metode creative problem solving

Download Metode creative problem solving

Post on 25-May-2015

4.093 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1. Metode creative problem solving Diseminarkan pada SEMNAS HIMMA tanggal 26 Mei 2012 1 Di Palembang METODE CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA Zainab Guru SMP Negeri 3 Pemulutan email : zai_enab@yahoo.com Abstrak : Pembelajaran matematika yang menggunakan metode Creative Problem Solving (CPS) bertujuan untuk membimbing siswa menemukan dan mempresentasikan suatu masalah secara kreatif. Ada enam yang menjadi indikator dalam metode CPS sehingga dapat menciptakan suatu solusi dari pengalaman siswa menjadi pengetahuan yang baru. Metode CPS mempunyai tiga prosedur dalam pembelajaran yaitu : 1. Menemukan fakta, melibatkan penggambaran, mengumpulkan dan meneliti data atau informasi yang bersangkutan; 2. Menemukan gagasan; dan 3. Menemukan solusi. Langkah-langkah dalam metode CPS ini terdiri dari empat yaitu : 1. Klarifikasi masalah; 2. Pengungkapan masalah; 3. Evaluasi dan seleksi; dan 4. Implementasi. Agar metode CPS dapat berhasil dengan baik maka perlu ditunjang dengan bahan ajar atau media pembelajaran. Pada makalah ini menggunakan bahan ajar berupa Lembar Aktivitas Siswa (LAS). Kata Kunci : Metode Creative Problem Solving (CPS), Pembelajaran Matematika, Creative Problem Solving (CPS) dalam Matematika A. Pendahuluan Standar The National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) dalam Van de Walle (2008:4) sebagai standar utama dalam pembelajaran matematika yaitu kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection), kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi (representation). Visi dan tujuan dari dokumen (NCTM), yaitu Princples and Standards for School Mathematics, semua siswa harus mendapatkan kesempatan untuk mempelajari, mengapresiasi, dan menerapkan skill-skil, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip matematika baik didalam ataupun diluar sekolah (Wahyudin, 2008:4). Untuk mencapai standar-standar tersebut maka di Indonesia melakukan upaya perubahan kurikulum mulai dari kurikulum 1994 sampai pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada KTSP dalam Depdiknas 2006

2. Metode creative problem solving Diseminarkan pada SEMNAS HIMMA tanggal 26 Mei 2012 2 Di Palembang (Suwarman, 2009:2) pembelajaran matematika bertujuan: (1) Siswa memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; (2) Siswa memiliki kemampuan menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) Siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) Siswa memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; dan (5) Siswa memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Sedangkan menurut NCTM (dalam Van de Walle, 2008:14) dalam mengajar diperlukan Standar Profesional untuk mengajar matematika yang menyatakan bahwa guru harus mengubah pendekatan pengajarannya dari pengajaran terpusat pada guru menjadi pengajaran terpusat pada siswa. Peran guru dalam pembelajaran matematika adalah memberi semangat untuk melakukan penyelidikan, kepercayaan serta harapan kepada siswa sehingga siswa diajak untuk mengerjakan matematika. Tujuan hal ini adalah siswa yang secara aktif memahami soal, menguji ide-idenya, membuat dugaan, memberi alasan dan menjelaskan hasil kerjanya. Dalam pengerjaan, siswa dapat secara berkelompok, berpasangan ataupun individu dalam berbagi ide ataupun berdiskusi. Matematika merupakan pelajaran yang sulit untuk beberapa siswa bahkan secara umum. Oleh karena itu, guru (dalam Van de Walle, 2008:Apendiks B2) perlu menciptakan suasana belajar yang memberikan kekuatan matematika setiap siswa dengan : Menyediakan dan mengatur waktu yang diperlukan untuk mengungkapkan matematika yang logis dan menghadapi ide-ide serta masalah yang penting. 3. Metode creative problem solving Diseminarkan pada SEMNAS HIMMA tanggal 26 Mei 2012 3 Di Palembang Menggunakan ruang fisik dan benda-benda untuk memfasilitasi belajar matematika siswa. Menyediakan sesuatu yang dapat mendorong perkembangan keahlian dan kecakapan matematika siswa. Menghargai dan memiliki ide-ide, cara berpikir, dan waktu atau sikap matematika siswa. dan secara konsisten mengharapkan dan mendorong siswa untuk : Bekerja secara mandiri atau berkelompok untuk memahami matematika. Mengambil resiko intelektual dengan mengajukan pertanyaan dan merumuskan dugaan. Memperlihatkan perasaan tentang kompetensi matematika dengan memeriksa dan mendukung ide-ide dengan menggunakan alasan matematika. Agar proses pembelajaran matematika dapat berhasil sesuai dengan harapan maka perlu adanya penggunaan model pembelajaran yang dipandang sangat penting. Penggunaan model pembelajaran disesuaikan dengan materi pelajaran yang memiliki karakteristik yang berbeda dan beragam karakteristik peserta didik dilihat dari tipe belajar (visual, auditif dan kinestetis), serta menghindari kejenuhan saat belajar. Guru harus mampu berinovasi dalam hal model pembelajaran sehingga penyampaian materi pelajaran menjadi lebih baik dan sangat mempengaruhi behavior change yang diharapkan untuk peserta didik. Pada makalah ini akan dibahas cara mendesain model pembelajaran yang sesuai dengan keadaan tersebut yang berjudul Desain Metode Creative Problem Solving (CPS) dalam Pembelajaran Matematika. B. Metode Creative Problem Solving (CPS) Menurut Karen dalam Rosalin (2008:57), model Creative Problem Solving (CPS) adalah suatu metode pembelajaran yang berpusat pada keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan kreativitas. Guru hendaknya dapat merangsang siswa dalam memecahkan masalah sehingga dapat meningkatkan keterampilan proses dan keaktifan siswa dalam proses 4. Metode creative problem solving Diseminarkan pada SEMNAS HIMMA tanggal 26 Mei 2012 4 Di Palembang pembelajaran. CPS terdiri dari problem solving yaitu bagian dari pemikiran analitis (analytical thinking) dan kreativitas siswa. Problem Solving menurut Woods dalam Rosalin (2008:57), is the process of obtaining a satisfactory solution to a novel problem, or at least a problem which the problem solver has not seen before. Empat langkah Polya dalam Problem Solving (dalam Alfeld) adalah : 1. Understanding The Problem 2. Devising a Plan 3. Carrying Out The Plan 4. Looking Back Problem Solving merupakan bagian dari CPS. CPS menurut Wikipedia adalah proses mental menciptakan solusi dari masalah. CPS menurut Pepkin (2000:63) adalah Representing process dimensions in a natural, rather than in a contrived way. Undergoing a transformation from a prescriptive to a descriptive approach. Becoming more flexible and responsive to task, contextual, personal, methodological and meta-cognitive consideration. Jadi, CPS adalah metode untuk menemukan solusi dan merepresentasikan suatu masalah secara kreatif. Osborn dalam Rosalin (2008:58) mengatakan bahwa CPS mempunyai tiga prosedur, yaitu ; 1. Menemukan fakta, melibatkan penggambaran masalah, mengumpulkan dan meneliti data atau informasi yang bersangkutan. 2. Menemukan gagasan, berkaitan dengan memunculkan dan memodifikasi gagasan tentang strategi pemecahan masalah. 3. Menemukan solusi, yaitu proses evaluatif sebagai puncak pemecahan masalah. Kreatif memiliki dua fase dalam pemecahan masalah menurut Von Oech (Pepkin, 2000:63), yaitu fase imajinatif (gagasan strategi pemecahan masalah diperoleh) dan fase praktis (gagasan dievaluasi dan dilaksanakan). Menurut Osborn dalam Davis ada enam langkah sebagai proses CPS yaitu 5. Metode creative problem solving Diseminarkan pada SEMNAS HIMMA tanggal 26 Mei 2012 5 Di Palembang The Osborne-Parnes Creative Problem Solving Process Notes from the CPSI 1998 brochure. OF FF PF IF SF AF Objective Finding Fact Finding Problem Finding Idea Finding Solution Finding Acceptance Finding Identify Goal, Wish, Challenge Gather Data Clarify the Problem Generate Ideas Select & Strengthen Solutions Plan for Action What is the goal, wish, or challenge upon which you want to work? What's the situation or background ? What are all the facts, questions, data, feelings that are involved What is the problem that really needs to be focuses on? What is the concern that really needs to be addressed? What are all the possible solutions for how to solve the problem? How can you strengthen the solution? WHow can you select the solutions to know which one will work best? What are all the action steps that need to take place in order to implement your solution? Pepkin (2000:64) menuliskan langkah-langkah creative problem solving (CPS) dalam pembelajaran matematika sebagai hasil gabungan prosedur Von Oech dan Osborn, di antaranya sebagai berikut : a. Klarifikasi masalah, meliputi pemberian penjelasan kepada siswa tentang masalah yang diajukan agar siswa dapat memahami tentang penyelesauiannya yang diharapkan. b. Pengungkapan masalah, siswa dibebaskan untuk mengungkapkan gagasan tentang berbagai macam strategi penyelesaian masalah. c. Evaluasi dan seleksi, setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat atau strategi-strategi yang cocok untuk menyelesaikan masalah. 6. Metode creative problem solving Diseminarkan pada SEMNAS HIMMA tanggal 26 Mei 2012 6 Di Palembang d. Implementasi, siswa menentukan strategi yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah, kemudian menerapkannya hingga menemukan penyelesaian dari masalah tersebut. Sedangkan menurut Aldous (2007) yang membuat diagram gabungan 4 langkah model CPS dari Hadamard (1945) dan Wallas (1926) bersama dengan teori lingka

Recommended

View more >