lima laknat malam kliwon

Download Lima Laknat Malam Kliwon

Post on 04-Apr-2018

251 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    1/96

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    2/96

    BASTIAN TITO

    TTIIGGAA DDAALLAAMM

    SSAATTUU

    Sumber: Bastian TitoEBook: Fujidenkikagawa

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    3/96

    WIRO SABLENG

    MENUNGGU EMPAT PULUH SEMBILAN TAHUN

    UKU ini merupakan sisi lain dari serial Wiro Sableng

    yang terbit sebelumnya, berjudul "Munculnya Sinto

    Gendeng". Dalam seri tersebut dikisahkan

    bagaimana Pendekar 212 Wiro Sableng dan Eyang Sinto

    Gendeng bersama seorang kakek sakti bernama Ki Rana

    Wulung menyelamatkan Sri Baginda dan menghancurkan

    kaum pemberontak yang didalangi oleh keponakan Raja

    sendiri yaltu Pangeran Jingga.

    Tugas ke tiga orang itu dalam membantu me-nyelamatkan Kerajaan tidak mudah. Kaum pemberontak

    dibantu oleh beberapa tokoh silat kelas tinggi, antara lain

    Bergola Ijo (mati), Suto Abang (melarikan diri), Si Tangan

    Besi (mati), Malaikat Serba Biru (mati), dan Nenek

    Kelabang Merah (mati).

    Keadaan bertambah ricuh karena ternyata beberapa

    pejabat tinggi Kerajaan berkhianat dan ikut membantukaum pemberontak. Mereka di antaranya adalah Raden

    Aryo Braja yang Kepala Balatentara Kerajaan (mati) dan

    Turonggo Wesi(Perwira Tinggi Balatentara Kerajaan, mati).

    Sebagai balas budi jasa besar ke tiga orang itu, walau

    mereka menolak namun Raja memaksa menyerahkan

    sebuah peta yang menunjukkan letak sebuah telaga

    rahasia yang penuh dengan kandungan emas. Kisah telagarahasia ini kemudian dituturkan dalam serial Wiro Sableng

    ke-37 berjudul "Telaga Emas Berdarah".

    B

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    4/96

    Ketika Eyang Sinto Gendeng berkelahi hidup mati

    melawan Nenek Kelabang Merah, guru Pendekar 212 itu

    mengeluarkan satu ilmu sakti yang mampu memancarikan

    dua larik sinar biru dari sepasang matanya. Pendekar 212

    terkejut melihat kejadian itu. Dua larik sinar biru itu

    ternyata luar biasa hebatnya. Wiro menyadari, selama

    digembleng di puncak Gunung Gede sang guru tidak

    pernah mewariskan ilmu kesaktian itu padanya. Diam-diam

    sang pendekar merasa kecewa. Apa betul ucapan orang

    bahwa seorang guru tidak pernah mengajarkan atau

    mewariskan semua ilmu kepandaiannya pada seorang

    murid?

    Karena tidak suka memendam hati yang membuatnya

    merasa tidak enak, di sebuah sungai kecil Wiro berkata

    pada sang guru.

    "Eyang, rupanya benar ucapan orang. Bahwa tidak ada

    guru yang mengajarkan seluruh kepandaian pada

    muridnya!"Saat itu Sinto Gendeng hentikan larinya, berpaling pada

    sang murid dengan wajah merah dan membentak.

    "Apa maksudmu anak sableng?"

    "Tadi kulihat Eyang mengeluarkan ilmu aneh. Dua larik

    sinar biru melesat keluar dari mata dan merontokkan

    tubuh kelabang sakti!"

    "Hemm... begitu?"si nenek bergumam. "Ucapan orangitu mungkin benar. Tapi aku mau tanya. Berapa usiamu

    sekarang, anak sableng...?"

    "Dua... dua puluh satu Eyang!"

    "Betul! Itu berarti kau harus menunggu empat puluh

    sembilan tahun lagi untuk dapat menguasai ilmu itu!"

    Wiro garuk-garuk kepalanya.

    "Mengapa begitu, Eyang?""Selama sepasang matamu masih terpikat pada

    keindahan dunia, selama kedua matamu masih suka

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    5/96

    melihat wajah perempuan cantik dan tubuh yang bagus

    mulus, selama kau suka melihat aurat perempuan yang

    terlarang yang bukan istrimu, selama itu pula kau tak bakal

    dapat menguasal ilmu itu!"

    Mendengar ucapan sang guru Pendekar 212 Wiro

    Sableng jadi tertegun diam. Sambil garuk-garuk kepala dia

    membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi sang

    guru ternyata sudah berkelebat lenyap dari hadapannya.

    "Ah... nenek-nenek itu mungkin benar. Aku masih suka

    melihat wajah cantik, melihat dada kencang dan paha

    putih. Ha... ha ha.... Biarlah aku tidak menguasai ilmu itu!

    Ha... ha... ha!"

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    6/96

    WIRO SABLENG

    DIKURUNG JARING LIMA PENJURU JAGAD

    IRO memandang ke langit. Sang surya dilihatnya

    telah menggelincir jauh ke barat.Sebentar lagi sang mentari ini akan segera

    tenggelam. Siang akan berganti dengan malam. Setelah

    merenung sesaat Pendekar 212 segera tinggalkan tempat

    itu. Untuk menghibur hati dia berjalan sambil bersiul-siul

    membawakan lagu tak menentu. Di satu tempat Wiro

    hentikan siulannya. Telinganya menangkap suara

    gemericik kucuran air. Mendadak saja pemuda ini merasahaus. Maka diapun melangkah ke jurusan datangnya

    suara. Tidak sampai berjalan sejauh sepuluh tombak, Wiro

    hentikan langkah. Di depan sana ada sebuah pancuran

    bambu yang airnya mengucur jatuh ke atas bebatuan lalu

    tersebar kemana-mana dalam bentuk aliran-aliran kecil. Di

    sebuah batu tak seberapa besar di dekat pancuran, Wiro

    melihat si nenek duduk sambil bertopang dagu, menatapke arah air yang mengucur dari mulut pancuran bambu.

    "Sedang apa nenek ini berada di sini," berpikir Wiro. Lalu

    senyumnya menyeruak. Kembali dia membatin. "Jangan-

    jangan dia sengaja menunggu aku di sini. Jangan-jangan

    dia berubah pikiran hendak mengajarkan ilmu dua larik

    sinar biru yang bisa melesat keluar dari mata itu!" Berpikir

    begitu Wiro segera dekati Eyang Sinto Gendeng danmenegur.

    "Eyang, aku kira kau sudah pergi jauh. Ternyata

    nongkrong di sini. Apakah kau hendak mandi mem-

    W

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    7/96

    bersihkan diri dengan air pancuran?"

    "Anak sableng! Jangan kau berani menghina aku! Siapa

    yang mau mandi? Apa kau kira aku tidak pernah mandi-

    mandi?!" Si nenek bicara dengan suara keras mata

    melotot. Tapi pandangannya tidak beralih dari arah

    pancuran.

    Sang murid kembali tersenyum. Dalam hati dia berkata.

    "Nek, kalau kau sering mandi, tubuhmu tidak dekil begitu

    dan pakaianmu tidak bau pesing!"

    "Anak setan! Apa yang barusan kau ucapkan dalam

    hati?!"

    Hardikan si nenek membuat Wiro Sableng tergagau.

    "Celaka, mungkin dia tahu apa yang tadi kubilang dalam

    hati!"

    Wiro cepat berkata. "Maafkan aku Nek, aku tidak

    berucap apa-apa. Cuma aku heran melihat kau ada di sini.

    Kau seperti tengah memikirkan sesuatu. Seolah ada

    ganjalan dalam hatimu. Eyang, mungkin juga kaumendadak berubah pikiran?"

    "Anak setan! Apa maksudmu?! Pikiran aku yang mana

    yang berubah? Atau kau mau bilang aku berubah jadi

    setengah waras atau mendadak jadi sinting?!" Sinto

    Gendeng kembali membentak. Dua matanya tetap saja

    menatap ke arah pancuran bambu.

    "Maksudku, mungkin aku tidak usah menunggu empatpuluh sembilan tahun. Kau mau mengajarkan ilmu dua

    jalur sinar biru itu sekarang juga...."

    "Benar-benar anak setan! Bertahun-tahun kau ikut aku

    di puncak Gunung Gede! Apa selama itu kau pernah

    melihat aku berubah pikiran?!"

    "Memang tidak pernah Eyang," jawab Wiro masih

    senyum dan kali ini sambil garuk kepala. "Tapi per-timbangan tertentu bisa membuat seseorang berubah.

    Misal, kau menyadari tantangan dan bahaya di dalam

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    8/96

    rimba persilatan semakin besar. Hingga...."

    "Hingga aku merasa perlu membekalimu dengan ilmu

    dua larik sinar biru itu! Begitu?!"

    "Kira-kira begitu Nek," jawab Wiro lalu tertawa lebar.

    Lima tusuk kundai perak yang menancap di kulit kepala

    si nenek berjingkrak. Mulutnya yang kempot

    digembungkan.

    "Anak setan! Lekas angkat kaki dari sini! Jangan sampai

    aku menggebukmu karena muak!"

    "Eyang, maafkan aku. Bukan maksudku membuatmu

    marah. Aku tidak memikirkan lagi soal ilmu itu. Juga tidak

    untuk masa empat puluh sembilan tahun mendatang. Apa

    perlunya kepandaian di usia sudah bau tanah. Justru ilmu

    itu harus dimanfaatkan selagi muda untuk menolong

    sesama.... "

    Sinto Gendeng cemberut sebentar lalu tertawa

    mengekeh.

    "Anak sableng! Kau pandai memilih kata-kata agarhatiku bisa terenyuh! Hik... hik... hik! Sekalipun angin sejuk

    atau angin api mendera hatiku, jangan harap Sinto

    Gendeng bisa berubah pikiran! Sudah! Pergi sana! Jangan

    mengganggu diriku lebih lama!"

    Wiro membungkuk hormat. "Jika begitu kehendak

    Eyang, aku minta diri sekarang. Tapi kalau boleh aku

    memberi nasihat sebaiknya Eyang jangan lama-lamaberada di tempat ini...."

    "Eh, memangnya kenapa? Siapa yang berani

    melarang?!" Sinto Gendeng pelototkan mata ke arah air

    pancuran.

    "Tidak ada yang melarang Eyang. Setahuku di sekitar

    sini ada binatang buas aneh berkepala macan tapi cuma

    punya dua kaki. Makhluk ini jahat sekali, paling sukamenggeragot benda jelek dan bau-bau!"

    "Anak setan jahanam! Mentang-mentang aku jelek dan

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    9/96

    bau! Kau sengaja menghina mempermainkan diriku!

    Makhluk apapun yang ada di sekitar sini siapa takut! Kau

    memang minta digebuk!" Saking marahnya Sinto Gendeng

    gerakkan tangan kiri hendak memukul sang murid.

    Tapi sambil tertawa gelak-gelak Wiro sudah melompat.

    Pemuda ini lambaikan tangannya. "Selamat tinggal

    Eyang.... " Wiro menyelinap ke balik serumpunan pohon

    bambu hutan. Baru berjalan belasan langkah tiba-tiba di

    belakangnya terdengar si nenek berseru.

    "Anak setan! Tunggu! Lekas kau kembali ke sini!"

    Wiro tersenyum sendiri. "Ah, pasti dia benar-benar

    berbalik hati. Pasti dia memanggilku untuk mengajarkan

    ilmu kesaktian dahsyat itu. Mulutnya yang perot itu

    memang suka bicara kasar. Tapi aku tahu hatinya seperti

    emas...." Sambil tertawa-tawa Wiro kembali ke tempat

    gurunya. Si nenek masih duduk di tempat tadi dan tetap

    menatap ke arah pancuran bambu.

    "Nek, aku sudah di sini. Ada sesuatu yang hendak kausampaikan padaku?"

    "Malam ini malam apa?!" Sinto Gendeng tiba-tiba ajukan

    pertanyaan.

    Wiro jadi garuk-garuk kepala. Sebelumnya dia menduga

    si nenek akan bicara soal ilmu kesaktian itu. Ternyata

    malah mengajukan pertanyaan aneh.

    "Aku bertanya, kau tidak menjawab! Apa mulutmumendadak gagu?! Atau kupingmu tiba-tiba budek?!" Sinto

    Gendeng membentak.

    Sang murid garuk kepala, cepat-cepat menjawab. "Hari

    ini hari Kamis, Nek. Malam nanti jelas malam Jum'at...."

    "Bocah tolol! Aku juga tahu kalau hari ini hari Kamis dan

    nanti malam Jum'at! Yang aku ingin tanya malam nanti

    malam apa? Apa malam Legi, Pahing, Pon, Wage atauKliwon?! Dasar anak setan! Sudah dua puluh satu tahun

    masih saja konyol dan geblek!"

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    10/96

    Pendekar 212 mau tak mau jadi garuk-garuk kepala. Dia

    berpikir-pikir. "Kalau aku tidak salah, mungkin sekali

    malam nanti adalah malam Jum'at Kliwon, Nek...."

    Untuk pertama kalinya si nenek alihkan pandangannya

    dari air pancuran yang sejak tadi diperhatikannya. "Jangan

    bicara kalau atau mungkin! Aku ingin yang pasti!" Si nenek

    menghardik.

    Wiro perhatikan wajah sang guru. Seperti ada

    perubahan di muka si nenek yang hanya tinggal kulit

    pembalut tulang itu. "Aku... aku yakin malam nanti adalah

    malam Jum'at Kliwon," kata Wiro setelah berpikir lagi.

    "Kau yakin?!"

    "Yakin sekali Nek," jawab Wiro. Dalam hati dia merasa

    heran, mengapa sang guru bertanya begitu. Ketika dia

    memperhatikan lagi-lagi Wiro melihat wajah si nenek

    berubah.

    "Kalau kau yakin sebentar malam adalah malam Jum'at

    Kliwon ya sudah! Pergi sana....""Jadi kau memanggilku hanya untuk bertanya itu Nek?

    Jadi sekarang aku pergi saja?"

    "Apa kau tuli?!" sentak Sinto Gendeng.

    "Aku segera pergi Nek. Apa ada hal lain yang bisa

    kulakukan untuk Eyang sebelum pergi?" tanya Wiro.

    "Tidak ada! Aku hanya ingin kau tinggalkan tempat ini!"

    jawab Sinto Gendeng lalu kembali dia memandang ke arahpancuran bambu.

    Melihat sikap sang guru begitu rupa sambil tersenyum

    Pendekar 212 segera tinggalkan tempat itu. Lupa kalau

    sebelumnya dia merasa haus. Sesaat kemudian sang surya

    sudah lenyap di kaki katulistiwa sebelah barat. Siang

    berganti malam. Kegelapan mulai merayap pekat.

    Sinto Gendeng tarik nafas panjang. Dia ulurkan duatangannya untuk rnenampung air pancuran yang sejuk.

    Maksudnya hendak minum beberapa teguk. Namun

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    11/96

    gerakannya tertahan ketika telinganya yang tajam

    mendengar suara-suara berkelebat. Nenek sakti ini melirik.

    Lima bayangan hitarn berpencar. disekelilingnya

    "Mereka sudah datang..." kata si nenek dalam hati.

    "Mereka sengaja mengurungku dengan Jaring Lima

    Penjuru Jagat. Selama ini mereka mengagulkan tak ada

    yang mampu menembus kurungan itu. Weehhhhh! Aku

    mau lihat apa benar begitu! Hik... hik... hik."

    ***

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    12/96

    WIRO SABLENG

    DENDAM DELAPAN TAHUN

    INTO GENDENG!" satu suara membentak

    dalam kegelapan. Orangnya tegak mendekam di sebelah kanan si nenek. "Delapan

    tahun mencarimu! Akhirnya kau kami temui juga! Kelahiran

    kehendak Yang Kuasa! Kematian kehendak takdir!

    Sebelum kami bantai kami masih memberi kesempatan

    padamu untuk bertobat minta ampun!"

    Di tempatnya si nenek tampak tidak bergerak. Lalu

    terdengar suara tawanya cekikikan. Mula-mula perlahansaja tapi lama-lama tambah keras dan dahsyat. Lima orang

    dalam gelap kerenyitkan kening karena telinga mereka

    menjadi sakit laksana dicucuk. Kelimanya saling pandang

    lalu berusaha tutup jalan pendengaran masing-masing. Ada

    yang mengerahkan tenaga dalam, ada pula yang menem-

    pelkan telapak tangan ke telinga kiri kanan.

    "Delapan tahun rupanya singkat sekali! Langkah danpertemuan memang bukan manusia yang mengatur! Tetapi

    ada banyak manusia yang merasa seolah pandai dan

    berkuasa! Padahal kebodohan mereka terkadang berakhir

    di pinggir comberan liang kubur!

    Hik... hik... hik!"

    Kata-kata Sinto Gendeng itu membuat lima orang yang

    mengurung dalam gelap menjadi marah. Namun merekamasih bisa mengendalikan diri.

    "Sinto Gendeng, apakah saat ini kau masih membawa

    Kapak Maut Naga Geni 212 dan batu hitam sakti

    S

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    13/96

    pasangannya?" orang di sebelah kiri bertanya.

    "Weehhhh! Kalian masih saja menanyakan senjata

    mustika itu. Apa selama ini tidak sanggup membuat

    senjata sendiri?!"

    "Kami bukan sengaja serakah untuk dapatkan senjata

    orang lain!" orang di sebelah belakang menjawab. "Tapi jika

    kau mau menyerahkan senjata itu mungkin kami masih

    mau memilihkan cara mati yang paling enak bagimu! Ha...

    ha... ha!

    "Ucapanmu polos juga! Tapi aku tidak percaya kalau

    hatimu juga polos! Delapan tahun kau menguntit aku! Apa

    hanya karena inginkan kapak sakti itu? Pasti ada maksud

    lain yang tidak terpuji! Bicara saja terang-terangan agar

    kalau kubunuh kalian satu

    persatu aku tidak penasaran lagi! Hik... hik... hik!" Sinto

    Gendeng balas tertawa.

    Orang di samping kanan Sinto Gendeng mendengus

    marah. Dia bergerak melangkah. Tapi segera dibentak olehsi nenek sambil jentikkan tangan kanannya.

    "Bicara tetap di tempat! Jangan berani mendekat!"

    "Wuuussss!"

    Jentikan si nenek menimbulkan satu gelombang angin

    yang membuat sebuah batu serta tanah di depan orang

    yang barusan bergerak terbongkar besar! Orang ini cepat

    bersurut dan tegak diam di tempatnya."Nah, begitu lebih baik. Sekarang silahkan bicara! Dan

    awas! Aku tidak begitu suka melihat orang bicara ngawur!"

    "Kami datang membekal dendam!" orang di sebelah

    kanan berucap datar.

    "Weehhh! Dendam yang mana? Delapan tahun kemana-

    mana membawa dendam pasti kau repot keberatan! Hik...

    hik!""Malam ini dendam itu akan kutumpas habis dengan

    nyawa dan darahmu!"

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    14/96

    "Aku bersyukur kalau kau bisa melakukan itu! Sekarang

    majulah mendekat. Biar kulihat tampangmu!"

    Orang di sebelah kanan melangkah maju. Empat

    temannya melakukan hal yang sama walau tidak terlalu

    mendekati si nenek karena mereka tahu bagaimana

    berbahayanya Sinto Gendeng.

    "Wallaahhh! Kau ternyata pakai topeng seperti muka

    barong! Mana aku bisa mengenali dirimu!" Sinto Gendeng

    geleng-gelengkan kepala. Sambil berbuat begitu dia melirik

    empat orang lainnya. Mereka semua berjubah hitam dan

    juga mengenakan topeng menutupi wajah masing-masing.

    "Walau kami menutupi muka dengan topeng! Tapi orang

    rimba persilatan mana yang tidak tahu siapa kami! Sinto

    Gendeng! Jangan berpura-pura tidak tahu dendam apa

    yang kami bawa!"

    "Kau betul, siapa tidak tahu diri kalian! Lima manusia

    berjubah hitam yang separoh dari usianya sengaja

    menjalani hidup dengan menutup muka! Hik... hik... hik.Lima Laknat Malam Kliwon! Begitu rimba persilatan

    menggelari kalian karena selalu muncul menebar maut

    hanya pada malam-malam Kliwon! Banyak orang

    menganggap kalian angker dan hebat! Tapi jangan menjual

    nama dan tampang di depan Sinto Gendeng!" .

    "Bagus! Ternyata kau sudah tahu siapa kami jadi tidak

    perlu susah payah berikan keterangan!" Orang di sebelahkanan ini lalu memberi tanda dengan goyangan kepala

    pada empat kawannya. Dalam gelap, lima sosok berjubah

    hitam itu segera melesat menyerbu si nenek yang sampai

    saat itu masih tetap duduk di atas batu di depan pancuran

    bambu.

    "Hilang!" dua diantara lima orang itu berseru kaget

    ketika mereka dapatkan Sinto Gendeng tidak ada lagi diatas batu dan mereka hanya melompati tempat kosong.

    Di belakang mereka tiba-tiba terdengar suara tawa

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    15/96

    cekikikan. "Jaring Lima Penjuru Jagat! Kalian agulkan

    sebagai tidak bisa ditembus lawan! Nyata nya aku bisa

    molos! Hik... hik... hik! Sungguh memalukan!" '

    Lima orang yang dalam rimba persilatan dijuluki sebagai

    Lima Laknat Malam Kliwon kertakkan rahang sama

    menggeram. Kelimanya serentak berbalik. Lima tangan

    serta merta menghantam.

    "Kraakkkk!" Sebatang pohon patah dan tumbang.

    "Braakkk!" Serumpunan semak belukar setinggi dada

    mental berantakan.

    "Byaaarr!" Sebuah batu besar ikut amblas hancur di

    hantam lima pukulan tangan kosong yang mengandung

    tenaga dalam tinggi.

    "Hik... hik... hik! Kalian menyerang siapa? Aku ada di

    sini!"

    Kaget lima orang bertopeng itu bukan alang kepalang.

    Mereka berpaling! Gila betul! Si nenek yang tadi ada di

    belakang dan sama-sama mereka hantam dengan pukulanyang bisa mencerai beraikan sekujur tubuhnya kini tahu-

    tahu terlihat duduk enak-enakan di atas batu di depan air

    pancuran. Malah saat itu enak saja dia kelihatan keluarkan

    susur lalu dimasukkan ke dalam mulut dan mengunyah

    terkempot-kempot!

    "Perempuan tua bangka jahanam! Serbu dia dengan

    jurus Lima Bintang Jatuh!" salah seorang dari lima orangbertopeng berteriak marah.

    Lima sosok berjubah hitam melesat dua tombak ke

    udara. Lalu benar-benar seperti bintang jatuh ke limanya

    kemudian menukik ke arah Sinto Gendeng. Lima tangan

    laksana palu godam diayunkan ke lima bagian tubuh Sinto

    Gendeng!

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    16/96

    WIRO SABLENG

    LAKNAT BERNASIB MALANG

    ARI cepatnya alur serangan serta sambaran angin

    yang menerpa tubuhnya Sinto Gendeng sadar kalau

    lawan telah mengeluarkan jurus yang tak bisa

    dibuat main. Karenanya nenek sakti ini juga tak mau

    berlaku ayal. Di atas batu tubuhnya berputar setengah

    lingkaran. Dua tangan dihantamkan ke atas. Kaki kiri

    ditendangkan ke depan.

    "Bukkk!"

    "Bukkk!"

    "Dukkkk!"

    Dua lengan Sinto Gendeng bergetar hebat begitu

    bentrokan dengan dua lengan lawan. Tubuhnya terhenyak

    jatuh ke bawah. Dua lawan terpental beberapa langkah.

    Satu jotosan melanda bahunya sebelah kiri membuat si

    nenek menggeram kesakitan. Di sebelah depan, satu dari

    lima lawannya yang berhasil ditendangnya mencelat sambilmengeluarkan jeritan. Orang ini terhampar di tanah,

    menggeliat-geliat sambil pegangi perut. Kelihatannya dia

    cukup kuat karena sesaat kemudian dia bangkit berdiri

    kembali dan bergabung dengan empat temannya.

    Perkelahian lima lawan satu itu berkecamuk semakin

    hebat. Lima Laknat Malam Kliwon lancarkan serangan

    sambil mengurung rapat. Walau sampai enam jurus dimuka mereka masih belum mampu mendaratkan serangan

    di tubuh lawan namun keadaan Sinto Gendeng saat itu

    D

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    17/96

    benar-benar berbahaya. Seolah hanya tinggal menunggu

    waktu saja. Gilanya si nenek menghadapi serbuan lima

    pengeroyok dengan tenang. Mulutnya yang dipenuhi susur

    terkempot-kempot dan termonyong-monyong.

    Memasuki jurus ke sembilan serangan Lima Laknat

    Malam Kliwon bertambah gencar laksana air bah. Sinto

    Gendeng mainkan jurus-jurus pertahanan Tameng Sakti

    Menerpa Hujan, Benteng Topan Melanda Samudera,

    Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih.

    Jurus-jurus pertahanan itu diselingnya dengan jurus-

    jurus menyerang Segulung Ombak Menerpa Karang,

    Membuka Jendela Memanah Rembulan, Di Balik Gunung

    Memukul Halilintar serta Kepala Naga Menyusup Awan.

    Lalu tidak lupa pula dia hantamkan pukulan-pukulan sakti

    Orang Gila Mengebut Lalat, Kunyuk Melempar Buah, dan

    Angin Puyuh.

    Lima pengeroyok lambat laun menjadi leleh juga nyali

    mereka. Dikeroyok lima ternyata si nenek bukan sajamampu bertahan tapi malah balas menyerang dengan

    ganas. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menjaga diri

    masing-masing dan mengurung rapat agar lawan tidak

    lolos. Disamping itu mereka terus memutar otak

    bagaimana bisa merobohkan Sinto Gendeng.

    Di jurus ke dua puluh sembilan satu celah tipis, untuk

    mendaratkan serangan terlihat oleh tiga dari limapengeroyok. Mereka bersirebut cepat untuk susupkan

    jotosan ke dada, kepala dan ulu hati lawan. Hampir

    serangan itu akan mengenai sasaran tiba-tiba Sinto

    Gendeng keluarkan pekik keras. Tubuhnya bergelung

    seperti ular menggeliat lalu melesat ke udara. Bersamaan

    dengan itu kaki kanannya menendang. Inilah jurus yang

    disebut Ular Naga Menggelung Bukit. Sebenarnya jurus inimempergunakan gerakan tangan untuk melibas tubuh

    lawan. Tapi si nenek gantikan tangan dengan kaki dan

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    18/96

    bukan untuk merangkul melainkan untuk menendang!

    "Braaakkk!"

    Tendangan kaki kanan Sinto Gendeng bersarang di dada

    lawan paling depan. Orang ini adalah yang sebelumnya

    juga telah terluka di dalam akibat tendangan Sinto

    Gendeng. Melihat kawan mereka terkapar mengerang di

    tanah dan ada darah meleleh keluar dari bawah

    topengnya, empat anggota Lima Laknat Malam Kliwon

    menjadi leleh nyalinya. Salah seorang dari mereka berbisik

    pada kawan di sebelahnya.

    "Delapan tahun memburu tidak sangka kita hanya

    menemui kesia-siaan! Jahanam betul! Ternyata nenek ini

    sangat tinggi ilmu kepandaiannya! Beri tanda pada kawan-

    kawan, agar segera tinggalkan tempat ini!"

    "Bagaimana dengan teman yang satu itu?" sang kawan

    bertanya.

    "Tidak ada waktu untuk mengurusnya. Melihat

    keadaannya nyawanya tak bisa ditolong! Kalau kitamenghabiskan waktu menolongnya salah-salah kita bakal

    kena digebuk nenek keparat itu! Apa kau tidak sadar.

    Sampai saat ini dia masih belum mengeluarkan Pukulan

    Sinar Matahari! Apa lagi kalau dia sampai menyerang

    dengan Sepasang Sinar Inti Roh, kita semua bisa celaka!"

    "Kalau cuma pukulan Sinar Matahari mengapa perlu

    ditakutkan? Lagi pula kita belum pasti apa benar diamemiliki ilmu kesaktian bernama Sepasang Sinar Inti Roh

    itu!"

    "Sudah! Jangan banyak cerita! Kalau kau mau mampus

    lebih dulu silahkan tinggal di sini!"

    Setelah saling memberi tanda empat dari lima manusia

    berjubah dan bertopeng hitam itu akhirnya segera

    berkelebat melarikan diri.Sinto Gendeng cabut susurnya lalu meludah ke tanah.

    Dia tiada niat hendak mengejar empat orang yang kabur

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    19/96

    itu. Dia memasukkan kembali susur ke dalam mulutnya

    lalu segera dekati orang yang ditinggalkan kawan-

    kawannya. Setelah pandangi sebentar wajah bertopeng itu

    Sinto Gendeng tertawa cekikikan.

    "Laknat bernasib malang! Kawan-kawanmu sudah pada

    kabur! Kalian biasa membunuh orang di malam Kliwon!

    Kini justru kau sendiri yang bakal menerima mampus di

    malam Kliwon ini! Hik... hik... hik!"

    Dari balik topeng orang berjubah hitam yang tergeletak

    di tanah terdengar suara bergumam. Dia seperti hendak

    mengatakan sesuatu namun yang keluar justru lelehan

    darah, mengucur semakin banyak dari bawah topengnya.

    Dengan mempergunakan ujung kaki kirinya yang kurus

    hanya tinggal tulang serta kotor, enak saja Sinto Gendeng

    tanggalkan topeng di muka orang. Begitu wajahnya

    tersingkap kagetlah si nenek, sampal dia keluarkan suara

    seruan tertahan dan tersurut dua langkah.

    "Kau!"

    ***

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    20/96

    WIRO SABLENG

    BAHALA DARI TELUK AKHIRAT

    RANG yang tergeletak di tanah keluarkan suara

    mengerang. Darah semakin banyak keluar darimulutnya. Matanya menatap sayu pada Sinto

    Gendeng. Orang ini ternyata adalah seorang kakek

    berambut dan berkumis kelabu. Walau sudah tua serta

    dalam derita menahan sakit luar biasa, wajahnya masih

    kelihatan gagah.

    "Suro Ageng!" berseru Sinto Gendeng. "Apa mataku tidak

    salah melihat? Benar kau...?!" Sepasang mata si nenekmelotot tak berkesip.

    Si kakek kedipkan matanya satu kali.

    "Kau tidak salah melihat Sinto. Ini memang aku... Suro

    Ageng...."

    Sinto Gendeng jatuhkan dirinya dan duduk di samping

    kakek bernama Suro Ageng itu. "Belasan tahun kita tidak

    bertemu, mengapa tahu-tahu jadi begini...? Ah! Kalau akutahu siapa dirimu tentu aku tidak akan menurunkan

    tangan jahat...."

    "Kau tidak salah Sinto! Berani berbuat berani menerima

    akibat! Itu nasib diriku!"

    "Suro...." Sinto Gendeng perbaiki letak kepala si kakek

    hingga lebih tinggi. "Mengapa kau melakukan ini? Mengapa

    kau sampai jadi anggota Lima Laknat Malam Kliwon?""Aku terjebak Sinto. Pimpinan mereka meracuniku

    dengan tuba sejak sepuluh tahun silam. Jika aku dan

    kawan-kawan berhasil membunuhmu baru dia akan

    O

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    21/96

    memberikan obat penawar!"

    "Jahanam! Siapa orang yang jadi biang racun pimpinan

    Lima Laknat Malam Kliwon itu?"

    "Aku sendiri tidak tahu. Lagi pula percuma untuk

    menyelidik. Apakah selama belasan tahun berpisah kau

    selalu balk-baik Sinto?"

    Si nenek tidak menjawab. Matanya menatap pada wajah

    yang tengah sekarat menahan sakit itu. Dua mata si nenek

    tampak berkaca-kaca.

    "Sinto, apakah masih ada rasa cinta dalam dirimu

    terhadapku seperti di masa muda dulu.... "

    "Gila! Kau bicara apa ini!" sentak Sinto Gendeng. Tapi

    kemudian dia merasa menyesal berkata kasar begitu dan

    gigit bibirnya. Tengkuknya terasa dingin.

    "Ah, kau masih galak seperti dulu saja..." kata Suro

    Ageng menyeringai lalu mengerang kesakitan.

    Sinto Gendeng tersenyum dan usap kepala si

    kakek. "Aku akan mengobatimu! Kau pasti bisa sembuhdan hidup lagi di jalan yang benar!" Si nenek

    meraba ke balik pakalan bututnya. Namun Suro Ageng

    gelengkan kepala dan berkata.

    "Aku berterima kasih mendengar ucapanmu. Satu

    pertanda kau masih mengasihiku. Tapi tak ada gunanya

    Sinto. Lukaku sangat parah. Salah satu sisi jantungku

    agaknya sudah remuk....""Aku yang menyebabkan! Aku yang menendangmu tadi!"

    kata Sinto Gendeng sesenggukan. Lalu pukul-pukul

    kepalanya sendiri.

    Suro Ageng tersenyum. "Kau tahu Sinto, betapa aku

    merasa bahagia. Karena tidak pernah menyangka bakal

    menemui ajal di sampingmu...." Darah mengucur lagi dari

    mulut si kakek."Jangan berkata begitu Suro. Kau akan sembuh! Kau

    pasti sembuh!" Kembali si nenek meraba ke balik

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    22/96

    pakaiannya di mana dia menyimpan sejenis obat sangat

    ampuh. Kali ini Suro Ageng diam saja, memperhatikan apa

    yang dilakukan Sinto Gendeng.

    Namun belum sempat nenek sakti itu mengeluarkan

    bungkusan obat dari balik pakaiannya sekonyong-konyong

    dari kegelapan melesat satu bayangan aneh menebar bau

    busuknya binatang hutan.

    "Sinto awas! Aku merasa ada bahaya mengancam

    dirimu..." kata Suro Ageng.

    "Siapa berani mencari mati! Apa lagi dalam keadaan aku

    hendak menolongmu!"

    "Makhluk yang katanya mencari mati itu bernama

    Kelelawar Pemancung Roh!" satu suara menjawab lalu

    orang yang bicara ini melangkah mendekati Sinto Gendeng

    dan Suro Ageng.

    Orang ini bertubuh besar tinggi dengan sepasang kuping

    mencuat ke atas. Dia memiliki dua buah tangan panjang

    menjela sampal ke bawah lutut, hitam berbulu. Duamatanya sangat kecil dan sipit, seolah terpejam.

    Baik Sinto Gendeng maupun Suro Ageng sama-sama

    terkejut melihat munculnya orang ini. Si kakek cepat

    berbisik. "Sinto, ingat. Empat puluh tahun silam kau pernah

    mengobrak-abrik sarang kaum pemberontak di selatan.

    Delapan diantara orang yang kau basmi itu punya pertalian

    darah sangat erat dengan Kelelawar Pemancung Roh dariTeluk Akhirat ini. Hati-hati Sinto...."

    "Aku ingat. Siapa takut...!"

    "Baiknya segera kau tinggalkan tempat ini. Bukan

    menganggap enteng dirimu. Tapi manusia ini punya ilmu

    jahat berupa hawa beracun yang bisa membunuh siapa

    saja dalam waktu singkat! Hawa itu tidak berwarna dan

    tidak berbau!""Kau tenang saja Suro. Biar aku yang menghadapi

    monyet tangan panjang ini!"

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    23/96

    Sinto Gendeng bergerak bangkit. Gerakannya tertahan

    ketika dia melihat satu keanehan terjadi dengan sosok

    orang bernama Kelelawar Pemancung Roh itu. Bersamaan

    dengan gerakan mengangkat ke dua tangannya ke atas

    tiba-tiba tubuhnya yang tinggi besar menciut pendek

    sampai hanya tinggal setinggi lutut. Sebaliknya dua

    tangannya yang hitam berbulu semakin besar dan panjang.

    "Plaakkk!"

    "Plaakkk!"

    Ada suara seperti kepakan sayap. Dua buah benda lebar

    memayungi tempat itu hingga suasana menjadi sangat

    gelap. Dalam kegelapan itu Sinto Gendeng mendongak ke

    atas. Si nenek tercekat!

    Di ujung-ujung tangan orang yang tubuhnya mengecil itu

    kini kelihatan dua ekor kelelawar raksasa mengepakkan

    sayap tiada henti. Dua matanya yang memancarkan sinar

    merah memandang membersitkan maut pada Sinto

    Gendeng. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan gigi-gigiruncing pertanda beringas. Sepasang kaki dua kelelawar

    raksasa ini ternyata menjadi satu dengan tangan orang

    yang memegangnya.

    "Sinto!" seru Suro Ageng. "Lekas tinggalkan tempat !nil"

    Tapi si nenek mana mau perduli. Malah dia sudah

    alirkan tenaga dalam ke tangan kanan.

    Sosok kerdil gerakkan dua lengannya. Tiba-tiba duakelelawar jejadian menguik dahsyat. Sebelum Sinto

    Gendeng sempat pentang tangannya untuk menghantam

    mendadak dari mulut dua kelelawar itu menderu tiupan

    angin kencang.

    "Seribu Hawa Kematian!" teriak Suro Ageng. "Sinto!

    Lekas menyingkir!"

    Walau sudah diperingati begitu Sinto Gendeng tetapsaja pasang kuda-kuda siap untuk menghantam dengan

    pukulan sakti. Melihat hal ini Suro Ageng kumpulkan

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    24/96

    semua tenaga yang ada lalu melompat. Ketika hawa

    beracun dari dua mulut kelelawar menerpa, sosok si kakek

    berada di depan Sinto Gendeng, menghalangi

    membentenginya. Namun perbuatannya sia-sia belaka

    karena hawa beracun yang tidak terlihat dan tidak berbau

    itu telah menyungkup di sekitar mereka! Saat itu juga ke

    dua orang itu megap-megap roboh ke tanah.

    "Plaakk!"

    "Plaakk!"

    Dua kelelawar raksasa kepakkan sayapnya. Sosok orang

    yang memegangnya membesar kembali. Begitu sampai

    pada ukuran sebelumnya dua kelelawar serta merta

    lenyap. Orang ini turunkan tangannya lalu setelah tertawa

    bergelak dia tinggalkan tempat itu.

    ***

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    25/96

    WIRO SABLENG

    PENGORBANAN DI AKHIR HAYAT

    I SATU jalan mendaki Pendekar 212 hentikan larinya.

    Memandang berkeliling dia hanya melihat kegelapan.Hatinya gelisah. Bukan kegelapan itu yang

    membuatnya gelisah. Dia merasa tidak enak karena ingat

    akan gurunya yang ditinggalkan sendirian. Memang si

    nenek tidak kurang suatu apa. Tapi sikapnya tidak seperti

    biasa. Lalu apa pula maksudnya menanyakan malam itu

    malam apa.

    Selagi dia berpikir-pikir begitu rupa tiba-tiba dia melihatempat bayangan hitam berkelebat di antara rerumpunan

    semak belukar. Wiro cepat menyelinap, mendekam di satu

    tempat gelap dan mengintai. "Jangan-jangan para tokoh

    silat kaki tangan pemberontak," pikir Wiro.

    "Kita kembali saja ke Kotaraja! Sialan, tidak sangka

    setan satu itu tinggi sekali ilmunya!" Salah seorang dari

    rombongan di dalam gelap berkata.Wiro memperhatikan. "Mereka mengenakan jubah

    hitam. Muka memakai topeng hitam seperti barong. Siapa

    gerangan orang-orang ini..." pikir Wiro. Lalu didengarnya

    salah seorang dari mereka berkata menyahuti ucapan

    kawannya tadi.

    "Kotaraja sedang tidak aman. Apa kau tidak dengar

    riwayat seorang pemuda sakti mandraguna yangmenghabisi pentolan pemberontak? Kita jangan sampai

    terlibat! Urusan kita ada yang lebih penting."

    "Kalau begitu kita segera saja menuju ke puncak Merapi

    D

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    26/96

    menemui Pimpinan!" Tiga kawan yang lain menyetujui.

    Maka saat itu juga ke empat orang itu berkelebat ke arah

    timur dan lenyap dalam kegelapan.

    Wiro keluar dari balik tempat pengintaiannya sambil

    usap-usap dagu, coba menduga-duga siapa adanya ke

    empat orang itu. "Dari pembicaraan mereka agaknya

    mereka bukan pentolan pemberontak. Lalu siapa yang

    disebutsetan satu yang tinggi sekali ilmunya itu?"

    Setelah berpikir beberapa saat lagi akhirnya Wiro

    memutuskan untuk kembali ke tempat dia meninggalkan

    Eyang Sinto Gendeng. Mungkin dia tidak perlu menemui

    sang guru. Asal melihat si nenek berada dalam keadaan

    tak kurang suatu apa hatinya baru lega dan dia lantas akan

    lanjutkan perjalanan.

    Karena mempergunakan ilmu lari cepat dan me

    nempuh jalan yang sebelumnya sudah dilewati maka

    dalam waktu singkat Wiro sampai kembali ke tempat dia

    meninggalkan Eyang Sinto Gendeng. Namun betapakejutnya setengah mati ketika melihat sang guru tergeletak

    di tanah dengan mata nyalang tak berkesip dan mulut

    mengeluarkan busah. Di sebelahnya terkapar seorang

    kakek yang juga mengeluarkan busah serta darah dari

    mulutnya. Meskipun megap-megap sekarat tapi matanya

    kelihatan nyalang.

    "Guru! Eyang!" teriak Wiro lalu jatuhkan diri dan letakkankepala si nenek di atas pangkuannya.

    Sosok kakek di sebelah Sinto Gendeng bergerak sedikit.

    "Anak muda, siapapun kau adanya lekas ambil sebuah

    sapu tangan hitam dalam saku pakaianku...."

    "Katakan apa yang terjadi?! Kau siapa?!" Wiro

    memotong ucapan orang.

    "Jangan bertanya menghabiskan waktu! Sinto Gendengdalam bahaya besar. Dia bisa mati dalam beberapa

    kejapan kalau tidak segera ditolong. Didalam lipatan sapu

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    27/96

    tangan hitam ada empat butir obat. Dua berwarna putih,

    dua berwarna hitam. Masukkan obat itu ke dalam mulut

    Sinto Gendeng! Lekas, lakukan segera! Jangan sampai

    terlambat!"

    Sesaat Wiro masih bingung. Tapi kemudian dia segera

    lakukan apa yang dikatakan orang. Di dalam saku kanan

    pakaian hitam si kakek memang dia menemukan sehelai

    sapu tangan hitam. Dalam gulungan sapu tangan itu ada

    empat butir benda bulat sebesar ujung jari kelingking. Dua

    berwarna putih, dua berwarna hitam. Seperti yang

    dikatakan kakek tak dikenal itu Wiro masukkan obat itu ke

    dalam mulut gurunya. Lalu dia mengurut tenggorokan Sinto

    Gendeng hingga empat butir obat tertelan dan melewati

    tenggorokan lalu masuk ke dalam perut. Begitu masuk ke

    dalam usus besar, Sinto Gendeng menggeliat dan

    keluarkan suara erangan keras. Dari mulutnya mengepul

    asap aneh. Matanya yang tadi mendelik perlahan-lahan

    menutup. Lalu sosok si nenek tidak bergerak lagi."Jahanam! Kau menipu! Guruku menemui ajal akibat

    obat yang ditelannya!" teriak Wiro marah. Tangan kanannya

    siap hendak menggebuk batok kepala si kakek.

    "Anak muda! Jangan cepat salah sangka! Jangan keburu

    menduga buruk. Gurumu hanya pingsan tanda obat tengah

    bekerja. Walau tidak sembuh menyeluruh tapi yang penting

    Sinto Gendeng sudah lolos dari lobang jarum kematian.Coba kau periksa lengannya. Kau akan merasakan

    denyutan nadi tanda dia masih hidup...."

    Wiro cepat meraba pergelangan tangan kanan Sinto

    Gendeng. Hatinya lega. Ternyata memang masih ada

    denyutan pada urat besar si nenek.

    "Orang tua, harap kau menerangkan apa yang terjadi.

    Dan kau sendiri siapa?""Dua pertanyaanmu tidak penting. Sebelum aku

    meregang nyawa ada beberapa hal yang perlu aku beri

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    28/96

    tahu.... Pertama, Sinto Gendeng walaupun selamat dari

    kematian tapi seumur hidup tubuhnya sebelah pinggang ke

    bawah akan mengalami kelumpuhan. Hal kedua, satu-

    satunya cara untuk mengobati kelumpuhan itu adalah

    mencari sekuntum Bunga Matahari yang tumbuh

    menghadap matahari terbit dan hanya mengembang pada

    saat terjadi gerhana matahari. Jika kau berhasil

    mendapatkan bunga itu pada saat mengembang dan

    dimakan oleh Sinto Gendeng maka dia akan sembuh dari

    kelumpuhan...."

    "Aku sudah mendengar ucapanmu Kek! Sekarang

    katakan apa yang terjadi! Siapa yang melakukan

    malapetaka ini atas diri guruku? Lalu kau sendiri siapa?"

    "Orangnya dikenal dengan julukan Kelelawar

    Pemancung Roh. Sarangnya di Teluk Akhirat. Dia

    menghantam Sinto Gendeng dengan racun Seribu Hawa

    Kematian. Tidak ada satu orangpun yang mampu lolos dari

    kematian jika diserang. Racun itu berupa hawa yang tidakkelihatan dan juga tidak berbau. Karena keadaannya lebih

    berat dari udara maka hawa beracun ini selalu

    mengambang dari atas ke bawah. Akibatnya tidak ada yang

    bisa lolos dari kematian...."

    "Aku pernah mendengar nama Kelelawar Pemancung

    Roh itu. Akan kucari dan kucincang sampai lumat manusia

    keparat itu!" Pendekar 212 geram bukan kepalang. "Hai!Kau belum menerangkan siapa dirimu!"

    "Aku Suro Ageng. Sahabat Sinto Gendeng di masa

    muda.... Aku...."

    "Kalau kau benar sahabat guruku kau harus kutolong....

    Kau masih memiliki obat seperti yang kau berikan pada

    Eyang Sinto Gendeng?"

    "Sebenarnya obat itu bisa dibagi dua, untukku dan untukgurumu. Tapi jika dibagi dua daya kekuatannya jadi

    berkurang. Gurumu mungkin tidak banyak tertolong. Aku

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    29/96

    memutuskan menolongnya agar bisa hidup. Sedang diriku

    sendiri sudah pasrah menghadapi maut...."

    "Pasti ada cara menolongmu Kek!" kata Wiro seraya

    memandang berkeliling. Tiba-tiba matanya membentur

    topeng yang sebelumnya dipakai Suro Ageng. Wiro lantas

    ingat pada empat orang dalam gelap yang ditemuinya

    sebelumnya. Ketika dia memperhatikan pula pakaian si

    kakek, berdesirlah darahnya. Kakek ini mengenakan jubah

    hitam seperti yang dipakai orang-orang itu! Murid Eyang

    Sinto Gendeng jadi curiga.

    "Kek, sebelumnya aku melihat empat orang me-

    ngenakan topeng dan jubah hitam seperti yang kau

    kenakan. Apakah kau punya sangkut paut dengan

    mereka...?"

    "Anak muda, kau pernah mendengar nama Lima Laknat

    Malam Kliwon?"

    "Pernah..." jawab Wiro. Lalu dia ingat. "Sebelumnya

    guruku pernah bertanya malam ini malam apa! Bukankahmalam ini malam Jum'at Kliwon? Berarti...!" Sepasang mata

    sang pendekar mendelik. Tubuhnya bergeletar. "Kau salah

    satu dari mereka!"

    Suro Ageng mengangguk perlahan.

    Rahang Pendekar 212 menggembung. "Bukankah jika

    Lima Laknat Malam Kliwon muncul di malam Kliwon berarti

    ada orang yang bakal menjadi korbannya?! Jangan-jangankalian sebelumnya punya maksud keji terhadap guruku!"

    "Kau benar anak muda! Tapi maksud kami tidak

    kesampaian. Aku sendiri sangat menyesal...."

    "Kesampaian atau tidak, menyesal atau tidak aku tidak

    perduli! Biar kupecahkan dulu batok kepalamu!"

    Wiro lalu angkat tangan kanannya untuk menggebuk

    batok kepala Suro Ageng. Si kakek diam saja. Tidakbergerak, berkedippun tidak seolah pasrah.

    Tiba-tiba dari samping terdengar ucapan Sinto Gendeng.

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    30/96

    "Anak setan! Kakek itu telah selamatkan nyawaku

    dengan nyawanya! Mengapa kau hendak membunuhnya?!"

    "Eyang!" seru Wiro. Saat itu si nenek sudah bergerak

    bangkit dan duduk di tanah. Ketika dia mencoba berdiri

    ternyata dia tidak mampu menggerakkan kedua kakinya.

    Dia pergunakan tangan meraba dua kaki itu. Kaki itu tidak

    merasa apa-apa. Maka menjeritlah si nenek! Lalu terkulai

    pingsan. Di saat yang sama kepala Suro Ageng terkulai

    pula ke kiri. Orang ini tak bergerak lagi bertanda nyawanya

    melayang sudah.

    ***

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    31/96

    WIRO SABLENG

    SINTO GENDENG LUMPUH

    OSOK Sinto Gendeng bergerak. Dari mulutnya keluar

    erangan halus. "Nek, kau sudah siuman Nek?" tanyaWiro yang duduk memangku kepala gurunya.

    "Kepalaku berat.... Mataku sulit dibuka. Tapi aku

    mendengar suaramu. Anak setan.... Apa yang terjadi

    dengan diriku. Aku... aku tidak mampu menggerakkan dua

    kakiku. Aku tak mampu bergerak duduk...."

    "Eyang, kau tiduran saja dulu. Jangan terlalu banyak

    bicara....""Anak setan! Berani kau melarang aku bicara?!" bentak

    Sinto Gendeng. Mukanya yang hanya tinggal kulit pembalut

    tulang kelihatan pucat.

    "Nek, biar aku ceritakan apa yang terjadi denganmu. Aku

    ingin ingatanmu pulih dan tabah menerima kenyataan...."

    "Tabah menerima kenyataan? Eh, apa maksudmu anak

    sableng?! Memangnya apa yang terjadi?!" tanya SintoGendeng pula.

    "Dua kakimu lumpuh Nek. Akibat racun Seribu Hawa

    Kematian...."

    Perlahan-lahan dua mata si nenek terbuka sedikit,

    makin lebar, tambah lebar dan akhirnya memandang

    mendelik pada sang murid. Dia usap dua kakinya dengan

    tangan kanan. Tidak terasa apa-apa. Dia coba gerakkandua kaki itu. Dia tidak mampu melakukan. Sinto Gendeng

    hendak menjerit tapi akhirnya sadar dan hanya bisa

    pasrah.

    S

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    32/96

    "Kelelawar Pemancung Roh dari Teluk Akhirat.... Dia

    yang mencelakaiku. Dia melampiaskan dendam empat

    puluh tahun lalu!" Rahang si nenek menggembung.

    Mukanya yang seperti tengkorak tampak tambah angker.

    "Dendam akan berkelanjutan. Kelelawar Pemancung Roh

    benar-benar telah menanam racun! Dia kelak akan

    memetik dan menelan buah racunnya! Selama bumi

    terhampar, selama langit berkembang aku akan mencari

    dan membunuhnya...."

    "Eyang, untuk sementara harap kau tidak memikirkan

    segala dendam kesumat. Kita harus mencari jalan

    bagaimana bisa menyembuhkan dirimu. Menurut kakek

    bernama Suro Ageng itu...."

    "Suro Ageng!" Sinto Gendeng menyebut nama itu

    setengah menjerit. "Mana dia?!" Sepasang mata si nenek

    berputar.

    "Dia ada di sebelahmu Nek. Tapi sudah mendahuluimu.

    Mati akibat Seribu Hawa Kematian."Dua mata Sinto Gendeng mendelik. Dia gerakkan

    kepalanya ke kiri. Sosok Suro Ageng tergeletak di

    sebelahnya. Tangan kirinya diulurkan memegang tangan si

    kakek. Dia hendak menjerit namun yang keluar hanya

    sesenggukan. "Suro.... Kalau saja dulu aku menerima

    lamaranmu dan kawin denganmu. Kau tidak akan

    mengalami nasib seperti ini. Ah...."Wiro jadi terkesiap mendengar ucapan sang guru.

    Sambil garuk-garuk kepala dia berkata. "Eyang, jadi kakek

    ini dulunya adalah kekasihmu di masa muda...?"

    Si nenek tidak menjawab. Dalam hati Wiro bertanya-

    tanya, di masa mudanya dulu sebenarnya berapa banyak si

    nenek ini punya kekasih. Mungkin karena begitu

    banyaknya hingga dia bingung memilih, akhirnya takpernah kawin-kawin. Kalau bukan dalam keadaan seperti

    itu pemuda konyol ini tentu sudah menggoda sang guru.

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    33/96

    Sinto Gendeng usap-usap mukanya yang pucat

    beberapa kali. Dari mulutnya kemudian meluncur ucapan.

    "Aku pantas bangga padanya. Dia sengaja me-

    ngorbankan nyawanya untuk menyelamatkan jiwaku!

    Suro.... Sungguh tinggi budimu...."

    "Eyang, sebelum menghembuskan nafas kakek itu

    menerangkan bahwa satu-satunya obat yang bisa

    menyembuhkan kelumpuhanmu adalah Bunga Matahari

    yang tumbuh menghadap matahari terbit dan mekar pada

    saat gerhana matahari...."

    Kulit muka Sinto Gendeng mengerenyit.

    "Orang bisa berkata begitu. Tapi Gust! Allah menjadikan

    obat bukan cuma satu macam! Pasti ada obat lain yang

    lebih mudah dari bunga matahari celaka itu! Kalau

    mengalami kesulitan kita harus cari kawanku Si Raja Obat!

    Anak setan! Apakah kau sudah siap?!"

    "Siap apa maksud Eyang?" tanya Wiro heran.

    "Saat ini juga kita harus berangkat ke Teluk Akhirat!Mencari manusia berjuluk Kelelawar Pemancung Roh itu!"

    "Eyang.... Keadaanmu belum pulih. Lagi pula kau.... Kau

    tak bisa berjalan sendiri...."

    "Aku tidak menyuruhmu mencari keledai atau kuda, apa

    lagi onta tunggangan!" jawab si nenek.

    "Aku tahu Nek, maksudku kau harus istirahat dulu yang

    cukup. Jika kesehatanmu pulih baru kita pikirkan apa yangharus kita lakukan...."

    "Weehhhhh! Kau tahu apa mengenai diri dan

    kesehatanku! Jangan kau mengatur diriku, anak sableng!"

    Wiro garuk-garuk kepala. Tak ada jalan lain. Ketika dia

    hendak membantu si nenek berdiri pandangannya

    membentur sebuah benda tergeletak di tanah dekat kaki

    Suro Ageng. Wiro segera mengambilnya."Benda apa itu...?" Sinto Gendeng bertanya.

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    34/96

    Sambil memperhatikan benda yang dipegangnya Wiro

    menjawab. "Sebuah kalung kepala srigala. Terbuat dari

    perak. Rantainya sudah putus...."

    "Kepunyaan siapa menurutmu?" tanya si nenek.

    "Sulit kuduga Nek. Mungkin salah seorang dari

    komplotan Lima Laknat Malam Kliwon. Mungkin juga punya

    makhluk kelelawar dari Teluk Akhirat itu.... "

    "Simpan baik-baik. Benda itu bisa kita jadikan bahan

    pelacak dimana sarangnya Lima Laknat Malam Kliwon

    serta Kelelawar Pemancung Roh!"

    Wiro mengiyakan sambil mengangguk lalu masukkan

    kalung kepala srigala itu ke balik pakaiannya.

    "Sekarang kita harus segera tinggalkan tempat ini!" kata

    Sinto Gendeng.

    "Apa tidak menunggu dulu sampai pagi hari Nek? Lagi

    pula bukankah kita harus mengurus mayat kakek bernama

    Suro Ageng In!?""Mayat Suro Ageng memang menjadi ganjalan. Tapi

    kalau kita melewati sebuah desa, kita bisa upahkan orang

    untuk mengurusnya. Sekarang jangan banyak membantah.

    Kita harus tinggalkan tempat ini. Teluk Akhirat cukup jauh

    dari sini!"

    "Tapi Nek, kau tak bisa berjalan sendiri. Apa lagi berlari!"

    ujar Wiro pula."Siapa bilang aku akan jalan kaki sendiri?!" ujar si nenek

    seraya menyeringai.

    "Memangnya kau bisa terbang, Nek?"

    "Weehhhh! Kau yang menerbangkan aku, anak setan!"

    Wiro keheranan tak mengerti.

    "Dukung aku di pundakmu! Kau boleh berjalan biasa,

    berlari atau terbang! Suka-sukamulah! Hik... hik... hik....""Nek! Kau...."

    "Jangan berani membantah perintah seorang guru!"

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    35/96

    "Aku tidak membantah Eyang. Tapi bayangkan saja

    kalau aku harus membawamu kemana-mana. Di dukung di

    atas bahu!"

    "Lalu apa kau mau mendukung aku seperti membedung

    bayi di depan dada? Hik... hik... hik!"

    "Kita harus mencari binatang untuk tungganganmu..."

    kata Wiro pula.

    "Aku gamang kalau menunggangi binatang. Aku cuma

    mau didukung belakang. Nangkring di atas pundakmu! Ayo

    tunggu apa lagi! Naikkan aku ke atas pundakmu Wiro!"

    Pendekar 212 garuk-garuk kepala. "Celaka benar!

    Bagaimana aku bisa mendukung nenek yang sekujur

    badannya bau pesirfg begini rupa!"

    "Jangan kau mengumpat atau memaki dalam hatimu

    anak setan! Jika kau tidak rela mendukungku, cepat kau

    tinggalkan aku sekarang juga! Lalu mulai saat ini putus

    hubungan kita sebagai murid dan guru!"Wiro memaki panjang pendek dalam hati. Namun dia

    memang tidak bisa menolak. Tubuh sang guru diangkatnya

    lalu dinaikkannya di atas pundaknya. Leher dan pundaknya

    kiri kanan langsung terasa dingin oleh rembesan air

    kencing yang menempeli kain panjang butut yang

    dikenakan Sinto Gendeng. Rahang Pendekar 212

    menggembung. Kuping hidungnya bergerak-gerak.Celakanya si nenek duduk sambil goyang-goyangkan

    badannya seperti anak kacil keenakan.

    "Uh.... Kau berat sekali Nek!" kata Wiro masih belum

    melangkah.

    "Jangan macam-macam Wiro. Tubuhku cuma tinggal

    tulang belulang! Apanya yang berat?!" Si nenek lalu jambak

    rambut gondrong muridnya.

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    36/96

    "Tubuhmu memang tidak berat Eyang. Tapi yang berat

    mungkin dosamu karena terlalu banyak kekasih di masa

    muda!" jawab Pendekar 212 pula.

    Tangan kiri Sinto Gendeng menyambar telinga kiri Wiro

    lalu dipuntir lumat-lumat hingga Wiro menjerit kesakitan.

    "Anak setan! Aku tahu kau tidak suka mendukungku

    seperti ini! Tapi seandainya aku seorang gadis cantik jelita,

    weehhhhh! Pasti kau akan bawa kemana saja dan

    tanganmu akan menggerayang kesana-sini!" Sinto

    Gendeng tertawa mengekeh. Dia puntir lagi telinga kiri

    Wiro. "Ayo jalan!"

    "Aduh Eyang! Ampun! Jangan dipuntir telingaku! Aku

    segera jalan!" teriak Wiro kesakitan.

    "Nah bagus kalau begitu! Hik... hik... hik...."

    Belum jauh berjalan tiba-tiba Sinto Gendeng pegang tagi

    telinga kiri Wiro.

    "Nek...!"

    "Anak setan! Kau mau bawa aku kemana?! Aku tidakbodoh! Teluk Akhirat letaknya di sebelah selatan sana.

    Mengapa kau menuju ke arah timur?"

    "Anu Nek.... Ada baiknya kita lebih dulu menemui Kakek

    Segala Tahu di bukit kapur tempat kediamannya. Siapa

    tahu dia ada di sana. Kita bisa minta petunjuk bagaimana

    caranya kau bisa disembuhkan dengan cepat...."

    "Kau murid baik dan pintar!" Si nenek elus-elus rambutgondrong muridnya. "Berjalan biasa-biasa saja. Tak usah

    kesusu. Tubuhku letih sekali. Aku mau tidur barang

    beberapa lama...." Sinto Gendeng rangkapkan dua

    tangannya di depan dada. Matanya dipejamkan. Sesaat

    kemudian terdengar suara ngoroknya sepanjang jalan.

    "Nenek bau pesing sialan!" memaki Pendekar 212. "Dia

    enak-enakan ngorok di atas pundakku sementara akusengsara. Kalau saja kau bukan guruku dari tadi-tadi kau

    sudah kubanting ke tanah!" Saat itu bernafaspun sang

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    37/96

    pendekar takut rasanya. Karena setiap dia menarik nafas,

    yang masuk ke dalam rongga hidungnya adalah bau pesing

    tubuh dan kain panjang butut si nenek!

    TAMAT

    Segera terbit:SERIBU HAWA KEMATIAN

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    38/96

    ARIO BLEDEK

    KI SURO GUSTI BENDORO

    ARI Jum'at Pahing, tepat tengah hari ketika sangsurya berada di titik tertinggi. Tidak seperti

    biasanya, di puncak Gunung Mahameru sama sekali

    tidak kelihatan awan putih menggantung. Sinar matahari

    yang tidak terhalang menebar terik mulai dari puncak

    sampai ke lereng bahkan kaki gunung. Angin tidak

    sedikitpun berhembus. Udara terasa panas luar biasa dan

    kesunyian mencekam hampir di setiap penjuru.Ketika serombongan burung pipit melayang di langit

    sebelah utara, sayup-sayup dari arah lereng gunung

    sebelah tenggara terdengar sesuatu berkelebat disertai

    suara mendesis panjang tiada henti-hentinya. Tanah

    bergetar seolah ada sesuatu menjalar melewatinya

    sepanjang lereng.

    Rombongan burung pipit lenyap di kejauhan. Suaraberkelebat dan suara mendesis terdengar semakin keras.

    Tak selang berapa lama di satu jalan setapak di antara

    kerapatan pepohonan kelihatan seorang kakek berjubah

    putih berlari laksana angin menuju puncak Gunung

    Mahameru. Rambut dan janggutnya yang putih panjang

    melambai-lambai. Wajahnya yang lanjut dimakan usia

    walau penuh keriput namun tampak jernih,membayangkan satu pribadi yang bersih. Di tangan

    kanannya ada sebatang tongkat bambu berwarna kuning.

    Ujung jubah sebelah bawah dan lengan jubah putih lebar

    H

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    39/96

    yang bergesek dengan udara itulah sumber suara yang

    terdengar sejak tadi. Lalu suara mendesis tak

    berkeputusan, inilah yang hampir sulit dipercaya kalau

    tidak menyaksikan sendirl.

    Ternyata di belakang kakek berjubah putih itu, meluncur

    ratusan ular berbagai bentuk dan warna. Binatang ini

    meluncur di tanah jalan setapak mengikuti larinya si orang

    tua yang tengah menuju ke puncak gunung sambil tiada

    hentinya mengeluarkan suara mendesis. Sosok tubuh

    mereka yang ratusan banyaknya itu menimbulkan suara

    menggemuruh di tanah. Sesekali kakek ini berpaling ke

    belakang. Mulutnya tersenyum melihat binatang-binatang

    itu. Namun dalam hati dia merasa sedih. Suara hatinya

    berkata. "Tuhan memberi akal pikiran dan perasaan hati

    pada manusia. Yang membuatnya lebih agung dan

    membedakannya dengan binatang. Tetapi terkadang

    binatang memiliki alam pikiran dan hati sanubari yang

    lebih jernih dan polos dari manusia. Ular-ular itu, merekamenunjukkan kesetiaan yang tidak semua manusia

    memilikinya...."

    Semakin tinggi ke puncak gunung semakin berkurang

    pepohonan dan semak belukar. Sengatan sinar matahari

    tambah membakar. Di mana-mana kini tampak

    berhamparan batu-batu hitam berbagai ukuran.

    Sekonyong-konyong dari lereng sebelah atas terdengarsuara langkah-langkah kaki kuda, bergerak ke arah orang

    tua berjubah putih yang sementara mendaki ke jurusan

    berlawanan. Orang tua ini segera hentikan langkahnya dan

    menatap ke depan.

    "Tidak sembarang kuda mampu menaiki puncak

    gunung. Apa lagi gunung tinggi seperti Mahameru ini.

    Binatang itu pasti kuda yang sangat terlatih. Bukan kudasembarangan. Mungkin sekali kuda yang biasa

    dipergunakan dalam peperangan.... Keadaan di Demak

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    40/96

    masih sangat kacau. Bukan mustahil.... "

    Belum selesai orang tua itu berucap dalam hati dua ekor

    kuda besar, satu berwarna coklat, satunya hitam berkilat

    muncul di atasnya. Dari ladam-ladam kaki kuda yang tebal

    dan bergerigi jelas bahwa dua ekor binatang ini memang

    sengaja diperuntukkan untuk ditunggangi di puncak

    gunung atau kawasan berbatu-batu.

    Di atas kuda berwarna coklat duduk seorang bertubuh

    besar, berkulit sangat hitam. Dari pakaian dan bentuk

    gagang pedang yang terselip di pinggangnya jelas dia

    adalah seorang Perwira Kerajaan. Yang anehnya orang ini

    memegang sebuah obor besar di tangan kirinya sementara

    tangan kanan menahan tali kekang kuda tunggangannya.

    Di samping si Perwira, di atas kuda besar hitam yang

    kelihatan garang duduk gagah seorang kakek berjubah

    kuning. Jubah ini terbuat dari bahan tebal dan mahal. Di

    tangan kirinya dia memegang sebatang tombak besi. Pada

    ujung tombak terikat sebuah bendera berbentuk segi tigaberwarna kuning.

    Di belakang kakek berjubah putih, ratusan ular

    mendadak tegakkan kepala dan mendesis keras. Kakek itu

    angkat tangan kanannya. Binatang-binatang yang tadi

    kelihatan galak kini tundukkan kepala, tak ada yang

    bersuara tapi tetap menatap ke depan dengan pandangan

    tidak berkesip. Binatang-binatang yang dalam perasaandan tinggi tingkat kewaspadaannya ini rupanya sudah

    mencium sesuatu akan terjadi.

    Setelah pandangi dua orang itu sejenak, orang

    tua berjubah putih segera memaklumi ada sesuatu dibalik

    kernunculan mereka. Walau hatinya merasa tidak enak

    sambil tersenyum orang tua ini menegur.

    "Perwira Brajanala, sahabatku Ki Dalem Sleman,ini sungguh satu pertemuan yang tidak disangka-sangka.

    Aku tak bisa menutupi kegembiraanku. Tapi juga merasa

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    41/96

    aneh dan ingin bertanya. Gerangan apakah sebabnya

    hingga Perwira Brajanala bersuluh obor besar di bawah

    terang benderangnya sinar matahari?" Orang tua berjubah

    putih ini ajukan pertanyaan walau sebenarnya dia sudah

    tahu apa kegunaan obor besar itu. Yakni untuk melindungi

    diri dari ratusan ular jika binatang-binatang itu menyerang.

    Orang tua berjubah kuning bernama Ki Dalem Sleman

    melirik pada Perwira di atas kuda coklat lalu berkata.

    "Brajanala, kau tak perlu menjawab pertanyaannya. Karena

    kitalah yang akan mengajukan banyak pertanyaan

    padanya!"

    Kakek jubah putih kerenyitkan kening. Sepasang alisnya

    naik sesaat. Lalu kembali dia tersenyum. "Kalau sampeyan

    mempunyai kepentingan mengapa tidak mengajukannya

    sewaktu kita masih sama-sama di Demak. Mengapa

    sampai-sampai menghabiskan waktu dan mencapaikan diri

    menemuiku di lereng Mahameru ini?"

    "Sebabnya lain tidak karena kau melarikan diri ketikaKerajaan dilanda kekacauan. Padahal kau adalah salah

    seorang penasihat Sultan yang dibutuhkan kehadirannya.

    Tapi kau menghilang begitu saja. Untung kami masih bisa

    menemuimu di sini!" Yang berkata adalah Perwira Kerajaan

    bernama Brajanala yang berkulit hitam liat itu.

    "Aku tidak melarikan diri. Tidak pula menghilang. Aku

    memang penasihat Kerajaan. Tapi hanya sampai saat akudibutuhkan. Saat Sultan dan Kerajaan tidak memerlukan

    diriku lagi, aku merasa tidak ada gunanya lagi berada lebih

    lama di Demak. Keluarga dan turunan Sultan saling

    membantai memperebutkan tahta. Sampeyan tahu sendiri

    apa yang terjadi sejak Sultan Trenggono mangkat.

    Pangeran Sekar Seda Lepen adik Sultan yang seyogianya

    menjadi Raja menggantikan kakaknya mati dibunuh orang.Pangeran Prawoto, putera Sultan Trenggono yang siap-siap

    hendak dinobatkan sebagai Sultan Demak dibantai habis

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    42/96

    bersama seluruh keluarganya secara keji oleh Arya

    Penangsang, putera Pangeran Sekar Seda Lepen. Aku

    sendiri tidak lagi ingin terlibat dengan segala urusan dunia

    dan kekuasaan. Apa lagi segala daya upayaku untuk

    mendamaikan mereka tidak diperdulikan. Saat ini

    Adiwijoyo, menantu mendiang Sultan Trenggono tengah

    menyusun kekuatan untuk melakukan pembersihan.

    Mudah-mudahan Tuhan membimbing dan melindunginya.

    Aku mendoakan semoga dia berhasil, agar Kerajaan

    kembali aman dan rakyat yang selama bertahun-tahun ini

    hidup menderita bisa kembali menikmati hidup

    tenteram...."

    Ki Dalem Sleman, kakek berjubah hitam yang

    memegang tombak sunggingkan senyum sinis. "Ucapanmu

    seolah satu filsafat yang lebih tinggi dari langit, lebih dalam

    dari dasar samudera. Namun kami berdua tahu kau berada

    di Mahameru ini bukan karena tidak ingin lagi terlibat

    dengan segala urusan dunia, melainkan karena ada satuhal lain...."

    "Sampeyan benar Ki Dalem Sleman," kata Ki Suro Gusti

    Bendoro pula. "Aku sengaja naik ke puncak Mahameru ini

    karena menurut petunjuk yang aku terima dari Gusti Allah

    melalui tiga kali mimpi, setelah lima puluh tahun

    menunggu, puncak Mahameru ini merupakan ujung atau

    akhir perjalanan hidupku....""Rupanya kau manusia luar biasa sekali, Ki Suro Gusti

    Bendoro. Sampai-sampai tahu dimana dan kapan akan

    menemui ajal! Kau manusia murtad! Karena soal mati

    hidupnya manusia hanya Tuhan yang mengetahui...."

    "Aku tidak akan berdebat mengenai hidup matiku

    dengan sampeyan Ki Dalem Sleman...."

    "Baik! Karena kami berdua mencarimu memang bukanuntuk bicara berpanjang lebar. Kami mengetahui kau

    meninggalkan Demak dengan membawa Bendera Pusaka

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    43/96

    milik Kerajaan yang bernama Kanjeng Kiai Pujoanom. Itu

    sebabnya kami mengejarmu sampai ke sini. Kau harus

    menyerahkan Bendera Pusaka itu segera. Saat ini juga!"

    Ki Suro Gusti Bendoro sangat terkejut mendengar kata-

    kata Ki Dalem Sleman itu. "Ki Dalem Sleman, aku yakin

    sampeyan bukan orang yang suka berburuk sangka.

    Namun apa yang barusan sampeyan katakan sungguh

    mengejutkan. Bagaimana sampeyan bisa menuduh aku

    membawa Bendera Pusaka Kanjeng Kiai Pujoanom?"

    "Kau bukannya membawa tapi mencuri Bendera Pusaka

    itu!" kata Perwira Brajanala dengan suara keras dan

    tampang garang.

    "Astagfirullah." Ki Suro mengucap. "Seumur hidupku aku

    tidak pernah mencuri. Apa lagi sampai mencuri Pusaka

    Kerajaan yang sangat kujunjung tinggi. Sampeyan berdua

    pasti menyirap kabar salah. Atau mungkin ada pihak yang

    memfitnah...."

    "Tidak ada kabar yang salah! Tidak ada orang yangmemfitnah...."

    "Kalau begitu sampeyan berdua kupersilahkan

    menggeledah diriku..." kata Ki Suro Gusti Bendoro dengan

    suara tetap tenang.

    "Buat apa menggeledah. Kau pasti sudah

    menyembunyikan Bendera Pusaka itu di satu tempat

    rahasia!" tukas Brajanala. "Kami ingin kau mengantar kamike tempat kau menyembunyikan Bendera itu!"

    Kakek berjubah putih gelengkan kepala lalu berkata.

    "Apa yang aku katakan adalah suara kebenaran. Aku tidak

    mencuri Bendera Pusaka itu...."

    "Kalau begitu terpaksa kau menggantikan Bendera

    Pusaka itu dengan kau punya nyawa!" ujar Brajanala pula.

    Lalu "sreettt!" Perwira Kerajaan ini hunus pedangnya.Pedang telanjang itu berkilauan ditimpa sinar matahari.

    Sang Perwira lalu sentakkan tali kekang kudanya. Binatang

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    44/96

    ini melangkah maju mendekati Ki Suro Gusti Bendoro yang

    tetap berdiri dengan tenang bahkan wajah tidak berubah

    sama sekali.

    ***

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    45/96

    ARIO BLEDEK

    SEBELUM AJAL BERPANTANG MATI

    EGITU pedang keluar dari sarungnya, ratusan ularyang ada di belakang Ki Suro Gusti Bendoro serta

    merta mendesis keras dan serentak melesat ke

    depan. Kuda hitam dan kuda coklat meringkik tinggi sambil

    angkat dua kaki depan masing-masing.

    Brajanala cepat kuasai kudanya lalu babatkan obor

    besar di tangan kiri. Puluhan ular bersurut mundur tapi

    puluhan lainnya tetap melesat ke depan. Ki Dalem Slemangerakkan tangannya yang memegang tombak. Siap

    menggebuk. Tombak ini bukan senjata biasa melainkan

    satu senjata mustika yang bisa menebas batang pohon

    dan menghancurkan batu besar.

    Ketika ular-ular itu hampir melewati orang tua berjubah

    putih, Ki Suro segera angkat tangannya dan berkata.

    "Sahabat-sahabatku, tenanglah. Kembali ke tempatmu dibelakangku...."

    Luar biasa sekali! Seperti mengerti apa yang diucapkan

    si orang tua, ratusan ular itu bersurut ke belakang.

    Brajanala melintangkan pedangnya di depan dada. "Ki

    Suro! Apa kau lebih suka mati dengan kepala terbelah dari

    pada memberi tahu dimana kau sembunyikan Bendera

    Pusaka itu?!""Soal Bendera Pusaka sudah aku katakan, aku tidak

    memilikinya. Soal kematian aku hanya berserah diri pada

    Yang Maha Kuasa Maha Pencipta. Aku merasa bahagia

    B

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    46/96

    setelah menunggu lima puluh tahun untuk menghadap

    Sang Pencipta akhirnya ada orang memberi jalan menuju

    pintu akhirat. Sampeyan hendak membunuhku, aku sangat

    berterima kasih. Semoga Tuhan mengampuni dosa

    sampeyan. Tapi izinkan aku lebih dulu menghadap ke

    Kiblat...."

    Habis berkata begitu Ki Suro Gusti Bendoro putar

    tubuhnya menghadap ke arah matahari tenggelam.

    Di atas kuda coklat Perwira bernama Brajanala

    kertakkan rahang. Tangan kanannya menggenggam

    gagang pedang erat-erat. Lalu wuuut! Senjata itu

    berkelebat menyilaukan di udara. Membacok dari atas ke

    bawah. Sasarannya adalah batok kepala kakek berjubah

    putih yang tegak dengan kepala agak tertunduk, pasrah

    menunggu ajal.

    Ratusan ular di belakang si kakek tegakkan kepala,

    mendesis keras tapi tak ada yang berani bergerak.

    "Traanggg!"Pedang besar di tangan Perwira Brajanala laksana

    menghantam benda terbuat dari baja atos. Senjata itu

    patah dua begitu membentur batok kepala Ki Suro Gusti

    Bendoro. Kepala si kakek sedikitpun tidak bergeming

    bahkan rambutnya yang putih tidak ada yang putus barang

    sehelaipun! Di atas kuda coklat Brajanala terhuyung-

    huyung. Tak terasa obor besar di tangan kirinya jatuh ketanah. Minyak yang tumpah segera disambar nyala api.

    Kebakaran besar di tempat yang kering gersang dan panas

    itu akan segera terjadi kalau kakek berjubah putih tidak

    lekas melakukan sesuatu. Sekali dia meniup, padamlah

    kobaran api.

    Untuk sesaat Brajanala masih memegang gagang

    pedang namun kemudian senjata yang telah patah ituterpaksa dilepaskannya karena tangannya terasa panas

    dan pedas. Ketika diperhatikannya, terkejutlah Perwira

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    47/96

    Demak ini karena telapak tangannya ternyata telah

    terkelupas melepuh!

    Perlahan-lahan Ki Suro Gusti Bendoro angkat kepalanya.

    Sesaat dia menatap sang Perwira yang memandang

    padanya dengan mata membeliak dan rahang

    menggembung.

    Ki Suro tersenyum dan berkata dengan suara lembut.

    "Tuhan tidak mengizinkan sampeyan membunuhku. Ajalku

    tidak berada di tangan sampeyan. Ini satu bukti bahwa ajal

    manusia tidak berada di tangan manusia lainnya kecuali

    dengan kehendakNya. Perwira Brajanala, semoga Gusti

    Allah mengampuni kesalahan sampeyan...."

    Muka hitam Perwira Kerajaan itu kelam membesi. Dua

    tangannya terkepal, matanya mendelik tak berkesip dan

    gerahamnya bergemeletakan.

    "Ilmu kebalmu sungguh mengagumkan Ki Suro Gusti

    Bendoro!" Tiba-tiba Ki Dalem Sleman membuka mulut. "Aku

    mau lihat, apakah kesaktianmu bisa menahan Tombak KiaiSepuh Plered milikku ini!"

    Begitu selesai berucap Ki Dalem, Sleman langsung

    tusukkan tombak besi yang ujungnya ada bendera kecil

    kuning berbentuk segitiga ke leher Ki Suro Gusti Bendoro.

    "Desss!"

    Tombak besi tembus sampai ke tengkuk si kakek. Darah

    menyembur lalu membasahi leher, dada dan jubah putihyang dikenakannya. Ratusan ular mendesis keras dan

    tegakkan kepala. Namun seperti tadi tak ada bergerak.

    Ki Dalem Sleman tertawa bergelak.

    "Ki Suro! Ternyata ilmu kebalmu tidak sanggup

    menghadapi tombak saktiku! Ha... ha... ha! Kau harus

    berterima kasih padaku karena telah menolongmu

    menemui kematian lebih cepat!"Sepasang mata Ki Suro Gusti Bendoro menatap tak

    berkesip ke arah kakek berjubah kuning. Tidak ada

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    48/96

    bayangan rasa sakit di wajah orang tua ini. Hal ini mungkin

    tidak terperhatikan oleh Ki Dalem Sleman. Puas tertawa

    dia lalu cabut tombak Kiai Sepuh Plered dari leher Ki Suro.

    Baik Ki Dalem Sleman maupun Perwira Brajanala mengira

    begitu tombak dicabut, Ki Suro akan segera roboh ke tanah

    walau tangan kanannya masih bersitopang pada tongkat

    bambu kuning. Tapi bukan saja sosok kakek itu tetap tegak

    tak bergerak di tempatnya. Malah terjadilah satu hal luar

    biasa. Darah yang mengucur dari luka tembusan tombak

    sakti di leher Ki Suro, yang meleleh membasahi leher, dada

    serta jubahnya bergerak surut, naik ke atas, masuk

    kembali ke dalam lobang luka. Lalu luka itu menutup

    dengan sendirinya. Tak ada cacat atau bekas yang

    tertinggal. Sedang noda darah di jubah si kakek lenyap

    sama sekali. Jubah itu kembali putih bersih seperti se-

    belumnya! Selain itu noda darah yang membasahi tombak

    dan bendera kuning juga ikut sirna tanpa bekas!

    Dinginlah tengkuk Ki Dalem Sleman dan Brajanala."Sahabatku Ki Dalem Sleman...." Ki Suro Gusti Bendoro

    berkata sambil mengulas senyum. "Ternyata Tuhan juga

    tidak mengizinkan sampeyan membunuhku...."

    Dua orang di atas kuda putus sudah nyali mereka.

    Keduanya sentakkan tali kekang kuda masing-masing lalu

    menghambur lenyap ke arah lereng timur Gunung

    Mahameru.Ki Suro Gusti Bendoro hela nafas dalam lalu berucap.

    "Ya Tuhan, ampuni dosa dan kesalahan ke dua orang itu.

    Sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka telah

    perbuat."

    Ki Suro Gusti Bendoro berpaling ke belakang. Ratusan

    ular tegakkan kepala. Orang tua ini tersenyum yang dibalas

    oleh desisan halus oleh ratusan ular. Begitu Ki Suromemutar tubuh dan melanjutkan perjalanan menuju

    puncak gunung, binatang-binatang itu segera pula

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    49/96

    mengikuti. Sosok-sosok mereka yang menjalar di tanah

    menimbulkan suara bergemuruh.

    Semakin tinggi ke atas semakin terik sinar sang surya

    seolah membakar puncak Mahameru. Ki Suro terus

    melangkah. Ular-ular terus pula mengikutinya. Di satu

    tempat di mana terdapat dua batu besar membentuk celah

    kakek ini hentikan langkahnya. Ratusan ular ikut berherti.

    Kembali binatang ini tegakkan kepala. Telinga si kakek

    menangkap satu suara. Telapak kakinya terasa bergetar.

    Ada langkah-langkah berat di balik dua batu besar di

    depannya.

    Tiba-tiba menggelegar satu auman dahsyat. Tanah dan

    batu-batu besar di tempat itu bergetar. Sesaat kemudian

    muncullah kepala seekor harimau besar. Matanya yang

    hijau menyorot tajam membersitkan hawa pembunuhan.

    Mulutnya menguak lebar memperlihatkan barisan gigi-gigi

    besar dan taring-taring runcing serta lidah merah haus

    darah. Sepasang kaki depan bergeser merendah. Kepalaperlahan-lahan dirundukkan. Pertanda raja rimba belantara

    penguasa puncak Mahameru ini siap menerkam.

    Di sebelah belakang ratusan ular mendesis keras.

    Sebaliknya kakek yang hendak dijadikan mangsa harimau

    gunung itu tetap berdiri tenang. Malah diwajahnya

    menyeruak senyum. Tongkat bambunya dimelintangkan di

    dada. Lalu orang tua ini membungkuk sedikit. Darimulutnya keluar ucapan.

    "Kita sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan. Tidak

    sepantasnya memiliki hati dan rasa ingin menguasai. Apa

    lagi berniat jahat hendak menumpahkan darah melakukan

    pembunuhan. Aku berjalan di jalanku, tidak mengusik tidak

    mengganggu. Engkau berjalan di jalanmu tidak mengusik

    tidak mengganggu. Persahabatan adalah sesuatu yangagung. Tetapi terkadang makhluk melupakannya karena

    dorongan yang datang dari dalam diri sendiri serta tekanan

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    50/96

    yang datang dari luar. Aku ingin bersahabat tetapi jika

    nasib menakdirkan bahwa kematianku ada di tanganmu,

    aku akan merelakan selembar nyawaku. Lima puluh tahun

    aku menunggu kematian yang tak kunjung datang.

    Agaknya saat ini kau muncul tepat pada waktunya. Dengan

    kehendak Yang Maha Kuasa apa yang akan terjadi,

    terjadilah...."

    Kakek itu lalu duduk bersila di tanah. Tongkatnya

    diletakkan di atas pangkuan. Dua tangannya ditumpahkan

    di ujung lutut. "Harimau raja rimba belantara. Jika kau

    datang membawa takdir bagi akhir nasibku aku ikhlas

    menerima karena aku memang sudah menunggu.

    Lakukanlah apa yang hendak kau lakukan...."

    Dengan senyum masih membayang di wajah orang tua

    itu menatap pada harimau gunung di depannya. Di sebelah

    belakang, ratusan ular yang telah rnengangkat kepala siap

    melesat menyerang harirnau besar. Tapi orang tua

    berjubah putih angkat tangan kanannya dan berkatalembut.

    "Sahabatku, kalau takdir datang tidak ada satu

    kekuatanpun bisa menghalang. Tetaplah berada di tempat

    kalian. Kematian bagian setiap makhluk hidup. Tubuh tua

    dan lapuk ini sudah sejak lama mendambakannya...."

    Ratusan ular keluarkan suara mendesis namun sikap

    mereka tidak segalak tadi lagi. Satu persatu tundukkankepala, menatap tak berkesip ke depan.

    Harimau besar tiba-tiba mengaum lalu melompat ke

    atas batu besar. Dari atas batu besar inilah binatang itu

    menyergap si kakek, langsung mengarah kepala. Namun

    masih dua jengkal sebelum mencapai sasarannya, dari

    tubuh orang itu keluar satu hawa mengandung kekuatan

    dahsyat. Harimau besar terpental ke udara. Meraungkeras. Jatuh terbanting dan terguling-guling.

    Si orang tua kelihatan terkejut melihat apa yang terjadi.

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    51/96

    Wajahnya kemudian berubah seperti menyesali diri.

    "Harimau besar pembawa takdir. Aku tidak bermaksud

    mencelakai dirimu. Aku lupa kalau dalam diriku masih

    tersimpan sisa-sisa kekuatan tak berguna di masa muda.

    Lakukanlah kembali. Serang diriku. Terkam. Aku

    menginginkan kematian sebagaimana kau menginginkan

    tubuhku...."

    Harimau gunung bangkit berdiri. Sepasang matanya

    berkilat-kilat. Didahului gerengan keras binatang ini

    kembali menyerang mangsanya. Kali ini mulutnya langsung

    menerkam kepala si kakek.

    "Kraaakk... kraakkk.... kraakkk!"

    Harimau besar itu seperti menggigit batu besar.

    Hunjaman giginya yang besar-besar serta taringnya yang

    runcing-runcing jangankan melukai, menggores kepala

    orang tua itupun tidak sanggup. Dua kaki depannya

    menyambar ke depan.

    "Breettt... breettt!"Jubah putih Ki Suro Gusti Bendoro robek besar di dua

    tempat di bagian dada. Namun kulit tubuhnya tidak

    tergores barang sedikitpun. Harimau gunung bermata hijau

    itu mengaum keras. Kibaskan ekornya lalu melompat lagi

    ke batu besar sebelah kiri. Dari sini binatang ini melompat

    lagi ke batu lain di sebelah sana lalu menghambur pergi

    melenyapkan diri.Untuk beberapa lamanya Ki Suro Gusti Bendoro masih

    duduk bersila di tanah. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri,

    berpaling ke belakang menatap ratusan ular yang masih

    ada di tempat itu. Sambil melintangkan tongkat bambu

    kuningnya di depan dada orang tua ini berkata.

    "Para sahabatku, kiranya cukup sampai di sini kalian

    mengantarku. Bagaimanapun setiap perjalanan adaakhirnya. Kehidupan di dunia ini ada batasnya. Seratus

    lima puluh tahun aku menjalani kehidupan. Lima puluh

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    52/96

    tahun aku menunggu. Akhirnya saat penantian tiba juga.

    Aku telah mendapat firasat melalui mimpi tiga kali berturut-

    turut. Aku akan segera meninggalkan dunia fana ini. Walau

    aku manusia dan kalian binatang tapi karena kita sama-

    sama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa Maha

    Pengasih aku yakin satu saat di alam baka kita akan

    berjumpa lagi dalam ujud yang tidak kita ketahui. Selamat

    tinggal sahabat-sahabatku...."

    Ratusan ular memenuhi jalan setapak itu keluarkan

    suara mendesis halus seolah sedih dan serentak

    rundukkan kepala, melata sama rata dengan tanah seolah

    memberi penghormatan terakhir. Mata mereka yang

    biasanya tajam tak berkesip kini tampak redup lalu

    teteskan air mata!

    Kakek berjubah putih tundukkan kepala dan bungkuk-

    kan badannya dua kali berturut-turut lalu dengan menindih

    rasa berat di dalam hatinya dia memutar tubuh. Sekali

    berkelebat dia telah berada beberapa tombak di atas sana.Ratusan ular baru bergerak pergi setelah si orang tua tak

    kelihatan lagi.

    ***

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    53/96

    ARIO BLEDEK

    TUJUH PETIR DARI LANGIT

    ANPA menghiraukan teriknya sengatan sinar,matahari yang seolah mau melelehkan batok

    kepalanya Ki Suro Gusti Bendoro melangkah cepat

    menuju puncak Mahameru. Sesekali tongkat bambu

    kuningnya dipukulkan ke batu-batu yang dilewatinya hingga

    mengeluarkan suara bergetar keras.

    Di satu tempat orang tua yang memiliki kesaktian tinggi

    ini dan melakukan perjalanan dalam mencari akhirkehidupannya hentikan langkah. Memandang berkeliling

    matanya membentur sebuah batu besar yang salah satu

    sisinya ada sebuah lobang sebesar kepalan tangan.

    Dada si kakek berdebar. "Batu permata..." katanya

    dalam hati. "Tepat seperti yang aku lihat dalam mimpi." Dia

    menatap ke langit lalu membungkuk. Selesai membungkuk

    laksana terbang dia melesat dan sesaat kemudian telahduduk bersila di atas batu, sengaja menghadap ke arah

    matahari tenggelam.

    Sejak pagi sang surya telah membakar batu itu dengan

    sinarnya yang sangat terik. Batu besar yang diduduki si

    kakek tidak beda dengan bara menyala. Tapi orang tua ini

    duduk bersila dengan tenang, seolah duduk di satu tempat

    yang sejuk dan nyaman. Kepalanya didongakkan ke ataslangit. Tongkat bambu kuning diletakkan di atas pangkuan

    sedang dua tangan ditumpahkan di atas lipatan lutut.

    Setelah berdiam diri sesaat orang tua ini pejamkan dua

    T

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    54/96

    matanya lalu dengan suara perlahan dan bergetar dia

    berkata.

    "Ya Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.

    PentunjukMu sudah hamba terima. Batu permata telah

    hamba temui. Mohon kiranya masa penantian selama lima

    puluh tahun menjadi kenyataan. KehendakMu terjadilah.

    Hamba Ki Suro Gusti Bendoro sudah siap Ya Tuhan untuk

    datang menghadapMu dengan segala kerendahan. Petir

    pertama datanglah padaku, sampaikan kehendak Yang

    Kuasa, aku siap menerima deramu!"

    Di tempat yang tadinya sunyi senyap itu, disekitar batu

    besar tiba-tiba bertiup angin aneh yang mengeluarkan

    suara seperti puluhan puput ditiup secara bersamaan.

    Pada saat suara itu lenyap tiba-tiba di langit sebelah utara

    berkiblat satu sinar terang menyilaukan. Bersamaan

    dengan itu terdengar suara menggelegar seolah hendak

    meruntuh langit mengoyak bumi.

    Kiblatan sinar terang menghunjam ke bumi,menghantam ke arah batu besar di mana orang tua

    berjubah putih duduk bersila.

    Batu besar hancur terbelah hangus. Orang tua yang

    duduk di atasnya mencelat sampai lima tombak. Dari

    mulutnya keluar jeritan setinggi langit. Ketika tubuhnya

    melayang jatuh dan terkapar di tanah gunung, tangan

    kanannya sebatas bahu tak ada lagi di tempatnya. Petiryang menghantam dari langit membabat putus dan hangus

    tangan itu. Potongan tangan terlempar ke udara lalu jatuh

    dekat sebuah batu, perlahan-lahan berubah bentuk, leleh

    menjadi seonggok bubuk pasir berwarna hitam dan

    mengepulkan asap panas!

    Sosok orang tua itu terkapar di tanah tak bergerak.

    Jubah putihnya hangus. Mungkin nyawanya sudah putus.Ternyata tidak. Perlahan-lahan tubuh, itu bergerak bangkit.

    Tangan kirinya masih memegang tongkat bambu. Sesaat

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    55/96

    dia duduk bersimpuh di tanah lalu berkata.

    "Ya Tuhan, dera petir pertama telah hamba terima. Beri

    petunjuk agar hamba segera mendapatkan petir ke dua

    dan selanjutnya sampai ke tujuh." Ki Suro Gusti Bendoro

    sekilas melirik ke arah kutungan tangan kanannya yang

    telah berubah menjadi pasir besi hitam dan panas.

    Dengan pertolongan tongkat yang dipegang di tangan

    kiri orang tua berjubah putih itu melangkah meneruskan

    perjalanan. Sikapnya masih tetap gagah. Dia terus

    mendaki menuju puncak gunung. Tangan kanannya yang

    buntung disambar petir dan sakit luar biasa seolah tidak

    dirasakanrtya. Di satu tempat kembali kakek ini hentikan

    langkah ketika matanya melihat batu besar bertanda dua

    buah lobang sebesar kepalan.

    "Batu ke dua, tanda ke dua..." membatin orang tua

    berusia 150 tahun ini. Dia cucukkan tongkat bambu di

    tangan kirinya ke sebuah batu. Batu berlubang ditembus

    tongkat. Si kakek sendiri kemudian melesat ke udara danturun di atas batu bertanda dua buah lobang sebesar

    kepalan.

    Seperti tadi orang tua ini duduk bersila di atas batu

    besar yang amat panas itu. Karena tangan kanannya

    sudah buntung, kini hanya tangan kirinya yang diletakkan

    di atas lipatan lutut.

    Sambil mendongak ke langit, orang tua ini berucap."Petir ke dua, aku Ki Suro Gusti Bendoro siap menerima

    deramu. Datanglah padaku, sampaikan kehendak Yang

    Kuasa!"

    Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, muncul suara

    angin menyerupai bunyi puput. Untuk ke dua kalinya

    kemudian dari langit melesat sinar putih menyilaukan

    menyambar ke bawah disertai gelegar yang menggetarkanpuncak Gunung Mahameru.

    Batu yang diduduki Ki Suro Gusti Bendoro pecah hangus

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    56/96

    berkeping-keping. Sosok si kakek mencelat tinggi ke udara

    dibarengi jeritannya yang keras luar biasa. Sosoknya

    kemudian terbanting jatuh di celah antara dua buah batu

    hitam. Dari mulutnya keluar suara mengerang. Darah

    mengucur dari telinga dan hidungnya. Dua kakinya

    melejang beberapa kali. Saat itu ternyata dia tidak lagi

    memiliki tangan kiri. Seperti tangan kanan, tangan kirinya

    juga telah buntung hangus dihantam petir yang menyam-

    bar dahsyat dari langit!

    Lalu keanehan terulang kembali. Potongan tangan kiri Ki

    Suro Gusti Bendoro yang tercampak di tanah perlahan-

    lahan berubah menjadi setumpuk debu kasar menyerupai

    pasir besi berwarna hitam dan mengepulkan asap.

    Di sela batu, tubuh Ki Suro berguling ke kiri. Dua kakinya

    menggapai-gapai. Dengan bersandar ke salah satu batu di

    dekatnya dia berusaha bangkit. Tongkat bambu kuningnya

    masih menancap di atas batu hitam. Dia melesat ke atas

    batu. Dengan mulutnya dia menyambar tongkat bambu itu.Lalu dengan langkah terhuyung-huyung dia kembali

    mendaki menuju puncak gunung.

    Sekali ini dia bergerak tidak semudah sebelumnya.

    Sesekali dia hentikan langkah, menarik nafas panjang dan

    menatap ke langit. Di satu pendakian kakinya tersandung.

    Tubuhnya tersungkur di hadapan sebuah batu. Ketika dia

    memandang ke depan dia melihat tiga buah lubang padabatu itu.

    "Batu ke tiga..." membatin Ki Suro. Sepasang matanya

    membesar. Dia segera kerahkan tenaga dalam ke bawah

    lalu menjejakkan kaki. Kemudian tubuhnya melayang dan

    tegak di atas batu. Sesaat dia tegak tergontai-gontai. Lalu

    perlahan-lahan dia dudukkan diri bersila.

    "Petir ke tiga. Datanglah. Aku Ki Suro Gusti Bendoro siapmenerima deramu!"

    Angin bertiup menimbulkan suara seperti puput. Di

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    57/96

    langit menggelegar suara petir. Cahaya menyilaukan

    menyambar panas dan ganas untuk ke tiga kalinya. Kali ini

    kaki kanan si kakek amblas putus sebatas pangkal paha,

    mencelat bersama hancuran batu. Lalu seperti yang

    kejadian dengan dua tangannya, kutungan paha yang

    gosong hangus ini berubah menjadi pasir besi berwarna

    hitam.

    Sosok Ki Suro Gusti Bendoro sendiri saat itu setengah

    terpendam di tanah. Orang lain dalam keadaan buntung

    tiga anggota tangannya disambar petir pasti sudah

    menemui ajal. Namun kakek satu ini sungguh luar biasa.

    Beringsut-ingsut dia mampu keluar dari pendaman tanah.

    Lalu dengan hanya mempergunakan satu kaki dia

    melompat berjingkat-jingkat menuju ke bagian gunung

    sebelah atas. Setiap jatuh dia berusaha bangkit lalu

    melompat lagi. Di satu tempat orang tua ini seperti

    kehabisan nafas dan sandarkan dirinya pada satu batu

    berbentuk pilar. Tenggorokannya seperti tercekik. Sekujurtubuhnya terutama yang putus dihantam petir sakit dan

    panas bukan main. Darah makin banyak mengalir dari

    hidung serta telinganya, malah kini juga dari mulut.

    Tongkat bambu kuning yang masih digigit

    dimulutnya kini tampak ikut basah oleh noda darah.

    "Masih empat petir..." membatin Ki Suro. Dia

    memandang berkeliling, mencari-cari. Akhirnya dia melihatempat lubang di sebuah batu berbentuk pilar enam

    langkah di sebelah depan sana. Dengan berjingkrak-

    jingkrak dia dekati batu setinggi tiga tombak itu. Ki Suro

    atur jalan nafas. Kerahkan tenaga dalam ke kaki kiri lalu

    begitu dia hentakkan kaki itu ke tanah tubuhnya melesat

    ke udara dan seperti seekor burung bangau dia hinggap di

    ujung batu berbentuk pilar!"Petir ke empat! Datanglah! Aku Ki Suro Gusti Bendoro

    siap menunggu!" Si kakek berteriak tapi suara teriakannya

  • 7/30/2019 Lima Laknat Malam Kliwon

    58/96

    tidak sekeras sebelumnya. Apa lagi mulutnya kini dipenuhi

    darah dan setengah tersumbat oleh tongkat bambu yang

    digigitnya.

    Suara angin menyerupai lengkingan tiupan puput

    menggema di seputar pilar batu. Lalu.

    "Blaaarrr!"

    Di angkasa melesat sinar terang, menghunjam ke

    puncak Gunung Mahameru disertai gelegar yang membuat

    nyawa serasa terbang. Sebelum petir ke empat

    menghantam kaki kirinya, Ki Suro menyembur ke depan.

    Tongkat bambu kuning melesat ke udara lalu menancap di

    sebuah batu. Dari mulut Ki Suro sendiri kemudian keluar

    jeritan setinggi langit serta semburan darah. Tubuhnya

    terlempar jauh lalu jatuh terbanting di atas batu rata. Saat

    itu keadaannya sungguh mengerikan karena kaki kirinya

    telah putus dan hangus dibabat hantaman petir. Kutungan

    kaki ini seperti anggota tubuh terdahulu berubah menjadi

    bubuk pasir berwarna hitam mengepul.Untuk beberapa lamanya tubuh tanpa anggota badan itu

    terkapar tak bergerak. Lalu ada erangan halus. Kepala

    yang berselemotan darah bergerak ke kiri. Sepasang mata

    bergerak-gerak.

    "Batu ke lima.... Di mana batu kelima...." Dalam

    menanggung sakit yang amat sangat Ki Suro Gusti Bendoro

    mencari-cari. Rasa takut muncul. Tanpa tangan dan kakibagaimana mungkin dia mencari batu ke lima. Dia tidak

    tahu kalau batu di mana dia terkapar saat itu justru adalah

    batu kelima karena di salah