makalah migrasi

Download makalah migrasi

Post on 08-Jul-2015

1.068 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MAKALAHMIGRASI TUGAS MATA KULIAH : PSIKOLOGI KEPENDUDUKANOleh : EVA MARTHINU ( NO.REG.7416100263)

MULSIANI ISKANDAR ( NO. REG.7416100272)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, taufik dan hidayahNya, saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Psikologi Kependudukan yang berjudul MIGRASI. Tugas ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada para pembaca. Dengan rasa hormat, saya mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. Achmad Husen, M.Pd, sebagai dosen pengampu mata Psikologi Kependudukan 2. Teman teman program studi PKLH Pasca Sarjana UNJ. Dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan oleh penyusun satu persatu, yang telah membantu dan mendukung saya dalam melaksanakan pembuatan tugas ini. Tugas ini tidak lepas dari kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak dalam keterkaitannya dengan perbaikan dari isi tugas ini sangat saya harapkan dan diucapkan terima kasih.

Jakarta, Maret 2011.

Penyusun

BAB IPENDAHULUAN

Indonesia adalah negara berkembang yang memiliki jumlah dan pertumbuhan

penduduk yang tinggi, dimana sesuai hasil sensus penduduk Indonesia 2010 ( SP 2010) yang dilakukan BPS pada tanggal 1 Mei 15 Juni 2010, dan diumumkan oleh presiden SBY pada pidato kenegaraan presiden RI tanggal 16 Agustus 2010 disidang paripurna DPR, penduduk Indonesia berjumlah 237.556.363 orang yang terdiri dari 119.507.580 laki laki dan 118.048.783 orang perempuan, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun. Jumlah penduduk yang besar ini menempati wilayah daratan dengan luas 1.8 juta km yang merupakan wilayah kepulauan dengan perbedaan sentra sentra ekonomi antara satu pulau dengan pulau yang lainnya agak mencolok. Hal inilah yang menyebabkan penyebaran

penduduknya tidak merata, ada pulau yang sangat padat penduduknya, namun dilain pihak ada pulau yang sangat jarang penduduknya dengan persentase penyebaran ditiap wilayah yaitu . p.Jawa 58 %, P. Sumatera 20%, P. Sulawesi 7%, P. Kalimantan 6%, P. Bali dan Nusa Tenggara 6%, Papua dan Maluku 3%. Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah adalah tiga

provinsi dengan urutan teratas yang berpenduduk terbanyak, yaitu masing-masing berjumlah 43.021.826 orang, 37.476.011 orang, dan 32.380.687 orang. Sedangkan Provinsi Sumatera Utara merupakan wilayah yang terbanyak penduduknya di luar Pulau Jawa, yaitu sebanyak 12.985.075 orang. Rata-rata tingkat kepadatan penduduk Indonesia adalah sebesar 124 orang per km. Provinsi yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 14.440 orang per km. Provinsi yang paling rendah tingkat kepadatan penduduknya adalah Provinsi Papua Barat, yaitu sebesar 8 orang per km.Hal inilah yang menyebabkan masalah bagi bangsa Indonesia dalam mengembangkan pembangunan dari berbagai aspek. Tidak meratanya penyebaran penduduk ini dipengaruhi oleh aspek aspek kependudukan seperti kelahiran perpindahan penduduk (migrasi). Migrasi adalah salah satu aspek kependudukan yang dapat meningkatkan jumlah penduduk, apabila jumlah penduduk yang masuk ke suatu daerah lebih banyak daripada jumlah penduduk yang meninggalkan wilayah tersebut. perpindahan penduduk dengan tujuan untuk (fertilitas), kematian (mortalitas) dan

menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik/Negara ataupun batas administratif/batas bagian dalam suatu Negara.Tjiptoherijanto (2000) menyatakan bahwa migrasi penduduk merupakan kejadian yang mudah dijelaskan dan tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, namun pada prakteknya sangat sulit untuk mengukur dan menentukan ukuran bagi migrasi itu sendiri. Hal itu disebabkan karena hubungan antara migrasi dan proses pembangunan yang terjadi dalam suatu negara/daerah saling mengkait. Umumnya migrasi penduduk mengarah pada wilayah yang subur pembangunan ekonominya, karena faktor ekonomi sangat kental mempengaruhi orang untuk pindah. Hal ini dipertegas lagi oleh Tommy Firman (1994), bahwa migrasi sebenarnya merupakan suatu reaksi atas kesempatan ekonomi pada suatu wilayah. Pola migrasi di negara-negara yang telah berkembang biasanya sangat rumit (kompleks) menggambarkan kesempatan ekonomi yang lebih seimbang dan saling ketergantungan antar wilayah di dalamnya. Sebaliknya di negara-negara berkembang biasanya pola migrasi menunjukkan suatu polarisasi, yaitu pemusatan arus migrasi ke daerahdaerah tertentu saja, khususnya kota-kota besar. Migrasi ini juga merefleksikan keseimbangan penyebaran sumber daya manusia dari suatu wilayah ke wilayah lainnya. Tinjauan migrasi secara regional sangat penting dilakukan terutama terkait dengan kepadatan dan distribusi penduduk yang tidak merata, adanya faktor-faktor pendorong dan penarik bagi penduduk untuk melakukan migrasi, kelancaran sarana transportasi antar wilayah, dan pembangunan wilayah dalam kaitannya dengan desentralisasi pembangunan. Menurut sensus

penduduk tahun 1990, ternyata dari seluruh propinsi di Indonesia, tidak satupun yang tidak mengalami migrasi penduduk, baik migrasi masuk maupun migrasi keluar.Di Indonesia dengan alasan pemerataan penyebaran penduduk dan peningkatan pembangunan daerah serta peningkatan kualitas hidup penduduk maka migrasi ini disusun dalam suatu kegiatan yang terprogram dan terencana yang dinamakan transmigrasi. Jabbar dan Rofiq Ahmad (1993) menguraikan tentang transmigrasi sejak dari zaman kolonisasi sampai dengan transmigrasi yang berorientasi ekonomi. Pada zaman penjajahan Belanda, daerah pengalihan penduduk dari Jawa ialah di Pulau Sumatera. Tempat yang pertama kali menjadi daerah tujuan transmigrasi yaitu di sekitar Metro, Lampung. Setelah mengalami perkembangan, saat ini terus diseimbangkan kepadatan penduduk Indonesia di setiap pulau. Oleh karena itu disamping Pulau Sumatera, Pulau lain seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua juga diprogramkan untuk menerima transmigran dari Pulau Jawa. Diluar program transmigrasi, kepadatan penduduk yang memusat di Pulau Jawa dikarenakan oleh migrasi penduduk yang tidak terkendali dan menuju ke Pulau Jawa. Dapat dimaklumi mengapa Pulau Jawa sebagai pulau yang menjadi daerah tujuan utama migran dari pulau-pulau yang lain karena pulau ini merupakan tempat pusat perekonomian, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan pusat kegiatan-kegiatan sosial

ekonomi lainnya, sehingga penduduk dari pulau-pulau diluar Jawa ingin menetap (tinggal) di Pulau Jawa. Mencermati berbagai kajian dan penelitian tentang migrasi, termasuk migrasi internasional, salah satu kesan yang menonjol adalah kentalnya fokus pada event yang teramati dan terukur. Maksudnya, kajian migrasi terlalu banyak mengaitkan variabel yang teramati (observable), khususnya variabel-variabel sosial ekonomi, untuk menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan migrasi, yang memang diyakini memiliki dimensi yang kompleks. Akhir-akhir ini ada kekhawatiran bahwa kecenderungan ini akan menyebabkan pendangkalan sekaligus penciutan kajian migrasi meskipun diupayakan untuk melebarkan konteksnya. Dalam kajian migrasi internasional, misalnya, permasalahan sering hanya terfokus pada kaitan antara besarnya ketersediaan tenaga kerja dan peluang kerja di luar negeri. Atau, besarnya daya dorong dan daya tarik sebagai penyebab arus migrasi merupakan penjelas paling tepat dalam menganalisis proses migrasi. Dengan kata lain, orang pergi migrasi ke luar negeri terbatas sebagai respons terhadap stimulus yang ada. Pandangan ini tidak keliru, tetapi dapat menjebaknya ke dalam cognitive drones, hal ini disebabkan karena manusia tidak dipandang sebagai makhluk yang memiliki latar belakang sosial dan budaya dan tidak hidup dalam konteks waktu dan tempat tertentu. Migran kurang diperhatikan sebagai individu dan anggota kelompok social, akibatnya migran sering harus menanggung beban dan menjadi korban atas proses itu, meskipun mereka juga menikmati hasilnya. Gejala diatas juga diyakini menyebabkan terpisahnya penelitian migrasi dengan

perkembangan teori-teori sosial, padahal migrasi sebagai salah satu gejala sosial yang sangat tua tidak mungkin terlepas dari perkembangan sosial, politik, dan ekonomi pada umumnya (lihat Robinson & Carey, 2000). Permasalahan ini bukan hanya permasalahan konseptual, tetapi juga permasalahan pendekatan. Barangkali kajian-kajian yang ada terlalu banyak mengandalkan pada, seperti yang dikemukakan Giddens (dalam Goss &Linquist, 1995), diskursif yaitu segala sesuatu yang dikatakan, yaitu data-data yang dikumpulkan dari para migran seperti pada penelitian survei. Sebaliknya, pendekatan praktikal, tepatnya disebut Giddens sebagai kesadaran praktikal, yaitu sesuatu yang tidak dapat dikatakan atau diartikulasikan secara verbal, tetapi menjadi bagian penting dari pemikiran orang yang bersangkutan, kurang diperhatikan. Hal ini terkait dengan pendekatan dan metode yang digunakan dalam penelitian migrasi. Sejauh ini perspektif yang digunakan untuk mengkaji migrasi cenderung berangkat dari salah satu atau kedua perspektif besar yang sudah mapan, yaitu strukturalis dan fungsionalis. Giddens mengusulkan alternatif lain yang disebutnya sebagai perspektif strukturasionis. Dalam perspektif iniduality of structure menjadi bagian penting,agen dan struktur berinteraksi timbal balik, yang struktur itu direproduksi oleh agen dan agen

dipengaruhi oleh norma dan harapan masyarakat.

Bertolak dari permasalahan diatas, maka sangat penting pengkajian tentang migrasi dan dampaknya bagi pengembangan pembangunan di Indonesia sebagaimana yang akan diuraikan pada pembahasan selanjutnya. serta alternative pemecahannya

BAB. II PEMBAHASAN2.1. Definisi MigrasiIstilah umum bagi gerak penduduk dalam demografi adalah population mobility atau secara lebih Khusus territorial mobility yang biasanya mengandung makna gerak spasial, fisik dan geografis (Shrylloc