makalah pbl 18.docx

Click here to load reader

Post on 02-Dec-2015

231 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Batuk pada Anak Selama 2 Minggu Chintia Septiani ThintarsoE7102011083

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510No. Telp (021) 5694-2061, e-mail: chin.addict@live.com

PendahuluanSeorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ke Puskesmas dengan keluhan batuk yang tidak kunjung sembuh sejak 2 minggu yang lalu. Keluhan disertai demam ringan terutama pada malam hari dan nafsu makan serta berat badan menurun. Pada PF didapati kesadaran compos mentis dan tampak sakit ringan. BB 15kg, TD 90/60 mmHg, frekuensi nafas 24x/menit, suhu 37.7C. Lain-lainnya dalam batas normal.Batuk dan serak sangat berhubungan dengan pernafasan, karena dari udara dapat menciptakan reflek batuk dan suara pada pita suara. Maka dari itu, pada saat berbicara ataupun bernyanyi kita membutuhkan udara lebih lagi. Udara merupakan suatu komponen krusial untuk setiap makhluk hidup, terutama oksigen. Oksigen sendiri merupakan gas yang bebas berada di udara dan bercampur dengan gas-gas lainnya. Cara kita mendapatkan oksigen tersebut adalah dengan bernafas melalui hidung. Hidung adalah suatu alat indera manusia yang digunakan untuk bernafas atau menghirup udara. Pada bagian dalamnya memiliki banyak bangunan bangunan kecil dengan fungsi yang beragam. Selain hidung, organ pernafasan lainnya adalah paru-paru yang ada sepasang pada kiri dan kanan. Adapun kelainan dan gejala klinik yang dapat disebabkan oleh karena adanya defek pada saluran nafas.

19

AnamnesisPenyakit yang mengenai sistem pernafasan bisa menimbulkan gejala sesak, batuk, hemoptisis, atau nyeri dada.

SesakTanyakan kepada pasien apakah ada sesak saat beristirahat, atau berbaring mendatar (ortopnea)? Pada saat beraktivitas ringan, berat, sedang? Keadaan tersebut sudah berlangsung kronis atau muncul secara tiba-tiba? Di sertai mengi atau stridor?

Batuk Batuk bisa disebabkan oleh penyakit ringan yang sembuh sendiri seperti pilek, atau bisa juga akibat penyakit pernapasan yang serius seperti karsinoma bronkus. Menentukan durasi batuk, apakah produktif menghasilkan sputum, dan apakah disertai gejala yang menunjukkan penyakit serius seperti hemoptisis, sesak napas, nyeri dada, atau penurunan berat badan adalah hal yang esensial. Apa warna dan berapa banyak sputum? Adakah darah (hemoptisis)? Adakah demam, takikardia. takipnea, nyeri dada, atau sesak napas? Adakah riwayat penyakit pernapasan kronis? Adakah tanda-tanda sinusitis (misalnya nyeri gigi maksilaris, sekret hidung purulen, atau nyeri wajah)? Adakah tanda sistemik yang menunjukkan penyakit serius yang mendasari (penurunan berat badan, demam,anoreksia)? Apakah pasien merokok (sekarang atau dulu)? Pernahkah pasien terpajan penyebab infeksi khusus (misalnya pertusis, alergen, atau obat baru [khususnya inhibitor ACE)?Anamnesis penyakit sebelumnya dapat mengarahkan pada diagnosis saat ini. Gejala terkait seperti sakit telinga, hidung tersumbat, sakit tenggorok, nyeri ulu hati atau sakit perut membantu melokalisir tempat iritasi tersebut.1,2

Riwayat Penyakit Dahulu Apakah pasien sebelumnya memiliki kelainan pernafasan? Seperti misalnya asma, penyakit paru obstruksi kronis, tuberculosis atau pernah terpajan tuberculosis? Bagaimana kepatuhan pasien dalam terapi? Apakah pasien dulu pernah masuk rumah sakit karena sesak napas, apakah pasien memerlukan ventilasi? Adakah kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan foto rontgen toraks?1 AlergiApakah pasien memiliki alergi terhadap obat/allergen lingkungan?1 MerokokApakah pasien saat ini merokok atau dulu pernah merokok? Jika saat ini: berapa banyak, sudah sejak umur berapa?Jika pernah: sudah berhenti berapa lama?1

Pemeriksaan Fisik Inspeksia. Bentuk dinding dada dan tulang belakangb. Jaringan parut (radioterapi atau pembedahan)c. Vena menonjol (obstruksi svc)d. Laju dan irama pernafasane. Pergerakan dinding dada (simetris/tidak, hiperekspansi0f. Retraksi interkostalis/sela iga PalpasiPeriksa danya nyeri tekan, posisi denyut apeks dan ekspansi dinding dada. PerkusiPeriksa apakah ada bunyi tumpul atau hiperresonansi. Konsolidasi : tumpul Efusi pleura: lebih tumpul Pneumotoraks : hiperresonansi Fibrosis: normal Edema paru: normal Auskultasia. Dengarkan suara nafas, pernafasan bronkial dan suara tambahan (ronki, gesekan, mengi)b. Suara nafas yang menurun/tidak terdengar terjadi pada efusi, kolaps, konsolidasi dengan hambatan jalan napas, fibrosis, pneumotoraks, dan naiknya diafragma.c. Pernafasan bronkial bisa ditemukan pada konsolidasi, kolaps, dan fibrosis padat di atas efusi pleura.d. Periksa resonansi vocal dan fremitus vokal.1

Pemeriksaan fisik terkait:1. Telinga. Periksalah adanya benda asing pada saluran telinga luar. Periksa juga adanya radang membran timpani; 2. Nasofaring. Sinus harus dipalpasi untuk mencari nyeri dan ostia diperiksa untuk mencari adanya ingus yang menyumbat. Edema mukosa hidung dan rinorea dapat disebabkan infeksi, alergi atau rinitis vasomotor yang kemudian dapat menyebabkan batuk karena drainase posterior di hipofaring. Faring dan hipofaring harus diperiksa untuk mencari peradangan atau masa; 3. Leher. Menggelembungnya vena-vena leher (neck vein engorgement) dapat terlihat pada pasien dengan masa mediastinal yang batuk karena tekanan pada saraf laringeal rekuren atau saraf frenikus. Distensi vena jugular juga dapat menandakan adanya edema paru yang dapat menyebabkan batuk; 4. Dada. a. Pasien dengan obstruksi saluran napas dapat memperlihatkan rongga dada yang hiperekspansi atau kontraksi otot-otot bantu napas. Auskultasi pada keadaan ini akan terdengar suatu ekspirasi napas yang memanjang; ronki kasar atau mengi (wheezing), b. Penyakit parenkim seperti pneumonia, fibrosis interstisial dan edema paru biasanya menimbulkan suara ronki. Pneumonia juga dapat menyebabkan melemahnya suara napas, pekak (dullness) pada perkusi dan fremitus yang mengeras. Edema paru dan fibrosis interstisial biasanya menyebar meluas di kedua parenkim paru dan menimbulkan bunyi ronki; 5. Abdomen, adanya masa atau peradangan subdiafragma dapat menyebabkan iritasi pada diafragma. Batuk pada keadaan ini biasanya subakut atau kronis. Pemeriksaan abdomen harus dilakukan dengan teliti agar tak terlewatkan kelainan ini.2

PEMERIKSAAN DAHAK. 1. Pewarnaan gram dan pemeriksaan basil tahan asam (BTA) adalah suatu tindakan rutin.2. Kultur mikobakteri dan jamur. Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang didapatkan adanya kelainan foto toraks berupa infiltrat di apeks atau kavitas atau pada pasien imunokompromis.3. Pemeriksaan sitologi dilakukan pada pasien batuk yang dicurigai juga menderita kanker paru4. Pewarnaan silver pada dahak untuk mencari Pneumocystis carinii pada pasien imunokompromis.2

PENCITRAAN. 1. Foto toraks dilakukan pada setiap kasus dimana dicurigai adanya kelainan di pleura, parenkim atau mediastinum. 2. Foto sinus dianjurkan dibuat pada pasien yang merasa nyeri pada palpasi sinus atau adanya ingus purulen dari ostium. Sinusitis kronik pada pasien dengan bronkospasme karena sinusitis kronik sering memicu bronkospasme yang menetap karena mekanisme yang belum diketahui.2

Anatomi Saluran PernapasanSaluran penghantar udara yang membawa udara ke dalam paru adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus, dan bronkiolus. Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Permukaan epitel diliputi oleh lapisan mukus yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar mukosa. Partikel debu yang kasar disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam lubang hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisan mukus. Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan ke superior di dalam sistem pernapasan bagian bawah menuju ke faring. Dari sini partikel halus akan tertelan atau dibatukkan keluar.Tabel 1. Sebab sebab batuk2

Laring terdiri dari rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-otot dan mengandung pita suara. Ruang berbentuk segitiga di antara pita suara (yaitu glotis) bermuara ke dalam trakea dan membentuk bagian antara saluran pernapasan atas dan bawah. Glotis merupakan pemisah antara saluran pernapasan bagian atas dan bawah. Struktur trakea dan bronkus dianalogkan dengan sebuah pohon, dan oleh karena itu dinamakan pohon trakeobronkial. Permukaan posterior trakea agak pipih dibandingkan sekelilingnya karena cincin tulang rawan di daerah itu tidak sempurna, dan letaknya tepat di depan esophagus. Tempat trakea bercabang menjadi bronkus utama kiri dan kanan dikenal sebagai karina. Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk berat jika dirangsang.Gambar 1. Anatomi saluran nafas3

Bronkus utama kiri dan kanan tidak simetris. Bronkus utama kanan lebih pendek dan lebih lebar dibandingkan dengan bronkus utama kiri dan merupakan kelanjutan dari trakea yang arahnya hampir vertikal. Sebaliknya, bronkus utama kiri lebih panjang dan lebih sempit dibandingkan dengan bronkus utama kanan dan merupakan kelanjutan dari trakea dengan sudut yang lebih tajam. Benda asing yang terhirup lebih sering tersangkut pada percabangan bronkus kanan karena arahnya vertikal. Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara).3

Pertahanan Saluran PernapasanPermukaan paru yang luas, yang hanya dipisahkan oleh membran tipis dari sistem sirkulasi, secara teoretis mengakibatkan seseorang rentan terhadap invasi benda asing (debu) dan bakteri yang masuk bersama udara inspirasi; tetapi, saluran respirasi bagian bawah dalam keadaan normal adalah steril. beberapa mekanisme pertahanan yang mempertahankan sterilitas ini adalah refleks menelan atau refleks muntah yang mencegah masuknya makanan atau cairan ke dalam trakea,