Laporan Resmi Praktikum Farmasi Fisika II (Tingkat Reaksi)

Download Laporan Resmi Praktikum Farmasi Fisika II (Tingkat Reaksi)

Post on 02-Jan-2016

162 views

Category:

Documents

0 download

DESCRIPTION

Laporan Resmi Praktikum Farmasi Fisika II (Tingkat Reaksi)

TRANSCRIPT

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMASI FISIKA IITINGKAT REAKSI Disusun oleh : kelompok B.1.1 Ade Agusti Alwinie2012210003 Ade Rian Supraptomo2012210004 Aditya Widya Wardhani2012210007 Agnes Margaretha2012210011 Andi Rizki Maulana Bolqiah2012210025I. Judul PercobaanTingkat ReaksiII. Tujuan PercobaanSetelah mengikuti percobaan ini, diharapkan mahasiswa mampu untuk menentukan tingkat reaksi penguraian suatu zat aktif obat. III. Teori dasarStabilitas suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam memformulasikan sediaan farmasi. Selama penyimpanan obat dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien tidak sesuai dengan yang diinginkan. Ada kalanya hasil urai dari obat tertentu bersifat toksik sehingga dapat mengakibatkan efek yang tidak dikehendaki bagi pasien yang menggunakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas antara lain temperatur, kelembaban, cahaya, oksigen, pH, mikroorganisme, dan bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam formulasi sediaan padat.Stabilitas suatu zat dapat ditentukan dengan cara menghitung laju reaksi obat atau sering dikenal dengan kinetika kimia. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan stabilitas suatu zat secara kinetika kimia antara lain adalah kecepatan reaksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi, tingkat reaksi dan cara penentuannya. Kecepatan reaksi adalah berkurangnya konsentrasi zat per satuan waktu. Kecepatan reaksi dapat digambarkan dengan persamaan :dC = Penurunan / menaiknya konsentrasi dalam interval waktu (t)- = Berkurangnya konsentrasi larutan += Bertambahnya konsentrasi produkReaksi : aA + bB P ( produk )Kecepatan reaksi : - = - = k (A)a (B)bJadi : = k. Cn = Kecepatan reaksi k=Tetapan laju reaksin = Tingkat reaksi C = Konsentrasi reaktan Tingkat reaksi merupakan fungsi dari konsentrasi reaktan dipangkatkan dengan bilangan tertentu. Contoh reaksi : aA + bB cC + dDTingkat reaksi untuk A adalah aTingkat reaksi untuk B adalah bTingkat reaksi total adalah a + b Tingkat reaksi = orde reaksi Tingkat reaksi suatu zat terdiri dari tingkat reaksi nol, tingkat reaksi satu, tingkat reaksi dua.IV. Cara Kerja 1. Pembuatan larutan asetosal Timbang 15 g Na.sitrat Buat larutan jenuh Na.sitrat dalam air hangat, dinginkan Timbang 12.5 g asetosal Larutkan dalam larutan jenuh Na.sitrat Tambahkan air suling ad 250 ml Masukkan 50 ml dalam 3 vial, tutup rapat Masukkan dlam oven 70oC selama 30 menit Setelah pemanasan 60 menit, ambil 1 vial. Tentukan konsentrasi asetosal (cara sama setelah pemanasan 120 menit dan 180 menit)2. Konsentrasi awal (Co) ditentukan dari larutan awal (tanpa pemansan)3. Penentuan konsentrasi asetosal Pipet 10 ml larutan Titrasi dengan larutan baku NaOH 0.1N + indikator pp Titrasi masing-masing triplo4. Tentukan tingkat reaksi peruraian asetosal dengan cara substitusi dan grafikV. Tabulasi Data I. Penimbangan KHPKHPW (mg)KHP I101,3KHP II103,4KHP III105,0II. Pembakuan NaOHPembakuanV titran (ml)I6II5,85III5,95III. Penentuan Co V asetosal yang di pipet (ml)V titran (ml)1014,301014,351014,60IV. Penentuan cx pada waktu tertentuSuhu (oC)Waktu (menit)45901357014,6015,8018,557014,6015,9018,507014,6515,8518,50V. Ct pada suhu 70oC tiap waktu Waktu (menit)Ct (mg/ml)4522,15389020,232113516,0734VI. Metode Substitusi Waktu (menit)Tetapan laju Rx (k)Orde 0Orde 1Orde 2456,9377 x 10-33,1111 x 10-41,3333 x 10-5900,02471,1637 x 10-35,44 x 10-51350,04742,48 x 10-31,3111 x 10-4SD0,02030,71225,9781 x 10-5VII. Metode Grafik Orde 0 TCt4522,15389020,232113516,0734r = - 0,9788Orde 1 TLn Ct453,0980903,00731352,7772r = - 0,9698Orde 2 T1/Ct450,0450900,04931350,0621r = 0,9611VI. Perhitungan1. Normalitas KHPW x be x 1 BM V1) N KHP1= 101,3 x 1 x 1 = 0,0496 N 204,2 102) NKHP2= 103,4 x 1 x 1 = 0,0506 N 204,2 103) NKHP3= 105,0 x 1 x 1 = 0,0514 N 204,2 102. Normalitas NaOH1) Mek NaOH = mek KHP(V x N) NaOH = (V x N) KHP6 x N NaOH = 10 x 0,0496N NaOH = 0,4960/6 = 0,0827 N2) Mek NaOH = mek KHP(V x N) NaOH = (V x N) KHP5,85 x N NaOH = 10 x 0,0506N NaOH = 0,506/5,85N NaOH = 0,0865 N3) Mek NaOH = mek KHP(V x N) NaOH = (V x N) KHP5,95 x N NaOH = 10 x 0,0514N NaOH = 0,514/5,95 = 0,0864 NN NaOH rata-rata: 0,0865 + 0,08642 = 0,1729 = 0,0865 N 23. Konsentrasi awal ( Co ) asetosal1) Mek NaOH = mek asetosal(V x N) NaOH = (V x N) asetosal14,30 x 0,0865 = 10 x N asetosalN asetosal = 0,1237 N2) Mek NaOH = mek asetosal(V x N) NaOH = (V x N) asetosal14,35 x 0,0865 = 10 x N asetosalN asetosal = 0,1241 N3) Mek NaOH = mek asetosal(V x N) NaOH = (V x N) asetosal14,60 x 0,0865 = 10 x N asetosalN asetosal = 0,1263 N1) Co 1= N asetosal x be x BM (180,16)= 0,1237 N x 1 x 180,16= 22,2858 mg/ml2) Co 2= N asetosal x be x BM (180,16)= 0,1241 N x 1 x 180,16= 22,3579 mg/ml3) Co 3= N asetosal x be x BM (180,16)= 0,1263 N x 1 x 180,16= 22,7542 mg/mlCo rata-rata= 22,2858 + 22,3579 + 22,7542 3 = 22,4660 mg/mlCt asetosal 700 dalam 45 menit1) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 14,60 x 0,0865N asetosal = 0,1263 N2) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 14,60 x 0,0865N asetosal = 0,1263 N3) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 14,65 x 0,0865N asetosal = 0,1267 N1) Ct= Co XX= ( N asetosal x be x BM) Co = (0,1263 x 1 x 180,16) 22,4660 mg/ml = 0,2882 mg/mlCt= 22,4660 0,2882 mg/ml = 22,1778 mg/ml2) Ct= Co XX= ( N asetosal x be x BM) Co = (0,1263 x 1 x 180,16) 22,4660 mg/ml = 0,2882 mg/mlCt= 22,4660 0,2882 mg/ml = 22,1778 mg/ml3) Ct= Co XX= ( N asetosal x be x BM) Co = (0,1267 x 1 x 180,16) 22,4660 mg/ml = 0,3603 mg/mlCt= 22,4660 0,3603 mg/ml = 22,1057 mg/mlCt rata-rata: 22,1778 + 22,1778 + 22,1057 = 66,4613 3 3= 22,1538 mg/mlCt asetosal 700 dalam 90 menit1) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 15,80 x 0,0865N asetosal = 0,1367 N2) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 15,90 x 0,0865N asetosal = 0,1375 N3) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 15,85 x 0,0865N asetosal = 0,1371 N1) Ct= Co XX= (N asetosal x be x BM) Co = (0,1367 x 1 x 180,16) 22,4660 = 2,1619 mg/mlCt= 22,4660 2,1619 mg/ml = 20,3041 mg/ml2) Ct= Co XX= (N asetosal x be x BM) Co = (0,1375 x 1 x 180,16) 22,4660 = 2,3060 mg/mlCt= 22,4660 2,3060mg/ml = 20,1600 mg/ml3) Ct= Co XX= (N asetosal x be x BM) Co = (0,1371 x 1 x 180,16) 22,4660 = 2,2339 mg/mlCt= 22,4660 2,2339 mg/ml = 20,2321 mg/mlCt rata-rata= 20,3041 + 20,1600 + 20,23213 = 20,2321 mg/mlCt asetosal 700 dalam 135 menit1) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 18,55 x 0,0865N asetosal = 0,1605 N2) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 18,50 x 0,0865N asetosal = 0,160025 N3) Mek asetosal = mek NaOH(V x N) asetosal = (V x N) NaOH10 x N asetosal = 18,50 x 0,0865N asetosal = 0,160025 N1) Ct= Co XX= ( N asetosal x be x BM) Co = (0,1605 x 1 x 180,16) 22,4660 = 6,4497 mg/mlCt= 22,4660 6,4497 = 16,0163 mg/ml2) Ct= Co XX= ( N asetosal x be x BM) Co = (0,160025 x 1 x 180,16) 22,4660 = 6,3641 mg/mlCt= 22,4660 6,3641 = 16,1019 mg/ml3) Ct= Co XX= ( N asetosal x be x BM) Co = (0,160025 x 1 x 180,16) 22,4660 = 6,3641 mg/mlCt= 22,4660 6,3641 = 16,1019 mg/mlCt rata-rata= 16,0163 + 16,1019 + 16,10193 = 16,0734 mg/mlPenentuan Orde Reaksi1. Metode substitusi 45 menit Orde 0 = K = Co Ct TK= 22,4660 22,1538 = 6,9377 x 10-3 mg/ml.menit45 Orde 1 = K = ln Co ln Ct 45= 3,1120 3,0980 = 3,1111 x 10-4 menit-1 45Orde 2 = K = 1 - 1 Ct Cot = 1 - 1 22,1538 22,466045= 0,0451 0,0445 = 1,3333 x 10-5 ml/mg.menit 4590 menit Orde 0= K= Co Ct t K= 22,4660 20,232190 = 0,0247 mg/ml.menitOrde 1= K= ln Co ln Ct t = ln 22,4660 ln 20,2321 90 = 1,1637 x 10-3 menit-1Orde 2= K= 1 - 1 Ct Co t= 1 - 1 20,2321 22,4660 90= 0,0493 0,0444 90= 5,44 x 10-5 ml/mg.menit135 menitOrde 0 = K = Co Ct tK = 22,4660 16,0734135K = 0,0474 mg/ml.menitOrde 1 = ln Co ln Ct tK = ln 22,4660 16,0734135K = 2,48 x 10-3 mg/ml.menitOrde 2 = K= 1 - 1Ct Co tK= 1 - 116,0734 22,4660 135 = 0,0622 0,0445 135 = 1,3111 x 10-4 ml/mg.menitRata-rata orde 0 = 0,0263 orde 1 = 3,9547 x 10-3 orde 2 = 6,6281 x 10-5kesimpulan metode substitusi : nilai orde yang paling mendekati nilai 0 adalah orde -22. Metode grafikOrde 045 menit, Ct= 22,153890 menit, Ct= 20,2321r= -0,9788135 menit, Ct= 16,0734Orde 145 menit, Ct= 3,0980 90 menit, Ct= 3,0073r= -0,9698135 menit, Ct= 2,7772Orde 245 menit, Ct= 22,153890 menit, Ct= 20,2321r= 0,9611135 menit, Ct= 16,0734Kesimpulan metode grafik :Nilai r yang paling mendekati nilai 1 adalah orde -0Berdasarkan metode grafik orde yang digunakan adalah orde 0VII. Pembahasan1. Semakin lama waktu pemanasan, maka kadar akhir asetosal semakin berkurang karena semakin banyak asetosal yang terurai menjadi asam asetat dan asam salisilat. 2. Jumlah NaOH yang diperlukan sebanding dengan jumlah asetosal yang terurai. 3. Orde reaksi dapat ditentukan dengan cara : a. Substitusi Untuk mencari orde reaksi dengan cara ini, didapatkan k yang paling konstan pada setiap waktu percobaan. Pada saat praktikum, didapatkan data k mendekati nol, yang memiliki SD yang paling kecil yaitu ada di orde 2b. Grafik Untuk mencari orde reaksi dengan cara ini, didapatkan r yang paling konstan pada setiap waktu percobaan. Pada saat praktikum, didapatkan data r mendekati 1, yang memiliki r yang paling kecil yaitu ada di orde 04. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kesalahan Menentukan titik akhir (TE) Menghitung konsentrasi zat yang diperiksa5. Karena asetosal merupakan larutan asam maka dititrasi dengan larutan basa, dalam hal ini menggunakan NaOH. VIII. Kesimpulan berdasarkan penentuan orde reaksi melalui 2 cara yakni substitusi dan grafik maka ditentukan orde reaksi asetosal adalah orde ke-0IX. Pustaka1. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan.1995.Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta.Departemen Kesehatan RI 2. Martiin,Alfred.1993.Farmasi Fisik edisi 3, jilid 2.Jakarta:UI3. Lachman L.HA.Lieherman,J.L Kaning. The Teory and Practice Industrial pharmacy,philadephia.1986