mini project js

of 61/61
LAPORAN KEGIATAN MINI PROJECT JAMBAN SEHAT DI DUSUN ILOHELUMA DESA REJONEGORO KECAMATAN PAGUYAMAN KABUPATEN BOALEMO Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Dokter Internship Puskesmas Kecamatan Paguyaman Disusun Oleh: Dr. Eveline Hongo Dr. Hasnan Habib Dr. Kiagus M. Reza Dr. Maryam

Post on 15-Apr-2016

70 views

Category:

Documents

17 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Mini project js

TRANSCRIPT

LAPORAN KEGIATAN MINI PROJECT

JAMBAN SEHAT DI DUSUN ILOHELUMA DESA REJONEGORO KECAMATAN PAGUYAMAN KABUPATEN BOALEMODisusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Dokter Internship

Puskesmas Kecamatan Paguyaman

Disusun Oleh:

Dr. Eveline Hongo

Dr. Hasnan Habib

Dr. Kiagus M. Reza

Dr. Maryam

PUSKESMAS PAGUYAMANBOALEMO2015LEMBARAN PENGESAHANLAPORAN KEGIATAN MINI PROJECTJAMBAN SEHAT DI DUSUN ILOHELUMA DESA REJONEGORO KECAMATAN PAGUYAMAN KABUPATEN BOALEMO

Disusun untuk memenuhi persyaratan program dokter internship

Puskesmas Kecamatan Paguyaman

Oleh:

Dr. Eveline Hongo

Dr. Hasnan Habib

Dr. Kiagus M. Reza

Dr. Maryam

Boalemo, Mei 2015Telah disetujui :

Pembimbing ( dr. Ria Kumala)KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat sehingga kami dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun laporan penelitian mini project di Dusun Iloheluma, Desa Rejonegoro, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.

Laporan ini merupakan hasil kegiatan mini project di Dusun Iloheluma, Desa Rejonegoro, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Laporan ini berjudul Jamban Sehat di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro Kecamatan Paguyaman Kabupaten Boalemo. Kegiatan yang kami lakukan dalam mini project ini mencakup survey langsung kepada masyarakat dan juga penyuluhan kepada masyarakat di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro. Dalam usaha penyelesaian tugas laporan ini saya memperoleh banyak bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :1. dr.Ria Kumala, selaku dokter pembimbing internship di Puskesmas Paguyaman Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

2. Bapak Haris Ahmad SKM, M.Kes, selaku kepala Puskesmas Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Gorontalo

3. Pihak Desa Rejonegoro yang telah berkenan memberikan bantuan berupa izin, pengumpulan data, dan koordinasi masyarakat dalam pelaksanaan penelitian kami.

4. Pihak Puskesmas Paguyaman yang telah berkenan memberikan bantuan mengenai data kesehatan masyarakat dan brosur kesehatan.

5. Bapak Kepala Desa Rejonegoro beserta warga yang telah mengizinkan dan membantu terlaksananya penelitian kami sehingga berjalan lancar.

6. Seluruh staf Puskesmas Paguyaman atas segala bantuannya dalam membantu dalam penyusunan laporan ini.

7. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuannya demi kelancaran kegiatan ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis menerima semua saran dan kritik yang membangun guna penyempurnaan laporan ini.Terima kasih.

Paguyaman , Mei 2015

Tim PenyusunDAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHANi

KATA PENGANTARii

DAFTAR ISIiv

DAFTAR TABELvii

DAFTAR GAMBARviii

BAB I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang................................................................1

I.2.Pernyataan Masalah2

I.3.Tujuan2

I.3.1. Tujuan Umum2

I.3.2. Tujuan Khusus2

I.4 Manfaat2

I.4.1. Bagi Penulis3

I.4.2. Bagi Profesi3

I.4.3. Bagi Masyarakat3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Kesehatan Lingkungan4

II.2. Standar Prosedur Operasional Klinik Sanitasi4

II.3. Tindak Lanjut Penyelesaian Masalah 5

II.4. Jamban Sehat6II.1.5 Syarat jamban sehat..7

II.1.6 Indikator Jamban Sehat...7II.1.7. Bangunan Jamban (Latrine/water closet)9II.1.8. Jenis-jenis Jamban Keluarga10

BAB III. METODE

III. Analisis masalah17BAB IV.HASIL MINI PROJECT 19 IV.1. Profil Komunitas Umum19 IV.2. Data Geografi 20 IV.3. Data Demografik

IV.4. Sumber Daya Kesehatan yang Ada............................................

IV.5. Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada..............................BAB V.

DISKUSI21V.1 Jenis data yang diambil21V.2 Ruang Lingkup Penelitian21

V.3 Definisi Operasional 21V.4 Sasaran Penelitian21V.5 Variabel Penelitian21

V.6 Definisi Operasional22V.7 Faktor inklusi dan eksklusi 22

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1. Kesimpulan 42VI.2. Saran 43DAFTAR PUSTAKA 44LAMPIRANDAFTAR TABELHalaman

Tabel 1. Jumlah Penduduk Desa Rejonegoro 24

Tabel 2. Posyandu di desa Rejonegoro24Tabel 3. Kuesioner kepada responden dusun Iloheluma 201327

Tabel 4. Hasil Kuesioner..28

Table 5. responden yang tidak memiliki jamban.30

Table 6. Responden sebagian besar BAB di Sungai.30

Table 7. Respon sebagian besar mengatakan karena faktor ekonomi30Tabel 8.Responden berpendidikan30DAFTAR GAMBARHalaman

Gambar 1. Jarak Jamban dengan Sumber Air Bersih7Gambar 2. Bidang Resapan9Gambar 3. Jamban Cemplung10Gambar 4. Jamban Cemplung berventilasi10Gambar 5. Jamban Leher Angsa11BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang1Sesuai dengan undang undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan bab 1 pasal 1disebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan jiwa dan social yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.Target utama pembangunan kesehatan itu salah satunya yaitu kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan kehidupan yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya kualitas hidup yang sehat. Menurut H. Bloom, tingkat derajat kesehatan manusia dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu : faktor perilaku, genetik, lingkungan dan pelayanan kesehatan. Dalam hal ini jelas bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap derajat kesehatan manusia. Oleh karena itu perlu adanya perhatian yang serius dalam menangani masalah-masalah kesehatan khususnya kesehatan lingkungan.

Dengan adanya upaya kesehatan lingkungan maka diharapkan meningkatnya jumlah kawasan sehat, tempat-tempat umum sehat, tempat pariwisata sehat, tempat kerja sehat, rumah dan bangunan sehat, sarana sanitasi, sarana air minum, dan sarana pembuangan limbah.Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan tinja merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas. Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat terutama dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, karena menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan perilaku, tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.

Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan satu bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika.Salah satu kegiatan promotif preventif untuk menangulangi penyakit berbasis lingkungan adalah pembangunan jamban keluarga, tetapi tingkat keberhasilannya masih jauh dari diharapkan, salah satu indikator sehat 2010 adalah cakupan jamban keluarga minimal 84%.

Di Jawa tengah pada tahun 2001, jumlak kk yang memanfaatkan jamban untuk tempat buang air besar (BAB) yang memenuhi syarat sebesar 64,24 %. Kondisi tersebut masih dibawah target nasionalDari data SPM dapat diketahui cakupan penduduk yang memanfaatkan jamban di wilayah kerja Puskesmas Paguyaman periode Januari-desember 2012 adalah 69%, sedangkan target Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo adalah 75%. Sehingga angka pencapaian penduduk yang memanfaatkan jamban masih kurang, yaitu sebesar 92%.

Dilihat dari Perilaku hidup bersih dan sehat, masyarakat Desa Rejonegoro khususnya Dusun Iloheluma masih rendah angka kesadaran akan perilaku hidup sehat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perilaku buang air besar bukan dijamban yang sehat.

Menurut data keluarga hasil Survei Mawas Diri (SMD) kepemilikan jamban di Dusun Iloheluma, dimana jumlah KK yang berhasil di survey ada 107, yang memiliki jamban memenuhi syarat sebanyak 40 KK (37%), Ada Jamban tidak memenuhi syarat 21 KK (20 %), yang tidak memiliki jamban sebanyak 46 KK (43%).

1.2 Pernyataan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat dibuat perumusan masalah yaitu: Kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak BAB di sembarang tempat Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai jamban sehat

Kurangnya kepemilikan jamban sehat oleh masyarakat1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum

Menuju masyarakat ODF ( Open Defecation Free) di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro 1.3.2 Tujuan khusus

Meningkatkan kesadaran masyarakatuntuk tidak BAB di sembarang tempat. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai jamban sehat

Meningkatkan kepemilikan jamban sehat oleh masyarakat1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Penulis

Untuk menambah pengetahuan penulis tentang penyebab masih kurangnya penduduk yang menggunakan jamban sehat di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro serta dapat memberikan informasi tentang pengelolaan jamban yang baik.

.

1.4.2 Bagi Profesi Hasil laporan ini dapat dijadikan data awal untuk merencanakan penanggulangan masalah pemanfaatan jamban di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro serta dapat dijadikan masukan untuk menyusun program dalam rangka pemanfaatan jamban keluarga.

1.4.3 Bagi Masyarakat

Berdasarkan hasil kegiatan ini diharapkan pengetahuan warga Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro, dapat bertambah mengenai pentingnya memanfaatkan jamban keluarga agar tercipta lingkungan yang sehat sesuai dengan syarat kesehatan.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Landasan Teori

II.1.1. Kesehatan Lingkungan1,2

Kesehatan Lingkungan yang sehat adalah keadaan lingkungan yang tidak berisiko atau berbahaya terhadap kesehatan dan keselamatan hidup manusia. Usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya.Integrasi upaya kesehatan lingkungan dan upaya pemberantasan penyakit berbasis lingkungan semakin relevan dengan diterapkannya Paradigma Sehat. Dengan paradigma ini, maka pembangunan kesehatan lebih ditekankan pada upaya promotif-preventif, dibanding upaya kuratif-rehabilitatif. Melalui Klinik Sanitasi ke tiga unsur pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif, dan kuratif dilaksanakan secara integratif melalui pelayanan kesehatan program pemberantasan penyakit berbasis lingkungan di luar maupun di dalam gedung.

II.1.2 Standar Prosedur Operasional Klinik Sanitasi 1,2Standar prosedur operasional (Standard Operational Procedur / SOP) klinik sanitasi secara umum meliputi SOP di dalam gedung (puskesmas) dan di luar gedung (lapangan).a. Dalam Gedung

Di dalam gedung puskesmas, petugas klinik sanitasi melakukan langkah-langkah kegiatan terhadap penderita/pasien dan klien.

1) Menerima kartu rujukan status dari petugas poliklinik.2) Mempelajari kartu status/rujukan tentang diagnosis oleh petugas poliklinik.3) Menyalin dan mencatat nama penderita atau keluarganya, karakteristik penderita yang meliputi umur, jenis kelamin, pekerjaan dan alamat, serta diagnosis penyakitnya ke dalam buku register.4) Melakukan wawancara atau konseling dengan penderita/keluarga, penderita tentang kejadian penyakit, keadaan lingkungan, dan perilaku yang diduga berkaitan dengan kejadian penyakit dengan mengacu pada buku Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas dan Panduan Konseling Bagi Petugas Klinik Sanitasi di Puskesmas.

5) Membantu menyimpulkan permasalahan lingkungan atau perilaku yang berkaitan dengan kejadian penyakit yang diderita.6) Memberikan saran tindak lanjut sesuai permasalahan.7) Bila diperlukan, membuat kesepakatan dengan penderita atau keluarganya tentang jadwal kunjungan lapangan.b. Luar Gedung

Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati antara penderita / klien atau keluarganya dengan petugas, petugas klinik sanitasi melakukan kunjungan lapangan/rumah dan diharuskan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Mempelajari hasil wawancara atau konseling di dalam gedung (Puskesmas).2) Menyiapkan dan membawa berbagai peralatan dan kelengkapan lapangan yang diperlukan seperti formulir kunjungan lapangan, media penyuluhan, dan alat sesuai dengan jenis penyakitnya.3) Memberitahu atau menginformasikan kedatangan kepada perangkat desa/kelurahan (kepala desa/lurah, sekretaris, kepala dusun, atau ketua RW/RT) dan petugas kesehatan / bidan di desa.4) Melakukan pemeriksaan dan pengamatan lingkungan dan perilaku dengan mengacu pada Buku Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas, sesuai dengan penyakit/masalah yang ada.5) Membantu menyimpulkan hasil kunjungan lapangan.6) Memberikan saran tindak lanjut kepada sasaran (keluarga penderita dan keluarga sekitar).7) Apabila permasalahan yang ditemukan menyangkut sekelompok keluarga atau kampung, informasikan hasilnya kepada petugas kesehatan di desa / kelurahan, perangkat desa/kelurahan (kepala desa / lurah, sekretaris, kepala dusun atau ketua RW/RT), kader kesehatan lingkungan serta lintas sektor terkait di tingkat kecamatan untuk dapat di tindak lanjut secara bersama.II.1.3 Tindak Lanjut dan Penyelesaian Masalah3a. Tindak Lanjut

Tujuan tindak lanjut adalah untuk mengetahui perkembangan penyelesaian permasalahan kesehatan lingkungan sesuai dengan rencana dan saran. Kegiatan tindak lanjut ini dapat dilakukan secara insidentil dan berkala. Kegiatan tindak lanjut diarahkan untuk :

Mengetahui realisasi atau kesesuaian antara rencana tindak lanjut penyelesaian masalah kesehatan lingkungan dengan kenyataan

Keterlibatan masyarakat, lintas program dan lintas sektor dalam perbaikan / penyelesaian masalah kesehatan lingkungan

Perkembangan kejadian penyakit dan permasalahan kesehatan lingkungan

b. Pencatatan dan Pelaporan

Data kegiatan klinik sanitasi dicatat ke dalam buku register untuk kemudian diolah dan dianalisis. Selain berguna untuk bahan tindak lanjut kunjungan lapangan serta keperluan monitoring dan evaluasi, data yang ada dapat dibuat bahan perencanaan kegiatan selanjutnya. Seluruh kegiatan klinik sanitasi dan hasilnya dilaporkan secara berkala kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan format laporan yang ada.

c. Penyelesaian Masalah

Penyelesaian masalah kesehatan lingkungan, terutama masalah yang menimpa sekelompok keluarga atau kampung dapat dilaksanakan secara musyawarah dan gotong royong oleh masyarakat dengan bimbingan teknis dari petugas sanitasi dan lintas sektor terkait.

Apabila dengan cara demikian tidak tuntas dan atau untuk perbaikannya memerlukan pembiayaan yang cukup besar, maka penyelesaian dianjurkan untuk mengikuti mekanisme perencanaan yang ada, mulai perencanaan di tingkat desa, perencanaan tingkat kecamatan dan perencanaan tingkat kabupaten/kota. Petugas sanitasi juga dapat membantu mengusulkan kegiatan perbaikan kesehatan lingkungan tersebut kepada sektor terkait.II.1.4. Jamban Sehat

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya.II. 1.5 Syarat jamban sehat

a. Tidak mencemari tanah sekitarnya

b. Mudah dibersihkan dan aman digunakan

c. Dilengkapi dinding dan atap pelindung

d. Penerangan dan ventilasi cukup

e. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai

f. Tersedia air dan alat pembersih

II.1.6 Indikator suatu Jamban telah mencemari lingkungan sekitar yaitu

Apakah penampungan akhir kotoran/jamban berjarak kurang dari 10 m dengan sumber air ? Nilai Ya = 3, Tidak = 0 Apakah penutup sumur resapan jamban (penampungan akhir kotoran) tidak kedap air? : Nilai Ya = 3, Tidak = 0 Apakah konstruksi jamban memungkinkan binatang penyebar penyakit menjamah kotoran dalam jamban? Nilai Ya = 3, Tidak = 0 Apakah jamban menimbulkan bau? Nilai Ya = 1, Tidak = 0 Apakah jamban tidak selalu terjaga kebersihannya? Nilai Ya = 2, Tidak = 0

Skoring Tingkat resiko untuk mencemari lingkungan: Ringan 0-2, Sedang 3-4, Tinggi 5-8 , Amat tinggi 9-11. II.1.7. Pengelolaan Pembuangan Tinja 1,2Untuk mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik yaitu harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Jamban Sehat untuk daerah pedesaan apabila memenuhi persyaratan persyaratan sebagai berikut :1. Tidak mencemari aira. Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester.

b. Jarak lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter

c. Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur.

Gambar1. Jarak Jamban dengan sumber air bersih2. Tidak mencemari tanah permukaan

a. Tidak buang air besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan.

b. Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, kemudian kotoran ditimbun di lubang galian.

3. Bebas dari serangga

a. Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah.b. Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi sarang nyamuk.

c. Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang dapat menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya.d. Lantai jamban harus selalu bersih dan kering.e. Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup.

4. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan

a. Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap selesai digunakan.b. Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup rapat oleh air.c. Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk membuang bau dari dalam lubang kotoran.5. Aman digunakan oleh pemakainya

Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran dengan pasangan bata atau selongsong anyaman bambu atau bahan penguat lain yang terdapat di daerah setempat.6. Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya

a. Lantai jamban rata dan miring dari saluran lubang kotoran.b. Jangan membuang sampah, rokok, atau benda lain ke saluran kotoran karena dapat menyumbat saluran.c. Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan cepat penuh.d. Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa berdiameter minimal 4 inci. Letakkan pipa dengan kemiringan minimal 2:100.7. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan

a. Jamban harus berdinding dan berpintu.b. Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari kehujanan dan kepanasan.II.1.8. Bangunan Jamban (Latrine / water closet)Bangunan Jamban yang memenuhi syarat kesehatan terdiri dari :

1. Rumah kakus: Syarat syarat rumah kakus antara lain; Sirkulasi udara cukup, bangunan mampu menghindarkan pengguna terlihat dari luar, bangunan dapat meminimalkan gangguan cuaca (baik musim panas maupun musim hujan), kemudahan akses di malam hari, ketersediaan fasilitas penampungan air dan tempat sabun untuk cuci tangan. 2. Lantai kakus : Sebaiknya diplester agar mudah dibersihkan.3. Slab : Berfungsi sebagai penutup sumur tinja (pit) dan dilengkapi dengan tempat berpijak. Pada jamban cemplung, slab dilengkapi dengan penutup, sedangkan pada kondisi jamban berbentuk bowl (leher angsa) fungsi penutup ini digantikan oleh keberadaan air yang secara otomatis tertinggal di didalamnya. Slab dibuat dari bahan yang cukup kuat untuk menopang penggunanya. Bahan-bahan yang digunakan harus tahan lama dan mudah dibersihkan seperti kayu, beton, bambu dengan tanah liat, pasangan bata, dan sebagainya.4. Closet: Lubang tempat faeces masuk.5. Pit : Sumur penampung faeces / cubluk.6. Bidang resapan.Gambar 2. Bidang ResapanII.1.9 Jenis jenis Jamban keluarga 1,2,41. Jamban Cemplung (pit latrine)

Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan tapi kurang sempurna, misalnya tanpa rumah jamban. Pada jamban ini, kotoran langsung masuk ke jamban dan tidak boleh terlalu dalam sebab bila terlalu dalam akan mengotori air tanah dibawahnya. Dalamnya pit latrine berkisar antara 1,5 3 meter saja. Jarak dari sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter.

Gambar 3. Jamban Cemplun2. Jamban Cemplung Berventilasi (Ventilation Improved Pit Latrine)

Jamban ini hampir sama dengan jamban cemplung, bedanya lebih lengkap, yakni menggunakan ventilasi pipa. Untuk daerah pedesaan pipa ventilasi ini dapat dibuat dengan bambu.

Gambar 4. Jamban Cemplung Berventilasi (Ventilasi Improved Pit Latrine) Sumber : Tampubolon, 2000.

3. Watersealed Laterine (Angsa Trine)Jamban tanki septik/leher angsa: Adalah jamban berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air. Fungsi air ini sebagai sumbat bau bususk dari cubluk sehingga tidak tercium di ruangan rumah kakus. Bila dipakai, faecesnya tertampung sebentar dan bila disiram air, baru masuk ke bagian yang menurun untuk masuk ke tempat penampungannya (pit). Penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian/dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi dengan resapannya. Kakus ini yang terbaik dan dianjurkan dalam kesehatan lingkungan.

Gambar 5. Jamban leher angsaBAB III

METODE MINI PROJECTIII.1. Sasaran Kegiatan

Kegiatan ini diikuti oleh warga Dusun Iloheluma, Desa Rejonegoro yang masih menggunakan jamban cemplung tanpa tutup serta dihadiri pula oleh ibu-ibu Dusun Iloheluma.III.2 Bentuk Kegiatan Pengisian kuisioner (pre-test) Penyuluhan mengenai jamban sehat Pengisian kuisioner (post-test)III.3 Pelaksanaan Kegiatan

NoTanggalKegiatanPelaksana

111 Maret 10 April 2015Perencanaan kegiatandr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

214 April 2015Meminta izin kepada kepala desadr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

315 April 17 April 2015Persiapan kegiatan dan koordinasi dr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. RezaBidan Nita

418 April dan 21 April 2015Penyebaran kuisioner (pre-test)dr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

518 Mei 2015 Penyuluhan tentang jamban sehat

Pengisian kuisioner (post test)dr. Eveline

dr. Habib

dr. Maryam

dr. Reza

BAB IVHASIL MINI PROJECT

IV. 1 Profil Komunitas Umum

Profil komunitas wilayah Dusun Iloheluma secara umum adalah masyarakat pedesaan.IV.2 Data Geografi

IV.2.1 Letak wilayah

Dusun Iloheluma terletak di wilayah Desa Rejonegoro, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo.

IV.2.2 Batas wilayah

Wilayah Desa Rejonegoro dibatasi oleh:

a. Sebelah Utara : Desa Diloniyohub. Sebelah Timur : Desa Tangkobuc. Sebelah Selatan : Desa Bubaad. Sebelah Barat : Desa Sosial

IV.2.3 Luas Wilayah

Luas wilayah Desa Rejonegoro 830,95 hektar.IV.3 Data Demografi

IV.3.1 Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Dusun Iloheluma tahun 2015 adalah 463 jiwa dan jumlah KK adalah 128.

IV.3.2 Data Penduduk

Penduduk Dusun Iloheluma sebanyak 463 jiwa, terdiri dari 128 KK, 249 laki laki dan 214 perempuan. Mayoritas beragama Islam. (Sumber : Kantor Desa Rejonegoro)Tabel 1. Jumlah penduduk Desa Rejonegoro tahun 2013

NODusunJumlah

JiwaKK

1Bulonggala36598

2Oliday417113

3Iloheluma463128

4Batu Merah14337

Jumlah1.388376

Tabel 2. Posyandu di Desa RejonegoroNo.DusunJumlah Posyandu

1Bulonggala1

2Iloheluma1

Jumlah2

(Sumber : Balai Desa Rejonegoro)IV. 4 Sumber Daya Kesehatan yang Ada

Di Dusun Iloheluma terdapat 1 bidan desa.IV. 5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada

Di Dusun Iloheluma terdapat 1 kelompok Posyandu.

IV. Data Kesehatan Masyarakat

IV. 1. Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat Dusun Iloheluma

Pengetahun dan perilaku masyarakat Dusun Iloheluma kami dapatkan berdasarkan kuisioner yang dibagikan kepada warga pada tanggal 18 April dan 21 April 2015. Jumlah warga yang hadir sebanyak 56 orang. Kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan posyandu. Kegiatan ini juga dihadiri oleh 4 dokter internship, 1 orang bidan, dan 2 staf puskesmas.

Kegiatan dibuka oleh bidan Nita selaku bidan Desa Rejonegoro dilanjutkan dengan pengisian kuisioner oleh warga yang hadir. Isi dari kuisioner adalah data diri, pengetahuan, dan perilaku warga mengenai jamban sehat, kebiasaan buang air besar, dan keinginan memiliki jamban sehat. Dari hasil kuisioner didapatkan hasil data sebagai berikut:

Dari 56 orang yang hadir didapatkan 34 orang yang hadir adalah perempuan dan 22 orang laki-laki.

Dari 56 orang yang hadir sebagian besar berpendidikan SD sebesar 46%, SMP sebanyak 30%, SMA sebanyak 9%, perguruan tinggi 2%, dan tidak sekolah sebanyak 13%.

Sebanyak 57 % orang yang hadir adalah ibu rumah tangga, 25 % sebagai petani, 13 % pedagang, dan 5 % lainnya. Pada pilihan lain-lain ini beberapa warga berprofesi sebagai buruh dan supir.

Dari 56 orang yang hadir, sebanyak 36 orang memiliki penghasilan kurang dari Rp. 500.000,-, 17 orang memiliki penghasilan Rp. 500.000,- sampai Rp. 1.000.000,-, dan 3 orang memiliki penghasilan lebih dari Rp. 1.000.000,-.

Sebagian besar warga yang hadir belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat, yaitu sebesar 75 %. Yang sudah pernah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat yaitu sebesar 25 %.

Sebanyak 70 % warga yang hadir mengetahui bahwa BAB di sungai/ kolam dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit. Sedangkan 30 % warga tidak mengetahui bahwa BAB di sungai/ kolam dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit.

Sebanyak 55 % warga yang hadir mengetahui tentang jamban sehat. Sedangkan 45 % warga tidak mengetahui jamban sehat.

Sebanyak 35 % warga yang hadir mengetahui cara membangun jamban sehat. Sedangkan 65 % warga tidak mengetahui cara membangun jamban sehat.

Sebanyak 79 % warga yang hadir tidak mengetahui jarak ideal antara sumber air dan jamban. Sedangkan 21 % warga mengetahui jarak ideal antara sumber air dan jamban.

Sebanyak 71 % warga yang hadir berpendapat lantai jamban tidak perlu diplester. Sedangkan 29 % warga berpendapat lantai jamban perlu diplester.

Sebanyak 86 % warga yang hadir berpendapat jamban perlu memiliki dinding, atap, dan pintu. Sedangkan 14 % warga berpendapat lantai jamban perlu memiliki dinding, atap, dan pintu.

Sebanyak 68 % warga yang hadir tidak memiliki jamban di rumah. Sedangkan 32 % warga tidak memiliki jamban di rumah.

Sebanyak 61 % warga memiliki jamban leher angsa, 28 % memiliki jamban cemplung tanpa tutup, dan 11 % memiliki jamban cemplung dengan tutup.

Seluruh warga selalu mencuci tangan setelah buang air besar.

Sebanyak 57 % warga buang air besar di WC umum, 32 % warga buang air besar di jamban keluarga, dan 11% di sungai.

Sebanyak 91 % warga tidak menggunakan jamban sehat karena faktor ekonomi. Sedangka 9 % warga tidak menggunakan jamban sehat karena praktis.

IV. 2. Penyuluhan Jamban Sehat

Penyuluhan tentang jamban sehat dilakukan di posyandu wilayah Dusun Iloheluma. Kegiatan ini dilakukan untuk memberi pengetahuan mengenai pentingnya jamban sehat, fungsi jamban sehat, dan cara membangun jamban sehat. Kegiatan ini bertujuan untuk memicu keinginan masyarakat setempat yang belum memiliki jamban agar berusaha memiliki jamban dan masyarakat yang belum memiliki jamban sehat memperbaiki jamban mereka agar lebih sehat sehingga tidak mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit.

Hasil kegiatan ini adalah sebagai berikut :

NoTanggalTempatPeserta

118 Mei 2015Posyandu Dusun Iloheluma34 orang

IV. 3. Evaluasi hasil kuisioner post test

Evaluasi dilakukan oleh 4 dokter internship dengan menyebarkan kuisioner post test yang isinya sama seperti kuisioner sebelumnya sehingga dapat diperoleh perbandinga pengetahuan dan perilaku sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan.

Dari 34 orang yang hadir didapatkan 31 orang yang hadir adalah perempuan dan 3 orang laki-laki.

Dari 34 orang yang hadir sebagian besar berpendidikan SD sebesar 64%, SMP sebanyak 24%, SMA sebanyak 6%, perguruan tinggi 0%, dan tidak sekolah sebanyak 6%.

Sebanyak 53 % orang yang hadir adalah ibu rumah tangga, 26 % sebagai petani, 6 % pedagang, dan 15 % lainnya. Pada pilihan lain-lain ini beberapa warga berprofesi sebagai buruh.

Dari 56 orang yang hadir, sebanyak 24 orang memiliki penghasilan kurang dari Rp. 500.000,-, 9 orang memiliki penghasilan Rp. 500.000,- sampai Rp. 1.000.000,-, dan 1 orang memiliki penghasilan lebih dari Rp. 1.000.000,-.

Seluruh warga yang hadir telah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat.

Seluruh warga yang hadir mengetahui bahwa BAB di sungai/ kolam dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit.

Sebanyak 76 % warga yang hadir mengetahui tentang jamban sehat. Sedangkan 24 % warga tidak mengetahui jamban sehat.

Sebanyak 45 % warga yang hadir mengetahui cara membangun jamban sehat. Sedangkan 55 % warga tidak mengetahui cara membangun jamban sehat.

Sebanyak 65 % warga yang hadir tidak mengetahui jarak ideal antara sumber air dan jamban. Sedangkan 35 % warga mengetahui jarak ideal antara sumber air dan jamban.

Sebanyak 59 % warga yang hadir berpendapat lantai jamban tidak perlu diplester. Sedangkan 41 % warga berpendapat lantai jamban perlu diplester.

Sebanyak 94 % warga yang hadir berpendapat jamban perlu memiliki dinding, atap, dan pintu. Sedangkan 6 % warga berpendapat lantai jamban perlu memiliki dinding, atap, dan pintu.

Sebanyak 59 % warga yang hadir tidak memiliki jamban di rumah. Sedangkan 41 % warga tidak memiliki jamban di rumah.

Sebanyak 43 % warga memiliki jamban leher angsa, 38 % memiliki jamban cemplung tanpa tutup, dan 19 % memiliki jamban cemplung dengan tutup.

Seluruh warga selalu mencuci tangan setelah buang air besar.

Sebanyak 53 % warga buang air besar di WC umum, 41 % warga buang air besar di jamban keluarga, dan 6 % di sungai.

Seluruh warga tidak menggunakan jamban sehat karena faktor ekonomi.

IV. 4. Perbandingan hasil pre test dan post test

Pada saat pre test dilakukan jumlah peserta yang hadir perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Pada saat post test juga demikian, jumlah peserta yang hadir perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.

Sebagian besar warga yang hadir pada saat dilakukan pre tes dan post tes memiliki pendidikan terakhir SD, kemudian SMP, tidak sekolah, dan SMA. Warga yang memiliki pendidikan terakhir perguruan tinggi hanya sedikit.

Sebagian besar warga yang hadir pada saat dilakukan pre tes dan post tes memiliki pekerjaan ibu rumah tangga, kemudian petani dan pedagang. Pekerjaan yang termasuk lain-lain adalah buruh dan supir.

Sebagian besar warga yang hadir memiliki penghasilan kurang dari Rp. 500.000,-, kemudian Rp. 500.000,. Rp. 1000.000,-. Yang memiliki penghasilan lebih dari Rp. 1000.000,- hanya sedikit.

Pada saat pre tes sebagian besar warga belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat, kemudian setelah penyuluhan seluruh warga yang hadir telah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan pengetahuan warga bahwa BAB sembarangan dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan pengetahuan tentang jamban sehat.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan pengetahuan tentang cara membangun jamban sehat.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan pengetahuan tentang jarak ideal antara jamban dengan sumber air bersih.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan pengetahuan warga bahwa lantai jamban perlu diplester.

Setelah mendapatkan penyuluhan tentang jamban sehat terjadi peningkatan pengetahuan warga bahwa jamban perlu memiliki dinding, atap, dan pintu.

Sebagian besar warga yang hadir tidak memiliki jamban di rumah baik saat dilakukan pre tes maupun post tes.

Sebagian besar warga yang memiliki jamban, mempunyai jamban jenis leher angsa baik pada saat dilakukan pre tes maupun post tes.

Seluruh warga yang hadir selalu mencuci tangan setelah buang air besar baik pada saat dilakukan pre tes maupun post tes.

Sebagian besar warga yang hadir biasanya BAB di WC umum baik pada saat dilakukan pre tes maupun post tes.

Hampir seluruh warga yang hadir tidak memiliki jamban sehat karena faktor ekonomi baik pada saat dilakukan pre tes maupun post tes.BAB VDISKUSIDari hasil diskusi bersama tim puskesmas diperoleh bahwa kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya masyarakat Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro. Materi-materi yang diberikan saat penyuluhan kesehatan pada kegiatan ini dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang jamban sehat dan berbagai manfaatnya. Kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak BAB di sembarang tempat dan memicu masyarakat untuk membangun jamban sehat yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Desa Siaga dan aparat pemeritah setempat diharapkan dapat menindaklanjuti kegiatan ini dengan membuat penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kjadian BAB di sembarang tempat, membuat suatu mekanisme monitoring yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat dan membuat suatu upaya atau strategi yang jelas dan tertulis untuk dapat mencapai sanitasi total. Hal ini untuk mewujudkan masyarakat Dusun Iloheluma ODF.BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah melakukan analisis kemungkinan penyebab masalah rendahnya jumlah jamban sehat di Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro dengan menggunakan metode kuesioner dan juga melakukan konfirmasi ke bagian Program Kesehatan Lingkungan, maka didapatkan penyebab masalah yang mungkin, antara lain karena faktor ekonomi oleh terbatasnya dana untuk membangun jamban dan septik tank sendiri di dusun tersebut, pengetahuan masyarakat mengenai jamban sehat yang masih rendah, dan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara membangun jamban sehat sederhana.

Dengan adanya kegiatan ini masyarakat diharapkan dapat membuat jamban mereka lebih memenuhi kriteria jamban sehat. Sehingga jamban yang ada dapat benar-benar memutus mata rantai penyakit. Kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan suatu landasan untuk menuju masyarakat Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro ODF.Saran dari kegiatan ini adalah tindak lanjut untuk deklarasi Dusun Iloheluma Desa Rejonegoro ODF. Untuk itu dibutuhkan dukungan dan kerja sama yang baik dengan desa siaga serta aparat pemerintah desa setempat. Dan semoga kegiatan-kegiatan serupa yang bertujuan membuat masyarakat ODF dapat dilaksanakan di seluruh desa di wilayah Kecamatan Paguyaman, sehingga dapat mewujudkan Kecamatan Paguyaman ODF selanjutnya menuju sanitasi total.

_1491804785.xls

_1492233595.xls

_1492235704.xls

_1492236006.xls

_1492236140.xls

_1492236294.xls

_1492237940.xls

_1492236492.xls

_1492236190.xls

_1492236072.xls

_1492235898.xls

_1492235938.xls

_1492235808.xls

_1492234739.xls

_1492235352.xls

_1492235677.xls

_1492235287.xls

_1492234293.xls

_1492234515.xls

_1492233985.xls

_1491805363.xls

_1491807355.xls

_1492233157.xls

_1491805936.xls

_1491806715.xls

_1491805487.xls

_1491805150.xls

_1491805253.xls

_1491805088.xls

_1491802896.xls

_1491804244.xls

_1491804533.xls

_1491804647.xls

_1491804398.xls

_1491803136.xls

_1491803153.xls

_1491802946.xls

_1491465629.xls

_1491465878.xls

_1491469633.xls

_1491469700.xls

_1491469627.xls

_1491465728.xls

_1491465311.xls

_1491465409.xls

_1491465251.xls

_1491293647.xls