move to improve

Click here to load reader

Post on 11-Jan-2016

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

post icu rehab

TRANSCRIPT

MOVE TO IMPROVE GERAK UNTUK MEMBAIK

MOVE TO IMPROVEGERAK UNTUK MEMBAIKMOBILITAS PROGRESIF DI ICUJordan R Atkins, BSN, RN Donald D.Kautz,PhD,RN,CRRN,CNE,ACNS-BC

PEMBIMBING : Dr Emilzon Taslim Sp An

ABSTRAKTirah baring memiliki konsekuensi yang merugikan, oleh karena itu dalam ICU,mobilitas progresif awal harus menjadi tujuan untuk setiap pasien diharapkan bertahan hidup.Artikel ini membahas konsekuensi dari imobilitas,halangan yang ada pada usaha untuk meningkatkan mobilitas pasien dan cara dimana tim mobilisasi yang berdedikasi dapat mengatasi hambatan tersebutPENDAHULANBagi setiap hari tirah baring,pasien kehilangan 1-2% dari massa otot dan waktu rata-rata 1 minggu bermaksud kehilangan sampai 14% atau lebih dari massa otot.Pasien memiliki resiko lebih besar untuk pneumonia yang disebabkan ventilator,atelectasis,penurunan massa otot dan ketidak stabilan hemodinamik diatas kondisi yang lain.Motilitas adalah cara untuk menghindari komplikasi tersebut,dengan syarat ianya dimulakan dari awalnya.MOBILITAS PROGRESIFPergerakan diawali suatu urutan pergerakan yang terencana yang meningkat dengan tujuan mengembalikan pasien kepada tahap fungsi sebelumnya.Toleransi pasien terhadap aktivitas di perkirakan dan ditingkatkan pergerakan pasien sehingga ianya dapat melaksanakan aktivitas yang lebih susah seperti berjalan.Di kebanyakan ICU,pasien diletakan dalam posisi chair dan chair egress. Posisi chair meletakan pasien dalam posisi tegak lurus pada 90 derajat dengan kaki pasien tergantung kebawah seperti sedang duduk dibangku. Posisi chair egress adalah untuk pasien yang memiliki kemampuan untuk menggerakan kaki melawan gravitasi dan memiliki kontrol terhadap tubuh. Posisi ini mirip posisi chair tetapi papan kaki dialihkan dari kasur dan pasien disuruh meletakan beratnya pada lantai.Posisi chair pada kasur memaksa pasien menggunakan otot yang pasien tidak menggunakan kalau pasien berada dalam posisi terlentang, sementara itu memaksa tubuh untuk berada dalam kondisi hemodinamik stabil dengan pergeseran cairan.

STUDI KASUSCarol adalah seorang pasien yang menderita COPD dengan kegagalan weaning. Ianya dipindahkan dari rumah sakit yang berdekatan dengan gagal nafas dan diintubasi sebelum tiba di rumah sakit kita. Dia dirawat di ICU selama berberapa minggu dan dimobilisasi berdasarkan protokol di sana.

Dia dimobiliasikan dengan dengan menggunakan posisi chair pada kasur dan kemudian dipindahkan kepada brangka sesuai toleransinya. Kalau dia berada dalam posisi semi fowler atau rotasi lateral kontinu,dia didapatkan stabil secara hemodinamik dengan tekanan darah dalam 130 sampai 140 mm Hg.

Jordan membantu Carol untuk memindahkan dirinya dari kasur ke brangka untuk kali pertama. Pemindahan tersebut dikatakan mudah dan pasien berada dalam posisi duduk tegak hampir 90 derajat. Setelah hampir 1 jam,staf memperhatikan penurunan pada tekanan darah pasien selama periode 2 jam. Pasien menjadi tidak stabil secara hemodinamik sehingga harus diberikan vasopressor untuk membantuk tubuhnya mengkompensasi untuk pergeseran cairan tubuh karena berada dalam posisi tegak lurus Kebolehan pasien mempertahankan tekanan darah adalah contoh dari kepentingan mobilitas. Waktu ianya berada dalam posisi tirah baring pada kasur,tubuhnya tidak mengalami pergeseran cairan yang terjadi pada saat pasien berada pada posisi tegak lurus dengan kaki tergantung.

Dengan hadirnya tim mobilitas progresif yang terdedikasi, perpindahan ke brangka tidak akan mengakibatkan shock karena dia pasti telah dimobilisasi dari awal dan lebih konsisten dan disertai lebih sedikit komplikasiRex adalah seorang pasien dengan gagal jantung yang beresiko mati. Dia menderita gagal sistem organ multipel,tidak sadar dan selama berberapa hari tidak merespon terhadap staf dan keluarganya. Akhirnya Rex mendapatkan dialysis berulang tetapi tidak ada banyak berubahan pada kondisinya. Rex mulai sadar pada malam sebelum tanggal rawatanya diberhentikan, Rex bangun dan mulai respon terhadap staf. Kasur telah sering digunakan untuk rotasi lateral continue pada saat dia tidak responsive dan setelah ianya sadar, Rex dapat berpartisipasi sendiri dalam mobilitasnya. Digunakan ceiling lift untuk memindahkannya daripada kasur keatas sebuah recliner. Dia akhirnya diekstubasi tanpa komplikasi respiratorik,walaupun deconditioning fisik telah mengakibatkan dampak besar pada dirinya. Ahli terapi fisik mula memobilisasikan Rex,diawali dengan olahraga kaki. Pada awalnya pergerakannya lambat. Setelah berberapa lama, Rex dapat menggunakan lift duduk-berdiri untuk meningkatkan tingkat mobilitasnya sehingga ianya dapat berdiri. Setelah berberapa hari menggunakan lift tersebut,Rex dapat duduk pada hujung kasur,berdiri dan berpindah kepada brangka tanpa menggunakan lift, fungsi hepar dan ginjalnya membaik,dan ianya dapat diberhentikan daripada dialysis. Rex dipindahkan kepada fasilitas step down dimana usaha mobilisasi diteruskan setiap hari. Setelah 2 minggu,dia dapat dipulangkan dalam kondisi bisa berjalan.DECONDITIONINGDi ICU,kondisi pasien adalah terkompromi dan dengan ditambah juga komplikasi yang lain seperti pneumonia berhubung ventilator,atelectasis,kehilangan volume, dan kurangnya massa otot.

Tubuh harus dapat menyesuaikan diri terhadap pergeseran cairan tubuh untuk menghindari hipotensi orthostatik. Selain itu komplikasi pernafasan juga lebih sedikit terjadi,karena kalau pasien dimobilisasikan,ianya terlatih untuk bernafas lebih dalam dan meningkatkan tidal volume,sehingga dapat menghindari terjadinya atelectasis dan pneumonia berhubungan ventilasi, yang dapat menyebabkan waktu ventilasi yang lebih singkat.

Massa otot berkurang dengan cepat dan resiko kerusakan dan lecet pada kulit meningkat bersamanya. Dengan terbentuknya ulkus,pasien terpapar resiko infeksi yang lebih besar yang dapat mengakibatkan sepsis dan waktu rawatan di ICU yang lebih lama.MEMBANGUN PROTOKOL MOBILITAS DAN TIM.Tingkat mobilitas pasien dinilai antara 1 sampai 5 berdasarkan kebolehan pasien berpartisipasi dalam sesi aktifitas.

Kriteria yang menjadi pengukur kemajuan pasien adalah stabilitas hemodinamik,kontrol tubuh,kontrol kaki dan skor tingkat sedasi agitasi Richmond.Skor Sedasi Agitasi Richmond

Dengan adalah tim mobilitas, pemindahan pasien menjadi mudah dan sesi aktivitas menjadi lebih produktif. Perawat staf tidak dapat melaksanakan aktivitas ini sendiri karena kekurangan waktu.

Kini ahli terapi fisik hadir pada visite pagi berserta perawat, dokter, ahli nutrisi, farmasi, pekerja sosial, paderi, dan coordinator unit untuk memastikan mereka mengetahui kondisi pasien dan dapat merencanakan mobilitas untuk hari tersebut. Ahli terapi fisik dapat melakukan latihan khusus untuk pasien dan ahli terapi respiratorik hadir untuk memastikan endotracheal tube pasien dan ventilator adalah stabil untuk memproteksi jalan nafas pasien.

Perawat staf yang terdaftar harus hadir pada setiap sesi latihan untuk memastikan pasien tetap stabil dan memantau nadi, nafas dan tekanan darah serta catheter sentral yang ada pada pasien.

HALANGANkekurangan staf dan peralatan. Mereka membutuhkan berberapa orang untuk membantu pasien yang sakit berat untuk memindahkan diri dari kasur dan karena hal itu,mobilisasi awal sering tidak dapat dilakukan.

Kekurangan alat dikatakan menjadi halangan karena tidak semua ruangan memiliki lift track. Dengan hadirnya lift ini, adalah lebih mudah untuk staf dan perawat untuk memobiliasi dan memindahkan pasien kepada brangka dan mengurangkan kebutuhan alat-alat yang lain. Tempat tidur ICU yang moderen adalah alat yang penting dalam mobilisasi karena dapat secara pasif membantu pasien berputar dan berada dalam posisi duduk.

atitud perawat terhadap mobilitas, perawat sering mengeluh pasien tidak dapat dipindahkan dari tempat tidur karena pasien tidak kooperatif atau kurang sadar,tetapi jawaban ini tidak dapat diterima, delirium yang disebabkan ICU dapat menjadi masalah,tetapi dengan penilaian agitasi dan sedasi secukupnya,delirium dapat dihindari. Kebanyakan perawat berpersepsi bahwa pasien lebih mudah dibiarkan pada kasur walaupun pada realitasnya ini dapat mengakibatkan lebih banyak komplikasi termasuk peningkatan waktu ventilasi yang bermaksud waktu lebih lama di ICU dan waktu rawatan yang lebih lama dan kos yang lebih besar terhadap institusi dan pasien.

Penelitian menunjukan bahwa ICU dengan tim mobilitas intervensi adalah lebih sukses dibandingkan dengan ICU tanpa tim mobilitas yang berdedikasi. ICU dengan tim mobilitas juga memperlihatkan berkurangnya delirum dan pemakaian ventilatoEdukasi untuk penggunaan sedasi dan peralatan di ICU adalah sangat penting. Sebagai contoh, protokol unit mobilitas dan Confusion Assesment Method untuk ICU (CAM-ICU) harus menjadi checkoff kompetensi. Semua petugas harus mendapat latihan refresher untuk semua fungsi kasur dan lift dan staf harus dapat dipastikan memiliki kebolehan menilai CAM-ICU dan Skala Agitasi Richmond. Setelah tim mobilitas menjadi standar perawatan, semua pihak dapat melihat manfaatnya termasuk lebih sedikit komplikasi, waktu rawat,perawat yang lebih puas dan pasien yang lebih sehat dan senang.