mangrove jurnal

Click here to load reader

Post on 17-Jan-2016

49 views

Category:

Documents

18 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Jurnal mangrove

TRANSCRIPT

Faktor Lingkungan dan Kemelimpahan Spesies Vegetasi pada Ekosistem Mangrove di Pasir Mendit, Laguna Bogowonto, Kulon Progo, Yogyakarta Maizer Said Nahdi dan Ardyan Pramudya K.

Program Studi Biologi. Fak. Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, Email: maizersn@yahoo.co.id

ABSTRACTPenelitian dilakukan di Pasir Mendit Laguna Bogowonto, pantai unik di Indonesia dengan kehadiran gumuk pasir yang melindungi dari hempasan gelombang pantai selatan Samudera Hindia. Tujuan penelitian untuk mempelajari hubungan faktor lingkungan dan kemelimpahan spesies vegetasi ekosistem mangrove. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 stasiun dengan metode kuadrat digunakan sebagai alat koleksi data dengan bantuan pembuatan plot sesuai growthform. Cononical Corespondence Analysis (CCA) digunakan untuk menganalisis hubungan vegetasi dengan faktor lingkungannya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 19 spesies tumbuhan mangrove dan asosiasi serta pengikutnya. Semua lokasi dikolonisasi oleh semak Acanthus ilicifolius dan liana berkayu Derris heterophylla, merupakan spesies r-strategi, densitas sangat tinggi berturut-turut 4425, 1750, 1275 individu/ha. Bogem (Sonneratia alba) dan bakau (Rhizophora mucronata) merupakan spesies yang mendominasi seluruh lokasi dengan kemelimpahan dan nilai penting bervariasi. Stasiun I dihadiri 15 spesies, lokasi lainnya dihadiri 11 dan 9 spesies. Hal tersebut disebabkan kandungan C organik, NO3 dan PO4 yang relatif tinggi. Kehadiran Derris heterophylla menunjukan ekosistem mangrove di Pasir Mendit telah mengalami kerusakan. Kehadiran mangrove di Laguna Bogowonto disarankan bisa dijadikan lokasi konservasi untuk percontohan laguna lain di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Kata kunci : Laguna, r- strategi, growthform, gumuk pasir, konservasiPENDAHULUAN

Ekosistem mangrove merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut, sangat dipengaruhi kondisi pasang surut, berfungsi penting secara ekologi dan sosial ekonomi, yang pada akhirnya bermanfaat bagi kehidupan manusia (Schaduw et al. 2011). Ekosistem ini berperan sebagai pemasok hara bagi ekosistem sendiri, perairan pantai dan laut lepas, sumber keanekaragaman biota akuatik dan nonakuatik. Selain itu bermanfaat sebagai: 1) penjaga kesetabilan pantai, menghindari abrasi, intrusi air laut, dan perangkap zat pencemar; 2) tempat pembesaran (nursery ground) dan perlindungan berbagai jenis ikan, udang dan kepiting; 3) pelindung pantai dan daratan dari gelombang tsunami (Muray et al 2003; Harty 2003; Yanagisawa et al. 2009; Mitch and Gosselink 2000). Ekosistem mangrove mempunyai jejaring makanan yang berbasis detritus, sehingga kehadirannya sangat penting dalam ekosistem bentang laut (sea scape) (Nybakken 1993, Horne and Goldman 1994). Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah lebih dari 17.000 pulau besar dan kecil, panjang garis pantai sekitar 81.000 km2. Salah satu pantai yang unik dengan kehadiran gumuk pasir yang melindungi laguna dari hempasan gelombang pantai Samudera Hindia, terdapat di muara sungai pantai selatan Yogyakarta yaitu Laguna Bogowonto, merupakan satu satunya laguna yang memiliki hutan mangrove (Djohan, 2007). Kehadiran mangrove di sepanjang laguna Bogowonto saat ini sangat terancam, karena pembangunan tambak udang sebagai konsekuensi pertumbuhan populasi manusia dan peningkatan taraf hidupnya. Hasil tambak udang tersebut sangat menjanjikan bagi masyarakat, karena dikonsumsi masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sungai Bogowonto adalah sungai yang terletak di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang bermuara ke Samudera Hindia. Sungai ini berhulu di dataran tinggi di daerah Kedu dan merupakan satu dari dua sungai cukup besar di Jawa Tengah yang bermuara ke pantai selatan selain Sungai Serayu dan merupakan batas alam Daerah Istimewa Yogyakarta barat dengan Kabupaten Purworejo. Komposisi mangrove di Laguna Bogowonto cukup tinggi, hal ini dimungkinkan karena faktor lingkungan yang mendukung keberadaannya. Keadaan substrat relatif subur karena terus menerus mendapat endapan sebagai asupan hara dari aliran sungai di sepanjang daerah tersebut. Adaptasi terhadap kondisi tanah anaerob, menggunakan tiga sistem perakaran yaitu akar nafas (pneumatophor), akar lutut (pop roots), dan akar gantung (hanging roots). Umumnya pohon mangrove memiliki tinggi sekitar 30 meter dengan kanopi yang lebar, rapat dan tertutup (Mitch dan Gosselink 2000). Kurniawan dan Parikesit, 2008 menyatakan bahwa kehadiran suatu spesies tumbuhan di tempat tertentu dipengaruhi faktor lingkungan yang saling terkait satu dengan lainnya antara lain iklim, edafik (tanah), topografi dan biotikBerdasarkan pembahasan di atas, keberlanjutan ekosistem Mangrove di Laguna Bogowonto merupakan suatu keniscayaan dan membutuhkan perhatian dari semua pihak. Informasi tentang ekosistem mangrove Laguna Bogowonto belum banyak, sehingga membutuhkan penelitian yang komprehensif. Permasalahan yang dimunculkan adalah bagaimana kemelimpahan spesies vegetasi mangrove, kualitas tanah dan air meliputi faktor fisik-kimia serta bagaimana pengaruhnya terhadap kemelimpahan spesies vegetasi penyusun ekosistem mangrove saat ini. Tujuan penelitian untuk menganalisia factor lingkungan yang mempengaruhi kehadiran mangrove di Pasir Mendit Bogowonto, secara spesik dihitung densitas, frekuensi dan nilai penting, indeks keanekaragaman serta hubungannya dengan factor lingkungan (fisik-Kimia) tanah. MATERIAL AND METHODS Area penelitian. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2013 di Laguna Bogowonto dusun Pasirmendit dan Pasirkadilangu, Jangkaran, Kulon Progo, Yogyakarta. Terletak pada koordinat S 0705344.4 dan E1100 0141.1. Lokasi penelitian dibedakan menjadi 3 stasiun yaitu stasiun I di daerah paling barat desa Pasirmendit, stasiun II berada tepat di perbatasan PasirMendit dan Pasir Kadilangu dan stasiun III di dusun Pasirkadilangu dekat Laguna (Gambar 1). Bahan yang digunakan adalah semua spesies yang ditemukan dan sample tanah. Koleksi data. Design sampling menggunakan metode kuadrat, dengan meletakan plot 6 kali ulangan pada setiap stasiun secara stratified random sampling. Setiap plot berukuran 10 x 10 tingkat pohon, 5x5 tingkat sedling, sapling dan tumbuhan bawah, 1X1 tingkat rumput. Cacah spesies yang hadir diidentifikasi, diukur tinggi pohon dan diameter batang. Data yang diperoleh digunakan untuk menghitung densitas, dominansi, frekuensi spesies serta Nilai Penting (Mueller-Dombois dan Ellenberg, 1974). Sampel tanah dicuplik mengunakan modifikasi soil core sedalam 20 cm, dikomposit dan dianalisis di laboratorium kimia tanah. Faktor lingkungan terukur meliputi faktor fisik yaitu kelembaban udara, intensitas cahaya, dan suhu tanah sedangkan factor kimia tanah meliput kandungan hara, nitrat, posfat, sulfat, dan pH.

Analisis data. Untuk mempermudah membaca data yang di analisis, maka hasil perhitungan data vegetasi dan parameter lingkungan ditampilkan dalam bentuk histogram. Selanjutnya Principal Components Analysis (PCA) merupakan teknik ordinasi digunakan untuk menganalisis hubungan antara persebaran jenis tumbuhan dengan faktor fisik kimia tanah (Oksanen, 2011). RESULTS AND DISCUSSION Kehadiran spesies vegetasi di lokasi penelitian secara total berjumlah 22 spesies, terdiri dari 7 tingkat pohon, 6 tingkat sapling, 2 spesies seedling, 7 spesies tingkat rumput sedangkan semak, herba, liana masing masing 1 spesies. Kehadiran spesies tertinggi pada stasiun I yaitu 7 spesies tingkat pohon, 6 sapling, 4 spesies rumput sedangkan semak mangrove, liana mangrove dan paku mangrove masing masing satu spesies, tidak dijumpai kehadiran seedling (Gambar 3). Kekayaan spesies pada stasiun I, menunjukkan bahwa lokasi ini memiliki mineral tanah yang sangat sesuai untuk pertumbuhan pohon mangrove. Hal tersebut dibuktikan dengan tingginya C organik, Amonium, Nitrat dan Fe yang kemungkinan berasal dari seresah tumbuhan yang berada di topsoil menjadi humus. Keberadaan Nitrat dalam tanah berpengaruh pada proses fotosintesa, sedangkan kadar Fosfat yang tinggi berfungsi pada proses pertumbuhan generatif tanaman (Fitter and Hay, 1992; Maizer, 2014). Selain itu kemungkinan juga karena lokasinya berdekatan dengan demplot yang telah dibuat sebelumnya, sehingga banyak propagul atau bibit mangrove yang tumbuh disekitarnya, disamping merupakan lokasi projek replanting mangrove Kulonprogo. Kehadiran cacah spesies pada lokasi penelitian II dan III hampir sama yaitu 3 spesies pohon dengan spesies dominan yang berbeda. Spesies paku dan herba tidak nampak hadir di Lokasi II sedangkan lokasi III tidak dihadiri spesies paku (Gambar 2). Kemelimpahan spesies ditunjukkan oleh nilai penting (NP), yang mencirikan spesies dominan dalam suatu komunitas, nilai penting tingkat pohon merupakan penjumlahan dari densitas relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif, sehingga jumlah maksimal adalah 300. Sedangkan untuk tingkat vegetasi lain merupakan penjumlahan densitas dan frekuensi relative sehingga jumlah maksimal 200. Secara umum kemelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun III dengan nilai 2575 individu/ha, disusul stasiun I dengan nilai 1250 individu/ha dan terkecil pada lokasi II dengan nilai 1050 individu/ha. Secara keseluruhan kehadiran spesies tingkat pohon di dominasi oleh 2 spesies pohon mangrove dengan NP yang bervariasi yaitu Sonneria alba antara 50 -105% dan Rhizophora mucronata NP 18-119% , kedua spesies ini merupakan tumbuhan mangrove mayor yang biasa mendominasi kawasan mangrove ( ). Selain itu juga terdapat Avicena sp dengan nilai yang berbeda yaitu lokasi 1 didominasi Avicenia alba (NP 19%), sedangkan lokasi 3 didominasi Avicenia marina (NP 26%). Kemelimpahan spesies Sonneratia alba yang dikenal juga sebagai Sonneratia apple, atau bogem (jawa), menunjukkan kawasan Laguna Bogowonto pernah menjadi ekosistem hutan mangrove (Djohan, 2003). Spesies lain memiliki nilai penting yang relative kecil, namun kebe