makalah bbn nanang,ressi,anggi

of 37 /37
BAB I PENDAHULUAN Komunikasi merupakan suatu percakapan yang dilakukan dengan maksud dan tujuan tertentu. Maksud dan tujuan komunikasi yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien adalah untuk membantu pasien agar dapat mengurangi penderitaan pasien serta membantunya untuk sembuh dari penyakitnya. Kesembuhan biasanya didapatkan dari khasiat obat-obatan dan fungsi komunikasi atau wawancara hanya sebagai pendukung untuk menegakkan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat. Tetapi tidak jarang komunikasi itu sendiri juga merupakan terapi. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif dalam menyampaikan berita buruk kepada pasien dan keluarga sangat penting bagi penyediaan perawatan bermutu pada akhir hidup pasien. Persiapan untuk menyampaikan berita ini membutuhkan pendekatan yang mencakup rasa nyaman pada akhir masa hidup pasien, pemahaman lingkup pengalaman dari pasien dan perspektif keluarga, pemahaman berbagai macam pilihan yang dapat dipilih oleh pasien dan keluarga (dokter dapat menawarkan pasien dan 1

Author: ra-siti-marhani

Post on 19-Jan-2016

14 views

Category:

Documents


4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

klk

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUANKomunikasi merupakan suatu percakapan yang dilakukan dengan maksud dan tujuan tertentu. Maksud dan tujuan komunikasi yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien adalah untuk membantu pasien agar dapat mengurangi penderitaan pasien serta membantunya untuk sembuh dari penyakitnya. Kesembuhan biasanya didapatkan dari khasiat obat-obatan dan fungsi komunikasi atau wawancara hanya sebagai pendukung untuk menegakkan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat. Tetapi tidak jarang komunikasi itu sendiri juga merupakan terapi.Kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif dalam menyampaikan berita buruk kepada pasien dan keluarga sangat penting bagi penyediaan perawatan bermutu pada akhir hidup pasien. Persiapan untuk menyampaikan berita ini membutuhkan pendekatan yang mencakup rasa nyaman pada akhir masa hidup pasien, pemahaman lingkup pengalaman dari pasien dan perspektif keluarga, pemahaman berbagai macam pilihan yang dapat dipilih oleh pasien dan keluarga (dokter dapat menawarkan pasien dan keluarga mengenai perawatan mereka, termasuk perawatan rumah sakit), pendekatan terhadap keterlibatan dokter terhadap perawatan akhir hidup pasien.Karena komunikasi penting sekali artinya dalam hubungan dokter-pasien, maka seyogyanya para dokter menguasai teknik dan seni berkomunikasi yang baik. Untuk itu dokter perlu mengetahui jenis-jenis komunikasi atau wawancara yang biasa terdapat antara dokter atau dokter gigi dan pasien, antara lain wawancara biasa yang terdiri dari wawancara bebas dan terarah, percakapan bimbingan dan konseling, dan penyampaian berita buruk. Oleh karena itu, dalam mempersiapkan diri untuk menyampaikan berita buruk kepada pasien dan keluarga, pertama-tama kita harus memperhatikan pikiran, perasaan, dan persepsi kehidupan dan kematian dan peran kita dalam proses tersebut. Dalam makalah ini akan dijelaskan secara spesifik mengenai penyampaian berita buruk. Berita buruk dapat didefinisikan sebagai segala informasi yang secara serius dapat memperburuk pandangan seseorang tentang masa depannya. Penyampaian berita buruk adalah suatu hal yang sering harus dilakukan dokter maupun dokter gigi, misalnya pada waktu dokter harus menyampaikan berita kematian, menyampaikan diagnosis suatu penyakit dengan prognosis yang tidak baik, atau menyampaikan rencana terapi yang mengandung resiko yang tinggi. Dalam hubungan ini setiap dokter akan mengetahui bahwa penyampaian berita buruk selalu akan menimbulkan frustasi pada pihak pasien.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1.Berita BurukBerita buruk secara medis didefinisikan sebagai informasi yang menciptakan pandangan buruk bagi kesehatan seseorang. Berita buruk tersebut dapat menimbulkan perasaan tanpa harapan pada pasien, ancaman terhadap kesehatan mental dan fisik pasien, atau resiko mengganggu atau mengacaukan gaya hidup atau keseharian pasien (Wright dkk, 2013). Menurut Baile dkk(2000), berita buruk dapat didefinisikan sebagai segala informasi yang secara serius dapat memperburuk pandangan seseorang tentang masa depannya.Menurut Buckman, berita buruk adalah setiap berita yang secara serius dan secara negatif mengubah pandangan pasien akan masa kini dan masa depannya. Menentukan elemen pusat dari berita buruk dan mencoba mengidentifikasi apa yang membuat berita tersebut menjadi sesuatu yang buruk bagi pasien sangat penting. Pada dasarnya, dampak berita buruk sebanding dengan efeknya dalam mengubah harapan pasien. Semua berita buruk memiliki konsekuensi yang merugikan bagi pasien dan keluarga. Pada gilirannya, ini mengarah pada dua prinsip penting. Pertama, "keburukan" dari berita tersebut adalah kesenjangan antara harapan pasien dan realitas medis. Kedua, sebagai seorang dokter, kita tidak bisa tahu bagaimana pasien akan bereaksi terhadap berita buruk sampai kita memastikan persepsi mereka tentang situasi klinis mereka.

Kepentingan mempelajari cara penyampaian berita buruk antara lain: Merupakan pekerjaan yang akan sering dilakukan namun membuat stressSelama karirnya, seorang dokter akan mengalami keadaan dimana ia harus menyampaikan informasi buruk kepada pasien atau keluarganya. Penyampaian berita buruk akan menjadi sangat menegangkan ketika seorang dokter kurang berpengalaman, sedang menghadapi pasien yang masih muda, dan ketika prospek keberhasilan pengobatan minim (Baile dkk, 2000). Pasien menginginkan kebenaranSebuah penelitian menunjukkan bahwa 96% orang berharap diberi tahu ketika ia menderita kanker dan 85% berharap mendapat informasi mengenai perkiraan umur mereka (Baile dkk, 2000). Prinsip hukum dan etikDi Amerika Utara, prinsip informed consent, otonomi pasien, dan hukum telah menciptakan kewajiban etika dan hukum yang jelas untuk memberikan informasi sebanyak yang pasien inginkan tentang penyakit mereka dan pengobatannya. Dokter tidak mungkin menahan informasi medis bahkan jika mereka tahu itu akan memiliki efek negatif pada pasien (Baile dkk, 2000). Hasil pemeriksaan klinisBagaimana cara penyampaian kabar buruk dapat mengubah pemahaman pasien akan informasi, kepuasan perawatan, tingkat harapan, dan psikologi pasien. Banyak pasien mengharapkan informasi yang akurat untuk membantu mereka menentukan pilihan (Baile dkk, 2000).Masalah muncul bila dokter harus berhadapan dengan keadaan khusus atau kepribadian pasien yang berbeda-beda. Contohnya, penyakit yang dipengaruhi oleh faktor psikososial. Keadaan lainnya adalah pasien yang berpenyakit kronis, menderita cacat, dan pada pasien kanker. Permasalahan yang sebenarnya muncul ketika kita harus menyampaikan prognosis penyakit dan berapa lama pasien itu dapat bertahan hidup (Sukardi dkk, 2007). Penyampaian pada pasien mengenai kecacatan/penyakit kronis

Pada penyakit kronis atau penyakit yang disertai dengan kecacatan yang berat, sebaiknya dokter memberitahukan kenyataan atau fakta yang ada. Terutama cara adaptasi yang cepat dan tepat terhadap perubahan hidupnya. Pasien penyakit kronis seharusnya menerima kenyataan agar mereka lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya. Kecemasan dan rasa takut yang berlebihan tidak saja ditimbulkan dari penyakit yang diderita, tetapi juga dari tekanan masyarakat yang sering memberikan simbol tertentu pada penyakitnya (Sukardi dkk, 2007).Jika semua stress menumpuk, pasien akan banyak menghadapi masalah. Hal ini dapat melampaui kemampuan dirinya dalam menangani stress. Dokter seharusnya sadar akan segala kemungkinan dan siap membantu serta menolong pasiennya. Khususnya bila informasi yang disampaikan dapat meningkatkan kecemasan, menghilangkan harapan, menimbulkan keinginan untuk bunuh diri, atau timbulya gejala psikopatologik lain. Dalam menentukan suatu penyakit yang kronis dan kecacatan, informasi harus diberikan secara perlahan. Pemberian informasi dapat dimulai dari awal dugaan penyakit sampai diagnosis akhir ditegakkan. Adanya keinginan pasien untuk mengetahui penyakitnya merupakan kesempatan baik bagi dokter untuk menyampaikan keadaan yang mungkin terjadi dan risikonya di kemudian hari (Sukardi dkk, 2007). Penyampaian pada pasien mengenai penyakit kanker/tumor ganas

Penyakit kanker merupakan penyakit yang sering ditanggapi dengan cara yang tidak realistis. Pasien sering dijauhi oleh masyarakat dan seolah-olah kematiannya sudah dekat. Kanker sebagai suatu penyakit yang fatal membuat dan mendorong keadaan kurangnya perhatian untuk mendapatkan pengobatan. Ketakutan masyarakat terhadap penyakit kanker memberikan beban tersendiri pada penderitaan pasien, disamping dari akibat proses kanker itu sendiri. Oleh karena itu, sebelum diagnosis kanker disampaikan, tim dokter harus benar-benar sudah yakin (Sukardi dkk, 2007).Pengobatan kanker biasanya memerlukan waktu yang lama dan hasilnya sering diragukan. Tercipta kesan bahwa penyakit ini lebih buruk dari penyakit infark jantung yang prognosis kematiannya lebih jelek. Namun, karena pengobatan infark jantung lebih jelas, seolah-olah penyakit itu lebih baik. Pada penyakit kanker pemberian informasi kepada pasien semestinya meliputi dua hal, yaitu dokter bersikap jujur dan hormat terhadap pasiennya. Dokter harus dapat menumbuhkan rasa percaya kepada pasien/keluarganya dengan baik sehingga memudahkan dalam memberikan terapi, baik itu radioterapi maupun sitostatika (Sukardi dkk, 2007).

2.2.Penyampaian Berita Buruk Secara Tidak LangsungPenyampaian berita buruk adalah suatu hal yang sering harus dilakukan dokter maupun dokter gigi, misalnya pada waktu dokter harus menyampaikan berita kematian, menyampaikan diagnosis suatu penyakit dengan prognosis yang tidak baik, atau menyampaikan rencana terapi yang mengandung resiko yang tinggi. Dalam hubungan ini setiap dokter akan mengetahui bahwa penyampaian berita buruk selalu akan menimbulkan frustasi pada pihak pasien (Sarwono, 1982).Hampir setiap dokter akan berusaha mengurangi reaksi frustasi pasien. Usaha ini wajar sepanjang dokter tidak memalsukan informasi (berbohong kepada pasien) tetapi sesungguhnya kurang baik, karena dokter justru memberi peluang bagi bertambah besarnya frustasi pasien (Sarwono, 1982).Usaha mengurangi frustasi pasien dalam penyampaian barita buruk ini biasa dilakukan dengan beberapa cara yang kurang benar. Untuk jelasnya, berikut diberikan contoh seorang dokter gigi yang harus menyampaikan berita bahwa pasiennya menderita penyakit kanker mulut. Pada pasien didapatkan bisul yang menyakitkan di mulut, dimana sudah tak sembuh-sembuh dalam waktu 14 hari, suara jadi serak berkepanjangan, dan mengalami kesulitan untuk mengunyah, menelan, dan bahkan berbicara, serta terdapat bercak putih pada mulut (Nawawi, 2013). Penyampaian berita buruk yang kurang tepat itu antara lain sebagai berikut :2.2.1. Menunda penyampaian berita buruk sampai saat yang dianggap tepatDokter bercerita tentang hal-hal lain terlebih dahulu sebelum ia menyampaikan berita tentang kanker mulut, tentang keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang diderita pasien dan seterusnya sampai kira-kira pasien dianggap siap mental untuk mendengarkan berita buruk itu, barulah berita tentang kanker mulut itu disampaikan. Tanda-tanda bahwa pasien sudah siap mental diterka oleh dokter dari kata-kata (verbal) atau mimik (ekspresi wajah) atau gerak (gesture) pasien. Dalam bentuk kata-kata kesiapan mental untuk mendengar berita buruk misalnya dapat dilihat dalam percakapan berikut :D: (Setelah menceritakan berbagai penyakit yang memiliki gejala seperti yang diderita pasien) Jadi, pak Jusuf begitulah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada orang-orang yang memiliki gejala seperti bapak.P: Kalau begitu, apakah yang akan terjadi pada saya, dok? (pasien siap mental)D:Begini, pak. Penyakit pada mulut bapak saat ini sedang mengalami proses kemunduran (dokter melanjutkan dengan menyampaikan berita buruk tersebut).

Dalam bentuk mimik atau gerak kesiapan mental lebih sulit diterka, yaitu misalnya dalam bentuk : Wajah pasien yang tegang berubah jadi tenang. Pasien menarik nafas panjang. Pasien mengubah posisi duduknya dari posisi tegak ke posisi menyandar dan sebagainya.(Sarwono, 1982)Kerugian dari cara ini adalah bahwa seringkali pasien dapat menerka maksud dokter dan reaksi-reaksi emosionalnya muncul justru waktu dokter belum siap mental. Akibatnya dokter bertambah sulit mengendalikan emosi pasien (Sarwono, 1982).

2.2.2. Membiarkan pasien menyimpulkan sendiriDalam cara ini dokter tidak secara terbuka menyampaikan berita buruk itu, akan tetapi pasien diharapkan menyimpulkan nasibnya sendiri. Dokter dalam cara ini hanya memberikan pertanyaan sambil mengiringi pasien ke arah kesimpulan yang akan dibuatnya (Sarwono, 1982).Berikut diberikan contoh :D: sejak kapan awal sariawan ini muncul pak?P: sejak dua minggu lalu, dok. D: apakah sudah bapak beri pengobatan?P: sudah, dok. D: bagaimana efek dari obat tersebut pak?P: tidak ada, dok. Sampai saat ini sariawan itu tidak hilang dok. Justru saat ini pada waktu mengunyah dan menelah sedikit sulit dok.D: pak, setelah kami lakukan pemeriksaan kembali, ternyata terjadi perbesaran ulkus dan bercak putih di dalam rongga mulut bapak. Dan warna mukosa rongga mulut bapak juga pucat.P: jadi apakah saya ini kena kanker mulut dok ?Teknik ini hanya dapat dilakukan pada pasien-pasien yang mempunyai pendidikan atau kecerdasan yang cukup untuk membuat kesimpulan sendiri. Akan tetapi biasanya pasien tidak sabar dan malahan bertambah jengkel karena ditanya-tanya terus padahal ia sudah dalam keadaan sangat khawatir terhadap kesehatannya. Pasien bisa sampai kepada kesimpulan bahwa dokter mau melepaskan diri dari tangung jawabnya memberi tahu pasien tentang berita buruk itu (Sarwono, 1982).2.2.3. Membungkus berita burukDalam cara ini dokter membungkus berita buruk itu dengan kata-kata, sedemikian rupa sehingga kedengarannya berita buruk itu lebih baik dari keadaan yang sebenarnya (Sarwono, 1982).Berikut diberikan contoh :D: Saya khawatir bahwa bapak akan kehilangan sebagian dari lidah bapak saat operasi nanti. Akan tetapi, bapak jangan khawatir, kita akan bekerjasama dengan pihak bedah plastik rumah sakit untuk membuat lidah buatan untuk bapak.P: Lalu apakah saya tetap dapat berbicara dok?D: Kemungkinan akan ada kesulitan dalam berbicara, tapi dengan bantuan speech terapy, bapak masih ada harapan untuk dapat berbicara lagi.P: Kira-kira berapa lama sampai saya bisa bicara lagi dok?D: Waktunya bervariasi untuk setiap orang. Tapi ada pasien yang dapat berbicara kembali dengan jelas dalam waktu 8 minggu saja.Kelemahan dari cara ini adalah bahwa tidak semua pasien bisa menerima kenyataan-kenyataan yang dibungkus seperti itu.Beberapa pasien malah akan bertambah frustasi karena ia tahu bahwa keadaan yang sebenarnya tidaklah sebaik yang disampaikan dokter. Pasien bisa beranggapan bahwa dokter membohonginya (Sarwono, 1982).2.2.4. Banyak memberi alasanDengan cara ini, dokter memberikan berbagai alasan ke pasien untuk membenarkan berita buruk tersebut.Sebagai contoh, dokter akan mengemukakan alasannya setelah penyampaian berita buruk ke pasien:.... Walaupun demikian, bapak tidak perlu menyesal. Segala yang bapak lakukan telah dilakukan, demikian pula dengan kami sudah mengerjakan yang bisa kami lakukan. Memang, ilmu kedokteran sampai sekarang pun masih memiliki keterbatasan-keterbatasan. Ilmu kedokteranbelum bisa berbuat banyak untuk menyembuhkan penyakit bapak. Sekalipun bapak berobat ke luar negeri pun, hasilnya tidak akan jauh berbeda...Pada penggunaan teknik ini justru membuat pasien putus asa. Dalam keadaan sudah sangat khawatir, biasanya pasien masih mengharapkan petunjuk tentang cara lain yang masih dapat diupayakan untuk mengatasi penyakitnya. Dengan adanya alasan-alasan pembenaran yang dilakukan dokter terhadap pasien justru akan menyebabkan putusnya harapan pasien dan membuat pasien sangat frustrasi (Sarwono, 1982).Keempat cara yang telah dikemukakan diatas untuk mengurangi frustrasi pasien, dapat dilakukan secara terpisah atau dikombinasikan menurut selera dokternya sendiri. Cara-cara tersebut tidak mungkin meniadakan seluruh frustrasi. Frustrasi yang masih ada dapat dirasakan berat atau ringan, tergantung dari kondisi kejiwaan pasien itu sendiri (Sarwono, 1982).2.3.Jenis-jenis Reaksi Pasien Terhadap Frustasi Berikut penggolongan jenis-jenis reaksi pasien terhadap frustasi.2.3.1. Menerima kenyataan itu dengan sabarMisalnya:P:Baiklah, dok. Barangkali memang sudah demikian nasib saya. Sekarang, apa yang perlu saya lakukan selanjutnya untuk mencegah keparahan penyakit saya?(Sarwono, 1982)2.3.2. Bereaksi agresifMisalnya: P:Rahang saya akan diangkat dok? Oh ini adalah kesalahan dokter. Dulu saya sudah minya agar pengobatan saya dilakukan di luar negeri saja. Tapi dokter mengatakan bahwa di sini pun dokter dapat melakukannya. Sekarang kalau sudah begini, apa yang dapat dokter lakukan?(Sarwono, 1982)2.3.3. Penolakan terhadap kenyataanMisalnya:P:Tidak mungkin. Tidak mungkin saya akan kehilangan rahang saya. Setelah diterapi yang terakhir itu mulut saya rasanya sudah lebih enak tidak sakit lagi untuk menelan, bagaimana bisa jadi seperti ini? Paman saya ada yang lebih parah tumornya daripada saya, tetapi dia tidak sampai diangkat rahangnya. Para dokter bisa menolongnya.(Sarwono, 1982)

2.3.4. RegresiRegresiyaitu memberi reaksi dengan mundur kepada tingkat yang kekanak-kanakan. Misalnya, menangis keras-keras, menjerit-jerit sambil menarik-narik rambutnya atau memukul-mukul meja, pingsan, atau mengeluarkan kata-kata sebagai berikut:P:(diam untuk waktu yang lama) kalau begitu lebih baik saya berhenti bekerja saja. Tinggal di rumah dan biarlah ibu saya tinggal di rumah saya untuk merawat saya. Isteri saya dengan begitu bisa tetap bekerja mencari nafkah.(Sarwono, 1982)2.3.5. StereotipiStereotipimerupakan reaksi berulang-ulang terus.Misalnya: P:Sungguh saya tidak kira . . . rahang saya akan diangkat? . . . sungguh-sungguh di luar dugaan saya . . . Kehilangan rahang! . . . Bagaimana mungkin? Sungguh tidak saya kira . . . dan seterusnya.(Sarwono, 1982)Bagaimanapun juga reaksi pasien terhadap frustasi, dokter tidak boleh menanggapinya dengan kontra reaksi yang sama emosionalnya. Dokter harus tetap tenang, tetap menggunakan akal sehat, waaupun tetap harus dapat menunjukkan simpati pada pasien. Untuk itu dokter sebaiknya menggunakan cara yang lebih langsung dalam menyampaikan berita buruk (Sarwono, 1982).

2.4.Penyampaian Berita Buruk Secara LangsungPenyampaian berita buruk secara langsung merupakan cara yang lebih efektif dalam penyampaian berita buruk kepada pasien. Dengan penyampaian langsung ini, maka jelas dokter berada dalam keadaan siap mental untuk menghadapi frustasi pasien dan selanjutnya dapat menampung dan meredakan frustasi itu (Sarwono, 1982).Dalam penyampaian berita buruk secara langsung, ada 3 tahap yang harus dilalui dokter, yaitu:Tahap 1: penyampaian berita buruk itu sendiriTahap 2: memperendah tingkat frustasiTahap 3: mencari pemecahan persoalan(Sarwono, 1982)Setiap berita buruk tentu akan menimbulkan frustasi, tetapi yang terpenting adalah mencari jalan keluar dari keadaan yang buruk itu. Untuk bisa mencari jalan keluar, tingkat frustasi harus direndahkan dulu agar pasien tidak terlalu emosional.Tugas mencari pemecahan persoalan dan merendahkan tingkat frustasitermasuk dalam kewajiban dokter juga (Sarwono, 1982).

Tahap 1. Penyampaian berita buruk

Seringkali pasien sudah mempunyai dugaan tentang keadaan yang buruk itu, hanya saja ia belum merasa pasti. Pasien mempunyai hak untuk segera bebas dari ketidakpastian ini. Dalam menyampaikan berita buruk dokter harus memperhatikan hal-hal berikut: Berita buruk langsung disampaikan pada awal percakapan. Dokter jangan melakukan berbagai aksi menghindar. Dokter harus meyampaikan berita dalam kalimat yang sesingkat mungkin, tetapi dalam kalimatnya itu dokter juga harus menunjukkan bahwa ia memperhatikan perasaan pasien. Nada suara dokter harus menunjukkan bahwa dokter ikut menghayati apa yang diarasakan pasien.(Sarwono, 1982)

Contoh : D: hasil pemeriksaan kami menunjukkan bahwa terdapat tumor pada mulut bapak. Tumor ini sudah menggerogoti hampir seluruh rahang bawah bapak, sehingga terpaksa kami harus mengambil rahang bawah bapak. Saya mengerti bahwa bapak tentunya sangat sedih.

Tahap 2. Penurunan Tingkat FrustasiSetelah berita buruk disampaikan, dokter harus berusaha menurunkan frustasi pasien. Untuk itu ada 2 macam cara : Mengucapkan kata-kata simpati. Memberikan informasi kepada pasien bahwa ada hal-hal yang membuatnya tidak usah terlalu kecewa, misalnya bahwa dokter dapat menghilangkan tumornya dengan segera dengan cara yang baik dan tidak sakit, bahwa tumornya belum sampai tingkatan yang parah, dan sebagainya. Bedanya dari cara penyampaian berita buruk yang menghindari frustasi adalah bahwa informasi ini disampaikan sesudah berita buruk, tidak sebelumnya.(Sarwono, 1982)Mengurangi frustasi sampai tingkat yang paling rendah adalah sangat penting karena bila tingkat frustasi masih tinggi dokter tidak akan sampai pada pemecahan persoalan. Kalau frustasi tidak dapat diturunkan sekaligus, usaha ini sebaiknya ditunda dan dilanjutkan lain kali (Sarwono, 1982).

Tahap 3. Pemecahan PersoalanDi sini dokter memberikan nasihat-nasihat berupa pilihan-pilihan yang dapat ditempuh oleh pasien untuk mengatasi persoalan yang akan dihadapinya sebagai akibat dari keadaannya yang tidak diharapkan tersebut (Sarwono, 1982). Contoh :P:Jadi bagaimana pekerjaan saya kalau saya sampai harus rawat inap ya Dokter?D:Saya bisa membuatkan surat untuk atasan Bapak agar Bapak beroleh izin sekaligus tunjangan sesuai dengan kesehatan Bapak.P:Bagaimana dengan penampilan saya nanti apabila tumornya diangkat?D:Tidak apa-apa. Seiring waktu nanti akan tampak normal lagi. Saya bisa menutupi tampilan yang bengkak dengan perban.P:Bagaimana dengan rasa sakitnya nanti?D:Tidak apa-apa, saya bisa mengusahakan dengan pemberian obat anti rasa sakit yang tidak mahal.Dan seterusnya.2.5.Penyampaian Berita Buruk Dengan Metode SPIKESMetode SPIKES mengacu pada enam tahap dalam penyampaian berita buruk.1. SETTING UP the interviewAturlah privasi. Idealnya, disiapkan ruangan khusus. Penyampaian berita buruk harus dilakukan pada tempat yang nyaman yang menyediakan privasi bagi pasien dan relatif tenang. Ruangan harus cukup luas untuk menampung para staf atau perawat serta seluruh anggota keluarga pasien yang mendampingi pasien saat penyampaian berita buruk (Buckman, 1996; Maynard, 1991). Siapkan tissue untuk berjaga-jaga apabila pasien menangis (Baile dkk, 2000).Libatkan orang lain. Kebanyakan pasien biasanya ingin ditemani oleh orang lain. Namun, orang tersebut haruslah pilihan pasien. Ketika ada anggota keluarga pasien, mintalah pasien memilih satu atau dua perwakilan keluarga (Baile dkk, 2000).

Duduk. Posisi duduk akan membuat pasien lebih relaks dan menandakan bahwa dokter tidak terburu buru. Pemilihan waktu dalam penyampaian berita buruk sangat penting. Penjadwalan ulang atau pemilihan waktu lain perlu dilakukan agar dapat menyampaikan berita buruk kepada pasien pada saat yang tepat. Jika terburu-buru, dokter dapat dianggap tidak peduli dengan pasien dan proses. Bukti menunjukkan bahwa dokter mungkin menunda pencairan berita buruk meskipun pada kenyataannya sebagian besar pasien ingin mendengarnya (Blanchard dkk, 1988; Hopper dan Fischbach, 1989) dan beberapa dokter menghindari situasi untuk membicarakan prognosis (Seale, 1991). Ketika duduk, usahakan tidak ada batas antara dokter dan pasien. Mengatur koneksi dengan pasien. Melakukan kontak mata mungkin saja terasa kurang nyaman, namun ini merupakan cara penting untuk membangun sebuah hubungan. Memegang lengan atau tangan pasien apabila pasien bersedia juga merupakan cara mencapainya. Mengelola waktu dan interupsi. Ketika menyampaikan kabar buruk pada pasien usahakan jangan ada interupsi. Sebaiknya seorang dokter mengatur telepon genggamnya dalam keadaan diam (Baile dkk, 2000).Listening mode: ON. Sebelum menyampaikan kabar buruk, hendaknya persiapkan kemampuan mendengar, secara prinsip meliputi: Silence Jangan memotong kata-kata pasien ataupun berbicara tumpang tindih dengan pasien Repetition Ulangi kata-kata pasien atau berikan tanggapan, untuk menunjukkan pemahaman terhadap apa yang ingin disampaikan pasien.Availability Dokter harus ada di tempat mulai awal hingga akhir penyampaian kabar buruk. Jangan sampai ada gangguan berupa interupsi, seperti: Ada sms, telepon, atau sekedar missed call saja matikan hp, atau aktifkan mode silent. Apabila ada tamu, minta bantuan pada perawat untuk mengatasi tamu yang mungkin dating

2. Assesing the Patients PERCEPTIONLangkah kedua dan ketiga dari SPIKES merupakan interview yang menerapkan sebelum berkata, tanyalah. Sebelum mendiskusikan hasil medis, dokter menggunakan pertanyaan terbuka untuk menilai persepsi pasien akan keadaannya. Contohnya, Sejauh mana anda tahu mengenai penyakit anda atau Apakah anda tahu kenapa kami melakukan MRI?. Berdasarkan informasi yang diperoleh, dokter dapat mengoreksi informasi yang salah dan menyesuaikan kabar buruk dengan pemahaman pasien. Dari sini juga dapat dilihat apakah pasien menyangkal suatu penyakit: angan angan ataupun harapan pengobatan yang tidak realistis (Baile dkk, 2000).

3. Obtaining the patients INVITATIONKebanyakan pasien menginginkan informasi penuh akan diagnosis, prognosis, hingga detail penyakit yang pasien derita. Namun beberapa pasien tidak. Penting untuk menanyakan kepada pasien sedetail apa informasi yang mereka inginkan. Pertanyaan yang bisa dokter tanyakan misalnya, Bagaimana anda ingin saya menyampaikan hasil tes anda? Apakah anda ingin saya menyampaikan semuanya atau hanya gambaran besar dan kita akan berdiskusi mengenai perawatannya? (Baile dkk, 2000).

4. Giving KNOWLEDGE and information to the patientMemulai percakapan dengan kalimat seperti, Saya khawatir bahwa kabar yang saya sampaikan adalah kabar yang kurang baik atau Dengan berat hati saya sampaikan bahwa... dapat mengurangi syok pada pasien saat mendengarkan berita buruk.Dalam menyampaikan hasil medis, terjemahkan istilah medis kedalam Bahasa Indonesia, misalnya gunakan kata menyebar untuk menggantikan kata metastasis. Dokter juga harus menghindari pernyataan yang berlebihan seperti Kanker yang anda derita sangat buruk. Meskipun anda diobati secepatnya, anda akan tetap tidak dapat bertahan. Berikan informasi dalam potongan kecil, dan pastikan untuk berhenti menjelaskan untuk memastikan bahwa pasien paham dengan apa yang dijelaskan (Baile dkk, 2000).

Cara penyampaian: Gunakan bahasa yang sama dan hindari istilah medis. Bila bahasa pasien berbeda, gunakan penerjemah yang kompeten, sebaiknya: Mengerti dan dapat menggunakan bahasa yang digunakan pasien. Mengerti dan dapat menggunakan bahasa yang digunakan dokter. Dapat mengemas jargon-jargon medis ke dalam bahasa yang dimengerti pasien. Bukan merupakan keluarga pasien penerjemah dari pihak pasien dapat menyebabkan peran ganda (sebagai keluarga pasien dan sebagai penyampai kabar buruk dari pihak medis) Sampaikan informasi sedikit demi sedikit (bertahap) Setiap menyampaikan sepenggal informasi, nilai ekspresi dan tanggapan pasien, beri waktu pasien untuk bertanya ataupun sekedar mengekspresikan emosinya. Bila kondisi pasien tampak memungkinkan untuk menerima informasi tahap selanjutnya, teruskan penyampaian informasi. Bila pasien tampak sangat tergunjang hingga tidak memungkinkan untuk menerima lebih banyak informasi lagi, pertimbangkan penyampaian ulang kabar buruk di lain waktu sambil mempersiapkan pasien. Sampaikan dengan intonasi yang jelas namun lembut, tempo yang tidak terlalu cepat dengan jeda untuk memberi kesempatan pada pasien dalam mencerna kalimat yang diterima.

5. Adressing the patients EMOTIONS with emphatic responsesMerespons emosi pasien merupakan salah satu hal sulit dalam menyampaikan berita buruk. Pasien dapat bereaksi dengan diam, menangis, menyangkal, hingga marah, Pada situasi seperti ini, seorang dokter dapat memberi dukungan dan solidaritas dengan memberi respons empati. Diskusi tidak akan dapat berlanjut selama emosi pasien masih ada (Baile dkk, 2000).

6. STRATEGY and SUMMARYSebelum menentukan rencana perawatan, prnting untuk menanyakan apakah pasien sudah siap untuk berdiskusi. Buatlah rencana langkah demi langkah dan berikan penjelasan yang lengkap kepada pasien mengenai rencana perawatannya. Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan sebagai antisipasi jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan selama perawatan (Baile dkk, 2000).Di akhir percakapan, review kembali percakapan secara keseluruhan: simpulkan kabar buruk yang tadinya disampaikan secara bertahap (sedikit demi sedikit). Simpulkan juga tanggapan yang diberikan pasien selama kabar buruk disampaikan tunjukkan bahwa dokter mendengarkan dan mengerti apa yang disampaikan pasien. Berikan pasien kesempatan bertanya. Berikan feed back. Percakapan yang ada harus terdokumentasi dalam rekam medis pasien. Harus tertera dengan jelas: Apa yang telah dikatakan atau disampaikan, dan kepada siapa Terms used tumor, massa, dll Informasi spesifik mengenai pilihan terapi dan prognosis Diskusikan rencana untuk menindaklanjuti kabar buruk yang telah disampaikan pada pasien.Untuk mengajak pasien ikut serta (pro aktif) dalam medikasi terhadap dirinya (both doctor and patient will play role to take next steps).

BAB IIIKESIMPULANBerita buruk merupakan segala informasi yang secara serius dapat memperburuk pandangan seseorang tentang masa depannya. Komunikasi dokter gigi-pasien dalam penyampaian berita buruk sangat penting untuk dipelajari. Berita buruk dapat disampaikan melalui dua metode yaitu metode tidak langsung dan metode langsung. Beberapa contoh metode tidak langsung antara lain menunda penyampaian berita buruk sampai saat yang dianggap tepat, membiarkan pasien menyimpulkan sendiri, membungkus berita buruk, dan banyak memberi alasan. Metode langsung memiliki keunggulan dibandingkan metode tidak langsung yaitu lebih efektif dan dokter siap mental. Penyampaian berita buruk juga dapat dilakukan dengan metode SPIKES. Komunikasi atau penyampaian berita buruk yang tepat akan menghasilkan pemahaman yang baik pada pasien sehingga akan menentukan keberlanjutan terapi dan kesembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Baile, WF., dkk. 2000. SPIKES - A Six-Step Protocol for Delivering Bad News: Application to the Patient with Cancer. The Oncologist, 5:302-311.Blanchard, GC., dkk. 1988. Information and decision making preferences of hospitalized adult cancer patients. Social Science Medicine, 27, pp. 1139-1145.Buckman, R. 1996. Talking to patients about cancer. British Medical Journal, 31, pp. 699-700.Hopper SV., dan Fischbach RL. 1989. Patient-physician communication when blindness threatens. Patient Educ Couns, 14(1), pp. 69-79.Maynard, DW. 1991. Bearing bad news in clinical settings. In B. Dervin & M. J.Voight (Eds), Progress in communication sciences, Vol. 10, pp. 143-172.Robert L. Arnold, EdD, MA, Kathleen Egan, MA, RN, Breaking the 'Bad' News to Patients and Families: Preparing to Have the Conversation About End-of-Life and Hospice Care Sarwono, SW. 1982. Bimbingan Konseling dalam Praktek Dokter. Jakarta: Penerbit N.V. Bulan Bintang. Halaman 21-29.Seale, C. 1991. Communication and awareness about death: A study of random sample of dysig people. Social Science Medicine, 32, pp. 943-952.Sukardi, E., dkk. 2007. Modul Komunikasi Pasien Dokter. Jakarta : EGC.Wright, KB., dkk. 2013. Health Communication in the 21st Century. USA: Wiley Blackwell.

1