makalah ppg

Download MAKALAH PPG

Post on 13-Jul-2015

447 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman (Suryana, 2003). Pangan merupakan kebutuhan hidup terpenting bagi manusia setelah udara dan air. Oleh karenanya ketahanan pangan individu, rumah tangga, dan komunitas merupakan hak azasi manusia (Krisnamurthi, 2003). Ketahanan pangan menurut Undang-undang No.7 Tahun 1996 tentang pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi seluruh rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau (Departemen Pertanian, 2004). Mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan telah disepakati menjadi salah satu prioritas utama pembangunan nasional di Indonesia. Paling tidak ada tiga alasan penting yang melandasi kesepakatan tersebut : Pertama, ketahanan pangan merupakan prasyarat bagi terpenuhinya hak azasi atas pangan setiap penduduk; kedua konsumsi pangan dan gizi yang cukup merupakan basis bagi pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas; ketiga, ketahanan pangan merupakan basis bagi ketahanan ekonomi, bahkan bagi ketahanan nasional. Situasi krisis pangan yang dialami oleh berbagai bangsa, termasuk Indonesia memberikan pelajaran bahwa ketahanan pangan harus diupayakan sebesar mungkin bertumpu pada sumberdaya nasional, karena ketergantungan yang besar pada pangan impor menyebabkan kerentanan terhadap gejolak ekonomi, sosial dan politik. Pertanyaan pokok mengenai ketahanan pangan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan rakyat banyak terutama rakyat miskin dilihat dari aspek

ketersediaan, jumlah, mutu, harga, kontinuitas, keterjangkauan dan stabilitas. Fenomena yang ada saat ini menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut masih belum dapat dijawab secara tuntas. Kasus gizi buruk dan busung lapar NTT dan NTB juga ancaman busung lapar di daerah Solo dan Boyolali dan juga jatah Raskin di daerah Klaten yang tidak mencukupi serta daerah-daerah lain yang rawan pangan merupakan bukti dari pertanyaan yang belum bisa dijawab. Sebagai negara agraris dengan kondisi iklim, kesuburan tanah dan para ahli pertanian yang begitu banyak hampir semua produk pangan yang dibutuhkan pada dasarnya dapat diproduksi di Indonesia. Namun, ironisnya Indonesia yang pernah berswasembada beras pada tahun 1984 ternyata kini harus mengimpor sebagian besar kebutuhan pangannya. Bahkan pada tahun 2003 Indonesia adalah Negara pengimpor beras terbesar di dunia, walaupun sesuai informasi terakhir menyatakan bahwa sampai akhir Juni 2005 pemerintah sudah tidak perlu mengimpor beras lagi karena produksi nasional sudah mencapai 30 juta ton. Namun dengan terjadinya banyak kekeringan lahan persawahan yang terjadi akhir-akhir ini akan dapat mengancam ketersediaan pangan untuk waktu-waktu yang akan datang. Ketahanan pangan merupakan persoalan hidup mati suatu bangsa. Seseorang atau sekelompok masyarakat bila tidak makan dalam jangka waktu tertentu akan menemui ajal. Bila makan, tetapi dengan asupan yang tidak memenuhi standar gizipun hanya menghasilkan generasi yang lemah, kurang sehat, tidak cerdas dan malas. Dewasa ini, harga sembako seperti beras, beras, kedelai dan minyak goreng semakin hari semakin tidak terjangkau oleh daya beli rakyat Indonesia. Akibatnya, prahara kekurangan pangan dan gizi buruk merebak di berbagai daerah. Berita tentang adanya sejumlah rakyat yang kelaparan, makan nasi aking, lumpuh layu dan bunuh diri lantaran tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok menghiasi media massa hampir setiap hari. Penderita gizi buruk semakin bertambah. Jika pada tahun 2005 anak balita yang menderita gizi buruk sebanyak 1,8 juta jiwa, pada tahun 2007 menjadi 5 juta jiwa (prakarsa-rakyat.org).

Sumber lain memaparkan hal yang lebih memprihatinkan lagi, tercatat 2 sampai 4 dari 10 anak balita di 72 kabupaten terkena busung lapar, sekitar 11 juta dari 13 juta anak usia sekolah di seluruh Indonesia kini mengalami anemia gizi (republika.co.id). Fenomena tersebut sungguh ironi yang memilukan, karena terjadi di negara agraris dan maritim terbesar di dunia, memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan maritim terbesar, namun pada kenyataanya masih sangat banyak rakyatnya yang kelaparan dan terkena gizi buruk. Fenomena gizi buruk sebagian besar terjadi akibat kemiskinan, diperparah dengan perilaku para komprador pemburu keuntungan yang selama ini kecanduan mangimpor secara besar-besaran aneka bahan pangan, mulai dari beras, kedelai, gula, daging sampai buah-buahan. Impor bahan pangan yang berlebihan dapat menyengsarakan para petani, meningkatkan pengangguran, menghamburkan devisa dan membunuh sektor pertanian yang mestinya menjadi keunggulan kompetitif bangsa. Dewasa ini Indonesia mengimpor sekitar 2,5 juta ton beras/tahun (terbesar di dunia); 2 juta ton gula/tahun (terbesar ke dua); 1,2 juta ton kedelai/tahun; 1,3 juta ton jagung/tahun; 5 juta ton gandum/tahun dan 550.000 ekor/tahun. Sungguh angka yang mencenganngkan bagi sebuah negara yang memiliki kondisi agroekologis nusantara cocok untuk budi daya semua bahan pangan tersebut. Buktinya Indonesia pernah mengukir prestasi menumental yang diakui dunia (FAO), yaitu swasembada beras pada tahun 1984. indonesia juga pernah mencapai swasembada gula, jagung dan kedelai (prakarsa-rakyat.org). Tragedi kerawanan pangan dan gizi memang sungguh ironis terjadi di Negara sesubur Indonesia. Padahal pemerintah terus berupaya meningkatkan dari APBN untuk bantuan bagi rakyat miskin diantaranya melauli asuransi lesehatan rakyat miskin (Askeskin). Jika pada tahun 2005 anggaran yang disiapkan untuk rakyat miskin (Askeskin) adalah sebesar 2,3 triliun, tahun 2006 sebesar 3,6 triliun, tahun 2007, 2,2 triliun dan untuk 2008 dianggarkan 4,6 triliun (lampungnews.com).

Nampaknya ada banyak hal yang perlu dicermati dari kebijakan-kebijakan pemerintah beserta pelaksanaanya yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat maka penulis mencoba menyusun sebuah karya ilmiah berjudul Kebijakan Pangan dan Masalah Gizi di Indonesia B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakan diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah yaitu: 1. Bagaimana kebijakan pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat? 2. Bagaimana aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi yang ada di masyarakat? 3. Apa penyebab munculnya permasalah gizi di Indonesia? 4. Apa dampak terjadinya permasalahan gizi di Indonesia? 5. Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia? C. Tujuan Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk: 1. Mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. 2. Mengetahui aplikasi kebijakan pemerintah terkait masalah pemenuhan kebutuhan gizi yang ada di masyarakat. 3. Mengetahui penyebab munculnya permasalahan gizi di Indonesia. 4. Mengetahui dampak terjadinya permasalahan gizi di Indonesia. 5. Menawarkan solusi untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Ketahanan Pangan Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Kinerja dari masing-masing subsistem tersebut tercermin dalam hal stabilitas pasokan pangan, akses masyarakat terhadap pangan, serta pemanfaatan pangan (food utilization) termasuk pengaturan menu dan distribusi pangan dalam keluarga. Kinerja dari ketiga subsistem ketahanan pangan akan terlihat pada status gizi masyarakat, yang dapat dideteksi antara lain dari status gizi anak balita (usia di bawah lima tahun). Apabila salah satu atau lebih, dari ke tiga subsistem tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka akan terjadi masalah kerawanan pangan yang akan berdampak peningkatan kasus gizi kurang dan/atau gizi buruk. Dalam kondisi demikian, negara atau daerah dapat dikatakan belum mampu mewujudkan ketahanan pangan. B. Kebijakan pangan Kebijakan pangan merupakan bagian integral dari kebijakan pembangunan nasional. Secara spesifik, kebijakan tersebut dirumuskan untuk mengelola potensi nasional, memanfaatkan peluang, serta mengatasi masalah dan tantangan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Beberapa rekomendasi kebijakan pangan yang perlu diterapkan dan dilanjutkan adalah sebagai berikut:1. Adanya jaminan ketersediaan pangan bagi penduduk miskin dan rawan pangan di

seluruh pelosok tanah air termasuk daerah-daerah yang tertimpa bencana alam.

2.

Perlu adanya kebijakan untuk mengelola pertumbuhan penduduk yang bertujuan mengharmoniskan kualitas dan kuantitas kependudukan. Mengefektifkan kebijakan yang mengembangkan sistem insentif untuk mengendalikan konversi lahan pertanian dan mendorong persebaran penduduk dengan menyebarkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi ke luar Jawa.

3.

4.

Untuk mengatasi kekeringan, kebijakan yang harus ditempuh antara lain : upayaupaya konkret seperti penyiapan dan pemberian bantuan bahan pangan dan air minum/air bersih; realisasi pemberian kredit pedesaan untuk aktivitas ekonomi dan alternatif lapangan kerja nonpertanian; disamping itu kebijakan untuk memperbaiki pengelolaan sumber daya air melalui konservasi air.

5.

Pemerintah harus terus menerus memberikan perangsang pada petani produsen beras domestik agar bergairah meningkatkan produksi beras jika perlu melalui berbagai subsidi sarana produksi termasuk kredit usaha tani.

6. 7.

Melanjutkan pelaksanaan program akselerasi peningkatan produktivitas industri gula nasional. Di tingkat paling dasar pemerintah dan Bulog beserta jajarannya di daerah wajib melaksanakan tugasnya, yaitu melaksanakan pengadaan beras, membeli gabah petani sesuai harga dasar (HPP) atau paling tidak harga di tingkat petani jangan sa