manajemen ternak unggas,

Click here to load reader

Post on 06-Aug-2015

981 views

Category:

Documents

10 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

PRAKTIKUM KANDANG MANAJEMEN TERNAKA UNGGAS

TRANSCRIPT

LAPORAN AKHIR MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

OLEH : MUHAMMAD RAYHAN D1E009078

UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN FAKULTAS PETERNKAN PURWOKERTO 2012

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

Oleh : MUHAMMAD RAYHAN D1E009078

Diterima dan disetujui pada tanggal : ............................

Koordinator Asisten

Riecksa N Taufik NIM.D1E007009

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Beakang Perkembangan peternakan ayam boiler di Indonesia pada dasawarsa ini sangat cepat. Hal ini tidak lepas dari peran pemerintah, swasta maupun lembaga lembaga ilmiah. Pada umumnya ada tiga hal penting yang menentukan dalam peternak ayam yaitu bibit unggul, pakan yang balans dan tata laksana pemeliharan yang baik. Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnya ayam broiler baru popular di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan penggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin kuat keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya (Jafendi. 1999). Ternak unggas merupakan media yang efisien dalam mengubah protein nabati dan bahan bahan lain yang umumnya tidak sesuai dengan kelaziman selera manusia menjadi daging atau telur. Ayam niaga pedaging merupakan ternak yang sangat efisien dalam mengubah pakan menjadi daging yapng disukai masyarakat. Kelebihan lain yang dimiliki ayam niaga pedaging adalah lebih membutuhkan waktu yang relative singkat yaitu sekitar 35-40 hari dibandingkan dengan petelur, berdasarkan kelebihan tersebut maka tidaklah heran jika ayam niaga pedaging sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai usaha peternakan. Ayam broiler adalah ayam muda yang biasanya berumur 8 sampai 12 minggu, umur 8 sampai 14 minggu, umur kurang dari 6 minggu dengan tidak membedakan jenis kelamin dan dagingnya empuk. Ayam broiler harus memenuhi syarat-syarat pertumbuhan yang cepat, dada lebar dengan timbunan daging yang baik serta pertumbuhan bulunya cepat, dikehendaki warna putih atau terang. Selain itu ayam broiler juga mempunyai potensi yang besar untuk secara cepat serta mengubah pakan menjadi daging secara efisien.

Pemeliharaan ayam boiler hanya 5 sampai 6 minggu sudah dipanen, dengan waktu pemeliharaan yang relative singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia. Perkembangan peternakan ayam di Indonesia saat ini sangatlah cepat, hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah, swasta maupun lembaga-lembaga ilmiah. Keberhasilan pemeliharaan yang pertama kali diperhatikan adalah ayam broiler harus memenuhi syarat-syarat pertumbuhan yang cepat, dada leber dengan timbunan daging yang baik serta pertumbuhan bulunya cepat, dikehendaki warna putih atau terang. Selain itu ayam broiler juga memenuhi potensi yang besar untuk secara cepat serta mengubah pakan menjadi daging secara efisien. 1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum manajemen ternak unggas adalah : 1. Mengetahui tata laksana pemeliharaan ayam niaga pedaging dari periode awal sampai finisher (panen) mulai dari kesehatan (sanitasi), pakan, minum, vaksin, dan proses panen. 2. Cara-cara processing ayam dan langkah-langkah memperoleh karkas secara benar. 3. Penilaian kualitas karkas yang benar dinilai dalam kelasnya, kondisi dan kualitasnya.

II. METODE 2.1 Materi 2.1.1 Alat

2.1.1.1 Pra Pemeliharaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. lap pel kuas sikat ember sapu lidi bak ember 7. 8. 9. 10. 11. slang air pacul tempat sampah mesin semprot karung

2.1.1.2 Pemeliharaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. galon feeder tray feeder tub gasolek cimawar semprot gendong timbangan bak ember 13. 14. 15. 9. 10. 11. 12. ember gayung ukuran satu liter lampu tali penggantung pakan dan minum kandang pemeliharaan tabung gas sekat seng dan bambu

2.1.1.3 Praktikum Lab 1. 2. 3. nampan plastik kantong plasti pisau skalpel 4. 5. 6. gunting bedah pisau timbangan

2.1.2

Bahan

2.1.2.1 Pra Pemeliharaan 1. 2. 3. Biodes formalin kapur gamping 4. 5. tirai karung palstik sekam

2.1.2.2 Pemeliharaan 1. 2. 3. Pre starter C201 Pakan Starter C201 vitamin dan antibiotik 4. 5. 6. Vaksin sekam air minum.

2.1.2.3 Praktikum Lab Ayam broiler 2.2 Cara Kerja 2.2.1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pra Pemeliharaan

pembersihan peralatan kandang, pembersihan kandang, pemasangan tirai, pemasangan alas kandang, penaburan sekam, desinfeksi, pemasangan indukan, penyediaan keperluan pemeliharaan

2.2.2

Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan rutin meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. program biosecurity, pemberian pakan dan air minum, pencucian tempat air minum, pemberian Vitamin dan antibiotik, melakukan recording, penimbangan pakan. Kegiatan insidental meliputi: penerimaan DOC pada awal pemeliharaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. pemberian air gula penghitungan DOC Pengawasan DOC Vaksinasi penimbangan panen Culling 2.2.3 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Praktikum Lab

Ayam disiapkan terlebih dahulu. Ayam ditimbang untuk mengetahui bobot hidup. Ayam dietanasi. Ayam dicelup celupkan kedalam air panas. Bulunya dicabuti (dimasukkan kedalam plastic) hingga bersih. Ayam dicuci supaya lebih bersih. Ayam dipotong (pada bagian shank dan pangkal leher). Ayam dibedah. Diambil jeroannya kemudian ditimbang. Karkas ditimbang. Pemisahan bagian bagian ayam.

2.3 Waktu dan Tempat 1. Manajemen Pemeliharaan Ayam Boiler Waktu Tempat Tanggal 2. Processing Waktu Tempat Tanggal : 16.30 sampai dengan selesai : Laboratorium Unggas. : 02 Desember 2008. : Pagi 05.30 07.00 dan Sore 16.00 -17.00 WIB : Exfarm Fakultas Peternakan. : 20 Desember 2011

III. KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Kegiatan 3.1.1 Processing : 1,72 kg = 1720 gr : 1140 gr : 60 gr : 80 gr : 310 gr : 360 gr : 110 gr : 250 gr

Bobot ayam hidup Bobot karkas Bobot darah Bobot bulu Bobot paha Bobot dada Bobot sayap Bobot punggung

Perhitungan persentase darah, bulu dan bagian-bagian karkas 1. % darah =

== 3,45 % 2. % bulu =

== 4,65 % 3. % karkas =

== 60,28 % 4. % paha =

== 27,14 %

5. % dada

=

== 31,58 % 6. % sayap =

== 9,65 % 7. % punggung =

== 21,93 % 3.1.2 Pemeliharaan

1. Identifikasi DOC = Strain LH 500 dari PT. Malindo 2. PBBH = = 35,24 gram 3. Pertambahan bobot mingguan Minggu I Minggu II Minggu III : 123 gram : 413 gram : 863 gram

4. Pemberian pakan Minggu I Minggu II Minggu III : 135,9 gram : 522,26 gram ; 1087,5 gram

5. Konsumsi pakan Minggu I Minggu II Minggu III : 275 kg : 1050 kg : 2150 kg

6. Ayam mati = 52 ekor 7. Indeks Produksi = Minggu I Minggu II Minggu III : 270 : 274 : 347( )

8. Pemberian vaksin 2 kali 1. Vaksin ND1 dengan tetes mata dan vaksin AI dengan injeksi umur 4 hari 2. Vaksin Gumboro dengan air minum umur 15 hri 9. Obat-obat yang digunakan adalah Enoxan, Gallimune flu H5N9, Diluen, Enoquyl, Grofas, Colimas, Supralit 3.2 Pembahasan 3.2.1 Processing

Prosesing adalah kegiatan dari ayam disembelih sampai menjadi bentuk karkas. Pertama kita harus memilih ayam yang memiliki performans yang bagus agar menghasilkan karkas yang maksimal. Prosesing yang dilakukan disini menggunakan 1 ekor ayam. Langkahlangkah kegiatan prosesing adalah memilih ayam, menimbang bobot hidup, menyembelih, menyabut bulu, pengeluaran organ dalam, dan pembentukan karkas. Hal ini sesuai dengan pendapat Priyatno (1997), yaitu langkah langkah menyembelih ayam secara Islam adalah; proses pencabutan bulu yang terdiri dari pencelupan ayam kedalam air panas, tahap pencabutan bulu dan tahap pembersihan bulu; memotoing kepala; memotong kaki (ceker); mengeluarkan isi rongga perut dan dada dengan menyobek kulit perut, mengeluarkan isi rongga perut; mencuci karkas; mengemas produk. Karkas ayam merupakan bagian tubuh tanpa bulu, darah, kepala, dan organ dalam kecuali hati dan gizard. Besarnya bobot bulu pada ayam disebabkan karena pertumbuhan bulu relatif lebih cepat dibandingkan pertumbuhan jaringan. Menurut data praktikum diperoleh bahwa hasil presentase karkas sebesar 60,28%. Karkas yang diperoleh pada saat praktikum tidak sesuai dengan standarnya (terlalu rendah), hal ini diperjelas dengan pendapat Rasyaf (2000), bahwa

presentase karkas ayam broiler adalah berkisar 66 77 %. Karkas adalah daging ayam yang masih bersama kulit dan tulang tulangnya yang diperoleh dari hasil pemotongan, setelah dipisahkan dari kepala, kaki dan isi rongga perutnya. Sebelum ayam dipotong, ayam sebaiknya tidak diberi makan selama lebih dari 3 Jam untuk memudahkan pembersihan perut (Winarno, 1993). Penentuan kualitas ayam hidup menurut Sukardi (1986) terdapat enam kriteria sebagai dasar penilaian bahwa ayam itu kondisinya baik atau buruk. Adapun keenam kriteria tersebut adalah: kesehatan dan kelincahan, keadaan bulu, konformasi, fleshing atau perdagingan, lapisan lemak dibawah kulit, bebas dari kelainan-kelainan. Siregar dkk (1982) menyatakan bahwa karkas yang baik terbentuk padat, tidak kurus, tidak terdapat kerusakan pada kulit ataupun dagingnya. Sedangkan karkas yang kurang baik mempunyai daging yang kurus pada bagian dada sehinggga kelihatan panjang dan kurus. Menurut Soeparno (1992) kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain spesies, genetik, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur, pakan dan stress. Factor setelah pemotongan yang mempengeruhi kualitas daging antara lain meliputi metode pelayuan, stimulasi listrik, metode pemasakan, ph karkas dan daging, metode penyimpanan, macam otot daging dan lokasi pada suatu otot daging. Soeparno (1994) menyatakan bahwa karkas dan non karkas yang merupakan