METODE PEMETAAN

Download METODE PEMETAAN

Post on 24-Nov-2015

69 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Cara Pemetaan Zona Kerentanan Tanah

TRANSCRIPT

<ul><li><p>PEMETAAN ZONA KERENTANAN GERAKAN </p><p>TANAH </p></li><li><p>TATAAN GEOLOGI INDONESIA </p><p>INDONESIA TERLETAK INTERAKSI DARI 3 LEMPENG (TRIPLE JUNCTION) YANG MEMBENTUK ZONA SUBDUKSI YANG UNIK DI DUNIA, AKIBATNYA; </p><p>Indonesia mempunyai 129 gunungapi aktif (terbanyak </p><p>di dunia) </p><p>Banyak terjadi gempabumi baik di darat maupun di </p><p>laut yang bisa memicu tsunami </p><p>Banyak terdapat lipatan, patahan, punggungan, bukit </p><p>dengan kemiringan sedang hingga terjal kondisi yang </p><p>demikian menyebabkan rentan terjadi gerakan tanah/ </p><p>tanah longsor yang di picu oleh curah hujan atau </p><p>gempabumi </p><p>LATAR BELAKANG </p></li><li><p>Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng Pasifik, Eurasia dan Indo-Australia </p><p>Dampak Positif: </p><p> Tanah subur </p><p> Pemandangan Indah </p><p> Banyak Kandungan mineral logam, </p><p> non logam dan migas </p><p>Dampak Negatif: </p><p>Rawan bencana alam geologi </p><p>seperti gempabumi/tsunami, </p><p>letusan gunungapi, tanah </p><p>longsor </p><p>Tektonik dan Sebaran Gunungapi Indonesia </p><p>PASIFIK </p><p>EURASIA </p><p>INDO - AUSTRALIA </p></li><li><p>PROVINSI Kejadian MD LL RR RH RT BLR BLH LPR JLN SIPJawa Barat 76 27 13 448 61 636 8 2 20 130 6</p><p>Jawa Tengah 22 13 3 68 61 693 1 0 0 0 1</p><p>Jawa Timur 15 6 0 523 105 18 6 3 35 305 0</p><p>DIY 1 5</p><p>Banten 1 0 0 12 8 30 0 0 0 0 0</p><p>Lampung 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0</p><p>Sumatera Barat 3 11 1 2 2 54 0 0 0 25 25</p><p>Riau 1 0 0 0 0 0 0 0 0 48 0</p><p>NAD 3 8 1 54 3 33 0 0 0 0 0</p><p>Papua 1 11 0 2 3 0 0 0 0 0 0</p><p>NTT 4 0 0 90 0 47 0 0 0 0 0</p><p>Sulawesi Selatan 2 5 0 300 13 0 0 0 108 0 0</p><p>Sulawesi Tengah 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0</p><p>Kalimantan Timur 2 2 0 34 0 0 0 0 0 0 0</p><p>Maluku 4 4 5 0 2 10 0 0 0 0 0</p><p>Sulawesi Utara 1 0 0 14 0 34 0 0 0 0 0</p><p>TOTAL 139 88 23 1553 258 1555 15 5 163 508 32</p><p>Catatan :</p><p>MD : Meninggal Dunia BLR : Bangunan Lain Rusak RH : Rumah Hancur JLN : Jalan</p><p>LL : Luka - luka BLH : Bangunan Lain Hancur RT : Rumah Terancam SIP : Saluran Irigasi Putus</p><p>RR : Rumah Rusak LPR : Lahan Pertanian Rusak</p><p>KEJADIAN GERAKAN TANAH DI TIAP PROVINSI TAHUN 2008 </p><p>PROVINSI Kejadian MD LL RR RH RT BLR BLH LPR JLN SIP</p><p>Jawa Barat 31 5 0 137 7 97 0 0 0 14 0</p><p>Jawa Tengah 13 6 0 112 22 334 2 3 0 345 0</p><p>Banten 1 92 179 0 250 0 0 0 0 0 0</p><p>Sumatera Barat 1 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0</p><p>Papua 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0</p><p>NTB 2 0 0 30 0 1 1 0 0 0 0</p><p>Sulawesi Selatan 2 1 0 3 0 65 0 0 0 0 0</p><p>TOTAL 54 106 181 282 279 497 3 3 0 359 0</p><p>KEJADIAN GERAKAN TANAH DI TIAP PROVINSI TAHUN 2009 (Sampai dengan 31 Maret 2009)</p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p> MITIGASI BENCANA GEOLOGI </p></li><li><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>Pemetaan Gerakan Tanah Lama </p><p>Distribusi Kejadian Gerakan Tanah </p><p>Kemiringan Lereng </p><p>Rata-rata Curah Hujan </p><p>Tata Guna Lahan </p><p>Kondisi Geologi </p><p>Mekanika Tanah </p><p>Software </p><p>Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah </p><p> Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi </p><p> Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah </p><p> Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah </p><p> Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>Sangat Rendah </p><p>Rendah </p><p>Tinggi </p><p>Sangat jarang </p><p>terjadi Gerakan </p><p>Tanah </p><p>Gerakan tanah bisa </p><p>terjadi jika ada </p><p>gangguan lereng </p><p>Tingkatan Status Kerentanan Gerakan Tanah </p><p>Dan Respon Masyarakat Sering terjadi gerakan tanah jika musim hujan </p><p>Gerakan tanah lama bisa </p><p>aktif kembali </p><p>Tidak tinggal </p><p>di bantaran sungai </p><p>PETA ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH </p><p>Gerakan Tanah berpotensi </p><p>terjadi jika curah hujan tinggi </p><p>dan ada gangguan lereng </p><p>Lokasi bangunan </p><p>vital &amp; Strategis. </p><p>Menengah </p><p>Tidak Melakukan </p><p>Pemotongan lereng, </p><p>Waspada jika curah </p><p>hujan tinggi </p><p>Jangan tinggal di </p><p>lereng terjal </p><p> Tidak dibangun permukiman, </p><p>bangunan vital strategis, Konservasi Lahan </p><p>Waspada, Mengungsi jika Curah Hujan Tinggi </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>PETA ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH PETA PERKIRAAN CURAH HUJAN </p><p>Sistem peringatan dini gerakan tanah dilakukan pada awal musim hujan dengan mengirim surat, booklet, dan poster tentang mitigasi bencana gerakan tanah. </p><p>Peta perkiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah dibuat dengan cara overlay antara peta zona kerentanan gerakan tanah dan prediksi curah hujan bulanan. Hasilnya berupa 3 tingkatan zona potensi gerakan tanah tinggi, sedang dan rendah yang diinformasikan kepada Pemerintah Daerah. </p><p>SISTEM PERINGATAN DINI (EARLY WARNING) </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>Kerjasama dengan BMG (Data prakiraan curah hujan bulanan) </p><p>Hasil prakiraan wilayah berpotensi terjadi gerakan tanah yaitu overlay dari peta zona kerentanan gerakan tanah dan prakiraan curah hujan bulanan </p><p>Peringatan dini kepada Pemda di seluruh Indonesia setiap awal musim hujan meliputi kabupaten, kecamatan, desa yang rentan terjadi gerakan tanah </p><p>Jalur jalan rawan gerakan tanah dikirim setiap awal musim hujan dan hari libur keagamaan </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>PETA ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH INDONESIA </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>MAKSUD DAN TUJUAN PEMETAAN </p><p>Untuk memberikan informasi tentang daerah derah yang rentan terhadap bencana alam gerakan tanah dan memperkecil / mengurangi kerusakan prasarana pembangunan serta korban jiwa manusia. </p><p>Informasi yang termuat dalam Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah dapat digunakan untuk melengkapi data dasar dalam perencanaan Tata Ruang. </p><p>TAHAPAN PENYUSUNAN PETA ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH </p><p>1. Pengumpulan data </p><p> Data primer; </p><p> Data sekunder </p><p>2. Analisis laboratorium mekanika tanah </p><p> Sifat fisik dasar ; kadar air, berat jenis, berat isi asli, berat isi kering, </p><p> berat isijenuh, angka pori, permeabilitas </p><p> Sifat mekanika tanah atau batuan; direct shear atau triaxial test -kohesi </p><p> dan sudut geser dalam </p></li><li><p>TAHAPAN PENYUSUNAN PETA ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH </p><p>3. Penggambaran peta penunjang </p><p>1. Peta geologi </p><p>2. Peta tataguna lahan </p><p>3. Peta satuan kemiringan lereng </p><p>4. Peta distribusi kejadian gerakan tanah </p><p>5. Peta curah hujan rata -rata tahunan </p><p>6. Peta percepatan kegempaan regional </p><p>4. Analisis data / Metode </p><p>1. Analisis secara langsung </p><p>2. Analisis secara tidak langsung </p><p>3. Analisis gabungan </p></li><li><p>PETA KERENTANAN GERAKAN TANAH (landslide susceptibility map) Peta kerentanan gerakan tanah adalah sebuah peta yang </p><p>menggambarkan tingkat kestabilan lereng pada suatu daerah menjadi kategori stabil sampai tidak stabil . Peta ini menunjukkan tingkat kerentanan suatu daerah untuk terjadi gerakan tanah atau longsoran. </p><p>Kerentanan gerakan tanah tergantung juga pada faktor pemicu terjadinya longsoran seperti curah hujan dan kegempaan. </p></li><li><p>PETA BAHAYA LONGSORAN </p><p>(landslide hazard map) </p><p>Peta bahaya gerakan tanah (landslide hazard map) adalah sebuah peta yang mengindikasikan kemungkinan terjadinya gerakan tanah pada suatu daerah dengan memperhitungkan adanya ancaman . Sebuah peta bahaya gerakan tanah yang ideal tidak hanya memperlihatkan kemungkinan gerakan tanah dapat terjadi pada suatu tempat tertentu, tetapi juga mempunyai kemungkinan gerakan tanah berasal dari tempat yang jauh dan menghantam daerah tersebut . Bahaya gerakan tanah mengacu kepada potensi terjadinya kerusakan akibat gerakan tanah yang meliputi hilangnya nyawa atau korban luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial ekonomi dan penurunan kualitas lingkungan. </p></li><li><p>PETA RESIKO GERAKAN TANAH (landslide risk map) Peta resiko gerakan tanah (landslide risk map) adalah peta yang menggambarkan besarnya penanggulangan tahunan yang harus disediakan untuk menanggulangi kerusakan akibat gerakan tanah. Peta resiko merupakan penggabungan dari informasi kemungkinan gerakan tanah pada peta bahaya gerakan tanah dengan analisa terhadap keseluruhan konsekuensi yang timbul akibat gerakan tanah. Resiko gerakan tanah mengacu kepada kemungkinan konsekuensi bahaya yang timbul, seperti korban jiwa, korban luka-luka, kerusakan properti dan sistem ekologi atau gangguan perekonomian pada daerah rawan gerakan tanah. </p></li><li><p> Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi </p><p>Zona ini sering terjadi gerakan tanah, gerakan tanah lama masih dapat aktif kembali, terutama karena curah hujan yang tinggi. </p><p> Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah </p><p>Dapat terjadi gerakan tanah berukuran kecil, terutama di tebing pemotongan jalan, tebing sungai, daerah curam dengan batuan dasar kuat dan tanah pelapukan yang tipis. Gerakan tanah lama masih dapat berkembang aktif kembali, terutama pada bagian gawir gerakan tanah yang disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi. </p><p>Zona Kerentanan Gerakan Tanah </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah </p><p>Jarang terjadi gerakan tanah apabila tidak mengalami gangguan pada lereng dan jika terdapat gerakan tanah lama. Gerakan tanah dapat juga terjadi dalam skala kecil, terutama pada tebing lembah sungai yang terjal </p><p> Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah </p><p>Daerah ini mempunyai tingkat kecenderungan sangat rendah untuk terkena gerakan tanah. Umumnya merupakan daerah mantap, sangat jarang atau hampir tidak pernah terjadi gerakan tanah. </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>PUBLIKASI PETA </p><p>ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH </p><p> Skala 1 : 500.000 </p><p> Peta Provinsi, contoh Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Jawa </p><p> Barat. </p><p> Skala 1 ; 250.000. </p><p> Peta Zona kerentanan gerakan tanah luar P. Jawa, contoh Peta zona </p><p> kerentanan gerakan tanah Pulau Lombok. </p><p> Skala 1 : 100.000 </p><p> Contoh Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah L. Cianjur, </p></li><li><p>ANALISIS DATA / METODE PEMETAAN </p><p>Pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dilakukan dengan pendekatan menggunakan metoda tidak langsung (statistik) dan metoda langsung (pengamatan lapangan), penyelesaian dilakukan dengan menggabungkan kedua metoda tersebut . </p><p>Metoda pemetaan tidak langsung dilakukan dengan melakukan tumpang tindih (overlaying) untuk mancari pengeruh faktor -faktor yang terdapat pada peta-peta parameter (peta geologi, kemiringan lereng dan tata guna lahan) terhadap sebaran (distribusi) gerakan tanah, kemudian analisis dilakukan dengan mengunakan GIS (Geografi Informasi Sistem ) menggunakan Software ILWIS (Integrated Land and Water Information System ) versi 2.1 (for Windows), sehingga zonasi kerentanan gerakan tanah dapat ditentukan . </p><p>Cara langsung adalah dengan memetakan secara langsung zona kerentanan gerakan tanah di lapangan dengan mempelajari distribusi gerakan tanah, morfologi, geologi, tataguna lahan dan struktur geologi. </p><p>Cara gabungan adalah menggabungkan peta zona kerentanan gerakan tanah cara tidak langsung dengan peta zona kerentanan gerakan tanah cara langsung sehingga menghasilkan peta zona kerentanan gerakan tanah final </p></li><li><p>BAGAN ALIR PEMETAAN GERAKAN TANAH </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>Metoda langsung merupakan hasil pemetaan langsung zona kerentanan gerakan tanah di lapangan. Kriteria untuk zona kerentanan gerakan tanah didasarkan pada kondisi lapangan, yaitu : </p><p>a. Penelitian gerakan tanah di lapangan, meliputi : </p><p>Kejadian gerakan tanah </p><p>Morfologi (kemiringan lereng dan bentuk lereng) </p><p>Geologi (sifat fisik batuan dan tanah serta ketebalan tanah pelapukan) </p><p>Struktur geologi dan kondisi keairan </p><p>Kondisi tataguna lahan dan aktivitas manusia </p><p>b. Mempelajari sifat fisik dan keteknikan tanah hasil uji laboratorium </p><p> (data pemetaan terdahulu) </p><p>c. Melakukan analisis balik untuk mendapatkan nilai kuat geser pada saat harga </p><p> faktor keamanan (Fs) = 1,2 </p><p>d. Melakukan analisis kemantapan lereng </p><p>e. Menyusun tingkat kerentanan gerakan tanah </p></li><li><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>Tingkat kerentanan gerakan tanah, yaitu tingkat yang menggambarkan kecenderungan suatu lereng alam natural slope untuk terkena gerakan tanah. Tingkat kerentanan suatu lereng untuk terjadi gerakan tanah ditunjukkan dalam suatu nilai faktor keamanan yang dikemukakan oleh Ward, (1976), </p></li><li><p>TANAH PELAPUKAN BATUAN KEMIRINGAN LERENG </p><p> (KEJADIAN GERAKAN </p><p>TANAH) </p><p> 0-5% </p><p>( 0-3 ) </p><p>5-15% </p><p>(3-9 ) </p><p>15-30% </p><p>(9-17 ) </p><p>30-50% </p><p>(17-27 ) </p><p>50-70% </p><p>(27-36 ) </p><p>&gt;70% </p><p>(36-90 ) </p><p>Tufa dan breksi Gn. Api Muda </p><p>dari G. Ambulombo (Qhva) </p><p>( Tidak ada kejadian gerakan </p><p>tanah ) </p><p>-- -- - - - - </p><p>Breksi aglomerat dan tufa Gn. </p><p>Api Muda dari G. Ine Rie </p><p>(Qhvl) (3 X kejadian gerakan </p><p>tanah) </p><p>-- - - 3 - - </p><p>Lava dan breksi Gn. Api Tua </p><p>(Qtvu) (103 X kejadian </p><p>gerakan tanah) </p><p>- - 5 35 -53 10- </p><p>DISTRIBUSI GERAKAN TANAH </p></li><li><p>TANAH PELAPUKAN BATUAN KEMIRINGAN LERENG </p><p> (KEJADIAN GERAKAN </p><p>TANAH) </p><p> 0-5% </p><p>( 0-3 ) </p><p>5-15% </p><p>(3-9 ) </p><p>15-30% </p><p>(9-17 ) </p><p>30-50% </p><p>(17-27 ) </p><p>50-70% </p><p>(27-36 ) </p><p>&gt;70% </p><p>(36-90 ) </p><p>Tufa dan breksi Gn. Api Muda </p><p>dari G. Ambulombo (Qhva) </p><p>( Tidak ada kejadian gerakan </p><p>tanah ) </p><p>-- -- - - - - </p><p>Breksi aglomerat dan tufa Gn. </p><p>Api Muda dari G. Ine Rie </p><p>(Qhvl) (3 X kejadian gerakan </p><p>tanah) </p><p>-- - - 3 - - </p><p>Lava dan breksi Gn. Api Tua </p><p>(Qtvu) (103 X kejadian </p><p>gerakan tanah) </p><p>- - 5 35 -53 10- </p><p> JENIS GERAKAN </p><p>TANAH </p><p>KEMIRINGAN LERENG </p><p> 0-5% 5-15% 15-30% 30-50% 50-70% &gt;70% </p><p> (0-3 ) (3-9 ) (9-17 ) (17-27 ) (27-36 ) (36-90 ) </p><p>Longsoran Bahan Rombakan Nendatan </p><p> - - </p><p> - - </p><p> 5 - </p><p> 35 </p><p>-3 </p><p> 51 </p><p>2 </p><p> 10 </p><p> - </p></li><li><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p> KEMIRINGAN LERENG </p><p>TANAH PELAPUKAN 0 5% 5 15% 15-30% 30 70% 50-70% &gt;70% </p><p> 0 - 3 3 - 9 9-17 17-27 27-36 &gt; 36 </p><p>Tufa dan breksi Gn. Api Muda dari G. Ambulombo (Qhva) </p><p>Breksi aglomerat dan tufa Gn. Api Muda dari G. Ine Rie (Qhvl) </p><p> Lava dan breksi Gn. Api Tua (Qtvu) </p><p>I </p><p>I </p><p>I </p><p>I </p><p>II </p><p>I </p><p>II/III </p><p>II </p><p>II </p><p>III </p><p>II/III </p><p>II/III </p><p>III/!V </p><p>III </p><p>III </p><p>III/IV </p><p>III </p><p>III/IV </p><p> Keterangan : I. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah </p><p> II. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah </p><p>III. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah </p><p>IV. Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi </p><p>TINGKAT KERENTANAN GERAKAN TANAH UNTUK MASING MASING TANAH PELAPUKAN BATUAN PADA KEMIRINGAN LERENG TERTENTU </p><p>Tingkat kerentanan gerakan tanah, yaitu tingkat yang menggambarkan kecenderungan suatu lereng alam natural slope untuk terkena gerakan tanah. Berdasarkan pertimbangan pada sudut kemiringan lereng kritis di lapangan maupun hasil analisis, maka kerentanan gerakan tanah pada setiap kisaran kemiringan lereng pada tanah pelapukan batuan dapat ditentukan, seperti terlihat pada Tabel dibawah ini. </p></li><li><p>Peta Zona Kerentanan Gerakan tanah Cara Langsung </p><p>Sumber: PVMBG, Badan Geologi </p></li><li><p>Metoda Tidak Langsung (Statistik ) Metoda tidak langsung adalah proses pembuatan peta zona kerentanan gerakan tanah didasarkan atas perhitungan kerapatan (density ) gerakan tanah dan nilai bobot (weight value) dari masing-masing unit/klas/tipe pada setiap peta parameter . </p><p>Kerapatan (density) adalah pencerminan dari luas kejadian gerakan tanah </p><p>pada satu satuan (kelas) perluas dari luas unit (kelas) parameter. </p><p> Luas gerakan tanah pada (unit/klas/tipe) </p><p>Kerapatan (unit/klas/tipe) = Luas (unit/klas/tipe </p><p> Luas gerakan tanah Luas seluruh gerakan pada (unit/klas/tipe) tanah pada peta Nilai bobot = ( unit/klas/tipe ) Jumlah luas (unit/klas/tipe) Luas seluruh daerah peta...</p></li></ul>