini akan merupakan dasar untuk penyusunan laporan nanti ( lihat 5.1 ).
Dianjurkan agar pemeta menuliskan datanya di dalam buku dengan huruf cetak dan
mempergunakan pinsil ( jangan terlalu lunak ) atau ballpoint yang baik. Tidak
dianjurkan menulis dengan tinta, karena ini oleh air ( hujan akan segera hilang ).
Terdapat beberapa jenis bentuk buku lapangan yang umumnya tergantung dari
instansi yang mengeluarkannya. Umpamanya untuk pekerjaan geologi lapangan di
perusahaan minyak mungkin bentuknya sedikit berbeda dengan yang dipakai oleh
Direktorat Geologi dan sebagainya. Tetapi sebagai pegangan, umumnya terdapat
persamaan-persamaan sebagai berikut :
1. Pada tiap buku lapangan yang dapat dibuka ke kiri dan ke kanan, halaman
sebelah kiri dipergunakan bagi pembuatan sketsa-sketsa lapangan, sedangkan
halaman kanan disediakan untuk catatan gejala-gejala geologi yang diamati di
lapangan.
kadang-kadang diperlukan membuat sketsa, yang harus dibuat pada halaman
sebelah kiri. Pada beberapa buku lapangan halaman ini diberi bergaris kotak-
kotak ( Gambar IV-1 )
 
2. Tiap hari selalu mulai dengan halaman baru. Di atasnya dicantumkan :
Tanggal/hari :
4. Cara memberi nomor :
Sebaiknya berupa nomor urut sampai selesai. nomor-nomor ini harus dapat
dilihat kembali dalam peta lapangan.
Di bawah ini adalah salah satu contoh daripada bagaimana suatu catatan dibuat (
tidak perlu “ harus “ seperti ini ). 
Cara menulis : singkatan tetapi jelas, dan sebaiknya menggunakan perpendekan-
perpendekan lazim,
Pengamatan singkapan ( observasi )
Pada satiap akhir suatu pekerjaan lapangan kita akan diwajibkan untuk
menyusun suatu laporan ( Bab 11 ). Dan laporan ini akan didasarkan kepada data,
fakta-fakta yang kita lihat dan amati di lapangan, setelah diolah dan dianalisakan
geologinya.
akan mungkin dibuat bilamana data yang dicatat tidak lengkap. Ketidak
lengkapannya dapat saja disebabkan karena pengamatan yang kurang sempurna.
Bilamana itu dipaksakan disusun maka hasilnya adalah suatu laporan yang sifatnya
tidak sempurna.
Suatu laporan geologi yang lengkap, akan memuat di dalam nya
a. keadaan bentang alam daerah penyelidikan ( Geomorfologi )
b. stratigrafi
gambar-gambar dan foto.
Untuk dapat mencapai sasaran tersebut, maka di dalam melakukan pengamatan
terhadap suatu singkapan, hendaknya diperhatikan :
1. Keadaan geografi daripada-singkapan ( di tepi sunqai, pada belokan, di puncak
bukit dan sebagainya, kalau perlu juga keadaan vegetasinya ).
Dianjurkan pula disertai oleh sketsa, gambar atau foto. Dengan demikian akan
lebih memudahkan orang ke dua untuk mengenali kembali singkapan tersebut.
2. Penyebaran atau ukuran daripada singkapan ( mungkin juga ketebalan ).
3. Jenis dan sifat daripada batuannya ( bathu beku, sedimen, metamorfis ), antara
lain yang pentihg :
-  sifat fisik ( kekerasan, porositas dan sebagainya )
 
-  struktur.
4. Hubungan dengan batuan sekitarnya, atau sifat dari pada bidang batas :
-  Keselarasan
-  pengaruh kontak kalau pada batuan beku dan sebagainya.
5. Sugesti atau analisa sementara
Umpama : mengenai lingkungan pengendapan, cara terjadinya bentuk batuan
beku dan sebagainya.
 Analisa ini tidak selalu dapat dilakukan, karena akan tergantung pula kepada
lengkap atau tidaknya data yang diperlukan dan kemampuan dari si pemeta.
Seringkali sugesti atau analisa ini baru dapat diberikan setelah ditunjang dengan
literatur dan pemeriksaan Labotorium, atau bahkan setelah si pemeta kembali lagi ke
tempat singkapan.
 
" LINTASAN KOMPAS DAN LANGKAH "
Cara ini biasanya diterapkan dalam penyelidikan atau pemetaan yang bersifat
pendahuluan ( recounnaissance mapping ), dan bila peta dasar tidak ada. Dalam
cara ini dibuat lintasan-lintasan dan tiap lintasan akan merupakan deretan daripada
tittk-titik pengamatan. Jenis - jenis lintasan ada yang (a) terbuka dan
(b) tertutup.
Terbuka : Yakni suatu lintasan yang tidak berakhir pada titik permulaan, sedang
Tertutup : ialah yang kembali di tempat kita bermulai
( Gambar V – I ) Suatu lintasan terbuka dapat juga merupakan garis lurus
yang menembus bukit-bukit dan lembah.
Umpamanya : pada pemetaan geologi di daerah berhutan lebat, tanpa ada sarana
 jalan.
dahulu supaya tidak membuang waktu dan tenaga tetapi mencapai
hasil yang maximal.
Umpamanya : (a) lintasan sebaiknya diusahakan tegak lurus pada arah umum
daripada jurus ;
(c) melalui daerah-daerah yang tidak terlalu sukar untuk ditempuh.
Yang dua terakhir ini untuk daerah tropis seperti Indonesia, perlu diperhatikan.
Umpamanya : singkapan-singkapan yang baik umumnya akan didapat di sungai-
sungai, potongnn-potongan jalan-jalan Ketera Api atau jalan raya,
dimana sering dibuat penggalian-pengnalian.
Untuk menentukan arah dan besarnya sudut lereng digunakan kompas geologi dan
klinometernya, sedangkan untuk mengukur jarak digunakan pita ukur atau langkah (
lihat lampiran, untuk koreksi langkah ).
Koreksi-koreksi yang harus dilakukan :
 
1. Koreksi pada langkah untuk naik turun. Langkah akan berbeda dibandingkan
dengan kalau berjalan pada yang datar. Koreksi dilakukan dengan mamakai
lampiran pada halaman.
2. Koreksi pada lereng : jarak peta = jarak lereng x cosinus sudut vertikal dari
lereng.
b. besarnya Sudut Lereng, dan
c. pengamatan geoIogi ( jenis batuan, batas formasi, pengukuran struktur dan
sebagainya )
Sebelum Saudara memuiai, tentukan dulu besarnya langkah Saudara dengan cara :
menjalani suatu jarak yang telah ditentukan dengan menggunakan pita
pengukur pada permukaan yang datar.
Umpamanya :
Untuk menempuh jarak 50 m berapa langkah Saudara yg di perlukan. Jadi tiap
langkah dapat diketahui jaraknya.
No  Arah Jarak
Pembacaan arah dapat juga dilakukan dengan membidik kembali dari titik
pengamatan yang baru ke titik terakhir (arah belakang).
Umpamanya : Catatan pada titik 3 : N 2720E back sight;
artinya titik 2 dibidik dari titik 3 dan
 
Karena itu dinyatakan menggunakan tanda-tanda yang jelas ( patok, bendera, dan
sebagainya ) pada titik-titik yang baru saja dilakukan pengamatan.
Keterangan pada contoh :
Titik 3 : arah muka berarti arah titik 4 yang dibidik dari titik 3, sedangkan N 272 E
artinya arah titik 2 setelah dibidik kembali dari titik 3.
30 m adalah jarak dari titik 2 ke 3 dart 54 m adalah jarak dari titik 3 – 4.
00 adalah lereng antara 3 - 4 dsd
Yang dipetakan :
Untuk memudahkan pemasukan data dalam gambar ( peta ) biasanya dipergunakan
kertas mm. Perhatikan skala yang akan dipiIih dan penempatan titik permulaan, agar
peta yang dihasilkan tidak terlalu besar atau kecil dan tidak melebihi batasan kertas
yang tersedia.
3. jurus dan kemiringan lapisan
4. jejak sesar
6. poros lipatan
Pada setiap satuan batuan sebelah menyebelah daripada batas yang ditarik,
(kontak), dinyatakan jenis lithologinya dengan perpendekan contoh : (Gambar V - 1).
 Angka-angka dan tanda-tanda di peta dibuat dengan pinsil dengan kekerasan
sedang yang runcing.
Cara membuat koreksi terhadap lintasan tertutup dalam lintasan kompas.
Bila titik amat terakhir dalam cara lintasan tertutup lintasan kompas tidak berimpit
secara tepat dengan titik yang telah ditentukan mula-mula, maka perlu diadakan
koreksi-koreksi sebagai berikut :
 
2. Koreksi dengan sudut
a. Misalkan kita Mempunyai 5 titik amat dari suatu lintasan tertutup A, B, C, D,
dan A. Jejak yang akan ditempuh adalah mulai dari A, B, C, D, dan kembali ke
titik A, tetapi dalam pelaksanaannya hal tersebut sulit dicapai dan biasanya
terjadi penyimpangan-penyimpangan. Dalam contoh di atas di akhir
Penyimpangan dapat terjadi karena kurang teliti membaca kompas, mengukur
langkah dan menentukan besarnya lereng. Kesalahan-kesalahan seperti ini
memang tidak mungkin dapat dihindari, tetapi dapat dikurangi seminimal
mungkin dengan cara seteliti mungkin.
Dalam contoh di atas dimisalkan titik terakhir tidak berakhir di titik A,
melainkan F, yang mana seharusnya F berimpit dengan A, Dalam hal ini
karena ada 5 titik pengamatan (A-B-C-D-A), maka untuk pembagian ini
berlaku rumus ( n - 1 ), jadi kita hubungkan A - F untuk seterusnya kita bagi
menjadi : ( n - 1 ) = ( 5 - 1 ) 4 bagian.
Selanjutnya kita tarik melalui titik-titik D, B, C garis-garis sejajar AF, yang
 

  bagian dari AF, hingga didapat titik-titik Z, Y dan X (lihat gambar di bawah).
Maka A - X - Y- Z - F merupaknn lintasan yang telah dikoreksi.
b. Dimisalkan kita mempunyai lintasan A, B, C, D dan F tetapi setelah dilakukan
pengukuran, didapat titik akhir E, dimana E seharusnya berimpit dengan F,
untuk hal tersebut perlu dilakukan koreksi.
Pertama-tarna kita mengadakan koreksi AE terhadap AF, berapa % lebih
panjang. Oleh karena itu traverse harus di koreksi 1 % dari panjang
sebenarnya.
Besar sudut antara AE dan AF adalah 10o ( lihat Gambar di bawah ) dan AF
terletak sebelah selatan AE. Kemudian tariklah garis-garis AV ; BW ; CX ; DY
sebingga membuat sudut sebesar 100 ke arah selatan dari AB; BC ; CD; dan
DE.
 
Seterusnya dari A ukur AP = 99 % dari AB ( Dimana AP pada AV ); tarik
maialui P garis PS sejajar BW dan ukur PS • 99 % dan i BC dan seterusnya
hingga didapat lintasan yang telah dikoreksi, yaitu A, Pt 5, T, dan F.
Dibandingkan dengan metoda pertama, metoda kedua lebih teliti, karena
koreksi sudut diperhitungkan.
Koreksi kemiringan ( Slope )
Pada lintasan kompas dan langkah :
Di dalam tabel koreksi hanya tercantum angka-angka 50 ; 100 ; 150 ; 200 dan
seterusnya. Bila didapat kemiringan sebesar 18° misalnya, maka perlu
diadakan koreksi-koreksi.
  ( 0,3703 )
  ( 0,3703 ). Untuk kemiringan
Koreksinya adalah sebesar
 x 0,1 = 0,06.
Jadi untuk kemiringan 18° koreksi yang dilakukan adalah 0,7203, tuk, 0600-
0,23030. Koreksi yang dilakukan adalah
 
DAN ANALISA GEOKIMIA UNTUK EXPLORASI GEOKIMIA.
Pengambilan contoh-contoh untuk explorasi geokimia akan dilakukan untuk
sedimen sungai ( stream seidement atau active sediment samply ) maupun untuk
contoh-contoh tanah.
dimana daerahnya luas. Pengambilan contoh-contoh dilakukan sepanjang
sungai, dengan jarak pengambilan antara 250 meter sampai 1.000 meter.
Syarat-syarat pengambilan sedimen aktip adalah sebagai berikut :
a. butir berkisar antara lempung dan pasir
b. contoh Sadiemen diambil di daerah dimana aliran air masih aktip.
c. jangan mengambil contoh-contoh di tepi, apalagi jika tepi sungai curam
berhubung kemungkinan jatuhnya tanah dari tepi-tepinya.
d. di mana ada cabang sungai, pengambilan dilakukan disemua cabang ( lihat
gambar ).
e. banyaknya contoh yang diambil kira-kira 200 g
f. setelah pengambilan contoh-contoh selesai, pd hari itu juga ( siang harinya )
dikeringkan dengan dijemur.
daerahnyai telah diketahui ada mineralisasi. Pengambilan contoh-contoh
dilakukan dengan grid system metoda dengan langkah dan kompas, dengan
 jarak pengambilan antara 25 m - 100 m.
Syarat-syarat pengambilan contoh tanah adalah sebagai berikut :
a. Contoh diambil di B horizon. Dalam hal ini daerah Karangsambung kira-kira
30 cm.
c. Setelah pengambilan contoh-conoh selesai, pada hari itu juga ( siang
harinya ) dikeringkan di matahari.
 Analisa contoh-contoh sedimen sungai dan tanah akan dilakukan untuk unsur-
unsur Cu ( dan mungkin jugsa untuk Pb dan Zn ). Prosedur analisis adalah
sebagai berikut :
Dari batuan dan soil
6.4. Preparasi contoh soil :
Contoh soil yang baru diambil dari lapangan, kemudian dikeringkan dengan
panas sinar matahari atau oven.
Sesudah kering, saring dengan saringan ukuran 90 mesh.
Tentukanlah kadar Cu, Pb, Zn dengan tara.
6.4.1.a. Pembuatan larutan contoh soil
1. Contoh soil yang akar ditentukan kadarnya, ditimbang atau scop
sebanyak 0,1 g, kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi yang
sudah diberi tanda batas 10 ml.
2. Tambahkan dengan scop 0,5 g K25202, kemudian diaduk dengan
batang pengaduk sehingga tercampur dengan baik dan terus
dilelehkan sampai terjadi telehan yang merata di tabung tersebut.
3. Dinginkan dan tambahkan 3 ml. HCl 3M dan masukkan dalam
water bath ( pemanas air ) selama 1/2 jam, ambil dan water bath
dan kemudian encerkan sampai tanda batas tabung tsb.
 
4. Kemudian tentukan kadar Cu, Pb, Zn dari larutan contoh tersebut.
6.4.1.b. Penentuan kadar Cu :
1. ripet 2 ml dari larutan contoh tsb, dan masukkan dalam tabung
reaksi.
3. Tambahkan lagi 2 ml larutan 2,2-1 biquinoline.
4. Kocok selama 30 detIk kuat-kuat dan lihat perubahan pada larutan
tsb.
kemudian hitunglah kadar Cu-nya.
6.4.1.c. Penentuan kadar Pb :
1. Pipet 2 ml dari larutan contoh tersebut dan masukkan dalam
corong pemisah, dimana di dalam sudah terisi larutan buffer Pb
sebanyak 10 ml.
sampai terjadi lelehan yang merata di tabung tersebut.
3. Dinginkan dan tambahkan 3 ml. HCl 3M dan masukkan dalam
water bath ( pemanas air ) selama 1/2 jam, ambil dari water bath
dan kemudian encerkan sampai tanda batas tabung tsb.
4. Kemudian tentukan kadar Cu,Pb,Zn dAri larutan contoh tersebut.
6.4.1.d. Perhitungan :
dengan standard )
volume lar. yang diencerkan x berat contoh yang ditimbang contoh larutan yang di pipet
= ppm
7.1. Kemampuan seorang ahli geologi untuk membuat Sketsa lapangan secara
teliti sangat diperlukan di samping metoda lain untuk mengabadikan gejala
geologi seperti penggunaan foto.
Membuat gambar babas dengan tangan dapat digolongkan dalam salah satu
cabang dari seni lukis ; hal tersebut memang kadang-kadang diperlukan Oleh
seorang ahli geologi dalam mengabadikan gejala alam.
Meskipun demikian dalam pembuatan Sketsa ini hanya akan disebutkan
beberapa persoalan pokok, khususnya untuk tujuan geologi.
Dalam pembuatan Sketsa, ada beberapa keuntungan jika dibandingkan
dengan foto :
-  Sketsa terasa perlu karena kegagalan dapat terjadi pada pembuatan foto.
Pembuatan sketsa diperlukan untuk banyak hal, dari keadaan lapangan (
bentang alam, lintasan stratigrafi, struktur dan lain-lain ) hingga sketsa
pengamatan Laboratorium ( paleontologi, retrografi, optika mineral ).
7.2. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan pembuatan sketsa adalah :
7.2.1. Sketsa sigkapan ( misalnya : Struktur )
-  pengamatan gejala struktur ( bidang perlapisan, bidang sesar,
bidang dan sumbu-sumbu kekar kolom.)
-  macam batuan ( batuan sedimen berlapis, batuan beku dengan
kekar kolom, batuan metamorfosis berfoliasi ).
-  interpretasi struktur atau gejala lain.
-  dimensi singkapan dan gejala struktur.
- lokasi tingkapan dan arah gambar.
 
itu tidak mempunyai arti.
-  Judul Sketsa, yang mencakup hal-hal sebut di atas dan pesan
khusus bagi pembaca, misalnya :
arah bidang sesar dan drag yg berbentuk ".
7.2.2. Sketsa bentang alam ( Panorama )
-  pemilahan batas-batas daerah bentang alam yang akan digambar
dengan mengingat faktor geologi dan estetika gambar.
-  pengamatan bentuk bentang alam.
bukit, gawir,lembah ) dan lain-lain.
perlapisan batuan, ke kekar, nada warna, vegetasi ).
-  perbedaan keterjalan lereng yang disebabkan oleh macam batuan,
strukter geologi dan erosi.
udara lapisan, batas kontak intrusi, bidang sesar, dan lain-lain.
-  lokasi pandangan dan arah gambar.
 judul sketsa, yang mencakup hal-hal tersebut diatas dan pesan khusus
bagi pembaca, misalnya :
-  "Karangsambung" dilihat dari bukit Pasanggrahan.
Perhatikan Struktur sinklin Gn. Paras pada batupasir dan breksi
volkanis berlereng terjal dan daerah serpih eosen yang bergelombang.
Pada kedua sketsa tersebut diutamakan penggunaan garis-garis
sederhana tetapi dapat mencerminkan gejala-gejala geologi dengan
 jelas.
Bila tidak perlu, keadaan yang bersifat tidak ada hubungannya dengan
geologi dapat diabaikan seperti vegetasi, bangunan, awan dan
sebagainya.
7.3. Beberapa teknik dalam pembuatan sketsa bentang Alam yang perlu
diperhatikan adalah :
1. Perspektif
2. Arseering.
terhadap jarak. Beberapa pengertian perspektif menyatakan bahwa :
-  makin jauh letak benda makin kecil kenampakan benda tersebut,
dan sebaliknya.
-  makin jauh letak benda, makin kabur detail benda tersebut, dan
sebaliknya.
satu titik. Titik temu tersebut terletak di cakrawala.
-  garis-garis, sejajar dengan cakrawala akan tetap sejajar.
( Ingat : Gambaran jalan ketera api dan tiang listrik )
Untuk dapat mencapai kesan perspektif dapat dilakukan hal-hal
sebagai berikut :
" Pandangan burung terbang”. 
Penggambaran seolah-olah berada di suatu ketinggian dan
memandang ke bawah.
penglihatan "Pandangan - katak". Letak cakrawala leblh kurang 1/3
dari batas bawah gambar, penggambar seolah - olah berada pada
suatu kaki bukit atau gunung, dan memandang keatas.
 
akan persrektif terhadap arah pandangan kebawah, horizontal, atau
ke atas.
-  bidang muka ( fore ground )
penggambar, dapat ditimbulkan dengan garis-garis yang lebih tebal,
perbandingan yang lebih besar, atau warna-warna yang tandas.
Dalam penggambaran tidak perlu detail untuk tidak " menutupi "
sasaran gambar yang sesungguhnya, ( bidang gambar ).
Bidang gambar merupakan bidang utama dimana sasaran gambar
diletakkan. Detail ada disini. Garis-garis jelas teliti, dan bermakna,
utamakan garis-garis yang mengandung arti geologi seperti bentuk
bukit, lereng-lereng, garis-garis lembah "textur" lereng, batas-batas
litologi.
karakter morfologi daerah tersebut.
Proporsi dimensi bukit dan lembah sangat penting. Ingat, para pemula
sering menggambarkan sudut lereng terlalu terjal.
Latar belakang merupakan bidang yang letaknya terjauh. Garis-garis
dibuat tipis dan lamat-lamat. Tidak perlu terlalu detail.
7.3.1.c Arseering.
maka gejala tersebut merupakan unsur penting untuk dikemukakan.
Lekuk-lekuk lembah dapat dinyatakan dengan garis-garis lembah dan
punggung-punggung saja, atau supaya lebih plastis dapat pula
 
dan punggung gunung.
Cara titik untuk membuat bayangan pada pokoknya adalah menaburi titik-titik
lebih banyak pada bagian yang gelap oleh bayangan. Makin terang titik yang
ditaburkan makin sedikit.
Dengan cara garis halnya hampir sama dengan cara titik. Perlu diingat bahwa
 jalur garis sebaiknya mengikuti arah lereng.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa permukaan bentang alam yang halus
dapat dinyatakan dengan. titik-titik yang merata atau garis-garis yang
menerus, sedangkan permukaan kasar dengan titik-titik kasar tak merata atau
garis putus-putus.
Hasil yang balk dalam membuat Sketsa dangan bayangan di capai pada pagi
hari antara jam 09.00 - 11.00 pada saat matahari condong terhadap bentang
alam .
memudahkan dan mendapatkan hasil yang lebih baik, seperti meja gambar
atau alas gambar, bingkai gambar dan lain-lain. Bingkai gambar berupa
bingkai seperti bingkai lukisan tetapi diberi kawat depan jaringan grid tegak
lurus. Jika bingkai ini diarahkan pada bentang alam, maka kita akan dapat
membuat sketsa yang lebih balk, dengan perbandingan tinggi dan lebar yang
lebih tepat pula.
88.
dalam penelitiaan geologi suatu wilayah.
Hal ini terutama dirasakan dalam usaha pencaharian minyak bumi, yaitu dalam
meramalkan kedalaman formasi-formasi batuan, terutama yang mungkin
mengandung minyak bumi.
8.1.a. Mendapatkan data litologi terperinci dari urutan-urutan perlapisan suatu
satuan stratigrafi ( formasi, kelompok, anggota dan sebagainya ).
8.1.b. Mendapatkan ketebalan yang teliti dari tiap-tiap satuan stratigrafi.
8.1.c. Untuk mendapatkan dan mempelajari hubungan stratigrafi antar satuan
batuan dan urut-urutan sedimentasi dalam arah vertikal secara detail,
untuk menafsirkan lingkungan pengendapan ( Visser, 1965 ).
Berhubung dengan keadaan singkapan, pengukuran suatu penampang
stratigrafi jarang dilakukan di Indonesia.
Ketebalan satu-satuan stratigrafi di Indonesia biasanya ditentukan dengan
pembuatan penampang struktur. Tetapi penulis berpendapat bahwa pemeta
yang baik selalu akan berusaha untuk mengukur penampang pada singkapan-
singkapan yang menerus, terutama yang meliputi satu atau lebih satuan-satuan
stratigrafi yang resmi.
dipilih untuk diukur perlu diadakan tindakan-tindakan pendahuluan.
Seluruh urutan-urutan singkapan secara keseluruhan diperiksa untuk hal-hal
sebagai berikut :
8.2.a. Kedudukan lapisan ( strike dan dip ) : apakah curam, landai, vertikal atau
horizontal. Arah sayatan yang akan diukur terhadap jurus dan kemiringan
sedapat mungkin harus tegak lurus.
8.2.b. Juga harus diperiksa apakah jurus dan kemiringan dari lapisan itu terus-
menerus tetap atau berubah-ubah. hal-hal tersebut di atas adalah
penting dalam menentukan metoda dan perhitungan pengukuran.
8.2.c. Mungkin ada struktur sepanjang penampang seperti sinklin, antiklin,
sesar, pelipatan, dan sebagainya. Hal ini adalah penting untuk
menentukan urut-urutan stratigrafi yang betul.
Penentuan superposisi dari lapisan, suatu hal yang sangat penting, tetapi
kadang-kadang tidak diperhatikan. Kriteria untuk superposisi ini diberikan
pada halaman Lamp. XI.
8.2.d. Meneliti akan adanya lapisan penunjuk ( key beds ) yang dapat diikuti di
seluruh daerah ( misalnya lapisan batubara, lapisan bentonit, lapisan tufa
tipis yang khas dan lain-lain ).
Lapisan penunjuk ini penting sebagai reference untuk mengikat ( to tie in
) penampang stratigrafi lokal ini pada sisitim stratigrafi wilayah ( regional
) yang resmi. Adalah sangat baik jika dapat diikat pada jalur-jalur bio
stratigrafi.
cara-cara mengukur penampang stgratigrafi banyak sekali ragamnya. Disini
hanya akan dibahas salah satu cara yang sering diterapkan di lapangan; yaitu
metoda pengukuran dengan memakai pita ukuran, dan kompas.
Metoda ini diterapkan terhadap singkapan yang menerus atau sejumlah
singkapan-singkapan yang dapat disusun menjadi satu penampang.
 
tiap-tiap orang memegang ujung pita ukuran.
Cara mengukur ini dapat dilihat dalam sketsa 1 a dan 1 b, pada halaman 36.
Sebaiknya diusahakan agar lintasan pengukuran terletak tegak lurus pada
lapisan jurus lapisan, untuk menghindari koreksi-koreksi yang rumit.
 Alat-alat yang diperlukan untuk metoda ini ialah :
1. Kompas Brunton
3. Palu geologi
7. Kalau perlu juga hand level.
Disamping itu suatu jalur kertas bersket ( log ) yang kosong dapat dipakai
langsung untuk memplot hasilnya di lapangan.
8.3.a. Prosedur :
2. Tentukan satuan-satuan litologi yang akan diukur dan beri nomor-nomor
satuan, berurutan dari bawah ke atas.
Berilah patok-patok atau tanda lainnya pada batas-batas satuan litologi itu.
3. Jika jurus dan kemiringan dari tiap satuan berubah-ubah sepanjang
penampang, sebaiknya pengukuran jurus dan kemiringan dilakukan pada
alas dan atap dari satuan ini dan dalam perhitungan diambil rata-ratanya.
4. Tentukan arah prngukuran ( arah bentangan pita ukuran ).
5. Tentukan sudut lereng dengan cara seperti yang ditunjukan dalam gambar
VIII-I pada halaman 30.
6. Baca tebal semu ( jarak terukur ) dari satuan yang sedang diukur pada
pita ukuran.
7. Berilah ( discribe ) litologi dan keadaan perlapisan dari satuan yang sedang
diukur.
a. Perilah licologinya seperti biasa ( lihat pemerian litologi ).
b. Tentukan kedudukannya ( jaraknya ) dari alas satuan.
2. Jika satuan litologi yang akan diukur tebal semuanya 5 m atau lebih, ambilah
pengukuran satu satuan demi satu-satuan dengan membentangkan pita ukuran
dari alas satuan sampai atap satuan tersebut.
3. Jika satuan-satuan litologi ini tebal semuanya kurang dari 5 m, lebih praktis kalau
pita ukuran ini dibentangkan sepanjang-panjangnya ; kemudian tebal semu
diperoleh dengan mengurangkan pembacaan pada atap dengan pembacaan
pada alas.
tiga macam kedudukan perlapisan, yaitu :
-  Lapisan miring denngan slope 00 (daerah-daerah datar)
-  Lapisan miring dengan slope > 00 (mendaki)
-  Lapisan miring dengan slope < 00 (menurun)
Seandainya ada kelainan dari ketiga kemungkinan ini, kami anjurkan
untuk melihat text-book lain-lainnya.
Lihat sketsa 2 a & 2 b pada halaman 41
1. Arah pengukuran 1  jurus lapisan
Dalam hal ini t = d  
2. Arah pengukuran tidak 1  jurus lapisan
 Arah ini diperlihatkan oleh garis A, B, C dalam sketsa 2 a pada
halaman 41.
D = d1 cos 0 dimana : d1 = jarak terukur dalam arah
yang tidak tegak lurus jurus
0 = sudut antara :
yang tegak lurus jurus.
T = d sin Q
II. Pengukuran pada daerah yang tidak datar :
 A. Slope 00 ( mendaki, lihat sketsa 3 a dan 3 b pada halaman 41 ).
1. Pengukuran dilakukan dalam arah yang
 jurus. Dalam
 jurus.
 Arah ini diperlihatkan oleh garis : A C B; dalam sketsa 3a
pada halaman.
D = d1 cos 0 dimana : d1 = jarak terukur dalam arah
yang tidak
yang
 jurus.
dan garis yang  
Dimana : t = tebal
yang
strike
strike, semua perhitungan harus
 
Dalam rumus-rumus di atas, slope yang diperhitungkan adalah slope pada arah
strike. Dengan menganggap terletak pada suatu bidang, slope pada arah tidak
 jurus dikoreksi.
Catatan : lakukanlah koreksi slope yang diterangkan dalam IIA
8.3.c. Pemerian Stratigrafi :
Dianjurkan supaya cara pemerian dilakukan secara beraturan dan sistimatik. Di
bawah ini diberikan urutan susunan pemerian yang dianjurkan :
1. Satuan
3. Pemerian litologi
4. Isi fosil
Uraian :
2. Nama batuan utrama penyusunan satuan : pakailah nama lapangan yang
umum dari batuan seperti tertera dalam daftar :
1. Campuran batuan dapat dinyatakan sebagai ajektiva di belakang nama
batuan utama.
akhiran an )
perikanlah dulu batuan yang utama, dan sesudah pemerian litologi dan
stratigrafi lainnya, baru pemerian batuan lainnya dilakukan.
Catatan :
Dalam hal klastika halus dan karbonat ( gamping dan dolomite ) pencampuran ini
merupakan semen.
Bahasa
Indonesia
Sbg.
Konglomerat
Breksi
 Anglomerat
Batupasir
Tufa
Batulanau
Serpih
Lempung
Napal
Gamping
Dolomite
Batubara
kersik
-an
-an
-an
Pasiran
-an
Lanauan
-an
-an
-an
-an
-an
-an
Karbonan
-an
Conglomerate
Brecia
 Agglomerate
Sandstone
Tuft
Siltstone
Shale
Clay
Marl
Limestone
Dolomite
Coal
Chert
Dalam pemerian litologi dianjurka untuk daftar yang terlampir dalam hal
urut-urutannya. Tentu saja tidak semua sifat-sifat litologi yang tertera
dalam daftar ini akan terdapat, malah beberapa sifat tak akan didapatkan
pada beberapa batuan seperti dinyatakan dalam daftar dengan tanda (
lihat table VIII-1 pada halaman ).
Keterangan sifat-sifat litologi :
macam batuan.
dan sebagainya.
feldspar, fragmen batuan glaukonit, bahasa inggris : quartzone,
feldsphatic, lithic, glauconitic ).
Bahasa inggris : crystal, lithic, glassy, pumiceouspuff ).
2. Petrografi / mineralogi ( andesit, basalt, hornblende, dan
sebagainya ).
Kerangka ( skeletal ) fragmental, cocquina, colit( colitic ), kristalin (
crystalline ); atau bisa disebutkan macam kerangka fragmen fosil
pembentuk; koral ( corraline ), ganggang ( algae ) dan sebagainya.
Semen atau massa dasar ( matrix ) :
Untuk konglomerat dan breksi, hal ini kadang-kadang berupa semen karbonat,
atau berupa matrixbatupasir, lempung, atau tufa ( aglomerat ).
Untuk batupasir, macam semen adalah gampingan ( calcareous ), kersikan (
siliceous ), besian ( feruginous ), dan macam massa dasar ( matrix ) adalah
lempungan ( agillaceous), detritus ( detrital ) dan kadang-kadang tak dapat
dibedakan dari campuran.
banded ).
Besar butir ( ukuran butir ) :
Besar butir atau “grainsize” hanya didapatkan pada klastika kasar dan kad ang-
kadang pada karbonat. Untuk konglomerat dan breksi : nyatakan dalam ukuran rata-
rata sebagai milimeter atau centimeter dan juga ukuran maksimumnya.
 
   F   r  a   g   m   e   n
   P   e   m    b   e   n    t  u    k
   S   e   m   e   n
   M   a    t  r   i  x
  w   a   r  n   a
   B   e   s   a   r    B   u    t   i  r
   P   e   m    i   l  a    h   a   n
   B   e   n    t  u    k    B   u    t   i  r
   K   e   m   a   s
   M    i  n   e   r  a    l 
   S   e    d    i   k    i   t
   P   o   r  o   s    i   t  a   s
   K   e    k   o   m   p   a    k   a   n
Breksi
Konglomerat
Tufa
Batupasir
subrounded ), bersudut tanggung ( subangular ) dan menyudut ( angular ). Untuk ini
pakailah skala yang disediakan ( lihat standard yang diberikan pada saudara ).
Kemas ( fabric ) :
Untuk klastika halus tidak dapat diamati. Untuk breksi dan konglomerat pakailah
istilah kemas terbuka, ( dis rupted ) atau kemas tertutup ( instact ) dan imbrikasi (
imbricated ).
pembesar ( loupe ) kadang-kadang sangat penting sebagai penunjuk lingkungan
pengendapan sedimen ataupun batuan asal. mineral-mineral ini misalnya, pirit (
pyrite ), glaukonit ( glauconite ), keping-keping karbon ( carbonflakes ) ataupun mika.
Kadang-kadang mineral sedikit ini begitu mwnyolok, dan menjadi sangat
penting dalam pemetaan batuan, sehingga ditempatkan dimuka sebagai macam
fragmen / butir pembentuk.
istilah-istilah porositas istimewa ( exellentporosity ), porositas sedang ( fairporosity ),
porositas dapat diabaikan ( negligibeporosity ). Untuk itu saudara mentest dengan
meneteskan air di atasnya.
Pakailah istilah-istilah lembek, lunak ( soft ) dapat remas ( friable ), keras ( hard
), padat ( dense ), getas (brittle ), kompak ( compact ).
Isi fosil :
Berikan nama fosil sedapat mungkin sampai ke genus ataupun species,
kadang-kadang cukup dengan menyebutkan mengandung briozoa, molluska dan
lain-lain.
Struktur-struktur non sedimen :
septarian dan sebagainya .
kerucut ( cone in cone ), struktur organik dan lain-lainnya.
 
imprinta, organicmarking ), bekas pengikisan ( scourmarks ), struktur pembebanan (
loadcast ) dan lain – lainnya.
Struktur intern / nampak pada sayatan : lapis halus paralel, pelapisan silang siur
( crossstratification ), perlapisan bersusun ( gradedbedding ), imbrikasi ( imbrication ),
tak berstruktur ( struktur-less ), struktur pertumbuhan ( growthstructure ), struktur
distorsi ( distordedlamination ), misalnya pada slump, convolute, etcstruktur lubang
cacing dan lubang binatang lainnya struktur injeksi ( burrows dan sebagainya ).
Keadaan perlapisan :
Mc Koe andWeir ( 1953 ) ( lamp. XV ).
Terms to Describle
Very thin-bedded Less than 5 cm
Laminated
Lamine
Istilah “lamination” dalam bahasa Indonesia : “ lapis halus “ dan untuk “ thinly
laminated “, pakailah istilah lapis sangat halus. 
Kemudian perikanlah keadaan perbelahan bidang lapisan “splitting properties”.
 
Ulangi seperti yang dilakukan untuk batuan penyusun utama, tetapi sebaiknya
pemerian dipersingkat. Pemerian dilakukan misalnya :
Satuan ini bersisipkan lapisan-lapisan batu ................. dan sebagainya.
Hubungan dengan satuan di atasnya :
Sebutkan apakah sentuhan ( kontak ) dengan satuan di atasnya ini apakah
tajam, berangsur sentuhan erosi, ( erosional contact ), atau ketidak selarasan dan
sebagainya.
Tujuan :
9.1. cara ini digunakan bila kita tidak mempunyai peta atau potret udara yang cukup
baik untuk dipakai sebagai peta dasar dalam pemetaan geologi.
Umpamanya : dalam pemetaan geologi untuk suatu rencana bendungan,
lintasan jalan raya, rencana pertambangan dan sebagainya
yang memerlukan suatu peta geologi yang terperinci dengan
skala besar.
Walaupun cara lintasan kompas juga dapat digunakan, tetapi bila daerah
yang harus dipetakan itu terbatas luasnya dan kecuali ketelitian geologinya,
 juga diperlukan ketelitian dalam topografinya, maka biasanya dipilih cara “plane
table”. 
geologi lainnya disebabkan hasil yang diperoleh secara langsung dapat dilihat
baik keadaan geologi maupun biografinya selagi pemetaan sedang berjalan,
sedangkan waktu yang diperlukan relatip singkat.
Walaupun di dalam pemetaan geologi yang umum cara ini jarang dipakai,
tetapi cara ini sangat berfaedah dan banyak digunakan dalam pekerjaan-
pekerjaan geologi teknik.
a. Plane table dengan kaki tiganya
b. Alidade teleskop
e. Palu geologi ; hand lens
f. 2 macam buku catatan ( satu untuk penegang alat dan satu lagi untuk ahli
geologinya, yang dalam hal ini adalah pemegang rambu ).
 
g. Alat tulis : pinsil 4 H dan 2 H ; penghapus; sepasang segitiga dan curve,
busur derajat, kertas untuk plane table ( kertas gambar ), scotch tape dan
lain-lain.
9.3. Jumlah orang-orang yang melakukan dan fungsinya masing-masing :
Untuk cara ini minimal dilakukan oleh 2 orang yakni seorang yang
memegang alat ( “instrument-man” ) dan seorang pemegang rambu (“rod-man”)
yang sebenarnya adalah seorang geologiawan.
 Agar pekerjaan dapat berjalan lebih cepat biasanya dipergunakan 2
rambu.
dan ketinggian dari tempat-tempat dimana pemegang rambu berdiri
terhadap alat.
perhitungan tersebut. Kemudian dia akan memasukkan titik-titik tersebut
ke dalam kertas pada plane table.
9.3.2. Pemegang rambu, yang sebenarnya adalah seorang geologiawan,
kecuali membawa rambu, dia akan membawa perlengkapan-
perlengkapan lainnya yang lazim diperlukan untuk melakukan
pengamatan geologi seperti :
 
dimana terdapat singkapan-singkapan yang penting ( batuan segar, batas
lapisan batuan, sesar dsb. ).
b. Untuk menambah titik-titik yang diperlukan oleh pemegang alat dalam
menggambarkan topografinya.
Mempersiapkan alat untuk pengamatan : ( Gb. IX-3 ), memasang plane
table dan alidade biasanya memakan waktu yang agak lama dan harus
dilakukan dengan ketelitian yang tinggi ( bilamana kurang cermat, maka semua
titik yang dibidik akan salah ).
Karena itu di dalam menentukan tempat-tempat pemasangan alat untuk
pengamatan hendaknya dipilihkan sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu
sering berpindah-pindah.
geologist ) harus meninjau dulu daerah yang akan dipetakannya selamanya 2
atau 3 hari, untuk kemudian membuat rencana antara lain penentuan tempat-
tempat penempatan alat.
9.4.1. Tahap-tahap persiapan :
kuat sehingga tidak mungkin goyah
b. Plane table dipasang diatas kakitiga, dan dengan menggunakan
kompas meja dibuat horizontal ( level ).
c. Letakkan alidade pada meja yang telah didatarkan dan kemudian
alidade dibuat datar dengan cara-cara yang dikemukakan dalam
pedoman-pedoman yang biasanya disertakan dalam tiap jenis
alidade.
d. Arahkan salah satu sisi dari meja sehingga sejajar dengan garis utara.
e. Bubuhkan tanda utara dengan jelas pada kertas gambar dengan
pinsil.
 
dibandingkan terhadapnya.
lainnya yang memuat nilai ketinggiannya dari muka laut, atau suatu
persimpangan jalan, perpotongan sungai dan sebagainya yang sifatnya
permanen.
Kalau titik-titik demikian tidak dijumpai, maka kita buatkan suatu
garis di tanah dan garis tersebut dipindah ke dalam kertas gambar
dengan menggunakan alidade dan rambu.
Ketinggiannya kemudian dapat diikat dari titik lain yang diketahui
umpamanya sebuah triangulasi dan sebagainya.
Setiap kali berpindah, maka dilakukan tahap-tahap seperti tadi dari
a sampai d, dan kemudian kedudukannya ( arah dan ketinggiannya )
ditentukan terhadap titik permulaan, kemudian titik pengamatan
berikutnya terhadap titik ke 2 dan sebagainya.
Karena itu tiap titik pengamatan harus ditandai dengan patok yang
 jelas.
 A. Face Left Position ; suatu posisi dimana :
1. Kedudukan tabung penyokong telescope berada di kiri.
2. Lingkaran ( medan pandang ) pada telescope, dengan kedudukan seperti
pada ( Gb. IX-4A pada halaman )
B. Face Right Position ; suatu posisi dimana :
1. Kedudukan tabung penyokong telescope berada disebelah kanan.
 
pada ( Gb. IX-4B pada halaman )
Catatan – catatan mengenai alidade :
1. Vertical circle, pada posisi 0, berarti “ horizontal line of the sight “ dan “ index
level buble “ memusat ( centered ).
2. Tanda  –  tanda + dan  –  pada pembacaan vertical circle menunjukan posisi
telescope, yaitu + telescope tertuju ke atas ( daerah pandang lebuh tinggi )
tanda telescope tertuju ke bawah ( daerah pandang lebih rendah ).
3. Zero curve selalu dipakai sebagai dasar pengukuran pada vertical angle.
4. Telescope eyepiece – dapat diputar dan selalu menyudut 45 derajat terhadap
garis pandang.
Tahap-tahap Pelaksanaan :
1. Pendataran – meja ( plane table ) :
a. Dengan „ box level “ yang terletak (diletakkan) sejajar dengan garis yang
menghubungkan 2 dari “ foot screws “; dilakukan levelling, dengan
merubah-rubah kedua b: foot levelling “ tersebut, diputar berlawanan arah.
b. “ box level “ diubah kedudukannya tegak lurus terhadap posisi pertama,
kemudian dilakukan levelling lagi dengan memutar ( mengubah ) “ foot
screw “ yang ketiga. 
2. Focusing and Sighting :
a. Tunjukan telescope ke tempat yang terbuka ( langiot ); fokuskan, sehingga
terbentuk pandangan yang tajam, dengan dasar yang gelap.
b. Putar eyepiece anticlockwise, terjadi pandangan yang tidak jelas ( kabur );
kemudian lakukan lagi pem-focusan.
di depan eyepiece, kalau focus tidak akan terjadi parallax.
3. Levelling Alidade :
alidade level.
b. Posisikan vertical circle dan diagram index horizontal hingga mencapai
kedudukannya yang baik, yaitu dengan posisi vertical circle pada skala 0;
caranya dengan memakai index level setting screw (18), yang
memusatkan gelembung udara pada index level buble (17).
Dengan selesainya tiga hal tersebut, alat siap untuk dipakai.
Catatan :
Pada setiap saat “shooting” dengan alidade, benang vertikal harus selalu
berada tepat di tengah-tengah rambu dan berimpit dengan garis tengah rambu.
Pengukuran jarak horizontal ( distance measurement ) :
( Gb. IX-4 pada halaman ).
Pada pengukuran dengan pesawat alidade ini, di lapangan akan ada dua
kemungkinan, yaitu dimana rambu (staff); tidak dapat terlihat keseluruhannya oleh
alidade ( hanya sebagian rambu yang terlihat ), hal ini dapat terjadi bila tempat (
posisi ) rambu berada di tempat yang jauh lebih rendah dari pada alidade;
kemungkinan kedua yaitu posisi yang normal, dimana seluruh rambu ( seluruh
lingkaran pandang ) terlihat / tertangkap sempurna.
Maka pada posisi yang pertama, pengukuran hanya dapat dilakukan dengan
merubah kedudukan alidade, yaitu menjadi posisi “ face right position “.  
Sedangkan untuk keadaan kedua ( posisi normal ) pengukuran dapat dilakukan
dengan posisi alidade “ face left position “. 
I. Pengukuran Jarak Horisontal dengan “ Face Left Position “  :
(Gb. IX-4ACE pada halaman )
 
2. Dengan “ vertical drive screw “ (16) ; zero curve ditempatkan pada harga -
harga yang bulat ( untuk memudahkan perhitungan ), atau pada zero
mark.
Nilai “ distance curve “ –  nihil “ zero curve “ –  nilai intercept, dikalikan
dengan nilai konstanta sebesar 100.
Nilai ini sudah nilai dalam meter ataupun feet, tergantung dari jenis rambu yang
dipakai.
Rumus jarak horizontal :
D = ( d c  –   z c ) x 1 0 0 m / f e e t
II. Pengukuran jarak horizontal dengan “ face right position “ 
(Gb. IX-4BDF pada halaman ).
Cara sama dengan pada pengukuran pada “ face left position “ hanya terjadi
perubahan pada horizontal circle, yaitu :
  Garis horizontal teratas menjadi “ zero curve “ 
  Garis horizontal terbawah menjadi “ distance curve “ 
  Nilai konstanta menjjadi 200, bila alidade lurus / horizontal yaitu dimana
vertikal circle pada posisi 0.
  Nilai konstanta adalah 200  ; yaitu : bila alidade posisinya menyudut
sebesar  derajat.
B. Dimana :
Perbedaan tinggi antara alidade dan rambu, mempunyai nilai positif tetapi
kedudukan rambu dapat lebih rendah ataupun lebih tinggi daripada alidade.
Posisi lebuh tinggi atau lebih rendah rambu dari alidade diperlihatkan
dengan nilai “ index vertical “; yaitu nilai + bila rambu lebih tinggi dan nilai, - bila
lebih rendah daripada alidade ( Gb. IX-2A pada halaman ).
H = B * 1 – z.c
Catatan :
1. Pengukuran beda tinggi – H; pada “ face left “ maupun “ face right “
 – sama.
2. Nilai (+) dan (-) pada index vertikal turut menentukan pada
perhitungan H; jadi tidak hanya menunjukan posisi rambu saja.
“. 
4. Nilai z (beda tinggi dari tanah terhadap zero curve ) sama dengan
nilai z.c.
5. Nilai “ index vertical “ mungkin ada dua nilai ; dipakai salah satu. 
Keterangan Gb. IX-2BC pada halaman :
1. Parallel plotting arm
2. Swivel action screw
6. Vertical drive screw
9. Stud, for moving the plotting arm.
 
Lihat Gb. IX-4C pada halaman
Plane table survey ( wild )
Keterangan :
H = 9.15 + 1.12 – 0.00 = + 10.27
D = ( .362 – 00 ) x 100 = 36.2 mt.