makalah pbb

Download Makalah Pbb

Post on 18-Jul-2015

1.120 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENDAHULUAN

Pajak adalah satu komponen pendapatan yang sangat penting bagi perkembangan dan pembangunan bangsa. Di sini pajak digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan untuk diberikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk subsidi. Dalam Negara Republik Indonesia yang kehidupan rakyat dan perekonomiannya sebagian besar bercorak agraris, bumi termasuk perairan dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya mempunyai fungsi penting dalam membangun masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Oleh karena itu bagi mereka yang memperoleh manfaat dari bumi dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, karena mendapat sesuatu hak dari kekuasaan negara, wajar menyerahkan sebagian dari kenikmatan yang diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak. Dasar Hukum Pemungutan : Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1985 tentang Persentase Nilai Jual Kena Pajak Pada Pajak Bumi dan Bangunan. Keputusan Menteri Keuangan No. 1002/KMK.04/ 1985 tentang Tata Cara pendaftaran objek pajak PBB. Keputusan Menteri Keuangan No. 1003/KMK.04/ 1985 tentang Penuntun Klasifikasi dan besarnya Nilai Jual objek Pajak sebagai dasar Pengenaan PBB. Keputusan Menteri Keuangan No. 1006/KMK.04/ 1985 tentang Tata Cara penagihan PBB dan pe- nunjukkan pejabat yang berwenang mengeluarkan Surat Paksa.

1

Keputusan Menteri Keuangan No. 1007/KMK.04/ 1985 tentang Pelimpahan Wewenang Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan/atau Bupai/Walikota madya Kepala Daerah Tingkat II.

Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 816 Ta-hun 1989 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungut- an Pajak Bumi dan Bangunan di Wilayah DKI Jakarta.

Peraturan Pelaksanaan Lainnya. Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994.

Dengan demikian maka Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dapat didefinisikan adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan/atau bangunan berdasarkan Undang-undang nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 12 Tahun 1994. PBB adalah pajak yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan oleh keadaan objek yaitu bumi/tanah dan/atau bangunan. Keadaan subyek (siapa yang membayar) tidak ikut menentukan besarnya pajak.

2

BAB II PEMBAHASAN

2.1.ASAS PAJAK BUMI DAN BANGUNAN 1. 2. 3. 4. Memberikan kemudahan dan kesederhanaan. Adanya kepastian hukum. Mudah dimengerti dan adil. Menghindari pajak berganda.

2.2.OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah termasuk jenis pajak objektif, di mana yang lebih ditekankan dalam pengenaan pajak ini adalah pada objeknya. Hal ini bisa kita lihat dari susunan pasal dalam Undangundang Nomor 12 Tahun 1985 dan perubahannya yang menempatkan pasal tentang objek pajak lebih dahulu daripada subjeknya. Sesuai dengan namanya, objek PBB ini adalah bumi dan/atau bangunan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang PBB. Sementara itu arti bumi dan bangunan dijelaskan dalam Pasal 1 Undang-undang PBB. Objek PBB adalah "Bumi dan/atau Bangunan". Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. Yang termasuk dalam pengertian bangunan adalah :1.

Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks

bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, dan lain-lain yang merupakan satu kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut 3

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Jalan tol Kolam renang Pagar mewah Tempat olah raga Galangan kapal, dermaga Taman mewah Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa Fasilitas lain yang memberikan manfaat.

minyak 2.3.OBJEK PAJAK TIDAK DIKENAKAN PBB Pasal 3 Undang-undang PBB memberikan pengecualian bumi dan/atau bangunan yang tidak dikenakan PBB, yaitu objek pajak yang :1. Digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di

bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan.2. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang

sejenis dengan itu.3. Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman

nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak.4. Digunakan oleh perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan

perlakuan timbal balik.5. Digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional

yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. 2.4.SUBYEK PAJAK DAN WAJIB PAJAK Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang secara nyata : Mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau; Memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau; 4

Memiliki, menguasai atas bangunan, dan/atau; Memperoleh manfaat atas bangunan.

Wajib Pajak adalah Subjek Pajak (orang pribadi/badan) yang dikenakan kewajiban membayar pajak. Pada umumnya setiap orang/badan yang secara nyata mempunyai hak atas bumi atau memperoleh manfaat atas bumi, dan atau memiliki, menguasai dan atau memperoleh manfaat atas bangunan yang bersangkutan bisa dikenakan pajak bumi dan bangunan. Apabila suatu bidang tanah dan bangunan tidak diketahui secara jelas siapa yang menanggung pajaknya, maka yang menetapkan adalah Direktorat Jendral Pajak. Penetapan ini ditentukan berdasarkan bukti-bukti apakah ada perjanjian antara pemilik dan penyewa yang mengatur, siapa yang menanggung kewajiban pajaknya dan siapa yang secara nyata mendapat manfaat atas bidang tanah dan bangunan tersebut. Tetapi bila ternyata orang atau badan yang ditetapkan sebagai pihak yang harus membayar pajak itu menolak, maka yang bersangkutan dapat memberikan keterangan tertulis kepada Direktur Jendral Pajak. Dalam hal ini DirJen Pajak dapat menyetujui atau mungkin menolaknya dengan alasan-alasan tertentu. Jawaban dapat diperoleh dalam jangka waktu satu bulan sejak diterimanya keterangan tersebut.

2.5.SURAT PEMBERITAHUAN OBJEK PAJAK Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP) adalah surat yang digunakan Wajib Pajak untuk melaporkan data objek menurut ketentuan Undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan. 2.5.1. HAK WAJIB PAJAK 1. Memperoleh formulir SPOP secara gratis pada setiap Kantor Pelayanan PBB, Kantor Penyuluhan Pajak, atau tempat lain yang ditunjuk. 5

2.

Memperoleh penjelasan, keterangan tentang tata cara

pengisian maupun penyampaian kembali SPOP pada Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak. 3. 4. Memperoleh tanda terima pengembalian SPOP dari Memperbaiki/mengisi ulang SPOP apabila terjadi Kantor Pelayanan PBB/Kantor Penyuluhan Pajak. kesalahan dalam pengisian dengan melampirkan foto kopi bukti yang sah (sertifikat tanah, akta jual beli tanah, dan lainlain). 5. sebagai 6. Menunjuk orang/pihak lain selain pegawai Direktorat kuasa Wajib Pajak untuk mengisi dan Jenderal Pajak dengan surat kuasa khusus bermeterai, menandatangani SPOP. Mengajukan permohonan tertulis mengenai penundaan penyampaian SPOP sebelum batas waktu dilampaui dengan menyebutkan alasan-alasan yang sah. 2.5.2. KEWAJIBAN WAJIB PAJAK 1. 2. Mendaftarkan Objek Pajak dengan cara mengisi SPOP. Mengisi SPOP dengan jelas, benar, dan lengkap: tafsir 3. Benar berarti data yang diisi sesuai dengan Lengkap berarti terisi semua dan keadaan yang sebenarnya ditandatangani. Menyampaikan kembali SPOP yang telah diisi WP ke Kantor Pelayanan PBB atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat selambat-lambatnya 30 hari setelah formulir SPOP diterima. Jelas berarti dapat dibaca sehingga tidak salah

6

4.

Melaporkan perubahan data Objek Pajak/WP kepada Kantor Pelayanan PBB atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat dengan cara mengisi SPOP sebagai perbaikan/pembetulan SPOP sebelumnya.

2.6.SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK TERUTANG Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) adalah Surat Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KP.PBB) mengenai pajak terutang.yang harus dibayar dalam 1 (satu) tahun pajak. 2.6.1. HAK WAJIB PAJAKa. Menerima SPPT PBB setiap tahun pajak, paling lambat bulan Juni b. c. d. atau satu bulan setelah menyerahkan Surat Pemberitahuan Objek Pajak (SPOP). Mendapatkan penjelasan segala sesuatu yang berhubungan dengan ketetapan PBB. Mengajukan keberatan dan pengurangan. Mendapatkan Surat tanda Terima Setoran (STTS) PBB dari Bank/Kantor Pos dan Giro yang tercantum pada SPPT atau Tanda Terima Sementara (TTS) dari petugas pemungut PBB Kelurahan/Desa yang ditunjuk resmi.

2.6.2. KEWAJIBAN WAJIB PAJAKa. Menandatangani bukti tanda terima SPPT dan mengirimkannya kembali kepada Lurah/Kepala Desa/Dinas Pendapatan Daerah/Kantor Penyuluhan Pajak untuk diteruskan ke atau Kantor Pelayanan PBB yang menerbitkan SPPT. b. Melunasi PBB pada tempat yang telah ditentukan.

2.6.3. CARA MENDAPATKAN SPPTa. Mengambil sendiri di Kantor Kelurahan/Kepala Desa/di tempat Wajib Pajak terdaftar atau tempat lain yang ditunjuk.

7

b.

Dalam rangka pelayanan, SPPT dapat dikirim melalui kantor Pos dan Giro atau diantarkan oleh aparat Kelurahan/Desa.

2.7.DASAR PENGENAAN PBB 1. 2. Dasar pengenaan PBB adalah "Nilai Jual Objek Pajak Besarnya NJOP ditetapkan setiap tiga tahun oleh Kepala dengan mempertimbangkan pendapat

(NJOP)" Kantor Wilayah Direktorat Jendral Pajak atas nama Menteri Keuangan 3. 4. Gubernur/Bupati/Walikota (Pemerintah Daerah) setempat. Dasar penghitungan pajak adalah yang ditetapkan serendahBesarnya prosentase ditetapkan dengan Peraturan rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100% dari NJOP. Pemerintah dengan memperhatikan kondisi ekonomi nasional. Pada dasarnya penetapan NJOP adalah tiga tahun sekali. Namun demikian untuk daerah tertentu yang karena perkembangan pembangunan mengakibatkan kenaikan NJOP cukup besar, maka penetapan nilai jual ditetapk