majalah balipost edisi 113

Download Majalah balipost edisi 113

Post on 24-Jul-2016

271 views

Category:

Documents

12 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

  • RP 20.000

    113 |9 - 15 November 2015

    Bali Alami Pergeseran

  • 9 - 15 November 2015 3

    D A F T A R I S I

    PENDIDIKANz Tambal Krisis Guru dengan Guru Kontrak 18MANCANEGARAz Misteri MH370 Berlanjut 20DAERAHz Mangku Prajapati Ditangkap Prajuru Adat Langkan Minta Maaf 22

    LENSAz Layang-layang 26

    OLAHRAGAz Sial Ganda 27LINGKUNGANz Bopeng di Tebing Tukad Petanu 36PEMERINTAHANz Rakor Penjabat Bupati dengan Para Camat di Badung, Yudha Saka Pastikan Penyelenggaraan Pilkada Tertib dan Lancar 38PARIWISATAz Wisata Ubud, Kedamaian Mengagumkan di Pulau Dewata 39TRADISIz Sampi Gerumbungan Warisan Budaya Agraris Khas Buleleng 48

    OPINIz Membumikan Tri Hita Karana untuk Lingkungan 6BALI SEPEKANzPuluhan Hektar Tanaman Jeruk Terancam Mati 7LAPORAN UTAMAzMaksimalisasi Rente 8zPerlu Terobosan Atasi Ketimpangan 9

    zBali Alami Pergeseran 11POLITIKzMenata Kebijakan Investasi 16zMerevitalisasi Makna Sumpah Pemuda 17

  • 49 - 15 November 20154

    D A R I P E M B A C A

    Bagi Anda yang ingin mengirimkan artikel/opini atau pikiran pembaca silakan kirimkan ke balipost@indo.net.id atau redaksibalipost@yahoo.com. Panjang artikel maksimal 2.500 karakter, sertakan foto, pikiran pembaca maksimal 1.000 karakter.

    Bali Memerlukan Pemimpin Berjiwa Pejuang

    PerintisK Nadha

    Pemimpin UmumABG Satria Naradha

    Pemimpin Redaksi/Penanggung JawabWirata

    Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggung JawabAlit Purnata

    Sekretaris RedaksiSugiarthaRedaksi

    Alit Susrini, Alit Sumertha, Daniel Fajry,Dira Arsana,Mawa, Suana, Sueca,

    Yudi Winanto, Subrata, Budi Wiriyanto, Diah Dewi.Anggota Redaksi Denpasar

    Giriana Saputra, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi, Subrata, Sumatika, Asmara Putra, Yudi

    Karnaedi, Pramana Wijaya, Eka Adhiyasa, Parwata, Rindra, Agustoni, Ngurah Kertanegara, Komang

    Suryawan, Agung Dharmada. Bangli: Ida Ayu Swasrina,

    Buleleng: Dewa Kusuma, Mudiarta, Gianyar: Manik Astajaya, Dedy Sumartana

    Karangasem: Budana, Bagiarta Klungkung: Dewa Dedy Farendra, Negara: IB Surya Dharma,Tabanan: Dewi Puspawati, Wira Sanjiwani.

    JakartaNikson, Hardianto, Ade Irawan

    NTBAgus Talino,

    Izzul Khairi, Raka Akriyani

    SurabayaBambang Wiliarto

    Kantor RedaksiJalan Kepundung 67 A Denpasar 80232.

    Telepon : (0361)225764, Facsimile: 227418,

    Alamat Surat: P.O.Box:3010 Denpasar 80001. Perwakilan Bali Post Jakarta, Bag.Iklan/Redaksi:

    Jl.Palmerah Barat 21F. Telp 021-5357602, Facsimile: 021-5357605 Jakarta Pusat.

    NTB: Jalam Bangau No. 15 Cakranegara Telp. (0370) 639543,

    Facsimile: (0370) 628257 Manajer Iklan: Suryanta,

    Manajer Sirkulasi: Budiarta, Alamat Bagian Iklan: Jl.Kepundung 67A,

    Denpasar 80232 Telp.: 225764, Facsimile : 227418 Senin s.d. Jumat 08.00-19.00,

    Sabtu 08.00-13.00, Minggu 08.00-19.00. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers

    SK Menpen No. 005/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 Tanggal 24 Oktober 1985, ISSN 0852-6515. Anggota SPS-SGP,

    PenerbitPT Bali Post. Rek. BCA KCU Hasanudin Denpasar AC: 040-3070618 a/n PT. Bali Post. Rek. BRI Jl. Gajahmada Denpasar A/C: 00170 1000320 300 an

    Pt.Bali Post.Dicetak di Percetakan BP

    Suasana persaingan ketat di antara para calon pemimpin Bali saat ini kian masif. Baliho bertebaran, deklarasi para pendukung kian semarak sampai Puri pun terkesan dipolitisir demi kepentingan sesaat.

    Nuansanya sangat berbeda dengan proses calon pemimpin pada masa per-juangan dulu. Tak ada yang melamar menjadi pejuang untuk bertempur mela-wan penjajah. Mereka lahir sebagai pemimpin secara alami karena keberanian dan idealismenya dalam membela bangsa dan negaranya.

    Seorang pejuang adalah seorang idealis dan individualis, tak memerlukan atribut sosial berupa pujian, sanjungan, pangkat, jabatan, kekuasaan apalagi materi. Mereka adalah patriot sejati yang melakukan sesuatu melampaui dirinya sendiri, karena tahu betul bahwa hasil perjuangannya tak akan pernah dinikmati olehnya namun dengan rela diwariskan kepada generasi berikutnya.

    Harapan para pejuang agar Republik yang diperjuangkan dengan tetesan keringat, darah, air mata bahkan nyawanya ini bisa dipelihara dan dijaga den-gan baik. Namun, realitasnya negara ini jusru dikelola oleh penguasa yang kembali menggadaikan pulau ini kepada orang asing. Pulau Bali kian hilang nuansa religius dan kebaliannya. Hutan lindung, mangrove mulai dibabat habis, lembah, sungai sampai kawasan suci Pura mulai dirambah/direduksi, berubah menjadi hotel mewah, tempat hiburan dengan lampu gemerlapan. Sawah produktif yang indah nan menghijau yang merupakan ciri khas Bali sebagai pulau agraris saat ini sudah mulai diincar, subak kebanggaan dunia tinggal nama. Sangat amat menyedihkan.

    Masyarakat Bali harus segera menghentikan langkah segelintir orang yang ambisius, haus kekuasaan yang berdampak merusak Bali, dengan dalih demi kemajuan masyarakat (membodohi rakyat). Mari bersama melakukan langkah nyata dan cerdas bergerak bersama bersatu padu membendung ambisi para pemodal dan penguasa yang rakus ini.

    I Gst. Ngr. Munang WirawanJl. A Yani 177, Denpasar

  • 59 - 15 November 2015 5

    Kebijakan pemerintah membantu petani yang terdampak krisis air belum dirasakan. Pembangunan embung untuk menampung limpahan air dan perbaikan irigasi teknis tak banyak membantu. Pen-gelolaan air permukaan untuk menyangga kebutuhan penduduk Bali juga belum menjadi terobosan. Bahkan, PDAM dan perusahaan air kemasan lebih tertarik mengelola sumber mata air dan air irigasi sebagai lahan bisnis.

    Pandangan ini terungkap saat Pusat Data Bali Post menggelar jajak pendapat di seluruh Bali terkait kekeringan. Merespons pertanyaan, apakah pemerintah kabupaten/kota di Bali sudah melakukan langkah strategis mengatasi dampak kekeringan, 82,57 persen responden mengaku belum merasakannya. Responden mengatakan tindakan dan penyikapan terhadap sejum-lah subak di seluruh Bali yang mengalami kekeringan tidak dilakukan secara efektif. Kerusakan saluran irigasi tak ditangani dengan segera. Kuat kecenderungan pen-gelolaan sektor pertanian untuk mengan-tisipasi kekeringan tidak berorientasi pada kesejahteraan petani melainkan berdasar-

    kan pendekatan proyek. Pembangunan irigasi teknis yang dilakukan secara partial belum efektif untuk mengatasi dampak kekeringan.

    Sementara itu, 15,51 persen respon-den mengakui pemerintah kabupaten/kota telah berupaya maksimal mengatasi dampak kekeringan. Proyek-proyek iri-gasi teknis sudah dianggarkan. Selain itu, pemerintah juga telah melakukan kajian untuk membatasi pengelolaan sumber air petani untuk dijadikan lahan bisnis oleh PDAM dan pengusaha air kemasan. Pembangunan embung untuk menyangga sumber air pertanian juga telah dilakukan. Responden mengatakan kalaupun kini kekeringan masih mengancam pertanian, hal itu akibat adanya beragam kepentingan yang menyandera sektor pertanian. Penye-lamatan sektor pertanian harus dilakukan terintegrasi tak bisa hanya berdasarkan pada pengelolaan sumber air.

    Sedangkan, 1,92 persen responden tak memberikan respons terkait hal ini. Respon-den hanya berharap Pemerintah Bali komit melakukan pengawalan terhadap pertanian. Untuk mengatasi dampak kekeringan,

    responden berharap pemerintah mencari terobosan, salah satunya dengan melakukan konservasi di kawasan sumber mata air.

    z Dira Arsana

    Kekeringan Mengancam Bali

  • 6Ada gejala alamiah sebab-akibat pada lingkungan yang tidak seimbang. Pada cakupan global, jika ketidakseimbangan berupa udara yang kelebihan emisi gas rumah kaca (Karbon diosida) karena ulah manusia. Maka ada reaksi balik berupa pemanasan global yang berakibat pada naiknya level permukaan air laut yang salah satunya berefek pada tingginya abrasi laut selatan, badai lebih dasyat dan adanya efek El-Nino yang menyebabkan kemarau lebih panjang di wilayah Indonesia. Dalam cakupan lebih kecil, dimana pada daerah yang tidak seim-bang luasan green areanya, maka kenya-manan udara akan terasa buruk, hilangnya sumber mata air pada musin kemarau dan sebaliknya banjir dan longsor pada musim penghujan.

    Masih dapat dimaklumi jika ini adalah salah satu akibat dari ketidaktahuan dan ketidakpedulian sehingga masih ada un-sur ketidaksengajaan dari sebagian besar orang kita. Namun, adanya permasalahan lingkungan di Indonesia semakin menjadi-jadi ahkir-akhir ini yang bukan karena ketidaksengajaan maupun ketidaktahuan, tetapi benar-benar secara sadar dirusak dengan tujuan-tujun tertentu (baca: tujuan ekonomi) yang dilakukan bahkan oleh orang-orang pintar untuk keuntungan sesaat dan segelintir orang saja. Asap pekat akibat pembakaran hutan gambut untuk pembukaan kebun sawit di beberapa wilayah Pulau Sumatera, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Di pesisir se-latan Pulau Jawa ada pengerukan pasir tidak terkendali untuk tambang pasir besi maupun bahan bangunan. Dan tentuya tidak ketinggalan di Bali, Teluk Benoa rencananya akan ditimbun (diuruk) dan material pengurukgnya diambil dari pesisir di daerah Pulau Lombok, tentu saja juga untuk tujuan diperjual-belikan (komersial). Serta banyak lagi contoh lain yang tidak perlu disebut satu per satu.

    Mimpi buruk akibat degradasi lingkun-gan akan terus menghantui kehidupan kita ke depan dan akan sangat sulit dicegah. Pada kasus sehari-hari misalnya, masalah sampah, polusi udara, dan konversi tanah

    pertanian yang sangat luar biasa. Lalu bagaimanakah menyikapi per-

    masalahan lingkungan ini? Mulailah dengan konsep yang dari Bali untuk dunia, namun ada kecenderungan gaungnya semakin memudar di kalangan generasi penerus yaitu Tri Hita Karana. Konsep ini harus dikumandangkan sehingga dapat membumi di kalangan generasi muda.

    Dulu kakek-nenek moyang kita men-erapkan konsep ini dengan pendekatan budaya, adat dan religi (Hindu) dan ter-bukti ampuh melestarikan suatu ekosistem lingkungan yan