membuka jendela barufisip.unair.ac.id/assets/filedownload/edisi_1_maret_2009.pdf · buku....

of 12/12
edisi 01 Maret 2009 KITA perlu terbitan berkala FISIP Unair karena kita butuh rekaman tertulis tentang kegiatan-kegiatan di fakultas kita dan tentang kegiatan sivitas akademika fakultas kita. Ham- pir tiap hari ada saja kegiatan yang layak dicatat. Tentang kegiatan di fakultas kita, begitu banyak! Bahkan tidak jarang dalam satu hari ada tiga kegiatan sekaligus. Seminar. Diskusi. Bedah Buku. Lokakarya. Ceramah. Pengajian. Pame- ran Buku. Resensi. Debat. Menerima Tamu. Rapat Pimpinan. Dan sebagainya. Tentang kegiatan yang dilakukan sivitas akademika fakultas kita juga begitu banyak dan beragam. Misalnya, melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, menjadi trainer, menjadi motivator, dan pemakalah atau panelis seminar. Selama ini kita hanya meng- andalkan ingatan (tak tertulis) untuk mengetahui kegiatan yang pernah berlangsung di fakultas kita ini. Sayangnya ingatan kita sangat terbatas dan tersimpan di masing-masing memori individual, sehingga rekaman kegiatan fakultas kita tidak sempur- na. Ini kita ketahui saat kita membutuhkan, seperti saat kita harus membuat laporan akhir tahun atau evaluasi diri program studi, betapa kita sering atau selalu kelabakan sendiri kalau mesti membuat rekapitulasi kegiatan-kegiatan itu dalam tabel-tabel yang sudah diformat baku. Terbitnya Jendela ini diharapkan mampu melayani kebutuhan itu. Untuk keperluan perekaman data itulah maka terbitan ini dibuat berkala bulanan. Sedangkan rubrik yang lain disisipkan sebagai gimmick, supaya tiap edisinya enak dibaca dan tidak terlalu membosankan. Namanya Jendela? Ini berasal dari banyak pilihan. Warkat Warta. Newsletter. Buletin Fakultas. Faktum. Langkah. Step. Jendela. Dinamika. Jejak. Rekam. Jendela itu ya jendela [bila dibuka atau terbuka] menjadi sarana orang lain bisa melihat kita atau kita bisa melihat sesama sivitas akademika berkiprah di luar pagar rumah kita.Atau bisa juga dibaca JeNDela, akronim dari Jejak Nampan Demo- krasi Airlangga. Yang ini memang mengacu pada kittah kita sebagai komunitas [selalu sedang] belajar (a learning community), demo- kratis, kritis, pluralis, kreatif, ilmiah dan bertanggungjawab. Jendela ini juga diilhami oleh Warkat Warta FIS Unair yang pernah terbit akhir 1970-an dan awal 1980-an. Mengapa baru di tahun 2009? Karena justru tahun 2009 ini terjadi perubahan yang mendasar di fakultas kita. Ada block-grant Departemen untuk pengembangan. Ada Hibah Penelitian Soetandyo. Ada Hibah Pengajaran R. Koento. Ada penghidupan kembali Diskusi Ilmiah Rebo-an. Semuanya membuat fakultas kita lebih dinamis, dan semuanya dalam rangka memelihara kittah kita di tengah-tengah perubahan jaman. Kita tentu berharap Jendela ini bisa berfungsi sebagaimana diharapkan. Kare na- nya, kita perlu, bahkan wajib, [bersedia] memberi masukan data dan informasi kepada timnya Pak Yayan Sakti Suryandaru tentang kegiatan-kegiatan yang jejaknya perlu direkam. Ada kekurangan?! Itu wajar, dan tugas kita semua untuk memperbaikinya. (I Basis Susilo) Mengapa terbitan ini kita terbitkan? Mengapa baru sekarang? Mengapa terbitan ini berkala bulanan? Mengapa terbitan ini kita beri nama Jendela? Di bawah ini jawabannya. Membuka Jendela Baru Membuka Jendela Baru (I Basis Susilo)

Post on 03-Nov-2020

7 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • edisi

    01

    Mar

    et 20

    09

    KITA perlu terbitan berkalaFISIP Unair karena kita butuhrekaman tertulis tentangkegiatan-kegiatan di fakultaskita dan tentang kegiatan sivitasakademika fakultas kita. Ham -pir tiap hari ada saja kegiatanyang layak dicatat. Tentangkegiatan di fakultas kita, begitubanyak! Bahkan tidak jarangdalam satu hari ada tigakegiatan sekaligus. Seminar. Diskusi. BedahBuku. Lokakarya. Cera mah. Pengajian. Pame -ran Buku. Resensi. Debat. Menerima Tamu.Rapat Pimpinan. Dan sebagainya. Tentangkegiatan yang dilakukan sivitas akademikafakultas kita juga begitu banyak dan beragam.

    Misalnya, melakukan penelitian,pengab dian kepada masyarakat,menja di trainer, menjadi motivator,dan pemakalah atau panelissemi nar.

    Selama ini kita hanya meng -an dalkan ingatan (tak tertulis)untuk mengetahui kegiatan yangpernah berlang sung di fakultaskita ini. Sayang nya ingatan kitasangat terbatas dan tersim pan di

    masing-masing memori indivi dual, sehing gareka man kegiatan fakultas kita tidak sem pur -na. Ini kita ketahui saat kita membutuhkan,seperti saat kita harus membuat laporanakhir tahun atau evaluasi diri program studi,betapa kita sering atau selalu kelabakan

    sendiri kalau mesti membuat rekapitulasikegiatan-kegiatan itu dalam tabel-tabel yangsudah diformat baku.

    Terbitnya Jendela ini diharapkan mampumelayani kebutuhan itu. Untuk keperluanperekaman data itulah maka terbitan inidibuat berkala bulanan. Sedang kan rubrikyang lain disisipkan sebagai gimmick, supayatiap edisinya enak dibaca dan tidak terlalumembosankan.

    Namanya Jendela? Ini berasal dari banyakpilihan. Warkat Warta. Newsletter. BuletinFakul tas. Faktum. Langkah. Step. Jendela.Dinamika. Jejak. Rekam. Jendela itu ya jendela[bila dibuka atau terbuka] menjadi saranaorang lain bisa melihat kita atau kita bisamelihat sesama sivitas akade mika berkiprahdi luar pagar rumah kita. Atau bisa juga dibacaJeNDela, akronim dari Jejak Nampan Demo -krasi Airlangga. Yang ini memang mengacupada kittah kita sebagai komunitas [selalusedang] belajar (a learning community), demo -kra tis, kritis, pluralis, kreatif, ilmiah danbertang gung jawab. Jendela ini juga diilhamioleh Warkat Warta FIS Unair yang per nahterbit akhir 1970-an dan awal 1980-an.

    Mengapa baru di tahun 2009? Karenajustru tahun 2009 ini terjadi perubahan yangmendasar di fakultas kita. Ada block-grantDepartemen untuk pengembangan. AdaHibah Penelitian Soetandyo. Ada HibahPengajaran R. Koento. Ada penghi dupankembali Diskusi Ilmiah Rebo-an. Semuanyamembuat fakultas kita lebih dinamis, dansemuanya dalam rangka memelihara kittahkita di tengah-tengah perubahan jaman.

    Kita tentu berharap Jendela ini bisaberfungsi sebagaimana diharapkan. Kare na -nya, kita perlu, bahkan wajib, [bersedia]memberi masukan data dan informasikepada timnya Pak Yayan Sakti Suryanda rutentang kegiatan-kegiatan yang jejaknya perludirekam. Ada kekurangan?! Itu wajar, dantugas kita semua untuk memperbai kinya.

    (I Basis Susilo)

    Mengapa terbitan ini kita terbitkan? Mengapa barusekarang? Mengapa terbitan ini berkala bulanan?

    Mengapa terbitan ini kita beri nama Jendela? Dibawah ini jawabannya.

    Membuka Jendela BaruMembuka Jendela Baru

    (I Basis Susilo)

  • 02 jendela edisi 01/Maret 2009

    editorial

    l PENANGGUNG JAWAB: I. Basis Susilo (Dekan FISIP)l PIMPINAN UMUM: V. Dugis (Wakil Dekan III) l PIMPINAN REDAKSI: Yayan Sakti Suryandaru

    l JURNALIS: Debrina Tedjawidjaja (070710012); Intan Fitranisa (070710369); Putri Rizky Pramadhani (070710367);Muhammad Zaki Ath.T (070810463); Arfa Darojati (070517560) l LAY-OUT/PRODUKSi: Irfan Wahyudi, S.Sos

    l Alamat Redaksi: Gedung FISIP Kampus B Universitas Airlangga Jl. Dharmawangsa Dalam SurabayaTelp. (031) 5011744, 5012442, 5017429, 5034015. Fax. (031) 5047754 ll e-mail: [email protected]

    “ Selamat, semoga buletin ini betul-betul menjalankanfungsi ruang publiknya sebagai jembatan antara fakultasdengan masyarakat internal kampus maupun seki- tarkampus…”(Ibu Rachmah Ida, Ketua Dep. Ilmu Komunikasi)

    “Ide yang cukup bagus dan menarik, semoga dapat di-ting katkan secara profesional agar siap terjun kemasyarakat…”

    (Pak Subyakto, Penjual Kantin Nasi Goreng)

    “Moga-moga media ini benar-benar dapat konsisten,terbit secara kontinyu…”

    (Teddy, Menteri Dep.SOSPOL BEM-FISIP)

    “… Semoga tidak hanya sebagai sumber informasi saja,tetapi juga sebagai sarana penyalur aspirasi dan pikiranmahasiswa…”

    (Sundari, Ketua HIMA Dep. Ilmu Komunikasi)

    “Congratz ya! semoga buletin forum ini bisa tetep eksisdi kampus kita tercinta…”

    (Ignatius, HI ’08)

    MerekamLangkah Perubahan

    FISIP tengah berbenah diri. Sebuah tuntutanyang merupakan keniscayaan dan harusditempuh. Apalagi Unair telah mencanangkankampus ini harus mampu berada di jajaran ‘WorldClass University”. Sebuah obsesi yang absurd?Tentu saja tidak, jika kita memahami bagaimanacara pencapaiannya. Terutama jika ini sudahmenjadi komitmen bersama.

    Untuk menebarkan spirit perubahan inilah,newsletter JENDELA ini dihadirkan ke hadapanAnda. Sudah sekian tahun FISIP tidak memilikimedia internal. Segala gerak langkah kampusoranye ini tidak berbekas. Jika ingin mengetahuiapa saja yang telah dilakukan FISIP, tentu sajaakan kesulitan. Bahkan, ketika tamu berkunjungke FISIP tidak ada ‘oleh-oleh’ yang bisa kitaberikan.

    Orang luar saja perlu (ingin) tahu, apa yangtengah kita lakukan. Apalagi sebagai orang FISIP,tentunya media ini merupakan bagian diri Anda.Merah hitamnya JENDELA ada di tangan Anda.Jika banyak program dan aktivitas yang kitalakukan, media ini akan on terus. Kekritisanmahasiswa bisa terekam dalam JENDELA.Kegairahan meningkatkan potensi diri dosen,juga bisa dipantau lewat lembaran ini. Bahkan,peningkatan layanan staf karyawan bisa terlihat.Pendeknya, bagaimana tampilan wajah FISIPUnair bisa terlihat dari JENDELA. Jadi bantulahkami untuk selalu memperbaiki diri. Kabarkankepada kami, setiap aktivitas dan ide Anda. Disetiap edisi, kritik dan saran Anda selalu kaminantikan. Wassalam.

    Sang Sakti

    l SURAT PEMBACA

    10 Maret 2009KULIAH UMUM CSR FREEPORTRuang Adisukadana (pukul : 14.00-16.30)

    10-12 Maret 2009COMMUNICATION EXPOdalam rangka HUT ke-21 Departemen KomunikasiFISIP Unair

    Minggu ke-2 Maret 2009DISKUSI EKONOMI DAN DISKUSI LORONGBEM FISIP Unair

    Minggu ke-3 Maret 2009DEBAT CALON LEGISLATIFBEM FISIP Unair

    l AGENDA FISIP

  • 03edisi 01/Maret 2009 jendela

    lintas peristiwa

    Usia pemerintahan Susilo BambangYudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK)tinggal menghitung hari. Selamabergandengan tangan lima tahun (2004-2009), tercatat berbagai kebijakan telah di-ambil. Dari langkah tersebut, tentu adabanyak hal yang dapat dicermati. Kritik danevaluasi terhadap kinerja pemerintahanSBY-JK inilah yang dengan cerdas dikupasdalam Seminar Evaluasi Kebijakan EkonomiPolitik Lima Tahun Pemerintahan SBY-JK.

    Seminar yang digelar oleh Badan Ek-sekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas IlmuSosial dan Ilmu Politik (FISIP) UniversitasAirlangga pada 17 Februari 2009 ini meng-hadirkan empat pembicara, yaitu Dr. SriAdiningsih (staf pengajar Fakultas EkonomiUniversitas Gajah Mada), Dr. Imam Sugema(staf peneliti INDEF), Airlangga Pribadi,M.Si (staf pengajar Ilmu Politik FISIP Uni-versitas Airlangga), dan Didik Prasetyono,SE. Msi (mantan anggota KPUD Jatim2003-2008) dengan moderator RobitoAlam Islami (mahasiswa Ilmu Politikangkatan 2003). Seminar berlangsung diRuang Adi Sukadana Gedung A FISIP Unairdan diikuti oleh peserta dari berbagaikalangan, mulai dari kaum akademisi, aktivisorganisasi mahasiswa, hingga wartawan.

    Dalam seminar tersebut, Sri Adiningsihmengritisi kondisi ekonomi Indonesia se-lama lima tahun terakhir. “Kita harusmampu melihat dengan jernih, apakah adaperubahan dalam pemerintahan SBY-JK.Sebab, negara-negara yang lain bisa. Sayatidak percaya Indonesia ditakdirkan untukmenjadi negara miskin,” ungkap Sri me-ngawali sesi seminar. Sepanjang tahun2004-2009, stabilitas ekonomi makro In-donesia rapuh. Ini dapat dilihat dari

    goncangan nilai tukar (kurs) rupiah ter-hadap dolar AS (Amerika Serikat). Padahal,Indonesia tidak sedang mengalami krisismeskipun ledakan krisis global di tahun2008 membuat Indonesia rentan terkenaimbasnya.

    Ekonom UGM tersebut menuturkan,pertumbuhan ekonomi naik lamban dankualitasnya cenderung turun. PertumbuhanGDP (Gross Domestic Product) mengalamipergerakan yang tidak konsisten alias naik-turun. “Dibandingkan Vietnam, Indonesiamasih kalah,” jelasnya. Sektor industri punmengalami penurunan sementara sektorinformal justru meningkat. Puncaknya padatahun 2005, angka kemiskinan meningkatdari 15,9 persen menjadi 17,8 persen. Be-gitu pula dengan angka pengangguran.yangmengalami nasib serupa. Tak pelak, dayasaing internasional dan kualitas sumberdaya manusia Indonesia menjadi sangatrendah. Human Development Index tahun2008 menyatakan Indonesia berada padaperingkat 109, turun dua peringkat daritahun 2005. “Kita berada di bawahMalaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina,”kata Sri Adiningsih, prihatin.

    Menilik ekonomi Indonesia yang tidakmengalami kemajuan dari tahun ke tahun,ekonom UGM yang meraih gelar doctordari University of Illinois ini menegaskan per-lunya perubahan strategi dalam menge lolaekonomi. Perubahan tersebut anta ra laindengan mengembangkan ekonomi yangmandiri namun tidak antiasing, memban-gun ekonomi domestik yang kuat, mem-bangun manusia Indonesia yang andal,meningkatkan daya saing internasional,mengembangkan kewirausa haan, swasem-bada pangan dan komoditas primer strate-

    gis, serta mengembangkan sistem jaminansosial nasional yang permanen.

    Pembicara kedua, Dr. Imam Sugema,mengkritisi kinerja duet SBY-JK dari sisisosial. Menurut oposan ini pemerintahanSBY-JK terjangkit penyakit 5I, yaitu Instable,Impotent, Irresponsible, Inconsistent, dan In-lander.

    Instable, jelas Imam, mengacu padaketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadapmata uang asing serta inflasi yang tidak ter-pelihara. Cadangan devisa merosot tajam,mencapai USD 10 milyar dan merupakanyang terbesar sepanjang sejarah Indonesia.Konsekuensinya, indeks kesengsaraan (mis-ery index) masyarakat Indonesia kianmeningkat. Bahkan sudah menembusangka 19,4 persen. “Selama lima tahun ter-akhir ini, masyarakat kita cenderung se-makin sengsara,” ungkapnya.

    Direktur International Center for AppliedFinance and Economics (InterCAFE) ini jugamenilai, pemerintahan SBY-JK tidak efisiendalam mencapai tujuannya. Program-pro-gram tidak didesain dengan baik. Sehingga,meskipun anggaran kemiskinan meningkathingga tujuh puluh persen, angka kemiski-nan tidak mengalami perubahan yang sig-nifikan. “Itu artinya, pemerintah tidakmempunyai program yang efektif.”lanjutImam, menjelaskan makna penyakit yangkedua, Impotent.

    Kelangkaan berbagai komoditas ditahun 2008 seperti elpiji, minyak tanah,bensin, kedelai, dan pupuk, menurut Imam,merupakan dampak kelalaian pemerintahterhadap kebutuhan masyarakat. (Irrespon-sible). Pemenuhan janji-janji kampanye SBY-JK sangat jauh dari harapan.

    Inconsistent, lanjutnya, merujuk padaperbedaan antara apa yang dikatakan dandilakukan oleh pemerintah. Sementara In-lander, yang merupakan kata serapan daribahasa Belanda, mengacu pada mentalitaspemerintah yang senantiasa tunduk padakemauan asing. Tahun 2004, utang luarnegeri warga Indonesia per kepala ‘hanya’9,5 juta rupiah. Sekarang, beban tersebutnaik menjadi 11,88 juta. “Makanya, bayi In-donesia nangisnya paling kenceng. Soalnya,baru lahir sudah dibebani utang segitubanyak.” ujar Imam disambut tawa peserta.(put)

    Seminar Evaluasi Kebijakan Ekonomi Politik Lima Tahun Pemerintahan SBY-JK

    Pemerintahan SBY-JK Terjangkit 5 i

    Para pembicara dan moderator Seminar Evaluasi Kebijakan Ekonomi Politik 5 tahun Sby-JK

  • 04 jendela edisi 01/Maret 2009

    lintas peristiwa

    Saat ini, bukan hanya ekonomi In-donesia saja yang tengah terseok-seok dihantam badai krisis. Namun,yang juga terluka cukup parah adalahideologi masyarakat. Arus gagasan darigenerasi muda yang seharusnya mampumenjadi penggerak kebangkitan bangsadan demokrasi seper� macet, mandek ditengah jalan. Berangkat dari pemikirantersebut, FISIP Universitas Airlanggamenggelar Kuliah Tjokroaminoto untukKebang saan dan Demokrasi, dimulai Mei2008. Se�ap bulan, Kuliah Tjokroami -noto menyajikan satu topik bahasanyang dikupas cerdas oleh para pem-bicara. Saat dibuka oleh Amien Raisbulan Mei lalu, misalnya, tema yang di-angkat adalah kedaulatan bangsa,mengambil momen kebangkitan na-sional.

    Menurut Joko Susanto, S.I.P, M.Sc.,

    Ketua Dewan Pemangku KuliahTjokroaminoto untuk Kebangsaan danDemokrasi, kegiatan ini diselenggarakandengan satu tujuan posi�f: menjadiperiuk terbuka untuk mema tangkangagasan-gagasan tentang kebangsaandan demokrasi, serta mewadahi berba-gai spektrum pemikiran. Topik-topikyang dibahas diharapkan mampu mem-buka cakrawala pandang masyarakatmengenai pen-�ngnya menjawabzaman, membangun tradisi, menuju ke-bangkitan kembali. Ke�ga ‘impian’ itulahyang menjadi tema besar sekaligus lan-dasan seluruh rangkaian perkuliahanTjokroaminoto. Nama Tjokroaminotosendiri, lanjut Joko, diambil karena tokohnasional tersebut dianggap mampumengge-rakkan ide mengenai ke-bangsaan de-ngan basis kota Surabaya.

    Tahun ini, kita �dak akan kehilangan

    jejak kuliah Tjokroaminoto. Sepanjangtahun 2009, akan ada enam pertemuanyang digelar. Kalau sebelumnya agendaKuliah Tjokroaminoto telah tersusunrapi, �dak demikian tahun ini. “Kalausudah di-se�ng duluan, isu yang diba-has menjadi �dak up to date lagi,”terang dosen Hubungan InternasionalFISIP Unair tersebut. Oleh sebab itu,topik-topik yang disajikan akan dibuatlebih fleksibel. Sedapat mungkin dis-esuaikan dengan isu-isu yang tengahberedar di masyarakat. Prak�s, agendaKuliah Tjokroaminoto belum dapatdipublikasikan karena hingga saat inimasih dalam tahap perencanaan.

    Karena minat masyarakat yang be-gitu �nggi, Kuliah Tjokroaminoto akansemakin berkembang. Tahun ini, ren-cananya, Kuliah Tjokroaminoto akan dis-elenggarakan dengan versi keliling.Selain digelar di kampus Unair, �mpenyelenggara juga tengah bersiap-siapmenjaring audience dari kalangan pela-jar SMA di Surabaya. Bahkan, �m penye-lenggara berniat untuk merang kulkelompok-kelompok diskusi mahasiswayang ada di FISIP Unair. “Sebagai pem-anasan sebelum masuk ke forumutama,” jelasnya.

    Tahun ini, �m penyelenggara jugaberencana untuk mempublikasikanpaper presentasi agar dapat dinikma�oleh kalangan yang lebih luas. Olehsebab itu, mahasiswa diharapkan lebihak�f berpar�sipasi. Tidak hanya sebagaipeserta, tapi juga �m penyelenggara danpenulis. “Kami ingin mahasiswa �dakhanya mampu menjadi EO (Event Organ-izer, Red.), tapi juga penulis,” kata Joko.

    Pembicara-pembicara pada KuliahTjokroaminoto yang kredibel dan kom-peten terbuk� mampu menyedot animomasyarakat. Tahun lalu, saat meng-hadirkan Sri Sultan Hamengkubuwono Xpada Strategi Kebudayaan IndonesiaPasca 80 Tahun Sumpah Pemuda, sekitarempat ratus orang memada� Audito-rium Gedung C FISIP Unair. Bahkan,

    Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi

    Matangkan GagasanKebangsaan dan Demokrasi

    Sri Sultan Hamengkubuwono X saat jadi pembicara kuliah Tjokroaminoto

  • 05edisi 01/Maret 2009 jendela

    lintas peristiwa

    ke�ka Amien Rais mengisi kuliah, pe-serta menembus angka enam ratus!Tahun ini, siapa kira-kira ‘tamu besar’yang bakal diundang? Tim penyeleng-gara belum ingin angkat bicara. Namun,nama Kwik Kian Gie dan Faisal Basri di-gadang-gadang bakal hadir mengisipodium pembicara. “Kami masih konfir-masi.”jelasnya.

    Dansa atau Poco-poco?Bulan Juli lalu, menghadirkan Antun

    Mardiyanta dan Dr. Pra�kno (staf ahliMendagri yang juga pakar otonomidaerah), Kuliah Tjokroaminoto memilihtema Dansa atau Poco-poco? KoreografiKebangsaan di Era Desentralisasi. Dalamkuliah ini, Antun Mardiyanta mengung -kapkan sistem desentralisasi atauotonomi daerah yang tengah dijalankandi Indonesia masih memiliki banyakkekurangan. Sehingga, perlu dilakukanberbagai upaya perbaikan. Di antaranyadengan membangun kepercayaan(trust), kerjasama (rela�onship), dan pe-merintah harus dapat menjalankantugas sebagaimana mes�nya.

    Dalam Indo atau Indon? Ja� DiriKeindonesiaan di Era Globalisasi, KuliahTjokroaminoto membahas tentang iden-�tas bangsa Indonesia. Dr. Yudi La�f dariUniversitas Paramadina Indonesiamemaparkan, Indo adalah sebutan bagiperanakan Barat (Eropa atau Amerika).Sedangkan Indon, konon adalah sebutanwarga Malaysia bagi orang Indonesiayang mengandung makna meren-dahkan. Yudi menegaskan, kita adalahbangsa Indonesia. Bukan Indo maupunIndon. Memang, iden�tas nasional In-donesia hingga saat ini masih terom-bang-ambing. Kita se-ring kali terlenadengan unsur-unsur asing yang dita-mpilkan media sementara di sisi lain ter-jadi penurunan martabat, seper�kemiskinan dan ke�dak mampuan ber-

    saing di kancah global.Oleh sebab itu, kita harus menjadi

    bangsa Indonesia seja�, mengawinkanvisi global yang kosmopolitan dengankekayaan lokal, dan menambahkanunsur-unsur yang lebih produk�f. “Itulahyang disebut cross-culture civiliza�on,”ungkapnya. Salah satu kekuatan yangmampu menganyam nasionalismebangsa Indonesia, lanjut Yudi, adalahlaut. Sayang, pertahanan negara saat inimasih berorientasi pada daratan.Akibatnya, banyak kekayaan lautIndonesia yang dirampas oleh asing.Yudi juga memaparkan, kekuatannasional bangsa Indonesia selain lautadalah Bahasa Indonesia. Jadi, kita harusbangga terhadap bahasa yang kita miliki.

    Bulan Oktober, Kuliah Tjokro ami no -to menghadirkan Sri Sultan HamengkuBuwono X sebagai pembicara tunggaldalam Strategi Kebudayaan IndonesiaPasca 80 Tahun Sumpah Pemuda. Dalamkuliah ini, Sultan menjelaskan perbe -daan adalah rahmat Tuhan Yang MahaEsa. Sayang, selama ini kita hanyadiberitahu bahwa kita ini majemuk(bhinneka) yang tunggal (ika). Padahal,kita harus belajar mengenai keikaanyang berbhineka. Bangsa kita mengakuiSumpah Pemuda, bukan SumpahPalapa. Jika Sumpah Palapa berambisipada penaklukan etnis lain, SumpahPemuda merupakan suatu bentukkerelaan untuk bersatu.

    Sultan juga mengungkapkan, selamaini ada beberapa kesalahan dalammengelola proses pembangsaan. Kitaselalu berorientasi pada pertum buhanekonomi untuk kesejah teraan masya -rakat. Hal yang benar, menurut Sultan,mem bangun demokrasi untukkesejahteraan. Menggunakan pende -katan ekonomi dalam memba ngunbangsa sudah bukan hal yang tepat lagi.Bangsa Indonesia perlu strategi baru

    untuk proses tumbuh kembang bangsa.Jika perlu, UUD yang sekarang sudahdiamandemen, sekali lagi diaman de -men.

    Pada Bulan November, giliran YennyZannuba Wahid atau lebih dikenaldengan nama Yenny Wahid danRachmah Ida, Ph.D (dosen DepartemenKomunikasi Unair), berbicara mengenaibentuk baru patrio�sme dan kepahla -wanan di masa modern. Kuliah kali inimengambil tema Korporasi Patrio�katau Patriot Kor po rasi? Kepahlawanan diEra Corporate Social Responsibility,mempertanyakan apakah CSR meru-pakan bentuk kepahlawanan baru dimasa sekarang.

    Menurut Yenny, pahlawan adalahmereka yang rela mendahulukan kepen -�ngan orang lain daripada kepen�ngandiri sendiri. Seorang pahlawan, sekali -pun �dak ditetapkan secara formal,adalah orang yang mampu membang -kitkan kesadaran bagi orang lain. Kurangtepat bila pahlawan hanya disandangkankepada mereka yang gugur di medanperang. Sebab, semua orang berpeluangmenjadi pahlawan.

    Saat ini, Indonesia tengah dilandakekeringan rohani dan kekeringanekonomi. Sehingga, figur pahlawanmenjadi langka. Oleh sebab itu, Yennymenyarankan kepada pemerintah agarmampu memberi rasa aman kepadarakyat dan menjamin kesejahteraanrakyat. “Itu ar�nya negara memenuhifungsi-fungsi heroiknya,”ujar Yenny.

    Yenny mengatakan, CSR �dak bisadisebut sebagai bentuk kepahlawananatau patrio�sme. Sebab, CSR �dakdilandasi oleh kerelaan karena telahdiundang-undangkan. Apalagi, CSR jugaseringkali digunakan perusahaansebagai usaha untuk mendongkrak citra.Tidak ada bedanya dengan promosi.(put)

    Suasana interaktif Kuliah Tjokroaminoto saat menghadirkan pembicara Yenny Zannuba Wahid

  • 06 jendela edisi 01/Maret 2009

    lintas peristiwa

    Setelah terbentuk di tahun kepengu-rusan yang baru, Badan Ekseku�fMahasiswa (BEM) Fakultas IlmuSosial dan Ilmu Poli�k (FISIP) UniversitasAirlangga nampaknya segera membuk-�kan eksistensi serta kon sis tensi mereka.Hal tersebut diwujudkan dengan dise-lenggarakannya Rapat Kerja (Raker) BEMFISIP pada 26-28 Januari 2009 di vilaSurya, Trawas, Kabupaten Mojokerto.

    Selain dihadiri anggota BEM FISIP,acara yang telah menjadi agenda tahu-nan ini juga dihadiri oleh pihak dekanatfakultas, rekan-rekan Badan Legisla�fMahasiswa (BLM), perwakilan dari SieKerohanian Islam (SKI), beberapaKahima, serta sejumlah alumni BEM..Dibuka oleh Drs. I. Basis Susilo, MA se-laku Dekan Fisip, Raker BEM kali inimembahas sejumlah agenda pen�ng. Di-antaranya penetapan tata ter�b Raker,presentasi program kerja (proker) mas-ing-masing departemen, pengesahanproker, dan tak ke�nggalan sharing ter-buka dengan perangkat-perangkat BEMtahun lalu. “Tata ter�b serta proker �apdepartemen sendiri telah disusun ter-lebih dulu pada saat pra-raker yang jad-wal dan tempatnya diagendakanmasing-masing departemen,” ung kapAswin Bahar Muhammad, Presiden BEMFisip periode 2009.

    Yang membedakan Raker kali ini den-gan tahun lalu ialah disisipkannyaagenda lokakarya antara BEM denganpihak fakultas. Loka karya ini berisi pela�-han pembuatan program-program or-ganisasi mahasiswa terkait dengan

    sistema�ka penyusunan proker BEM se-lama setahun ke depan.

    “Dengan pela�han semacam ini di-harapkan tercipta suatu batasan sistem-a�s mengenai proker BEM. Batasan inimerupakan tolak ukur relevan-�daknyaprogram-program yang akan dija lan kan.Apakah sudah sesuai dengan visi danmisi fakultas,” kata Aswin. Selain batasansistemik, alokasi anggaran pun ikutdibicarakan. Program-program yangterseleksi dan layak untuk direalisasikandiper�mbangkan untuk memperolehanggaran.

    “ Harapan saya, lokakarya ini bisa jadiacuan kita dalam menjalankan proker,dan tentunya menjadi sarana sosialisasiprogram- program BEM dengan pihakfakultas atau bahkan lingkungan kampusUnair.” tutur Aswin. Ia menambahkan,“BEM sekarang sifatnya adalah koordi-na�f bukan instruk�f, berbeda denganBEM beberapa tahun lalu yang instruk�fyang se�ap prokernya terdapat campurtangan penuh pihak fakultas.”

    Masih menurut Aswin, penyeleng-garaan lokakarya ini amat pen�ng untukmengkoordinasikan �ap-�ap programBEM agar �dak terjadi mis-komunikasidengan fakultas. “Program- programBEM selama setahun kedepan telah diru-

    muskan, setelah ini �nggal bagaimanaBEM dapat menjaga konsistensi pro-gram-program tersebut sehingga ber-jalan sesuai dengan apa yang sudahdirencanakan bersama,” ungkap Aswin.

    Sebagai catatan, pada tahun-tahunsebelumnya agenda loka kar ya selalu ter-pisah dari Raker . Bahkan, lokakaryasempat di�adakan pada beberapa tahunsilam. Hal itulah yang sering membuatprogram-program BEM tersendat diten-gah jalan. “Sebab, �dak ada ��k temuantara apa yang dinginkan BEM denganapa yang akan dihendaki fakultas,” jelasAswin.

    Raker yang berakhir pada tanggal 4Februari tersebut ditutup dengan pem-bacaan dan pengesahan program-pro-gram setahun ke depan. Dari beberapaprogram yang dibacakan sudah satu pro-gram terjalankan. Program yang diambildari proker departemen bidang Sos-Poltersebut bertajuk “Evaluasi KebijakanEkonomi Poli�k Lima Tahun Pemerinta-han SBY-JK”. Seminar yang diadakanpada 17 Februari di ruang Adi Sukadanatersebut dihadiri oleh sejumlah nara-sumber pen�ng. Seper� ekonom UGMDr. Sri Adiningsih dan Didik Prasetyo, SE,M.Si, mantan anggota KPUD Ja�m dancalon anggota DPD Ja�m. (zaq)

    Lokakarya di Raker BEM

    Satukan Visi-Misi BEM dan Fakultas

  • 07edisi 01/Maret 2009 jendela

    lintas peristiwa

    Pemilu sudah tampak di depanmata. FISIP pun �dak hanya ber-pangku tangan menyambut pestademokrasi tahun ini. Salah satunya de-ngan melakukan forum group disscussion(FGD) yang diiku� oleh para dosen dariberbagai departemen. Para dosen terse-but berkumpul bersama untuk membi-carakan usulan-usulan yang dapatdisampakan guna membangun pemerin-tahan yang lebih efisien dan efek�f.

    FGD ini dilakukan dalam rangka pre-sentasi rektor UNAIR yang akan dilaku-kan di salah satu stasiun televisi swastamengenai tema tersebut. ”Sesuai de-ngan temanya, maka rektor minta dosen-dosen FISIP untuk membuat poin-poinusulan yang nan�nya akan disampaikanoleh rektor,” ujar Joko Susanto, dosenDepartemen Hubungan Internasional

    Dari kegiatan yang diadakan seba-nyak dua kali, yaitu pada tanggal 16 dan19 Februari ini lahir sejumlah pemikiran.Joko mengatakan, di FGD pertama, buahpikir yang dihasilkan sangat beragam danbelum terkonsentrasi pada hal-hal ter-tentu. Begitu banyak masukan yang di-berikan oleh para dosen, seper� RamlanSurbak�, Daniel Sparingga, Yayan Sak�,Priatmoko, Kacung Maridjan, Hariadi, Gi-tadi Topan, Wisnu Pramutanto, Budi Se-�awan, Suko Widodo, Airlangga Pribadidan yang lainnya.

    Hasil dari FGD I secara garis besar

    mengkri�k kinerja pemerintahan yangdianggap belum menjalankan fungsi nor-ma�f dengan baik karena masih terjebakdalam ego sectoral. Selain itu, pemerin-tah diharapkan mampu memperbaikipola hubungan antara pemerintah sertadengan para pemilihnya.

    Oleh karena FGD I masih belum sem-purna, maka diadakan FGD II di ruang AdiSukadana. Pada pertemuan ini, paradosen akhirnya menyimpulkan akar per-masalahan dari ke�dakefek�fan dankeefisienan pemerintah dari sudut pan-dang kelembagaan adalah karena ke�-dakmampuan sistem ketatanegaraandalam menjembatani realitas poli�k In-donesia yang mul�partai dengan sistempresidensiil yang menjadi amanah kons -�tusi.

    Indonesia pasca reformasi sudah me-mulai upaya untuk mengatasi permasala-han tersebut. Menjalankan sistemmul�partai dengan tetap mempertahan-kan sistem presidensiil sesuai amanahkons�tusi. Selain itu, adanya amande-men kons�tusi yang menambahkan pe-milihan langsung dalam pemilihanpresiden juga semakin menguatkanamanah kons�tusi yang menghendakisuatu pemerintahan yang kuat.

    Sayangnya, desain kenegaraan yanglebih responsif terhadap kemauan poli�kpopular ini �dak lantas menjamin adanyaruang yang cukup bagi penguatan kapa-

    sitas poli�k pemerintahan untuk mewu-judkan kemauan poli�k popular yang re-presenta�f melalui pembuatankebijakan-kebijakan serta hasil yang kon-kret secara prak�s.

    ”Jadi, solusi yang bisa dipakai untukmengatasi ke�dakefek�fan dan ke�dake-fisienan pemerintahan yaitu dengan me-nerapkan sistem poli�k berbasis duakoalisi kuat. Tujuannya adalah untuk pen-guatan sistem presidensiil,” jelas Joko.Hal tersebut dapat dilakukan baik secarastrategis maupun tak�s. Pilihan strategisyang merupakan pilihan-pilihan jangkapanjang melipu� revisi UU PemilihanPresiden serta revisi UU Pemilu yangmengarah pada penggunaan sistem dis -trik. ”Kalau secara tak�s berar� melipu�pilihan-pilihan jangka pendek yang dida-sarkan pada kondisi realitas saat ini. Ca-ranya dengan mengupayakan kontrakpoli�k yang kuat dan stabil diantara koa-lisi partai poli�k yang memiliki wakil dikabinet,” lanjut Joko.

    Selain upaya-upaya tersebut, adanyareformasi pada lembaga legisla�f danpartai poli�k, reformasi pada sistem bi-rokrasi serta reformasi yudika�f juga di-perlukan untuk menyeimbangkankeingi nan dalam membangun tata pe-merintahan yang efek�f dan efesien de-ngan tujuan-tujuan besar demokrasi.

    (deb/int)

    Suasana FGD di ruang Adi Sukadana

    Diskusi Dosen FISIP Jelang Pemilu

    Rumuskan Usulan Bangun Pemerintahan yang Efisien dan Efektif

  • 08 jendela edisi 01/Maret 2009

    lintas peristiwa

    Setelah tahun lalu Fakultas Kedok-teran Gigi (FKG), Fakultas Ekonomi(FE), dan Fakultas Farmasi (FF)mendapat Program HibahKompetisi Institusi (PHKI),tahun ini giliran FakultasIlmu Sosial dan Ilmu Poli-tik (FISIP) yang disertakanoleh Universitas Airlanggauntuk memperoleh danadari program hibah terse-but.

    Program hibah yangdiselenggarakan oleh Di-rektorat Jenderal Pen-didikan Tinggi (DIKTI) inibertujuan untuk mem-berikan dana kepada semuauniversitas baik negerimaupun swasta agar mampu meningkatkankualitas pembelajarannya. Juga, agar dapatdapat membangun jejaring agar lulusanuniversitas nantinya dengan mudah terserapoleh lapangan pekerjaan.

    Sebenarnya, Program Hibah KompetisiInstitusi tahun ini lebih menekankan padapenggunaan dana oleh universitas untukmengatasi masalah tropical disease(penyakit tropis). Hal ini tentu saja lebihberkaitan dengan permasalahan-permasala-han di bidang kedokteran. Tapi, pihak

    DIKTI tetap membuka pelu-ang bagi jurusan-jurusansosial yang masih bisadikaitkan dengan tema per-masalahan tersebut untukmendapatkan dana dariPHKI. Akhirnya, FISIPmenyertakan tiga departe-men yang dinilai masih bisaberkaitan dengan tema tropi-cal disease. Ketiga departe-men itu meliputi DepartemenIlmu Komunikasi, Departe-men Antropologi, dan De-

    partemen Sosiologi.Untuk memperoleh dana PHKI dari

    DIKTI ini ada beberapa tahapan yang harusdilalui. Pada tahap awal, setiap universitasdapat mengajukan proposal yang nantinyaakan ditindaklanjuti oleh pihak DIKTI.”Kalau proposal diterima oleh pihakDIKTI, universitas akan dapat dana sebesar500 juta rupiah pertahun untuk tiap departe-men yang diikutsertakan dalam PHKI.Dana hibah PHKI sendiri berlaku untukmasa 3 tahun,” terang Liestianingsih, dosenDepartemen Komunikasi.

    Bila proposal sudah benar-benar diter-ima dan disetujui oleh pihak DIKTI, makapihak BPP (Badan Perencanaan Pengem-bangan) yang anggotanya juga terdiri dariperwakilan DIKTI, akan mengadakan pen-injauan ke fakultas yang diikutsertakan olehuniversitas dalam PHKI. “Jadi, seandainyaproposal sudah disetujui, nanti akan adapihak BPP yang datang langsung dariJakarta untuk meninjau kondisi di tiga de-partemen yang diajukan FISIP. Tujuannyauntuk melihat layak tidaknya mendapatPHKI,” ujar Tri Joko, dosen di DepartemenAntropologi.

    Sesuai dengan tujuannya untukmeningkatkan kualitas pembelajaran, danayang didapat dari PHKI DIKTI bisa digu-nakan untuk pengembangan proseskegiatan belajar mengajar (KBM), pengem-bangan laboratorium, dan penambahansarana prasarana. Misalnya, di departemenIlmu Komunikasi, dana PHKI rencananyaakan digunakan untuk meningkatkan kual-itas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).Salah satunya dengan mengikutsertakanpara dosen pada program pelatihan dan kur-sus-kursus. (int)

    Giliran FISIP Dapat PHKI

    Setiap kegiatan membutuhkan pe ren -canaan yang matang agar berja lan lan-car. Untuk itulah, setiap fakultas diUniversitas Airlangga membuat RencanaKegiatan Anggaran Tahunan (RKAT), takterkecuali FISIP. RKAT merupakan pedo-man untuk pelaksanaan program-programfakultas yang dibuat tiap tahun dari bulanJanuari hingga Desember. PembuatanRKAT tahun depan dilakukan pada tahunyang sedang berjalan.

    Menurut Djoko Adi Prasetyo selakuWakil Dekan II FISIP, RKAT yang dibuatoleh fakultas akan diserahkan kepada rek-tor untuk disetujui. “Kalau fakultas hendakmelaksanakan kegiatan yang belum diren-canakan sebelumnya, maka akan dilakukanrevisi RKAT sekitar bulan Juli, Agustus, atauSeptember,” ujarnya.

    Revisi perlu dilakukan sebab kegiatanyang tidak tercantum dalam RKAT tidakbisa memperoleh dana dari fakultas.”Jadi,seharusnya ada rapat dengan semua de-partemen termasuk BEM dan HIMA su-paya semua kegiatan bisa terangkum dantidak perlu ada revisi berkali-kali,” tambahDjoko Adi.

    RKAT sendiri terdiri atas tiga posbesar, operasional, manajemen, danpengembangan. Pos operasional meru-pakan rencana anggaran untuk kegiatan-kegiatan rutin dalam pelaksanaan kegiatanfakultas. Hal ini meliputi berbagai macamhonorarium tenaga pengajar, alat tulis kan-tor, bantuan kegiatan kemahasiswaan, danlain-lain. Pos kedua pos manajemen yangmenunjang proses berjalannya fakultasmeliputi tunjangan teknis di berbagaibidang, belanja gaji pokok non-PNS, uanglembur, dan lain-lain. Pos ope ra sional danmanajemen diturunkan secara rutin tiapbulan oleh universitas.

    Berbeda dari kedua pos sebelumnya,pos pengembangan memuat program-pro-gram untuk mengembangkan supaya fakul-tas lebih maju. “Pos pengembangan punyafungsi yang cukup bagus karena kuranglebih 85 persen dikelola oleh masing-mas-ing departemen,” ucap Djoko Adi. Pospengembangan ini dilakukan melaluiproses TUP (Tambahan Uang Pembayaran)dan dibawahi langsung oleh Wadek III.Namun, untuk segi mekanismenya di-han-dleWadek II.

    Sesuai dengan tujuannya, maka pospengembangan digunakan untuk me ning -katkan kualitas mahasiswa, dosen, dankaryawan. Bagi mahasiswa, misalnya, terse-dia dana bila ingin ikut serta dalam LKTI(Lomba Karya Tulis Ilmiah). Untuk dosen,disediakan dana bantuan sekolah S2 danS3, termasuk dana penelitian.

    Sedangkan bagi karyawan, dana yangada digunakan untuk mengikutsertakanpara karyawan dalam berbagai pelatihandan kursus.Beragam pelatihan dan kursustersebut bertujuan untuk mening katkanprofesionalisme baik di bidang komputer,akademik, keuangan, maupun sarana danprasarana. “Hal ini merupakan prosespembenahan menuju model komputerisasidalam era BHMN sekaligus untuk efisiensitenaga kerja,” jelas Djoko Adi.

    Adanya rincian yang jelas dalam tiappos diharapkan dapat memperlancar tiap-tiap kegiatan yang akan dilakukan. Sebab,kegiatan tersebut memiliki anggaran danayang jelas serta tercantum dalam RKAT.Selain itu, dana yang ada dapat tersalurkandengan tepat karena adanya pembagianpos-pos yang jelas. Dengan demikian,proses kegiatan di FISIP dapat berjalansesuai dengan yang direncanakan.

    (int/deb)

    RKAT Jelas, Kegiatan Lancar

    Liestianingsih

  • 09edisi 01/Maret 2009 jendela

    lintas peristiwa

    Mengukur angka kredibilitas aka de -mik mahasiswa �dak cukup hanyamelalui kegiatan kuliah di dalamkelas saja, tetapi juga harus memperhi-tungkan aspek-aspek ilmiah yang merekalakukan di lingkungan. Demikian dikatakanoleh Dr. Drs. Musta’in, M.Si, Wakil Dekan IFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poli�k (FISIP)Universitas Airlangga. Menurutnya, hal it-ulah yang mendasari pihak kampus FISIPUnair bersungguh-sungguh dalam pro-gram yang bertajuk “Hibah Kompe�si Ma-hasiswa”.

    Program yang baru berjalan satu tahunini diadakan pertama kali pada Oktober2008. Pihak fakultas menyediakananggaran sekitar Rp 6 juta yang diambilkandari dana IKOMA (Ikatan Orangtua Maha-siswa) untuk 15 sampai 20 judul karya tulis.Namun sangat disayangkan, dari sejumlahdana yang sudah disiapkan, hanya sekitartujuh judul yang menda�ar dalam kom-pe�si ini. Dari tujuh proposal tersebuthanya 2 judul yang lolos seleksi dan layakmendapatkan hibah dari pihak kampus.

    “Kurangnya minat mahasiswa kampusini akan hal-hal yang berbau ilmiahmenyebabkan program kita tahun lalu ku-

    rang sukses” ujar Musta’in. Seja�nya Musta’in berharap, karya-

    karya yang terkumpul mampu dibentuksuatu jurnal khusus yang nan�nya akan di-ikutsertakan dalam ajang seper� LKTM(Lomba Karya Tulis Tingkat Mahasiswa).Jika �dak dilombakan kembali rencananyaada yang akan dimasukkan website kam-pus, dokumentasi perpustakaan unair,hingga diter bit kan.

    “Paling �dak FISIP dapat muncul kepermukaan dalam hal-hal karya ilmiahbidang sosial. Jangan kalah dengan Farmasidan Sains-Tek yang selalu produk�f dengankarya imiahnya di bidang ilmu pas�.” tegas-nya. Faktanya hingga saat ini hanya tercatatsatu judul kaya ilmiah dari FISIP yang di-ikutsertakan dalam LKTM �ngkat Universi-tas sejak tahun 2005. Hal yang sungguhdisayangkan oleh pihak fakultas.

    Untuk penyelenggaraan tahun inifakultas belum dapat menentukan kapanprogram Hibah Kompe�si Mahasiswa akanberjalan kembali. Hal ini dikarenakanbelum terencananya anggaran untuk pro-gram ini. Pihak fakultas masih menunggupersetujuan dari pihak rektorat mengenaialokasi dana. Fakultas sendiri kini masih

    fokus membenahi Student Centre(SC).Rencananya, SC akan diberi fasilitas kom-puter, printer, serta AC. Pembenahan SCyang dilakukan mulai Maret ini bertujuanagar SC dapat menjadi pusat ak�vitasilmiah mahasiswa. “Harapan kami agar SC�dak hanya jadi pusat kegiatan non-akademik saja, tetapi juga mampu menjadiwadah mahasiswa mengadakan kegiatanilmiah.” Ujar Musta’in.

    Sambil menunggu kepas�an dana,fakultas berharap munculnya proyek-proyek ilmiah baru di kampus ini. Hal-haltersebut dapat dilakukan dengan menga-jukan proposal karya ilmiah kepada dosenpembimbing �ngkat jurusan untuk kemu-dian disahkan dan dipresentasikan kepadadosen-dosen terkait di jurusan tersebut.

    Jika karya tersebut layak untuk maju ke�ngkat fakultas, maka proposal selanjut-nya dapat diajukan kepada KabagAkademik Fisip untuk mendapatkan perse-tujuan. Proposal ini kemudian akandipresentasikan kepada dosen-dosenterkait �ngkat dekanat. Apabila disetujuiuntuk direalisasikan maka pihak kampusakan mendanai ke �ngkat Universitasbahkan Nasional. (zaq)

    Hibah Kompetisi Mahasiswa Minim Peminat

    Dosen sebagai salah satu penentu kual-itas Kegiatan Belajar Mengajar(KBM) sudah selayaknya memperoleh per-hatian lebih dari pihak universitas. Sadarakan hal itu, tahun ini pihak UniversitasAirlangga memberikan hibah yang di-alokasikan bagi para dosen FISIP. Hibahtersebut yakni hibah Soetandyo dan hibahR. Koento. “Tujuan pemberian hibah iniadalah memberikan dana kepada paradosen untuk melakukan aktivitas yangpositif. Salah satunya mengadakan penelit-ian,” ucap Djoko Adi Prasetyo, WakilDekan II FISIP.

    Hibah yang diberi nama sesuai dengannama dua tokoh pendiri FISIP itu memangbaru diadakan tahun ini dan berlaku untukdosen-dosen FISIP. Hibah Soetandyo danhibah R.Koento memiliki tujuan yangberbeda. Hibah Soetandyo bertujuan untukmemberikan dana kepada para dosen untukmengadakan penelitian selama jangkawaktu satu tahun. “Jika ada dosen yangingin mengadakan penelitian, dosen terse-but harus membuat proposal yang jelasmengenai penelitian yang akan dilakukan.

    Latar belakang, tinjuan pustaka, hipotesis,pokoknya semuanya harus jelas,” terangDjoko Adi. Hasil penelitian yang telah di-lakukan rencananya juga akan dipub-likasikan, setidaknya untuk kalangan FISIPsendiri.

    Berbeda dengan hibah Soetandyo,hibah R.Koento berfokus pada pemberiandana kepada para dosen dalam membuatdiktat dan handout untuk tiap mata kuliah.“Diktat itu nantinya menjadi koleksi de-partemen sekaligus bisa jadi pegangan bagimahasiswa saat mengikuti perkuliahan,”ujar Karnaji, Kepala Bagian Akademik danKemahasiswaan. Sama seperti prosedurhibah Soetandyo, dosen juga perlu mem-buat proposal pengajuan dana untuk mem-peroleh dana hibah R.Koento yangnantinya digunakan untuk membuat diktatatau handout.

    Setelah proposal diterima, dosen punakan memperoleh dana hibah berdasarkanjabatan pegawai negeri yang dimiliki dosentersebut. Pihak universitas sendiri tidakmembuat perbedaan jumlah dana yang di-alokasikan untuk hibah Soetandyo dan

    hibah R.Koento. ”Dosen yang jabatannyalektor kepala dapat dana 6,6 juta rupiahpertahun. Kalau dosen yang jabatannyalektor atau honorer dapatnya 5,4 juta per-tahun,” terang Karnaji.

    Mengenai kelanjutan hibah Soetandyodan hibah R. Koento di masa yang akandatang, Karnaji belum bisa memastikan.“Semua itu tergantung universitas karenaprogram hibah dan dananya kan asalnyadari universitas. Kami sih berharapnyahibah ini akan selalu ada tiap tahun. Tidaktahun ini saja,” ungkap Karnaji.

    Menilik tujuan serta manfaat yang akandidapat dari program hibah ini, besar hara-pan agar hibah Soetandyo dan hibah R.Koento dapat menjadi program hibah tahu-nan FISIP. Sebab, adanya dana hibahSoetandyo dan hibah R.Koento dari univer-sitas, dosen-dosen di FISIP tidak akan lagiterbentur kendala dana bila ingin men-gadakan penelitian atau membuat diktatuntuk mata kuliah yang mereka ajar. Den-gan begitu, para dosen di FISIP akan lebihtermotivasi untuk semakin banyak mela -kukan penelitian yang dapat memberikanmanfaat, tidak hanya untuk kalangan FISIPsaja, tapi juga masyarakat umumnya. (int)

    Hibah untuk Dosen FISIP

  • 10 jendela edisi 01/Maret 2009

    lintas peristiwa

    Pendidikan merupakan kebutuhanyang mutlak untuk dipenuhi. Namun,biaya hidup yang terus melangitmembuat harga segenggam ilmu menjadibegitu sulit untuk dijangkau. Tidak inginmenutup mata terhadap realita tersebut,pemerintah dan berbagai institusi swastamelalui Subbagian Kemahasiswaan FISIPUnair memberikan sejumlah dana bantuanberupa beasiswa kepada mahasiswa yangkurang mampu dan berprestasi. Beasiswadiperuntukkan bagi mahasiswa yangmasuk dari jalur PMDK prestasi danSPMB.

    Saat ini Subbagian Kemahasiswaanmenyediakan beragam alternatif beasiswa,antara lain beasiswa Peningkatan PotensiKhusus (PPA), Bantuan Belajar Mahasiswa(BBM), Bantuan Khusus Mahasiswa(BKM), Bank Indonesia, Pertamina,IKOMA. Beberapa berasal dari institusiswasta seperti Yayasan Supersemar, BankMayapada, Sunlife, Sampoerna, Djarum,dan masih banyak lagi. Mahasiwa bebasmemilih beasiswa, asal sesuai dengansyarat dan ketentuan yang telah diten-tukan. “Selain itu, satu mahasiswa hanyaberhak mendapatkan satu beasiswa dalamsetahun. Kami berusaha melakukan pe-merataan.”jelas Punari, Kepala SubbagianKemahasiswaan.

    Saat ini, beasiswa yang tengah berjalanbaru PPA dan BBM. Artinya, masih banyakkesempatan untuk meraih beasiswa lain-nya. Jangan khawatir kerepotanmemenuhi persyaratan yang diberikan. Se-cara garis besar, tiap beasiswa biasanyahanya mensyaratkan indeks prestasi ku-mulatif (IPK) minimal 2,5 sampai 3,00.

    Bahkan untuk BKM yang dialokasikan bagitujuh puluh tiga mahasiswa, tidak ada per-syaratan khusus. Mereka berhak mendap-atkan suntikan dana sebesar lima ratusribu setiap semester tanpa harus

    memenuhi syarat IPK minimal maupungolongan tidak mampu.

    Untuk beberapa beasiswa, pihak Sub-bagian Kemahasiswaan memang belumdapat memberikan banyak keterangan.Sebab, belum ada permintaan dari pihakyang bersangkutan. Namun, tidak adasalahnya bila mahasiswa yang berminatmendapatkan beasiswa mengisi formulirumum. Fungsinya sebagai bank data. “Jadi,apabila ada permintaan (dari institusi yangbersangkutan, Red.) sewaktu-waktu, kamitinggal membukanya. Untuk persyaratankhusus, dapat diselesaikan kemudian.”kataPunari.

    Bagi mahasiswa yang berminat, for-mulir dapat diambil di Subbagian Kemaha-siswaan. Jika masih bingung atauragu-ragu, Punari membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin berkonsul-tasi. “Selama ini, mahasiswa terkesansungkan. Padahal, kami berharap merekadapat menjadikan Subbagian Kemaha-siswaan sebagai base camp.”ungkapnya.Dukungan penuh Subbagian Kemaha-siswaan serta suntikan meteriil tersebutdiharapkan mampu menggenjot motivasidan memaksimalkan prestasi para maha-siswa FISIP Unair. (put)

    Banyak Peluang Dapatkan Beasiswa

    Proses registrasi di Fakultas Ilmu So-sial dan Ilmu Politik (FISIP) semes-ter gasal kali ini sedikit berbedadengan semseter sebelumnya. Kini, pem-bayaran SPP dapat dilakukan di empatbank meliputi Bank Mandiri, Bank BTN,Bank BNI, serta Bank BRI. Tidak hanyaitu, pembayaran juga bisa dilakukan se-cara online, ATM, atau setoran tunai.

    Perubahan baru ini diharapakan dapatsemakin memudahkan para mahasiswauntuk melakukan registrasi ulang. Akantetapi, beberapa kendala kemudianmuncul. Salah satunya yaitu bagi merekayang membayar lewat ATM.

    ”Mahasiswa yang membayar lewatATM, slip ATM nya itu diperbesar dan di-legalisir oleh petugas bank,” kata Jadimin.Proses ini dinilai kurang efisien dan mere-potkan baik bagi mahasiswa maupun bagipetugas bank. Oleh karena itu, jadiminlangsung mengatakan bahwa slip ATMhanya perlu difotokopi sebanyak 2 kalisaja, tidak perlu dilegalisir ataupun diper-besar.

    Keruwetan proses registrasi tidak

    hanya sampai disitu saja. Pada hari per-tama pembayaran SPP, terpampang tuli-san, ”Registrasi bisa dilakukan seharisetelah pembayaran (kecuali Bank Man-diri).” Hal ini membuat beberapa maha-siswa yang telah membayar di bank selainbank Mandiri kecewa, lantaran tak bisalangsung melakukan registrasi. Salah sa-tunya Dinda Nistria yang datang pukul 9pagi untuk membayar SPP dan terkejutsaat melihat tulisan tersebut di depanruang akademik.

    ”Pas sudah mbayar ternyata mestinunggu besok. Kan jadinya tambah ribet,” keluh dinda. Menurut pak jadimin, keja-dian ini terjadi karena tidak semua banklangsung menampilkan data hasil pem-bayaran di website masing-masing. De-ngan demikian, mahasiswa yang data-datanya belum muncul tidak bisa melaku-kan registrasi walaupun sudah menunjuk-kan bukti transaksi. ”Setelah tahupermasalahan ini saya langsung menghu-bungi bu Lilik dari Kasub akdemik danPak Basuni,Kasub data, untuk menanya-kan hal ini. Pada akhirnya, prosesnya saya

    Menilik Proses Registrasi Mahasiswa di Semester Gasal

    Berubah, Tapi Masih Banyak Kendala

  • 11edisi 01/Maret 2009 jendela

    curah pendapat

    Akhirnya praktek pengobatan alaPonari –dukun cilik— ditutupoleh pihak kepolisian. Penutupanini dilakukan setelah pihak Ponari dankeluarga merasa terganggu setelahberhari-hari ribuan orang mendatangitempat prakteknya di desa Balongsari dikecamatan Megaluh Kabupaten Jom-bang.

    Akankah penutupan pihak ke-

    polisian terhadap praktek pengobatanPonari dapat menghen�kan orang-orang yang sudah terlanjur percaya ter-hadap kemampuan dukun cilik itu?Melihat animo banyaknya orang datangke tempat Ponari yang mencapai pu-luhan ribu secara bersamaan tam-paknya usaha penutupan tersebut �dakdapat serta merta menghen�kannya.Ditambah lagi dengan maraknya peda-gang “kaget” yang mencoba peruntun-gan membuka usaha di tempat dukuncilik tersebut membuka praktek.Mereka seakan �dak rela pengobatanyang mereka percaya mendatangkanberkah ini ditutup.

    Demi seteguk air pu�h yang telahdicelupkan batu “ajaib” hasil gengga-man tangan mungil si dukun, orang-orang yang datang mencarikesembuhan rela berdesakan, mengi-nap di sembarang tempat, bahkanbertaruh nyawa karena sampai adayang meninggal ternyata bukan men-jadi halangan untuk mendapat berkahdari dukun cilik yang biasa mendapatsebutan dukun �ban itu. Sementaraseper� kebanyakan fenomena dukun�ban lainnya, kepas�an kesembuhansuatu penyakit cenderung hanya di-dasarkan pada kepercayaan sematayang beredar dari mulut ke mulut tanpamengetahui kepas�an dari mana ke-sembuhan yang sebenarnya. Parapasien sekan tersuges� akan batu“ajaib” yang dapat menyembuhkanmereka tanpa asal-usul yang jelas.

    Mungkin inilah fenomena keper-cayaan yang disebut dengan irrasional.Orang sudah terlanjur percaya begitusaja tanpa perlu meminta penjelasanyang rasional dengan kacamata ilmupengetahuan yang dapat dibuk�kan se-caran ilmiah. Memang di masyarakatIndonesia khususnya di Jawa, masihada fenomena yang menjadikan orangsulit berkelit dari kejadian yangmenyandarkan pada keyakinan sematabukan pada pembuk�an ilmiah. Fenom-ena mis�k yang sangat kental di pulauini dipercaya melebihi segala-galanya

    seakan mematahkan �ap-�ap teoriilmiah yang jelas lebih rasional. Haltersebut seakan sudah menjadi ciri khasmasyarakat �mur dimana merekagemar sekali menyangkutpautkan hal-hal rasional dengan supranatural.

    Kenda� demikian, kalau ditelisiklebih dalam, orang yang datang berbon-dong-bondong ke tempat Ponari dapatjuga dikatakan sebagai �ndakan irra-sional yang rasional. Di tengah kekuran-gan bahkan keterbatasan sumberdaya(baca: dana) untuk dapat memperolehpengobatan yang memadai dan layak,kehadiran Ponari seakan menjadi hara-pan baru sebagai alterna�f mencari ke-sembuhan. Apalagi Ponari melaluibatunya dipercaya dapat menyem-buhkan segala macam penyakit men-jadi magnet tersendiri bagi masyarakat.

    Dari segi biaya, orang yang datangterbilang sangat rasional. Betapa �dak,se�ap orang sakit yang datang ke Ponaridengan penyakitnya masing-masing,mulai penyakit tergolong ringan hinggaberat sekelas kanker. Bahkan �daksedikit orang sakit yang datang kePonari sebelumnya telah berobat kem-ana-mana baik dokter maupun orangpintar serta telah menghabiskan uangyang �dak sedikit tetapi �dak kunjungsembuh.

    Dari kalkulasi rasional ekonomiorang yang datang ke Ponari, barangkali�dak ada ruginya. Bagi orang yangdatang ke Ponari, justru hukumekonomi yang kadang berlaku. Denganbiaya “hanya” Rp 5.000,- siapa tahupenyakit dapat sembuh. Dapatdibayangkan betapa bahagianya jikadengan Rp 5.000,- ditambah segelas airpu�h —mungkin seharga Rp 1.000,—-,penyakit kelas berat seper� kanker,stroke dan sebagainya dapat disem-buhkan. Nah, orang yang datang ke Po-nari sangat rasional ataukah irrasional?.(*)

    KARNAJIKa. Bag. Akademik dan Kemahasiswaan

    FISIP - Universitas Airlangga

    Ponari:Pengobatan Irrasional yang Rasional

    kembalikan seperti dulu,” ungkap Jadi-min.

    Merujuk pada prosedur lama, maha-siswa yang sudah memberikan buktitransaksi bisa langsung melakukan regist-rasi dan mengambil Kartu Hasil Studi(KHS) serta Kartu Rencana Studi (KRS).Kemudian pada pukul tiga barulah parapegawai registrasi melakukan kroscekterhadap data-data tersebut. Jika ada ma-hasiswa yang hingga batas akhir registrasibelum muncul datanya, maka mahasiswayang bersangkutan akan langsung dihu-bungi oleh Jadimin.

    Salah satu kasus tersebut dialami olehseorang mahsiswa yang sudah melakukanregistrasi tapi hingga batas akhir pem-bayaran datanya masih belum juga keluar.Setelah diselidiki, ternyata mahasiswa initidak membayar ke rekening rektor Unairmelainkan ke rekeningnya sendiri. ”Lhawong dia ngirim ke rekeningnya sendiri,pantes kok tidak masuk-masuk datanya!,”ucap Jadimin sembari tersenyum.

    Lalu apakah semester depan akan se-perti ini lagi? Untuk pertanyaan berikutJadimin masih belum bisa memastikan.Karena menurutnya masih akan diadakanrapat lebih lanjut untuk me mu tuskan pro-ses registrasi yang lebih baik untuk se-mester depan.(deb)

  • 12 jendela edisi 01/Maret 2009

    sosok

    TTanggal 28 Februari 2009merupakan salah satu haribersejarah bagi Ida Bagus

    Wirawan, Ketua departemen Sosi-ologi FISIP Universitas Airlangga.Sebab hari itu di auditorium Rektoratlantai V, ia dikukuhkan menjadi gurubesar. Walaupun telah memegangtingkatan tertinggi dalam dunia aka-demis, tak lantas membuatnya lupadaratan.

    Bahkan, dengan tutur kata yanghalus, beliau menyampaikan bahwadengan menjadi seorang guru besarberarti ada tanggung jawab sosialdan kelompok untuk mengembang-kan disiplin ilmu sesuai dengan ama-nah yang telah diberikan. ”Harus adakerja keras untuk mencapai hal itu se-perti sebelumnya, atau bahkan lebihlagi,” ujar Wirawan.

    Dalam pidato pengukuhan gurubesarnya, Wirawan menjelaskan ten-tang penduduk usia lanjut. Pada mu-lanya, ia menjelaskan penggunaankata ”usil” untuk menyebut orang-orang usia lanjut serta kondisi para”usil”. Berdasar data yang dihimpunWirawan, jumlah para usil ini semakinmeningkat tiap tahunnya. Utamanyadi negara-negara berkembang seprtiIndonesia.

    ”Meningkatnya jumlah penduduk”usil” ini, telah membawa beberapakonsekuensi atau persoalan,” kata lu-lusan program doktoral Ilmu SosialUnair ini. Permasalahan ini terjadibaik dalam tataran individu maupunkelompok. Salah satu masalahnyayaitu otak manusia itu sendiri. Sebabsemakin tua semakin banyak sel-selotak yang mati dan menurunkanfungsi-fungsinya.”orang usil kebanya-kan mengidap gejala 5B yang dapatdilihat antara lain burek, budheg, bo-gang, bungkuk, dan buyutan,” ucapWirawan.

    Permasalahan yang dialami oleh”usil” tidak hanya dari segi keseha-tan, tapi juga menyangkut kesejahte-raan. Sebab kebanyakan para ”usil”ini tidak lagi produktif dan mengan-dalkan keluarga sebagai institutional

    supporting system untuk memenuhikebutuhannya. Masalah muncul ma-nakala keluarga tak dapat menjadi in-stitutional supporting system bagipara ”usil” tersebut.

    Profesor dengan bidang keilmuansosial kependudukan ini menerang-kan sudah ada beberapa programdari pemerintah untuk menanggu-langi masalah ini. ”Satu diantaranyaadalah terbentuknya Komisi NasionalUsia Lanjut,” ujar Wirawan. Lebih la-njut ia menekankan berbagai perma-salahan yang dialami oleh pendudukusia lanjut memang sangat ba-nyak dan penanganan mela-lui pelayanan sosialmenjadi hal yang pen-ting.

    Wirawan mengucapkanterima kasih kepda berbagipihak yang telah membantu-nya, terutama keluarganyayang telah berkorban waktudan keinginan untuk berkumpulbersama. Seusai menerima ja-batan sebagai guru besar, Pro-fesor Wirawan berharapsegenap civitas akademikaFISIP mampu menunjukkan ek-sistensinya tidak hanya di ting-kat nasional, tapi juga di tingkatinternasional.

    Selain itu, penerima Len-cana kesetiaan dari RI ini jugaberharap akan semakin banyaklagi dosen maupun mahasiswatidak berhenti di jenjang S1Atau S2 saja, tapi bisa men-capai guru besar pula. Lan-taran menurutnya,peluang untuk mencapaijabatan tersebut tidaklagi sesulit dulu den-gan dihapuskannyaperaturan tentangbatasan usia.

    Jika dulu, peraturan tersebutmenjadi salah satu faktor pengham-bat bagi kaum muda untuk mencapaijabatan guru besar, sekarang hal ter-sebut tidak lagi menjadi masalah.”Malahan hambatan-hambatan yangmerintangi itu menuntut kita untuksemakin mengembangkan potensilebih baik lagi,” tutur Wirawan.

    (deb)