filearus mereka ke luar negeri. selain itu, selisih antara migrasi masuk dan keluar (migrasi netto)...

of 136/136
https://www.bps.go.id

Post on 08-Jul-2019

232 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • ii Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    KAJIAN MIGRASI INTERNASIONAL Hasil Sensus Penduduk 2010 dan Survei Penduduk Antar Sensus

    2015

    ISBN : 978-602-438-242-1 No. Publikasi : 04140.1804 Katalog BPS : 2102040 Ukuran Buku : ISO B5 (17,6 cm x 25 cm) Jumlah Halaman : xii + 122 halaman Naskah : Subdirektorat Statistik Mobilitas Penduduk dan Tenaga Kerja

    Penanggung Jawab Umum : Nurma Midayanti Penanggung Jawab Teknis : Edi Setiawan Editor : M. Nashrul Wajdi Ika Luswara Penulis Naskah : Hamim Tsalis Soblia Rini Savitridina Yudi Fathul amin Novi Rosiana Pengolah Data : Hamim Tsalis Soblia Rini Savitridina

    Gambar Kulit : Subdirektorat Statistik Mobilitas Penduduk dan Tenaga Kerja Diterbitkan oleh : Badan Pusat Statistik Dicetak oleh : Badan Pusat Statistik Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia iii

    KATA PENGANTAR

    Data migrasi internasional saat ini sangat dibutuhkan oleh

    suatu negara terutama negara dengan besaran dan rate migrasi yang

    relatif tinggi. Untuk kasus Indonesia, migasi internasional erat

    kaitannya dengan pekerja migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

    yang bekerja di luar negeri. Oleh karena itu, penting untuk

    mengetahui stok pekerja migran keluar internasional dan memetakan

    arus mereka ke luar negeri. Selain itu, selisih antara migrasi masuk dan

    keluar (migrasi netto) diperlukan dalam memproyeksikan jumlah

    penduduk suatu negara.

    Hingga tahun 2010, penyusunan proyeksi penduduk

    Indonesia menggunakan asumsi bahwa arus migrasi internasional

    netto di Indonesia adalah nol (migrasi masuk ke Indonesia dan keluar

    dari Indonesia sama besar). Akan tetapi, mengingat semakin tingginya

    konektivitas antarnegara yang berdampak pada semakin mobile-nya

    penduduk suatu negara, BPS merasa perlu membuat kajian migrasi

    internasional dengan tujuan sebagai masukan terkait dengan

    perbaikan asumsi dalam penyusunan proyeksi penduduk.

    Kajian Migrasi Internasional Hasil Sensus Penduduk 2010 dan

    Survei Penduduk Antar Sensus 2015 dibuat dengan tujuan

    memberikan gambaran terkait statistik migrasi internasional dari

    sumber data terkini, yaitu Sensus Penduduk 2010 (SP2010) dan Survei

    Penduduk Antar Sensus 2015 (SUPAS2015). Beberapa pokok bahasan

    dalam kajian ini mencakup: kesesuaian kuesioner dalam menangkap

    kejadian migrasi internasional; besaran, dan rate migrasi

    internasional; termasuk kesesuaian data hasil SP2010 dan SUPAS

    2015 dengan data sekunder dari Kementerian/Lembaga lain.

    Referensi utama yang digunakan dalam melakukan kajian ini

    adalah panduan pengukuran migrasi international yang diterbitkan

    oleh Department of Economic and Social Affairs United Nations (UN-

    ECOSOC, 2017)., meskipun pada saat dilaksanakannya SUPAS 2015

    rancangan panduan ini belum tersedia. Kajian juga diperkaya dengan

    melakukan perbandingan praktik negara lain dalam menjaring migrasi

    internasional yang diperoleh melalui sensus/survei. Terkait dengan

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • iv Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    statistik yang dihasilkan, dilakukan juga perbandingan data migrasi

    yang dihasilkan dari sensus/survei dengan data yang tercatat dari

    Kementerian/Lembaga lain.

    Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam

    penyusunan kajian ini disampaikan terima kasih.

    Jakarta, November 2018 Kepala Badan Pusat Statistik

    Republik Indonesia

    Dr. Suhariyanto

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia v

    DAFTAR ISI

    Halaman

    KATA PENGANTAR ................................................................... iii DAFTAR ISI ................................................................................ v DAFTAR TABEL ......................................................................... vii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................. ix

    BAB I PENDAHULUAN .................................................... 1 1.1 Latar Belakang ........................................... 1 1.2 Tujuan ........................................................ 3

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................ 5 2.1 Definisi Migrasi Internasional ..................... 5 2.2 Definisi Operasional ................................... 7 2.3 Teori Pendukung ........................................ 10

    BAB III METODOLOGI ........................................................ 14 3.1 Sumber Data .............................................. 14 3.2 Kodifikasi Negara ....................................... 15

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................... 16 4.1 Sensus Penduduk 2010 ............................... 16

    4.1.1 Migrasi Masuk Internasional .......... 16 4.1.2 Permasalahan Kodifikasi pada

    SP2010 .......................................... 19 4.2 Survei Penduduk Antar Sensus 2015 ........... 28

    4.2.1 Migrasi Masuk ............................... 28 4.2.2 Persebaran Migrasi Masuk ke

    Indonesia....................................... 31 4.2.3 Migrasi Keluar Internasional

    selama 1 Januari 2010 sampai dengan 31 Mei 2015 ....................... 36

    4.3 Perbandingan dengan Data Sekunder ........ 56 4.4 Migrasi Kembali Internasional

    (International Returned Migration) .............. 60

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • vi Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Halaman

    4.5 Keterbandingan Data Migrasi Hasil SP2010 dengan SUPAS 2015 ................................... 66

    BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ..................... 68 REFERENSI ................................................................................ 72 LAMPIRAN ................................................................................. 75

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia vii

    DAFTAR TABEL

    Halaman

    Tabel 1 Migran masuk internasional seumur hidup menurut kewarganegaraan tahun 2010 ................ 17

    Tabel 2 Migran masuk internasional risen menurut kewarganegaraan tahun 2010 ............................... 18

    Tabel 3 Nama dan kode negara berdasarkan ISO .............. 19 Tabel 4 Nama dan kode negara pada SP2010 .................... 21 Tabel 5 Migran masuk risen internasional menurut tempat

    tinggal 5 tahun yang lalu tahun 2010 ..................... 22 Tabel 6 Nama negara dan perbaikan kode negara pada

    SUPAS 2015 .......................................................... 25 Tabel 7 Nama negara dan kode telepon ............................ 26 Tabel 8 Migran masuk internasional seumur hidup

    menurut kewarganegaraan tahun 2015 ................. 28 Tabel 9 Migran masuk internasional risen mernurut

    kewarganegaraan tahun 2015 ............................... 28 Tabel 10 Migran masuk internasional total menurut

    kewarganegaraan tahun 2015 ............................... 29 Tabel 11 Penduduk menurut provinsi, status migrasi

    seumur hidup, dan tempat lahir, tahun 2015 ......... 32 Tabel 12 Penduduk berumur 5 tahun ke atas menurut

    provinsi, status migrasi risen, dan tempat tinggal lima tahun yang lalu, tahun 2015 ........................... 33

    Tabel 13 Jumlah migran dan nonmigran total menurut provinsi, status migran, dan tempat tinggal terakhir, tahun 2015 .............................................. 35

    Tabel 14 Jumlah penduduk 5 tahun ke atas yang berangkat dan tinggal di luar negeri sejak 1 Januari 2010 s.d pencacahan (mantan ART) menurut tahun berangkat ............................................................. 46

    Tabel 15 Jumlah penduduk 5 tahun ke atas yang berangkat dan tinggal di luar negeri sejak 1 Januari 2010 s.d pencacahan (mantan ART) menurut alasan pindah ke negara tujuan ................................................... 47

    Tabel 16 Jumlah penduduk 5 tahun ke atas yang berangkat dan tinggal di luar negeri sejak 1 Januari 2010 s.d pencacahan (mantan ART) menurut kegiatan utama ................................................................... 47

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • viii Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Tabel 17 Jumlah penduduk 5 tahun ke atas yang berangkat dan tinggal di luar negeri sejak 1 Januari 2010 s.d pencacahan (mantan ART) menurut negara tujuan

    48

    Tabel 18 Jumlah penduduk Indonesia yang berangkat dan tinggal di luar negeri sejak 1 Januari 2010 s.d pencacahan (mantan ART) menurut kelompok umur dan jenis kelamin ........................................ 50

    Tabel 19 Migrasi masuk total internasional (tahun 2010-2015) menurut kelompok umur dan jenis kelamin 51

    Tabel 20 Migran keluar, masuk, dan net migrasi internasional per tahun menurut kelompok umur dan jenis kelamin .................................................. 52

    Tabel 21 Net migrasi internasional dan jumlah penduduk per kelompok umur dan jenis kelamin .................. 53

    Tabel 22 ASNMR internasional menurut kelompok umur dan jenis kelamin .................................................. 54

    Tabel 23 Net migrasi Indonesia menurut periode tahun...... 54 Tabel 24 WNI di Luar Negeri menurut negara tahun 2015 ... 57 Tabel 25 Jumlah TKI yang ditempatkan menurut negara

    dan tahun ............................................................. 59 Tabel 26 Jumlah WNA menurut jenis izin tinggal dan tahun 59 Tabel 27 Jumlah penduduk 5 tahun ke atas yang pernah

    tinggal di luar negeri sejak 1 Januari 2010 s.d pencacahan (ART) menurut tahun berangkat ....... 62

    Tabel 28 Jumlah penduduk 5 tahun ke atas yang pernah tinggal di luar negeri sejak 1 Januari 2010 s.d pencacahan menurut kewarganegaraan ............... 62

    Tabel 29 Migran kembali internasional umur 5 tahun ke atas menurut negara yang ditinggali ........................... 63

    Tabel 30 Migran kembali internasional umur 5 tahun ke atas menurut tahun kembali ke Indonesia ................... 64

    Tabel 31 Jumlah kejadian migrasi menurut jenis migrasi hasil SP2010 dan SUPAS 2015 .............................. 66

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia ix

    DAFTAR LAMPIRAN

    Halaman

    Tabel L.1 Penduduk Menurut Provinsi, Status Migrasi Seumur Hidup, dan Tempat Lahir, Tahun 2010.. 75

    Tabel L.2 Migran Seumur Hidup Menurut Provinsi, Tempat Lahir, dan Kewarganegaraan, Tahun 2010 ......... 76

    Tabel L.3 Arus Migrasi Internasional Seumur Hidup, Tahun 2010.... ........................................................ 77

    Tabel L.4 Migran Seumur Hidup yang Lahir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Negara, dan Jenis Kelamin, Tahun 2010 ......................................... 80

    Tabel L.5 Migran Seumur Hidup Berumur 5 Tahun ke Atas yang Lahir di Luar Negeri menurut Kelompok Umur, Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, dan Jenis Kelamin, Tahun 2010 .......................... 83

    Tabel L.6 Migran Seumur Hidup Berumur 10 Tahun Ke Atas yang Lahir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Lapangan Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2010 .......................... 84

    Tabel L.7 Migran Seumur Hidup Berumur 10 Tahun Ke Atas yang Lahir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Status Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2010 ................................ 87

    Tabel L.8 Penduduk Berumur 5 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi, Status Migrasi Risen, dan Tempat Tinggal Lima Tahun yang Lalu, Tahun 2010 ....... 88

    Tabel L.9 Migran Risen Menurut Provinsi, Tempat Tinggal Lima Tahun yang Lalu, dan Kewarganegaraan, Tahun 2010 ........................................................ 89

    Tabel L.10 Arus Migrasi Internasional Risen, Tahun 2010 .... 90 Tabel L.11 Migran Risen yang Lima Tahun Lalu Berada di

    Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Negara Tempat Tinggal Lima Tahun yang Lalu, dan Jenis Kelamin, Tahun 2010 ......................................... 93

    Tabel L.12 Migran Risen yang Lima Tahun Lalu Berada di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, dan Jenis Kelamin, Tahun 2010 ................................

    96

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • x Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Tabel L.13 Migran Risen Berumur 10 Tahun ke Atas yang Lima Tahun Lalu di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Lapangan Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2010........ .................

    97 Tabel L.14 Migran Risen Berumur 10 Tahun Ke Atas yang

    Lima Tahun Lalu Berada di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Status dalam Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2010.............

    100 Tabel L.15 Penduduk Menurut Provinsi, Status Migrasi

    Seumur Hidup, dan Tempat Lahir, Tahun 2015 . 101 Tabel L.16 Migran Seumur Hidup Menurut Provinsi, Tempat

    Lahir, dan Kewarganegaraan, Tahun 2015 ........ 102 Tabel L.17 Migran Seumur Hidup Berumur 5 Tahun Ke Atas

    yang Lahir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015 ......................... 103

    Tabel L.18 Migran Seumur Hidup Berumur 10 Tahun Ke Atas yang Lahir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Lapangan Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015 ......................... 104

    Tabel L.19 Migran Seumur Hidup yang Lahir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Status Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015 ............. 105

    Tabel L.20 Penduduk Berumur 5 Tahun Ke Atas Menurut Provinsi, Status Migrasi Risen, dan Tempat Tinggal Lima Tahun yang Lalu, Tahun 2015 ...... 106

    Tabel L.21 Migran Risen Menurut Provinsi, Tempat Tinggal Lima Tahun yang Lalu, dan Kewarganegaraan, Tahun 2015 ....................................................... 107

    Tabel L.22 Migran Risen yang Lima Tahun Lalu Berada di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015 ................................

    108 Tabel L.23 Migran Risen yang Lima Tahun Lalu di Luar

    Negeri Menurut Kelompok Umur, Lapangan Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015 .................................................................. 109

    Tabel L.24 Migran Risen Berumur 10 Tahun Ke Atas yang Lima Tahun Lalu Berada di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Status Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015 ................................

    110

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia xi

    Tabel L.25 Jumlah Migran dan Nonmigran Total Menurut Provinsi, Status Migran, dan Tempat Tinggal Terakhir, Tahun 2015 ......................................... 111

    Tabel L.26 Migran Total Menurut Provinsi, Tempat Tinggal Terakhir, dan Kewarganegaraan Tahun 2015 ..... 112

    Tabel L.27 Migran Total yang Tempat Tinggal Terakhir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Pendidikan Tertinggi, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015.......... ........................................................ 113

    Tabel L.28 Migran Total yang Tempat Tinggal Terakhir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Lapangan Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015 ........................................................ 114

    Tabel L.29 Migran Total yang Tempat Tinggal Terakhir di Luar Negeri Menurut Kelompok Umur, Status dalam Pekerjaan Utama, dan Jenis Kelamin, Tahun 2015 ........................................................ 115

    Tabel L.30 Jumlah Penduduk Indonesia Berumur 5 Tahun ke Atas yang Pindah ke Luar Negeri Menurut Tahun Berangkat dan Status ........................................ 116

    Tabel L.31 Jumlah Penduduk Indonesia Berumur 5 Tahun ke Atas yang Pindah ke Luar Negeri Menurut Negara Tujuan dan Status ................................. 116

    Tabel L.32 Jumlah Penduduk Indonesia Berumur 5 Tahun ke Atas yang Pernah Tinggal di Luar Negeri (Returned Migrant) Menurut Kegiatan Utama.. .

    117 Tabel L.33 Jumlah Penduduk Indonesia Berumur 5 Tahun ke

    Atas yang Sekarang Tinggal di Luar Negeri Menurut Kegiatan Utama ..................................

    117 Tabel L.34 Jumlah Penduduk Indonesia yang Pindah ke

    Luar Negeri Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin ......................................................

    118 Tabel L.35 Migran Masuk Total Internasional (Tahun 2010 -

    2015) Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin... ....................................................... 118

    Tabel L.36 Migran Keluar, Masuk, dan Net Migrasi Internasional per Tahun Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin .................................... 119

    Tabel L.37 Net Migrasi Internasional dan Jumlah Penduduk per Kelompok Umur dan Jenis Kelamin ............. 119

    Tabel L.38 ASNMR Internasional Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin .............................................. 120

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • xii Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Tabel L.39 Migran Risen yang Tempat Tinggal Lima Tahun Lalu di Luar Negeri Menurut Provinsi dan Tahun 121

    Tabel L.40 Migran Seumur Hidup yang Lahir di Luar Negeri menurut Provinsi dan Tahun ............................. 122

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Secara umum, studi empiris tentang migrasi internasional

    jumlahnya sangat terbatas (Massey et.al, 1998). Banyak studi

    mengenai tema ini dibahas untuk kasus Eropa, terutama migrasi di

    Eropa Barat. Namun, hal ini kontras jika dibandingkan dengan jumlah

    studi migrasi di Asia, terutama Asia Tenggara dan Pasifik. Battistella

    (2003), menyatakan studi tentang migrasi di kawasan Asia Tenggara

    dan Asia Timur memiliki tipologi yang kompleks. Kompleksitas yang

    dimaksud adalah fluktuasi politik dan krisis ekonomi yang membuat

    pola migrasi di dua kawasan ini berbeda dengan hasil studi yang ada

    selama ini.

    Menurut Massey et.al (1993), terdapat beberapa aspek

    fundamental yang dianggap sebagai kekurangan dari banyak

    penelitian migrasi internasional, antara lain, perbedaan struktur sosial,

    perekonomian dan geografi dari setiap belahan dunia. Lebih lanjut

    Massey (1994, 1998) menekanakan bahwa sebelum melakukan

    penelitian tentang migrasi internasional, ketersediaan data migrasi

    internasional yang cukup langka di banyak negara, terutama negara

    berkembang, menjadi satu hal yang sangat penting untuk

    diidentifikasi. Pencatatan yang kurang sistematis menyebabkan

    banyaknya observasi yang tidak berhasil dilacak. Hal ini menyulitkan

    penelitian migrasi internasional terhadap beberapa wilayah yang

    seharusnya berpotensi untuk diteliti. Sebagian besar negara Asia

    Tenggara dan Asia Tengah belum melakukan pencatatan dengan baik.

    Dalam survei atau sensus yang dilakukan oleh BPS,

    keterangan migrasi tidak diperoleh dari pertanyaan yang bersifat

    langsung apakah seseorang pernah berpindah tempat. Keterangan

    tersebut diperoleh dengan melihat perbedaan atau perubahan tempat

    tinggalnya. Ketika penduduk pernah berbeda tempat tinggal pada

    periode waktu tertentu dianggap telah bermigrasi dengan tetap

    memperhatikan konsep penduduk yang berlaku.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 2 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Dibandingkan dengan pengumpulan data kelahiran dan

    kematian, terdapat beberapa kendala dalam pengumpulan data

    migrasi migrasi internasional. Pertama, daya ingat responden. Ada

    kecenderungan responden lupa mengingat kejadian perpindahan

    yang sudah berlangsung lama apalagi jika orang tersebut sering kali

    melakukan perpindahan tempat tinggal. Hasil Pilot Survei Migrasi

    2014 menunjukkan bahwa semakin rendah wilayah administratif

    semakin besar persentase penduduk yang tidak ingat nama wilayah

    tersebut. Kelemahan berikutnya adalah masalah kesalahan konsep

    definisi tempat lahir. Definisi tempat lahir yang dipakai dalam

    sensus/survei di Indonesia adalah wilayah geografis tempat tinggal ibu

    kandung pada saat melahirkan responden bukan wilayah geografis

    dimana kelahiran terjadi1. Kesalahan informasi yang diberikan oleh

    anggota rumah tangga lain bukan responden yang bersangkutan juga

    banyak terjadi. Dalam kasus migrasi internasional terdapat kesalahan

    dalam menerapkan konsep penduduk, yaitu batasan waktu biasa

    tinggal/menetap, bukan batasan tinggal yang sifatnya sementara

    (temporary travel).

    Untuk kasus Indonesia, data migrasi internasional yang

    bersumber dari survei/sensus berbasis rumah tangga hanya dapat

    diperoleh dari sensus penduduk dan SUPAS. Itu pun terbatas pada

    jumlah migran yang masuk ke Indonesia. Tidak ada informasi

    mengenai berapa banyak orang yang pindah keluar dari Indonesia.

    Padahal, selisih migrasi masuk dan keluar Indonesia, angkanya juga digunakan untuk kepentingan penghitungan proyeksi penduduk.

    Akibatnya, selama ini diasumsikan bahwa jumlah orang yang masuk

    dan keluar Indonesia hampir sama. Dengan kata lain, migrasi

    internasional dianggap tidak signifikan mempengaruhi dinamika

    penduduk Indonesia. Indonesia diasumsikan sebagai negara tertutup

    (closed country). Faktanya, Indonesia merupakan salah satu negara

    pengirim migran keluar internasional terbesar terutama pekerja

    migran (Tenaga Kerja Indonesia /TKI). Karena ketersediaan data dari

    1 Mengikuti rekomendasi UN: For persons born in the country (the native-born population), the concept of place of birth usually refers to the geographical unit where the mother of the individual resided at the time of the persons birth. Indonesia mengadopsi konsep ini, meskipun beberapa negara menggunakan unit wilayah geografis dimana kelahiran benar-benar terjadi.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 3

    sumber sekunder kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan

    informasi terkait pembangunan statistik migrasi internasional, maka

    BPS menginisiasi pembangunan statistik migrasi internasional dengan

    pendekatan survei berbasis rumah tangga, salah satunya melalui

    Survei Penduduk Antar Sensus tahun 2015 (SUPAS2015).

    Untuk pertama kalinya, SUPAS 2015 menghimpun informasi

    mengenai migrasi internasional secara lengkap. Selain migrasi masuk

    ke Indonesia, ada pertanyaan yang bisa menggali informasi terkait

    migrasi keluar dari Indonesia. Dari SUPAS 2015 bisa diestimasi jumlah

    orang yang keluar dan masuk Indonesia selama periode waktu yang

    ditentukan. Data migran internasional masuk dan keluar yang

    diperoleh juga bisa dipilah menurut umur dan jenis kelamin yang

    memang dibutuhkan untuk input asumsi migrasi internasional ke

    depan untuk keperluan penghitungan proyeksi penduduk.

    Kajian ini merupakan salah satu bentuk pemanfaatan data

    SUPAS2015, khususnya terkait dengan penyediaan statistik migrasi

    internasional. Cakupan kajian yang dilakukan meliputi migrasi

    internasional masuk dan migrasi internasional keluar. Sebagai kajian

    yang pertama kali dilakukan, hasil kajian ini diharapkan dapat dipakai

    untuk memperbaiki bagian-bagian yang terlewat, terutama pada

    kuesioner SUPAS2015, mengingat penyusunan kuesioner SUPAS2015

    dilakukan sebelum terbitnya panduan UN terbaru mengenai migrasi

    internasional. Perbaikan pada input, khususnya kuesioner, diharapkan

    akan menghasilkan output atau data yang lebih baik. Kajian dilakukan

    dengan menggunakan dua sumber data terbaru yang mencakup

    migrasi internasional, yakni Sensus Penduduk 2010 (SP2010) dan

    Survei Penduduk Antar Sensus 2015 (SUPAS 2015).

    1.2 Tujuan

    Tujuan penulisan ini adalah :

    1. Melihat besaran, tingkat, pola dan arus migrasi masuk

    Internasional seumur hidup dan risen data SP2010;

    2. Mengulas permasalahan kodifikasi negara di SP2010 dan

    perbaikannya di SUPAS 2015;

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 4 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    3. Melihat besaran, tingkat, pola dan arus migrasi masuk

    Internasional seumur hidup, risen dan total data SUPAS 2015;

    4. Mengkaji pertanyaan migrasi keluar internasional di SUPAS

    2015;

    5. Melihat besaran, tingkat, pola dan arus migrasi internasional

    keluar Indonesia data SUPAS 2015;

    6. Menghitung net migrasi internasional hasil SUPAS 2015 untuk

    keperluan proyeksi penduduk;

    7. Membandingkan migrasi internasional hasil SUPAS 2015

    dengan beberapa data sekunder yang ada;

    8. Mengkaji pertanyaan migrasi kembali, menghitung besaran,

    tingkat dan arus migrasi kembali;

    9. Melihat keterbandingan data migrasi hasil SP2010 dan SUPAS

    2015.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 5

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Definisi Migrasi Internasional

    Penjabaran definisi migrasi internasional mengundang

    beberapa perdebatan. Sesuai dengan pendapat Massey (1993), yang

    menyatakan bahwa perbedaan data maupun karakteristik suatu

    wilayah akan membuat definisi dari migran dan aspek-aspek penarik

    maupun pendorong dari migrasi berbeda pula. Menurut pendapat

    Massey (1993), karakteristik fundamental dari migrasi adalah

    perpindahan seseorang dari satu lokasi ke lokasi lain. Sedangkan dari

    definisi yang diberikan oleh UNDP (United Nations Development

    Programme, HDI Report 2009) migrasi internasional adalah proses

    perpindahan manusia melewati batas negara dalam kurun waktu lebih

    dari satu tahun. UN (1998) mendefinisikan seseorang dimasukkan

    sebagai migran internasional apabila merubah negara tempat biasa

    tinggal. Biasa disini diukur dari lamanya menetap yaitu minimal 12

    bulan (setahun). Konsep minimal 12 bulan juga konsisten dengan

    konsep yang dipakai dalam System of National Accounts (European

    Commission, International Monetary Fund, Organisation for

    Economic Co-operation and Development, United Nations and World

    Bank, 2009), Balance of Payment Framework (IMF, 2009), dan di

    International Recommendations for Tourism Statistics (United Nations

    and World Tourism Organization, 2010). Batasan minimal 12 bulan

    juga mengidentifikasi migran tersebut sebagai long term migrant,

    mereka inilah yang danggap sebagai migran internasional.

    Sementara, ada juga istilah short term migrant yang merujuk pada

    orang-orang yang pindah ke negara lain untuk periode waktu minimal

    3 bulan sampai kurang dari setahun yang mana ini untuk

    mengakomodasi meningkatnya pergerakan perpindahan orang-orang

    untuk periode yang pendek kurang dari 12 bulan. Tidak termasuk disini

    bepergian ke luar negeri bersifat sementara untuk tujuan rekreasi,

    liburan, mengunjungi teman atau kerabat, bisnis, tindakan berobat

    atau perjalanan ibadah keagamaan yang tidak merubah negara

    tempat biasa tinggal.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 6 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Perbedaan dalam konteks dan definisi migrasi menjadi

    problem tersendiri untuk banyak penelitian di migrasi internasional

    (Massey et-al, 1994). Periode tinggal, batasan wilayah negara

    didefinisikan berbeda oleh beberapa peneliti. Lucas (1997),

    menyatakan bahwa orang yang melakukan migrasi internasional bisa

    disebut sebagai migran ketika sudah melewati batas negara dari

    negara asal. Namun, menurut Jennissen, faktor waktu juga harus

    diperhitungkan. Bukan sekedar melewati batasan negara bisa disebut

    migran.

    Perbedaan pendapat ini disebabkan oleh beberapa

    permasalahan dalam pendefinisan data migrasi internasional

    (Massey,1993,1994). Secara ringkas definisi migrasi internasional

    paling mudah dibedakan berdasarkan faktor spasial maupun waktu.

    Aspek spasial

    Menurut Kupiszewski dan Kupiszewska (1999), migrasi

    didefinisikan dari data negara penerima migran saja. Ketika migran

    memasuki batas wilayah suatu negara, dan tercatat sebagai migran di

    negara tujuan, maka orang tersebut sudah diklasifikasikan sebagai

    migran internasional. Akan tetapi, dalam HDI Report 2010 (UNDP,

    2010) dan UN (2017), aspek temporal tidak masuk hitungan dalam

    migrasi, sehingga tidak semua yang melintasi batas negara adalah

    migran. Contohnya adalah perjalanan yang dicakup oleh statistik

    pariwisata seperti rekreasi, liburan, mengunjungai teman atau kerabat

    atau perjalanan ibadah keagamaan yang melintasi negara lain. Karena

    itu, aspek spasial saja tidak dapat dipergunakan sebagai satu-satunya

    faktor dalam pendefiniasn migran.

    Aspek durasi waktu

    Terdapat perbedaan waktu agar seseorang dianggap sebagai

    migran. Beberapa peneliti, termasuk Massey (1994) berpendapat

    seseorang dianggap benar-benar migran bila mereka bergerak bukan

    hanya dalam faktor spasial, akan tetapi dalam kurun waktu yang

    cukup lama (lifetime migration). Sementara itu, migrasi dalam arti

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 7

    yang lebih luas adalah perubahan tempat tinggal secara permanen

    (Weeks, 2004 cf Jennissen, 2004) atau semi-permanen (Lee, 1966 c.f

    Jennissen, 2004). Dilanjutkan oleh Wajdi (2010) mengenai aspek

    longitudinal migrasi, terdapat dua tipe migran, yaitu migran yang

    bersifat temporer dan migran yang bersifat permanen.

    Aspek waktu yang direkomendasikan UN minimal satu tahun ternyata

    beragam untuk setiap negara, meskipun sebagian besar negara di

    dunia mengadopsi apa yang direkomendasikan. Di Singapura batasan

    waktu menetap penduduk adalah minimal 12 bulan atau setahun atau

    belum setahun tetapi akan menetap selama setahun atau lebih. Di

    Myanmar syarat menjadi penduduk di suatu wilayah/negara adalah

    tinggal dan menetap selama 6 bulan atau lebih. Dalam kajian ini, aspek

    waktu yang digunakan adalah konsep penduduk BPS yang

    mengadopsi batasan enam bulan. Seseorang dikatakan biasa tinggal

    di negara lain apabila sudah menetap di negara tersebut 6 bulan atau

    lebih lamanya atau jika kurang dari 6 bulan tapi sudah berniat menetap

    di sana. Sehingga, seseorang dianggap sebagai migran internasional

    adalah mereka yang telah tinggal di negara tujuan selama 6 bulan atau

    lebih atau kurang dari enam bulan tetapi berniat menetap di negara

    tujuan.

    2.2 Definisi Operasional

    Dengan memperhitungkan kedua aspek dalam pendefiniasn

    migrasi (aspek spasial dan aspek waktu), untuk menangkap kejadian

    migrasi internasional masuk dalam sensus maupun survei yang

    dilakukan BPS, minimal ada 3 pertanyaan utama yang biasanya

    ditanyakan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah: tempat lahir,

    tempat tinggal 5 tahun yang lalu dan tempat tinggal terakhir sebelum

    tinggal di tempat tinggal sekarang.

    Tempat lahir sebagai pendekatan mendapatkan migrasi

    seumur hidup, tempat tinggal 5 tahun yang lalu untuk pendekatan

    penghitungan migrasi risen dan tempat tinggal terakhir sebelum

    tempat tinggal sekarang sebagai pendekatan penghitungan migrasi

    total. Adapun jenis pertanyaan lainnya terkait migrasi adalah

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 8 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    pertanyaan yang sifatnya tambahan untuk memperkaya analisis

    migrasi itu sendiri. Menurut UN (2015) paling tidak ada lima

    pertanyaan yang sebaiknya dicakup dalam migrasi:

    a. Tempat biasanya tinggal

    b. Tempat lahir

    c. Lamanya tinggal

    d. Tempat tinggal sebelumnya dan

    e. Tempat tinggal pada saat tertentu di masa lalu

    Berikut adalah contoh pertanyaan migrasi masuk yang

    diterapkan dalam Sensus Penduduk 2010:

    Pada SUPAS 2015, untuk menangkap kejadian migrasi

    internasional keluar, digunakan 2 pendekatan pertanyaan yaitu

    pertanyaan terkait dengan ART saat pencacahan dan pertanyaan yang

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 9

    terkait dengan mantan ART. Pertanyaan ART merupakan semua

    kejadian migrasi internasional ke luar yang pernah/sudah terjadi,

    dimana pelaku migrasi sudah berada di Indonesia lagi. Sementara itu,

    pertanyaan untuk mantan ART digunakan untuk menangkap kejadian

    migrasi ke luar yang sedang terjadi dan pelakunya belum kembali ke

    Indonesia dan masih menetap di luar negeri. Kejadian migrasi

    internasional keluar dari ART memberikan informasi banyaknya

    penduduk yang pernah tinggal di luar negeri, sedangkan mantan ART

    memberikan informasi banyaknya penduduk yang sekarang tinggal

    dan menetap di luar negeri. Kejadian migrasi yang ditanyakan adalah

    semua keberangkatan sejak 1 Januari 2010 sampai saat pencacahan.

    Pertanyaan dalam kuesioner untuk mantan ART seperti di

    bawah ini :

    Pertanyaan dalam kuesioner untuk ART seperti di bawah ini :

    Pertanyaan tersebut dirancang untuk pertama kalinya digunakan

    dalam SUPAS 2015. Saat perancangan kuesioner SUPAS2015,

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 10 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    panduan UN yang digunakan sebagai referensi utama dalam kajian ini

    belum ada, sehingga belum bisa dijadikan referensi terkait

    pengumpulan informasi migrasi internasional ke luar negeri.

    2.3 Teori pendukung

    Bicara mengenai migrasi, tidak bisa lepas dari hukum migrasi

    yang ditemukan akhir abad 20, oleh Ravenstein (1885). Teori ini

    berlaku untuk migrasi internasional maupun migrasi internal. Hukum

    Ravenstein (Chotib, 2010 c.f Ravenstein 1985, 1915) tentang migrasi

    internasional meliputi:

    a. Migrasi dan jarak

    Tingkat migrasi antara dua titik akan berhubungan terbalik

    dengan jarak di antara kedua titik tersebut. Migran yang

    melakukan perjalanan jarak jauh cenderung menuju pusat-

    pusat industri.

    b. Migrasi bertahap

    Penduduk daerah perdesaan yang langsung berbatasan

    dengan kota yang bertumbuh cenderung untuk cepat

    melakukan migrasi. Turunnya jumlah penduduk di perdesaan

    sebagai akibat migrasi itu akan digantikan oleh migran dari

    daerah-daeah yang jauh terpencil. Hal ini akan terus

    berlangsung sampai daya tarik salah satu kota yang tumbuh

    cepat itu tahap demi tahap terasa pengaruhnya di pelosok-

    pelosok yang terpencil. Setiap arus migrasi utama

    menimbulkan arus balik sebagai penggantinya. Meskipun

    migrasi desa-kota mendominasi arus migrasi, namun selalu

    ada arus balik pada arah yang berlawanan sehingga migrasi

    bersih dari titik i ke j selalu lebih kecil daripada migrasi kotor

    antara kedua titik tersebut. Sama halnya dengan konteks

    negara, pada jangka panjang -- salah satunya penelitian Salt

    (1992) -- dinyatakan setiap migrasi internasional yang

    melintasi batas negara cenderung menimbulkan arus balik

    migrasi dari daerah lain sebagai konsekuensinya.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 11

    c. Teknologi, komunikasi dan migrasi

    Arus migrasi memiliki kecenderungan meningkat sepanjang

    waktu akibat peningkatan sarana perhubungan, dan akibat

    perkembangan industri dan perdagangan.

    d. Motif ekonomi merupakan dorongan utama setiap manusia

    untuk memperbaiki kehidupan.

    Determinan ini cenderung lebih dominan daripada faktor lain

    dalam keputusan bermigrasi.

    Salah satu teori yang menjelaskan mengenai penyebab

    migrasi adalah teori neoklasik. Berdasarkan teori tersebut, perbedaan

    jumlah upah antara dua wilayah merupakan alasan utama terjadinya

    migrasi tenaga kerja (Lewis, 1982). Adanya perbedaan besar upah/gaji

    dikarenakan adanya perbedaan secara geografis dalam jumlah suplai

    tenaga kerja dan permintaan tenaga kerja. Beberapa faktor lain juga

    berperan penting dalam hal ini, seperti produktivitas tenaga kerja,

    atau jabatan dalam asosiasi buruh/tenaga kerja. Terdapat negara yang

    kekurangan jumlah tenaga kerja (baik ahli maupun yang kurang ahli)

    relatif terhadap jumlah kapital cenderung memiliki tingkat upah yang

    lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara/wilayah yang memiliki

    formasi tenaga kerja dalam jumlah besar relatif terhadap kapital, yang

    cenderung memiliki tingkat upah lebih rendah secara umum

    (Jennissen, 2004 c.f Massey et-al, 1993). Dengan adanya perbedaan

    tingkat upah di kedua negara maka arus tenaga kerja cenderung

    bergerak dari daerah (negara) yang memiliki tingkat upah lebih rendah

    menuju negara dengan tingkat upah yang lebih tinggi (Jennissen,

    2003, 2004 c.f Borjas, 1989; Massey et-al, 1993).

    Teori lainnya adalah teori dual-labor market yang

    menyatakan bahwa migrasi internasional disebabkan karena kuatnya

    faktor penarik (pull factors) dari negara - negara maju tujuan para

    migran melakukan emigrasi. Berdasarkan teori ini, segmen-segmen

    dalam pasar tenaga kerja dapat dibedakan sebagai sektor/segmen

    primer ataupun sekunder secara alamiah. Segmen primer

    digambarkan oleh besarnya formasi kapital (modal) jika dibandingkan

    dengan tenaga kerja (capital intensive), serta besarnya dominasi

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 12 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    tenaga kerja ahli (terdidik). Sektor sekunder merupakan sektor

    dengan ciri labor intensive (intensif tenaga kerja dibandingkan modal

    secara relatif dalam formasi produksi) dan didominasi secara kuat oleh

    para tenaga kerja kurang ahli (unskilled labor). Teori dualisme pasar

    tenaga kerja mengasumsikan bahwa migrasi tenaga kerja

    internasional terpaku pada besarnya permintaan tenaga kerja dari

    sektor intensif tenaga kerja (sekunder) yang terdapat pada masyrakat

    industri modern (negara penerima migran) (Jennissen, 2004 c.f Piore,

    1979; Massey et-al, 1993).

    Piore (1979) memaparkan tiga kemungkinan tertinggi untuk

    menjelaskan adanya permintaan tenaga kerja asing di negara industri

    modern, yaitu: kekurangan jumlah tenaga kerja secara umum,

    kebutuhan untuk mengisi hierarki paling bawah pekerjaan (unskilled

    labor), dan kekurangan tenaga kerja pada sektor/segmen sekunder

    pada suatu negara. Kekurangan/kelangkaan tenaga kerja secara

    umum mengakibatkan adanya vakum dalam posisi pekerjaan paling

    bawah dalam hierarki/strata sosial tenaga kerja. Berikutnya yaitu

    kebutuhan akan unskilled labor yang menjadikan negara industri

    modern menerima migran dari negara lain. Akan tetapi, ada

    permasalahan sebagai akibat dari kebutuhan unskilled labor ini yaitu

    permasalahan motivasi yang dikemukakan oleh Massey et-al (1993)

    dimana tidak semua orang mau bekerja pada posisi tersebut

    disebabkan adanya pandangan yang mengasosiasikan unskilled labor

    dengan strata sosial yang rendah dan adanya kesulitan untuk

    menaikkan status jika menerima pekerjaan di hierarki tersebut.

    Migrasi internasional pada akhirnya menjadi solusi untuk memenuhi

    kekurangan tenaga kerja pada sektor sekunder (Massey et.al, 1993).

    Lebih jauh lagi dalam teori dualisme tenaga kerja, migrasi

    internasional cenderung mengubah kebiasaan menabung maupun

    konsumsi dari negara penerima, yang menurut para developmentalist

    akan berujung pada pembangunan ekonomi dan pertumbuhan

    ekonomi.

    Kedua teori sebelumnya masih terpaku pada invididu,

    sedangkan Bloom dan Stark (1985) berpendapat bahwa keputusan

    untuk bermigrasi sebagai tenaga kerja tidak bisa dijelaskan hanya

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 13

    dengan keputusan individu. Kita harus memperhitungkan semakin

    luasnya entitas sosial. Pen dekatan yang dilakukan oleh Bloom dan

    Stark (1985) disebut sebagai teori ekonomi baru tenaga kerja (the

    new economic theory of labor migration). Salah satu entitas sosial

    yang mereka maksud adalah rumah tangga. Rumah tangga cenderung

    untuk menghindari resiko ketika berkaitan dengan pendapatan total

    rumah tangga. Menurut Stark (1985), salah satu kemungkinan untuk

    mengurangi resiko tersebut adalah dengan tambahan pendapatan

    dari remitansi anggota keluarga yang bermigrasi keluar negeri.

    Anggota keluarga yang bermigrasi keluar negeri akan mengirimkan

    remitansi kepada anggota keluarga yang berada di negara asal,

    dengan usaha keras di negeri tetangga. Berdasarkan teori ekonomi

    baru atas migrasi tenaga kerja, remitansi tersebut memiliki dua

    konsekuensi sebagai dampak; bisa dalam bentuk positif

    (pembangunan) terhadap perekonomian negara (berkembang) yang

    mengirimkan tenaga kerjanya keluar negeri ataupun sisi negatifnya

    adalah produktivitas dalam negeri berkurang sebagai akibat

    berkurangnya jumlah tenaga kerja aktif di dalam negeri (Taylor, 1999

    c.f Jennissen, 2004). Sebagai simpulan, teori ekonomi baru masih

    belum bisa mendeteksi apakah migrasi internasional di satu wilayah

    bisa memberikan dampak positif/pembangunan pada negara

    penerima, atau justru memberikan efek yang sebaliknya (inversi)

    terhadap negara pengirim migran.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 14 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    BAB III

    METODOLOGI

    3.1 Sumber Data

    Sumber data kajian ini berasal dari hasil Sensus Penduduk

    2010 dan hasil SUPAS 2015. Data hasil SP2010 dimanfaatkan untuk

    menghitung statistik terkait dengan migrasi masuk, sedangkan data

    hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2015 dipergunakan untuk

    menghasilkan statistik terkait dengan migrasi masuk, keluar dan

    migrasi kembali.

    Sensus penduduk dilaksanakan setiap 10 tahun sekali, SUPAS

    juga dilaksanakan 10 tahun sekali dan dilaksanakan di antara

    pelaksanaan dua sensus penduduk. Data hasil sensus penduduk dapat

    disajikan sampai wilayah administrasi terkecil. Akan tetapi, karena

    data migrasi adalah data yang bersifat rare cases (kejadian yang

    jarang), maka sebaiknya data migrasi disajikan hanya sampai wilayah

    administrasi kabupaten/kota. Data migrasi hasil SUPAS 2015

    meskipun sampelnya kecil juga dapat disajikan sampai level

    kabupaten/kota.

    Khusus untuk migrasi internasional hasil-hasil angka migrasi

    tentunya harus dikaji terlebih dahulu sebelum didiseminasikan untuk

    kepentingan publik. Sebagai pelengkap kajian, data sekunder yang

    berasal dari beberapa instansi (seperti Kementerian Luar Negeri,

    Ditjen Imigrasi-Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

    (Kemenkumham), Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan

    Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dan Kementerian

    Ketenagakerjaan RI), baik untuk pendekatan migran masuk dan keluar

    juga disajikan. Data dari kementerian atau lembaga lain adalah data

    yang sifatnya tahunan. Sehingga untuk membandingkan antara data

    primer dari sensus/survei dengan data sekunder disajikan dalam angka

    rata-rata per tahun dengan tahun rujukan yang sama.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 15

    3.2 Kodifikasi Negara

    Untuk keperluan topik migrasi yang ditanyakan dalam

    kuesioner, pengkodean untuk semua wilayah administrasi maupun

    negara harus dibuat. Hal ini untuk mengetahui arus migrasi internal

    maupun internasional, arus migrasi masuk dari wilayah/negara mana

    migran masuk berasal dan arus migrasi keluar ke wilayah/negara mana

    saja migran keluar. Hal ini juga untuk mempermudah dalam proses

    pengolahan datanya.

    Dalam kegiatan sensus penduduk maupun survei

    kependudukan, pengkodean pada umumnya merupakan tugas dari

    editor/pengawas/koordinator tim/supervisor. Sementara, pengisian

    jawaban responden kedalam kuesioner dituliskan oleh pencacah/

    pewawancara/enumerator.

    Pengkodean terkit migrasi dibuat untuk negara-negara

    tertentu dan kawasan (beberapa negara yang berdekatan digabung

    dan dibuat menjadi 1 kode kawasan). Nama negara disusun secara

    alpabetik menurut kawasan. (Lihat lampiran pengkodean asli SP2010

    dan pemutakhiran pengkodan pada SUPAS 2015).

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 16 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Sensus Penduduk 2010

    4.1.1 Migrasi Masuk Internasional

    Migrasi masuk internasional dari sensus/survei adalah

    untuk melihat stok dari imigran yang berupa:

    a. Stok dari penduduk yang lahir di luar negeri

    b. Stok dari warga negara asing

    c. Stok dari migran kembali

    d. Stok dari generasi kedua migran

    Pada stok dari generasi kedua migran tidak dapat

    dilakukan karena tidak ada pertanyaan langsung yang

    mengacu pada negara tempat lahir ayah dan ibu kandung

    responden yang merupakan migran.

    Adapun tabulasi yang direkomendasikan UN (2017) dalam menjaring migrasi masuk internasional dan stok imigran adalah:

    a. Penduduk yang lahir di luar negeri menurut negara

    lahir, umur dan jenis kelamin

    b. Penduduk yang lahir di luar negeri menurut tahun

    atau periode kedatangan, negara tempat lahir, umur

    dan jenis kelamin

    c. Penduduk menurut negara tempat lahir,

    kewarganegaraan, umur dan jenis kelamin

    d. Penduduk 15 tahun ke atas yang lahir di luar negeri

    yang bekerja menurut tahun atau periode

    kedatangan, jenis pekerjaan, umur dan jenis kelamin

    Dari keempat tabel yang direkomendasikan tidak

    semua dapat dipenuhi karena kasus yang tidak besar serta

    pertanyaan yang tidak dicakup dalam sensus seperti tahun

    kedatangan dan jenis pekerjaan. Hal inilah yang

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 17

    menyebabkan hanya tersedianya tabel-tabel yang sudah

    diringkas saja serta tabel terkait stok migran.

    Dari data SP2010 hanya dapat dihitung indikator

    migrasi masuk internasionalnya saja. Ada dua jenis migrasi

    masuk internasional yang dihasilkan yaitu migrasi masuk

    internasional seumur hidup dan migrasi masuk internasional

    risen. asi masuk ke Indonesia, cara paling mudah

    mengukurnya adalah dengan menggunakan matriks arus

    migrasi yaitu dengan mengamati perbedaan dua tempat

    tinggal, tempat tinggal sekarang dengan tempat lahir atau

    tempat tinggal sekarang dengan tempat tinggal lima tahun

    yang lalu. Didalam melihat karakteristik migran masuk

    memang tidak diharuskan membedakan menurut

    kewarganegaraannya. Namun, bila hal tersebut dibedakan

    menurut jenis migrasinya, maka komposisi kewarganegaraan

    mungkin perlu dilihat. Angka migrasi masuk internasional

    Indonesia memang sangat kecil hanya sebesar kurang dari 0,1

    persen.

    Dari Tabel 1, stok migran masuk seumur hidup

    internasional adalah sebesar 239.482 orang. Stok migran

    yang berkewarganegaraan asing sebesar 48.583 orang.

    Sementara, stok dari migran kembali tidak tersedia dari

    SP2010.

    WNI WNA Total

    (1) (2) (3) (4) (5)

    Absolut 186.359 48.583 239.482 237.641.326

    Persentase 77,82 20,29 0,10 100,00

    Catatan : Ada 4540 migran seumur hidup yang tidak ditanyakan

    kewarganegaraannya

    Tabel 1.

    Jumlah

    Migran masuk internasional seumur hidup menurut kewarganegaraan tahun

    2010

    Status kewarganegaraanPenduduk 0+

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 18 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Pada Tabel 2, stok migran masuk risen internasional

    adalah sebesar 160.641 orang. Sebesar 16.380 diantaranya

    berkewarganegaraan asing. Persentase migrasi internasional

    masuk seumur hidup hanya 0,1 persen atau dengan rate

    sebesar 1 migran per 1.000 penduduk, sementara persentase

    migrasi masuk internasional risen sebesaar 0,07 persen atau

    dengan rate sebesar 0,7 migran per 1.000 penduduk. Dilihat

    dari komposisi kewarganegaraannya, maka kewarga-

    negaraan asing proporsinya lebih besar pada status migran

    seumur hidup dibanding migran risen. Diduga pada migran

    risen internasional, proporsi Warga Negara Indoneisa lebih

    didominasi oleh para migran Indonesia yang bekerja di Luar

    Negeri. Komposisi WNA pada jenis migrasi seumur hidup

    lebih dari dua kali lipat daripada jenis migrasi risennya.

    Berdasarkan karakteristik umurnya, migran risen

    internasional yang masuk Indonesia merupakan usia kerja

    yaitu mayoritas berumur 20 sampai 49 tahun sementara

    komposisi migran internasinal seumur hidup didominasi oleh

    mereka yang berusia lebih muda, usia 5 sampai 24 tahun.

    Namun, untuk melihat perbedaan arus migrasi masuk

    internasional dari kedua jenis migrasi ini kurang bisa

    menjelaskan karena adanya penggabungan beberapa negara

    menjadi kawasan. Ulasan yang lebih lengkap akan dilakukan

    dengan menggunakan data SUPAS 2015.

    WNI WNA Total

    (1) (2) (3) (4) (5)

    Absolut 144.261 16.380 160.641 214.962.624

    Persentase 89,80 10,20 0,07 100,00

    Tabel 2.

    Migran masuk internasional risen menurut kewarganegaraan tahun 2010

    JumlahStatus kewarganegaraan

    Penduduk 5+

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 19

    4.1.2 Permasalahan Kodifikasi pada SP2010

    Pembentukan kode negara untuk keperluan migrasi

    internasional senantiasa berubah dari waktu kewaktu, baik

    pada Sensus Penduduk 2000, Sensus Penduduk 2010 dan

    SUPAS 2015. Sebenarnya untuk keperluan pengkodean

    migrasi terdapat sistem pengkodean yang direkomendasikan

    oleh PBB. PBB merekomendasikan untuk menggunakan

    sistem kode angka yang disajikan dalam Standard Country or

    Area Codes for Statistical Use. Penggunaan kode standar

    untuk klasifikasi penduduk yang lahir di luar negeri menurut

    negara tempat lahir akan meningkatkan kegunaan data

    tersebut, Daftar negara terdiri dari nama-nama negara yang

    disusun berdasarkan abjad. Terdiri dari 3 digit angka

    digunakan untuk keperluan pengolahan statistik oleh

    Statistics Divisions of the United Nations Secretariat yang

    sudah ditentukan oleh International Organization for

    Standarization (ISO). Sebagai contoh nama dan kode negara

    menurut UN (2006) adalah sebagai berikut:

    Tabel 3.

    Nama dan kode negara berdasarkan ISO

    Nama Negara Kode Negara

    (1) (2)

    Afganistan 004

    Bahrain 048

    Bangladesh 050

    Belgia 056

    Denmark 208

    Ethiopia 231

    Indonesia 360

    Kambodia 116

    Kanada 124

    Jepang 392

    Samoa 882

    Singapura 702

    Amerika Serikat 840

    Zimbabwe 716

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 20 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Namun bila ditelusuri menurut perjalanan dari sensus

    penduduk ke sensus penduduk berikutnya, Badan Pusat

    Statistik belum mengikuti rekomendasi tersebut.

    Pembentukan kode negara pada SP2010 dilakukan oleh

    Subdit Pengembangan Standardisasi dan Klasifikasi Statistik

    dan pada saat itu tidak mengikuti rekomendasi UN.

    Menurut rekomendasi United Nation for Statistical

    Development (UNSD), kode negara harus dibuat rinci untuk

    mengidentifikasi seluruh negara/wilayah. Lebih lanjut UNSD

    merekomendasikan agar pengelompokan negara hanya

    dibuat saat pengolahan data, jadi tidak dikelompokkan dari

    awal dengan kode yang sama. Nama negara harus dicatat

    menurut batas terkini. Selain itu perlu kehati-hatian dalam

    melakukan analisis terkair dengan kategori jawaban tidak

    tahu yang terlalu besar, misalnya tidak tahu negara tempat

    lahirnya.

    Tabel 4 di bawah ini adalah kode negara yang

    diterapkan pada SP2010 dimana dalam perjalanannya

    ternyata masih ditemukan banyak kekurangan. Kode dibuat

    untuk negara-negara tertentu dan kawasan (beberapa negara

    yang berdekatan digabung dan dibuat menjadi 1 kode

    kawasan). Pengkodean negara untuk pelaksanaan SP 2010

    dibangun oleh Subdit Pengembangan Standardisasi dan

    Klasifikasi Statistik. Nama negara disusun berdasarkan abjad

    menurut kawasan.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 21

    Tabel 4.

    Nama dan kode negara pada SP2010

    Kawasan Negara Kode

    (1) (2) (3)

    Brunei Darussallam

    Filipina

    Kamboja

    Laos

    Malaysia

    Myanmar

    Singapura

    Thailand

    Timor Leste

    Vietnam

    China 0200 1

    India / Pakistan / Bangladesh 0300 5

    Jepang 0400 2

    Korea Selatan 0500 6

    Arab Saudi

    Bahrain

    Iran

    Irak

    Israel

    Kuwait

    Lebanon

    Oman

    Palestina

    Qatar

    Suriah

    Uni Emirat Arab

    Yaman

    Yordania

    Karibia 1100 6

    Amerika Tengah 1200 3

    Amerika Selatan 1300 0

    Amerika Utara 1400 4

    Afrika Timur 1500 1

    Afrika Utara 1700 2

    Afrika Tengah 1600 5

    Afrika Selatan 1800 6

    Afrika Barat 1900 3

    Uni Eropa 2100 1

    0100 4

    Timur Tengah 0600 3

    ASEAN tanpa

    Indonesia

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 22 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Kode kawasan di atas mengandung beberapa

    kekurangan jika digunakan untuk keperluan analisis migrasi.

    Sebagai contoh, negara-negara di ASEAN (tanpa Indonesia)

    tidak diberi kode untuk masing-masing negara tetapi hanya

    diberi satu kode yaitu Kawasan ASEAN tanpa Indonesia

    dengan kode 0100 4. Hal ini mengakibatkan tidak

    teridentifikasinya besaran arus migrasi masuk dari negara

    tertentu, misalnya dari Malaysia, Singapura, atau Brunei

    Darussalam, padahal negara-negara ini merupakan negara

    tujuan dari Tenaga Kerja Indonesia. Demikian juga dengan

    negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab serta Qatar yang juga

    merupakan negara-negara di Timur Tengah yang menjadi

    tujuan utama TKI . Negara-negara tersbut diberi kode yang

    sama sebagai Timur Tengah dengan kode 0600 3.

    Kode negara/kawasan menggunakan 5 digit yang

    merupakan 4 digit pertama adalah kode untuk negara/

    kawasan, sedangkan digit ke 5 adalah merupakan kode cek

    digit. Kode cek digit adalah hasil hitungan dengan rumus

    tertentu, sehingga kode-kode suatu wilayah terjaga

    kombinasinya untuk mengurangi kemungkinan salah tulis.

    Kode cek digit ini harus ikut dicantumkan dalam isian

    Tempat tinggal 5 tahun yang lalu Jumlah Persentase

    (1) (2) (3)

    ASEAN tanpa Indonesia 96.174 59,87

    Timur Tengah 26.952 16,78

    China, Jepang, dan Korea Selatan 12.334 7,68

    Australia 2.443 1,52

    Amerika Serikat 3.064 1,91

    Eropa 5.459 3,4

    Lainnya 14.215 8,84

    Total 160.641 100,00

    Tabel 5.

    Migran masuk risen internasional menurut tempat tinggal 5 tahun yang lalu tahun

    2010

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 23

    kuesioner. Dengan cek digit bisa diketahui bila ada kesalahan

    kode saat validasi, akan cepat dikenali dan segera dibetulkan.

    Dari kode yang tersedia tersebut, dalam

    kenyataannya mengandung beberapa kelemahan:

    a. Kode negara lahir, tempat tinggal 5 tahun yang lalu untuk

    migran tidak unik karena tercampur dengan kode

    kawasan, sehingga negaranya tidak diketahui.

    b. Kode kawasan SP2010: dua digit didepannya tidak unik

    karena tercampur dengan kode provinsi misalnya 11, 12,

    13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, dan 21 ini adalah kode provinsi

    di Sumatera. Sebagai contoh: dari hasil exercise tabulasi

    arus migrasi masuk risen internasional diketahui misalnya

    di provinsi Aceh (kode 11) ada sebanyak 169 orang yang 5

    tahun yang lalu tinggal di kawasan Karibia (kode 1100 6).

    Padahal Karibia bukan merupakan tujuan pekerja migran

    kita. Berikutnya, di Provinsi Sumatera Utara (kode 12) ada

    sebanyak 445 orang yang 5 tahun yang lalu tinggal di

    kawasan Amerika Tengah (kode 1200 3). Demikian juga di

    Provinsi Jambi (kode 15) ada 269 orang yang 5 tahun yang

    lalu tinggal di kawasan Afrika Timur (kode 1500 1) dan di

    provinsi Sumatera Selatan (kode 16) terdapat 1.224 orang

    yang 5 tahun yang lalu tinggal di kawasan Afrika Tengah

    (kode 1600 5). Dari tabulasi terlihat adanya kesalahan

    yang sistematis tercampurnya kode kawasan dengan

    kode provinsi di Indonesia. Bahwasanya orang-orang ini

    bukanlah migran masuk internasional, karena sebenarnya

    mereka tidak pernah tinggal di luar negeri.

    c. Negara-negara yang favorit tujuan migran atau TKI harus

    diberi koding tersendiri, tidak digabung dengan koding

    kawasan.

    Seiring berjalannya waktu dan adanya kebutuhan

    untuk memetakan atau melihat arus pekerja migran di

    kalangan negara ASEAN, maka negara-negara di ASEAN harus diberikan kode tersendiri agar lebih mudah melakukan

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 24 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    pemetaan arus migrasi, terutama terkait dengan kebutuhan

    pemetaan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). MEA adalah

    komitmen dari negara-negara ASEAN dalam menyepakati

    suatu sistem perdagangan bebas di ASEAN termasuk salah

    satunya adalah persaingan dari pekerja-pekerja lain

    utamanya pekerja dengan keahlian khusus di Asia Tenggara.

    Oleh karena itu, negara-negara di Asia Tenggara harus

    diberikan kode negara tersendiri.

    Menyikapi hal tersebut, Subdit Mobilitas Penduduk

    dan Tenaga Kerja melakukan perbaikan kode untuk negara.

    Perbaikan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

    a. Kode negara diubah tidak 5 digit tapi 4 digit, dan dua digit

    pertama kode negara dipakai kode 40 agar unik. Kode 40

    ini belum terpakai oleh kode di provinsi lain.

    b. Negara tujuan migran yang tidak favorit tetap digabung

    menjadi kode kawasan.

    c. Negara tujuan utama migran diberi kode tersendiri

    (seperti: Singapura, Malaysia, Saudi Arabia, dsb.)

    d. Khusus negara-negara ASEAN diberi kode tersendiri

    untuk pemetaan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

    Perbaikan kode negara ini mulai diterapkan dalam

    Susenas Maret 2015 dan SUPAS 2015.Penyusunan negara

    dalam buku kode dilakukan secara alfabet agar memudahkan

    editor mencari kodenya.

    Berikut adalah contoh perbaikan kode yang

    dilakukan:

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 25

    Penyusunan negara dalam buku kode dilakukan

    secara alfabet agar memudahkan editor mencari kodenya.

    Ada juga yang mengusulkan memakai kode negara

    berdasarkan kode telepon internasional untuk masing-

    masing negara. Di dalam daftar country codes tersebut

    memang disusun alfabet sekitar 240 negara, namun kode

    Tabel 6.

    Nama negara dan perbaikan kode negara pada SUPAS 2015

    Kawasan Negara Kode SP2010 Kode Perbaikan

    (1) (2) (3) (4)

    Brunei Darussallam 4007

    Filipina 4008

    Kamboja 4009

    Laos 4010

    Malaysia 4011

    Myanmar 4012

    Singapura 4013

    Thailand 4014

    Timor Leste 4015

    Vietnam 4016

    China 0200 1 4001

    India / Pakistan / Bangladesh 0300 5 4003 / 4027 / 4027

    Jepang 0400 2 4004

    Korea Selatan 0500 6 4005

    Arab Saudi 4017

    Bahrain 4018

    Iran 4026

    Irak 4026

    Israel 4026

    Kuwait 4019

    Lebanon 4026

    Oman 4020

    Palestina 4026

    Qatar 4021

    Suriah 4022

    Uni Emirat Arab 4023

    Yaman 4024

    Yordania 4025

    0600 3

    ASEAN tanpa

    Indonesia 0100 4

    Timur

    Tengah

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 26 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    yang disusun mempunyai jumlah digit yang berbeda-beda,

    ada yang 1 digit, 2 digit, 3 digit, 4 digit, bahkan ada dua negara

    yang berbeda namun mempunyai kode yang sama, dengan

    alasan yang sukar dijelaskan. Sebagai contoh:

    Melihat jumlah digit yang berbeda-beda untuk kode negara,

    mungkin akan menyulitkan didalam rancangan kuesioner dan

    pengisian kode oleh petugas, karena selama ini koding jumlah

    digitnya adalah seragam. Dari UN sendiri tidak ada keharusan

    untuk menggunakan kode telepon internasional tersebut.

    Dalam praktiknya, kode telepon internasional untuk migrasi

    kelihatannya sulit diterapkan untuk keperluan survei atau

    sensus mendatang. Ada baiknya, Subdit Pengembangan

    Standarisasi dan Klasifikasi Statistik sebagai subdit yang

    bertanggung jawab pada penyusunan kode yang

    terstandarisasi agar dapat mempertimbangkan hal ini.

    Satu masukan lagi terkait kode negara adalah dalam

    merancang kuesioner juga diharapkan memudahkan petugas

    Tabel 7.

    Nama negara dan kode telepon

    Negara Kode

    (1) (2)

    Afghanistan 93

    Algeria 213

    American Samoa 1-684

    Argentina 54

    Australia 61

    Austria 43

    Bahamas 1-242

    Bulgaria 359

    Kanada 1

    Indonesia 62

    Filipina 63

    Qatar 974

    Russia 7

    Amerika Serikat 1

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 27

    untuk memahami maksud pengisian dan memudahkan editor

    untuk menuliskan kode. Dalam pengisian kode negara yang

    lama ada perintah (di buku pedoman untuk Editor baik dalam

    SP2010 dan SUPAS 2015), bila seseorang dilahirkan atau

    bertempat tinggal sebelumnya atau bertempat tinggal 5

    tahun yang lalu di luar negeri, tuliskan kode negara tersebut 2

    digit pada baris provinsi/negara dan 2 digit pada baris

    kabupaten/ kota (kode negara ada 4 digit). Perintah ini dapat

    membingungkan editor, sehingga disarankan untuk merubah

    instruksi dan pengisian kotak jawaban yang terpisah untuk

    negara, sebagai berikut:

    Kuesioner SUPAS 2015 (contoh untuk tempat lahir):

    Saran perbaikannya adalah sebagai berikut:

    Dimanakah tempat lahir (NAMA)?

    Tempat lahir adalah tempat tinggal ibu responden pada saat melahirkan responden.

    Jika lahir di Indonesia tuliskan nama provinsi dan kabupaten/kota, jika lahir di negara lain tuliskan nama negara saja.

    Batas wilayah administrasi yang digunakan adalah batas wilayah administrasi yang terbaru.

    Kode diisi oleh KORTIM.

    Lahir di Indonesia Kode Provinsi: ................................... Kab/Kota: ................................... Lahir di Luar Negeri Negara: .................................

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 28 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    4.2 SURVEI PENDUDUK ANTAR SENSUS 2015

    4.2.1 Migrasi Masuk

    Dari data SUPAS 2015 akan diulas hasil penghitungan

    migrasi internasional baik yang masuk, keluar maupun net

    migrasi internasional. Selain melihat stok imigran, migrasi

    masuk di sini akan dilihat dalam 3 jenis migrasi yang dihasilkan

    dari SUPAS 2015 yang umumnya digunakan oleh BPS, yaitu

    migrasi seumur hidup, migrasi risen, dan migrasi total. Seperti

    dijelaskan di awal, untuk setiap jenis migrasi kita cukup

    mengamati perbedaan dua tempat tinggal.

    WNI WNA Total

    (1) (2) (3) (4) (5)

    Absolut 165.078 15.477 180.555 255.182.144

    Persentase 91,43 8,57 0,07 100,00

    Tabel 8.

    Migran masuk internasional seumur hidup menurut kewarganegaraan tahun

    2015

    JumlahStatus kewarganegaraan

    Penduduk 0+

    WNI WNA Total

    (1) (2) (3) (4) (5)

    Absolut 345.230 7.990 353.220 232.403.133

    Persentase 97,74 2,26 0,15 100,00

    Tabel 9.

    Migran masuk internasional risen menurut kewarganegaraan tahun 2015

    JumlahStatus kewarganegaraan

    Penduduk 5+

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 29

    Dari Tabel 8, stok migran masuk internasional adalah

    sebesar 180.555 orang. Stok migran yang berkewarga-

    negaraan asing sebesar 15.477 orang. Sementara, stok dari

    migran kembali akan dibahas pada bagian tersendiri.

    Sebagian tabel-tabel migrasi yang direkomendasikan UN dari

    data SUPAS 2015 dapat dilihat pada Tabel Lampiran. Tabel

    yang tidak dapat dipenuhi tidak disajikan, namun ada tabel-

    tabel tambahan yang disajikan pada Lampiran.

    Ada perbedaan pola migrasi data SUPAS 2015

    dibandingkan data SP2010 yaitu migrasi internasional masuk

    risen yang jauh lebih besar dari migrasi internasional masuk

    seumur hidup dimana secara absolut nilainya dua kali lipatnya

    (353.220 berbanding 180.555 orang). Persentase migran

    masuk seumur hidup internasional sebesar 0,07 persen atau

    rate migrasi 0,7 migran per 1.000 penduduk, sementara

    persentase migran masuk internasional risen sebesar 0,15

    persen atau rate migrasi 1,5 migran per 1.000 penduduk. Ini

    menandakan bahwa mobilitas permanen antar negara akhir-

    akhir ini menjadi lebih tinggi. Besaran dan rate migrasi total

    adalah paling tinggi daripada kedua jenis migrasi seumur

    hidup dan risen. Hal ini dapat dimengerti karena migran

    seumur hidup akan tercatat juga sebagai bagian dari migran

    total. Ada sebanyak 1 juta orang lebih migran masuk total

    internasional (0,4 persen atau 4 migran per 1.000 penduduk).

    WNI WNA Total

    (1) (2) (3) (4) (5)

    Absolut 997.131 14.058 1.011.189 255.182.144

    Persentase 98,61 1,39 0,4 100,00

    Tabel 10.

    Migran masuk internasional total menurut kewarganegaraan tahun 2015

    JumlahStatus kewarganegaraan

    Penduduk 0+

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 30 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Namun bila dilihat dari komposisi kewarga-

    negaraannya pola antara WNI dengan WNA serupa dengan

    kondisi SP2010, yaitu kewarganegaraan asing proporsinya

    lebih besar pada status migran seumur hidup dibanding

    migran risen. Penjelasannya adalah sama yaitu pada migran

    risen maupun total internasional, proporsi Warga Negara

    Indoneisa lebih didominasi oleh para migran Indonesia yang

    bekerja di Luar Negeri. Komposisi WNA pada jenis migrasi

    seumur hidup hampir empat kali lipat daripada jenis migrasi

    risennya bahkan 6 kali lipat dari migrasi total. Berdasarkan

    karakteristik umurnya, migran risen maupun total

    internasional yang masuk Indonesia merupakan usia kerja

    yaitu mayoritas berumur 20 sampai 49 tahun (Lampiran 22

    dan 27) sementara komposisi migran internasional seumur

    hidup didominasi oleh mereka yang berusia lebih muda

    (Lampiran 17). Lebih dari 90 persen migran masuk risen

    maupun total internasional berpendidikan SMA ke bawah

    (Lampiran 22 dan 27).

    Jika dilihat perbedaan arus migrasi masuk

    internasional dari ketiga jenis migrasi ini, maka arus migrasi

    masuk risen dan total berasal dari negara-negara yang

    menjadi tujuan Tenaga Kerja Indonesia seperti Malaysia, Arab

    Saudi, Taiwan, Hongkong, Singapura, Brunai Darussalam,

    dan Emirat Arab. Sementara, untuk jenis migrasi masuk

    internasional seumur hidup selain dari Malaysia (40,30

    persen), Timor Leste (37,40 persen), Arab Saudi (4,68 persen)

    ada juga yang berasal dari Australia, Amerika Serikat, Jepang,

    Filipina dan negara-negara lainnya. Khusus migran

    internasional asal Timor Leste kemungkinan adalah mereka

    warga Timor Timur dulunya yang memilih pindah dan tinggal

    di wilayah NKRI saat referendum kemerdekaan Timor Leste.

    Pengaruh referendum ini juga terlihat pada besarnya migran

    total masuk internasional dimana migran asal Timor Leste ini

    cukup besar (8,42 persen). Untuk lebih jelasnya kita lihat

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 31

    persebaran migrasi masuk ke Indonesia yang dijelaskan pada

    uraian selanjutnya.

    4.2.2 Persebaran Migrasi Masuk ke Indonesia

    Tidak seperti status migran risen dan migran total

    dimana Provinsi Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah

    migran terbanyak, pada kasus migran seumur hidup, Tabel 11

    menunjukkan bahwa Provinsi NTT menjadi provinsi dengan

    jumlah migran terbanyak se-Indonesia, yaitu lebih dari 70.000

    penduduknya lahir di luar negeri. Dari seluruh penduduk

    Indonesia yang lahir di luar negeri, 40 persen diantaranya

    tinggal di Provinsi NTT. Persentase tersebut bisa dikatakan

    sangat besar dalam menyumbang angka migran seumur

    hidup masuk ke Indonesia. Apakah fenomena tersebut

    disebabkan oleh kejadian referendum kemerdekaan yang

    diadakan di Timor Leste pada 30 Agustus 1999 yang

    menyebabkan lepasnya Timor Leste dari Indonesia? Hal

    tesebut kemungkinan adalah penyebabnya sehingga banyak

    dari penduduk Provinsi NTT yang sebelumnya warga Timor

    Timur dan memilih untuk tetap tinggal di wilayah NKRI. Untuk

    mengetahui 180.555 migran seumur hidup internasional, kita

    perlu mengetahui asal negara dari para migran tersebut.

    Sementara rate migran masuk internasional seumur hidup

    adalah (180.555/255.182.144) * 1000 = 0,708. Bisa dikatakan

    rate migrasi internasional masuk adalah 0,71 migran per 1000

    penduduk atau 71 migran per 100.000 penduduk.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 32 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Indonesia Luar Negeri Total

    (1) (2) (3) (4) (5) (6)

    Aceh 208.818 997 209.815 4.783.570 4.993.385

    Sumatera Utara 516.447 3.396 519.843 13.403.419 13.923.262

    Sumatera Barat 356.123 2.000 358.123 4.832.454 5.190.577

    Riau 1.880.203 876 1.881.079 4.449.862 6.330.941

    Jambi 710.250 178 710.428 2.686.736 3.397.164

    Sumatera Selatan 965.465 595 966.060 7.076.982 8.043.042

    Bengkulu 337.003 38 337.041 1.535.095 1.872.136

    Lampung 1.361.580 807 1.362.387 6.747.214 8.109.601

    Kepulauan Bangka Belitung 192.552 177 192.729 1.177.602 1.370.331

    Kepulauan Riau 878.773 2.262 881.035 1.087.278 1.968.313

    DKI Jakarta 3.636.249 11.079 3.647.328 6.506.806 10.154.134

    Jawa Barat 4.953.641 7.900 4.961.541 41.706.673 46.668.214

    Jawa Tengah 1.010.837 4.778 1.015.615 32.737.408 33.753.023

    DI Yogyakarta 567.031 4.917 571.948 3.103.820 3.675.768

    Jawa Timur 913.816 10.336 924.152 37.903.909 38.828.061

    Banten 2.489.103 2.486 2.491.589 9.442.784 11.934.373

    Bali 424.441 4.070 428.511 3.720.077 4.148.588

    Nusa Tenggara Barat 117.347 4.481 121.828 4.708.290 4.830.118

    Nusa Tenggara Timur 104.294 72.314 176.608 4.936.152 5.112.760

    Kalimantan Barat 291.637 2.355 293.992 4.489.217 4.783.209

    Kalimantan Tengah 526.792 681 527.473 1.962.705 2.490.178

    Kalimantan Selatan 507.816 2.151 509.967 3.474.348 3.984.315

    Kalimantan Timur 1.117.125 2.892 1.120.017 2.302.659 3.422.676

    Kalimantan Utara 181.445 7.951 189.396 450.243 639.639

    Sulawesi Utara 187.799 337 188.136 2.221.785 2.409.921

    Sulawesi Tengah 464.029 1.585 465.614 2.407.243 2.872.857

    Sulawesi Selatan 326.861 19.307 346.168 8.166.440 8.512.608

    Sulawesi Tenggara 439.385 4.217 443.602 2.051.646 2.495.248

    Gorontalo 64.365 83 64.448 1.067.222 1.131.670

    Sulawesi Barat 172.293 2.990 175.283 1.104.711 1.279.994

    Maluku 133.907 593 134.500 1.549.356 1.683.856

    Maluku Utara 106.776 144 106.920 1.053.355 1.160.275

    Papua Barat 271.930 221 272.151 596.668 868.819

    Papua 490.295 1.361 491.656 2.651.432 3.143.088

    Total 26.906.428 180.555 27.086.983 228.095.161 255.182.144

    Provinsi

    Tabel 11.

    Penduduk menurut provinsi, status migrasi seumur hidup, dan tempat lahir, tahun 2015

    Migran

    TotalNonmigranTempat Lahir

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 33

    Migrasi Masuk Risen

    Berdasarkan Tabel 12, jumlah migran risen masuk ke

    Indonesia tercatat sebanyak 353.220 jiwa. Jumlah ini hampir

    dua kali lipat jumlah migran seumur hidup. Migran terbesar

    terdapat di Jatim, NTB, Jabar, Jateng, Sulsel dan NTT.

    Siapakah mereka? Bisa jadi mereka adalah expatriat yang

    Indonesia Luar Negeri Total

    (1) (2) (3) (4) (5) (6)

    Aceh 35.984 4.632 40.616 4.431.028 4.471.644

    Sumatera Utara 134.319 8.455 142.774 12.344.545 12.487.319

    Sumatera Barat 134.511 4.315 138.826 4.526.115 4.664.941

    Riau 214.159 1.191 215.350 5.446.307 5.661.657

    Jambi 63.940 3.634 67.574 3.013.234 3.080.808

    Sumatera Selatan 75.054 706 75.760 7.216.478 7.292.238

    Bengkulu 37.888 686 38.574 1.661.604 1.700.178

    Lampung 76.895 4.305 81.200 7.276.386 7.357.586

    Kepulauan Bangka Belitung 32.326 91 32.417 1.209.582 1.241.999

    Kepulauan Riau 186.898 2.600 189.498 1.562.456 1.751.954

    DKI Jakarta 491.265 7.836 499.101 8.758.590 9.257.691

    Jawa Barat 696.575 54.424 750.999 41.871.760 42.622.759

    Jawa Tengah 472.472 45.631 518.103 30.504.082 31.022.185

    DI Yogyakarta 202.517 5.740 208.257 3.207.342 3.415.599

    Jawa Timur 237.089 78.454 315.543 35.658.333 35.973.876

    Banten 318.904 5.568 324.472 10.467.134 10.791.606

    Bali 135.901 3.948 139.849 3.672.317 3.812.166

    Nusa Tenggara Barat 42.533 62.937 105.470 4.215.516 4.320.986

    Nusa Tenggara Timur 52.167 13.956 66.123 4.471.434 4.537.557

    Kalimantan Barat 30.006 7.353 37.359 4.281.762 4.319.121

    Kalimantan Tengah 78.156 240 78.396 2.176.769 2.255.165

    Kalimantan Selatan 84.399 2.222 86.621 3.507.516 3.594.137

    Kalimantan Timur 118.513 1.492 120.005 2.997.523 3.117.528

    Kalimantan Utara 31.617 3.074 34.691 537.195 571.886

    Sulawesi Utara 33.180 379 33.559 2.175.821 2.209.380

    Sulawesi Tengah 60.817 2.045 62.862 2.539.628 2.602.490

    Sulawesi Selatan 118.139 18.291 136.430 7.596.764 7.733.194

    Sulawesi Tenggara 54.099 3.424 57.523 2.159.609 2.217.132

    Gorontalo 14.922 112 15.034 1.010.278 1.025.312

    Sulawesi Barat 29.662 4.279 33.941 1.109.239 1.143.180

    Maluku 24.810 507 25.317 1.479.577 1.504.894

    Maluku Utara 20.138 35 20.173 1.011.396 1.031.569

    Papua Barat 59.551 226 59.777 711.072 770.849

    Papua 60.771 432 61.203 2.781.344 2.842.547

    Total 4.460.177 353.220 4.813.397 227.589.736 232.403.133

    Provinsi

    Tabel 12.

    Penduduk berumur 5 tahun ke atas menurut provinsi, status migrasi risen, dan tempat tinggal lima tahun yang

    lalu, tahun 2015

    Migran

    Tempat Tinggal Lima Tahun yang Lalu Nonmigran Total

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 34 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    masuk ke Indonesia atau para TKI yang telah kembali ke

    Indonesia. Untuk memastikan hal tersebut kita pisahkan

    migran menurut kewarganegaraannya. Bila kita telusuri para

    migran adalah TKI yang lima tahun yang lalu bekerja di luar

    negeri dan pada saat pencacahan sudah kembali ke Indonesia.

    Dengan jumlah migran 353.220 jiwa, maka angka migrasi

    internasional masuk risen adalah sebesar

    (353.220/232.403.133) * 1000 = 1,5 orang per 1.000 penduduk

    atau 15 orang per 10.000 penduduk.

    Tabel 13 menunjukkan bahwa lebih dari satu juta jiwa

    penduduk Indonesia pernah merasakan tinggal di luar negeri.

    Sejalan dengan migran risen, Provinsi Jawa Timur menjadi

    lokasi dengan jumlah migran total tertinggi yaitu hampir

    200.000 jiwa. Selanjutnya, diikuti oleh Provinsi NTB, Jawa

    Tengah, Jawa Barat, dan NTT. Provinsi-provinsi tersebut

    memang menjadi provinsi pengirim migran keluar negeri

    (TKI) terbesar di Indonesia. Arus migrasi masuk dari luar

    negeri juga ditampilkan pada tabel berikut. Arus ini juga akan

    dilihat keterbandingannya dengan arus masuk berdasarkan

    migrasi masuk internasional seumur hidup maupun risen,

    apakah ada perbedaan atau tidak. Dari data yang dihasilkan,

    maka ada 1.011.189 migran yang tempat tinggal terakhirnya

    di luar negeri, sehingga menghasilkan angka migrasi

    internasional masuk sebesar (1.011.189/255.182.144) * 1000

    penduduk = 4 migran per 1000 penduduk.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 35

    Migrasi Masuk Total

    Indonesia Luar Negeri Total

    (1) (2) (3) (4) (5) (6)

    Aceh 223.244 11.732 234.976 4.758.409 4.993.385

    Sumatera Utara 633.896 16.535 650.431 13.272.831 13.923.262

    Sumatera Barat 575.243 13.284 588.527 4.602.050 5.190.577

    Riau 1.750.009 4.580 1.754.589 4.576.352 6.330.941

    Jambi 684.297 8.579 692.876 2.704.288 3.397.164

    Sumatera Selatan 970.777 3.516 974.293 7.068.749 8.043.042

    Bengkulu 342.243 1.890 344.133 1.528.003 1.872.136

    Lampung 1.255.688 10.358 1.266.046 6.843.555 8.109.601

    Kepulauan Bangka Belitung 193.087 399 193.486 1.176.845 1.370.331

    Kepulauan Riau 864.249 9.338 873.587 1.094.726 1.968.313

    DKI Jakarta 3.444.039 24.699 3.468.738 6.685.396 10.154.134

    Jawa Barat 4.972.105 128.159 5.100.264 41.567.950 46.668.214

    Jawa Tengah 2.008.239 132.579 2.140.818 31.612.205 33.753.023

    DI Yogyakarta 675.178 19.661 694.839 2.980.929 3.675.768

    Jawa Timur 1.161.604 199.288 1.360.892 37.467.169 38.828.061

    Banten 2.401.804 11.679 2.413.483 9.520.890 11.934.373

    Bali 429.176 10.959 440.135 3.708.453 4.148.588

    Nusa Tenggara Barat 172.029 139.138 311.167 4.518.951 4.830.118

    Nusa Tenggara Timur 175.085 113.377 288.462 4.824.298 5.112.760

    Kalimantan Barat 284.936 21.173 306.109 4.477.100 4.783.209

    Kalimantan Tengah 519.222 679 519.901 1.970.277 2.490.178

    Kalimantan Selatan 503.975 7.540 511.515 3.472.800 3.984.315

    Kalimantan Timur 1.049.305 6.068 1.055.373 2.367.303 3.422.676

    Kalimantan Utara 165.553 21.695 187.248 452.391 639.639

    Sulawesi Utara 203.947 1.645 205.592 2.204.329 2.409.921

    Sulawesi Tengah 469.291 5.198 474.489 2.398.368 2.872.857

    Sulawesi Selatan 432.694 61.533 494.227 8.018.381 8.512.608

    Sulawesi Tenggara 457.195 10.915 468.110 2.027.138 2.495.248

    Gorontalo 72.514 387 72.901 1.058.769 1.131.670

    Sulawesi Barat 186.398 10.821 197.219 1.082.775 1.279.994

    Maluku 146.288 1.320 147.608 1.536.248 1.683.856

    Maluku Utara 120.620 143 120.763 1.039.512 1.160.275

    Papua Barat 264.665 279 264.944 603.875 868.819

    Papua 465.368 2.043 467.411 2.675.677 3.143.088

    Total 28.273.963 1.011.189 29.285.152 225.896.992 255.182.144

    Tabel 13.

    Jumlah migran dan nonmigran total menurut provinsi, status migran, dan tempat tinggal terakhir, tahun 2015

    ProvinsiMigran

    Nonmigran TotalTempat Tinggal Terakhir

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 36 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    4.2.3 Migrasi Keluar Internasional selama 1 Januari 2010

    sampai dengan 31 Mei 2015

    Latar Belakang Memasukkan Pertanyaan Migrasi Keluar

    Internasional di SUPAS 2015

    a. Belum adanya data tentang migrasi keluar dari

    sensus/survei. Migrasi internasional yang senantiasa

    dicakup dalam sensus penduduk atau survei

    kependudukan adalah migrasi masuk internasional,

    dimana menjaring besarnya imigran yang masuk

    Indonesia. Data imigran yang didapat juga dapat

    disediakan secara rinci menurut umur dan jenis kelamin.

    Pada awalnya belum ada referensi yang dapat dipakai

    menjadi acuan bagaimana cara menangkap migran

    keluar internasional atau emigran. Seiring berjalannya

    waktu, maka pihak UN juga akhirnya memberikan

    tuntunan pertanyaan apa yang dapat dipakai untuk

    menjaring emigran melalui sensus penduduk dimana

    panduan ini juga akhirnya banyak dipakai oleh negara-

    negara lain untuk mengaplikasikannya. Meskipun ada

    kelemahan dalam mengumpulkan data emigran melalui

    sensus penduduk, namun cara ini tetap dipakai oleh

    negara-negara yang data emigrannya masih belum

    banyak tersedia. Salah satunya adalah Indonesia yang

    juga berupaya menangkap besarnya emigran mulai

    SUPAS 2015.

    b. Minimnya data migran keluar internasional yang detail

    menurut jenis kelamin dan kelompok umur. Data emigran

    yang didapat melalui sensus penduduk atau survei

    kependudukan dapat disajikan secara rinci. Dalam

    pertanyaannya memasukkan juga karakteristik dari

    emigran diantaranya umur dan jenis kelamin.

    Karakteristik lain yang ditanyakan adalah pendidikan dan

    status pekerjaannya.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 37

    c. Adanya tuntutan data mengenai besarnya angka net

    migrasi internasional untuk proyeksi penduduk

    Indonesia. Karena dalam migrasi internasional kita sudah

    mendapatkan data migran masuk internasional dan

    migran keluar internasional, maka hal ini memungkinkan

    dilakukan penghitungan angka net migran internasional.

    Salah satu kepentingannya adalah sebagai input migrasi

    internasional untuk keperluan penyusunan proyeksi

    penduduk Indonesia.

    d. Sebagai pembanding data migrasi keluar internasional

    dari K/L lain. Dari data sekunder K/L lain kita

    mendapatkan jumlah migran masuk dan keluar

    Indonesia, namun keterbandingannya dengan hasil

    Sensus Penduduk/Survei kita belum ada, sehingga perlu

    tersedia sebagai pembandingnya.

    Evaluasi terhadap Pertanyaan Migrasi Keluar

    Internasional

    Seperti telah dijelaskan sebelumnya, SUPAS 2015

    menangkap kejadian migrasi internasional keluar melalui 2

    pendekatan pertanyaan yaitu untuk mantan ART dan ART.

    Kejadian migrasi internasional keluar dari mantan ART

    memberikan informasi banyaknya penduduk yang sekarang

    tinggal dan menetap di luar negeri sedangkan pertanyaan

    kepada ART memberikan informasi banyaknya penduduk

    yang pernah tinggal di luar negeri. Pada saat penyusunan

    pertanyaan migrasi internasional keluar ini belum ada

    referensi atau panduan yang jelas dan pasti bagaimana

    menangkap migran keluar internasional.

    Bagaimana dengan negara lain? Apakah negara lain

    pernah melakukan hal serupa? Ternyata di negara Singapura,

    informasi mengenai migrasi ke luar negeri pernah dicakup

    dalam sensus penduduk Singapura tahun 2010. Pertanyaan

    ditujukan hanya untuk mantan anggota rumah tangga yang

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 38 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    saat pendataan sedang bekerja/sekolah di luar negeri,

    termasuk yang tidak bekerja/sekolah, tetapi sedang menetap

    atau akan menetap paling tidak setahun di luar negeri.

    Di negara Myanmar, melalui Labour Force, Child

    Labour And School To Work Transition Survey 2015, dihimpun

    informasi tentang migrasi internasional keluar.

    Pertanyaannya sebagai berikut :

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • Kajian Migrasi Internasional Indonesia 39

    Selain Singapura dan Myanmar, Kamboja juga

    memuat pertanyaan terkait dengan migrasi internasional

    keluar dalam Sensus Penduduk Kamboja tahun 2008.

    Pertanyaan tersebut dimuat dalam bagian 1.3 pada kolom (7)

    dan (8).

    Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan terkait migrasi

    internasional yang terdapat di tiga negara di atas, kita dapat

    melihat bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar.

    Perbedaan tersebut adalah pendekatan yang dilakukan untuk

    menangkap kejadian migrasi keluar internasional. Ketiga

    negara tersebut hanya menanyakan kejadian migrasi untuk

    seseorang yang absen/tidak berada di tempat pada saat

    pencacahan dilakukan atau dalam bahasa SUPAS 2015

    dikenal dengan sebutan mantan ART. Sementara itu, pada

    SUPAS 2015, pertanyaan tidak hanya ditujukan untuk mantan

    ART saja, tetapi juga untuk seseorang yang sudah kembali

    dari luar negeri atau ART. Perbedaan tersebut tentunya

    menjadi pertanyaan kita bersama, pendekatan yang mana

    yang terbaik untuk melihat fenomena kejadian migrasi keluar

    internasional. Pada SUPAS 2015, pendekatan pertanyaan

    untuk ART tetap dimasukkan ke dalam kuesioner karena

    keinginan untuk mendapatkan/memotret seluruh kejadian

    migrasi keluar internasional, yaitu baik mereka yang berada di

    luar negeri maupun mereka yang pernah berada di luar negeri.

    http

    s://w

    ww.b

    ps.g

    o.id

  • 40 Kajian Migrasi Internasional Indonesia

    Karena negara lain hanya menangkap anggota

    rumah tangga yang absen saat sensus atau survei, sementara

    anggota rumah tangga yang pernah tinggal di luar negeri dan

    saat pencacahan sudah kembali ke negara asal tidak

    ditangkap sebagai migran keluar internasional. Hal ini bisa

    jadi benar, karena anggota rumah tangga yang sudah kembali

    lebih ditangkap s