mekanisme pertahanan
Embed Size (px)
TRANSCRIPT

MEKANISME PERTAHANAN
Id, Ego dan Super Ego
Status internal manusia selalu diselimuti dengan kecemasan sebagai produk dari konflik
antar struktur kepribadian yaitu Id, Ego dan Super ego. Kemudian status internal tersebut
bermanifestasi ke dalam perilaku kongkrit yang tercermin dalam suatu mekansime
pertahanan diri atau mekanisme pertahanan ego.
a. The Id (Das Es)
Adalah instansi kepribadian yang paling mendasar, orisinil, bersifat impulsif dan paling
primitif; aspek biologis dan merupakan system original, yaitu suatu realitas psikis yang
sesungguhnya, dunia batin atau subyektif manusia dan tidak memiliki koneksi secara langsung
dengan realitas obyektif. Pada mulanya, yang ada adalah Id. Id terletak di ketidaksadaran,
sehingga tidak bersentuhan langsung dengan realitas. Oleh karena itu, Id dikenal dengan
istilah pleasure principal. Pleasure principal berprinsip pada kesenangan dan berusaha
menghindari rasa sakit.
Setiap bayi yang baru lahir hanya mempunyai naluri hewani saja, di mana individu tadi
mempunyai kecenderungan untuk hidup terus atau mati. Hidup terus berarti membangun,
mencari prestasi, dan keinginan untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Hidup psikis janin
sebelum lahir dan bayi yang baru dilahirkan terdiri dari Id saja. Dan Id itu menjadi bahan dasar
bagi pembentukan hidup psikis lebih lanjut. Di dalam Id inilah, prinsip kesenangan/ pleasure
principle masih sangat berkuasa. Inti utama dari kecenderungan Id adalah menuntut agar apa
yang diinginkannya dapat diperoleh dengan segera. Id berisi hal-hal yang dibawa sejak lahir
seprti libido seksualitas dan termasuk juga instink-instink organisme.

b. The Ego (Das Ich)
Adalah aspek psikologis karena adanya kebutuhan sinkronisasi antara kebutuhan Id
dengan realitas dunia eksternal. Ego merupakan komponen kepribadian yang bertugas
sebagai eksekutor. Ego terbentuk melalui diferensiasi dari Id karena setiap manusia selalu
mempunyai kontak dengan dunia luar. Sistem kerjanya memakai prinsip realistic karena
struktur keperibadian ini memang bersentuhan langsung dengan realitas eksternal . Ego
mengatur interaksi dan transaksi antara dunia internal individu dengan realiitas eksternal.
Untuk melaksanakan tugas itu. Ego memiliki tiga fungsi, yaitu reality testing,
identify dan defense mechanism. Reality testing adalah kemampuan utama Ego, yaitu 9
untuk mempersepsi realitas. Kemudian Ego akan menyesuaikan diri sedemikian rupa agar
dapat menguasai realitas tersebut. Identify adalah fondasi kepribadian. Identitas terbentuk
sejak awal kehidupan, mengalami krisis di masa remaja, dan terus berkembang dalam
perjalanan hidupnya. Pembentukan identitas terjadi melalui interaksi individu dengan orang
- orang yang penting dalam kehidupannya.
Ego bertugas untuk mempertahankan kepribadian manusia itu sendiri untuk menjamin
penyesuaian dengan alam sekitarnya. Selain itu, Ego dapat dipakai dalam memecahkan
masalah pribadi orang tersebut, khususnya bila terjadi konflik dengan dunia realitas atau bila
terdapat ketidak-sesuaian antara keinginan yang tidak sinkron secara internal. Ego juga
berfungsi mengadakan sintesa dan selalu menyesuaikan diri dengan realitas hidup (reality
principle).
c. Super ego (Das Ueber Ich)
Adalah aspek sosiologis yang dibentuk melalui jalan internalisasi dalam upaya
menekan dorongan Id. Superego artinya larangan-larangan atau norma-norma yang berasal
dari luar (khususnya melalui aturan yang diperoleh dari orang tua, pengasuh, guru, ulama dan
mereka yang dihormati dalam masyarakat) diolah sedemikian rupa sehingga akhirnya terpancar
dan seolah-olah dihayati dari dalam. Superego merupakan kekuatan moral dan etik dari
kepribadian. Superego merupakan struktur kepribadian (bagian dari dunia internal) yang

mewakili nilai - nilai realitas eksternal. Superego memakai prinsipidealistic (idealistic
principle) , yakni mengejar hal- hal yang bersifat moralitas. Superego mendorong individu
untuk mematuhi nilai - nilai yang berlaku di realitas eksternal.
Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik antara individu dengan realitas
eksternal. Superego diibaratkan sebagai polisi internal yang mendorong kita untuk tidak
melanggar nila i dan norma yang berlaku dalam realitas eksternal, dengan atau tanpa orang
lain yang mengawasi
Superego merupakan dasar hati nurani/ moril, dan memainkan peran sensor/
Censoring principle dalam hidup kita. Apabila terjadi konflik antara keinginan seseorang
(yang umumnya menginginkan pemuasan segera, akibat dorongan dari id) dengan norma
yang ada dalam masyarakat, maka superego akan berusaha untuk memberi peringatan. Dengan
demikian, suatu saat seornag individu dapat saja merasakan emosi-emosi seperti rasa bersalah,
rasa menyesal, cemas dan lain-lain. Misalnya: apabila ia mencontek, ia merasakan sesuatu
yang tidak nyaman dan merasa bersalah.
Dalam pembentukan Superego, menurut Freud: Proses terbentuknya ‘Oedipus-Complex’
memainkan peranan yang besar.

Penggunaan Ego Sebagai Mekanisme Pertahanan
Energi Id akan meningkat karena rangsangan sehingga menimbulkan ketegangan atau
pengalaman yang tidak menyenangkan dan menguasai ego agar bertindak secara konkrit
dalam memenuhi rangsangan tersebut sesegera mungkin. Di sisi lain super ego berusaha untuk
menentang dan menguasai ego agar tidak memenuhi hasrat dari id karena tidak sesuai dengan
konsep ideal. Dorongan Id yang primitive tersebut bersifat laten pada alam bawah sadar
sehingga tidak akan mengendor selama tidak memiliki objek pemuas. Pada taraf-taraf
tertentu dorongan ini bisa menjadi destruktif dengan penyimpangan-penyimpangan perilaku.
Ego berada di tengah-tengah antara kebutuhan biologis dan norma. Ketika terjadi konflik
ego menjadi terjepit dan terancam. Perasaan ini disebut kecemasan, sebagai tanda bagi ego
bahwa sedang berada dalam bahaya dan berusaha untuk terus bertahan
Ada tiga jenis kecemasan tersebut :
a. Kecemasan realistic, contohnya melihat ular berbisa di hadapan
b. Kecemasan moral, ancaman yang dating dari dunia super ego yang telah
terinternalisasi. Contohnya rasa malu, rasa takut mendapat sanksi dan rasa berdosa
c. Kecemasan neurotic, perasaan takut yang muncul karena pangaruh dari Id. Ego berusaha
sekuat mungkin menjaga kestabilan hubungannya dengan Id dan super ego, namun ketika
kecemasan begitu menguasai, ego harus berusaha mempertahankan diri. Secara tidak sadar,
seseorang akan bertahan dengan cara memblokir seluruh dorongan-dorongan tersebut
menjadi wujud yang lebih dapat diterima dan tidak terlalu mengancam. Cara inilah yang
disebut dengan mekanisme pertahanan diri atau mekansime pertahanan ego.

Pengertian Mekanisme Pertahanan
Menurut Sigmund Freud, mekanisme pertahanan ego bersumber dari bawah sadar yang
digunakan ego untuk mengurangi konflik antara dunia internal seseorang dengan realitas
eksternal. Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan ego untuk menunjukkan
proses tidak sadar yang melindungi individu dari kecemasan pemutarbalikkan kenyataan.
Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya.
Mekanisme pertahanan ego hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan
masalah itu. Dalam istilah psikoanalitik yang dikemukankan Freud, istilah mekanisme
pertahanan ego cenderung dikonotasikan negatif. Mekanisme ini dianggap maladaptis dan
patologis. Namun setelah berkembangny ego psychology, konsepsi mengenai mekanisme
pertahanan ego telah berubah. Menurut teori ini, ego defense merupakan mekanisme psikis
yang kita perlukan untuk adaptif dengan relaitas eksternal. Bila individu menggunakan
mekanisme pertahanan sesuai dengan tahapan perkembangannya, maka dikatakan individu
tersebut menggunakan mekanisme perthanan yang matang. Bila individu menggunakan
mekanisme pertahanan yang tidak efektif dan tidak sesuai dengan tahapan
perkembangannya, dikatakan individu tersebut menggunakan mekanisme pertahanan yang tidak
matang.
Fungsi Mekanisme Pertahanan
Mekanisme pertahanan digunakan sebagai pertahanan diri dalam menghadapi realitas eksterna
yang penuh tantangan. Jika realitas eksterna menuntut terlalu banyak, melebihi kapasitas diri
untuk mengatasinya, maka kepribadian akan mengaktifkan defense mechanism. Begitu pula
sebaliknya, bila hasrat dan dorongan dari dalam diri terlalu kuat, dan bila dorongan itu akan
mengancam keharmonisan relasi individu dengan realitas eksternal, maka defense
mechanism akan diaktifkan untuk meredamnya.

Klasifikasi Mekanisme Pertahanan
Berdasarkan buku Dinamika Kepribadian (Arif, 2006), mekanisme pertahanan
ego dikelompokkan menjadi tiga, yakni:
a. Mekanisme Pertahanan Ego yang Tergolong Matang(Mature)
1) Sublimasi
Sublimasi adalah mekanisme yang mengubah atau mentrasformasikan dorongan - dorongan
primitif, baik dorongan seksual dan agresi, menjadi dorongan yang sesuai dengan norma dan
budaya yang berlaku di realitas eksternal.
Misalnya: dorongan seksual diubah menjadi dorongan kreatif untuk menghasilkan karya seni;
dorongan agresi diubah menjadi daya juang untuk mencapai suatu tujuan.
2) Kompensasi
Kompensasi merupakan upaya untuk mengatasi suatu kekurangan dalam suatu bidang dengan
cara mengupayakan kelebihan di bidang lain.
Misalnya: seseorang yang tidak memiliki prestasi akademik yang baik memiliki prestasi
olahraga yang sangat baik.
3) Supresi
Supresi merupakan satu - satunya mekanisme pertahana n ego yang dilakukan secara sadar.
Supresi merupakan upaya peredaman kembali suatu dorongan libidinal (dorongan Id) yang
berpotensi konflik dengan realitas eksternal. Peredaman dorongan ini dianggap telah
melalui suatu pertimbangan rasional.

Contoh: salah seorang teman Anto menyinggung dan membangkitkan amarah dan dorongan
agresinya. Namun, Anto meredam kembali dorongan untuk bertindak agresi secara impulsif
karena akan mengakibatkan dampak yang serius pada relasi saya dengannya. Kemudian, Anto
memilih un tuk mengungkapkan perasaan secara asertif di waktu yang lebih tepat.
4) Humor
Melalui humor, seseorang dapat mengubah penghayatan akan suatu peristiwa yang tidak
menyenangkan menjadi menyenangkan. Humor juga dapat berfungsi menyalurkan agresivitas
tanpa be rsifat destruktif. Misalnya: menertawakan diri sendiri ketika apa yang dikehendaki tidak
tercapai.
b. Mekanisme Pertahanan Ego yang Tergolong Tidak Matang (Immature)
1) Represi
Represi adalah upaya meredam suatu dorongan libidinal yang berpotensi konflik dengan realitas
eksternal. Yang membedakannya dengan supresi adalah represi dilakukan tanpa
membiarkannya sadar terlebih dahulu. Oleh karena dorongan yang diredam ini tidak
melalui kesadaran, orang yang bersangkutan tidak mungkin mengolahnya secara rasional.
Contoh: seseorang yang kurang asertif mungkin akan lebih sering mengggunakan represi
untuk meredam kemarahan dan agresivitanya ketika ia tidak berani menolak hal- hal yang
tidak disukainya. Dari luar kelihatan sabar, tetapi diketidaksadarannya dipenuhi gejolak amarah.
Dibutuhkan energi psikis yang lebih besar untuk melakukan represi dibandingkan dengan
supresi. Hal ini dapat menyebabkan kepribadian melemah. Saat kepribadian semakin lemah,
represi yang dilakukan semakin tidak efektif. Dorongan yang hen dak diredam seringkali
lolos dengan berbagai cara.

Misalnya: fenomaslip of the tongue , yaitu ketika suatu ucapan yang netral menjadi
agresif ataupun porno. Fenomena latah juga termasuk di dalamnya. Orang yang sungguh -
sungguh latah akan mengucapkan kata - kata porno saat ia latah.
2) Proyeksi
Proyeksi merupakan mekanisme di mana seseorang secara psikis menolak dan mengeluarkan
bagian diri yang tidak dikehendakinya. Bagian yang tidak dikehendaki ini tampil pada
orang lain. Orang yang melakukan proyeksi tidak dapat mengenali tampilan yang dilihatnya
pada orang lain sebagai bagian dari dirinya. Contoh: seseorang yang tidak mengenal hasrat
seksual yang bergejolak dalam dirinya akan melihat kebanyakan orang lain berpikir dan
bertingkah laku porno.
3) Introyeksi
Mekanisme ini dilakukan dengan cara mengambil alih suatu ciri kepribadian yang
ditemukannya pada orang lain. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan struktur kepribadian
pada orang yang bersangkutan.
Contoh: dalam beberapa organisasi tertentu, senior seri ng memberikan tekanan psikis yang
sangat berat kepada anggota baru. Dalam kondisi stress berat, anggota baru tersebut akan
lebih mudah mengintroyeksikan tindakan seniornyaini. Untuk perlindungan diri, para anggota
baru tersebut mengubah salah satu struktur kepribadiannya, serupa dengan senior yang
menyiksanya.
4) Reaksi Formasi
Reaksi formasi merupakan suatu upaya melakukan hal yang sebaliknya untuk melawan
suatu dorongan internal yang dapat menimbulkan konflik.

Contoh: seorang yang memiliki hasrat seksual yang tinggi berlaku seolah-olah dia sangat
membenci segala sesuatu yang berbau seks.
5) Undoing
Undoing adalah upaya simbolik untuk membatalkan suatu impuls yang telah terwujud
menjadi tingkah laku. Hal ini biasanya dilakukan dengan melakukan ritual tertentu.Contoh:
seseorang tidak dapat menahan diri untuk melakukan masturbasi. Kemudian dia menyesal
dan melakukan upaya untuk membersihkan pelanggaran yang dia lakukan dengan suatu ritual,
misalnya mandi dan mencuci tangan. Hal ini akan berulang kali dilakukannya bila dia
mengulang perbuatan masturbasi.
6) Rasionalisasi
Rasionalisasi adalah upaya mendistorsika n persepsinya akan suatu realitas. Pikiran akan
memberikan alasan- alasan yang kelihatannya masuk akal. Hal ini dilakukan agar suatu
kenyataan yang semula berbahaya dan dapat mengguncang kepribadiannya, menjadi lebih
mudah diterima.
Misalnya: bagi seorang yang self-esteem nya rapuh, penolakan cinta dari lawan jenis akan
mengguncang kepribadiannya. Orang yang bersangkutan kemudian melakukan rasionalisasi
dengan mendistorsikan kenyataan. Dia beranggapan bahwa lawan jenis tersebut
menolaknya karena merasa tidak layak untuk menjadi kekasihnya.
7) Isolasi
Isolasi merupakan suatu cara untuk meredam suatu aspek yang dianggap paling berbahaya.
Akibatnya, kepribadian menghayati pengalaman tersebut secara parsial tidak utuh. Seorang
yang harmonis dengan realitas eksternal dapat menghayati pengalaman hidupnya secara
utuh. Keutuhan itu dapat dilihat dari aspek kognitif (pikiran), afektif (perasaan) dan konatif

(tingkah laku). Misalnya: ketika seorang mendapat bonus gaji, orang tersebut akan memikirkan
hal - hal yang menyenangkan. Perasaan akan gembira dan wajahnya berseri- seri pada hari
itu. Pada orang yang melakukan isolasi, contoh: seseorang yang tidak sanggup menerima
kenyataan bahwa orang yang paling dikasihinya meninggal tidak merasa sedih dan tidak
menunjukkan kesedihan. Yang ada hanyalah perasaan hampa. Sesungguhnya kesedihan
yang dialami orang tersebut sangat besar, lebih besar dari yang sanggup ditanggungnya
sehingga ia memendamnya. Hal ini tidak sehat karena akan mengganggu kepribadian di
masa yang akan datang.
8) Intelektualisasi
Mekanisme ini terlalu menonjolkan aspek inteleknya secara berlebihan. Tujuannya untuk
mengkompensasi bagian kepribadian lain yang kurang. Contoh: seorang yang kurang terampil
menjalin relasi sosial yang hangat dengan orang lain, memperlihatkan upaya yang terlalu
besar untuk menonjolkan kepintarannya.
9) Displacement
Displacement dilakukan dengan cara mengganti objek yang menjadi sasaran kemarahan.
Misal: seseorang sangat marah terhadap atasannya karena penghinaan yang dilakukan sang
atasan. Namun, karena tidak mungkin melampiaskan ke marahannya, dia mengalihkan
dorongan tersebut kepada orang lain. Misalnya kepada bawahannya yang mungkin hanya
melakukan kesalahan kecil.
10) Denial
Denial merupakan suatu mekanisme dengan menyangkal bahwa suatu peristiwa sungguh-
sungguh terjadi. Hal ini dilakukan karena tidak sang gup menerima kenyataan tersebut.

11) Regresi
Regresi artinya mundur secara mental dari suatu tahap perkembangan. Hal ini dilakukan
karena seseorang tidak sanggup atau mengalami kesulitan untuk maju ke tahap perkembangan
selanjutnya.
Misalnya: seorang bapak paruh baya yang tidak merasa dengan dirinya yang semakin tua,
kembali ke fase phallic. Sehingga ia akan menunjukkan kegenitan dan seductiveness.
c. Mekanisme Pertahanan Ego yang Tergolong Primitif (Archaic)
1) Splitting
Splitting adalah mekanisme yang dilakukan bayi untuk memudahkannya menangani
berbagai pengalaman yang dialaminya. Splitting membagi suatu objek atau pengalaman
menjadi dua, yakni baik dan buruk. Mekanisme ini tidak mampu melihat daerah ³abu-
abu´ di antaranya. Secara primitif, hal yang menyenangkan akan dihayati baik sedangkan
yang tidak menyenangkan akan dihayati tidak baik. Semakin tumbuh dan kepribadian
semakin matang, spiltting jarang dilakukan. Mekanisme pertahanan ini biasanya dilakukan
oleh orang dengan gan gguan mental yang berat.
2) Projective Identification
Defense mechanism ini jarang ditemui pada kepribadian yang cukup matang. Mekanisme
ini akan lebih sering ditemukan dalam kepribadian yang sangat terganggu, misalnya pada
pasien skizofrenia.

3) Primitive Idealization
Mekanisme ini dilakukan untuk mempertahankan harga diri mendasarnya (basic self-esteem)
ketika mengalami ancaman. Hal ini dilakukan dengan mengidealisasikan orang lain dan
kemudian mengembangkan kesatuan dengan orang tersebut. Orang yang diidealisasikan akan
dipandang sepenuhnya memiliki nilai - nilai positif dan tidak memiliki nilai - nilai negatif
sama sekali. Fantasi kesatuan dengan orang tersebut akan membantu menambal harga diri
yang terluka. Contoh: seseorang perempuan yang semasa keciln ya tidak pernah mendapat
kasih sayang dari orangtua, kemudian mengidealisasikan suaminya. Suaminya dianggap
sangat sempurna walaupun kenyataannya sangat kontras dengan idealisasinya tersebut.
4) Omnipotence
Arti omnipotence adalah maha kuasa. Orang yang menggunakan mekanisme ini menganggap
dirinya maha kuasa dan mampu melakukan apapun juga, tidak takut atau kuatir pada apapun
juga. Mekanisme ini biasanya dilakukan oleh bayi pada fase oral.
5) Manic Defense
Mekanisme pertahanan ego ini dikembangkan oleh Mela nie Klein. Menurut Klein, setiap
orang memiliki dua posisi mental. Pertama adalahparanoid- schizoid position, di mana
seseorang merasa terpisah dari orang lain. Dia tida dapat menghargai sepenuhnya
keberadaan orang lain. Orang lain dipandang sebagai objek - bukan subjek. Orang lain
dipandang sebagai ancaman bagi diri atau sarana pemuas kebutuhan semata. Posisi kedua
adalahdepressive position, yaitu ketika seorang sepenuhnya menyadari keberadaan orang
lain dan memiliki ketergantungan terhadap mereka. Memandang orang lain sebagai subjek
yang juga memilikperasaan dan pengalaman - pengalaman manusiawi yang serupa.
Menurut Klein, kita beralih dari satu posisi ke posisi yang lain. Saat berada dalam posisi
paranoid -skizoid kita cenderung menyakiti orang, baik dengan tindakan aktual maupun
khayalan. Saat berada dalam posisi depresi, kita menyadari bahwa kita telah menyakiti orang

lain. Kesadaran ini menimbulkan perasaan bersalah dan takut kehilangan orang tersebut. Pada
manic defense, seseorang menyangkal bahwa ia sangat tergantung pada orang yang
dilukainya. Ia menyangkal takut kehilangan orang tersebut atau menyangkal telah melakukan
hal yang merugikan orang tersebut. mekanisme manic defense bersikukuh pada fantasi bahwa ia
akan tetap bahagia seorang diri dan tidak membutuhkan orang lain.

KESIMPULAN
Manusia merupakan makhluk yang tertinggi tingkat perkembangannya sehingga suatu
pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur baik organik, psikologik dan
sosial. Begitu pula halnya dengan mekansime pertahanan diri, manusia memiliki berbagai
macam bentuk. Semua mekansime pertahanan ini dimaksudkan untuk mempertahankan
keutuhan pribadi dan digunakan dalam berbagai tingkat dengan bermacam-macam cara.
Status internal manusia selalu diselimuti dengan kecemasan sebagai produk dari konflik
antar struktur kepribadian yaitu Id, Ego dan Super ego. Kemudian status internal tersebut
bermanifestasi ke dalam perilaku kongkrit yang tercermin dalam suatu mekansime
pertahanan diri atau mekanisme pertahanan ego. Ego berusaha sekuat mungkin menjaga
kestabilan hubungannya dengan Id dan super ego, namun ketika kecemasan begitu
menguasai, ego harus berusaha mempertahankan diri. Secara tidak sadar, seseorang akan
bertahan dengan cara memblokir seluruh dorongan-dorongan tersebut menjadi wujud yang
lebih dapat diterima dan tidak terlalu mengancam. Cara inilah yang disebut dengan
mekanisme pertahanan diri atau mekansime pertahanan ego.
Mekanisme pertahanan dapat dianggap normal dan diperlukan, kecuali bila digunakan
secara sangat berlebihan sehingga mengorbankan efisiensi penyesuaian diri dan kebahagiaan
individu dan kelompok. Perlu diwaspadai bahwa dengan hanya mengamati satu macam
tindakaan belum berarti bahwa perilaku tersebut sudah merupakan suatu jenis pembelaan
ego. Tindakan tersebut perlu dipertimbangkan juga kepribadian orang tersebut dan
memotivasinya.

DAFTAR PUSTAKA
Arif I S. Pandangan Topografis dan Pandangan Struktural Tentang Kepribadian.Dalam: Rose
Herlina, Eds. Dinamika Kepribadian. Bandung: Refika Aditama; 2006:13 -24.
Arif I S.Defense Mechanism. Dalam: Rose Herlina, Eds. Dinamika Kepribadian.Bandung:
Refika Aditama; 2006:31 -44.
Durand V M, Barlow D H. Gangguan Kepribadian . In: Heppy El Rais, eds.Psikologi
Abnormal Edisi IV Buku 2. Jakarta: Pustaka Pelajar Inc; 2007: 176 -220.
Kaplan H I,Sadock B J,Grebb J A.Gangguan Kepribadian . In: I Made WigunaS,eds. Sinopsis
Psikiatri Jilid 2. Tangerang: Bina Rupa Aksara Inc; 2010:258 -290.
Maramis, W F. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa . Airlangga University Press;Surabaya
1998:37-38,65-84
Mekanisme Pertahanan Ego diunduh dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Mekanisme_pertahanan_ego tanggal 13 Februari 2011
Mekanisme Pertahanan Diri diunduh dari
http:/rizky13.multiply.com/journal/item/71/Mekanisme_Pertahanan_Diri tanggal 13
Februari 2011

Pertahanan Ego diunduh dari http:/trescent.wordpress.com/2007/08/15/pertahanan_ego tanggal
13 Februari 2011
Sistem Pertahanan Ego diunduh
darihttp://psikologiupi.blogspot.com/2008/09/system_pertahanan_ego tanggal 13 Februari2011