makalah ss hematome epidural

of 54/54
MODUL SUSUNAN SARAF KASUS 1 : KECELAKAAN LALU LINTAS KELOMPOK 10

Post on 26-May-2017

225 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MODUL SUSUNAN SARAF

MODUL SUSUNAN SARAF

KASUS 1 : KECELAKAAN LALU LINTAS

KELOMPOK 10

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

Jakarta

JAKARTA, 29 JUNI 2012

DAFTAR ISI

BAB I

: PENDAHULUAN

BAB II

: LAPORAN KASUS

BAB III: PEMBAHASAN

- Identifikasi Masalah

- Anamnesis

- Hipotesis

- Pemeriksaan Fisik

- Pemeriksaan laboratorium

- Pemeriksaan Penunjang

- Diagnosis Kerja

- Patofisiologi

- Diagnosis Banding

- Penatalaksanaan

- Komplikasi

- Prognosis

BAB IV: TINJAUAN PUSTAKA

BAB V: KESIMPULAN

DAFTARPUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

Sistem saraf manusia merupakan jalinan jaringan saraf yang saling berhubungan, sangat khusus, dan kompleks. Sistem saraf ini, mengkoordinasikan, mengatur, dan mengendalikan interaksi antar seorang individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur aktivitas sebagian besar system tubuh lainnya. Tubuh mampu berfungsi sebagai satu kesatuan yang harmonis karena pengaturan hubungan saraf di antara berbagai system. Fenomena mengenai kesadaran, daya piker, daya ingat, bahasa, sensasi, dan gerakan semuanya berasal dari sistem ini. Oleh karena itu, keampuan untukmemahami, belajar, dan berespons terhadap rangsangan merupakan hasil dari integrasi fungsi sistem saraf, yang memuncak dalam kepribadian dan perilaku, seseorang.

Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intracranial yang mengakibatkan akumulasi darah di ruang potensial antara duramater dan tulang tengkorak dan paling sering terjadi karena fraktur pada tulang tengkorak.

Otak di tutupi olek tulang tengkorak yang kaku dan keras. Otak juga di kelilingi oleh sesuatu yang berguna sebagai pembungkus yang di sebut dura. Fungsinya untuk melindungi otak, menutupi sinus-sinus vena, dan membentuk periosteum tabula interna. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala kemungkinan akan terbentuk suatu lubang, pergerakan dari otak mungkin akan menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi otak dan dura, ketika pembuluh darah mengalami robekan maka darah akan terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak, keadaan inlah yang di kenal dengan sebutan epidural hematom. Epidural hematom merupakan komplikasi terburuk dari cedera kepala sehingga memerlukan diagnosis segera dan intervensi bedah.

BAB II

LAPORAN KASUS

Lembar 1

Seorang laki-laki usia 38 tahun, dibawa polisi ke UGD dengan penurunan kesadaran karena mengalami kecelakaan lalu lintas 2 jam sebelumnya.

Lembar 2

menurut polisi, setelah kecelakaan pasien sempat pingsan beberapa saat. Ketika sadar pasien mengeluh nyeri kepala, nyeri dada sebelah kanan terutama bila bernafas dan tidak dapat mengingat kejadian yang menimpanya, namun dapat menjawab waktu ditanya nama dan alamat rumahnya. Dalam perjalanan ke RS pasien sempat muntah satu kali. Hasil pemeriksaan: tekanan darah 90/60, nadi 60x/menit, pernapasan 28x/menit, suhu 36 derajat celcius. Pemeriksaan neurologis menunjukkan eksadaran pasien GCS E3M5V3. Pemeriksaan diameter pupil kiri 3 mm kanan 5 mm. refleks cahaya +/+, refleks fisiologis positif dan refleks patologis babinski -/+. Tampak jejas hematom di daerah parietal kanan dan dada sebelah kanan bawah. Tampak deformitas daerah paha kanan, disertai hematom dan edema.

Lembar 3

Laboratorium

Hb 7,5

Eritrosit 4450

Leukosit 13300

Trombosit 365000

GDS 155

Ureum 29

Kreatinin 1,1

SGOT 38

SGPT 35

Elektrolit dbn

Foto polos kepala dbn

Foto thoraks gambaran fraktur costae 7,8,9 kanan

Foto femur gambaran fraktur femur dekstra

Pasien tidak punya biaya untuk pemeriksaan CT scan kepala

BAB III

PEMBAHASAN

3.1.IDENTIFIKASI MASALAH IDENTITAS PASIEN

Nama

:-

Umur

:38 tahun

Jenis Kelamin:Laki-laki

Status

: -

Pekerjaan: -

3.2.ANAMNESIS

Untuk melengkapi informasi kita perlu memerlukam anamnesis tambahan. Dikarenakan keadaan pasien yang tidak memungkinkan kami melakukan Allo anamnesis kepada orang yang membawa pasien tersebut.

Bagaimana posisi pasien saat ditemukan dijalan?

Untuk mengetahui pasien tersebut ada fraktur cervical atau tidak.

Apakah pasien ada muntah atau tidak?

Pasien mengendarain kendaraan apa?

Jika pasien mengendarai sepeda motor kemungkinan untuk cedera yang lebih berat itu lebih tinggi dari pada naik kendaraan roda empat.

Pasien menabrak kendaraan apa?

Karena berat atau tidaknya suatu luka bisa kita lihat dari benda atau kendaraan apa yang menabraknya.

Apakah ada kejang?

Dengan adanya gejala seperti kejang maka kita bisa menentukan konplikasi cedera kepala

Apakah pasien tersebut pernah sadar lalu pingsan kembali?

Keadaan tersebut adalah lucid interval dimana pasien tersebut sempat pingsan lalu sadar sebentar lalu hilang kesadaran kembali, dengan gejala tersebut kita bisa menentukan komplikasi cedera kepala yang dialami oleh pasien tersebut.

3.3 HIPOTESIS

MasalahHipotesis

Penurunan kesadaran karena kecelakaan lalu lintas 2 jam sebelumnyaCedera Kepala Ringan

Cedera Kepala Sedang

3. Cedera Kepala Berat

GCS E3M5V3Cedera Kepala Sedang

Sempat pingsan beberapa saat lalu sadar dan kembali terjadi penurunan kesadaran

Jejas hematom daerah parietal kananEpidural hematom

Nyeri kepala, muntah, penurunan kesadaran, amnesia retrogard, pupil anisokor, reflex babinski - / +Subdural hematom

Epidural hematom

Contusio cerebri

Perdarahan intracerebral

Nyeri dada kanan terutama saat bernafas, hematom sebelah kanan bawah, takipnoeFraktur os costae

Deformitas paha kanan, hematom, edema, takipnoeFraktur os femur

3.5 PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN FISIKINTERPRETASI

Tekanan darah90/60 mmHgPasien mengalami hipotensi dikarenakan mengalami perdarahan.

Nadi60x/menitNormal

Pernafasan28x/menitPasien mengalami takipnea. Fraktur costae yang menyebabkan nyeri dada saat inspirasi mengakibatkan pasien takut bernafas lebih dalam, sehingga pernafasan yang dangkal menyebabkan frekuensi nafas pasien meningkat sebagai kompensasi untuk memenuhi kekurangan oksigen dalam tubuh.

Suhu36oCSubnormal

Pemeriksaan neurologisMenunjukkan kesadaran pasien GCS E3M5V3E3: Mata membuka dengan rangsang suara. (jangan keliru dengan pasien yang baru terbangun dari tidur, pasien seperti demikian mendapat nilai 4 bukan 3)

M5: Dapat melokalisasi nyeri (gerakan terarah dan bertujuan ke arah rangsang nyeri; misal tangan menyilang dan mengarah ke atas klavikula saat area supraorbita ditekan

V3: Kata-kata tidak berhubungan (Berkata-kata acak atau berseru-seru, namun tidak sesuai percakapan

pada pasien nilai GCS adalah 11 menunjukkan pasien mengalami cedera otak sedang.

Pemeriksaan diameter pupilkiri 3mm/ kanan 5 mmPupil anisokor yang terjadi karena adanya penekanan pada nervus okulomotorius (N III) pada sisi lateral

Refleks cahaya+/+Normal

Refleks fisiologispositifNormal

Refleks patologis Babinski

-/+Menunjukkan adanya lesi pada upper motor neuron (UMN) menyebabkan kelemahan respon motorik kontralateral.

Tampak jejas hematom di daerah parietal kanan dan dada sebelah kanan bawahAdanya perdarahan yang sifatnya tertutup yang kemungkinan disebabkan adanya fraktur.

Tampak deformitas daerah paha kanan disertai hematom dan edema

Adanya pergesaran fragmen pada fraktur disertai perdarahan menunjukkan fraktur femur yang sudah berat

Glasgow Coma Scale (GCS) adalah skala yang menilai tiga fungsi, yaitu mata (E=eyes), verbal (V), dan gerak motorik (M). Ketiga fungsi masing-masing dinilai dan pada akhirnya dijumlahkan dan hasilnya merupakan derajat kesadaran. Semakin tinggi nilai menunjukkan semakin baik nilai kesadaran. Nilai terendah adalah 3 (koma dalam atau meninggal), dan yang tertinggi adalah nilai 15 (kesadaran penuh).

Respon Mata (Eyes)1. Tidak dapat membuka mata

2. Mata membuka dengan rangsang nyeri. Biasanya rangsang nyeri pada dasar kuku-kuku jari; atau tekanan pada supraorbita, atau tulang dada, atau tulang iga

3. Mata membuka dengan rangsang suara. (jangan keliru dengan pasien yang baru terbangun dari tidur, pasien seperti demikian mendapat nilai 4 bukan 3)

4. Mata membuka spontan

Respon Verbal (V)

1. Tidak ada respon suara

2. Suara-suara tak berarti (mengerang/mengeluh dan tidak berbentuk kata-kata)

3. Kata-kata tidak berhubungan (Berkata-kata acak atau berseru-seru, namun tidak sesuai percakapan

4. Bingung atau disorientasi (pasien merespon pertanyaan tapi terdapat kebingungan dan disorientasi)

5. Orientasi baik (pasien merespon dengan baik dan benar terhadap pernyataan, seperti nama, umur, posisi sekarang dimana dan mengapa, bulan, tahun, dsb)

Respon Motorik (M)

1. Tidak ada respon gerakan

2. Ekstensi terhadap rangsang nyeri (abduksi jari tangan, bahu rotasi interna,pronasi lengan bawah,ekstensi pergelangan tangan)

3. Fleksi abnormal terhadap rangsang nyeri (adduksi jari-jari tangan, bahu rotasi interna,pronasi lengan bawah,flexi pergelangan tangan)

4. Flexi/penarikan terhadap rangsang nyeri (fleksi siku,supinasi lengan bawah,fleksi pergelangan tangan saat ditekan daerah supraorbita; menarik bagian tubuh saat dasar kuku ditekan)

5. Dapat melokalisasi nyeri (gerakan terarah dan bertujuan ke arah rangsang nyeri; misal tangan menyilang dan mengarah ke atas klavikula saat area supraorbita ditekan

6. Dapat bergerak mengikuti perintah (melakukan gerakan sederhana seperti yang diminta)

3.5 PEMERIKSAANLABORATORIUM

HasilnormalIntepretasi

Hemoglobin7,5 gr/dl14-18 gr/dlMenurun

Eritrosit4,450 jt/mm34,6-6,2 jt/mm3Menurun

Lekosit13,300/mm34000-10.000/mm3Meningkat

Trombosit365.000/mcl200-400 ribu/mclNormal

Gula Darah Sewaktu155 gr/dl 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml)

Keadaan pasien memburuk

Pendorongan garis tengah > 5 mm

fraktur tengkorak terbuka, dan fraktur tengkorak depres dengan kedalaman >1 cm

EDH dan SDH ketebalan lebih dari 5 mm dan pergeseran garis tengah dengan GCS 8 atau kurang

Tanda-tanda lokal dan peningkatan TIK > 25 mmHg

Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk fungsional saving. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi operasi emergenci. Biasanya keadaan emergenci ini di sebabkan oleh lesi desak ruang.

Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume :

> 25 cc : desak ruang supra tentorial

> 10 cc : desak ruang infratentorial

> 5 cc : desak ruang thalamus

Sedangkan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan :

Penurunan klinis

Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif.

Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif.

Perawatan PascabedahMonitor kondisi umum dan neurologis pasien dilakukan seperti biasanya. Jahitan dibuka pada hari ke 5-7. Tindakan pemasangan fragmen tulang atau

kranioplasti dianjurkan dilakukan setelah 6-8 minggu kemudian. Perawatan luka dan pencegahan dekubitus pada pasien post operasi harus mulai diperhatikan sejak dini.

CT scan kontrol diperlukan apabila post operasi kesadaran tidak membaik dan untuk menilai apakah masih terjadi hematom lainnya yang timbul kemudian.

Komplikasi

Epilepsi , Infeksi, GIT ( stress ulcer : gastritis erosi, lesi gastroduodenal berdarah ), kelainan hematologis ( anemia, trombositopenia, hipo-hiperagregasi trombosit, DIC ), Sesak nafak akut, Aspirasi.

Prognosistergantung pada :

Lokasinya ( infratentorial lebih jelek )

Besarnya

Kesadaran saat masuk kamar operasi.

Jika ditangani dengan cepat, prognosis hematoma epidural biasanya baik, karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi. Angka kematian berkisar antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus. Prognosis sangat buruk pada pasien yang mengalami koma sebelum operasi.

BAB V

KESIMPULAN

Hematoma Epidural dapat terjadi pada siapa saja dan umur berapa saja, beberapa keadaan yang bisa menyebabkan epidural hematom adalah misalnya benturan pada kepala pada kecelakaan motor. Hematoma epidural terjadi akibat trauma kepala, yang biasanya berhubungan dengan fraktur tulang tengkorak dan laserasi pembuluh darah.

DAFTAR PUSTAKA

Traumatic Brain Injury Medical Treatmenr Guideline 17th edition. Braunwald E, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, eds. States Of Colorado; 200.

Prof.DR.dr.S.M. Lumbantobing. Neurologi klinik pemeriksaan fisik dan mental. 5th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2008.

Lionel Ginsberg, Lecture Notes Neurologi. 8th ed. Jakarta: Erlangga Medical Series; 2007

Dr. Harsono, DSS. Ed. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada ; 2005

Richard S.Snell. Neuroanatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. 5th ed. Jakarta: Buku Kedokteran EGC: 2002