materi kuliah kewarganegaraan bab ix-integrasi nasional ibu nur prihatiningsih

Click here to load reader

Post on 01-Feb-2016

96 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Materi Kuliah Kewarganegaraan Bab IX Integrasi Nasional

TRANSCRIPT

  • INTEGRASI NASIONAL

    A.Pendahuluan B. Integrasi Nasional dan Pluralitas Masyarakat Indonesia

    C. Strategi Integrasi D.Integrasi Nasional Indonesia

  • A. Pendahuluan

    Masalah integrasi nasional merupakan persoalan yang dialami hampir semua negara, terutama negara yang usianya masih relatif muda, termasuk Indonesia.

    Sejak proklamasi kemerdekaan sampai sekarang negara Indonesia masih menghadapi persoalan bagaimana menyatukan penduduk Indonesia yang di dalamnya terdiri atas berbagai macam suku, memeluk agama yang berbeda, berbahasa dengan bahasa daerah yang beranekaragam, serta memiliki kebudayaan daerah yang berbeda satu sama lain, untuk menjadi satu entitas baru yang dinamakan bangsa Indonesia.

  • Persoalan integrasi nasional Indonesia sejauh ini masih belum tuntas perlu terus dilakukan pembinaan

    Harus juga disadari bahwa integrasi nasional dalam arti sepenuhnya tidak mungkin diwujudkan, dan konflik di antara sesama warga bangsa tidak dapat dihilangkan sama sekali.

  • B. Integrasi Nasional dan Pluralitas Masyarakat Indonesia

    1. Pengertian integrasi nasional Integrasi nasional adalah upaya menyatukan seluruh

    unsur suatu bangsa dengan pemerintah dan wilayahnya (Saafroedin Bahar,1998).

    Mengintegrasikan berarti membuat untuk atau menyempurnakan dengan jalan menyatukan unsur-unsur yang semula terpisah.

  • Menurut Howard Wrigins (1996), integrasi berarti

    penyatuan bangsa-bangsa yang berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan masyarakat kecil yang banyak menjadi satu bangsa.

  • Myron Weiner (1971) memberikan lima definisi mengenai integrasi, yaitu: a. Integrasi menunjuk pada proses penyatuan berbagai

    kelompok budaya dan sosial dalam satu wilayah dan proses pembentukan identitas nasional, membangun rasa kebangsaan dengan cara menghapus kesetiaan pada ikatan-ikatan yang lebih sempit.

    b. Integrasi menunjuk pada masalah pembentukan wewenang kekuasaan nasional pusat di atas unit-unit sosial yang lebih kecil yang beranggotakan kelompok-kelompok sosial budaya masyarakat tertentu.

    c. Integrasi menunjuk pada masalah menghubungkan antara pemerintah dengan yang diperintah. Mendekatkan perbedaan mengenai aspirasi dan nilai pada kelompok elit dan massa.

  • d. Integrasi menunjuk pada adanya konsensus terhadap nilai yang minimum yang diperlukan dalam memelihara tertib sosial.

    e. Integrasi menunjuk pada penciptaan tingkah laku yang

    terintegrasi dan yang diterima demi mencapai tujuan bersama.

  • Sejalan dengan definisi tersebut, Myron Weiner membedakan 5 (lima) tipe integrasi yaitu integrasi nasional, integrasi wilayah, integrasi nilai, integrasi elit-massa, dan integrasi tingkah laku (tindakan integratif).

    Integrasi merupakan upaya menyatukan bangsa-bangsa yang berbeda dari suatu masyarakat menjadi satu keseluruhan yang lebih utuh, atau memadukan masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi satu bangsa.

  • Ada 5 pendekatan atau cara bagaimana para pemimpin politik mengembangkan integrasi bangsa atau sebagai faktor yang menentukan tingkat integrasi suatu negara adalah: 1) adanya ancaman dari luar, 2) gaya politik kepemimpinan, 3) kekuatan lembaga-lembaga politik, 4) ideologi nasional, dan 5) kesempatan pembangunan ekonomi.

    Senada dg yang di atas yaitu bahwa suatu kelompok masyarakat dapat terintegrasi apabila, 1) masyarakat dapat menemukan dan menyepakati nilai-nilai fundamental yang dapat dijadikan rujukan bersama, 2) masyarakat terhimpun dalam unit sosial, dan 3) masyarakat berada di atas saling ketergantungan di antara unit-unit sosial yang terhimpun di dalamnya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi.

  • 2. Pentingnya integrasi nasional Masyarakat yang terintegrasi dengan baik merupakan

    harapan bagi setiap negara. Integrasi masyarakat merupakan kondisi yang diperlukan

    bagi negara untuk membangun kejayaan nasional demi mencapai tujuan yang diharapkan.

    Integrasi masyarakat yang sepenuhnya memang sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan, karena setiap masyarakat di samping membawakan potensi integrasi juga menyimpan potensi konflik atau pertentangan.

    Persamaan kepentingan, kebutuhan untuk bekerjasama, serta konsensus tentang nilai-nilai tertentu dalam masyarakat, merupan potensi yang mengintegrasikan.

  • Kegagalan dalam mewujudkan integrasi masyarakat berarti kegagalan untuk membangun kejayaan nasional, bahkan dapat mengancam kelangsungan hidup bangsa dan negara yang bersangkutan.

    3. Pluralitas masyarakat indonesia

    Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat pluralis atau masyarakat majemuk merupakan suatu hal yang sudah sama-sama dimengerti. Masyarakat majemuk merupakan masyarakat yang terbagi ke dalam sub-sub sistem yang kurang lebih berdiri sendiri, dan masing-masing sub sistem terikat ke dalam oleh ikatan-ikatan yang bersifat primordial.

  • Ikatan primordial adalah ikatan yang muncul dari perasaan yang lahir dari apa yang ada dalam kehidupan sosial, yang sebagian besar berasal dari hubungan keluarga, ikatan kesukuan tertentu, keanggotaan dalam keagamaan tertentu, budaya, bahasa atau dialek tertentu, serta kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang membawakan ikatan yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat.

  • Menurut Pierre L. van den Berghe masyarakat majemuk memiliki karakteristik (Nasikun, 1993: 33):

    a. Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki sub-kebudayaan yang berbeda satu sama lain;

    b. Memiliki struktur sosial yang terbagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-komplementer;

    c. Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar;

    d. Secara relatif seringkali mengalami konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain;

    e. Secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan dalam bidang ekonomi;

    f. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain.

  • Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang unik yaitu:

    1. Secara horizontal masyarakat Indonesia ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, adat, serta perbedaan-perbedaan kedaerahan.

    2. Secara vertikal struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaanperbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.

    Kondisi perbedaan dalam masyarakat Indonesia terkait dengan beberapa faktor yang saling berkaitan satu sama lain.

  • Faktor-faktor tersebut secara garis besar meliputi faktor historis, faktor ekologis, dan faktor perubahan sosial budaya. Faktor historis merupakan faktor yang berkaitan dengan sejarah asal mula terbentuknya masyarakat Indonesia. Faktor ekologis merupakan faktor yang terkait dengan kondisi fisik geografis Indonesia. Faktor perubahan sosial yang terjadi seiring dengan perjalanan waktu masyarakat membangun kehidupan bersama.

  • 4. Potensi konflik dalam masyarakat indonesia Masyarakat Indonesia menyimpan potensi konflik yang

    cukup besar, baik konflik yang bersifat vertikal maupun bersifat horizontal.

    Konflik vertikal dimaksudkan sebagai konflik antara pemerintah dengan rakyat, termasuk di dalamnya adalah konflik antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.

    Konflik horizontal adalah konflik antarwarga masyarakat atau antarkelompok yang terdapat dalam masyarakat.

  • Dalam dimensi vertikal, sepanjang sejarah sejak proklamasi Indonesia hampir tidak pernah lepas dari gejolak kedaerahan berupa tuntutan untuk memisahkan diri. Kasus Aceh, Papua, Ambon merupakan konflik yang bersifat vertikal yang bertujuan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Penyebab konflik kedaerahan adalah: 1) Krisis pemerintahan nasional, baik karena persoalan suksesi maupun jatuh bangunnya pemerintahan karena lemahnya konstitusi; 2) Kegagalan lembaga negara menengahi konflik, baik yang melibatkan unsur masyarakat maupun lembaga negara; 3) Pembatasan partisipasi politik warga negara di daerah-daerah; 4) Ketidakadilan distribusi sumber daya ekonomi nasional dan sulitnya akses masyarakat di daerah terhadap sumber daya tersebut; 5) Rezim yang tidak responsif terhadap tuntutan warga negara dan tidak bertanggungjawab terhadap rakyatnya.

  • Konflik horizontal juga sering muncul, baik konflik yang berlatarbelakang keagamaan, kesukuan, antarkelompok atau golongan dan semacamnya yang muncul dalam bentuk kerusuhan, perang antarsuku, pembakaran rumah-rumah ibadah, dan sebagainya.

    Terjadinya konflik horizontal biasanya juga merupakan akumulasi dari berbagai faktor baik faktor kesukuan atau etnis, agama, ekonomi, sosial, dan sebagainya.

    Berkenaan dengan konflik horizontal, khususnya konflik etnis terdapat pandangan konstruktivis yang menyatakan bahwa konflik etnik merupakan konstruksi sosial, yaitu hasil dari pengalaman historis serta diskursus etnisitas dengan identitas. Pandangan ini merupakan sintesis dari pandangan primordialis dan pandangan instrumentalis.

  • Pandangan primordialis mengatakan bahwa konflik etnik dapat dilacak akarnya pada sifat naluri alamiah saling memiliki, dan sifat kesukuan (tribalism) berdasar pada perbedaan bahasa, ras, kekerabatan, tempramen, dan tradisi suku-suku yang berkonflik.

    Pandangan instrumentalis menolak pendapat ini dengan menekankan sifat lentur dari identitas etnik yang biasa digunakan, dimobilisasi, dan dimanipulasi oleh kelompok-kelompok elite dan negara untuk tujuan politik tertentu.

  • C. Strategi Integrasi o Dalam rangka mengupayakan terwujudnya integ