mini project js

61
LAPORAN KEGIATAN MINI PROJECT JAMBAN SEHAT DI DUSUN ILOHELUMA DESA REJONEGORO KECAMATAN PAGUYAMAN KABUPATEN BOALEMO Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Dokter Internship Puskesmas Kecamatan Paguyaman Disusun Oleh: Dr. Eveline Hongo Dr. Hasnan Habib Dr. Kiagus M. Reza Dr. Maryam

Upload: hasnan-habib

Post on 15-Apr-2016

83 views

Category:

Documents


17 download

DESCRIPTION

Mini project js

TRANSCRIPT

Page 1: Mini project js

LAPORAN KEGIATAN MINI PROJECT

JAMBAN SEHAT DI DUSUN ILOHELUMA DESA REJONEGORO

KECAMATAN PAGUYAMAN KABUPATEN BOALEMO

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Dokter Internship

Puskesmas Kecamatan Paguyaman

Disusun Oleh:

Dr. Eveline Hongo

Dr. Hasnan Habib

Dr. Kiagus M. Reza

Dr. Maryam

PUSKESMAS PAGUYAMAN

BOALEMO

2015

Page 2: Mini project js

LEMBARAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN MINI PROJECT

JAMBAN SEHAT DI DUSUN ILOHELUMA DESA REJONEGORO KECAMATAN

PAGUYAMAN KABUPATEN BOALEMO

Disusun untuk memenuhi persyaratan program dokter internship

Puskesmas Kecamatan Paguyaman

Oleh:

Dr. Eveline Hongo

Dr. Hasnan Habib

Dr. Kiagus M. Reza

Dr. Maryam

Boalemo, Mei 2015

Telah disetujui :

Pembimbing

( dr. Ria Kumala)

Page 3: Mini project js

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat sehingga

kami dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun laporan penelitian mini project di Dusun

Iloheluma, Desa Rejonegoro, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi

Gorontalo.

Laporan ini merupakan hasil kegiatan mini project di Dusun Iloheluma, Desa

Rejonegoro, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Laporan ini

berjudul ” Jamban Sehat di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro Kecamatan Paguyaman

Kabupaten Boalemo”. Kegiatan yang kami lakukan dalam mini project ini mencakup survey

langsung kepada masyarakat dan juga penyuluhan kepada masyarakat di Dusun Iloheluma

Desa Rejonegoro.

Dalam usaha penyelesaian tugas laporan ini saya memperoleh banyak bimbingan dan

dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. dr.Ria Kumala, selaku dokter pembimbing internship di Puskesmas Paguyaman

Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

2. Bapak Haris Ahmad SKM, M.Kes, selaku kepala Puskesmas Paguyaman, Kabupaten

Boalemo, Gorontalo

3. Pihak Desa Rejonegoro yang telah berkenan memberikan bantuan berupa izin,

pengumpulan data, dan koordinasi masyarakat dalam pelaksanaan penelitian kami.

4. Pihak Puskesmas Paguyaman yang telah berkenan memberikan bantuan mengenai

data kesehatan masyarakat dan brosur kesehatan.

5. Bapak Kepala Desa Rejonegoro beserta warga yang telah mengizinkan dan membantu

terlaksananya penelitian kami sehingga berjalan lancar.

Page 4: Mini project js

6. Seluruh staf Puskesmas Paguyaman atas segala bantuannya dalam membantu dalam

penyusunan laporan ini.

7. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan

bantuannya demi kelancaran kegiatan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak

kekurangan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis menerima semua

saran dan kritik yang membangun guna penyempurnaan laporan ini.

Terima kasih.

Paguyaman , Mei 2015

Tim Penyusun

Page 5: Mini project js

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................i

KATA PENGANTAR......................................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................................iv

DAFTAR TABEL............................................................................................vii

DAFTAR GAMBAR........................................................................................viii

BAB I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang..................................................................................1

I.2.Pernyataan Masalah............................................................................2

I.3.Tujuan.................................................................................................2

I.3.1. Tujuan Umum...........................................................................2

I.3.2. Tujuan Khusus...........................................................................2

I.4 Manfaat...............................................................................................2

I.4.1. Bagi Penulis...............................................................................3

I.4.2. Bagi Profesi...............................................................................3

I.4.3. Bagi Masyarakat........................................................................3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Kesehatan Lingkungan.....................................................................4

II.2. Standar Prosedur Operasional Klinik Sanitasi.................................4

II.3. Tindak Lanjut Penyelesaian Masalah .............................................5

II.4. Jamban Sehat....................................................................................6

II.1.5 Syarat jamban sehat ………………………………………………..7

II.1.6 Indikator Jamban Sehat………………………………………………...7

42

Page 6: Mini project js

II.1.7. Bangunan Jamban (Latrine/water closet)..............................................9

II.1.8. Jenis-jenis Jamban Keluarga..................................................................10

BAB III. METODE

III. Analisis masalah.............................................................................17

BAB IV. HASIL MINI PROJECT ................................................................19

IV.1. Profil Komunitas Umum..............................................................19

IV.2. Data Geografi ..............................................................................20

IV.3. Data Demografik..........................................................................

IV.4. Sumber Daya Kesehatan yang Ada............................................

IV.5. Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada..............................

BAB V. DISKUSI........................................................................................21

V.1 Jenis data yang diambil..................................................................21

V.2 Ruang Lingkup Penelitian..............................................................21

V.3 Definisi Operasional .....................................................................21

V.4 Sasaran Penelitian..........................................................................21

V.5 Variabel Penelitian.........................................................................21

V.6 Definisi Operasional......................................................................22

V.7 Faktor inklusi dan eksklusi ...........................................................22

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1. Kesimpulan .................................................................................42

VI.2. Saran ...........................................................................................43

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................44

LAMPIRAN

42

Page 7: Mini project js

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Jumlah Penduduk Desa Rejonegoro ..................................................24

Tabel 2. Posyandu di desa Rejonegoro.............................................................24

Tabel 3. Kuesioner kepada responden dusun Iloheluma 2013.........................27

Tabel 4. Hasil Kuesioner……………………………………………………..28

Table 5. responden yang tidak memiliki jamban…………………………….30

Table 6. Responden sebagian besar BAB di Sungai………………………….30

Table 7. Respon sebagian besar mengatakan karena faktor ekonomi…………30

Tabel 8.Responden berpendidikan....................................................................30

42

Page 8: Mini project js

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Jarak Jamban dengan Sumber Air Bersih.......................................7

Gambar 2. Bidang Resapan..............................................................................9

Gambar 3. Jamban Cemplung...........................................................................10

Gambar 4. Jamban Cemplung berventilasi.......................................................10

Gambar 5. Jamban Leher Angsa.......................................................................11

42

Page 9: Mini project js

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang1

Sesuai dengan undang – undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang

kesehatan bab 1 pasal 1disebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan jiwa

dan social yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Target utama pembangunan kesehatan itu salah satunya yaitu kesehatan lingkungan.

Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang

keseimbangan kehidupan yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung

tercapainya kualitas hidup yang sehat. Menurut H. Bloom, tingkat derajat kesehatan manusia

dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu : faktor perilaku, genetik, lingkungan dan pelayanan

kesehatan. Dalam hal ini jelas bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap derajat

kesehatan manusia. Oleh karena itu perlu adanya perhatian yang serius dalam menangani

masalah-masalah kesehatan khususnya kesehatan lingkungan.

Dengan adanya upaya kesehatan lingkungan maka diharapkan meningkatnya jumlah

kawasan sehat, tempat-tempat umum sehat, tempat pariwisata sehat, tempat kerja sehat,

rumah dan bangunan sehat, sarana sanitasi, sarana air minum, dan sarana pembuangan

limbah.

Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan tinja

merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas.

Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat terutama dalam pelaksanaannya tidaklah

mudah, karena menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya

dengan perilaku, tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.

Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan  satu bahan

buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media

bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu

dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika.

Salah satu kegiatan promotif – preventif untuk menangulangi penyakit berbasis

lingkungan adalah pembangunan jamban keluarga, tetapi tingkat keberhasilannya masih jauh

dari diharapkan, salah satu indikator sehat 2010 adalah cakupan jamban keluarga minimal

84%.

42

Page 10: Mini project js

Di Jawa tengah pada tahun 2001, jumlak kk yang memanfaatkan jamban untuk tempat

buang air besar (BAB) yang memenuhi syarat sebesar 64,24 %. Kondisi tersebut masih

dibawah target nasional

Dari data SPM dapat diketahui cakupan penduduk yang memanfaatkan jamban di

wilayah kerja Puskesmas Paguyaman periode Januari-desember 2012 adalah 69%, sedangkan

target Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo adalah 75%. Sehingga angka pencapaian

penduduk yang memanfaatkan jamban masih kurang, yaitu sebesar 92%.

Dilihat dari Perilaku hidup bersih dan sehat, masyarakat Desa Rejonegoro khususnya

Dusun Iloheluma masih rendah angka kesadaran akan perilaku hidup sehat. Hal ini dapat

dilihat dari banyaknya perilaku buang air besar bukan dijamban yang sehat.

Menurut data keluarga hasil Survei Mawas Diri (SMD) kepemilikan jamban di Dusun

Iloheluma, dimana jumlah KK yang berhasil di survey ada 107, yang memiliki jamban

memenuhi syarat sebanyak 40 KK (37%), Ada Jamban tidak memenuhi syarat 21 KK (20

%), yang tidak memiliki jamban sebanyak 46 KK (43%).

1.2 Pernyataan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat dibuat perumusan masalah yaitu:

Kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak BAB di sembarang tempat

Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai jamban sehat

Kurangnya kepemilikan jamban sehat oleh masyarakat

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Menuju masyarakat ODF ( Open Defecation Free) di Dusun Iloheluma Desa

Rejonegoro

1.3.2 Tujuan khusus

Meningkatkan kesadaran masyarakatuntuk tidak BAB di sembarang tempat.

Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai jamban sehat

Meningkatkan kepemilikan jamban sehat oleh masyarakat

42

Page 11: Mini project js

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Penulis

Untuk menambah pengetahuan penulis tentang penyebab masih kurangnya

penduduk yang menggunakan jamban sehat di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro

serta dapat memberikan informasi tentang pengelolaan jamban yang baik.

.

1.4.2 Bagi Profesi

Hasil laporan ini dapat dijadikan data awal untuk merencanakan

penanggulangan masalah pemanfaatan jamban di Dusun Iloheluma Desa

Rejonegoro serta dapat dijadikan masukan untuk menyusun program dalam

rangka pemanfaatan jamban keluarga.

1.4.3 Bagi Masyarakat

Berdasarkan hasil kegiatan ini diharapkan pengetahuan warga Dusun

Iloheluma Desa Rejonegoro, dapat bertambah mengenai pentingnya

memanfaatkan jamban keluarga agar tercipta lingkungan yang sehat sesuai

dengan syarat kesehatan.

42

Page 12: Mini project js

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Landasan Teori

II.1.1. Kesehatan Lingkungan1,2

Kesehatan Lingkungan yang sehat adalah keadaan lingkungan yang tidak berisiko

atau berbahaya terhadap kesehatan dan keselamatan hidup manusia. Usaha kesehatan

lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup

manusia untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya.

Integrasi upaya kesehatan lingkungan dan upaya pemberantasan penyakit berbasis

lingkungan semakin relevan dengan diterapkannya Paradigma Sehat. Dengan paradigma ini,

maka pembangunan kesehatan lebih ditekankan pada upaya promotif-preventif, dibanding

upaya kuratif-rehabilitatif. Melalui Klinik Sanitasi ke tiga unsur pelayanan kesehatan yaitu

promotif, preventif, dan kuratif dilaksanakan secara integratif melalui pelayanan kesehatan

program pemberantasan penyakit berbasis lingkungan di luar maupun di dalam gedung.

II.1.2 Standar Prosedur Operasional Klinik Sanitasi 1,2

Standar prosedur operasional (Standard Operational Procedur / SOP) klinik sanitasi

secara umum meliputi SOP di dalam gedung (puskesmas) dan di luar gedung (lapangan).

a. Dalam Gedung

Di dalam gedung puskesmas, petugas klinik sanitasi melakukan langkah-langkah

kegiatan terhadap penderita/pasien dan klien.

1) Menerima kartu rujukan status dari petugas poliklinik.

2) Mempelajari kartu status/rujukan tentang diagnosis oleh petugas poliklinik.

3) Menyalin dan mencatat nama penderita atau keluarganya, karakteristik penderita

yang meliputi umur, jenis kelamin, pekerjaan dan alamat, serta diagnosis

penyakitnya ke dalam buku register.

4) Melakukan wawancara atau konseling dengan penderita/keluarga, penderita

tentang kejadian penyakit, keadaan lingkungan, dan perilaku yang diduga

berkaitan dengan kejadian penyakit dengan mengacu pada buku ‘Pedoman Teknis 42

Page 13: Mini project js

Klinik Sanitasi untuk Puskesmas dan Panduan Konseling Bagi Petugas Klinik

Sanitasi di Puskesmas.

5) Membantu menyimpulkan permasalahan lingkungan atau perilaku yang berkaitan

dengan kejadian penyakit yang diderita.

6) Memberikan saran tindak lanjut sesuai permasalahan.

7) Bila diperlukan, membuat kesepakatan dengan penderita atau keluarganya tentang

jadwal kunjungan lapangan.

b. Luar Gedung

Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati antara penderita / klien atau

keluarganya dengan petugas, petugas klinik sanitasi melakukan kunjungan

lapangan/rumah dan diharuskan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Mempelajari hasil wawancara atau konseling di dalam gedung (Puskesmas).

2) Menyiapkan dan membawa berbagai peralatan dan kelengkapan lapangan yang

diperlukan seperti formulir kunjungan lapangan, media penyuluhan, dan alat

sesuai dengan jenis penyakitnya.

3) Memberitahu atau menginformasikan kedatangan kepada perangkat

desa/kelurahan (kepala desa/lurah, sekretaris, kepala dusun, atau ketua RW/RT)

dan petugas kesehatan / bidan di desa.

4) Melakukan pemeriksaan dan pengamatan lingkungan dan perilaku dengan

mengacu pada Buku Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas, sesuai

dengan penyakit/masalah yang ada.

5) Membantu menyimpulkan hasil kunjungan lapangan.

6) Memberikan saran tindak lanjut kepada sasaran (keluarga penderita dan keluarga

sekitar).

7) Apabila permasalahan yang ditemukan menyangkut sekelompok keluarga atau

kampung, informasikan hasilnya kepada petugas kesehatan di desa / kelurahan,

perangkat desa/kelurahan (kepala desa / lurah, sekretaris, kepala dusun atau ketua

RW/RT), kader kesehatan lingkungan serta lintas sektor terkait di tingkat

kecamatan untuk dapat di tindak lanjut secara bersama.

II.1.3 Tindak Lanjut dan Penyelesaian Masalah3

a. Tindak Lanjut

42

Page 14: Mini project js

Tujuan tindak lanjut adalah untuk mengetahui perkembangan penyelesaian

permasalahan kesehatan lingkungan sesuai dengan rencana dan saran. Kegiatan tindak

lanjut ini dapat dilakukan secara insidentil dan berkala. Kegiatan tindak lanjut

diarahkan untuk :

Mengetahui realisasi atau kesesuaian antara rencana tindak lanjut penyelesaian

masalah kesehatan lingkungan dengan kenyataan

Keterlibatan masyarakat, lintas program dan lintas sektor dalam perbaikan /

penyelesaian masalah kesehatan lingkungan

Perkembangan kejadian penyakit dan permasalahan kesehatan lingkungan

b. Pencatatan dan Pelaporan

Data kegiatan klinik sanitasi dicatat ke dalam buku register untuk kemudian

diolah dan dianalisis. Selain berguna untuk bahan tindak lanjut kunjungan lapangan

serta keperluan monitoring dan evaluasi, data yang ada dapat dibuat bahan

perencanaan kegiatan selanjutnya. Seluruh kegiatan klinik sanitasi dan hasilnya

dilaporkan secara berkala kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai

dengan format laporan yang ada.

c. Penyelesaian Masalah

Penyelesaian masalah kesehatan lingkungan, terutama masalah yang menimpa

sekelompok keluarga atau kampung dapat dilaksanakan secara musyawarah dan

gotong royong oleh masyarakat dengan bimbingan teknis dari petugas sanitasi dan

lintas sektor terkait.

Apabila dengan cara demikian tidak tuntas dan atau untuk perbaikannya

memerlukan pembiayaan yang cukup besar, maka penyelesaian dianjurkan untuk

mengikuti mekanisme perencanaan yang ada, mulai perencanaan di tingkat desa,

perencanaan tingkat kecamatan dan perencanaan tingkat kabupaten/kota. Petugas

sanitasi juga dapat membantu mengusulkan kegiatan perbaikan kesehatan

lingkungan tersebut kepada sektor terkait.

II.1.4. Jamban Sehat

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia

yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa

42

Page 15: Mini project js

(cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk

membersihkannya.

II. 1.5 Syarat jamban sehat

a. Tidak mencemari tanah sekitarnya

b. Mudah dibersihkan dan aman digunakan

c. Dilengkapi dinding dan atap pelindung

d. Penerangan dan ventilasi cukup

e. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai

f. Tersedia air dan alat pembersih

II.1.6 Indikator suatu Jamban telah mencemari lingkungan sekitar yaitu

Apakah penampungan akhir kotoran/jamban berjarak kurang dari 10 m dengan

sumber air ? Nilai Ya = 3, Tidak = 0

Apakah penutup sumur resapan jamban (penampungan akhir kotoran) tidak kedap air?

: Nilai Ya = 3, Tidak = 0

Apakah konstruksi jamban memungkinkan binatang penyebar penyakit menjamah

kotoran dalam jamban? Nilai Ya = 3, Tidak = 0

Apakah jamban menimbulkan bau? Nilai Ya = 1, Tidak = 0

Apakah jamban tidak selalu terjaga kebersihannya? Nilai Ya = 2, Tidak = 0

Skoring Tingkat resiko untuk mencemari lingkungan: Ringan 0-2, Sedang 3-4, Tinggi 5-8 ,

Amat tinggi 9-11.

II.1.7. Pengelolaan Pembuangan Tinja 1,2

Untuk mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan

kotoran manusia harus dikelola dengan baik yaitu harus di suatu tempat tertentu atau

jamban yang sehat. Jamban Sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi

persyaratan – persyaratan sebagai berikut :

1. Tidak mencemari air

a. Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak

mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar

lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester.

b. Jarak lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter42

Page 16: Mini project js

c. Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang

kotoran tidak merembes dan mencemari sumur.

Gambar1. Jarak Jamban

dengan sumber air bersih

2. Tidak mencemari tanah permukaan

a. Tidak buang air besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat

sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan.

b. Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, kemudian

kotoran ditimbun di lubang galian.

3. Bebas dari serangga

a. Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap minggu.

Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah.

b. Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi sarang

nyamuk.

c. Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang dapat menjadi

sarang kecoa atau serangga lainnya.

d. Lantai jamban harus selalu bersih dan kering.

e. Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup.

4. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan

a. Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap selesai

digunakan.

b. Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup rapat

oleh air.

c. Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk

membuang bau dari dalam lubang kotoran.

5. Aman digunakan oleh pemakainya

Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran

dengan pasangan bata atau selongsong anyaman bambu atau bahan penguat lain yang

terdapat di daerah setempat.

42

Page 17: Mini project js

6. Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya

a. Lantai jamban rata dan miring dari saluran lubang kotoran.

b. Jangan membuang sampah, rokok, atau benda lain ke saluran kotoran karena dapat

menyumbat saluran.

c. Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan

cepat penuh.

d. Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa berdiameter

minimal 4 inci. Letakkan pipa dengan kemiringan minimal 2:100.

7. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan

a. Jamban harus berdinding dan berpintu.

b. Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari

kehujanan dan kepanasan.

II.1.8. Bangunan Jamban (Latrine / water closet)

Bangunan Jamban yang memenuhi syarat kesehatan terdiri dari :

1. Rumah kakus : Syarat – syarat rumah kakus antara lain; Sirkulasi udara

cukup, bangunan mampu menghindarkan pengguna terlihat dari luar, bangunan

dapat meminimalkan gangguan cuaca (baik musim panas maupun musim hujan),

kemudahan akses di malam hari, ketersediaan fasilitas penampungan air dan

tempat sabun untuk cuci tangan.

2. Lantai kakus : Sebaiknya diplester agar mudah dibersihkan.

3. Slab : Berfungsi sebagai penutup sumur tinja (pit) dan dilengkapi dengan tempat

berpijak. Pada jamban cemplung, slab dilengkapi dengan penutup, sedangkan

pada kondisi jamban berbentuk bowl (leher angsa) fungsi penutup ini digantikan

oleh keberadaan air yang secara otomatis tertinggal di didalamnya. Slab dibuat

dari bahan yang cukup kuat untuk menopang penggunanya. Bahan-bahan yang

digunakan harus tahan lama dan mudah dibersihkan seperti kayu, beton, bambu

dengan tanah liat, pasangan bata, dan sebagainya.

4. Closet : Lubang tempat faeces masuk.

5. Pit : Sumur penampung faeces / cubluk.

6. Bidang resapan.

42

Page 18: Mini project js

Gambar 2. Bidang Resapan

II.1.9 Jenis – jenis Jamban keluarga 1,2,4

1. Jamban Cemplung (pit latrine)

Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan tapi kurang sempurna,

misalnya tanpa rumah jamban. Pada jamban ini, kotoran langsung masuk ke jamban dan

tidak boleh terlalu dalam sebab bila terlalu dalam akan mengotori air tanah dibawahnya.

Dalamnya pit latrine berkisar antara 1,5 – 3 meter saja. Jarak dari sumber air minum

sekurang-kurangnya 15 meter.

Gambar 3. Jamban Cemplun

2. Jamban Cemplung Berventilasi (Ventilation Improved Pit Latrine)

Jamban ini hampir sama dengan jamban cemplung, bedanya lebih lengkap,

yakni menggunakan ventilasi pipa. Untuk daerah pedesaan pipa ventilasi ini dapat dibuat

dengan bambu.42

Page 19: Mini project js

Gambar 4. Jamban Cemplung Berventilasi (Ventilasi Improved Pit Latrine) Sumber :

Tampubolon, 2000.

3. Watersealed Laterine (Angsa Trine)

Jamban tanki septik/leher angsa: Adalah jamban berbentuk leher angsa sehingga akan

selalu terisi air. Fungsi air ini sebagai sumbat bau bususk dari cubluk sehingga tidak tercium

di ruangan rumah kakus. Bila dipakai, faecesnya tertampung sebentar dan bila disiram air,

baru masuk ke bagian yang menurun untuk masuk ke tempat penampungannya (pit).

Penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses

penguraian/dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapannya. Kakus ini

yang terbaik dan dianjurkan dalam kesehatan lingkungan.

Gambar 5. Jamban leher angsa

42

Page 20: Mini project js

BAB III

METODE MINI PROJECT

III.1. Sasaran Kegiatan

Kegiatan ini diikuti oleh warga Dusun Iloheluma, Desa Rejonegoro yang masih

menggunakan jamban cemplung tanpa tutup serta dihadiri pula oleh ibu-ibu Dusun

Iloheluma.

III.2 Bentuk Kegiatan

Pengisian kuisioner (pre-test)

Penyuluhan mengenai jamban sehat

Pengisian kuisioner (post-test)

III.3 Pelaksanaan Kegiatan

No Tanggal Kegiatan Pelaksana

1 11 Maret – 10 April 2015 Perencanaan kegiatan dr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

2 14 April 2015 Meminta izin kepada kepala desa dr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

3 15 April – 17 April 2015 Persiapan kegiatan dan koordinasi dr. Eveline

42

Page 21: Mini project js

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

Bidan Nita

4 18 April dan 21 April

2015

Penyebaran kuisioner (pre-test) dr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

5 18 Mei 2015 Penyuluhan tentang jamban sehat

Pengisian kuisioner (post test)

dr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

42

Page 22: Mini project js

BAB IV

HASIL MINI PROJECT

42

Page 23: Mini project js

IV. 1 Profil Komunitas Umum

Profil komunitas wilayah Dusun Iloheluma secara umum adalah masyarakat

pedesaan.

IV.2 Data Geografi

IV.2.1 Letak wilayah

Dusun Iloheluma terletak di wilayah Desa Rejonegoro, Kecamatan

Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.

IV.2.2 Batas wilayah

Wilayah Desa Rejonegoro dibatasi oleh:

a. Sebelah Utara : Desa Diloniyohu

b. Sebelah Timur : Desa Tangkobu

c. Sebelah Selatan : Desa Bubaa

d. Sebelah Barat : Desa Sosial

IV.2.3 Luas Wilayah

Luas wilayah Desa Rejonegoro 830,95 hektar.

IV.3 Data Demografi

IV.3.1 Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Dusun Iloheluma tahun 2015 adalah 463 jiwa dan jumlah

KK adalah 128.

IV.3.2 Data Penduduk

Penduduk Dusun Iloheluma sebanyak 463 jiwa, terdiri dari 128 KK, 249 laki

– laki dan 214 perempuan. Mayoritas beragama Islam. (Sumber : Kantor Desa

Rejonegoro)

Tabel 1. Jumlah penduduk Desa Rejonegoro tahun 2013

42

Page 24: Mini project js

NO Dusun

Jumlah

Jiwa KK

1 Bulonggala 365 98

2 Oliday 417 113

3 Iloheluma 463 128

4 Batu Merah 143 37

Jumlah 1.388 376

Tabel 2. Posyandu di Desa Rejonegoro

No. Dusun Jumlah Posyandu

1 Bulonggala 1

2 Iloheluma 1

Jumlah 2

(Sumber : Balai Desa Rejonegoro)

IV. 4 Sumber Daya Kesehatan yang Ada

Di Dusun Iloheluma terdapat 1 bidan desa.

IV. 5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada

Di Dusun Iloheluma terdapat 1 kelompok Posyandu.

42

Page 25: Mini project js

IV. Data Kesehatan Masyarakat

IV. 1. Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat Dusun Iloheluma

Pengetahun dan perilaku masyarakat Dusun Iloheluma kami dapatkan berdasarkan

kuisioner yang dibagikan kepada warga pada tanggal 18 April dan 21 April 2015. Jumlah

warga yang hadir sebanyak 56 orang. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan

posyandu. Kegiatan ini juga dihadiri oleh 4 dokter internship, 1 orang bidan, dan 2 staf

puskesmas.

Kegiatan dibuka oleh bidan Nita selaku bidan Desa Rejonegoro dilanjutkan dengan

pengisian kuisioner oleh warga yang hadir. Isi dari kuisioner adalah data diri, pengetahuan,

dan perilaku warga mengenai jamban sehat, kebiasaan buang air besar, dan keinginan

memiliki jamban sehat.

Dari hasil kuisioner didapatkan hasil data sebagai berikut:

Dari 56 orang yang hadir didapatkan 34 orang yang hadir adalah perempuan dan 22

orang laki-laki.

42

Page 26: Mini project js

Dari 56 orang yang hadir sebagian besar berpendidikan SD sebesar 46%, SMP

sebanyak 30%, SMA sebanyak 9%, perguruan tinggi 2%, dan tidak sekolah sebanyak 13%.

Sebanyak 57 % orang yang hadir adalah ibu rumah tangga, 25 % sebagai petani, 13 %

pedagang, dan 5 % lainnya. Pada pilihan lain-lain ini beberapa warga berprofesi sebagai

buruh dan supir.

42

Page 27: Mini project js

Dari 56 orang yang hadir, sebanyak 36 orang memiliki penghasilan kurang dari Rp.

500.000,-, 17 orang memiliki penghasilan Rp. 500.000,- sampai Rp. 1.000.000,-, dan 3 orang

memiliki penghasilan lebih dari Rp. 1.000.000,-.

Sebagian besar warga yang hadir belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang

jamban sehat, yaitu sebesar 75 %. Yang sudah pernah mendapatkan penyuluhan tentang

jamban sehat yaitu sebesar 25 %.

Sebanyak 70 % warga yang hadir mengetahui bahwa BAB di sungai/ kolam dapat

mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit. Sedangkan 30 % warga tidak mengetahui

bahwa BAB di sungai/ kolam dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit.

42

Page 28: Mini project js

Sebanyak 55 % warga yang hadir mengetahui tentang jamban sehat. Sedangkan 45 %

warga tidak mengetahui jamban sehat.

Sebanyak 35 % warga yang hadir mengetahui cara membangun jamban sehat.

Sedangkan 65 % warga tidak mengetahui cara membangun jamban sehat.

42

Page 29: Mini project js

Sebanyak 79 % warga yang hadir tidak mengetahui jarak ideal antara sumber air dan

jamban. Sedangkan 21 % warga mengetahui jarak ideal antara sumber air dan jamban.

Sebanyak 71 % warga yang hadir berpendapat lantai jamban tidak perlu diplester.

Sedangkan 29 % warga berpendapat lantai jamban perlu diplester.

Sebanyak 86 % warga yang hadir berpendapat jamban perlu memiliki dinding, atap,

dan pintu. Sedangkan 14 % warga berpendapat lantai jamban perlu memiliki dinding, atap,

dan pintu.

42

Page 30: Mini project js

Sebanyak 68 % warga yang hadir tidak memiliki jamban di rumah. Sedangkan 32 %

warga tidak memiliki jamban di rumah.

Sebanyak 61 % warga memiliki jamban leher angsa, 28 % memiliki jamban cemplung

tanpa tutup, dan 11 % memiliki jamban cemplung dengan tutup.

42

Page 31: Mini project js

Seluruh warga selalu mencuci tangan setelah buang air besar.

Sebanyak 57 % warga buang air besar di WC umum, 32 % warga buang air besar di

jamban keluarga, dan 11% di sungai.

Sebanyak 91 % warga tidak menggunakan jamban sehat karena faktor ekonomi.

Sedangka 9 % warga tidak menggunakan jamban sehat karena praktis.

IV. 2. Penyuluhan Jamban Sehat

Penyuluhan tentang jamban sehat dilakukan di posyandu wilayah Dusun Iloheluma.

Kegiatan ini dilakukan untuk memberi pengetahuan mengenai pentingnya jamban sehat,

fungsi jamban sehat, dan cara membangun jamban sehat. Kegiatan ini bertujuan untuk

memicu keinginan masyarakat setempat yang belum memiliki jamban agar berusaha

memiliki jamban dan masyarakat yang belum memiliki jamban sehat memperbaiki jamban

mereka agar lebih sehat sehingga tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit.

42

Page 32: Mini project js

Hasil kegiatan ini adalah sebagai berikut :

No Tanggal Tempat Peserta

1 18 Mei 2015 Posyandu Dusun

Iloheluma

34 orang

IV. 3. Evaluasi hasil kuisioner post test

Evaluasi dilakukan oleh 4 dokter internship dengan menyebarkan kuisioner post test

yang isinya sama seperti kuisioner sebelumnya sehingga dapat diperoleh perbandinga

pengetahuan dan perilaku sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan.

Dari 34 orang yang hadir didapatkan 31 orang yang hadir adalah perempuan dan 3

orang laki-laki.

42

Page 33: Mini project js

Dari 34 orang yang hadir sebagian besar berpendidikan SD sebesar 64%, SMP

sebanyak 24%, SMA sebanyak 6%, perguruan tinggi 0%, dan tidak sekolah sebanyak 6%.

Sebanyak 53 % orang yang hadir adalah ibu rumah tangga, 26 % sebagai petani, 6 %

pedagang, dan 15 % lainnya. Pada pilihan lain-lain ini beberapa warga berprofesi sebagai

buruh.

42

Page 34: Mini project js

Dari 56 orang yang hadir, sebanyak 24 orang memiliki penghasilan kurang dari Rp.

500.000,-, 9 orang memiliki penghasilan Rp. 500.000,- sampai Rp. 1.000.000,-, dan 1 orang

memiliki penghasilan lebih dari Rp. 1.000.000,-.

Seluruh warga yang hadir telah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat.

Seluruh warga yang hadir mengetahui bahwa BAB di sungai/ kolam dapat mencemari

lingkungan dan menimbulkan penyakit.

42

Page 35: Mini project js

Sebanyak 76 % warga yang hadir mengetahui tentang jamban sehat. Sedangkan 24 %

warga tidak mengetahui jamban sehat.

Sebanyak 45 % warga yang hadir mengetahui cara membangun jamban sehat.

Sedangkan 55 % warga tidak mengetahui cara membangun jamban sehat.

42

Page 36: Mini project js

Sebanyak 65 % warga yang hadir tidak mengetahui jarak ideal antara sumber air dan

jamban. Sedangkan 35 % warga mengetahui jarak ideal antara sumber air dan jamban.

Sebanyak 59 % warga yang hadir berpendapat lantai jamban tidak perlu diplester.

Sedangkan 41 % warga berpendapat lantai jamban perlu diplester.

Sebanyak 94 % warga yang hadir berpendapat jamban perlu memiliki dinding, atap,

dan pintu. Sedangkan 6 % warga berpendapat lantai jamban perlu memiliki dinding, atap, dan

pintu.

42

Page 37: Mini project js

Sebanyak 59 % warga yang hadir tidak memiliki jamban di rumah. Sedangkan 41 %

warga tidak memiliki jamban di rumah.

Sebanyak 43 % warga memiliki jamban leher angsa, 38 % memiliki jamban cemplung

tanpa tutup, dan 19 % memiliki jamban cemplung dengan tutup.

42

Page 38: Mini project js

Seluruh warga selalu mencuci tangan setelah buang air besar.

Sebanyak 53 % warga buang air besar di WC umum, 41 % warga buang air besar di

jamban keluarga, dan 6 % di sungai.

Seluruh warga tidak menggunakan jamban sehat karena faktor ekonomi.

42

Page 39: Mini project js

IV. 4. Perbandingan hasil pre test dan post test

Pada saat pre test dilakukan jumlah peserta yang hadir perempuan lebih banyak

dibanding laki-laki. Pada saat post test juga demikian, jumlah peserta yang hadir perempuan

lebih banyak dibanding laki-laki.

Sebagian besar warga yang hadir pada saat dilakukan pre tes dan post tes memiliki

pendidikan terakhir SD, kemudian SMP, tidak sekolah, dan SMA. Warga yang memiliki

pendidikan terakhir perguruan tinggi hanya sedikit.

42

Page 40: Mini project js

Sebagian besar warga yang hadir pada saat dilakukan pre tes dan post tes memiliki

pekerjaan ibu rumah tangga, kemudian petani dan pedagang. Pekerjaan yang termasuk lain-

lain adalah buruh dan supir.

Sebagian besar warga yang hadir memiliki penghasilan kurang dari Rp. 500.000,-,

kemudian Rp. 500.000,. – Rp. 1000.000,-. Yang memiliki penghasilan lebih dari Rp.

1000.000,- hanya sedikit.

42

Page 41: Mini project js

Pada saat pre tes sebagian besar warga belum pernah mendapatkan penyuluhan

tentang jamban sehat, kemudian setelah penyuluhan seluruh warga yang hadir telah

mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan

pengetahuan warga bahwa BAB sembarangan dapat mencemari lingkungan dan

menimbulkan penyakit.

42

Page 42: Mini project js

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan

pengetahuan tentang jamban sehat.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan

pengetahuan tentang cara membangun jamban sehat.

42

Page 43: Mini project js

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan

pengetahuan tentang jarak ideal antara jamban dengan sumber air bersih.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan

pengetahuan warga bahwa lantai jamban perlu diplester.

42

Page 44: Mini project js

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan

pengetahuan warga bahwa jamban perlu memiliki dinding, atap, dan pintu.

Sebagian besar warga yang hadir tidak memiliki jamban di rumah baik saat dilakukan

pre tes maupun post tes.

42

Page 45: Mini project js

Sebagian besar warga yang memiliki jamban, mempunyai jamban jenis leher angsa

baik pada saat dilakukan pre tes maupun post tes.

Seluruh warga yang hadir selalu mencuci tangan setelah buang air besar baik pada

saat dilakukan pre tes maupun post tes.

42

Page 46: Mini project js

Sebagian besar warga yang hadir biasanya BAB di WC umum baik pada saat

dilakukan pre tes maupun post tes.

Hampir seluruh warga yang hadir tidak memiliki jamban sehat karena faktor ekonomi

baik pada saat dilakukan pre tes maupun post tes.

42

Page 47: Mini project js

BAB V

DISKUSI

Dari hasil diskusi bersama tim puskesmas diperoleh bahwa kegiatan ini bermanfaat

bagi masyarakat, khususnya masyarakat Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro. Materi-materi

yang diberikan saat penyuluhan kesehatan pada kegiatan ini dapat menambah pengetahuan

masyarakat tentang jamban sehat dan berbagai manfaatnya. Kegiatan ini juga meningkatkan

kesadaran masyarakat untuk tidak BAB di sembarang tempat dan memicu masyarakat untuk

membangun jamban sehat yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Desa Siaga dan aparat pemeritah setempat diharapkan dapat menindaklanjuti kegiatan

ini dengan membuat penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk

mencegah kjadian BAB di sembarang tempat, membuat suatu mekanisme monitoring yang

dibuat masyarakat untuk mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat dan membuat suatu

upaya atau strategi yang jelas dan tertulis untuk dapat mencapai sanitasi total. Hal ini untuk

mewujudkan masyarakat Dusun Iloheluma ODF.

42

Page 48: Mini project js

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah melakukan analisis kemungkinan penyebab masalah rendahnya jumlah

jamban sehat di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro dengan menggunakan metode kuesioner

dan juga melakukan konfirmasi ke bagian Program Kesehatan Lingkungan, maka didapatkan

penyebab masalah yang mungkin, antara lain karena faktor ekonomi oleh terbatasnya dana

untuk membangun jamban dan septik tank sendiri di dusun tersebut, pengetahuan masyarakat

mengenai jamban sehat yang masih rendah, dan kurangnya pengetahuan masyarakat

mengenai cara membangun jamban sehat sederhana.

Dengan adanya kegiatan ini masyarakat diharapkan dapat membuat jamban mereka

lebih memenuhi kriteria jamban sehat. Sehingga jamban yang ada dapat benar-benar

memutus mata rantai penyakit. Kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan suatu landasan untuk

menuju masyarakat Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro ODF.

Saran dari kegiatan ini adalah tindak lanjut untuk deklarasi Dusun Iloheluma Desa

Rejonegoro ODF. Untuk itu dibutuhkan dukungan dan kerja sama yang baik dengan desa

siaga serta aparat pemerintah desa setempat. Dan semoga kegiatan-kegiatan serupa yang

bertujuan membuat masyarakat ODF dapat dilaksanakan di seluruh desa di wilayah

Kecamatan Paguyaman, sehingga dapat mewujudkan Kecamatan Paguyaman ODF

selanjutnya menuju sanitasi total.

42