Majalah Info BPJS Kesehatan, Edisi 14, Tahun 2014

Download Majalah Info BPJS Kesehatan, Edisi 14, Tahun 2014

Post on 20-Jul-2015

991 views

Category:

Healthcare

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ul><li><p> Edisi XIV Tahun 2014</p><p>INFOBPJSKesehatan Media Internal Resmi BPJS Kesehatan</p><p>RS SwastaMakin Mantap Layani BPJS</p></li><li><p>CEO Message</p><p>Pengarah</p><p>Fachmi IdrisPenanggung Jawab</p><p>Purnawarman Basundoro Pimpinan Umum </p><p>IkhsanPimpinan Redaksi</p><p>Irfan HumaidiSekretaris</p><p>Rini RachmitasariSekretariat</p><p>Ni Kadek M. DeviEko Yulianto</p><p>Paramitha SucianiRedaktur </p><p>Diah IsmawardaniElsa Novelia</p><p>Chandra NurcahyoYuliasman</p><p>Juliana RamdhaniBudi Setiawan</p><p>Dwi SuriniTati Haryati Denawati</p><p>Distribusi dan Percetakan</p><p>BasukiAnton Tri Wibowo</p><p>Buletin diterbitkan oleh:</p><p>BPJS KesehatanJln. Letjen Suprapto PO BOX </p><p>1391/JKT Jakarta PusatTlp. (021) 4246063, Fax. </p><p>(021) 4212940 </p><p>Redaksi</p><p>Redaksi menerima tulisan artikel/opini berkaitan dengan tema seputar Askes </p><p>maupun tema-tema kesehatan lainnya yang relevan dengan pembaca yang ada </p><p>di Indonesia. Panjang tulisan maksimal 7.000 karakter (termasuk spasi), </p><p>dikirimkan via email ke alamat: redaksi.infobpjskesehatan@gmail.com dilengkapi </p><p>identitas lengkap dan foto penulis</p><p>DAFTAR ISI</p><p>BINCANG5</p><p>SURAT PEMBACAemail : redaksi@bpjs-kesehatan.go.id Fax : (021) </p><p>4212940</p><p>3</p><p>6</p><p>7</p><p>8</p><p>9</p><p>10</p><p>INFO BPJSKesehatan</p><p>EDISI XIV TAHUN 2014</p><p>Pembaca setia Info BPJS Kesehatan, Sebagai badan pengelolan keuangan, BPJS Kesehatan diharapkan dapat menerapkan standar tata kelola perusahaan yang baik (good governance/GG) yang tinggi agar mampu menjaga diri dari krisis. Risiko krisis keuangan baik yang terjadi pada tataran nasional ataupun global merupakan bagian dari dinamika. Oleh karena itu, diperlukan standar yang tinggi dalam penerapan GCG terutama di institusi keuangan yang mengelola dana dari masyarakat.</p><p>Merujuk pada ambruknya ekonomi Amerika Serikat akibat krisis pada sektor keuangan, Kalla mengingatkan agar prinsip-prinsip GCG di industri keuangan benar-benar diterapkan. Jika sampai ambruk maka pengaruh buruknya bisa ditanggung oleh seluruh masyarakat Indonesia, bahkan hingga 30 tahun.</p><p>institusi yang mengelola keuangan merupakan salah satu institusi yang sangat rentan terpengaruh oleh gejolak ekonomi global. Oleh karenanya, pengelolaan sektor ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas. Secara khusus Info BPJS akan mendalami hal ini di rubrik FOKUS.</p><p>Memasuki edisi ke-13 Info BPJS Kesehatan, redaksi mengucapkan terimakasih atas apresiasinya terhadap kehadiran kembali media yang kita cintai ini. Sehingga kami benar-benar bahagia dan tetap bersemangat menerbitkan Info BPJS Kesehatan secara konsisten. Dengan masukan dan saran yang secara simultan kami terima untuk pembenahan media ini kami berupaya memberikan yang terbaik dalam upaya memberikan informasi seputar BPJS Kesehatan kepada seluruh pembaca.</p><p>Salam, Redaksi</p><p>Good Governance PentingBagi BPJS Kesehatan </p><p>Pembayaran AutodebetYth. Redaksi</p><p>Apakah pembayaran peserta bisa dapat melakukan pembayaran dengan autodebet ? </p><p>Bagaimana caranya ? </p><p>Syarifah, banyuwangi</p><p>Jawab : Bisa, peserta dapat melakukan pembayaran dengan sistem autodebet. Adapun cara pendebetannya adalah :</p><p>a. Peserta harus memiliki rekening salah satu bank mitra BPJS kesehatan.b. Peserta mendaftarkan diri pada petugas cabang bank mitra untuk dilakukan autodebet.c. Peserta telah menyelesaikan seluruh kewajiban sebelumnya yang tertunggak (jika ada)d. Peserta menjaga saldo agar dapat didebet untuk pembayaran iuran BPJS Kesehatan.</p><p>Salam, Redaksi</p><p>Pembangunan Manusia</p><p>Sejak tahun 2003 negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), sudah merintis lahirnya suatu kawasan ekonomi baru yang akan menjadi salah satu barometer ekonomi dunia yang dinamakan dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan kekuatan pasar 680 juta modal manusia, 10 negara ASEAN ingin meningkatkan daya saing ekonomi ASEAN khususnya dari Tiongkok dan India dalam hal aarus bebas barang, arus bebas jasa, arus bebas investasi, arus bebas modal dan arus bebas tenaga kerja terampil. Pemberlakuan MEA pada 31 Desember 2015 tentu membawa kekhawatiran sendiri bagi ekonom, pekerja dan pelaku pasar dalam negeri. Dengan penduduk 242,3 juta atau 40% dari total populasi kawasan ASEAN, jangan sampai Indonesia hanya menjadi target pasar bagi negara-negara ASEAN lain. Kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat berdasarkan data International Finance Corporation beberapa indikator seperti infrastruktur, pendidikan dasar, kesehatan, sistem keuangan dan peringkat melakukan bisnis di Indonesia nyatanya masih berada di bawah negara-negara ASEAN. Dalam hal efisiensi pasar tenaga kerja, Indonesia tercatat juga masih berada di peringkat 103.</p><p>Kemudian berdasarkan data UNDP tahun 2014 sekali lagi terungkap bahwa nilai Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia masih berada di angka 0,629. Angka ini jauh di bawah negara-negara ASEAN seperti Singapura (0.895), Brunei Darussalam (0,855), Malaysia (0,769), Thailand (0.690) dan Filipina (0.654). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasi kapankah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang.</p><p>Dengan fakta-fakta ini, tentu dibutuhkan suatu keyakinan yang dibarengi dengan kerja keras dari semua pihak untuk mengubah kekhawatiran tadi menjadi satu peluang besar. Meskipun nyatanya dengan kondisi seperti saat ini pun, sesuai data Bank Dunia 2014, Indonesia berhasil memasuki 10 besar ekonomi dunia berdasarkan PPP (Purchasing Power Parity). Dengan market share sebesar 2,3%, Indonesia sukses menempatkan diri setelah Amerika (17.1%), RRC (14.9%), India (6.4%), Jepang (4.8%), German (4.8%), Federasi Rusia (3.5%), Brazil (3.1%), Perancis (2.6%) dan Inggris (2.6%). Namun besarnya ekonomi ini tentu akan menjadi kekuatan yang luar biasa jika dibarengi dengan kualitas manusia yang handal, yaitu manusia Indonesia yang aktif menjadi subyek penentu atas perilaku pasar ekonomi dunia. </p><p>Selama ini pemain besar ekonomi dunia di Asia adalah negara Jepang. Negara Jepang adalah negara yang tidak begitu luas dibandingkan dengan Indonesia.Luas Negara Jepang kurang dari 20% dari luas negara Indonesia. Karena eksistensi Jepang dengan keberhasilan manufaturer-nya, sorotan dunia pun tertuju ke Asia Timuryaitu negara yang telah tumbuh menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Apakah kuncinya ? ternyata Jepang sebagai negara pembuat barang, menambahkan nilai (value added) ke dalam barang-barang yang diciptakannya berdasarkan filosofi industry Jepang yaitu Monozukuri.</p><p>Konsep monozukuri secara harfiah berarti membuat barang, yaitu suatu usaha untuk menciptakan barang melalui pembangunan manusia (hitozukuri). Menurut Rachmat Gobel, monozukuri merupakan konsep sustainability, artinya monozukuri menjadi arah pandang manusia dalam bekerja, yang tujuannya bukan hanya untuk hasil produk saja tetapi juga memiliki atau menekankan proses pembuatan dengan ketelitian, ketangguhan, kesungguhan yang terus menerus serta layanan (service) yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Inilah yang membentuk suatu kultur korporasi yang baik karena dengan monozukuri maka dibangunlah standar atau acuan yang tinggi bagi pekerja sehingga dapat memberikan hasil terbaik yang dapat diwariskan kepada keturunan atau generasi selanjutnya. </p><p>Melakukan Monozukuri tidak dapat dipisahkan dengan hitozukuri ( hito berarti manusia, dan zukuri berarti proses). Melalui Monozukuri, maka berarti industry juga membangun sumber daya manusianya, membangun kultur hidup dan bukan hanya sekedar mempekerjakan manusia semata. Hitozukuri adalah membentuk manusia dalam arti secara terus menerus mengembangkan ketrampilan teknis dan kemampuan untuk memecahkan masalah dengan orang lain dalam suasana saling percaya. Tidak heran bahwa banyak perusahaan Jepang menjadikan karyawannya sebagai salah satu komponen pemilik saham, dimana dengan cara ini selain mengikat secara materiil juga terlebih secara emosional, yaitu rasa memiliki dan keinginan untuk terus memajukan perusahaan dengan karya terbaiknya.</p><p>Kita tentu bisa meniru budaya baik negara Jepang ini ke dalam kehidupan berbangsa kita sendiri. Pembangunan manusia yang kita kerjakan sudah seharusnya tidak sekedar membangun fisik atau pun kepandaian semata, namun lebih dari itu membangun nilai dan sikap mental. Sebagaimana Einstein katakan seharusnya setiap manusia tidak hanya bercita-cita untuk sukses, melainkan berupaya untuk menjadi manusia yang bernilai. Inilah makna pembangunan manusia yang sesungguhnya, yaitu ketika setiap pribadi mmberikan sumbangsih terbaik, kemudian terus memperbaiki diri dengan upaya terbaik sehingga sampai pada suatu titik nanti manusia bukan hanya sekedar homo melainkan benar-benar menjadi human yang memiliki prinsip, nilai dan kemanusiaan yang terus melekat pada dirinya. </p><p>Direktur UtamaFachmi Idris</p><p>Fokus - RS Swasta Makin Mantap Layani BPJS</p><p>Fokus - Bukan Hanya Mengedepankan Kualitas Pelayanan Puskesmas Kotabumi Bertekad Tingkatkan Kompetensi</p><p>Benefit - Ikuti Prosedurnya, Dapatkan Manfaat JKN</p><p>Pelanggan - Sistem Rujukan Berjenjang Memberi Kenyamanan</p><p>Testimoni - Menyisihkan Rp25.500 Setiap Bulan, Raih Manfaat Jutaan Rupiah</p><p>Sehat - Kelelahan dan Perubahan Pola Makan Sebabkan Diabetes Penyakit Kadar Gula Darah Bisa Timbulkan Kebutaan</p><p>4</p><p>Kilas &amp; Peristiwa - Gandeng Dewan Masjid Indonesia Sebagai Mitra Sosialisasi, BPJS Kesehatan Gelar Pelatihan</p><p>Bincang - Menkes, Nafsiah Mboi ,Puskesmas dan RS Harus Terus Tingkatkan Pelayanan</p></li><li><p>Info BPJS Kesehatan edisi 14 Tahun 2014</p><p>F kus</p><p>3</p><p>Siapa bilang, rumah sakit atau klinik yang bergabung atau kerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, merugi. Sebaliknya, pihak rumah sakit atau klinik justru sangat diuntungkan.Sebab, sistem pembayarannya menggunakan sistem kapitasi dan INA CBGs.</p><p>Artinya, jika sebuah klinik sudah ditentukan jumlah kuota pelayanan peserta BPJS Kesehatan, maka, akan sangat untung jika klinik itu mampu memberikan langkah-langkah agar anggotanya tidak sakit. Ya, klinik itu, tetap diberikan dana sesuai jumlah kuatanya, walaupun hanya sedikit yang sakit.</p><p>Begitu pun rumah sakit yang hingga sekarang tetap mengggunakan pembayaran sesuai dengan tarif INA CGs.Melihat keuntungan ganda, banyak rumah sakit antre untuk bergabung dengan BPJS Kesehatan. Bagi yang sudah bergabung, diharapkan, rumah sakit swasta memegang komitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tanpa menarik biaya apapun, kecuali jika ada peserta naik kelas perawatan sehingga peserta itu harus membayar selisihnya.</p><p>Sejauh ini, memang belum seluruh rumah sakit swasta, yang belum bergabung, karena masih ada beberapa rumah sakit swasta yang belum memahami cara kerja BPJS Kesehatan karena selama ini rumah sakit swasta menerapkan pembayaran terpisah. Sebagai gambaran, </p><p>ketika pasien di laboratorium mereka harus membayar dan ketika diperiksa oleh dokter maka mereka harus mengeluarkan biaya lagi.</p><p>Bagi rumah sakit yang sudah bergabung, akan terus memberikan pelayanan prima bagi peserta BPJS Kesehatan. Misalnya, RS Siloam di Karawaci atau pun RS Siloam, di Kupang. Siloam Hospital terus menghadirkan fasilitas kesehatan dengan pelayanan berstandar internasional ke seluruh daerah. Untuk memberikan pelayanan kesehatan paripurna bagi seluruh masyarakat di provinsi timur Indonesia itu. Rumah Sakit Umum Siloam Hospital (RSUSH) Kupang adalah rumah sakit ke-19 yang telah dibangun Lippo Group.</p><p>RS Swasta Makin Mantap Layani BPJS</p><p>RS Siloam Kupang lebih fokus melayani pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sebagian besar atau sekitar 70 persen fasilitas layanannya diperuntukkan bagi pasien peserta JKN.</p><p>Kami sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan Cabang Kupang untuk melayani pasien JKN, termasuk penerima bantuan iuran. Sekarang pun kalau ada pasien JKN yang memerlukan layanan, kami siap, kata Corporate Secretary, Insurance, Legal and Safety Siloam Hospital, S Budisuharto di Jakarta.</p><p>Sampai saat ini sebanyak 6 dari 19 Siloam Hospital fokus memberikan pelayanan kepada peserta JKN. Layanan itu meliputi rujukan rawat inap di tingkat dasar dan rawat inap tingkat lanjutan. Tahun depan, Siloam Hospital memantapkan komitmen untuk secara keseluruhan menerima peserta JKN. Budisuharto mengatakan untuk mengantisipasi lonjakan pasian JKN di Siloam Hospital Kupang, yang diperkirakan bisa terjadi, beberapa tenaga dari rumah sakit telah dilatih oleh BPJS Kesehatan untuk mengoperasionalkan sistem yang ada.</p><p>Keberadaan Siloam Hospital Kupang sendiri, menurut Budisuharto, akan membantu pemenuhan kebutuhan tempat tidur rumah sakit di NTT. RS ini, memiliki 5,2 juta jiwa penduduk dengan jumlah tempat tidur kurang dari 3.000,maka masih terdapat kekurangan bila berdasarkan rasio 1.000 penduduk membutuhkan 1 tempat tidur. Dari seluruh pasien di 34 RS, termasuk Siloam Hospital, yang ada di NTT, 2,7 juta jiwa di antaranya adalah pengguna JKN. Siloam Hospital Kupang memiliki kapasitas 600 tempat tidur, namun untuk tahap awal mulai dioperasionalkan 100.</p><p>Menurut Grace Frelita selaku Managing Director PT Siloam Internasional mengatakan Siloam Hospital Kupang termasukyang terbaik dari Silaom Hospital yang sudah dibangun. Siloam Kupang memiliki gedung besar dan kenyamanan dengan teknologi kesehatan canggih.</p></li><li><p>Info BPJS Kesehatan edisi 14 Tahun 2014</p><p>fokus </p><p>4 Info BPJS Kesehatan edisi 9 Tahun 2014</p><p>Sejak dioperasionalkan jaminan kesehatan nasional (JKN) pelayanan kesehatan tidak lagi terpusat di rumah sakit atau fasilitas kesehatan (faskes) tingkat lanjutan, namun pelayanan kesehatan harus dilakukan secara berjenjang sesuai dengan kebutuhan medisnya. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan, dengan menganut prinsip managed care, yakni, Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif.</p><p>Prinsip inilah yang diberlakukan pelayanan kesehatan dan difokuskan di Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)/Faskes Primer seperti di Puskesmas, klinik atau dokter prakter perseorangan yang akan menjadi gerbang utama peserta BPJS Kesehatan dalam mengakses pelayanan kesehatan.</p><p>Efek dari implementasi Jaminan Kesehatan nasional ke depan, akan mengakibatkan naiknya permintaan (demand) masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena kepastian jaminan sudah didapatkan. Jika FKTP/faskes primer tidak diperkuat, masyarakat akan mengakses faskes tingkat lanjutan sehingga akan terjadi kembali fenomena rumah sakit sebagai puskesmas raksasa.Untuk itu, dalam memberikan penguatan fasilitas kesehatan primer ini, diharapkan tenaga-tenaga medis yang berada di jenjang FKTP/Faskes Primer ini, harus memiliki kemampuan dan harus menguasai hal-hal terbaru mengenai prediksi, tanda, gejala, penegakan diagnosis dan penatalaksanaan komprehensif mengenai berbagai penyakit.</p><p>"Kita harus punya jejaring dengan rumah sakit umum untuk memiliki salah satu atau beberapa tenaga kesehatan. Agar Tidak datang ke kita aja," kata Dirut RS jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Dr Hananto. Sebagai ru...</p></li></ul>