makalah tauhid

Download makalah tauhid

Post on 17-Jul-2015

788 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KATA PENGANTAR

. . Ilmu tauhid atau Ushulluddin sangat penting dipelajari. Karena ilmu inilah yang membahas dasar-dasar aqidah yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Dalam ilmu ini, butir-butir aqidah dijelaskan dan didukung dengan burhan, pembuktian kebenaran secara pasti melalui dalil-dalil aqly (rasio). Dalam rentang sejarah yang panjang ilmu tauhid telah Berjaya membentengi aqidah umat dari berbagai arus pemikiran luar yang tidak sesuai dengan tauhid sebagai dasar dari keseluruhan ajaran islam. Pengkajian ilmu ini terus berjalan dan dipelajari diseluruh Pondok Pesantren dan universitas Islam di Indonesia. Bahkan pengkajian dilakukan oleh masyarakat yang mengikuti pengajian-pengajian disuatu tempat tertentu. Tujuan pembuatan makalah ini untuk lebih memahami sejarah tauhid Ahlussunnah Wal Jamaah, tokoh-tokohnya, pemikiran, serta relevansi kekinian yang telah dipakai para ulama dalam membentuk dan menerapkan ajaran tauhid yang kita pelajari dan warisi selama ini. Sehubungan dengan terbentuknya makalah ini maka, kami berharap makalah ini akan memberikan manfaat yang signifikan terhadap pengetahuan terutama maha siswa baru. Kemudian penulis berterima kasih kepada pembimbing, dengan akhir kata apabila ada kesalahan maka, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penulis lebih teliti dalam pembuatan makalah berikutnya. Karena itulah penulis memohon taufiq dan petunjuk kepada Allah SWT, agar kiranya dihindarkan dari kesalahan dan kekeliruan. Sesungguhnya Dialah Ahlu Taqa dan Ahlu Maghfiroh, Walhamdulillahi Robbil Alamin.

BAB I PENDAHULUAN A. Sejarah Ahlussunnah Wal Jamaah Penamaan istilah Ahlussunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah yaitu generasi Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Sistem pemahaman islam menurut Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan kelangsungan disain yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur-Rasyidin. Namun sistem ini kemudian menonjol setelah lahirnya madzhab mutazilah pada abad ke 11 H. Seorang ulama besar bernama Al-Imam Al-Bashry dari golongan AtTabiin di Bashrah mempunyai sebuah majlis talim, tempat mengembangkan dan memancarkan ilmu Islam. Beliau wafat tahun 110 H. diantara murid beliau, bernama Washil bin Atha. Ia adalah salah seorang murid yang pandai dan fasih dalam bahasa Arab. Pada suatu ketika timbul masalah antara guru dan murid, tentang seorang mumin yang melakukan dosa besar. Pertanyaan yang diajukannya, apakah dia masih tetap mukmin atau tidak? Jawaban Al-Imam Hasan Al-Bashry, Dia tetap mukmin selama ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi dia fasik dengan perbuatan maksiatnya. Keterangan ini berdasarkan Al-Quran dan AlHadits karena Al-Imam Hasan Al-Bashry mempergunakan dalil akal tetapi lebih mengutamakan dalil Quran dan Hadits. Dalil yang dimaksud surat An-Nisa ayat 48 :

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An-Nisa ayat 48) Kedua, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

, : . .( . ) Artinya : Dari Sahabat Abu Dzariin berkata : Rasulullah SAW bersabda : Datang kepadaku pesuruh Allah menyampaikan kepadamu. Barang siapa yang mati dari umatku sedang ia tidak mempersekutukan Allah maka, ia akan masuk surge, lalu saya (Abu Dzarrin) berkata : walaupun ia pernah berzina dan mencuri? Berkata (Rasul) : meskipun ia telah berzina dan mencuri. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim).

()

.

Artinya : Allah berfirman : Demi Kegagahan-Ku, dan Kebesaran-Ku dan demi Ketinggian-Ku, serta Keagungan-Ku, benar akan aku keluarkan dari

neraka orang yang mengucapkan, Tiada Tuhan selain Allah. (DiriwayatkanImam Al-Bukhari)

Tetapi jawaban dari gurunya tersebut, ditanggapi berbeda oleh muridnya, Washil bin Atha. Menurut Washil, orang mukmin yang melakukan dosa besar itu sudah bukan mukmin lagi. Sebab menurut pandangannya, Bagaimana mungkin, seorang mukmin melakukan dosa besar? Jika melakukan dosa besar, berarti iman yang ada padanya itu iman dusta. Kemudian dalam perkembangan berikutnya, Washil disebut Mutazilah, yakni orang yang diasingkan. Adapun beberapa teman yang bergabung bersama Washil bin Atha, antara lain bernama Amr bin Ubaid. Selanjutnya, mereka memproklamirkan kelompoknya dengan sebutan Mutazilah. Kelompok ini, ternyata dalam cara berfikirnya, juga dipengaruhi oleh ilmu dan filsafat Yunani. Sehingga, terkadang mereka terlalu berani menfsirkan Al-Quran sejalan dengan akalnya. Ibnu Abbas r.a. berkata ketika menafsirkan firman Allah SWT :

Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". (Q.S : Ali Imran ayat 106).

Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlussunnah Wal Jamaah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah ahlul bidah dan sesat.1 Kemudian istilah Ahlussunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama salaf rahimahullah diantaranya : 1. Ayyub as-Sikhtiyani Rahimahullah (wafat tahun 131 H), ia berkata : Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlussunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku. 2. Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat tahun 161 H) berkata : Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlussunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuraba (orang yang terasing). Alangkah sedikitnya Ahlussunnah Wal Jamaah. 3. Abu Ubiad al-Wasim bin Sallam Rahimahullah (hidup tahun 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-Imam : .... Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlussunnah dari yang demikian .... 4. Fudhail bin Iyadh Rahimahullah (wafat tahun 187 H) berkata : ...Berkata Ahlussunnah : Imam itu keyakinan, perkataan dan perbuatan. 5. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah (hidup tahun 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddima kitabnya, as-Sunnah : Inilah madzhab Ahlul Ilmu, Ash-Habul Atsar dan Ahlussunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul dan para sahabatnya, dari semenjak jaman para sahabat r.a. hingga pada masa sekarang ini...6. Imam ibnu Jarir ath-Thabary Rahimahullah (wafat tahun 310 H) berkata :

....Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kamu mukminin akan melihat Allah pada hari kiamat, maka itu merupakan agama1

http://nuryahman.blogspot.com/2007/05/sejarah-ahlussunnah-waljamaah.html

yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah berpendapat bahwa ahli surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shahih dari Rasulullah SAW.7. Imam Abu Jafar Ahmad bin Muhammad ath-Thahawy Raimahullah (hidup

tahun 239-321 H). beliau berkata dalam muqaddimah kitab aqidahnya yang masyhur (Aqidah Thahawiyah) : ....Ini adalah penjelasan tentang aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah.2 Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahab embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahab ini masih merupakan tahab konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan al-Basri (w.110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam al-SyafiI (w.205 H/820 M) berhasil menetapkan hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al- quran dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahap ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan al-Asyari (w.324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkand, Ahmad Bin Jafar al-Thahawi (w.331 H/944 M) di Mesir. ( Nourouzzaman Shidiqi : 1996). Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan alAsyari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mutazilah, Khowarij dan Syiah yang dipandang oleh Asyari sudah keluar dari paham yang semestinya. 3

23

http://nyimpanilmu.blogspot.com/2011/01/sejarah-ringkas-perkembangan-ilmu.html http://pmiikomtek.wordpress.com

Ilmu Tauhid system khalaf ( al-Asyari dan Maturidi ), sebagai lawan salaf ini, mendapat dukungan pula dari ulama ulama ahlissunnah , seperti ; Imam al Ghazali (w 505 H ) dan ar-Razi (w 606 H ), yang kemudian dirampungkan oleh Imam as-Sanusi (833 H 895 H ), dengan melalui teori sifat dua puluh dan sifat Istighna dengan sifat Iftiqar itu. sehingga Ilmu Kalam berjalan sendiri , ilmu Tauhid Sunni lain pula. Sedangkan ilmu Tauhid Salafi mendapat pencerahan kembali, oleh Ibnu Taimiyah ( 661 H s/d 724 H ) dan didukung oleh Ibnu Qayyim , yang tetap textbook , setelah + 400 tahun diimbangi oleh Tauhid Sunni. Karena itu, masyhurlah sebagai peletak dasardasar Ilmu Tauhid Sunni yang disandarkan kepada dua Imam yaitu Abul Hasan al-Asyari dan Abul Mansur al-Maturidi, karena merekalah yang pertama menyusun, mengumpulkan ilmu ini dan menjelaskan dalil-dalilnya secara terperinci, yang berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu diantara berbagai ilmu-ilmu agama lainnya.4 Lain