laporan ptk

Download Laporan Ptk

Post on 25-Jul-2015

265 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Bahasa Inggris adalah bahasa Internasional sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulis oleh manusia di seluruh dunia. Di negara kita Bahasa Inggris merupakan Bahasa Kedua yang direkomendasikan sebagai mata pelajaran dalam kurikulum di sekolah yang wajib dipelajari dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Namun walaupun para siswa sudah belajar bahasa Inggris dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, kemampuan siswa berbahasa Inggris masih sangat memprihatinkan. Ini disebabkan karena adanya beberapa faktor dan kendala yang dihadapi, Baradja (1994) menyatakan bahwa sedikitnya ada 6 faktor yang sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di negara kita dan bahasa Asing (foreign Language). Faktorfaktor tersebut adalah tujuan pembelajaran, siswa, guru, materi pembelajaran, metode dan lingkungan Faktor dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa misalnya kemampuan kognitif, minat, sikap ataupun kreativitas dari siswa dalam belajar bahasa Inggris yang mana siswa harus menguasai 4 ketrampilan/keahlian (skill) yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, diantaranya faktor pengelolaan pembelajaran, sarana prasarana, serta lingkungan atau iklim belajar di dalam kelas. Faktor pengelolaan pembelajaran meliputi banyak faktor lagi didalamnya, misalnya kemampuan (SDM) guru dalam mengelola pembelajaran yang meliputi

pendekatan, strategi, metode, teknik atau model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing keberhasilannya tidak sekadar bertumpu pada kurikulum, tetapi juga kepada model dan metode pembelajarannya, selain faktor yang terpenting adalah pengajarnya itu sendiri. Jika dilakukan pengkajian terhadap proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas, selama ini pembelajaran dominan masih menggunakan paradigma lama atau yang sering disebut teacher centered model (TCM) dimana guru sebagai peneliti1

sepenuhnya memberikan pengetahuan kepada siswa. Lebih sering siswa diajarkan dengan metode konvensional, yaitu metode ceramah, sehingga Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi monoton, membosankan dan kurang menarik perhatian siswa. Hal ini yang menjadi pendorong peneliti untuk mengadakan penelitian dan ingin menemukan tindakan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Untuk mengatasi kelemahan ini, pembelajaran bahasa Inggris hendaknya juga mengikuti model pembelajaran bahasa asing lainnya yang pada umumnya lebih maju berkembang daripada pembelajaran bahasa Inggris. Model terbaru yang biasa digunakan dalam pembelajaran adalah Student Centered Model (SCM) Dalam SCM guru lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator. Khusus untuk mata pelajaran bahasa asing, tip yang diberikan oleh Prof. Dr. Roy Sembel dan Sandra Sembel dengan judul Cara Cerdas Belajar Bahasa Asing, sepatutnya dijadikan acuan oleh guru bahasa. Menurutnya, bahasa bukan sekadar ilmu pengetahuan, tetapi lebih cenderung pada keterampilan. Bahasa Inggris sebagai sarana berkomunikasi lebih bersifat keterampilan daripada ilmu pengetahuan. Untuk itu, belajar bahasa Inggris dengan cara pandang seperti ini adalah belajar sebuah keterampilan. Belajar sebuah keterampilan memerlukan latihan fisik yang intensif dan benar. Seperti juga belajar piano, menyetir mobil, ataupun belajar karate, belajar bahasa juga memerlukan latihan yang rutin yang melibatkan aktivitas fisik. Untuk hasil yang efektif, latihan ini perlu dilakukan setiap hari. Latihan ini meliputi latihan pengucapan, latihan mendengar, latihan membaca, serta latihan menulis dengan menggunakan bahasa sasaran. Menurut riset di bidang neurolinguistik belajar bahasa perlu dilakukan dengan urutan yang benar, yaitu dari mendengar, berbicara, membaca, lalu menulis. Pastikan agar para murid mendapat input lisan dulu sebelum mereka melihat bagaimana kata-kata atau kalimat tersebut dituliskan. Jika mereka mendengar sambil melihat tulisannya, pengucapan mereka dalam bahasa Inggris tersebut akan cenderung terpengaruh dengan pola kebiasaan kita membaca kata-kata yang tertulis. Jadi, sebelum mereka melihat bagaimana bahasa Inggris itu ditulis, mulailah dengan mendengarkan bagaimana bahasa tersebut diucapkan. Gunakan berbagai alat bantu untuk membantu mereka memahami apa yang mereka dengar,2

misalnya kaitkan apa yang mereka dengar dengan gambar yang ada, atau bahasa tubuh dari si pembicara. Lalu, mintalah para murid menirukan tiap kalimat yang diucapkan. Setelah mereka bisa memahami input lisan, mereka perlu mencobanya sendiri untuk mengucapkannya. Selanjutnya, mereka boleh membaca/melihat bagaimana input tersebut dituliskan. Dan terakhir, mereka bisa mulai

mempraktikkan bagaimana menuliskan input tersebut. Namun pada kenyataannya walaupun kita sebagai guru sudah melaksanakan cara mengajar ke 4 ketrampilan bahasa dengan urutan yang benar tapi siswa tetap saja mengalami kesulitan dan kendala terutama pada ketrampilan menulis. Inilah yang menjadi problema atau masalah yang penulis hadapi ketika mengajar di kelas IX ruang 1 MTs Negeri Sampit. Selama satu semester di semester ganjil mengajar bagaimana menulis teks pada materi narative text baik dengan menulis kembali ceritanya dengan menggunakan kata-kata sendiri atau siswa tinggal melanjutkan saja tulisan yang sudah ditulis oleh guru satu paragraph pertama lalu siswa melanjutkan paragrap berikutnya dengan diberikan batas waktu tertentu, hasilnya tidak memuaskan bahkan hanya sekitar 7 dari 43 siswa yang bisa

menyelesaikannya itupun tidak menghasikan tulisan yang bagus juga. Lalu penulis mencoba menganalisa apa yang menjadi penyebabnya dari hasil tulisan siswa dan dengan melakukan tanya jawab dengan siswa apa kesulitan atau kendala yang dihadapi dengan ketrampilan menulis. Beberapa siswa menjawab kurangnya kosa kata, sulitnya memilih kata-kata, merangkai kalimat, sulit

mencurahkan/menuangkan gagasan dan ide-ide, tidak paham struktur kalimatnya dan lain-lain. Itulah masalah yang siswa hadapi ketika mereka disuruh untuk menulis sebuah teks. Seperti yang disampaikan oleh Karyawanto et al (2003 : 1) bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi siswa untuk menulis yaitu 1) kurangnya penguasaan struktur kalimat, 2) kurangnya pengetahuan tanda baca (punctuation), 3) kurangnya motivasi 4) metodologi pengajaran dan 5) media pembelajaran. a. Fakta di atas yang membuat peneliti untuk mencari jawaban dan

solusinya. Pertama dicoba menerapkan metode belajar dengan menggunakan media gambar Gambar tersebut adalah satu gambar wanita yang bernama Rapunsel. Siswa disuruh untuk menulis cerita berdasarkan gambar tersebut. Namun setelah siswa selesai menulis dan peneliti mengoreksi hasil kerja siswa, hasilnya masih sangat3

jauh dari tujuan yang hendak dicapai. Setelah dianalisa selain faktor-faktor yang disampaikan oleh Karyawanto, kendala dan kesulitan yang dihadapi siswa adalah kurangnya kosa kata yang dimiliki dan media gambar yang hanya satu gambar saja akan membuat siswa kesulitan untuk merangkai cerita dan meneruskan satu cerita ke cerita berikutnya. Kemudian peneliti masih terus penasaran dan mencoba untuk mencari model pembelajaran yang bisa diterapkan dalam ketrampilan menulis sehingga siswa bisa dengan mudah mengkomposisikan kalimat, mengekspresikan ide ide atau gagasan dan merangkai kata-kata/kalimat dalam sebuah tulisan. Selain itu peneliti ingin menciptakan suatu kegiatan pembelajaran di dalam kelas dengan situasi yang menyenangkan, siswa aktif, kreatif, dan siswa bisa bekerja dalam kelompok maupun mengerjakan tugas secara individu tanpa mengalami kesulitan. Untuk itu peneliti ingin mengatasi masalah yang terjadi dengan menerapkan dan menggunakan model pembelajaran picture and picture (gambar berseri) dalam penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam

menulis teks berbentuk narative pada siswa kelas IX ruang 1 MTs Negeri Sampit. Dipilihnya model pembelajaran picture and picture ini karena model pembelajaran ini merupakan suatu metode pembelajaran bahasa Inggris yang efektif dan menarik perhatian siswa untuk belajar menulis dengan menggunakan media gambar berseri yang berkaitan satu sama lain sehingga siswa dengan mengamati gambar-ganbar berseri tersebut akan dengan mudah menuangkan ide-ide, merangkai katakata/kalimat untuk menghubungkan satu cerita ke cerita berikutnya dalam sebuah tulisan yang berbentuk narative text. Selain itu guru akan bisa mengetahui kemampuan siswa dan melatih siswa untuk berpikir logis dan sistematis Adapun pelaksanaan pembelajarannya sebagai berikut (1) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai (2) Menyajikan materi sebagai pengantar (3) guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi dan memberikan contoh atau model (4) Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis (5)Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut dan yang dari alasan/urutan gambar tersebut (6) Guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai, (7) Kegiatan terakhir adalah memberikan tugas individu siswa untuk menulis teks atau cerita dengan

menggunakan kata-kata sendiri yang sesuai dengan urutan gambar berseri yang4

sudah diberikan dan sesuai dengan langkah retorika teks narative. Namun sebelumnya guru memberi atau menunjukkan contoh/model cara menulis teks berdasarkan urutan gambar berseri (picture and Picture) Kegiatan belajar mengajar bahasa Inggris pada ketrampilan menulis melalui model pembelajaran picture and picture ini lebih efektif, bervariatif, lebih

bermakna, menantang sekaligus menyenangkan dan dapat memotivasi siswa. Diharapkan melalui mo