makalah hidro

Download MAKALAH HIDRO

Post on 14-Jul-2015

720 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Airtanah merupakan air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan yang terletak di bawah permukaan tanah. Airtanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Selain air sungai dan air hujan, airtanah juga mempunyai peranan yang sangat penting terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri. Dibeberapa daerah, ketergantungan pasokan air bersih dan airtanah telah mencapai 70%. Untuk mendapatkan airtanah salah satu cara dengan membuat sumur gali, sumur artesis, bendungan, dll. Sumur gali merupakan sumur yang dibuat dengan cara membuat lubang ke dalam tanah hingga dijumpai muka air tanah terhadap muka air laut. Daerah tempat penilitian terletak di Kecamatan Boja Kabupaten Kendal Jawa Tengah dimana dilakukan pengukuran kedalaman airtanah, muka airtanah dan pemetaan geologi di wilayah Kecamatan Boja. Kabupaten Boja itu sendiri terdiri atas 18 dusun dimana di setiap dusunnya rata rata menggunakan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih. Penelitian ini dimaksudkan agar mahasiswa Teknik Geologi mengetahui arah aliran, kedudukan, dan persebaran airanah serta data geologi untuk menentukan letak akuifer di wilayah Kecamatan Boja. Untuk memenuhi kebutuhan data tersebut maka satu kelompok dipecah menjadi tiga tim, yakni tim geologi, tim muka airtanah, dan tim geolistrik. Akan tetapi dalam pelaksanaanya tim geolistrik tidak dapat berjalan yang dikarenakan adanya kendala teknis dalam peminjaman alat yang pada akhirnya pelaksanaan pemetaan dibatalkan. Untuk itu makalah ini dibuat bertujuan untuk menyampaikan informasi data yang telah didapatkan dari hasil pemetaan geologi dan muka airtanah agar data hasil dari pelaksanaan pemetaan di wilayah Kecamatan Boja tidak terbuang percuma. 1.2 Maksud Tujuan

1.2.1 Maksud Memperoleh informasi dan menganalisis tentang keterangan litologi dengan struktur yang ada di wilayah Kecamatan Boja Mengetahui kedudukan dan persebaran Muka Airtanah dan Potensinya di wilayah Kecamatan Boja Mengetahui dan membuat Peta Geologi wilayah Kecamatan Boja

1.1.1 Tujuan Dapat menentukan dan menganalisis jenis litologi dengan struktur geologi yang ada di wilayah Kecamatan Boja. Dapat menafsirkan kedudukan dan persebaran Muka Airtanah dan potensinya di wilayah Kecamatan Boja. Mampu membuat dan menjelaskan Peta Geologi serta menerangkan proses-proses yang bekerja di dalamnya pada wilayah Kecamatan Boja 1.1 Waktu dan Lokasi 1.1.1 Waktu Pelaksanaan Pemetaan ini dilakukan pada: hari tanggal waktu 1.1.2 Lokasi Lokasi Pemetaan kali ini, dilaksanakan di daerah Kendal, tepatnya pada Kecamatan Boja yang terdiri dari 18 Dusun yakni, Ds. Purwogondo, Ds. Kaligading, Ds. Salamsari, Ds. Blimbing, Ds. Bebengan, Ds. Boja, Ds. Meteseh, Ds. Trisobo, Ds. Campurejo, Ds. Tampingan, Ds. Karangmanggis, Ds. Ngabean, Ds. Kliris, Ds. Puguh, Ds, Medono, Ds. Pasigitan, Ds. Leban, dan Ds. Banjarejo dalam satu kecamatannya. Secara geografis Kabupaten Kendal terletak pada 109,40' - 110,18' BT dan 6,32' 7,24' LS. Lokasi penelitian ini termuat dalam peta Peta Rupabumi lembar Boja dengan nomor lembar peta 1408-543 dan skala 1 : 25.000. Pada : Rabu, Sabtu, Minggu, Senin : 2011 : 09.00 - selesai

pelaksanaannya, untuk menuju lokasi pelaksanaan pemetaan ini dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor dengan waktu kurang lebih adalah satu jam dari Kampus Geologi UNDIP, Semarang.

BAB II GEOLOGI REGIONAL

2.1

Geomorfologi Regional Van Bemmelen (1949) telah membagi daerah Jawa Tengah menjadi 7 jalur fisiografis dari Utara-Selatan (Gambar 2.1) sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Gunung Api Kuarter Dataran Aluvial Pantai Utara Jawa Antiklinorium Rembang-Madura Antiklinorium Bogor-Serayu Utara-Kendeng Pematang dan Dome pada Pusat Depresi Depresi Jawa dan Zona Randublatung Pegunungan Serayu Selatan

Gambar 2.1 Fisiografi Jawa Tengah (Van Bemmelen, 1949)

Dari peta fisiografis di atas, letak daerah pemetaan termasuk ke dalam wilayah Jawa Tengah bagian tengah. Maka daerah pemetaan termasuk ke dalam zona depresi dan deretan pegunungan Serayu Utara. Selain itu daerah pemetaan juga mendapat pengaruh aktivitas vulkanik dari Gunung Ungaran dan pegunungan Prahu (Gunung Sindoro Sumbing), serta berada di sepanjang aliran Kali Putih yang bermuara langsung ke Laut Jawa. Morfologi daerah Kendal dapat dikelompokkan menjadi dua satuan, yaitu satuan perbukitan bergelombang dan satuan dataran aluvium (Gambar 2.2). Pembagian ini terutama didasarkan pada kondisi bentang alamnya. 1. Satuan Dataran Aluvium Satuan ini terdiri atas satuan dataran pantai, sungai, dan rawa. Kemiringan lereng berkisar dari datar sampai agak landai (0 5), dengan ketinggian kurang dari 1 m sampai lebih kurang 10 m. Satuan ini disusun oleh endapan rawa dan sungai yang pada umumnya terdiri atas lempung, pasir, lanau, lumpur, dan gambut. Secara umum, tumbuhannya didominasi oleh semak dan rawa. Sungai utama yang mengalir di daerah ini adalah Kali Bodri, Kali Kunto, Kali Blukar, dan Kali Cangkring yang hulunya bersumber dari perbukitan sebelah selatan dan bermuara di pantai utara Jawa. Material hasil erosi yang kemudian diangkut oleh sungai ini diendapkan di pantai utara Jawa dan membentuk endapan delta aktif. Secara umum, terlihat bahwa kerapatan pola aliran yang berkembang di sebelah timur lebih jarang bila dibandingkan dengan kerapatan pola aliran di sebelah barat. Di sebelah timur berkembang pola aliran subparalel - paralel, sedangkan di sebelah barat dan di

sebelah selatan berkembang pola aliran subdendritik - dendritik (Gambar 2.3).

2. Satuan Perbukitan Bergelombang Morfologi satuan perbukitan bergelombang mempunyai kemiringan lereng berkisar dari agak landai sampai agak terjal (5 25) dengan ketinggian antara 50 m sampai 300 m di atas permukaan laut. Sekitar 25% daerah penelitian ditempati oleh satuan ini, yang tersebar di sebelah selatan daerah penelitian. Batuan yang menyusun satuan morfologi ini pada umumya terdiri atas batupasir tufan, konglomerat, dan breksi vulkanik. Breksi vulkanik diendapkan sebagi lahar (Thanden dkk.,1996).

Gambar 2.2 Geomorfologi Regional Daerah Kendal

Gambar 2.3 Pola Pengaliran Daerah Kendal

2.2.

Stratigrafi Regional Berdasarkan Peta Geologi Lembar Magelang dan Semarang yang disusun oleh Thanden dkk, 1996 tatanan stratigrafi daerah Kabupaten Kendal dan sekitarnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa formasi yang secara umum berupa kelompok batuan sedimen dan kelompok batuan vulkanik. Kelompok batuan yang dijumpai di daerah Kabupaten Kendal dan sekitarnya terdiri dari beberapa formasi, yaitu : 1. Intrusi Basalt Basalt augit ditemukan di G. Klesem sebagai retas. Di daerah G. Sitapel ditemukan porfir plagioklas. Basal andesitan olivine-augit di G. Mergi. Umur batuan ini menunjukkan Miosen Tengah. Sampai saat ini belum diketahui batuan yang ditrobos oleh intrusi ini dan diperkirakan

umur batuan yang ditrobos berumur lebih tua dari intrusinya atau berumur sama dengan intrusinya. 2. Formasi Kerek ( Tmk ) Formasi ini terdiri dari perselingan batulempung napal, batupasir tufan, konglomerat, breksi vulkanik dan batugamping. Litologi batulempung berwarna abu-abu muda-tua, gampingan sebagian bersisipan dengan batulanau, batupasir mengandung fosil moluska dan koloni koral. Formasi ini berumur Miosen Akhir, tersingkap di Kali Putih, Pencar, Wringkalan dan Kali Pupu. 3. Formasi Penyatan ( QTp ) Formasi ini terletak secara tidakselaras di atas Formasi Kerek dengan litologi terdiri dari batupasir, breksi, tuf, batulempung, dan aliran-aliran lava. Batupasir tufan dan breksi vulkanik (aliran dan lahar) nampak dominan. Secara setempat ditemukan aliran lava, batulempung marin dan napal. Formasi ini mempunyai ketebalan lebih dari 1000 meter dan menunjukkan umur Miosen Tengah-Plistosen. Formasi ini banyak dijumpai pada G. Payung, G. Djakapita, Kali Lutut, Kertosari dan G. Djomblong. 4. Formasi Kaligetas (Qpkg) Formasi ini terdiri dari breksi vulkanik antara lain lava, tufan dan batulempung. Umumnya telah mengalami pelapukan cukup intensif menghasilkan material tanah berwarna coklat kemerahan, tersingkap di Kali Putih, G. Sambi, G. Cerme, Sukorejo dan Singorojo. 5. Formasi Damar (Qtd) Formasi ini terletak tidakselaras diatas Formasi Kalibeng dan tediri dari batupasir tufan, konglomerat, breksi vulkanik dan tufa. Batupasir terdiri dan mineral feldspar dan mineral mafik, sebagian tufan dan secara setempat gampingan. Sedangkan untuk breksi, fragmen umumnya berupa batuan vulkanik basa dan singkapan dijumpai di Kali Damar, Penjalin, Kaiwungu dan Sidomukti. Umur formasi ini adalah Pliosen Akhir-Peistosen Awal

6. Endapan Aluvium ( Qa ) Terdiri dari kerikil, pasir kerakal dan lanau dengan tebal 1-3 m yang merupakan endapan sungai. Tersingkap di Lembah Kali Pengkol dan sekitarnya serta di sepanjang Kali Bodri yang merupakan sungai dengan stadia tua dan sepanjang aliran Kali Putih. Kelompok batuan hasil kegiatan api terdiri dari beberapa satuan, yaitu : 1. Formasi Jongkang (Qpj) Terdiri dari breksi andesit hornblende-augit sebagian berongga. Sering juga disebut sebagai batuan gunungapi Ungaran Lama, dijumpai setempat di sekitar G.Jadi. 2. Batuan Gunungapi Kaligesik (Qpk) Batuan ini merupakan hasil aktivitas gunungapi berupa aliran basal olivine augit, tersingkap di lereng utara Gunung Ungaran. 3. Batuan Gunungapi Kemalon dan Sengku (Qks) Batuan ini berwarna muda sampai tua, di Kemalon menunjukkan porfir plagioklas sampai kristalin halus. Sedang di Sengku berupa lava berongga, berbutir halus dengan feokrist hornblende. 4. Batuan Gunungapi Gadjah Mungkur (Qhg) Terdiri dari andesit hornblende augit yang umumnya berupa aliran lava dan tersingkap di puncak Gunung Ungaran serta mengelilingi sebaran batuan gunungap