makalah perdagangan anak di indonesia - cover

of 47/47
MAKALAH PERDAGANGAN ANAK DI INDONESIA MATA KULIAH MPK AGAMA ISLAM MUHAMMAD REZA 1206230605 MOHAMMAD RIZKY NUR IMAN 1206262380 KAUTSAR SEGARAMADA 1206238791 AFRO NUSAIBAH 1206230913 PUSPITA ANGGREINI 0906551275 MUHAMMAD HAFIZH 1206260532 INSHANU GHALIH WIBOWO 1206239264 UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK

Post on 26-Oct-2015

2.550 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Cover majalah LTM agama

TRANSCRIPT

MAKALAH PERDAGANGAN ANAK DI INDONESIAMATA KULIAH MPK AGAMA ISLAM

MUHAMMAD REZA1206230605MOHAMMAD RIZKY NUR IMAN1206262380KAUTSAR SEGARAMADA1206238791AFRO NUSAIBAH1206230913PUSPITA ANGGREINI0906551275MUHAMMAD HAFIZH1206260532INSHANU GHALIH WIBOWO1206239264

UNIVERSITAS INDONESIADEPOK2013

MAKALAH PERDAGANGAN ANAK DI INDONESIAMATA KULIAH MPK AGAMA ISLAM

MUHAMMAD REZA1206230605MOHAMMAD RIZKY NUR IMAN1206262380KAUTSAR SEGARAMADA1206238791AFRO NUSAIBAH1206230913PUSPITA ANGGREINI0906551275MUHAMMAD HAFIZH1206260532INSHANU GHALIH WIBOWO1206239264

UNIVERSITAS INDONESIADEPOK2013

ABSTRAKSIPerdagangan manusia adalah merupakan sebuah isu yang sudah terjadi bahkan dari awalnya peradaban manusia. Mungkin dahulu kala perdagangan manusia lebih dikenal dengan perdagangan budak. Penghapusan perdagangan budak ternyata tidak menyebabkan hilangnya perdagangan manusia, justru sebaliknya, isu ini menjadi kian besar. Perdagangan manusia yang kian parah terjadi di Indonesia adalah perdagangan anak di bawah umur. Secara tertutup perdagangan anak terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Pertanyaan yang besar muncul adalah mengapa perdagangan anak ini masih dapat terjadi di Indonesia. Padahal dalam perundang-undangan negara, perdagangan anak jelas dilarang. Memang dibutuhkan lebih dari sekedar pelarangan dari pemerintah agar perdagangan anak tidak terjadi. Pemerintah wajib melakukan pencegahan dan menyediakan fasilitas-fasiltas bagi kehidupan sosial masyarakat. Selain dari peran pemerintah, sesungguhnya perdagangan anak juga dilarang keras oleh agama khususnya agama Islam. Islam memiliki pandangan khusus mengenali isu ini. Bahkan melalui Nabi Muhammad SAW. Islam merupakan pelopor dihapuskannya perdagagangan budak di masa lalu. Dari sini kita dapat menyadari bahwa ajaran Islam sesungguhnya dapat menyelesaikan masalah yang serupa. Maka dari itu, sangat tergantung pada kita sebagai umat Islam untuk menjalankan ajaran Islam agar dapat menyelasaikan isu ini.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmatnya tim penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul PERDAGANGAN ANAK DI INDONESIA. Berbagai masalah telah banyak dihadapi oleh tim penulis, tetapi kami tidak menyerah begitu saja, kami pun terus berusaha untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar agar makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. Makalah ini berisikan tentang situasi dan keadaan korupsi di Indonesia yang telah mengakar dan tersebar di segala lapisan masyarakat. Hal-hal yang dibahas dalam makalah ini adalah (SEMUA LTM). Makalah ini dibuat untuk memenuhi nilai Agama Islam yang dibimbing oleh Bapak S. Afroni.Tiada gading yang tak retak, tim penulis tidak perrnah luput dari kesalahan maka dari itu kami mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan penulisan yang tidak disengaja. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh tim penulis.

Depok, 15 Mei 2012

Tim Penulis\

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDULABSTRAKKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB 1: PENDAHULUAN1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 BAB 2: 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 BAB 3: 3.1 3.2 3.3 BAB 4: PENUTUP4.1 4.2 DAFTAR PUSTAKA

HOME GROUP 1 AGAMA ISLAM 02 PERDAGANGAN ANAK DI INDONESIA

iv

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangHak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain.1.2 Identifikasi MasalahMakalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:1. Perdagangan Manusia (Human Trafficking)2. Konvensi Perlindungan Hak-Hak Anak3. Perdagangan Anak (Child Trafficking)4. Pemberantasan Tindak Pidana Human Trafficking5. Perbudakan Kontemporer (Contemporary Forms Of Slavery)1.3 Pembatasan MasalahAgar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada ruang lingkup HAM. Mencakup Human Trafficking.1.4 Metode Pembahasan1. Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih (Atherton dan Klemmack: 1982).2. Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.

BAB IIPERDAGANGAN ANAK DI INDONESIA

2.1 Ruang Lingkup Perdagangan AnakMenurut Wikipedia, perdagangan manusia adalah perdagangan dan perdagangan dalam gerakan atau migrasi masyarakat, hukum dan ilegal, termasuk tenaga kerja baik sah kegiatan serta kerja paksa.Istilah ini digunakan dalam arti yang lebih sempit oleh kelompok advokasi untuk;a. perekrutan,b. transportasi,c. penampungan,Tujuan perdagangan manusia antara lain:a. Perbudakanb. Pelacuranc. Kerja paksa (termasuk tenaga kerja atau disimpan dalam gudang hutang, yaitu dimana seseorang dipaksa untuk melunasi pinjaman dengan tenaga kerja secara langsung, melalui jangka waktu yang tidak jelas/janggal. Dalam masa melunasi hutang, para pekerja dipaksa/terpaksa terperangkap dalam hutang yang lebih besar. Bisa jadi terperangkap hutang akibat judi, obat-obatan atau bahkan hingga yang pokok seperti pakaian atau makanan. Ketika pekerja yang berhutang tersebut tidak mampu membayar, mereka dipaksa untuk membayar dan terperangkap dalam kerja paksa yang disebut gudang hutang.)Perdagangan manusia (human trafficking) merupakan masalah yang cukup kompleks, baik di tingkat nasional maupun internasional. Berbagai upaya telah dilakukan guna mencegah terjadinya praktek perdagangan manusia. Secara normatif, aturan hukum telah diciptakan guna mencegah dan mengatasi perdaganganmanusia. Akan tetapi perdagangan manusia masih tetap berlangsung khususnya yang berkaitan dengan anak-anak. Permasalahan yang berkaitan dengan anak tidak lepas dari perhatian masyarakat internasional. Isu-isu seperti tenaga kerja anak, perdagangan anak, dan pornografi anak, merupakan masalah yang dikategorikan sebagai eksploitasi.Perdagangan manusia sebagai rekrutmen, transportasi, transfer, menadah atau menerima manusia, dengan cara ancaman atau penggunaan kekuatan atau bentuk-bentuk lain dari kekerasan, dari penculikan, dari penipuan, dari kecurangan, dari penyalahgunaan kekuasaan atau posisi kerentanan atau pemberian atau penerimaan pembayaran atau keuntungan untuk mencapai persetujuan dari orang yang memiliki kontrol terhadap orang lain, untuk tujuan eksploitasi.Eksploitasi manusia antara lain termasuk memaksa manusia menjadi prostitusi atau bentuk-bentuk lain dari eksploitasi seksual, kerja paksa atau pelayanan, perbudakan atau praktik yang serupa dengan perbudakan dan kerja paksa.

Untuk anak-anak, eksploitasi termasuk juga terpaksa melakukan pelacuran, menjadi bagian adopsi ilegal, untuk pernikahan bawah umur, atau perekrutan anak sebagai tentara, pengemis,. Perdagangan manusia adalah sangat oleh sifat kejahatan internasional yang memerlukan tingkat kerjasama tinggi dan kolaborasi antara negara secara efektif.

Perdagangan manusia ini mencakup perdangan wanita dan anak, yang mana memang akhir-akhir ini sedang marak diberitakan baik media nasional maupun internasional. Sisi global, perdagangan anak merupakan suatu kejahatan terorganisasi yang melampaui batas-batas negara, sehingga dikenal sebagai kejahatan transnasional. Indonesia tercatat dan dinyatakan sebagai salah satu negara sumber dan transit perdagangan anak internasional, khususnya untuk tujuan seks komersial dan buruh anak di dunia.

Anak merupakan bagian yang fundamental dalam keluarga. Anak adalah rahmat Allah SWT serta berkah dan amanah yang Allah titipkan kepada orang tua. Anak dalam keluarga adalah sorotan serius bagi orang tua agar terbentuk sikap yang positif bagi anak. Perlu disadari bahwa anak dalam keluarga sebagai peniru dan penciplak sikap dan kebiasaan orang tua khususnya dan keluarga pada umumnya. Secara mental dan fisik, seorang anak biasanya serupa dengan orang tuanya.

Akhir-akhir ini kasus perdagangan anak semakin marak terjadi. Seorang anak diperjualbelikan dan bahkan terkadang orang tuanya sendirilah yang menghendaki anaknya untuk ditukarkan dengan uang. Padahal, kehadiran anak tentulah membawa peran dan fungsi tersendiri dalam keluarga. Anak-anak dalam pandangan Islam merupakan amanah yang besar, anugerah Allah, sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah, sebagai ujian dari Allah, dan juga sebagai penerus dan pewaris orang tuanya. Anak juga berperan sebagai generasi penerus / anak yang sholeh, seperti yang tertera pada firman Allah SWT dalam Al Quran, diantaranya yaitu:a. Qs.As-Shoffaat 100a. Ya Tuhanku, berikan kepadaku anak-anak yang sholeh-sholehb. Qs.Al-Furqon 74a. Ya Tuhan Kami, berikan kepada Kami jodoh-jodoh dan keturunan-keturunan yang menyejukan hati dan Jadikan Kami imam bagi orang-orang yang bertakwac. Qs.An-Namel 19a. Ya Tuhanku beri aku petunjuk untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhai, dan masukkan aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba Mu yang sholehd. Qs.Al-Ahqof 15a. Ya Tuhanku, tunjukkan aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang Engkau ridhai; beri kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri

Menurut Hoffman (1973:26), nilai anak berkaitan dengan fungsi anak terhadap orang tua atau kebutuhan orang tua yang akan di penuhinya.Keberadaananak dalam suatu keluarga berfungsi sebagai penyambung garis keturunan, penerus tradisi keluarga, curahan kasih sayang, hiburan dan jaminan hari tua.Anak sebagai penyambung garis keturunan, kehadiran anak dalam suatu keluarga sangat di dambakan, anak di harapkan dapat meneruskan keturunan keluarga sehingga garis keturunan keluarga tersebut tidak terputus.

Anak sebagai jaminan hari tua, keberadaan anak menimbulkan rasa tenteram di hari tua, karena anak merupakan jaminan bagi orang tua ketika orang tua tidak dapat bekerja lagi. Anak dapat memberikan ketentraman bagi orang tua kelak ketika anak tersebut telah bekerja. Anak harus membalas budi kebaikan orang tua dalam hal ini adalah bahwa setiap anak harus mau memberikan bantuan ekonomi. Keberadaan anak dalam keluarga dapat membantu melakukan kegiatan rumah tangga yang dapat menambah penghasilan.Dengan adanya anak dalam suatu keluarga secara otomatis orang tua memiliki tenaga tambahan dari anak.

Menurut Arnold dan Fawcett (1990), dengan memiliki anak, orang tua akan memperoleh hal-hal yang menguntungkan atau hal-hal yang merugikan. Nilai anak yang menguntungkan (manfaat) yaitu, Manfaat Emosionaldi mana anak membawa kegembiraan dan kebahagiaan ke dalam hidup orang tuanya.Manfaat Ekonomidan Ketenangan dimana anak dapat membantu ekonomi orang tuanya dengan bekerja dan menyumbangkan upah yang mereka dapat. Manfaat pengembangan diridimana memelihara anak adalah suatu pengalaman belajar bagi orang tua. Anak membuat orang tuanya lebih matang, lebih bertanggung jawab.Hal-hal yang merugikan dengan memiliki anak (nilai negatif umum) yaitu, Biaya Emosionaldimana orang tua sangat mengkhawatirkan anak-anaknya, terutama tentang perilaku anak-anaknya, keamanan dan kesehatan mereka. Dengan adanya anak-anak, rumah akan ramai dan kurang rapi. Biaya Ekonomidimana ongkos yang harus dikeluarkan untuk memberi makan dan pakaian anak-anak dapat besar. Keterbatasan dan Biaya Alternatifdimana setelah mempunyai anak, kebebasan orang tua berkurang, hal ini disebabkan karena orang tua sudah memiliki tanggung jawab kepada anak. Kebutuhan Fisikdimana begitu banyak pekerjaan rumah tambahan yang diperlukan untuk mengasuh anak. Orang tua mungkin lebih lelah. Pengorbanan Kehidupan Pribadi Suami Istridimana waktu untuk dinikmati oleh orang tua sendiri berkurang dan orang tua berdebat tentang pengasuhan anak.

Kehadiran seorang anak seharusnya menjadi sebuah berkah dan rahmat dari Allah SWT dan diharapkan dapat memberi manfaat yang besar kepada keluarga tersebut. Anak merupakan suatu amanah dari Allah yang harus dijaga. Sehingga tidak sepatutnya anak diperjualbelikan seperti yang marak terjadi. Anak dapat memberikan peran dan fungsi yang positif bagi keluarga jika diasuh dengan baik, tenteram, dan penuh kasih sayang. Orang tua yang tidak menjaga amanah atas anaknya merupakan dosa besar dan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Oleh karena itu, sebagai umat muslim hendaknya orang tua menjaga dan membesarkan anaknya sebagai amanah dari Allah SWT.

2.2 Data-Data Perdagangan Anak di IndonesiaPerdagangan manusia (human trafficking) merupakan masalah yang cukup kompleks, baik di tingkat nasional maupun internasional. Berbagai upaya telah dilakukan guna mencegah terjadinya praktek perdagangan manusia. Secara normatif, aturan hukum telah diciptakan guna mencegah dan mengatasi perdagangan manusia.Perdagangan anak yang terjadi di Indonesia telah mengancam eksistensi dan martabat kemanusiaan yang membahayakan masa depan anak. Sisi global, perdagangan anak merupakan suatu kejahatan terorganisasi yang melampaui batas-batas negara, sehingga dikenal sebagai kejahatan transnasional. Indonesia tercatat dan dinyatakan sebagai salah satu negara sumber dan transit perdagangan anak internasional, khususnya untuk tujuan seks komersial dan buruh anak di dunia.Bisnis perdagangan orang saat ini banyak menjerat anak. Bisnis seperti ini merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Perdagangan anak sendiri sebenarnya telah meluas dalam bentuk jaringan kejahatan yang terorganisasi dan tidak terorganisasi, baik bersifat antarnegara maupun dalam negeri, sehingga menjadi ancaman terhadap masyarakat, bangsa, dan negara, serta terhadap norma-norma kehidupan yang dilandasi penghormatan terhadap hak asasi manusia.Lebih ironis lagi bahwa praktik perdagangan orang ini ternyata banyak terjadi di Negara ini. Orang sebagai obyek dagang dalam transaksi ini yang mayoritas adalah anak perempuan, sebenarnya bukan fenomena baru di negara ini. Untuk menghitung jumlah pastinya seperti halnya sebuah fenomena puncak gunung es, dimana yang kelihatan hanyalah sebagian kecil saja, akan tetapi jumlah yang lebih besar banyak yang luput dari sorotan media maupun masyarakat pada khususnya. Berbagai survei, penelitian, dan pengamatan menunjukkan kasus perdagangan orang cenderung meningkat dan kian memprihatinkan.Data dari Kepolisian RI menyebutkan bahwa sejak tahun 2001 jumlah kasus perdagangan anak khususnya perempuanada178 kasus, 2002 ada 155 kasus, 2003 ada 134 kasus, tahun 2004 ada 43 kasus, dan tahun 2005 terdapat 30 kasus. Contoh nyata dari kasus perdagangan anak terjadi di Medan, yang kasus posisinya adalah sebagai berikut :Tony (52), terdakwa kasus perdagangan orang (trafficking), pada hari kamis tanggal 22 Feb 2007 akhirnya divonis 3 tahun 7 bulan potong masa tahanan oleh majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan. Tony dinyatakan bersalah melanggar Pasal 83 UU No 23 Th 2002 tentang Perlindungan Anak. Menjawab pertanyaan majelis hakim pimpinan Ahmad Sharif, SH, Tony mengaku baru terlibat dalam masalah ini ketika kurang lebih dua tahun lalu dikarenakan terlilit hutang. Dalam melakukan aksinya, Tony bekerja sama dengan Sum, germo dari Batam yang hingga kini Sum masih buron Selama tiga bulan, Tony sempat menjadi buron dan pada akhirnya ditangkap oleh Polda Sumatera Utara. Seperti yang telah dilansir sebelumnya, Kasus Tony, tersebut menjadi perhatian para pemerhati perlindungan anak. Sejak kasus itu digelar, pusat perhatian LSM yang concern terhadap perlindungan anak dan perempuan, para praktisi hukum, dan kalangan kampus, tertuju ke persidangan itu. Tony ditangkap dan kemudian diadili berdasarkan laporan Linda (15) yang dijanjikan oleh Tony lapangan pekerjaan sebagai baby sitter. Akan tetapi kenyataannya ia malah dipekerjakan sebagai purel diskotek di kawasan Jl. A Yani Medan. Majelis hakim membantah bahwa jatuhnya putusan tersebut karena tekanan masyarakat. Tapi, kuatnya desakan dan gerakan sejumlah LSM dan pemerhati anak-anak menjadi catatan tersendiri, baik bagi jaksa maupun majelis. "Kami sangat menghormati aspirasi yang berkembang di masyarakat. Tapi, kami independen dan tidak bisa diintervensi,"ujar Ahmad Syarif, SH, salah seorang majelis hakim kepada koran ini kemarin. Jumlah kasus trafficking dari tahun ke tahun terus meningkat di Sumatera Utara (Sumut). Praktik trafficking yang berkembang antara lain perdagangan perempuan untuk kepentingan prostitusi dan penculikan/penjualan bayi. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut mencatat pada 2004 jumlah kasus trafficking di Sumut sebanyak 81 kasus. Pada 2005 sebanyak 125 kasus. Setiap tahun jumlah kasus trafing meningkat hingga 2006 menjadi sebanyak 153 kasus.Menyimak kasus di atas, persoalan perdagangan anak banyak sekali terjadi di daerah-daerah. Kendatipun demikian, pada prakteknya belum banyak pihak yang berinisiatif untuk mengatasi masalah ini, padahal masyarakat sebenarnya sudah sadar betul dan mengetahui tentang adanya proyek perdagangan orang yang terorganisir. Dari contoh kasus diatas persoalan ini memang menimbulkan permasalahan yang penanganannya memerlukan perhatian yang sangat serius.Dalam kasus perdagangan anak perempuan, pelaku terbagi pada pelaku perekrutan (mengajak, menampung atau membawa korban), pengiriman (mengangkut, melabuhkan atau memberangkatkan korban), pelaku penyerahterimaan (menerima, mengalihkan atau memindahtangankan korban). Selain itu, dalam lingkup hubungan antara Majikan dan pekerja, dapat juga dikategorikan sebagai sebagai pelaku ketika seorang Majikan menempatkan pekerjanya dalam kondisi eksploitatif. Kondisi yang sering terjadi adalah tidak membayar gaji, menyekap pekerja, melakukan kekerasan fisik atau seksual, memaksa untuk terus bekerja, atau menjerat pekerja dalam lilitan utang.Sungguh ironis mengetahui bahwa keberadaan Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang khususnya anak masih belum mampu secara maksimal menjadi payung hukum dan untuk kemudian menjerat para pelaku perdagangan anak perempuan yang semakin hari semakin terorganisir dan profesional.Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran bagi masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama menghilangkan kezaliman tersebut karena bagaimanapun juga generasi muda adalah para penerus bangsa dan kejahatan-kejahatan tersebut telah melanggar hak asasi manusia bagi setiap orang yang mengalaminya.2.3 Hukum Perdagangan Anak2.3.1 Hukum dalam IslamMasalah perdagangan manusia (human trafficking) memang sudah tak asing lagi didengar telinga masyarakat dunia. Perdagangan manusia merupakan persoalan yang paling jahat di seluruh dunia. Dibandingkan kejahatan kekerasaan lain, perdagangan manusia berhasil dengan kekerasaan dan exploitasi sexual atau buruh dengan cara yang berulang kali selama banyak waktu. Salah satu perdagangan manusia yang paling marak adalah perdagangan anak. Anak sering diexploitasi dan diperjualbelikan oleh segelintar orang yang menginginkan keuntungan. Lalu bagaimanakah pandagan Islam terhadap masalah perdagangan manusia?Selain melanggar hak-hak asasi manusia dan merupakan kejahatan kemanusiaan , trafiking terhadap perempuan dan anak juga tidak dibenarkan dalam perspektif Islam, apapun alasannya. Kyai Husein Muhammad dari Fahmina Institute, Cirebon mengatakan bahwa dari teks Al-Qur?an maupun Sunnah (hadist) yang menyatakan kewajiban manusia untuk menjaga prinsip-prinsip kemanusiaan, misalnya pada Q.S. Al-Isra 70, yang menyatakan bahwa : ?Sungguh, Kami benar-benar memuliakan anak-anak Adam (manusia). Kami sediakan bagi mereka sarana dan fasilitas untuk kehidupan mereka di darat dan di laut. Kami beri rizki yang baik-baik, serta Kami utamakan mereka di atas ciptaan Kami yang lain?. Pernyataan tersebut jelas tidak membedakan baik itu perempuan maupun laki-laki. Maka sangat jelas, bahwa Islam mengharamkan perbudakan dan trafiking atau perdagangan manusia dalam arti yang lebih umum.Manusia adalah makhluk Allah Subhanahuwataala yang dimuliakan, sehingga Anak adam ini dibekali dengan sifat-sifat yang mendukung untuk itu, yaitu seperti akal untuk berfikir, kemampuan berbicara, bentuk rupa yang baik serta hak kepemilikan yang Allah sediakan di dunia yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya. Tatkala Islam memandang manusia sebagai pemilik, maka hukum asalnya ia tidak dapat dijadikan sebagai barang yang dapat dimiliki atau diperjual belikan, hal ini berlaku jika manusia tersebut bersetatus merdeka.Dewasa ini kita dapati maraknya eksploitasi manusia untuk dijual atau biasa disebut dengan Human Trafficking, terutama pada wanita untuk perzianaan atau dipekerjakan tanpa upah dan lainnya, ada juga pada bayi yang baru dialahirkan untuk tujuan adopsi yang tentunya ini semua tidak sesuai dengan syariah dan norma-norma yang berlaku (urf), kemudian bila kita tinjau ulang ternyata manusia-manusia tersebut bersetatus Hur (merdeka).Perbudakan manusia terhadap manusia telah berjalan berabad-abad lamanya. Tetapi, para ahli sejarah tidak dapat menentukan kapan permulaan perbudakan itu dimulai. Sebagian ahli sejarah berpendapat, bahwa perbudakan itu dimulai bersamaan dengan perkembangan manusia, karena sebagian manusia memerlukan bantuan tenaga dari sebagian manusia lainnya. Karena sebagian manusia merasa mempunyai kekuatan, maka lahirlah keinginan menguasai orang lain dan terjadilah perbudakan manusia atas manusia dan perdagangan manusia (traficking).Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw, mengajarkan adanya persamaan antara sesama manusia. Tiada bangsa yang lebih mulia dari bangsa lainnya, tiada suku yang lebih mulia dari suku lainnya. Bahkan, tiada orang yang lebih mulia dari orang lain kecuali hanya takwanya kepada Allah Swt.Karena itulah Islam berusaha untuk membebaskan manusia dari perbudakan di bumi ini, sebab perbudakan itu melahirkan kesengsaraan bagi para dhuafa (orang-orang lemah atau para kaum miskin).Di bawah ini dikutipkan beberapa ayat yang ada hubungannya dengan persamaan manusia, perbudakan dan pembebasannya:Artinya:a. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat [49]: 13).b. Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan. (Al-Balad [90]: 11-13).c. .....dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang Mukmin....(An-Nisa [4]: 92).d. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat melanggar sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak......(Al-Maidah [5]: 89)

Pandangan fiqih tentang perdagangan manusiaHukum dasar muamalah perdagangan adalah mubah kecuali yang diharamkan dengan nash atau disebabkan Ghoror ( penipuan) . Dalam kasus perdagangan manusia ada dua jenis yaitu manusia merdeka ( hur ) dan manusia budak (abd /amah). Dalam pembahasan ini akan kami sajikan dalil-dalil tentang hukum perdagangan pada manusia merdeka saja. Yang mana hal ini akan kami ambilkan dari Al quran dan sunah serta beberapa pandangan ahli fiqh dari berbagai madzhab tentang masalah ini

Dalil Al Quran Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.Sudut pandang pengambilan hukum dari ayat ini adalah; bahwa kemuliaan manusia yang Allah taala berikan kepada mereka yaitu dengan dikhususkannya beberapa nikmat yang tidak diberikan kepada makhluk yang lain sebagai penghormatan untuk manusia, kemudian dengannya mendapatkan Taklif syariah seperti yang telah dijelaskan oleh mufassirin dalam penafsiran nayat tersebut diatas , maka hal tersebut mengharuskan bahwa manusia tidak direndahkan dengan cara disamakan dengan barang dagangan, semisal hewan atau yang lainnya yang dapat dijual belikan. Kata Imam Al Qurtuby dalam tafsir ayat ini .dan juga manusia dimuliakan disebabkan mereka mencari harta untuk dimiliki secara pribadi tidak seperti hewan, .Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah SWT mengancam keras Pebisnis manusia merdeka ini denga ancaman permusuhan dihari Qiamat , diriwayat oleh Imam Bukhari dan ImamAhmad dari hadits Abu Hurairah : : : .Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu dari Nabi Salallahu alaihi wa salam bersabda: Allah Taala berfirman: Tiga golongan yang Aku adalah sengketa mereka dihari Qiamat; seorang yang bersumpah atas nama-Ku lalu ia tidak menepatinya, dan seseorang yang menjual manusia merdeka dan memakan harganya, dan seseorang yang menyewa tenaga seorang pekerja kemudian ia selesaikan pekerjaan itu akan teteapi tidak membayar upahnya.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa agama Islam secara jelas mengharamkan segala jenis perdagangan manusia termasuk perdagangan anak. Manusia adalah mahluk mulia dan tidak patut untuk dipejualbelikan layaknya barang benda.

2.3.2 Hukum dalam Perundang-undanganKasus-kasus pewrdagangan anak, terutama perdagangan anak di Indonesia ini sebenarnya telag diatur dalam undang-undang. Kasus perdagangan anak juga sangat melanggar undang-undang setrta hukum dan norma yang berlaku di Indonesia tercinta ini. hukum dari perdagangan anak ini tercantum dalam undang-undang nomer 26 tahun 2000 yang berbunyi menjelaskan bahwa pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perburbuatan seseoaranf atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disenagaj maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasu dan/atau mencabut hak asasi manusia seseoarang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang, akan dapat di pidana seacra ukum dengan adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Undang-undang tersebut mendefisinisakan pelanggaran HAM. Selain itu, perdanagan manusi khusunya perdagangan anak, juga melanggar undang-undang nomer 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.Kita dapat melihat bahwa bayak yang dilanggar dari perdagangan anak, mulai dari HAM hingga kumum yang berlaku. Hukuman yang diperikan kepada terpidana kasus perdagangan, sesuai dengan pasal 17 UU No.21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang menyebutkan bahwa hukuman yang diberikan adalah hukuman pernjara selama minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun. selain itu terdapat pula denda bagi terpidana kasusu perdagangan manusia sebesar paling sedikit adalah Rp 160.000.000 dan paling banyak adalah Rp 800.000.000.Jika kita lihat diatas, hukum perdagangan anak di Indonesia sudah cukup baik, namun dalam praktinya, hukum ini masih kurang tegas dan masih banyak sekali kasusu yang tidak terungkap. Kasusu ini juga sangat rawan penyuapan karena hasil dari perdagangan anak memberikan hasil dan keuntungan yang bersar pada pelakunya yang mengakibatkan bahwa praktik perdagangan anak ini tak mungkin hanya menjual satu atau dua anak saja, dan tidak hanya dilakukan sekali saja, yang ddengan hal tersebut keuntungan pelaku akan menjadi lebih besar. Hukuman dengan yang disebutkan di atas kira-kira terasasa sangat kecil dan tidak seimbang dengan hasil dari perdagangan manusia itu sendiri.Dari penjabaran dia atas, kita dapat melihat bahwa sudah ada hukuman dan pasal yang mengatur tentang kasusu perdagangan manusia terutama perdagangan anak. Namun, hukum-hukum tersebut tidak dapat berjalan dengan baikl jika kita dan masyarakat tidak mematuhinya dan masih terus memikirkan kekayaan untuk diri sendiri dengan cara apapun sekalipun dengan memperdagangkan anak.2.4 Faktor-Faktor Penyebab Perdagangan AnakPada hari ini, banyak sekali kasus yang melibatkan perjualan manusia di Indonesia, terutama penjualan anak. Di Indonesia sendiri penjualan anak bukanlah suatu topik yang baru melainkan sudah menjadi topik yang sudah di ketahui oleh masyarakat luas. Perdagangan anak atau penjualan anak sudah menjadi salah satu masalah kriminalitas yang paling dicari dan diburu oleh kepolisian Indonesia. Alasan perdagangan anak menjadi salah satu kasus yang paling dicari dan diburu oleh kepolisian indonesia adalah praktek perdagangan anak sudah melanggar hak asasi manusia (HAM), terutama hak asasi seorang anak. Perdagangan anak susah diatasi karena praktek perdagangan anak di Indonesia sangat terorganisir dan sangat bersih, sehingga susah dilacak jejak-jejak bekas praktek perdagangan anak tersebut. Praktek perdagangan anak sangat subur di indonesia dikarenakan kondisi masyarakat indonesia sekarang. Seperti yang diketahui kondisi masyarakat Indonesia sekarang sangat mengkhawatirkan. Banyak sekali masyarakat Indonesia yang masih hiudp dibawah standar penghidupan. Oleh karena itu, mereka berbondong-bondong mencari penghasilan tambahan untuk dapat menghidupi diri mereka sendiri, walaupun jalan yang mereka ambil terbilang haram mereka tetap saja melaksanakan. Sehingga, salah satu praktek perdagangan anak di Indonesia adalah kondisi ekonomi rakyak Indonesia. Tetapi bukan hanya itu saja faktor-faktor perdagangan anak di Indonesia. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah:a. Kemiskinan (permasalahan ekonomi) Semenjak terjadinya krisis ekonomi mulai tahun 1997, semuanya berdampak kepada seluruh elemen masyarakat. Perekonomian semakin sulit, semakin banyak rakyat yang tidak mampu untuk membiayai keluarganya khususnya anaknya. Mulai dari biaya pendidikan, kehidupan sehari-hari. Himpitan perekonomian itu membuat keluarga khususnya orangtua semakin mudah terbujuk rayu oleh agen atau pelaku perdagangan anak dengan iming-iming serta janji palsu akan pekerjaan yang dapat membuat hidup lebih baik lagi dengan gaji yang besarb. Kurangnya pendidikan dan informasi Kekurangtahuan akan informasi mengenai perdagangan anak membuat orang-orang lebih mudah untuk terjebak menjadi korban perdagangan anak khususnya di pedesaan dan terkadang tanpa disadari pelaku perdagangan anak tidak menyadari bahwa ia sudah melanggar hukum.c. Terjerat hutang Penjeratan hutang yang terjadi terkadang dijadikan sebagai senjata untuk membuat orang menjadi penghambaan. Sehingga terkadang membuat orangtua yang memiliki hutang untuk memberikan anaknya untuk bekerja, diperistri, atau lain hal untuk membayar hutang-hutang tersebut.d. Kehancuran keluarga (broken home) Kehancuran keluarga atau permasalahan keluarga dapat menjadi pemicu terlibatnya anak dalam perdagangan, hal ini dikarenakan membuat anak tidak betah dirumah dan merasa tidak nyaman sehingga menyebabkan anak lari dari rumah. e. Terbatasnya kesempatan kerja Ketidakjelasan akan pekerjaan membuat orang menjadi pasrah dalam menerima pekerjaan untuk dipekerjakan sebagai apa saja dan hal ini yang membuat para pelaku menargetkan anak sebagai korban. f. Akibat peperangan Peperangan dapat menjadi faktor dimana karena peperangan melemahkan jiwa masyarakat sehingga terkadang membuat anak untuk lebih mudah diperdagangkan.g. Budaya Budaya merupakan faktor untuk seorang anak terlibat menjadi korban perdagangan anak, hal ini disebabkan karena nilai yang berkembang menyatakan bahwa seorang anak harus membayar semua kebaikan yang dilakukan orangtuanya. Hal ini yang membuat orang tua dan anak itu sendiri untuk terjebak menjadi korban.Pada akhirnya, praktek perdagangan anak di indonesia sangat banyak dikarenakan fator-faktor diatas. Tetapi, faktor yang paling penting dalam mendukung adanya praktek perdagangan anak adalah faktor ekonomi. Ini dikarenakan, pada zaman sekarang ekonomi adalah hal yang paling utama dalam penentuan apakah seseorang dapat terus hidup atau tidak. Tetapi, semua itu kembali lagi kepada kahlak seoarang manusia. Bila akhlak seorang manusia kuat maka ia akan mencari jalan lain yang lebih baik untuk dapat menyelesaikan masalah mereka, terutama masalah kemiskinan. Bila akhlak mereka jelek maka hal sebaliknya akan terjadi. Sehingga, sangat diperlukan pendidikan akhlak di indonesia, terutama akhlah dalam umat Islam. 2.5 Dampak Perdagangan AnakPara korban perdagangan manusia mengalami banyak hal yang sangat mengerikan. Perdagangan manusia menimbulkan dampak negatif yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan para korban. Tidak jarang, dampak negatif hal ini meninggalkan pengaruh yang permanen bagi para korban. Dari segi fisik, korban perdagangan manusia sering sekali terjangkit penyakit. Selain karena stress, mereka dapat terjangkit penyakit karena situasi hidup serta pekerjaan yang mempunyai dampak besar terhadap kesehatan. Tidak hanya penyakit, pada korban anak-anak seringkali mengalami pertumbuhan yang terhambat.

Sebagai contoh, para korban yang dipaksa dalam perbudakan seksual seringkali dibius dengan obat-obatan dan mengalami kekerasan yang luar biasa. Para korban yang diperjualbelikan untuk eksploitasi seksual menderita cedera fisik akibat kegiatan seksual atas dasar paksaan, serta hubungan seks yang belum waktunya bagi korban anak-anak. Akibat dari perbudakan seks ini adalah mereka menderita penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, termasuk diantaranya adalah HIV / AIDS. Beberapa korban juga menderita cedera permanen pada organ reproduksi mereka.

Dari segi psikis, mayoritas para korban mengalami stress dan depresi akibat apa yang mereka alami. Seringkali para korban perdagangan manusia mengasingkan diri dari kehidupan sosial. Bahkan, apabila sudah sangat parah, mereka juga cenderung untuk mengasingkan diri dari keluarga. Para korban seringkali kehilangan kesempatan untuk mengalami perkembangan sosial, moral, dan spiritual. Sebagai bahan perbandingan, para korban eksploitasi seksual mengalami luka psikis yang hebat akibat perlakuan orang lain terhadap mereka, dan juga akibat luka fisik serta penyakit yang dialaminya. Hampir sebagian besar korban diperdagangkan di lokasi yang berbeda bahasa dan budaya dengan mereka. Hal itu mengakibatkan cedera psikologis yang semakin bertambah karena isolasi dan dominasi. Ironisnya, kemampuan manusia untuk menahan penderitaan yang sangat buruk serta terampasnya hak-hak mereka dimanfaatkan oleh penjual mereka untuk menjebak para korban agar terus bekerja. Mereka juga memberi harapan kosong kepada para korban untuk bisa bebas dari jeratan perbudakan.Para korban Perdagangan Manusia mengalami banyak hal yang mengerikan.Luka fisik dan psikologis, termasuk penyakit dan pertumbuhan yang terhambat, seringkali meninggalkan pengaruh permanen yang mengasingkan para korbandari keluarga dan masyarakat mereka. Para korban Perdagangan Manusia seringkali kehilangan kesempatan penting mereka untuk mengalami perkembangan sosial, moral, dan spiritual. Dalam banyak kasus eksploitasi pada korban Perdagangan Manusia terus meningkat: seorang anak yang diperjualbelikan dari satu kerja paksa dapat terus diperlakukan dengan kejam di tempat lain. Di Nepal, para anak gadis yang direkrut untuk bekerja di pabrik-pabrik karpet, hotel-hotel, dan restoran kemudian dipaksa untuk bekerja di industri seks di India. Di Filipina dan banyak negara lain, anak-anak yang awalnya berimigrasi atau direkrut untuk hotel dan industri pariwisata, seringkali berakhir dengan terjebak di dalam rumah-rumah pelacuran. Suatu kenyataan kejam mengenai perdagangan budak moderen adalah para korbannyaseringkali dibawa dan dijual.

Tina, seorang anak berusia belasan tahun dari desa pedalaman Indonesia, berhutang ratusan dolar untuk selama empat bulan mengikuti pelatihan pembantu rumah tangga dan tinggal selama lebih dari empat bulan di sebuah pusat tenaga kerja Indonesia. Dari sana, Tina, seperti kebanyakan gadis Indonesia lainnya, diangkut ke Malaysia dengan keyakinan akan bekerja sebagaipembantu rumah tangga bagi pasangan Malaysia. Dipaksa untuk bekerja hingga 15 jam sehari dalam bisnis keluarga dimana ia tidur di lantai, Tina diberitahu bahwa gajinya akan ditahan hingga ia menyelesaikan dua tahun kontraknya. Setelah berkali-kali diperlakukan dengan kejam secara fisik, ia mencari tempat perlindungan di penampungan korban milik LSM Malaysia. Tina telahmelaporkan kasusnya kepada polisidan dia telah diberi perpanjangan visa imigrasi supayadapat melanjutkankasusnya melawan majikannya di Malaysia.

Para korban yang dipaksa dalam perbudakan seks seringkalidibius dengan obat-obatan dan menderita kekerasan yang luar biasa. Para korban yang diperjualbelikan untuk eksploitasi seksual menderita cedera fisik dan emosional akibat kegiatan seksual yang belum waktunya, diperlakukan dengan kasar, dan menderita penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks termasuk HIV/AIDS. Beberapa korban menderita cedera permanen pada organ reproduksi mereka. Selain itu, korban biasanya diperdagangkan di lokasi yang bahasanya tidak mereka pahami, yang menambah cedera psikologis akibat isolasi dan dominasi. Ironisnya, kemampuan manusia untuk menahan penderitaan yang amat buruk dan terampasnya hak-hak mereka malah membuat banyak korban yang dijebak terus bekerja sambil berharap akhirnya mendapatkan kebebasan.Perdagangan Manusia adalah Pelanggaran Hak Asasi Manusia, Pada dasarnya, Perdagangan Manusia melanggar hak asasi universal manusia untuk hidup, merdeka, dan bebas dari semua bentuk perbudakan. Perdagangan anak-anak merusak kebutuhan dasar seorang anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman dan merusak hak anak untuk bebas dari kekerasan dan eksploitasi seksual.

BAB IIIOPTIMALISASI PRANATA SOSIAL TERHADAP SOLUSI PERDAGANGAN ANAK DI INDONESIA

Di Indonesia ini, terdapat berbagai macam lembaga dan pranata sosial. Pranata sosial, jika kita lihat mempunyai pengertian suatu system tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktifitas-aktivitas untuk memenuhi komplek-komplek kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Untuk kasus perdagangan anak kini, kita dapat menyebutkan keluarga islam, Masjid dan Masyarajat sebagai pranata sosial yang berperan penting dalam pemberantasan perdagangan anak.3.1 Keluraga IslamDalam kehiduapan sehari-hari ini ada sebuah pranata sosial yang perannya sangat penting dalam kehiduapan manusia dan menjadi segala sumber pembentukan manusia dari kecil hingga dewasa, Pranata sosial tersebut adalah keluarga. Keluarga adalah tempat seseorang menerima pendidikan yang paling awal sebelum masuk ke dunia sekolah. Keluargalah yang memgang peranan paling bersar dalam hal ini. Sebagai langkah optimalisasi, keluarga harus dapat memberikan proteksi atau perlindungan kepada anak sehingga dapat terhindar dari tindak kriminal perdagangan anak, menjaga agar anak tidak terlalu mencolok di dalam pergaulan, serta memberikan siraman bagi batin agar anak merasa dapat selalu tenang dan nyaman di dalam keluarga itu sendiri3.2 MasjidSelain keluarga, terdapat sebuah pranata yang tidak kalah penting dan pranata sosial ini bersumber atau berunsurkan spiritual sehingga pranata ini berhubungan dengan agama, khususnya agama Islam, pranata sosial tersebut adalah Masjid. Masjid menjadi sebuah tempat spiritual bagi pemeluk agama Islam, dan di dalam pencegahan dan pemberantasan perdagangan anak, masjid dapat berguna untuk menampung sementara para korban perdagangan anak yang berhasil kabur, serta memberikan siraman rohani bagi para korban perdagangan anak. Sebagai optimalisasi, masjid dapat tetap menjaga fungsi utamanya yaitu untuk ibadah, serta mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai tempat berlindung sementara dan tempat spiritual sebagai obat rohani bagi para korban perdagangan anak.3.3 Masyarakat (Sekolah, LSM, dan Pemerintah)Pranata sosial yang terdapat dalam lingkup masyarakat ada tiga bagian, yaitu sekolah, Lembaga Masyarajat dan Pemerintah. Pranata sosial masyarakat yang pertama adalah sekolah. Pranata sosial ini adalah salah satu dari beberapa pranata sosial yang berperan penting dalam pemberantasan perdagangan anak. Kita dapat menyebutkan seperti itu karena sekolahlah yang memberikan ilmu agar murid tidak terjerumus kedalam tindak criminal perdagangan anak. Untuk langkah optimalisasi, sekolah dapat memberikan penyuluhan lebih lanjut mengenai perdagangan manusia terutama perdagangan anak, serta juga memperkenalkan bahaya serta langkah antisipasi perdagangan anak tersebut. Selain itu sekolah juga dapat mengoptimalisasikan langkah preventif lainnya, yaitu memberikan fasilitas keamanan yang lebih baik untuk mengantisipasi modus-modus yang digunakan untuk melakukan perdaganga nanak yang biasanya dimulai dengan tindak penculikan.Kedua adalah LSM. LSM yang bergerak di bidang pemberantasan dan antisipasi perdagangan anak salah satunya adalah Lembaga Perlindungan Anak (LPA). Optimalisasi untuk pemberantasan dan antisipasi perdagangan anak juga dapat dilakukan dari LSM. Optimalisasi yang dapat dilakukan dari LSM adalah peningkatan perlindungan anak, terutama perlindungan dan pemulihan anak yang pernah menjadi korban perdagangan anak. Selain ituj uga LSM dapat membantu dalam hal pemberian hukuman yang setimpal dengan memberikan masukan-masukan kepada pihak yang berwajib dalam memberantas kasus dan pelaku perdagangan anak. Untuk yang ketiga, terdapat pula peran yang cukup penting danbesar, yaitu peran pemerintah. Dalam pemberantasan dan pencegahan kasus perdagangan anak. Dalam pencegahan dan pemberantasan kasus ini, pemerintah berfungsi sebagai pengatur hampir keseluruhan tidnakan, mulai dari pencegahan, hingga pemberantasan serta pemberian hukuman bagi para pelakuper dagang anak kini. Dari fungsi di atas, kita dapat mengetahui bahwa sebagai langkah optimalisasi pemerintah dalam pemberantasan danpencegahan tindak kriminal perdagangan anak, pemerintah dapat memperkuat hukum yang mengatur mengenai perdagangan anak dan juga memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat agar terhindar dari tindak kriminal perdagangan anak, serta memberikan proteksi bagi anak anak baik yang pernah atau tidak pernah mejadi korban perdagangan anak.

BAB 4PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Perdagangan manusia termasuk perdagangan anak jelas merupakan suatu pelanggaran hak asasi manusia dan merendahkan hakekat manusia sebagai mahluk mulia yang telah diciptakan oleh Tuhan. Secara hukum negara itu sudah jelas-jelas dilarang. Namun pada kenyataannya data membuktikan bahwa jumlah perdagangan anak masih di level yang mengerikan. Dari pandangan Islam sendiri perdagangan anak tidak sesuai dengan ajaran agama, bahkan Islam pernah berhasil menghilangkan salah satu jenis perdagnan manusia yaitu perdagagan budak. Di sini sangat jelas dapat disimpulkan bahwa Islam melarang keras perdagangan anak karena merusak hakekat manusia sebagai mahluk yang mulia dan melanggar azas bahwa sesungguhya setiap manusia itu setara. Faktor penyebab utama masih terjadi perdangangan anak memang masih dipegang oleh kondisi ekonomi yang kurang baik dari sosial masyarakat itu sendiri. Ditambah lagi kuranggnya pendidikan dan pengetahuan dari sosial masyarakat menambah parah maraknya perdangan anak di Indonesia. Solusi harus segera diberikan karena isu ini memiliki dampak yang sangat negatif khusunya bagi para korban. Dampak yang dapat dirasakan dapat berupa secara fisik dan secar psikis. Banyak sekali yang dapat dilakukan untuk memperbaiki masalah ini contohnya adalah kembali menyehatkan kehidupan sosial masyarakt. Ini dapat berupa penguatan kembali nilai agama para masyarakat. Pemerintah juga dapat berpertan dalam menyediakan fasilitas untuk meningkatkan kualitas ekonomi dan pendidikan masyarakay selain dari hanya melukakan pengawasan dan penegakan hukum.

4.2 SaranSaran yang dapat diberikan penulis adalah meningkatkan mutu pendidikan agama di Indonesia, terutama mutu pendidikan agama islam. Sehingga bila mutu pendidikan agama islam di tingkatkan maka akan membuat mayarakat indoensia semakin bijak dalam mengambil setiap langkah yang dia ambil dalam kehidupan. Lalu, untuk mengatasi perdangan anak, sebaikanya pemerintah lebih meningkatkan pemburuan para oknum dibalik perdangan anak tersebut dan juga memberikan ganjarajn yang sesuai. Perdagangan anak sendiri juga bisa dicegah, yaitu dengan meningkatkan mutu ekonomi dan pendidikan masyarakat.

25

DAFTAR PUSTAKA https://www.google.com/search?q=LSM&aq=f&oq=LSM&aqs=chrome.0.57j60l3j59j62.518j0&sourceid=chrome&ie=UTF-8, diakses pada tanggal 14 Mei 2013 pukul 22.02 Perdagangan Manusia di Indonesia, Febrina Purba, http://febrianipurba.blogspot.com/2012/02/makalah-perdagangan-manusia-di.html, diakses pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 19:52

Apakah Korban Manusia dan Sosial Akibat Perdagangan Manusia, anonim,http://againstwomantrafficking.blogspot.com/2009/04/apakah-korban-manusia-dan-sosial-akibat.html, diakses pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 17:02

http://www.lawskripsi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=18&Itemid=18, diakses pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 21:03

http://kanaltiga.blogspot.com/2013/02/kasus-perdagangan-manusia-indonesia.html?m=1, diakses pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 21:24

http://hartonookey.wordpress.com/2013/03/22/perdagangan-manusia-human-trafficking/, diakses pada tanggal 8 Mei 2013 pukul 18:10

PerdaganganManusiadalam HAM; UU No.23 tahun 2002, Nova Farida,http://novafarid.blogspot.com/2012/12/perdagangan-manusia-dalam-hukum-ham-dan.html, diakses pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 20:32

Perdagangan Anak, Bambang Rustanto, http://bambang-rustanto.blogspot.com/2011/08/perdagangan-anak.html, diakses pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 22:02 Perdagangan Anak, Anonim, http://www.ykai.net/index.php?view=article&id=89%3Aperdagangan-anak&option=com_content&Itemid=121, diakses pada tanggal 9 Mei 2013 pukul 23:06 Perdagangan Manusia Dalam Hukum Ham dan Perspektif Islam, Nova Farida, http://novafarid.blogspot.com/2012/12/perdagangan-manusia-dalam-hukum-ham-dan.html Ruang Lingkup Perdagangan Anak, http://novafarid.blogspot.com/2012/12/perdagangan-manusia-dalam-hukum-ham-dan.html

vi