modul alergi imunologi intoksikasi

Click here to load reader

Post on 18-Jul-2015

201 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MODUL ALERGI IMUNOLOGI INTOKSIKASI Wanita Muda Dengan Keluhan Nyeri Sendi KELOMPOK V 030.08.049 Ayu Ningtiyas Nugroho 030.09.285 Zaki Audah 030.10.141 Jeni yuliana 030.10.155 Kumala Sari 030.10.162 Lukas Pria Salman 030.10.167 Made Ayundari Primarani 030.10.180 Mochammad Satrio Faiz 030.10.191 Muhammad Fadli Amir 030.10.202 Nanda Soraya 030.10.215 Olivia Ayu Andita 030.10.227 Rachel Silency Aritonang 030.10.239 Rizqa Azqa Hafizha 030.10.251 Shabrina Wista Adityaningrum 030.10.263 Tahari Bargas Prakoso 030.10.274 Ully Amri Suharyati

Jakarta, Maret 2012

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

BAB I PENDAHULUAN

Faktor imun dalam tubuh memiliki peran sangat penting. Terdapat beberapa penyakit yang disebabkan gangguan atau kelainan pada sistem imun antara lain lupus eritematosus. Penyakit lupus eritematosus merupakan penyakit sistemik autoimun yang bersifat kronis yang melibatkan multiorgan, seperti pada kulit, sistem saraf, ginjal, gastrointestinal, mata, juga rongga mulut. Etiologi lupus eritematosus belum bisa dipastikan tetapi terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskannya, dan semua teori tersebut memiliki patogenesis yang sama. Manifestasi klinis SLE sangat bervariasi dengan perjalanan penyakit yang sulit diduga, tidak dapat diobati, dan sering berakhir dengan kematian. Kelainan tersebut merupakan sindrom klinis disertai kelainan imunologik, seperti disregulasi sistem imun, pembentukan kompleks imun dan yang terpenting ditandai oleh adanya antibodi antinuklear, dan hal tersebut belum diketahui penyebabnya yang berkaitan dengan manifestasi klinik yang sangat luas pada satu atau beberapa organ tubuh, dan ditandai oleh inflamasi luas pada pembuluh darah dan jaringan ikat, bersifat episodik diselangi episode remisi. Lupus eritematosus merupakan penyakit sistemik autoimun kronis. Etiologi lupus eritmatosus, sama seperti penyakit autoimun lainnya sampai saat ini belum pasti, tetapi prognosis dapat baik bila diberikan terapi yang adekuat contohnya pada beberapa kasus lupus yang ringan, seperti pada penyakit yang bermanifestasi pada kulit. Angka kejadian penyakit ini cukup tinggi, baik di seluruh dunia maupun di negara berkembang termasuk Indonesia. Penatalaksanaan penyakit ini membutuhkan

2

kerjasama multidisiplin dan dukungan dari berbagai pihak.

Lupus Eritematosus sistemik merupakan penyakit yang jarang terjadi. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 5 juta orang mengidap lupus eritematosus. Penyakit lupus ditemukan baik pada wanita maupun pria, tetapi wanita lebih banyak dibanding pria yaitu 9:1, umumnya pada usia 18-65 tahun tetapi paling sering antara usia 25-45 tahun, walaupun dapat juga dijumpai pada anak usia 10 tahun. Insidensi lupus tidak diketahui, tetapi bervariasi menurut lokasi dan etnis. Tingkat prevalensi 4-250/100, 000 telah dilaporkan, dengan penurunan prevalensi putih dibandingkan dengan penduduk asli Amerika, Asia, Latin, dan Amerika. Walaupun awal awitan sebelum usia 8 tahun tidak biasa, lupus telah di diagnosis selama 1 tahun kehidupan. Dominasi perempuan bervariasi dari kurang dari 4:1 sebelum pubertas ke 8:1 sesudahnya. Insidens LES pada anak secara keseluruhan mengalami peningkatan, sekitar 15-17%. Penyakit LES jarang terjadi pada usia di bawah 5 tahun dan menjelang remaja. Perempuan lebih sering terkena dibanding laki-laki, dan rasio tersebut juga meningkat seiring dengan pertambahan usia. Prevalensi penyakit LES di kalangan penduduk berkulit hitam ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk berkulit putih. SLE ditemukan lebih banyak pada wanita keturunan ras Afrika-Amerika, Asia, Hispanik, dan dipengaruhi faktor sosioekonomi. Sebuah penelitian epidemiologi melaporkan insidensi rata-rata pada pria ras kaukasia yaitu 0,3-0,9 (per 100.000 orang per tahun); 0,7-2,5 pada pria keturunan ras Afrika-Amerika; 2,5-3,9 pada wanita ras Kaukasia; 8,1-11,4 pada wanita keturunan ras Afrika-Amerika. Menelusuri epidemiologi SLE merupakan hal yang sulit karena diagnosis dapat sukar dipahami.

3

BAB II LAPORAN KASUS

4

Sesi 1 Mulan, wanita 25 tahun, belum menikah, dating berobat kepada seorang GP dua tahun yang lalu dengan keluhan utama nyeri sendi pada kedua pergelangan tangan, jarijari tangan dan kedua pergelangan kaki. Pemeriksaan saat itu menunjukan semua tanda vital dalam batas normal. Nampak bercak kemerahan di kedua pipi dan lebih jelas di daerah sekitar hidung. Dalam anamnesis, bercak kemerahan tersebut muncul lebih hebat setelah terkena panas matahari antara 1 sampai 2 jam. Sendi-sendi pergelangan tangan dan jari-jari tangan nampak bengkak dan nyeri tekan. Pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Pada pemeriksaan laboratorium : Ht 35%, leukosit 9800/mm3, hitung jenis leukosit normal, LED 40 mm/jam, ANA positif 1 : 256.

BAB III PEMBAHASAN

5

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

6

A. Definisi Lupus Erythematosus Lupus erithematosus adalah suatu kondisi inflamasi yang berhubungan dengan sistem imunologis yang menyebabkan kerusakan multi organ. Lupus eritematosus didefinisikan sebagai gangguan autoimun, dimana sistem tubuh menyerang jaringannya sendiri. Terdapat beberapa spekulasi pendapat untuk istilah lupus eritematosus. Kata lupus dalam bahasa Latin berarti serigala, erythro berasal dari bahasa yunani yang berarti merah, sehingga lupus digambarkan sebagai daerah merah sekitar hidung dan pipi, yang dikenal dengan butterfly - shaped malar rash. Tetapi pendapat lain menyatakan istilah lupus bukan berasal dari bahasa Latin, melainkan dari istilah topeng perancis dimana dilaporkan wanita memakainya untuk menutupi ruam di wajahnya. Topeng ini dinamakan Loup,yang dalam bahasa perancis berarti serigala atau wolf dalam bahasa Inggris. B. Sejarah lupus eritematosus Sejarah penyakit lupus eritmatosus dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu (3) : 1. Periode Klasik Dimulai ketika penyakit ini ditemukan pada zaman abad pertengahan dan memperlihatkan gambaran adanya gangguan pada manifestasi kulit. Istilah lupus muncul pada abad 13 yaitu pada masa Rogerius, seorang tenaga medis yang mendeskripsikan classic malar rash, yaitu lesi berupa erosi pada kulit wajah yang menyerupai gigitan serigala. Sejarah lupus pada zaman klasik berdasarkan atas gambaran klinis berupa lesi di kulit yang meliputi lupus vulgaris, lupus profundus, lupus diskoid, dan fotosensitivitas pada ruam malar/ butterfly rash. Gambaran klasik penampakan kulit lupus dideskripsikan juga oleh beberapa penemu, yaitu: Thomas Bateman, seorang murid ahli kulit berkebangsaan Inggris Robert William, pada awal abad XIX, kemudian oleh Cazenave, seorang murid ahli kulit berkebangsaan Perancis Laurent Biett, pada tengah abad XIX, dan oleh Moriz Kaposi (Moriz Kohn), seorang murid dan menantu ahli kulit berkebangsaan Austria bernama Ferdinand von Hebra, pada akhir abad XIX Lesi berupa ruam diskoid pertama kali diperkenalkan pada tahun 1833 oleh Cazenave dengan nama eritema sentrifugum, sedangkan ruam 7

yang sekarang dikenal sebagai ruam malar pertama kali diperkenalkan oleh Hebra pada tahun 1846. Gambaran lupus eritematosus yang pertama kali dipublikasikan berasal dari tulisan von Hebra yang berjudul Atlas Penyakit Kulit, dipublikasikan pada tahun 1856. 2. Periode Neoklasikal Dimulai oleh Moric Kaposi pada tahun 1872 yang menemukan manifestasi penyakit sistemik. Kaposi mengemukakan dua tipe lupus eritematosus, yaitu tipe diskoid dan tipe disseminated. Kaposi juga menyebutkan beberapa tanda/gejala yang menggambarkan tipe disseminated, yaitu : nodul subkutan, artritis dengan hipertrofi, sinovial pada sendi kecil maupun besar, limfadenopati, demam, berat badan berkurang, anemia, keterlibatan SSP. 3. Periode Modern Mulai tahun 1984 ditemukan sel lupus eritematosus (sel LE) oleh Hargraves dkk. yang meneliti sel yang berasal dari sumsum tulang penderita lupus eritematposus tipe disseminated akut. Dua penanda imunologik pada penyakit lupus ditemukan pada tahun 1950, yaitu tes false-positif biologis untuk sifilis dan tes imunofluoresen untuk antinuclear antibodi. Ada dua kemajuan utama pada periode modern yaitu perkembangan studi lupus pada binatang, dan pengenalan aturan predisposisi genetik pada perkembangan lupus. C. Etiologi Lupus Eritematosus Sistemik Etiologi penyakit SLE masih belum terungkap dengan pasti tetapi diduga merupakan interaksi antara faktor genetik, faktor yang didapat dan faktor lingkungan. Apapun etiologinya, selalu terdapat predisposisi genetik yang menunjukkan hubungannya dengan antigen spesifik HLA (Human Leucocyte Antigen) / MHC (Major Histocompatybility Complex). Defek utama pada lupus eritematosus sistemik adalah disfungsi limfosit B, begitu juga supresor limfosit T yang berkurang, sehingga memudahkan terjadinya peningkatan autoantibody. Resiko meningkat 25-50% pada kembar identik dan 5% pada kembar dizygotic, menunjukkan kaitannya dengan faktor genetik. Fakta bahwa sebagian kasus bersifat sporadis tanpa diketahui faktor predisposisi genetiknya, 8

menunjukkan faktor lingkungan juga berpengaruh. Infeksi dapat menginduksi respon imun spesifik berupa molecular mimicry yang mengacau regulasi sistem imun. Tabel 1. Faktor Lingkungan yang mungkin berperan dalam patogenesis Lupus Eritematous Sistemik (dikutip dari Ruddy: Kelley's Textbook of Rheumatology, 6th ed 2001) Ultraviolet B light Hormon sex rasio penderita wanita : pria = 9:1 ; menarche : menopause = 3:1 Faktor diet Alfalfa sprouts dan sprouting foods yang mengandung L-canavanine; Pristane atau bahan yang sama; Diet tinggi saturated fats. Faktor Infeksi DNA bakteri; Human retroviruses; Endotoksin, lipopolisakarida bakteri Faktor paparan dengan obat tertentu : Hidralazin; Methyldopa; Interferon-a. Terdapat dua teori mengenai etiologi lupus, yaitu : Prokainamid; Isoniazid; Hidantoin; Antibodi Klorpromazin; anti-TNF-a ; D-Penicillamine; Minoksiklin;

9

Teori yang pertama menyebutkan bahwa pada perkembangan penyakit mulai dari gambaran awal sampa