modul pajak 2011-2012

Download Modul Pajak 2011-2012

Post on 02-Aug-2015

157 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MODUL PRATIKUM HUKUM PAJAK

LABORATORIUM HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2012

KATA PENGANTAR Assalamualikum Wr. Wb. Syukur alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Dzat Yang Maha Berkendak, Dzat Yang Maha Menguasai langit dan bumi atas limpahan rahmat dan taufiq-Nya sehingga modul pratikum hukum pajak ini bisa tersusun. Dalam penyusunan modul ini tentunya tidak akan terlepas dari segala kekurangan dan kelemahan. Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabiullah, Muhammad saw., kepada keluarganya, kepada sahabatnya, dan kita semua sebagai ummatnya yang dituntut untuk konsisten dalam memperjuangkan risalah-Nya sampai akhir zaman. Buku panduan praktikum hukum Pajak ini merupakan buku pedoman yang disiapkan bagi terselenggaranya mata kuliah praktikum Pajak. Adapun penyelenggaraan praktikum ini dirangkai menjadi satu dengan perkuliahan Hukum Pajak dan dilaksanakan setelah Ujian tengahj semester. Sedangkan tujuan yang hendak dicapai dalam praktikum ilmu pajak diciptakan untuk menjadi salah satu wadah bagi civitas akademik di Fakultas Hukum untuk mewujudkan mahasiswa yang berkompeten di bidang hukum. Praktikum ini merupakan langkah maju untuk mendekatkan perhatian mahasiswa dan dosen pada masalah-masalah praktis nyata yang terjadi di masyarakat. Oleh karenanya dalam perbaikan dan penyempurnaan kedepan, alangkah baiknya saran dan kritik yang membangun dari pihak-pihak yang lebih kompeten terhadap hal ini sangat kami nantikan dan sebelumnya kami ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Malang, April 2012 Lab. Hukum Fak. Hukum UMM Tim Penyusun

BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Pemikiran Pelaksanaan pemungutan pajak yang tidak sesuai dengan Undang-undang perpajakan akan menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat Wajib Pajak, sehingga dapat mengakibatkan timbulnya Sengketa Pajak antara Wajib Pajak dan pejabat yang berwenang. Oleh karena itu dalam penyelesaian Sengketa Pajak diperlukan jenjang pemeriksaan ulang vertikal yang lebih ringkas. Sebuah sengketa dapat dikatakan sebagai sengketa pajak apabila terjadi dalam bidang pajak. Yang dimaksud sebagai bidang pajak tentu saja baik itu yang merupakan pajak pusat maupun pajak daerah. Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 2 dari Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002, bahwa pajak tersebut meliputi semua jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat, termasuk bea masuk dan cukai, dan pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Wajib Pajak (perorangan atau badan hukum) bilapada suatu waktu diperiksa kewajiban perpajakannya (tax compilance verification) oleh Dirjen Pajak melalui Pejabat Pemeriksa. Dari hasil pemeriksaan tersebut dapat berlanjut menjadi urusan penyidikan, jika terdapat indikasi Wajib Pajak melakukan tindak pidana pajak, penyelesaian selanjutnya menjadi kewenangan hukum pidana fiskal sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 16 tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Sementara itu, bagi Wajib Pajak yang tidak melakukan tindak pidana fiskal tetapi menolak SKP dan/atau STP yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak, maka dapat mengajukan keberatan atau pembetulan kepada Dirjen Pajak. Jika merasa masih tidak puas, dapat pula mengajukan banding (atau gugatan) terakhir ke Pengadilan Pajak. B. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan pratikum hukum pajak ini adalah sebagai berikut: 1. Mahasiswa mengetahui tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 Target: a. Mahasiswa memahami tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 harian b. Mahasiswa memahami tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 mingguan c. Mahasiswa memahami tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 bulanan d. Mahasiswa memahami tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 atas Gaji dan THR e. Mahasiswa memahami tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 atas Rapel Luaran: a. Mahasiswa mampu menyelesaikan tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 harian b. Mahasiswa mampu menyelesaikan tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 mingguan c. Mahasiswa mampu menyelesaikan tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 bulanan d. Mahasiswa mampu menyelesaikan tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 atas Gaji dan THR e. Mahasiswa mampu menyelesaikan tentang penghitungan pajak PPh pasal 21 atas Rapel Metode:

a. Ceramah b. Menyelesaikan soal-soal c. Evaluasi Media: a. Papan Tulis b. Modul 2. Mahasiswa mengetahui tentang Hukum Acara Pengadilan Pajak Target: a. Mahasiswa memahami tentang upaya hukum sengketa pajak Luaran: a. Mahasiswa mampu menyelesaikan surat tentang keberatan b. Mahasiswa mampu menyelesaikan surat tentang banding c. Mahasiswa mampu menyelesaikan surat tentang Permohonan Peninjauan Kembali Metode: a. Ceramah b. Menyelesaikan soal-soal c. Evaluasi Media: a. Papan Tulis b. Modul b. Mahasiswa memahami tentang pemeriksaan Luaran: a. Ceramah b. Menyelesaikan soal-soal c. Evaluasi Media: a. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan Metode: Papan Tulis Modul c. Mahasiswa memahami tentang pembuktian dalam sidang di pengadilan pajak Luaran: a. Mahasiswa mampu melakukan pembuktian dalam sidang di pengadilan pajak Metode: a. Ceramah b. Menyelesaikan soal-soal c. Evaluasi Media: a. Papan Tulis b. Modul d. Mahasiswa memahami tentang putusan pengadilan pajak Luaran:

a. b.

a. Mahasiswa mampu membuat putusan pengadilan pajak Metode: a.Ceramah b.Menyelesaikan soal-soal c.Evaluasi Media: a. Papan Tulis b. Modul e. Mahasiswa memahami tentang peninjauan kembali Luaran: a.Mahasiswa mampu membuat peninjauan kembali Metode: a.Ceramah b.Menyelesaikan soal-soal c.Evaluasi Media: a. Papan Tulis b. Modul

BAB II PENGHITUNGAN PAJAK Pengantar:

Perubahan tarif Pemotongan PPh pasal 21 untuk pegawai tetap menggunakan tarif Pasal 17 untuk wajib pajak orang pribadi. Tahun 2009, tarif pasal 17 bagi wajib pajak orang pribadi dalam negeri mengalami perubahan seiring dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008. Biaya jabatan dan Iuran pensiun Biaya Jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang dapat dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai tetap tanpa memandang mempunyai jabatan ataupun tidak. Tahun 2009 ternyata tahun penuh insentif bagi Wajib Pajak. Insentif yang diberikan oleh Pemerintah ini tidak main-maian. Contohnya adalah Biaya Jabatan dan Biaya Pensiun. Berdasarkan PMK-250/PMK.03/2008 tanggal 31 Desember 2008, telah ditetapkan Biaya Jabatan dan Biaya Pensiun yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto oleh Pegawai tetap atau Pensiunan dalam menghitung PPh terhutang atas gaji dan/atau pensiun serta tunjangan lain yang terkait dengan gaji/pensiun atau pekerjaannya. Semula Maksimum Biaya Jabatan dan Biaya Pensiun yang sebesar Rp. 108.000 per bulan atau Rp. 1.296.000 per tahun (untuk Biaya jabatan) dan Rp. 36.000 per bulan atau Rp. 432.000 per tahun (untuk biaya pensiun) telah ada sejak tahun 1999. Kemudian baru pada tahun 2009 dirubah menjadi Rp. 500.000 per bulan atau Rp. 6.000.000 per tahun (untuk biaya jabatan) dan berdasarkan Peraturan menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 71/PMK.02/2008, Pasal 5 ayat 2 : Besarnya pengembalian nilai tunai iuran pensiun sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 dan pasal 4 sekurang-kurangnya sebesar Rp 200.000 (Dua ratus ribu rupiah) atau Rp. 2.400.000 per tahun (untuk biaya pensiun). Sedangkan prosentasenya sendiri tetap yaitu 5% dari penghasilan bruto baik teratur maupun yang tidak teratur. Yang dimaksud dengan Biaya jabatan maximum /setinggi-tingginya Rp. 6.000.000 adalah apabila penghasilan bruto di kali 5 % menghasilkan biaya jabatan melebihi 6 juta maka yg digunakan adalah yang tertinggi sebesar 6 juta tapi kalau sebaliknya persentase biaya jabatan setelah dikalikan pengh.bruto dibawah 6 juta berarti yang digunakan adalah yang sebenarnya. sepanjang dia bekerja setahun penuh. Penghasilan Tidak kena Pajak (PTKP) Salah satu pusat perubahan yang dilakukan oleh undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 adalah perubahan dalam besarnya penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Mulai tahun 2009, besarnya PTKP adalah: 1. Wajib Pajak sendiri = Rp 15.840.000 2. Status kawin = Rp 1.320.000 3. Untuk istri yang penghasilannya digabung = Rp 15.840.000 4. Tambahan untuk satu orang tanggungan dengan maksimal 3 orang tanggungan = Rp 1.320.000 Tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak mulai tahun 2009

Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri Lapisan PKP 50.000.000 - 250.000.000 dikenakan 15%

Lapisan PKP > 250.000.000 - 500.000.000 dikenakan 25% Lapisan PKP > 500.000.000 dikenakan 30% Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 28%

PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 1. PPh pasal 21 harian Contoh: Anwar bekerja sebagai tukang batu. Ia bekerja selama 20 hari dan menerima upah sehari sebesar Rp 100.000. Upah Minimum Regional yang berlaku di Propinsi Jawa timur adalah sebesar Rp 570.000 sebulan. Tono menikah dan mempunyai 1 anak. Hitung: PPH pasal 21 terutang! Jawab: PPh pasal 21 harian terutang : Upah sehari Pengurang: Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 1. Untuk WP sendiri Rp 15.840.000 2. Istri Rp 1.320.000 3. Anak Rp 1.320.000 + Rp 17.480.000 PTKP : 360 hari = (Rp 17.480.000:360)= Penghasilan Kena Pajak Sehari Rp 48.555 Rp 51.445 Rp 100.000

PPh pasal 21 Terutang sehari 5% x Rp 51.445 = Rp 2.572,25 (tdak punya NPWP ) = (5 % x 120 %) x PKP sehari = 2. PPh Pasal 21 Mingguan Contoh: Abdullah bekerja di sebuah perusahaan PT. Indah Mulya dengan menerima gaji Rp 250.000 per minggu. Abdullah sudah menikah dan mempunyai 1 anak. Hitung besarnya PPh Pasal 21 yang harus dibayar Abdullah setiap minggunya! Jawab: Gaji sebulan 4 x Rp 250.000 Rp 1.000.000

Pengurangan: Biaya jabatan 5% x Rp 1.000.000 Penghasilan netto sebulan Penghasilan netto setahun Rp 950.000 x 12 bula