Laporan Praktikum INDEKS GLIKEMIK

Download Laporan Praktikum INDEKS GLIKEMIK

Post on 27-Oct-2015

668 views

Category:

Documents

15 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

INDEKS GLIKEMIK PANGAN

TRANSCRIPT

<p>Laporan Praktikum 1</p> <p> Tanggal mulai : 11 September 2013</p> <p>M.K. Evaluasi Nilai Gizi</p> <p> Tanggal selesai: 18 September2013</p> <p>PENGUKURAN INDEKS GLIKEMIK</p> <p>Oleh:</p> <p>Kelompok 5Sri Zilla Arsyilah </p> <p>I14100135</p> <p>Rina Apriany Utami </p> <p>I14110027</p> <p>Natahsa Fredlina Ginting I14110051</p> <p>Regi Meiliani</p> <p>I14110076</p> <p>Adhe Fadillah Putri </p> <p>I14110105Asisten Praktikum:Novi Rizki RamadhiniIlyatun NiswahPenanggung Jawab Praktikum:</p> <p>Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS</p> <p>DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT</p> <p>FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA</p> <p>INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013</p> <p>PENDAHULUANLatar Belakang</p> <p>Setiap bahan pangan memiliki zat gizi dan karakteristik yang berbeda-beda berdasarkan jenis dan kuantitasnya. Karbohidrat merupakan salah satu zat gizi yang sering ditemukan dalam bahan pangan yang memiliki kandungan energi. Energi sangat diperlukan bagi tubuh manusia dalam melakukan berbagai aktivitas. Energi erat kaitannya dengan kadar glukosa darah dalam tubuh seseorang. Jika kadar glukosa darah seseorang berlebih maka akan disimpan sebagai cadangan energi dalam jaringan lemak. Jika kadar glukosa darah seseorang diatas kategori normal maka berpotensi timbulnya beberapa penyakit degeneratif seperti penyakit diabetes melitus yang sangat peka terhadap respon asupan glukosa makanan. Perlu adanya pengaturan makanan agar kadar glukosa dalam darah terjaga kestabilannya. Salah satu cara tindakan preventifnya yaitu dengan memperhatikan konsumsi bahan pangan berdasarkan indeks glikemik.</p> <p>Indeks glikemik adalah angka yang menunjukkan potensi peningkatan glukosa darah dari karbohidrat yang tersedia pada suatu pangan atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai tingkatan atau rangking pangan menurut efeknya terhadap kadar glukosa darah. Pangan dengan jenis yang sama dapat memiliki IG yang berbeda apabila diolah atau dimasak dengan cara yang berbeda (Wolever 2006). Hal ini dikarenakan proses pengolahan dapat menyebabkan perubahan pada struktur dan komposisi zat gizi penyusun pangan, sehingga akan mempengaruhi daya cerna zat gizi yang terdapat pada pangan. Beberapa faktor yang mempengaruhi IG pangan adalah cara pengolahan (tingkat gelatinisasi pati dan ukuran partikel), rasio amilosa-amilopektin, tingkat keasaman dan daya osmotik, kadar serat, kadar lemak dan protein, serta kadar anti-zat gizi pangan. Oleh karena itu uji indeks glikemik pada bahan pangan perlu dilakukan guna memperoleh informasi bahan makanan yang sesuai pada kondisi tubuh seseorang untuk memaksimalkan derajat tingkat kesehatan individu.Tujuan</p> <p>Praktikum pengukuran indeks glikemik ini bertujuan untuk mengukur indeks glikemik dari beberapa jenis bahan pangan yang akan diujikan.TINJAUAN PUSTAKAIndeks Glikemik</p> <p>Indeks glikemik pangan adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap kadar glukosa darah. Pangan yang menaikkan gula darah dengan cepat, memiliki indeks glikemik tinggi, sebaliknya pangan yang menaikkan gula darah dengan lambat, memiliki indeks glikemik rendah. Indeks glikemik pangan menggunakan indeks glikemik glukosa murni sebagai pembandingnya (IG glukosa murni adalah 100) (Rimbawan &amp; Siagian 2005). Indeks glikemik juga dapat didefinisikan sebagai rasio antara luas kurva respon glukosa makanan yang mengandung karbohidrat total setara 50 gram gula terhadap luas kurva respon glukosa setelah makan 50 gram glukosa, pada hari yang berbeda dan pada orang yang sama (Lutfika 2006).</p> <p>Konsep IG menjelaskan bahwa tidak setiap karbohidrat bekerja dengan cara yang sama. Pangan IG rendah akan dicerna dan diubah menjadi glukosa secara bertahap dan perlahan-lahan, sehingga puncak kadar gula darah juga akan rendah. Berarti fluktuasi peningkatan kadar gula relatif pendek. Pangan IG tinggi akan dicerna dan diubah menjadi glukosa dengan cepat sehingga kadar gula darah cepat meningkat namun dalam waktu tertentu akan kembali menurun. Pangan IG rendah membantu orang untuk mengendalikan rasa lapar, selera makan dan kadar gula darah. Indeks glikemik berguna untuk menentukan respon glukosa darah terhadap jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Indeks glikemik bahan makanan berbeda-beda tergantung pada fisiologi, bukan pada kandungan bahan makanan (Widowati 2010)</p> <p>IG adalah sifat pangan yang unik, dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga IG pangan yang satu berbeda dengan pangan lainnya. Bahkan pangan yang sama bila diolah dengan cara berbeda, dapat memiliki IG berbeda (Widowati 2010). Para ahli telah mempelajari faktor-faktor penyebab perbedaan IG antara pangan yang satu dengan lain. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi indeks glikemik pada pangan antara lain: cara pengolahan (tingkat gelatinisasi pati dan ukuran partikel), perbandingan amilosa dengan amilopektin, tingkat keasaman dan daya osmotik, kadar serat, kadar lemak dan protein, pati resisten, serta kadar anti-gizi pangan (Rimbawan &amp; Siagian 2005).</p> <p>Metode Perhitungan Indeks Glikemik</p> <p>Perhitungan indeks glikemik dilakukan dengan menggunakan pangan acuan dan pangan standar, dimana membandingkan luasan kurva kadar gula darah terhadap waktu sampel dengan standar yaitu glukosa. Glukosa digunakan sebagai standar karena glukosa merupakan karbohidrat yang diserap oleh tubuh. Jumlah glukosa yang harus dikonsumsi yaitu 50 gram. Terlebih dahulu panelis dipuasakan sebelum diambil darahnya bertujuan untuk membiarkan kadar gula darah normal kembali sehingga pada saat menganalisis tidak ada pengaruh dari karbohidrat lainnya (Marsono 2002).</p> <p>Pengukuran Indeks Glikemik menggunakan pangan acuan dan pangan standar. Prosedur penentuan IG pangan dilakukan dengan prosedur baku (Milleret.al1997). Selama pengukuran IG subyek berada dalam keadaan sntai atau aktivitas ringan. Kenaikan kadar glukosa darah tidak semata ditentukan oleh IG tetapi juga oleh jumlah karbohidrat yang dikonsumsi (beban glikemik/glycemic load). Persyaratan bagi pembentukan klaim indeks glikemik pangan ialah: pangan mengandung karbohidrat sekurang-kurangnya 40 gram per saji dan jenis karbohidrat tidak termasuk serat pangan. Subjek penelitian sekurang-kurangnya 8-10 orang subjek (Direktur Standarisasi Produk Pangan 2012)</p> <p>Menurut Milleret.al(1997) masih belum ada kesepakatan tentang metode terbaik untuk menghitung luas di bawah kurva respon glukosa darah (AUC). Sejumlah metode yang berbeda telah digunakan untuk menentukan AUC, tetapi FAO/WHO (1998) menyatakan bahwa metode yang paling sering digunakan melibatkan perhitungan geometris dengan menerapkan aturan trapesium (trapezoid) (FAO/WHO 1998; Gibson 2010). Sebelum menstandarisasi metodologi yang disajikan dalam FAO/WHO Expert Consultation Report on Carbohydrates in Human Nutrition (1998), kelompok yang berbeda menggunakan teknik yang berbeda untuk menghitung daerah di bawah kurva respon glukosa. Untuk menghindari masalah ini banyak tabel internasional yang telah menyediakan faktor konversi atau menunjukkan perbedaan metode yang digunakan (Gibson 2010)Pangan Uji (GP)</p> <p>Pada kemasan pangan uji GP tertera bahwa komposisi bahan pangan uji GP terdiri dari tepung terigu, kentang asli, gula, minyak nabati, perisa kentang, susu bubuk, garam, glukosa, pengembang amonium bikarbonat, pengembang natrium bikarbonat, pengemulsi (lesitin kedelai), monosodium glutamat, enzim protease, dan pewarna makanan tartrazine CI 19140. Selain komposisi bahan pangan, dicantumkan juga informasi nilai gizi (Nutrition Fact) pangan pada kemasan. Satu takaran saji pangan uji GP sebesar 13 gram. Setiap satu takaran saji mengandung karbohidrat sebesar 3 gram, serat sebesar 0 gram, protein sebesar 1 gram, dan lemak sebesar 3 gram. Pangan uji GP berbahan dasar kentang dan diolah menjadi keripik kentang. Indeks glikemik dari keripik kentang adalah 54 (Powell 2002).</p> <p>Pangan Uji (CC)</p> <p>Pada kemasan pangan uji CC tertera bahwa komposisi bahan pangan uji CC terdiri dari tepung terigu, minyak nabati, susu bubuk, ekstrak malt, ragi, garam, natrium bikarbonat, dan vitamin. Selain komposisi bahan pangan, dincantumkan juga informasi nilai gizi (Nutrition Fact) pangan pada kemasan. Satu takaran saji pangan uji CC sebesar 30 gram. Setiap satu takaran saji mengandung karbohidrat sebesar 21 gram, serat sebesar 0 gram, protein sebesar 3 gram, dan lemak sebesar 5 gram. Indeks glikemik cream crackcers adalah 65 (Powell 2002).Pangan Uji (SG)</p> <p>Pada kemasan pangan uji SG tertera bahwa komposisi bahan pangan uji SG terdiri dari tepung gandum, minyak nabati (mengandung antioksidan BHA), gula tapioka, sirup glukosa, susu rendah lemak, kelapa, garam, bahan pengembang, ekstrak malt, pengemulsi lesitin kedelai, perisa artifisial, dan premiks vitamin (B1, B2, B6, B12). Selain komposisi bahan pangan, dicantumkan juga informasi nilai gizi (Nutrition Fact) pangan pada kemasan. Satu takaran saji pangan uji SG sebesar 19,5 gram. Setiap satu takaran saji mengandung karbohidrat sebesar 13 gram, serat sebesar 0 gram, protein sebesar 2 gram, dan lemak sebesar 4 gram. Pangan uji SG diolah dari gandum menjadi biskuit gandung. Indeks glikemik gandum adalah 41 dan indeks glikemik biskuit gandum adalah 68 (Powell 2002).</p> <p>Pangan Uji (OB)Pada kemasan pangan uji OB tertera bahwa komposisi bahan pangan uji OB terdiri dari tepung terigu, oat, gula, minyak nabati (mengandung antioksidan), kismis, glukosa, bubuk whey, bahan pengembang (natrium bikarbonat, amonium bikarbonat), kalsium, garam, pengemulsi lesitin kedelai, perisa vanila, dan pewarna makanan tartazin C.I 19140. Selain komposisi bahan pangan, dincantumkan juga informasi nilai gizi (Nutrition Fact) pangan pada kemasan. Satu takaran saji pangan uji OB sebesar 16,5 gram. Setiap satu takaran saji mengandung karbohidrat sebesar 12 gram, serat sebesar 1 gram, protein sebesar 1 gram, dan lemak sebesar 2,5 gram. Indeks glikemik biskuit oat 57 (Powell 2002).METODOLOGIWaktu dan Tempat</p> <p>Praktikum pengukuran indeks glikemik bahan pangan dilaksanakan pada tanggal 11 September 2013, pukul 9:00-12:00 WIB di laboratorium Evaluasi Nilai Gizi lantai 2, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.Alat dan Bahan</p> <p>Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah glukometer One Touch Glucose Blood System dan program pengolahan data Microsoft Excel for Windows. Bahan-bahan yang digunakan adalah strip analisis glukosa, lancet, kapas swab, sampel darah, glukosa, nasi, serta jagung.Prosedur Kerja</p> <p>Prosedur kerja pengukuran indeks glikemik pangan dilakukan dalam dua tahapan yang meliputi persiapan sebelum pengambilan darah dan pengukuran kadar glukosa plasma darah yang ditampilkan dalam diagram alir berikutPersiapan Sebelum Pengambilan DarahDipilih subjek dengan kriteria IMT normal dan tidak memiliki riwayat degeneratif</p> <p>Dipuasakan subjek selama 10 jam sebelum pengambilan darah</p> <p>Dipastikan suhu ruangan dalam keadaan sejuk</p> <p>Diharuskan subjek dalam kondisi relaks selama 5 menit sebelum pengambilan darah</p> <p>Disarankan menggunakan jari tengah atau jari yang tidak terasa dingin</p> <p>Disarankan posisi lengan subjek menggantung rileks ke samping</p> <p>Dibuka strip glukosa dari kemasan dan dipasangkan pada glukometer</p> <p>Digunakan lancet sekali pakai yang dipasangkan pada pen lancetGambar 1 Prosedur percobaan persiapan sebelum pengambilan darahPengukuran Kadar Glukosa Plasma DarahDiambil darah subjek sebelum intervensi untuk data menit ke-0</p> <p>Diberikan intervensi pangan uji kepada tiap subjek yang harus dihabiskan dalam 10 menit</p> <p>Diambil darah pada menit ke 15, 30, 45, 60, 90, dan 120 pasca intervensiGambar 2 Prosedur percobaan pengukruan kadar glukosa plasma darahHASIL DAN PEMBAHASANHasil dari praktikum yang telah diujikan dengan berbagai sampel memberikan hasil yang fluktuatif. Hal tersebut disebabkan karena berbagai faktor seperti waktu saat mengonsumsi sampel yang tidak tepat atau teratur. Sehingga hasil yang diberikan akan memberi data yang beragam. Berikut adalah hasil uji indeks glukosa pada sampel dengan beberapa metode.Tabel 1 Hasil perhitungan indeks glikemik pangan ujiNoPanganIG</p> <p>TrapezoidLuas BangunPolynomial</p> <p>1GP77.8946.22121.3</p> <p>2CC60.179.0383.28</p> <p>3SG100.29129.1195.97</p> <p>4OB58.1435.2729.83</p> <p>Hasil dari pengujian indeks glikemik pada sampel memberikan hasil yang beragam pada setiap metode perhitungan yang digunakan. Namun dapat ditarik kesimpulan pangan yang memiliki indeks glikemik paling tinggi adalah SG pada setiap metode yang digunakan sedangkan pangan yang memiliki indeks glikemik terendah adalah OB. Meskipun nilai yang diberikan berbeda-beda pada setiap metodenya namun kategori jenis pangan yang memiliki IG rendah atau tinggi sama. Nilai indeks gikemik dapat menjadi indikasi keterkaitan respon glukosa darah setelah mengonsumsi pangan tersebut. Semakin tinggi indeks glikemik yang dimiliki oleh suatu pangan maka akan semakin cepat pula respon gula darah untuk meningkat dan diabsorbsi oleh sel. Namun jika indeks glikemik dari suatu pangan itu rendah maka akan semakin lama pangan itu memberi efek pada peningkatan gula darah. Kategori tinggi atau rendah nyaa suatu pangan dapat digolongkan menjadi pangan indeks glikemik tinggi (&gt;70), pangan indeks glikemik sedang (50-70), dan pangan indeks glikemik rendah (</p>