modul lima

Download Modul Lima

Post on 26-Sep-2015

8 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Modul Lima

TRANSCRIPT

PENGERTIAN TMDGangguan sendi Temporomandibula merupakan permasalahan yang sering dibicarakan dalam terbitaan yang membahas masalah kesehatan. Hal tersebut kadang kurang ditekankan bahwa penyakit atau gangguan fungsi dari sendi temporomandibula bukan merupakan suatu gejala yang tunggal tetapi lebih terdiri dari sejumlah keadaan yang merupakan kumpulan dari beberapa gejala, sehingga disebut sebagai suatu sindrom.1Temporomandibular disorders (TMD) atau gangguan sendi temporomandibula terjadi sebagai akibat dari masalah yang berhubungan dengan sendi rahang dan otot-otot di sekitar wajah yang mengontrol proses pengunyahan dan gerakan rahang. Cedera pada sendi temporomandibular, atau otot kepala dan leher dapat menyebabkan TMD. Penyebab lainnya adalah, bruksisme, dislokasi tulang, osteoarthritis atau rheumatoid arthritis dan stres yang dapat menyebabkan otot-otot wajah dan rahang menjadi tegang.5

ETIOLOGI TMDSendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di kepala, sehingga bila terjadi sesuatu pada salah satu sendi ini, maka seseorang mengalami masalah yang serius. Masalah tersebut berupa nyeri saat membuka, menutup mulut, makan, mengunyah, berbicara, bahkan dapat menyebabkan mulut terkunci. Kelainan sendi temporomandibula disebut dengan disfungsi temporomandibular. Salah satu gejala kelainan ini munculnya bunyi saat rahang membuka dan menutup. Bunyi ini disebut dengan clicking yang seringkali, tidak disertai nyeri sehingga pasien tidak menyadari adanya kelainan sendi temporomandibular.Gangguan temporomandibular (temporomandibular disorder; TMD) adalah istilah yang luas, dengan dibagi menjadi penyakit sendi yang sesungguhnya (true joint disease; TMJ) dan sindroma nyeri / disfungsi miofasial (myofascial pain/ dysfunction syndrome; MPD).Istilah gangguan sendi temporomandibular (temporomandibular joint; TMJ) secara salah untuk menggambarkan keadaan sendi sendiri bukan merupakan sumber utama disfungsi. Gangguan musculoskeletal, dibandingkan dengan penyakit sendi, lebih sering merupakan sumber gejala dan keluhan di rahang atau daerah pembiasan di kepala dan leher. Keluhan ini dapat berupa nyeri di wajah, leher, bahu, dan punggung; nyeri kepala; ketidakmampuan menemukan posisi istirahat bagi rahang; kesulitan membuka mulut; dan nyeri pada pengunyahan.Etiologi disfungsi temporomandibula sampai saat ini masih banyak diperdebatkan dan multifaktorial, beberapa penulis menyatakan sebagai berikut.Stress emosional merupakan penyebab utama disfungsi temporomandibula. Factor factor etiologi disfungsi sendi dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu :1. Faktor predisposisi Merupakan factor yang meningkatkan resiko terjadinya dsifungsi sendi. Terdiri dari :a. Keadaan sistemik. Penyakit sistemik yang sering menimbulkan gangguan sendi temporomandibula adalah rematikb. Keadaan structural. Keadaan structural yang mempengaruhi sendi temporomandibular adalah oklusi dan anatomi sendi, meliputi :1) Hilangnya gigi posterior openbite anterior2) Impaksi molar 33) Overbite yang lebih dari 6-7 mm, dll2. Faktor inisiasi (presipitasi) Merupakan factor yang memicu terjadinya gejala-gejala disfungsi sendi temporomandibula misalnya kebiasaan parafungsi oral dan trauma yang diterima sendi temporomandibula. Trauma pada dagu dapat menimbulkan traumatic atritis sendi temporomandibula.Beberapa tipe parafungsi oral seperti kebiasaan menggigit pipi, bibir, dan kuku dapat menimbulkan kelelahan otot, nyeri wajah, dan keausan pada gigi-gigi.Kebiasaan menerima telepon dengan gagang telepon disimpan antara telinga dan bahu, posisi duduk atau berdiri/berjalan dengan kepala lebih ke depan dapat mengakibatkan kelainan fungsi fascia otot, karena seluruh fascia dalam tubuh saling memiliki keterkaitan maka adanya kelainan pada salah satu organ tubuh mengakibatkan kelainan pada organ lainnya3. Factor PerpetuasiMerupakan factor etiologi dalam gangguan sendi temporomandibula yang menyebabkan terhambatnya proses penyembuhan sehingga gangguan ini bersifat menetap, meliputi tingkah laku sosial, kondisi emosional, dan pengaruh lingkungan sekitar.

Faktor-faktor etiologi TMJ1. Kondisi oklusi.Dulu oklusi selalu dianggap sebagai penyebab utama terjadinya TMD, namun akhir-akhir ini banyak diperdebatkan

2. TraumaTrauma dapat dibagi menjadi dua :Macrotrauma : Trauma besar yang tiba-tiba dan mengakibatkan perubahan struktural, seperti pukulan pada wajah atau kecelakaan.Microtrauma : Trauma ringan tapi berulang dalam jangka waktu yang lama, seperti bruxism dan clenching. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan microtrauma pada jaringan yang terlibat seperti gigi, sendi rahang, atau otot.

3. Stress emosionalKeadaan sistemik yang dapat mempengaruhi fungsi pengunyahan adalah peningkatan stres emosional. Pusat emosi dari otak mempengaruhi fungsi otot. Hipotalamus, sistem retikula, dan sistem limbik adalah yang paling bertanggung jawab terhadap tingkat emosional individu. Stres sering memiliki peran yang sangat penting pada TMD.

Stres adalah suatu tipe energi. Bila terjadi stres, energi yang timbul akan disalurkan ke seluruh tubuh. Pelepasan secara internal dapat mengakibatkan terjadinya gangguan psikotropik seperti hipertensi, asma, sakit jantung, dan/atau peningkatan tonus otot kepala dan leher. Dapat juga terjadi peningkatan aktivitas otot nonfungsional seperti bruxism atau clenching yang merupakan salah satu etiologi TMD.

4. Deep pain inputAktivitas parafungsionalAktivitas parafungsional adalah semua aktivitas di luar fungsi normal (seperti mengunyah, bicara, dan menelan), dan tidak mempunyai tujuan fungsional. Contohnya adalah bruxism, dan kebiasaan-kebiasaan lain seperti menggigit-gigit kuku, pensil, bibir, mengunyah satu sisi, tongue thrust, dan bertopang dagu. Aktivitas yang paling berat dan sering menimbulkan masalah adalah bruxism, termasuk clenching dan grinding. Beberapa literatur membedakan antara bruxism dan clenching. Bruxism adalah mengerat gigi atau grinding terutama pada malam hari, sedangkan clenching adalah mempertemukan gigi atas dan bawah dengan keras yang dapat dilakukan pada siang ataupun malam hari.Pasien yang melakukan clenching atau grinding pada saat tidur sering melaporkan adanya rasa nyeri pada sendi rahang dan kelelahan pada otot-otot wajah saat bangun tidur.

Tanda dan gejala TMD dapat ditemukan pada semua tingkatan usia, dari anak-anak hingga lansia. Gejala TMD paling banyak diderita oleh populasi yang berusia antara 20-40 tahun, dengan jumlah penderita wanita lebih banyak daripada pria.

Pada anak-anak bruxism bersifat self-limiting, yang ditunjukkan oleh suatu penelitian yang dilakukan pada 126 anak bruxism berusia 6-9 tahun di mana 5 tahun kemudian hanya 17 anak yang masih melakukan bruxism namun tanpa disertai keluhan TMD.Pada anak bruxism yang juga disertai keluhan nyeri kepala, perlu dilakukan pemeriksaan fungsi mastikasi dan TMD-nya untuk mengetahui apakah ada hubungan antara keduanya. Bila ternyata tidak ada hubungan, anak tersebut harus dirujuk ke spesialis lain.

Sehubungan dengan adanya rasa nyeri, beberapa peneliti menemukan bahwa 70-85 % pasien TMD sering merasakan nyeri kepala dan 40 % melaporkan adanya nyeri wajah. Nyeri tersebut bertambah pada saat membuka dan menutup mulut. 50 % pasien TMD sering mengeluhkan nyeri telinga, namun pada saat diperiksa tidak ditemukan tanda infeksi. Bunyi sendi juga sering dilaporkan oleh pasien TMD ,tanpa atau disertai rasa nyeri. Pening (dizziness) juga dilaporkan oleh 40 % pasien, selain itu 33 % melaporkan telinga terasa penuh dan berdengung.

Gejala-gejala tersebut lokasinya berada di daerah orofasial namun karena tidak berada dalam rongga mulut seperti sakit gigi, maka pasien tidak mencari pengobatan ke dokter gigi melainkan ke dokter umum atau spesialis lain seperti THT, neurologi, rehabilitasi medik maupun chiropractor.

Nyeri kepala adalah masalah yang paling sering dijumpai. Nyeri kepala bukan suatu gangguan, namun suatu gejala yang disebabkan oleh gangguan tersebut. Jadi sebelum perawatan dilakukan, penyebab nyeri kepala harus diidentifikasi dahulu. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui apakah nyeri kepala merupakan salah satu gejala TMD. Dari hasilnya didapati bahwa 70-85% pasien TMD menderita nyeri kepala, dan nyeri kepala rekuren lebih sering terjadi pada pasien TMD. Salah seorang peneliti menyatakan bahwa gejala nyeri kepala dan leher berkurang setelah pasien mendapat perawatan untuk sendi rahangnya.

Etiologi lainnyaKarena engsel menggabungkan tindakan dengan gerakan geser, yang Temporomandibular bersama adalah salah satu sendi yang paling kompleks dalam tubuh Anda. Rahang bawah telah dibulatkan berakhir bahwa luncuran masuk dan keluar dari soket sendi ketika Anda berbicara, mengunyah atau menguap.. Bagian-bagian tulang yang berinteraksi di gabungan ditutup dengan kartilago dan dipisahkan oleh guncangan kecil menyerap disk, yang membuat gerakan halus. Gangguan TMJ dapat terjadi apabila:Disk mengikis atau bergerak keluar dari penyelarasan yang tepat.Tulang rawan sendi yang rusak karena radang sendi.Joint rusak oleh pukulan atau dampak lainnya.Otot-otot yang menstabilkan sendi menjadi lelah dari bekerja terlalu keras, yang dapat terjadi jika Anda terbiasa menggiling mengepalkan atau gigi Anda.Dalam banyak kasus, penyebab gejala TMJ tidak jelas.Berikut ini adalah perilaku atau kondisi yang dapat menyebabkan gangguan TMJ.Teeth grinding dan mengepalkan gigi (bruxism) meningkatkan dikenakan di lapisan tulang rawan TMJ. Mereka yang menggiling atau mengepalkan gigi mereka mungkin tidak menyadari perilaku ini kecuali mereka diberitahu oleh seseorang mengamati pola ini saat sedang tidur atau oleh profesional gigi melihat tanda-tanda keausan pada gigi. Banyak pasien terbangun di pagi hari dengan rahang atau telinga sakit.kebiasaan mengunyah permen karet atau menggigit kukumasalah gigi dan misalignment gigi (malocclusion). Pasien mungkin mengeluh bahwa sulit untu