makalah budidaya tiram mutiara (2)

Click here to load reader

Post on 29-Dec-2015

806 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MAKALAH BUDIDAYA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)TUGAS DASAR-DASAR TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN BUDIDAYA

ANGGOTA KELOMPOK :

BENEDIKTUS RIANWARA I. ALVI NOVIANA AWALUDINDESI SETYAWATITEGUH TEDI KURNIAWANIKA NURUL ASRIYANTIMARTA ULYRENDY ANDRIAWANNILAM PERMATA LAIAASEP ROHMANISTIAJI ADHINUGROHOVICOPRAMUDYA ARMIFZANRISMA DWI NUGRAHENIMOHAMMAD HENDRAWAN S.AMINUL ICHSAN

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN JURUSAN PERIKANANFAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTANUNIVERSITAS DIPONEGORO2014

BAB IPENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGIndonesia memiliki potensi laut yang sangat besar dalam usaha budidaya. Potensi ini di dukung oleh tersediannya bahan dasar yang cukup banyak, persyaratan lingkungan yang baik, serta kondisi musim yang menguntungkan untuk berbagai jenis komoditas laut yang akan dibudidayakan. Salah satu potensi laut dari non ikan yang dapat di budidayakan adalah tiram mutiara (Pinctada maxima) yang pada intinya akan menghasilkan mutiara. Tiram mutiara berasal dari kingdom Animalia, filum Moluska, kelas dari Bivalvia, serta famili dari Pteridae, dengan nama dagang sebagai pearl oyster. Menghadapi situasi yang demikian sangat perlu diusahakan kegiatan yang mengarah pada kegiatan penyediaan benih melalui pembenihan buatan sehingga dapat menjadi suatu unit budidaya tiram yang akan menghasilkan produksi mutiara yang jauh lebih besar. Akibat dari keterbatasan ini maka dalam usaha budidaya tiram mutiara, perlu melakukan kegiatan untuk mempelajari sifat dan kebiasan hidup tiram mutiara, baik dari persyaratan lingkungan pemeliharaan, metode atau cara pemeliharaan dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi mutiara yang berkualitas. Mengingat lokasi budidaya di laut yang dipengaruhi oleh alam dan sekitarnya, sehingga membudidayakan tiram mutiara haruslah menyesuaikan dengan kondisi alam atau perairan sekitarnya sebagai tempat hidupnya dengan kehidupan biologis dan fisiologis dari tiram mutiara yang dipelihara, dengan tujuan agar tiram hidup dengan baik..Seiring dengan semakin bertambah banyaknya jumlah usaha budidaya mutiara, maka kebutuhan akan induk yang siap operasi juga terus meningkat. Namun sayangnya pasokan induk dari alam jumlahnya sangat terbatas, solusi yang dijalani oleh setiap perusahaan adalah melakukan kegiatan pembesaran. Permasalahan yang muncul yaitu kontinuitas dan jumlah benih atau spat dari alam tidak dapat dipastikan. Alternatif utama yang dapat ditempuh adalah melakukan penyediaan benih secara buatan melalui hatchery.Indonesia sumberdaya alam (kelautan dan perikanan) yang cukup besar sehingga kedepan menjadi harapan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berbagai peluang investasi yang dapat dikembangkan di bidang Kelautan dan Perikanan adalah investasi pada bidang Penangkapan , Budidaya Laut, Budidaya Air Payau dan Budidaya Air Tawar. Ragam potensi budidaya kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan lebih jauh dan berkelanjutan (Sustainable).

1.2 TUJUANAdapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :1. Mengetahui Metode Pembuatan Sarana Budidaya2. Mengetahui Teknik Produksi Tiram Mutiara3. Mengetahui Teknik Budidaya Tiram Mutiara4. Mengetahui Jenis dan Teknik Kultur Pakan Alami Skala Murni dan Semi Massal fitoplankton yang Digunakan Sebagai Pakan Larva Tiram Mutiara5. Mengetahui Hama dan penyakit Tiram mutiara

1.3 MANFAATManfaat dari penulisan makalah ini adalah1. Memberikan informasi tentang metode pembuatan sarana budidaya2. Memberikan informasi tentang teknik produksi tiram mutiara3. Memberikan informasi tentang teknik budidaya tiram mutiara4. Memberikan informasi tentang jenis dan teknik kultur pakan alami skala murni dan semi massal fitoplankton yang digunakan sebagai pakan larva tiram mutiara5. Mmemberikan informasi tentang hama dan penyakit pada tiram mutiara

BAB IIPEMBAHASAN/TINJAUAN PUSTAKAMutiara terbentuk akibat respon dari tiram untuk menolak rasa sakit secara Konsentris akibat masuknya benda asing kedalam tubuhnya, lapisan tersebut terdiri dari mineral yang diproduksi oleh tiram berupa cairan nacre yang melapisi benda asing tersebut dengan cahaya berkilau. Tetapi bila lapisan terluarnya tidak terdiri dari nacre, mutiara akan memperlihatkan warna warni yang menggairahkan yang biasa disebut ORIENT yang membuat mutiara bernilai tinggi dan mahal.2.1PENYIAPAN INDUK Pemeliharaan induk tiram mutiara dapat dilakukan di laut dengan menggunakan rakit apung, long line atau di laboratorium bersama dengan kegiatan pendederan dengan menggunakan pocket net atau pocket keranjang. Pada umumnya pemeliharaan induk dilakukan di laut karena selain menghemat biaya, juga untuk pematangan induk kualitas akan lebih baik dilakukan di alam, karena dapat memperoleh pakan yang lebih variatif dengan nilai nutrient yang lebih lengkap. Pemeliharaan induk dilakukan dengan tujuan menunggu agar induk matang gonad dan siap dipijahkan. 1.1.1 Penyediaan IndukTiram mutiara yang akan digunakan sebagai induk dapat berasal dari alam dan hasil pembenihan. Induk yang diambil dari alam biasanya perlu diaklimatisasi, karena induk tersebut habitatnya berasal dari laut pada kedalaman 20 60 meter, dipindahkan ke tempat budidaya yang lebih dangkal, sehinga tiram perlu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan hidup yang baru. Sedangkan induk yang berasal dari hatchery biasanya langsung dapat dipijahkan, karena sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan budidayanya dan ukurannya seragam.Induk tiram mutiara diaklimatisasi selama 1 2 bulan, dipelihara menggunakan pocket keranjang dan digantung pada rakit apung dikedalaman 4 6 meter. Satu pocket keranjang di isi 8 10 ekor tiram. Secara priodik antara 1 2 bulan sekali, induk dibersihkan dari kotoran dan organisme yang menempel dengan menggunakan pisau dan sikat, kemudian dimasukkan kembali ke dalam pocket keranjang yang bersih dan digantung pada rakit dengan kedalaman 6 8 meter.Apabila kita mendapatakan atau mengambil induk dari luar daerah, maka yang harus diperhatikan adalah ;1. Pengangkutan atau pengiriman induk dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengangkutan kering (Dry method)2. Induk dimasukkan pada kotak styropoam Lapisi dasar styropoam dengan menggunakan handuk atau busa yang dibasahi air laut.3. Susun induk secara sejajar dan searah (bagian anterior tiram yang satu ditindih bagian dorsal tiram yang lain)4. Setiap satu lapisan tiram diselingi dengan lapisan handuk atau busa yang dibasahi air laut, begitu seterusnya hingga wadah penuh.5. Selipkan Es batu air laut yang dibungkus plastic, untuk menjaga suhu rendah agar tetap stabil selama perjalanan.1.1.2 Pemeliharaan Induk di LautPemeliharaan Induk di laut dengan mengisi pocket net atau keranjang kawat dengan induk tiram, kemudian diikat dan digantung pada rakit atau long line dengan kedalaman 5 8 meter, dan dalam setiap bulan tiram dibersihkan dari organisme yang menempel pada cangkang tiram.Untuk menghindari adanya gangguan dari organisme pengebor (borring worn dan borring sponge), maka setiap 2 3 bulan sekali perlu dilakukan perendaman dengan air tawar atau larutan garam pekat. Calon induk tiram yang direndam dalam larutan garam pekat, ternyata menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.1.1.3 Pemeliharaan Induk di LaboratoriumPemeliharaan Induk di Laboratorium berbeda dengan pemeliharaan induk di laut, dimana pemeliharaan Induk di Laboratorium menggunakan bak yang terbuat dari bahan fiber glass untuk menempatkan induk tiram, dengan suhu air media antara 25 280C dan kondisi ruangan yang terkendali. Induk tiram diberi pakan berupa campuran beberapa jenis alga dengan ratio 4 liter per ekor/hari, sebagai pakan tambahan diberikan tepung jagung sebanyak 30 gram per ekor/hari. Tiram dengan gonad matang penuh yang diberi formulasi pakan tersebut akan menunjukkan respon memijah setelah 45 hari dari perlakuan dengan tingkat respon 30%.2.2SELEKSI INDUK Untuk menyeleksi induk tiram dapat dilakukan di atas rakit atau di laboratorium. Induk induk tiram yang akan di seleksi ditempatkan pada tempat yang datar dengan posisi tiram berdiri atau dorsal di bawah. Beberapa saat kemudian cangkan tiram akan terbuka dengan sendirinya, karena kekurangan olsigen.Setelah cangkang tiram terbuka sebagian, segera gunakan alat pembuka cangkang (Shellopener), agar cangkang tetap bertahan terbuka, maka gunakan baji untuk mengganjal cangkang tersebut. Dan dalam proses pembukaan cangkang tiram hendaknya jangan dipaksa, karena akan mengakibatkan pecahnya cangkang. Langkah berikutnya adalah melihat posisi gonad, disini kita dapat melihat posisi gonad dengan menggunakan alat Spatula. Dengan Spatula, insang tiram akan kita buka dan posisi gonad akan terlihat jelas, maka secara fisual dapat kita ketahui tingkat kematangan gonadnya. Kondisi gonad yang mata penuh atau stadia IV adalah seluruh permukaan organ bagian dalam tertutup oleh gonad, kecuali bagian kaki.

Klasifikasi tiram yang memenuhi syarat untuk menjadi induk adalah ; Ukuran antara 17 20 cm (DVM) Cangkang utuh/tidak cacat akibat serangan organisme pengebor (borring organism). Cangkang tidak rusak karena penanganan yang kasar. Warna cangkang terang.Persyaratan yang paling penting adalah tingkat kematangan gonad, induk yang baik kondisi gonadnya matang penuh atau stadia IV (Winanto dkk, 1991;1997;1998). Induk induk yang telah memenuhi syarat seleksi segera dibawa ke laboratorium untuk di pijahkan.Seleksi kematangan gonad dilakukan setiap 1 (satu) bulan sekali untuk memastikan bahwa induk tersebut siap dipijahkan atau tidak. Induk siap pijah akan terlihat warna kekuningan pada kantong gonadnya bagi induk betina dan bagi induk jantan akan terlihat warna putih susu.2.3PEMIJAHANInduk tiram mutiara yang digunakan untuk pemijahan berasal dari alam maupun dari hasil budidaya yang dipelihara di rakit apung atau long line. Pemejihan secara alami sering kali terjadi pada tiram yang telah dewasa, dalam kondisi gonad matang penuh tiram akan segera memijah apabila terjadi perubahan lingkungan perairan wal

View more