modul lima

of 45 /45
PENGERTIAN TMD Gangguan sendi Temporomandibula merupakan permasalahan yang sering dibicarakan dalam terbitaan yang membahas masalah kesehatan. Hal tersebut kadang kurang ditekankan bahwa penyakit atau gangguan fungsi dari sendi temporomandibula bukan merupakan suatu gejala yang tunggal tetapi lebih terdiri dari sejumlah keadaan yang merupakan kumpulan dari beberapa gejala, sehingga disebut sebagai suatu sindrom. 1 Temporomandibular disorders (TMD) atau gangguan sendi temporomandibula terjadi sebagai akibat dari masalah yang berhubungan dengan sendi rahang dan otot- otot di sekitar wajah yang mengontrol proses pengunyahan dan gerakan rahang. Cedera pada sendi temporomandibular, atau otot kepala dan leher dapat menyebabkan TMD. Penyebab lainnya adalah, bruksisme, dislokasi tulang, osteoarthritis atau rheumatoid arthritis dan stres yang dapat menyebabkan otot-otot wajah dan rahang menjadi tegang. 5

Author: aulina-refri-rahmi

Post on 26-Sep-2015

20 views

Category:

Documents


6 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Modul Lima

TRANSCRIPT

PENGERTIAN TMDGangguan sendi Temporomandibula merupakan permasalahan yang sering dibicarakan dalam terbitaan yang membahas masalah kesehatan. Hal tersebut kadang kurang ditekankan bahwa penyakit atau gangguan fungsi dari sendi temporomandibula bukan merupakan suatu gejala yang tunggal tetapi lebih terdiri dari sejumlah keadaan yang merupakan kumpulan dari beberapa gejala, sehingga disebut sebagai suatu sindrom.1Temporomandibular disorders (TMD) atau gangguan sendi temporomandibula terjadi sebagai akibat dari masalah yang berhubungan dengan sendi rahang dan otot-otot di sekitar wajah yang mengontrol proses pengunyahan dan gerakan rahang. Cedera pada sendi temporomandibular, atau otot kepala dan leher dapat menyebabkan TMD. Penyebab lainnya adalah, bruksisme, dislokasi tulang, osteoarthritis atau rheumatoid arthritis dan stres yang dapat menyebabkan otot-otot wajah dan rahang menjadi tegang.5

ETIOLOGI TMDSendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di kepala, sehingga bila terjadi sesuatu pada salah satu sendi ini, maka seseorang mengalami masalah yang serius. Masalah tersebut berupa nyeri saat membuka, menutup mulut, makan, mengunyah, berbicara, bahkan dapat menyebabkan mulut terkunci. Kelainan sendi temporomandibula disebut dengan disfungsi temporomandibular. Salah satu gejala kelainan ini munculnya bunyi saat rahang membuka dan menutup. Bunyi ini disebut dengan clicking yang seringkali, tidak disertai nyeri sehingga pasien tidak menyadari adanya kelainan sendi temporomandibular.Gangguan temporomandibular (temporomandibular disorder; TMD) adalah istilah yang luas, dengan dibagi menjadi penyakit sendi yang sesungguhnya (true joint disease; TMJ) dan sindroma nyeri / disfungsi miofasial (myofascial pain/ dysfunction syndrome; MPD).Istilah gangguan sendi temporomandibular (temporomandibular joint; TMJ) secara salah untuk menggambarkan keadaan sendi sendiri bukan merupakan sumber utama disfungsi. Gangguan musculoskeletal, dibandingkan dengan penyakit sendi, lebih sering merupakan sumber gejala dan keluhan di rahang atau daerah pembiasan di kepala dan leher. Keluhan ini dapat berupa nyeri di wajah, leher, bahu, dan punggung; nyeri kepala; ketidakmampuan menemukan posisi istirahat bagi rahang; kesulitan membuka mulut; dan nyeri pada pengunyahan.Etiologi disfungsi temporomandibula sampai saat ini masih banyak diperdebatkan dan multifaktorial, beberapa penulis menyatakan sebagai berikut.Stress emosional merupakan penyebab utama disfungsi temporomandibula. Factor factor etiologi disfungsi sendi dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu :1. Faktor predisposisi Merupakan factor yang meningkatkan resiko terjadinya dsifungsi sendi. Terdiri dari :a. Keadaan sistemik. Penyakit sistemik yang sering menimbulkan gangguan sendi temporomandibula adalah rematikb. Keadaan structural. Keadaan structural yang mempengaruhi sendi temporomandibular adalah oklusi dan anatomi sendi, meliputi :1) Hilangnya gigi posterior openbite anterior2) Impaksi molar 33) Overbite yang lebih dari 6-7 mm, dll2. Faktor inisiasi (presipitasi) Merupakan factor yang memicu terjadinya gejala-gejala disfungsi sendi temporomandibula misalnya kebiasaan parafungsi oral dan trauma yang diterima sendi temporomandibula. Trauma pada dagu dapat menimbulkan traumatic atritis sendi temporomandibula.Beberapa tipe parafungsi oral seperti kebiasaan menggigit pipi, bibir, dan kuku dapat menimbulkan kelelahan otot, nyeri wajah, dan keausan pada gigi-gigi.Kebiasaan menerima telepon dengan gagang telepon disimpan antara telinga dan bahu, posisi duduk atau berdiri/berjalan dengan kepala lebih ke depan dapat mengakibatkan kelainan fungsi fascia otot, karena seluruh fascia dalam tubuh saling memiliki keterkaitan maka adanya kelainan pada salah satu organ tubuh mengakibatkan kelainan pada organ lainnya3. Factor PerpetuasiMerupakan factor etiologi dalam gangguan sendi temporomandibula yang menyebabkan terhambatnya proses penyembuhan sehingga gangguan ini bersifat menetap, meliputi tingkah laku sosial, kondisi emosional, dan pengaruh lingkungan sekitar.

Faktor-faktor etiologi TMJ1. Kondisi oklusi.Dulu oklusi selalu dianggap sebagai penyebab utama terjadinya TMD, namun akhir-akhir ini banyak diperdebatkan

2. TraumaTrauma dapat dibagi menjadi dua :Macrotrauma : Trauma besar yang tiba-tiba dan mengakibatkan perubahan struktural, seperti pukulan pada wajah atau kecelakaan.Microtrauma : Trauma ringan tapi berulang dalam jangka waktu yang lama, seperti bruxism dan clenching. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan microtrauma pada jaringan yang terlibat seperti gigi, sendi rahang, atau otot.

3. Stress emosionalKeadaan sistemik yang dapat mempengaruhi fungsi pengunyahan adalah peningkatan stres emosional. Pusat emosi dari otak mempengaruhi fungsi otot. Hipotalamus, sistem retikula, dan sistem limbik adalah yang paling bertanggung jawab terhadap tingkat emosional individu. Stres sering memiliki peran yang sangat penting pada TMD.

Stres adalah suatu tipe energi. Bila terjadi stres, energi yang timbul akan disalurkan ke seluruh tubuh. Pelepasan secara internal dapat mengakibatkan terjadinya gangguan psikotropik seperti hipertensi, asma, sakit jantung, dan/atau peningkatan tonus otot kepala dan leher. Dapat juga terjadi peningkatan aktivitas otot nonfungsional seperti bruxism atau clenching yang merupakan salah satu etiologi TMD.

4. Deep pain inputAktivitas parafungsionalAktivitas parafungsional adalah semua aktivitas di luar fungsi normal (seperti mengunyah, bicara, dan menelan), dan tidak mempunyai tujuan fungsional. Contohnya adalah bruxism, dan kebiasaan-kebiasaan lain seperti menggigit-gigit kuku, pensil, bibir, mengunyah satu sisi, tongue thrust, dan bertopang dagu. Aktivitas yang paling berat dan sering menimbulkan masalah adalah bruxism, termasuk clenching dan grinding. Beberapa literatur membedakan antara bruxism dan clenching. Bruxism adalah mengerat gigi atau grinding terutama pada malam hari, sedangkan clenching adalah mempertemukan gigi atas dan bawah dengan keras yang dapat dilakukan pada siang ataupun malam hari.Pasien yang melakukan clenching atau grinding pada saat tidur sering melaporkan adanya rasa nyeri pada sendi rahang dan kelelahan pada otot-otot wajah saat bangun tidur.

Tanda dan gejala TMD dapat ditemukan pada semua tingkatan usia, dari anak-anak hingga lansia. Gejala TMD paling banyak diderita oleh populasi yang berusia antara 20-40 tahun, dengan jumlah penderita wanita lebih banyak daripada pria.

Pada anak-anak bruxism bersifat self-limiting, yang ditunjukkan oleh suatu penelitian yang dilakukan pada 126 anak bruxism berusia 6-9 tahun di mana 5 tahun kemudian hanya 17 anak yang masih melakukan bruxism namun tanpa disertai keluhan TMD.Pada anak bruxism yang juga disertai keluhan nyeri kepala, perlu dilakukan pemeriksaan fungsi mastikasi dan TMD-nya untuk mengetahui apakah ada hubungan antara keduanya. Bila ternyata tidak ada hubungan, anak tersebut harus dirujuk ke spesialis lain.

Sehubungan dengan adanya rasa nyeri, beberapa peneliti menemukan bahwa 70-85 % pasien TMD sering merasakan nyeri kepala dan 40 % melaporkan adanya nyeri wajah. Nyeri tersebut bertambah pada saat membuka dan menutup mulut. 50 % pasien TMD sering mengeluhkan nyeri telinga, namun pada saat diperiksa tidak ditemukan tanda infeksi. Bunyi sendi juga sering dilaporkan oleh pasien TMD ,tanpa atau disertai rasa nyeri. Pening (dizziness) juga dilaporkan oleh 40 % pasien, selain itu 33 % melaporkan telinga terasa penuh dan berdengung.

Gejala-gejala tersebut lokasinya berada di daerah orofasial namun karena tidak berada dalam rongga mulut seperti sakit gigi, maka pasien tidak mencari pengobatan ke dokter gigi melainkan ke dokter umum atau spesialis lain seperti THT, neurologi, rehabilitasi medik maupun chiropractor.

Nyeri kepala adalah masalah yang paling sering dijumpai. Nyeri kepala bukan suatu gangguan, namun suatu gejala yang disebabkan oleh gangguan tersebut. Jadi sebelum perawatan dilakukan, penyebab nyeri kepala harus diidentifikasi dahulu. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui apakah nyeri kepala merupakan salah satu gejala TMD. Dari hasilnya didapati bahwa 70-85% pasien TMD menderita nyeri kepala, dan nyeri kepala rekuren lebih sering terjadi pada pasien TMD. Salah seorang peneliti menyatakan bahwa gejala nyeri kepala dan leher berkurang setelah pasien mendapat perawatan untuk sendi rahangnya.

Etiologi lainnyaKarena engsel menggabungkan tindakan dengan gerakan geser, yang Temporomandibular bersama adalah salah satu sendi yang paling kompleks dalam tubuh Anda. Rahang bawah telah dibulatkan berakhir bahwa luncuran masuk dan keluar dari soket sendi ketika Anda berbicara, mengunyah atau menguap.. Bagian-bagian tulang yang berinteraksi di gabungan ditutup dengan kartilago dan dipisahkan oleh guncangan kecil menyerap disk, yang membuat gerakan halus. Gangguan TMJ dapat terjadi apabila:Disk mengikis atau bergerak keluar dari penyelarasan yang tepat.Tulang rawan sendi yang rusak karena radang sendi.Joint rusak oleh pukulan atau dampak lainnya.Otot-otot yang menstabilkan sendi menjadi lelah dari bekerja terlalu keras, yang dapat terjadi jika Anda terbiasa menggiling mengepalkan atau gigi Anda.Dalam banyak kasus, penyebab gejala TMJ tidak jelas.Berikut ini adalah perilaku atau kondisi yang dapat menyebabkan gangguan TMJ.Teeth grinding dan mengepalkan gigi (bruxism) meningkatkan dikenakan di lapisan tulang rawan TMJ. Mereka yang menggiling atau mengepalkan gigi mereka mungkin tidak menyadari perilaku ini kecuali mereka diberitahu oleh seseorang mengamati pola ini saat sedang tidur atau oleh profesional gigi melihat tanda-tanda keausan pada gigi. Banyak pasien terbangun di pagi hari dengan rahang atau telinga sakit.kebiasaan mengunyah permen karet atau menggigit kukumasalah gigi dan misalignment gigi (malocclusion). Pasien mungkin mengeluh bahwa sulit untuk menemukan yang nyaman gigitan atau bahwa cara gigi mereka cocok bersama-sama telah berubah. Mengunyah hanya pada satu sisi rahang dapat mengakibatkan atau akibat dari masalah TMJ.trauma pada rahang,. Sebelumnya patah tulang di tulang rahang atau wajah dapat menyebabkan gangguan TMJ.Stres sering mengarah pada energi gugup yang belum dirilis. Hal ini sangat umum bagi orang-orang di bawah tekanan untuk melepaskan energi dengan gugup ini baik secara sadar atau tidak sadar mengepalkan grinding dan gigi mereka.Tugas kerja seperti memegang telepon antara kepala dan bahu dapat berkontribusi gangguan TMJ.ETIOLOGI- Presdiposisi: sistemik , psikologi- Presipitasi: kebiasaan, trauma- Factor perpetuasi: tingkah laku sosialTANDA DAN GEJALA TMDKelainan-kelainan sakit sendi rahang umumnya terjadi karena aktivitas yang tidak berimbang dari otot-otot rahang dan/atau spasme otot rahang dan pemakaian berlebihan. Gejala-gejala bertendensi menjadi kronis dan perawatan ditujukan pada eliminasi faktor-faktor yang mempercepatnya. Banyak gejala-gejala mungkin terlihat tidak berhubungan dengan TMJ sendiri. Berikut adalah gejala-gejala yang umum:1. Sakit Telinga: Kira-kira 50% pasien dengan gangguan sendi rahang merasakan sakit telinga namun tidak ada tanda-tanda infeksi. Sakit telinganya umumnya digambarkan sepertinya berada di muka atau bawah telinga. Seringkali, pasien-pasien dirawat berulangkali untuk penyakit yang dikirakan infeksi telinga, yang seringkali dapat dibedakan dari TMJ oleh suatu yang berhubungan dengan kehilangan pendengaran (hearing loss) atau drainase telinga (yang dapat diharapkan jika memang ada infeksi telinga). Karena sakit telinga terjadi begitu umum, spesialis-spesialis kuping sering diminta bantuannya untuk membuat diagnosis dari gangguan sendi rahang.2. Kepenuhan Telinga: Kira-kira 30% pasien dengan gangguan sendi rahang menggambarkan telinga-telinga yang teredam (muffled), tersumbat (clogged) atau penuh (full). Mereka dapat merasakan kepenuhan telinga dan sakit sewaktu pesawat terbang berangkat (takeoffs) dan mendarat (landings). Gejala-gejala ini umumnya disebabkan oleh kelainan fungsi dari tabung Eustachian (Eustachian tube), struktur yang bertanggung jawab untuk pengaturan tekanan ditelinga tengah. Diperkirakan pasien dengan gangguan sendi rahang mempunyai aktivitas hiper (spasme) dari otot-otot yang bertanggung jawab untuk pengaturan pembukaan dan penutupan tabung eustachian.3. Dengung Dalam Telinga (Tinnitus): Untuk penyebab-penyebab yang tidak diketahui, 33% pasien dengan gangguan sendi rahang mengalami suara bising (noise) atau dengung (tinnitus). Dari pasien-pasien itu, separuhnya akan hilang tinnitusnya setelah perawatan TMJnya yang sukses.4. Bunyi-Bunyi: Bunyi-bunyi kertakan (grinding), klik ( clicking) dan meletus (popping), secara medis diistilahkan crepitus, adalah umum pada pasien-pasien dengan gangguan sendi rahang. Bunyi-bunyi ini dapat atau tidak disertai dengan sakit yang meningkat.5. Sakit Kepala: Hampir 80% pasien dengan gangguan sendi rahang mengeluh tentang sakit kepala, dan 40% melaporkan sakit muka. Sakitnya seringkal menjadi lebih ketika membuka dan menutup rahang. Paparan kepada udara dingin atau udara AC dapat meningkatkan kontraksi otot dan sakit muka.6. Pusing: Dari pasien-pasien dengan gangguan sendi rahang, 40% melaporkan pusing yang samar atau ketidakseimbangan (umumnya bukan suatu spinning type vertigo). Penyebab dari tipe pusing ini belum diketahui.7. Penelanan : Kesulitan menelan atau perasaan tidak nyaman ketika menelan8. Rahang Terkunci : Rahang terasa terkunci atau kaku, sehingga sulit membuka atau menutup mulut9. Gigi: Gigi-gigi tidak mengalami perlekatan yang sama karena ada sebagian gigi yang mengalami kontak prematur dan bisa d sebabkan karena maloklusi atau merasa gigitan tidak pas

DIAGNOSA TMDDiagnosis dari penyakit atau gangguan sendi temporo mandibula tergantung pada permeriksaan klinis dan riwayat penyakit yang menyeluruh serta evaluasi gambaran radiografis. Evaluasi struktur ekstra-artikular yang terkait merupakan bagian ke satuan pemeriksaan klinis lengkap.

Pemeriksaan klinis untuk pasien dengan kemungkinan gangguan fungsi pada sendi Temporomandibula.1. Pemeriksaan SubjektifDalam mendiagnosis pasien diperlukan riwayat yang menyeluruh. Keluhan utama yang paling sering dirasakan pada penyakit/gangguan fungsi sendi temporomandibula adalah rasa nyeri dan rasa tidak enak, yang disertai dengan kliking atau keluhan sendi lainnya.1. Rasa sakit/nyeri. Bila pasien merasakan adanya rasa nyeri, maka yang paling penting untuk diketahui adalah lokasi, sifat, dan lama terjadinya rasa nyeri/sakit tersebut.2. Bunyi sendi. Jika pasien mengeluh adanya bunyi sendi atau kliking (suara berkeretak), maka saat timbulnya dan perubahan pada suara sendi tersebut merupakan informasi yang perlu diketahui.3. Perubahan luas pergerakan. Penyembuhan kliking seringkali diikuti oleh keluhan baru, yaitu nyeri akut dan berkurangnya luas pergerakan yang nyata, khususnya pada jarak antar insisal, dimana penemuan inimerupakan petunjuk utama terjadinya closed lock.4. Perubahan oklusi. Beberapa penderita mengeluhkan perubahan gigitan. Keluhan ini dapat merupakan tanda terjadinya perubahan degenerative tingkat lanjut atau spasme otot akut.5. Informasi keadaan kolateral. Setelah riwayat utama diperiksa secara menyeluruh, selanjutnya dapat dikumpulkan informasi keadaan kolateral. Kondisi-kondisi lain yang mengenai kepala dan leher, seperti sinusitis akut atau kronis, sakit pada telinga, dll.6. Perawatan sebelumnya. Kronologi perawatan sebelumnya baik pemberian obat, mekanis, maupun secara bedah juga dicatat.7. Stress. Untuk menentukan dengan tepat keadaan emosional pasien biasanya dibutuhkan beberapa kunjungan dengan kemungkinan pengiriman/rujukan untuk evaluasi psikologis, dan terapi control stress selanjutnya.Hal yang di anamnesa : Gejala yang ada. Nyeri, kekakuan, tegangan otot sendi, masalah sendi, kepekaan atau kenyerian geligi, kehebatan gejala nyeri, lama dan permulaan gejala. Gejala yang Lalu. Apakah penderita menderita gejala yang sama pada masa lalu; apakah sifat dasarnya sama; apa penyebabnya. Riwayat sakit gigi terdahulu. Riwayat tatacara perawatan gigi menyebabkan perubahan oklusi; apakah perubahan tersebut berkaitan dengan gejala disfungsi; riwayat penyesuaian oklusal yang dicoba; atau perawatn oklusal lain . Riwayat bruxisme. Apakah hal ini terjadi malam atau siang hari; apakah bruxissme terdengar oleh istri atau suaminya; berapa lama penderita menyadari perilaku bruxisme; apa yang disangka penderita penyebab bruxisme tersebut; apakah penderita menyadari bahwa keausan geliginya disebabkan oleh bruxisme. 2. Pemeriksaan Objektif Palpasi otot. Perabaan dengan jari satu dan disisi pada otot penguyahan dan leher dapat menghasilkan nyeri otot yang berlebihan. Nyeri setempat pada otot dapat menunjukkan titik pencetus. Otot yang harus diraba ; masseter, temporal, pterigoid medial, pterigoid lateral, sternokleidomastoideus, servikal posterior dan suprahioid.18Kombinasi palpasi bidigital atau bimanual ekstraoral dan intraoral pada musculus suprahyoideus dan sublingualis bisa dilakukan langsung. Palpasi otot yang berhubungan dengan sendi juga bisa dilakukan dengan mudah, kecuali untuk m.pterygoideus lateralis yang sulit dijangkau. Musculus masseter dan temporalis berada di superficial dan bisa langsung di palpasi di wajah.1

AB

ABGambar 7. A. Palpasi pada region prearicular dapat menunjukkan rasa sakit pada kutub lateral processus condylaris atau musculus masseter.Gambar B. Pendekatan endaural memungkinkan pa;pasi langsung dari processus condylaris tanpa terganggu otot Auskultasi. Auskultasi stetoskop pada sendi memungkinkan penentuan sifaat dan waktu timbulnya bunyi abnormal secara lebih tepat. Penentuan kliking dan besar pembukaan insisal dipermudah dengan auskultasi. Kliking yang terjadi pada awal fase membuka mulut menunjukkan dislokasi discus anterior ringan, sementara kliking yang terjadi atau timbul lebih lambat berkaitan dengan kelaianan meniscus.pada kasus resiprokal, terjadinya bunyi klik pada saat membuka dan memendekkan jarak antara kliking seringkali menunjukkan suatu pergeseran discus yang kronis dan sudah berlangsung lama, yang dapat berkurang dengan sendirinya.1Jika diperkirakan terdapat suatu kelainan sendi intraartikular berdasar pemeriksaan klinis dan riwayat penyakit, maka diindikasikan untuk melakukan pemeriksaan sinar-X. Pemeriksaan ini meliputi pembuatan foto panoramik, modifikasi Towne dan teknik transkranial. Gambaran panoramik memperlihatkan regio processus condylaris dan subcondylaris dua sisi (bilateral), sehingga bisa langsung dilakukan perbandingan antara keduanya. Ini sangat bermanfaat dalam diagnosis fraktur, terapi perbandingan sendi penting dalam hubungannya dengan pertumbuhan abnormal, seperti yang diperlihatkan pada agenesis condylaris, hyperplasia atau hipoplasia dan ankilosis oseus.1Radiograf sendi dapat menunjukkan perubahan gerak, perubahan bentuk, penyakit sendi dan patologi sendi lainnya. Hubungan kondyl sendi pada lekuk persendian oklusi sentrik dapat dilihat pada radiograf transkranial (melalui tengkorak) atau tomografik (lapisan bagian tubuh tertentu) yang cocok.Pemeriksaan klinis1. Inspeksi Untuk melihat adanya kelainan sendi temporomandibular perlu diperhatikan gigi, sendi rahang dan otot pada wajah serta kepala dan wajah. Apakah pasien menggerakan mulutnya dengan nyaman selama berbicara atau pasien seperti menjaga gerakan dari rahang bawahnya. Terkadang pasien memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik selama interview seperti bruxism.2. Palpasi :a. Masticatory muscle examination: Pemeriksaan dengan cara palpasi sisi kanan dan kiri pada dilakukan pada sendi dan otot pada wajah dan daerah kepala.b. Temporalis muscle, yang terbagi atas 3 segmen yaitu anterior, media, dan posterior.c. Zygomatic arch (arkus zigomatikus).d. Masseter musclee. Digastric musclef. Sternocleidomastoid muscleg. Cervical spineh. Trapezeus muscle, merupakan Muscular trigger point serta menjalarkan nyeri ke dasar tengkorang dan bagian temporali. Lateral pterygoid musclej. Medial pterygoid musclek. Coronoid processl. Muscular Resistance Testing: Tes ini penting dalam membantu mencari lokasi nyeri dan tes terbagi atas 5, yaitu :1. Resistive opening (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada ruang inferior m.pterigoideus lateral)2. Resistive closing (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. temporalis, m. masseter, dan m. pterigoideus medial)3. Resistive lateral movement (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. pterigoideus lateral dan medial yang kontralateral)4. Resistive protrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. pterigoideus lateral)5. Resistive retrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada bagian posterior m. temporalis)3. Pemeriksaan tulang belakang dan cervical : Dornan dkk memperkirakan bahwa pasien dengan masalah TMJ juga memperlihatkan gejala pada cervikal. Pada kecelakaan kendaraan bermotor kenyataannya menunjukkan kelainan pada cervikal maupun TMJ. Evaluasi pada cervikal dilakukan dengan cara :a. Menyuruh pasien berdiri pada posisi yang relaks, kemudian dokter menilai apakah terdapat asimetris kedua bahu atau deviasi leherb. Menyuruh pasien untuk menghadap kesamping untuk melihat postur leher yang terlalu ke depanc. Menyuruh pasien untuk memutar (rotasi) kepalanya ke setiap sisi, dimana pasien seharusnya mampu untuk memutar kepala sekitar 80 derajat ke setiap sisi.d. Menyuruh pasien mengangkat kepala ke atas (ekstensi) dan ke bawah (fleksi), normalnya pergerakan ini sekitar 60 derajate. Menyuruh pasien menekuk kepala kesamping kiri dan kanan, normalnya pergerakan ini 45 derajat4. Auskultasi : Joint sounds Bunyi sendi TMJ terdiri dari clicking dan krepitus. Clicking adalah bunyi singkat yang terjadi pada saat membuka atau menutup mulut, bahkan keduanya. Krepitus adalah bersifat difus, yang biasanya berupa suara yang dirasakan menyeluruh pada saat membuka atau menutup mulut bahkan keduanya. Krepitus menandakan perubahan dari kontur tulang seperti pada osteoartrosis. Clicking dapat terjadi pada awal, pertengahan, dan akhir membuka dan menutup mulut. Bunyi click yang terjadi pada akhir membuka mulut menandakan adanya suatu pergeseran yang berat. TMJ clicking sulit didengar karena bunyinya halus, maka dapat didengar dengan menggunakan stetoskop.5. Range of motion: Pemeriksaan pergerakan Range of Motion dilakukan dengan pembukaan mulut secara maksimal, pergerakan dari TMJ normalnya lembut tanpa bunyi atau nyeri. Mandibular range of motion diukur dengan :a. Maximal interticisal opening (active and passive range of motion)b. Lateral movementc. Protrusio movementpemeriksaan penunjang1. Transcranial radiografi : Menggunakan sinar X, untuk dapat menilai kelainan, yang harus diperhatikan antara lain:a. Condyle pada TMJ dan bagian pinggir kortex harus diperhatikanb. Garis kortex dari fossa glenoid dan sendi harus dilihat.c. Struktur condyle mulus, rata, dan bulat, pinggiran kortex rata.d. Persendian tidak terlihat karena bersifat radiolusen.e. Perubahan patologis yang dapat terlihat pada condyle diantaranya flattening, lipping.2. Panoramik Radiografi : Menggunakan sinar X, dapat digunakan untuk melihat hampir seluruh regio maxilomandibular dan TMJ. Kelemahan dari pemeriksaan ini antara lain :a. Terdapatnya bayangan atau struktur lain pada foto X ray.b. Fenomena distorsi, dimana terjadi penyimpangan bentuk yang sebenarnya yang terjadi akibat goyang saat pengambilan gambar.c. Gambar yang kurang tajam. Kelainan yang dapat dilihat antara lain fraktur, dislokasi, osteoatritis, neoplasma, kelainan pertumbuhan pada TMJ.3. CT Scan : Menggunakan sinar X, merupakan pemeriksaan yang akurat untuk melihat kelainan tulang pada TMJ.Teknik Panoramik untuk Mendeteksi Kelainan TMJSecara radio-patologis, terdapat beberapa kondisi pada hasil radiografi panoramik yang dapat digunakan untuk mendeteksi kemungkinan adanya TMD. Kondisi tersebut adalah:1)Asimetri Mandibula, apabila tingkat asimetri dari mandibula kiri dan kanan pada sebuah radiograf panoramik melebihi angka 6 %, hal ini menunjukkan adanya asimetri yang nyata pada daerah fasial. Pengukuran dapat dilakukan secara sederhana dengan menarik garis vertikal mulai dari puncak kondilus sampai dengan titik sudut angulus mandibula kiri dan kanan. Kemudian selisih keduanya dihitung secara prosentase, apabila kurang dari 6% kemungkinan asimetri ini terjadi karena elongasi atau tidak tepatnya posisi kepala pasien pada saat pemotretan. Sedangkan selisih yang besar menunjukkan adanya asimetri yang nyata pada tinggi kepala kondilus, dan perlu dianalisa lebih lanjut untuk mendapatkan data pendukung lainnya sehingga dapat diketahui tingkat abnormalitas yang terjadi.2)Perubahan Bentuk Kepala Kondilus, dalam arah sagital bentuk kepala kondilus dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis : (a) adalah bentuk yang normal didasarkan pada bentuk tulang kortikal pada kepala kondilus tampak halus dan bersih. (b) tampak terjadinya flattening, sehingga kepala kondilus tampak menyudut dan tidak lagi berbetuk cembung. (c) tampak terjadinya erosi yang ditandai tergerusnya sebagian daerah kepala kondilus disertai penurunan densitas pada daerah tersebut. (d) adalah bentuk osteophyte, yaitu tampak adanya pertumbuhan atau penonjolan di bagian anterior dan atau superior dari permukaan kepala kondilus. Perubahan bentuk yang terjadi ini menunjukkan terjadinya tekanan berlebih di area tertentu dari kepala kondilus pada saat gerakkan fungsional, sehingga apabila terjadi dalam jangka waktu yang lama dapat berdampak pada perubahan bentuk kepala kondilus. 3)Asimetri Posisi Kondilus. Berdasarkan penilaian tingkat akurasi yang rendah, radiograf panoramik tidak diindikasikan sebagai bahan referensi untuk menganalisa posisi kondilus. Walaupun demikian, gambaran yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai bahan pembanding untuk melihat posisi kondilus pada kedua sisi.4)Perubahan Bentuk Eminensia Artikularis, tekanan yang berlebihan pada pergerakan sendi temporomandibula dapat menyebabkan keausan pada daerah eminensia artikularis. Melalui radiograf panoramik, kondisi flattening pada eminensia akan tampak jelas. 155)Perubahan Bentuk Processus Styloideus, sangat berkaitan dengan pergerakan otot-otot mastikasi. Bentuk processus yang membesar dan memanjang. Selain itu perbedaan yang terjadi pada kedua sisi dapat membantu menunjukkan tingkat keparahan yang terjadi di antara kedua sendi.

PERAWATAN TMDDukungan utama dari perawatan untuk sakit sendi rahang akut adalah panas dan es, makanan lunak (soft diet) dan obat-obatan anti peradangan ( Suryonegoro H, 2009 ).1. Jaw Rest (Istirahat Rahang) Sangat menguntungkan jika membiarkan gigi-gigi terpisah sebanyak mungkin. Adalah juga sangat penting mengenali jika kertak gigi (grinding) terjadi dan menggunakan metode-metode untuk mengakhiri aktivitas-aktivitas ini. Pasien dianjurkan untuk menghindari mengunyah permen karet atau makan makanan yang keras, kenyal (chewy) dan garing (crunchy), seperti sayuran mentah, permen-permen atau kacang-kacangan. Makanan-makanan yang memerlukan pembukaan mulut yang lebar, seperti hamburger, tidak dianjurkan ( Suryonegoro H, 2009 ).2. Terapi Panas dan Dingin Terapi ini membantu mengurangi tegangan dan spasme otot-otot. Bagaimanapun, segera setelah suatu luka pada sendi rahang, perawatan dengan penggunaan dingin adalah yang terbaik. Bungkusan dingin (cold packs) dapat membantu meringankan sakit (Suryonegoro H, 2009 ).3. Obat-obatan Obat-obatan anti peradangan seperti aspirin, ibuprofen (Advil dan lainnya), naproxen (Aleve dan lainnya), atau steroids dapat membantu mengontrol peradangan. Perelaksasi otot seperti diazepam (Valium), membantu dalam mengurangi spasme-spasme otot ( Suryonegoro H, 2009 ).4. Terapi Fisik Pembukaan dan penutupan rahang secara pasiv, urut (massage) dan stimulasi listrik membantu mengurangi sakit dan meningkatkan batasan pergerakan dan kekuatan dari rahang ( Suryonegoro H, 2009 ).5. Managemen stres Kelompok-kelompok penunjang stres, konsultasi psikologi, dan obat-obatan juga dapat membantu mengurangi tegangan otot. Umpanbalikbio (biofeedback) membantu pasien mengenali waktu-waktu dari aktivitas otot yang meningkat dan spasme dan menyediakan metode-metode untuk membantu mengontrol mereka ( Suryonegoro H, 2009 ).6. Terapi Occlusal Pada umumnya suatu alat acrylic yang dibuat sesuai pesanan dipasang pada gigi-gigi, ditetapkan untuk malam hari namun mungkin diperlukan sepanjang hari. Ia bertindak untuk mengimbangi gigitan dan mengurangi atau mengeliminasi kertakan gigi (grinding) atau bruxism ( Suryonegoro H, 2009 ).7. Koreksi Kelainan Gigitan Terapi koreksi gigi, seperti orthodontics, mungkin diperlukan untuk mengkoreksi gigitan yang abnormal. Restorasi gigi membantu menciptakan suatu gigitan yang lebih stabil. Penyesuaian dari bridges atau crowns bertindak untuk memastikan kesejajaran yang tepat dari gigi-gigi ( Suryonegoro H, 2009 ).8. Operasi Operasi diindikasikan pada kasus-kasus dimana terapi medis gagal. Ini dilakukan sebagai jalan terakhir. TMJ arthroscopy, ligament tightening, restrukturisasi rahang (joint restructuring), dan penggantian rahang (joint replacement) dipertimbangkan pada kebanyakan kasus yang berat dari kerusakan rahang atau perburukan rahang (Suryonegoro H, 2009 ).Perawatan Tanpa bedahBeberapa kasus gangguan TMJ akan berakhir dengan perawatan biasa yang bahkan mungkin tidak membutuhkan kehadiran dokter gigi di samping anda. Di antaranya :a. Mengubah kebiasaan buruk. Dokter gigi anda akan mengingatkan anda untuk lebih memperhatikan kebiasaan-kebiasaan anda sehari-hari. Misalnya kebiasaan menggemertakkan gigi, bruxism, atau menggigit-gigit sesuatu. Kebiasaan ini harus digantikan dengan kebiasaan baik seperti membiarkan otot mulut dalam kondisi rilex dengan gigi atas dan bawah tidak terlalu rapat, lidah menyentuh langit-langit dan berada tepat di belakang gigi atas anda.b. Mengurangi kelelahan otot rahang. Dokter gigi anda akan meminta anda tidak membuka mulut terlalu lebar dalam berbagai kesempatan. Contohnya jangan tertawa berlebihan.c. Peregangan dan pijatan. Dokter gigi akan memberikan latihan bagaimana caranya meregangkan atau memijat otot rahang anda. Sebagai tambahan juga mungkin akan diberikan petunjuk bagaimana posisi kepala, leher, dan bahu yang tepat dalam melakukan aktivitas sehari-hari.d. Kompres panas atau dingin. Dengan mengompress kedua sisi wajah anda baik dengan kompres panas atau dingin akan membantu relaksasi otot rahang.e. Obat anti inflamasi. Untuk mengurangi inflamasi (peradangan) dan rasa sakit, dokter gigi anda mungkin akan menyarankan aspirin atau obat anti inflamasi nonsteroid lainnya, misalkan ibuprofen (Advil, Motrin, dll)f. Biteplate. Jika TMJ anda mengalami kelainan pada posisi mengunyah, sebuah biteplate (pemandu gigitan) akan diberikan. Biteplate dipasang di gigi untuk menyesuaikan rahang atas dengan rahang bawah. Dengan posisi mengunyah yang benar tentunya akan membantu mengurangi tekanan di struktur sendi.g. Penggunaan night guard. Alat ini berguna untuk mengatasi kebiasaan bruxism di malam hari.h. Terapi kognitif. Jika TMJ anda mengalami gangguan karena stress atau anxietas, dokter gigi anda akan menyarankan untuk menemui psikiater untuk mengatasinya.Perawatan lanjutan Jika perawatan non bedah tidak berhasil mengurangi gejala gangguan TMJ, dokter gigi anda akan merekomendasikan perawatan berikut :a. Perawatan gigi. Dokter gigi anda akan memperbaiki gigitan dengan menyeimbangkan permukaan gigi anda. Caranya bisa dengan mengganti gigi yang hilang atau tanggal, memperbaiki tambalan atau membuat mahkota tiruan baru.b. Obat kortikosteroid. Untuk sakit dan peradangan pada sendi, obat kortikosteroid akan diinjeksikan ke dalam sendi.c. Arthrocentesis. Prosedur ini dilakukan dengan jalan menyuntikan cairan ke dalam sendi untuk membuang kotoran atau sisa peradangan yang mengganggu rahang.d. Pembedahan. Jika semua perawatan tidak berhasil juga, dokter gigi akan merujuk anda ke dokter gigi spesialis bedah mulut.

Dasar- dasar perawatanAda sejumlah terapi sederhana yang efektif, dapat dilakukan oleh pasien dirumah untuk menghilangkan ketegangan otot, kelelahan otot, nyeri, memyperbaiki pergerakan mandibuladan fungsi pengunyahan. Terapi ini termasuk diet yang tepat, membatasi pergerakan tulang, menghilangkan kebiasaan para fungsi, terapi panas (kompres air hangat) dan pemijatan. Terdapat cara pengobatan spesifik lain yang membutuhkan penanganan secara professional atau pemberian obat-obatan. IV.I.1 Terapi di Rumah22 Mengubah kebiasaan buruk. Misalnya kebiasaan menggemertakkan gigi, bruxism, atau menggigit-gigit sesuatu. Kebiasaan ini harus digantikan dengan kebiasaan baik seperti membiarkan otot mulut dalam kondisi rileks dengan gigi atas dan bawah tidak terlalu rapat, lidah menyentuh langit-langit dan berada tepat di belakang gigi atas anda. Mengurangi kelelahan otot rahang. Hal yan harus diperhatikan dengan tidak membuka mulut terlalu lebar dalam berbagai kesempatan. Contohnya jangan tertawa berlebihan. Peregangan dan pijatan. Sering melatih bagaimana caranya meregangkan atau memijat otot rahang. Sebagai tambahan juga mungkin akan diberikan petunjuk bagaimana posisi kepala, leher, dan bahu yang tepat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kompres panas atau dingin. Dengan mengompress kedua sisi wajah baik dengan kompres panas atau dingin akan membantu relaksasi otot rahang. Kompres panas dilakukan selama 10 menit dengan waktu istirahat 5 menit. Hal ini dilakukan 2 kali dengan cara yang sama. Selama kompres panas lakukan gerakan ringan tanpa rasa sakit. IV.I.2 Terapi RelaksasiTeknik relaksasi yang digunakan untuk menenangkan secara tidak langsung bukan untuk mencapai tujuan terapeutik spesifik. Mereka tidak selalu mengurangi intensitas nyeri dan direkomendasikan sebagai pengobatan tambahan. Hasil terapi relaksasi mungkin lebih signifikan untuk mengurangi rasa sakit. Manfaat lain dapat termasuk meningkatkan kualitas tidur, mengurangi ketegangan otot rangka, dan penurunan kelelahan. Dengan diarahkan sebagai teknik relaksasi, mengingatkan kembali pengalaman-pengalaman yang menyenangkan. Pasien harus diyakinkan bahwa mereka menerima terapi ini bukan karena rasa sakit dan mereka hanya perlu rileks.8Latihan relaksasi menghasilkan fisiologis yang mempengaruhi kecemasan (yaitu, denyut jantung lebih lambat, meningkatnya aliran darah perifer, dan menurunkan ketegangan otot atau kegiatan). Bersantai merupakan relaksasi otot (relaksasi progresif), dengan membayangkan diri sendiri berada di tempat kenangan yang menyenangkan dan bersantai serta melakukan yoga adalah sebagai contohnya.8IV.I.3 Muscle RelaxantRelaksan otot, terutama bagi orang-orang bruxisme, dapat membantu relaksasi otot rahang.24 Terapi obat-obatanUntuk mengurangi rasa sakit otot dan bengkak, dapat digunakan obat anti-inflammatory drugs (NSAID), seperti aspirin atau ibuprofen (Advil, Motrin, Aleve),. Dokter gigi bisa memberi dosis tinggi dari NSAID untuk rasa sakit seperti analgesik narkotika. Obat anti kecemasan dapat membantu menghilangkan stres yang kadang-kadang dianggap memperburuk TMD. Obat antidepresan, bila digunakan dalam dosis rendah dapat membantu mengurangi atau mengontrol rasa sakit. 24 Trisiklik antidepresan. Antidepresan, seperti amitriptyline atau nortriptyline, dikonsumsi sebelum tidur untuk membantu mengurangi nyeri pada sendi Temporomandibula.23 Obat Kortikosteroid. Untuk nyeri yang signifikan dan radang pada sendi, obat kortikosteroid disuntikkan ke sendi Temporomandibula.23 Botulinum toksin. Suntik botulinum toxin (Botox) ke dalam otot-otot rahang yang digunakan untuk mengunyah dapat meredakan rasa sakit yang terkait dengan gangguan TMJ.23 Refrigerant sprayRefrigerant spray merupakan teknik penyemprotan yang dilakukan sepanjang muscle fibers yang digunakan untuk membantu dalam diagnosis pasien. Penyemprotan dapat dilakukan dengan pasien buka dan tutup mulut pelan-pelan, jangan bekukan jaringan. Spray berfungsi untuk merelaksasi otot dan mengurangi gejala untuk sementara waktu. Penyemprotan ini diterapkan paralel hanya pada daerah atau otot yang sakit. Semprotan dilakukan 2 sampai 3 kali. Penyemprotan paling efektif ketika diarahkan dengan sudut lancip ke kulit (kira-kira 300), tidak tegak lurus. Penyemprotan diarahkan 30 cm (12 inci) dari kulit..25 Oklusal Splint. Terapi oklusal splint adalah suatu cara perawatan yang dapat diterima untuk pasien yang menderita gangguan Psychophysiologic dimana berhubungan dengan sendi temporomandibula. Splint, yang mana digunakan selama tidur meningkatkan occlusal vertical dimension (OVD) dan member kesempatan pergerakan eksentrik mandibula yang tidak terbatas dengan kontak oklusal posterior maksimum dalam seluruh posisi oklusal fungsional.Oklusal splint adalah alat plastik bening yang sesuai untuk gigi atas atau bawah dan mungkin direkomendasikan oleh dokter untuk membangun harmoni antara otot dan sendi. Oklusal splint bekerja untuk menjaga agar gigi pada rahang atas dan bawah tidak berkontak, sehingga dapat merelaksasi otot dan mengurangi rasa sakit yang menyertainya. Oklusal splint juga dapat mengubah posisi rahang, cukup untuk menstabilkan brukxisme dan mengurangi tekanan pada sendi. Hal ini mungkin tidak mudah digunakan untuk perawatan, tetapi merupakan pengobatan penting yang dapat berlangsung selama 3 bulan atau lebih.24 Permukaan oklusal dari alat berbentuk rata dan tidak mirirng serta adanya pemisahan dari gigi atas dan bawah (kira-kira 2 mm). Alat inin tidak dipakai secara terus-menerus, karena dapat menyebabkan over erupsi dari gigi geligi posterior. Umumnya dipakai pada malam hari, 5-6 jam sehari. Pada siang hari bila ada gejala, kadang dipakai sore dan awal malam hari. Pasien diberi tahu agar tidak menggigit kuat alat tersebut dan mengistirahatkan pemakaian alat sesuai anjuran dokter.