Laporan Resmi Praktikum Farmakologi Eksp

Download Laporan Resmi Praktikum Farmakologi Eksp

Post on 26-Jan-2016

222 views

Category:

Documents

9 download

DESCRIPTION

farmakologi

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM

LAPORAN RESMI PRAKTIKUMFARMAKOLOGI EKSPERIMENTAL IPENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORBSI OBAT

Nama Asisten:

1. Christine2. Yolanda

Dosen JagaDr.,Ika Puspita Sari, M.Si.,AptIrfan Muris Setiawan, M.Si.,Apt

Disusun oleh:Golongan IVKelompok IVKelas C

Nama NIMTTD1. Anita KurniawatiFA/093172. Annisafia Rizky DamaskhaFA/093203. PridiyantoFA/093234. Mercy ArizonaFA/09326

LABORATORIUM FARMAKOLOGI dan TOKSIKOLOGIBAGIAN FARMAKOLOGI dan FARMASI KLINIKFAKULTAS FARMASI UGMYOGYAKARTA2013

I. TUJUANMengenal, mempraktekan, dan membandingkan cara-cara pemberian obat terhadap kecepatan absorpsinya, menggunakan data farmakologi sebagai tolok ukurnya.

II. DASAR TEORISenyawa obat adalah zat kimia (sintetik/alami) selain makanan yang bertujuan untuk mempengaruhi fungsi tubuh, biokimiawi, psikologis dan khususnya untuk diagnosa, pengobatan, melunakkan, penyembuhan, atau pencegahan penyakit pada manusia atau hewan. Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan.Menurut PerMenKes 917/MenKes/Per/X/1993, obat (jadi) adalah senyawa atau padu-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi/menyelidiki secara fisiologis dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.Obat merupakan sediaan atau padu-paduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi/menyelidiki system fisiologis atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005)Obat yang diberikan pada pasien akan banyak mengalami proses sebelum tiba pada tempat tujuannya dalam tubuh , yaitu tempat kerjanya atau reseptor, obat harus mengalami beberapa proses. Obat yang masuk kedalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai ditempat kerja dan menimbulkan efek. Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak sekali proses dan umumnya ini didasari suatu rangkaian reaksi yang dibagi dalam tiga fase:1. Fase FarmasetikFase ini meliputi proses fabrikasi, pengaturan dosis, formulasi, bentuk sediaan, pemecahan bentuk sediaan dan terlarutnya obat aktif. Karena itu fase ini utamanya ditentukan oleh sifat-sifat galenik obat. Fase ini berperan dalam ketersediaan obat untuk diabsorpsi ke dalam tubuh (ketersediaan farmasetik).

2. Fase FarmakokinetikFase ini meliputi proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Fase ini berperan dalam menentukan ketersediaan obat dalam plasma (ketersediaan hayati) sehingga dapat menimbulkan efek. Fase ini termasuk bagian proses invasi dan eliminasi. Yang dimaksud dengan invasi adalah proses-proses yang berlangsung pada pengambilan suatu bahan obat dalam organisme, sedangkan eliminasi merupakan proses-proses yang menyebabkan penurunan konsentrasi obat dalam organisme.3. Fase FarmakodinamikFase terjadinya interaksi obat-reseptor dalam target aksi obat. Fase ini berperan dalam menentukan seberapa besar efek obat dalam tubuh.Suatu obat mungkin lebih efektif jika diberikan melalui salah satu cara pemberian, tetapi tidak atau kurang efektif melalui cara pemberian yang lain. Perbedaan ini salah satunya dapat disebabkan oleh adanya perbedaan kecepatan absorpsi dari berbagai cara pemberian tersebut. Konsekuensinya, efek farmakologi yang ditimbulkan juga berbeda untuk masing-masing pemberian.Obat dalam tubuh mengalami fase farmakokinetik, yaitu ADME (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Ekskresi).1. AbsorpsiAbsorpsi adalah proses perpindahan obat dari tempat pemberian/aplikasi menuju ke sirkulasi/peredaran darah yang selanjutnya mencapai target aksi obat. Hal ini menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Tapi secara klinik yang paling penting adalah bioavailibilitas. Istilah ini menyatakan jumlah obat dalam persen yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena obat-obat tertentu tidak semua diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus pada pemberian per oral atau dimetabolisme dihati pada first pass metabolism. Obat demikian memiliki bioavailibilitas rendah. Absorpsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:a. Sifat fisika-kimia obatb. Bentuk sediaan obatc. Dosis obatd. Rute dan cara pemberiane. Waktu kontak dengan permukaan absorpsif. Luas permukaan tempat absorpsig. Nilai PH cairan pada tempat absorpsih. Integritas membranei. Aliran darah pada tempat absorpsi Jumlah obat yang diabsorpsi dipengaruhi oleh:a. Luas permukaan absorpsiSemakin luas permukaan absorpsi, maka jumlah obat yang diabsorpsi semakin banyak dan semakin sempit permukaan absorpsi maka jumlah obat yang diabsorpsi semakin sedikit.b. Banyaknya membrane yang dilalui obatSemakin banyak membrane yang dilalui, maka obat yang diabsorpsi semakin sedikit. Sebaliknya, jika membrane yang dilalui sedikit maka obat yang diabsorpsi semakin banyak.c. Banyaknya obat yang terdegradasiSemakin banyak obat yang terdegradasi, maka obat yang diabsorpsi semakin sedikit, begitu pula sebaliknya.d. Jumlah ikatan depotBanyaknya ikatan depot obat dengan molekul tidak aktif (albumin, lemak, tulang) berpengaruh pada jumlah obat yang diabsorpsi, yaitu semakin banyak ikatan depot maka semakin sedikit jumlah obat yang diabsorpsi, begitu pula dengan sebaliknya. Mekanisme absorpsi obat dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu:a. Difusi pasifProses perpindahan molekul obat yang bersifat spontan, mengikuti gradient konsentrasi, dari konsentrasi tinggi (hipertonis) ke konsentrasi yang rendah (hipotonis), berbanding lurus dengan luas permukaan absorpsi, koefisien distribusi senyawa yang bersangkutan, dan koefisien difusi serta berbanding terbalik dengan tebal membrane.b. Transpor aktifMolekul ditranspor melawan gradient transportasi. Proses ini memerlukan adanya energi dan dapat dihambat oleh senyawa analog, secara kompetitif dan secara tak kompetitif oleh racun metabolisme.c. Difusi terfasilitasiMolekul hidrofil sulit untuk menembus merman yang komposisi luarnya adalah lipid, maka berikatan dengan suatu protein pembawa yang spesifik. Pembawa dan kompleks pembawa-substrat dapat bergerak bebas dalam membran, dengan demikian penetrasi zat yang ditransport melalui membrane sel lipofil kedalam bagian dalam sel dipermudah.

2. DistribusiSetelah obat diabsorpsi kedalam aliran darah, untuk mencapai tepat pada letak dari aksi harus melalui membrane sel yang kemudian dalam peredaran, kebanyakan obat-obatan didistribusikan melalui cairan badan. Distribusi merupakan transfer obat yang reversible antara letak jaringan dan plasma. Pola distribusi menggambarkan permainan dalam tubuh oleh beberapa factor yang berhubungan dengan permeabilitas, kelarutan dalam lipid dan ikatan pada makromolekul. Distribusi obat dibedakan menjadi dua fase berdasarkan penyebarannya dalam tubuh. Fase pertama terjadi segera setelah penyerapan yaitu kedalam organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya distribusi fase kedua jauh lebih luas, yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik jaringan diatas yang meliputi otot, visera, kulit dan jaringan lemak. Factor-faktor yang berhubungan dengan distribusi obat dalam badan adalah:a. Perfusi darah melalui jaringanb. Kadar gradient, PH, dan ikatan zat dengan makromolekulc. Partisi kedalam lemakd. Transport aktife. Sawarf. Ikatan obat dengan protein plasma

3. MetabolismeBiotransformasi atau metabolisme adalah proses perubahan struktur kimia obat didalam tubuh yang dikatalisis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi bentuk yang lebih polar atau lebih mudah larut didalam air dan sukar larut didalam lemak sehingga mudah diekskresi melalui ginjal. Selain intu pada umumnya obat diubah menjadi bentuk inaktif, sehingga proses biotransformasi menentukan dalam mengakhiri kerja obat.

4. EkskresiObat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi pada ginjal merupakan resultan dari tiga proses yaitu filtrasi diglomerulus, sekresi aktif di tubulus proximal dan reabsorpsi pasif di tubulus proximal dan distal. Ekskresi obat selain pada ginjal juga dapat terjadi melalui air liur, keringat, air mata, air susu dan rambut.

Obat dapat menimbulkan efek apabila terjadi interaksi atau kontak dengan obat terlebih dahulu. Kontak terjadi pada tempat dimana obat diberikan. Berikut ini ada beberapa cara pemberian obat berdasarkan ada tidaknya intervensi saluran pencernaan (melewati gastrointestinal)a. EnteralMerupakan cara pemberian obat melalui saluran pencernaan, umumnya obat ditujukan untuk efek secara sistemik. Contoh pemberian obat secara enteral yaitu:1. Per oral (p.o)Pemberian obat yang rutenya melalui saluran pencernaan dan pemberian melalui mulut. Cara ini merupakan cara pemberian obat yang paling umum karena mudah digunakan, relative aman, murah dan praktis (dapat dilakukan sendiri tanpa keahlian dan alat khusus). Kerugian dari pemberian obat secara peroral adalah efeknya lama, mengiritasi saluran pencernaan, absorpsi obat tidak teratur, tidak 100% obat diserap. Tidak diserapnya obat secara 100% dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: Jumlah makanan dalam lambung Kemungkinan obat dirusak oleh reaksi asam lambung atau enzim gastrointestinal, misalnya insulin yang harus diberikan secara peroral akan dirusak oleh enzim proteolitik dari saluran gastrointestinal. Pada keadaan pasien muntah-muntah sehingga obat tidak dapat diabsorpsi. Dikehendaki kerja awal yang cepat. Ketersediaan hayati yaitu persentase obat yang diabsorpsi tubuh dari suatu dosis yang diberikan dan tersedia untuk memberi efek terapeutik.Tujuan penggunaan obat melalui oral terutama untuk memperoleh efek sistemik, yaitu obat masuk melalui pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh setelah terjadi absorpsi obat dari bermacam-macam permukaan sepanjang saluran gastrointestinal. Tetapi ada obat yang memberi efek lokal dalam usus atau lambung karena obat yang tidak larut, misalnya obat yang digunakan untuk membunuh cacing dan antasida yang digunakan untuk menetralkan asam lambung.

2. SublingualMerupakan cara pemberian obat melalui mukosa mulut. Keuntungannya absorpsi lebih cepat daripada peroral, karena pada mukosa mulut banyak terdapat pembuluh darah. Namun cara pemberian ini tidak bisa digunakan untuk obat yang rasanya tidak enak sehingga jenis obat yang dapat diberikan secara sublingual sangat terbatas.3. Per rektalBiasanya cara pemberian ini dilakukan pada penderita muntah muntah, tidak sadar, dan pasien pasca bedah. Umumnya metabolisme lintas pertamanya sebesar 59%. Namun, cara pemberian melalui rektal dapat mengiritasi mukosa rektum, absorpsinya tidak sempurna, dan tidak teratur.

b. ParenteralCara pemberian ini tidak memasukkan obat ke dalam tubuh melalui saluran cerna. Pemberian obat secara intravaskuler termasuk ke dalam parenteral.

Berdasarkan ada tidaknya proses absorbsi, pemberian obat dibagi menjadi 2, yakni:1. IntravaskulerMerupakan cara pemberian obat yang pengaplikasiannya pada pembuluh darah, meliputi intra vena dan intra cardiac, intra arterial. Intravena tidak mengalami proses absorpsi karena semua obat masuk sirkulasi sistemik, bioavalibilitasnya 100% serta kadarnya akurat. Namun, efek toksik mudah terjadi dan tidak dapat ditarik kembali jika ada kesalahan dosis, serta perlu teknik medik khusus. Intra cardiac merupakan cara pemberian yang langsung dimasukkan ke dalam pembuluh darah cardiac.2. EkstravaskulerMerupakan pemberian obat yang aplikasinya di luar pembuluh darah. Ada 3 macam, yaitu:a. Intra muscular (i.m)Pemberian obat melalui suntikan dalam jaringan otot, umumnya pada otot pantat dan otot paha (gluteus maximus) di mana tidak terdapat banyak pembuluh darah dan saraf sehingga relative aman untuk digunakan. Obat dengan cara pemberian ini dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi.Kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsi. Obat yang sukar larut dalam air akan mengendap di tempat suntikan sehingga absorpsinya lambat atau terjadi tagositosis dari partikel obat. Contoh obat yang absorpsinya tidak sempurna adalah Ampicillin, Cephadrin, Chlordiazepodixide, Diazepam, Dicloxacilin, Digoksin, Pherylbutazone, Phenytoin, Quinine. Sebaliknya, obat yang larut dalam air akan diabsorpsi dengan cepat. Absorpsi biasanya berlangsung dalam waktu 10-30 menit. Namun, kecepatan absorpsi juga bergantung pada vaskularitas tempat suntikan dengan kecepatan peredaran darah antara 0,027-0,07 ml/menit. Molekul yang kecil langsung diabsorpsi ke dalam kapiler sedangkan molekul yang besar masuk ke sirkulasi melalui saluran getah bening. Absorpsi obat cara suntikan i.m pada pria lebih cepat daripada wanita karena pada wanita lebih banyak terdapat jaringan adipose. Keuntungannya: Keuntungan obat dalam gastrointestinal dapat dihindari Efek obat cepat Fleksibel dan accurable jika diberikan pada penderita yang mengalami collaps, shock, dan bagi yang sukar menelan. Kerugiannya: Lebih mahal Jika terjadi efek toksik sulit diatasi Perlu keahlian khusus dalam pemakaian obat Terdapat juga efek samping pemberian obat melalui i.m, yaitu: Nyeri Peningkatan kreatinfasfokinase dalam serum akibat dari trauma yang kadang-kadang menyebabkan nervus sciatica setelah pemberian intraglutalb. Subkutan (s.c)Pemberian obat melalui injeksi ke dalam jaringan di bawah kulit. Bentuk sediaan yang mungkin diberikan dengan cara ini antara lain larutan dan suspensi dalam volume lebih kecil dari 2 ml, misalnya insulin. Obat diabsorpsi secara lambat sehingga intensitas efek sistemik dapat diatur. Pemberian obat dengan cara ini dilakukan bila obat tidak diabsorpsi pada saluran pencernaan atau dibutuhkan kerja obat secara tepat, misalnya pada situasi akut. Pemberian subkutan hanya boleh digunakan untuk obat-obat yang tidak menyebabkan iritasi pada jaringan. Keuntungannya:i. Absorpsinya lambat dan diperpanjangii. Efek obat lebih teratur dan cepat disbanding per oraliii. Fleksibel bagi penderita yang collaps dan disorientasiiv. Berguna pada kondisi darurat Kerugiannya:i. Tidak boleh untuk obat-obat yang iritatif/dicampur dengan vasokonstriktor.ii. Variable absorpsi tergantung aliran darah

c. Intra peritoneal (i.p)Obat diinjeksikan pada rongga perut tanpa terkena usus atau terkena hati, karena dapat menyebabkan kematian. Di dalam rongga perut ini, obat diabsorpsi secara cepat karena pada mesentrium banyak mengandung pembuluh darah. Dengan demikian absorpsinya lebih cepat dibandingkan peroral dan intramuscular. Obat yang diberikan secara i.p akan diabsorpsi pada sirkulasi portal sehingga akan dimetabolisme di dalam hati sebelum mencapai sirkulasi sistem...