makalah wacana penghapusan pbb

Download Makalah wacana penghapusan pbb

If you can't read please download the document

Post on 18-Aug-2015

139 views

Category:

Education

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  1. 1. WACANA PENGHAPUSAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (Studi Kasus Penghapusan PBB pada Kabupaten Manokwari) Oleh : Alfred I. Stefanus 2012-66-066 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS PAPUA 2015
  2. 2. 2 KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan judul Wacana Penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan. Tugas makalah ini saya susun guna memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Perpajakan. saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bermanfaat dan nantinya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi saya. Harapan saya, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi saya dan juga bagi para pembaca. Akhir kata saya ucapkan Terima kasih. Penyusun
  3. 3. 3 DAFTAR ISI Kata Pengantar 2 Daftar Isi 3 BAB I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 4 1.2 Rumusan Masalah 6 1.3 Tujuan Penelitian 6 1.4 Manfaat Penelitian 6 BAB II. Landasan Teori 2.1 Pengertian Pajak 7 2.2 Pajak Bumi dan Bangunan 7 2.3 Asas Pemungutan Pajak 9 2.4 Dasar Hukum Pajak Bumi dan Bangunan 10 BAB III. Pembahasan 11 3.1 Wacana Penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 11 3.2 Tanggapan Pengamat tentang Penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). 15 3.3 Upaya-upaya pemerintah dalam mengatur kebijakan Penghapusan PBB melalui Analisis SWOT 18 BAB IV Penutup 4.1 Kesimpulan 21 4.2 Saran 22 BAB V Daftar Pustaka 23
  4. 4. 4 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara yang menggantungkan pendapatannya pada penghasilan pajak, salah satunya pajak bumi dan bangunan.Peran pajak dalam suatu negara dapat dikatakan sebagai basis material dan darah kehidupan (lifeblood) bagi negara dan roda kekuasaanya.Dalam catatan sejarah, tidak ada negaraotoriter maupun demokratis yang dapat bertahan hidup dan menjalankan roda kekuasaannya tanpa adanya pajak dari rakyat. Sehingga dapat diteorikan, apabila basis material dan darahkehidupan ini pajak bisa berjalan dengan lancar baik dari segi penganggaran maupunpembelanjaannya, akan tercipta suatu negara yang sejahtera. Pajak dibayar, negara tegak; pajak diboikot negara ambruk. Pajak menurut Pasal 1 angka 1 UU No 6 Tahun 1983 sebagaimana telah disempurnakan terakhir dengan UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan umum dan tata cara perpajakan adalah "kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.Mengisyaratkan bahwa diperlukan adanya pembaruan sistem perpajakan guna meningkatkan kemampuan negara dan masyarakat untuk membiayai pembangunan yang berasal dari sumber-sumber dalam negeri, karena semakin meningkatnya penerimaan yang bersumber dari dalam negeri akan semakin meningkat pula kemandirian dalam pembiayaan pelaksanaan pembangunan Pajak Bumi dan Bangunan merupakan bagian terpenting dari denyut nadi perekonomian suatu Negara, dengan pemungutan pajak Negara dapat memakmurkan rakyat dan dapat membiayai rumah tangga Negara itu sendiri, namun kendalanya selama ini pajak masih di andalkan untuk pendapatan Negara yang paling banyak dan menempatai urutan pertama dalam APBN. Potensi Pajak Bumi dan Bangunan di Indonesia sangat luar biasa, tetapi pemanfaatannya kurang maksimal sehingga kesejahtraan masyarakat tidak bisa terjamin dan masih banyak
  5. 5. 5 rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan.Peran Pajak Bumi dan Bangunan dalam mewujudkan perekonomian serta untuk membangun Negara sangat potensial sehingga diperlukan suatu kesadaran dalam membayar pajak. Pajak bumi dan bangunan dalam hal ini juga dapat merangsang pertumbuhan dan pemberdayaan daerah, dengan hasil yang didapatkan dari Pajak Bumi dan Bangunan harapan besar ketika dikembalikan ke daerah dapat dimanfaatkan dengan baik dan sesuai keinginan rakyatnya. Proses pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan sudah menjadi kerangka yang sangat ideal, apali sebagian besar dari dana pendapatan di kemabalikan lagi ke daerah dalam bentuk DAK, DAU, dsb. Walaupun sebenarnya banyak sekali sektor pendapatan negara ini yang telah dikembangkan untuk meningkatkan anggaran negara.Mulai dari pemanfatan sumber daya alamyang melimpah sampai penyelenggaraan usaha-usaha perusahaan negara.Akan tetapi sektorsektortersebut masih belum bisa membawa negara ke jenjang yang lebih baik seperti yang diharapkan.Pajak ditinjau dari prespektif ekonomi dapat dipahami sebagai paralihan sumber dayadari sektor privat (swasta) ke sektor publik (pemerintah). Pemahaman seperti ini paling tidak memberikan gambaran bahwa dengan adanya pajak menyebabkan dua situasi menjadi berubah.Pertama, berkurangnya kemampuan individu atau perusahaan dalam menguasai sumber daya untuk penguasaan barang dan jasa.Kedua, bertambahnya kemampuan keuangan negara dan daerah dalam penyediaan barang dan jasa untuk menuju kesejahteraan masyarakat. Namun sekarang telah munculnya berita tentang penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di Indonesia.Pertanyaannya adalah, bagaimana Negara Indonesia membiayai kebutuhan yang telah dianggarkan dalam APBN? dan Bagaimana nanti Pemerintah Daerah membiayai kebutuhan yang harus di pesuhi dalam sebuah Propinsi secara khusus Propinsi Papua Barat dan Kabupaten Manokwari?
  6. 6. 6 1.2.Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan pokok dalam penulisan tugas ini adalah sebagai berikut: a. Apa itu Pajak.? b. Wacana Penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan di Kabupaten Manokwari. c. Upaya-upaya pemerintah dalam mengatur kebijakan agar meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan Analisis SWOT. 1.3.Tujuan Penulisan Tujuan penelitian yang dilakukan dalam tugas akhir mengenai wacana penghapusan PBB bagi wajib pajak di Kabupaten Manokwari adalah sebagai berikut: a. Mengetahui apa sebenarnya pajak itu dan kegunaanya. b. Mensosialialisasikan Wacana Penghapusan Pajak Bumi dan Bangunan di Kabupaten Manokwari. c. Mengetahui upaya-upaya pemerintah dalam mengatur kebijakan agar meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui Analisis SWOT. 1.4.Manfaat Penulisan Penelitian dalam tugas akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kegunaan berupa: 1.4.1 Kegunaan teoritis Penulis berharap hasil penulisan tugas ini mampu memenuhi tugas mata kuliah dari dosen mata kuliah perpajakan. 1.4.2 Kegunaan praktis Selain kegunaan teoritis, hasil penulisan yang dilakukan penulis diharapkan juga mampu menghasilkan sumbangan praktis yaitu memberikan wacana akademis kepada semua pihak yang terkait dengan masalah perpajakan khususnya bagi wajib pajak tentang wacana penghapusan PBB.
  7. 7. 7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Pajak Terdapat bermacam-macam batasan atau definisi tentang pajak yang dikemukakan oleh para ahli di antaranya adalah : Menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani: Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan. Kemudian menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH: Pajak adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment. 2.2 Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan atau bangunan dan/atau dapat dikatakan PBB adalah pajak atas harta tak bergerak yang terdiri dari tanah dan bangunan (property tax). Jadi sudah jelas bagi kita bahwa Objek Pajak Bumi Dan Bangunan / PBB adalah tanah dan atau bangunan sedangkan yang dimaksud dengan Subjek Pajak Bumi dan Bangunan / PBB adalah orang pribadi atau badan yang menikmati, memanfaatkan atau memiliki obyek pajak berupa tanah dan atau
  8. 8. 8 bangunan tersebut (Pemilik atau Penyewa). Pajak bumi dan bangunan terdiri dari beberapa instrument yaitu : 1. Bumi Bumi sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994 tanggal 9 November 1994 adalah permukaan bumi (tanah dan perairan) dan tubuh bumi yang ada di bawahnya. Contoh : sawah, ladang, kebun, tanah, pekarangan, tambang, dan lain-lain. 2. Bangunan Bangunan sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994 tanggal 9 November 1994 adalah konstruksi teknik yang ditanamkan atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan di wilayah Republik Indonesia. Contoh: rumah tempat tinggal, bangunan tempat usaha, gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, jalan tol, kolam renang, anjungan minyak lepas pantai, dan lain-lain. Bangunan menurut PSAP no.7 mengenai akuntansi aset tetap gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dalam kondisi siapa dipakai. 3. Tanah Tanah sebagaimana yang dimaksud dalam PSAK no.47 mengenai akuntansi tanah, terdiri atas tanah dalam negeri dan tanah luar negeri. Tanah dalam negeri adalah tanah yang berada di wilayah geografis Indonesia, terbagi menjadi tiga wilayah: yaitu wilayah kawasan berikat, wilayah yurisdiksi negara perwakilan, dan wilayah pabean. Hukum pertanahan mengatur secara umum hak