Laporan Praktikum Farmakologi Morfin

Download Laporan Praktikum Farmakologi Morfin

Post on 16-Dec-2015

34 views

Category:

Documents

0 download

DESCRIPTION

laporan praktikum farmako

TRANSCRIPT

<p>LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGIMORFIN</p> <p>Kelompok C-7Bernadina Novindra Surat Lewowerang 102011303Maria Sunvratys 102011313Satrio Adiras Putra 102011323Gita Puspitasari 102011327Christopher 102011333Daniel Hosea102011358Dilianty AnugerahMana 102011366Olivia Christy Kaihatu 102011370Stefanus Jonathan102011376</p> <p>Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 Telp.021-569 42061 Fax 021-563 1731</p> <p>A. Latar BelakangDalam blok neuroscience, untuk ilmu farmakologi mahasiswa akan belajar mengenai obta-obat yang dipakai untuk penyakit saraf dan jiwa, serta penyalahgunaan obat (drug abuse). Masalah drug abuse merupakan masalah besar bagi generasi usia remaja dan kematian akibat over dosis (OD) kian bertambah tiap tahunnya. Untuk itulah dipilih praktikum mengenai morfin yang metodenya telah dikenal melalui praktikum selama ini. Dalam praktikum ini digunakan hewan kelinci sebagai hewan coba yang memperlihatkan efek morfin paling mirip pada manusia, memperlihatkan efek depresi nafas yang dapat timbul pada kelebihan dosis morfin (OD), serta pemberian antidotum yang dapat segera mengatasi depresi nafas tersebut. Juga akan memperlihatkan efek yang berlainan pada berbagai spesies (species difference), antara lain kucing, tikus dan mencit. Sebelum melaksanakan praktikum ini mahasiswa harus menguasai teori tentang morfin, reseptor-reseptornya, efek farmakologinya, indikasinya, sifat agonis, agonis partial, antagonis partial dan antagonis murni. </p> <p>B. Sasaran belajar 1. Melihat efek morfin, terutama depresi nafas, miosis dan gejala lain yang terjadi pada over dosis ( OD ) pada manusia, yang diperlihatkan pada kelinci. 2. Memperlihatkan efek species difference akibat morfin pada berbagai hewan coba. 3. Memperlihatkan efek antidotum pada keracunan/ over dosis morfin. 4. Melatih mahasiswa menghitung dosis yyang tepat yang akan diberi pada masing- masing hewan coba dan memberi suntikan yang tepat sesuai petunjuk. C. Persiapan1. Hewan coba : kelinci, tikus putih, mencit dan kucing. 2. Obat-obatan: larutan morfin 4%, kafein benzoate 4%, dan larutan nalokson. 3. Alat-alat : timbangan hewan coba, baskom plastic, penggaris, semprit, dan kandang hewan. 4. Dosis larutan morfin 4% yang akan diberikan pada hewan coba : Kucing : 20mg/kgbb Kelinci : 0,5 ml/kgbb Tikus : 40-60mg/kgbb Mencit : 40 mg/kgbb Nalokson : untuk kelinci 0,01 mg/kgbb (=0,2ml ) 5. Cara perhitungan dosis yang akan disuntikkan : Misalnya : BB mencit = X gram X/1000 x 40 mg = Y mg Larutan 40% ialah 40 mg/1 ml Yang akan disuntikkan = Y/40 x 1 = Z mlD. Tatalaksana1. Efek overdosis morfin dan antidoktumnya\Untuk memperlihatkan efek morfin pada manusia seperti sedasi, lemas, dan miosis terutama gejala overdosis (OD) morfin dimana terjadi trias intoksikasi akut : depresi nafas, miosis hebat dan koma, maka observasi pada kelinci paling tepat menggambarkan hal tersebut.A. Kelinci1. Ambillah seekor kelinci, perlakukan hewan coba dengan baik dan tidak kasar.2. Timbanglah kelinci anda dengan timbangan hewan coba dengan akurat dan catat.3. Lakukan observasi parameter dasar: sikap kelinci, reflex otot, diameter pupil kanan dan kiri, hitung frekuensi pernafasan dan denyut jantung, kelakukan kelinci. Sikap kelinci : biasanya lincah, jalan-jalan di meja laboratorium Refleks otot: tariklah (jangan terlalu keras) tungkai kaki depannnya, normal biasanya ada tahanan Diameter pupil diukur dalam kondisi cahaya yang constant Frekuensi nafas dapat dihitung dengan meraba dada kelinci atau dengan menghitung kembang-kempinya cuping hidungnnya.Karena frekuensi nafas kelinci cepat maka hitunglah menit kemudian kalikan 4 Denyut jantung dihitung dengan meraba bagian dada bawah tubuh kelinci.4. Setelah seluruh parameter dasar selesai, hitunglah berapa ml, larutan morfin yang akan disuntik pada kelinci dengan cara perhitungan diatas.5. Mintalah pada instruktur larutan morfin 4% yang akan disuntik, dalam semprit yang telah disediakan.6. Lakukan tindakan asepsis, dengan mengosok tempat suntikan dengan larutan alcohol 70%.7. Suntikan larutan morfin 4% yang sesuai dengan perhitungan untuk kelinci anda secara subkutan di daerah subscapula.Pastikan seluruh cairan morfin tadi masuk ke dalam tubuh kelinci dan tidak ada yang tercecer keluar.8. Biarakan kelinci tetap diatas meja laboratorium, dan lakukan observasi seluruh parameter tiap 5 menit.9. Bila frekuensi pernafasan telah 20X/menit, laporkan pada instruktur dan mintalah larutan kafien benzoate 0,5ml dan suntikan secara subkutan pada daerah subscapula.10. Bila frekuensi pernafasan tetap turun sampai kurang dari 15X/menit, laporkan pada instruktur agar disuntikan nalorfin 0,2ml pada vena marginalis kelinci.11. Perhatikan pada saat terjadi overdosis pada kelinci yang ditandai dengan : depresi pernafasan, miosis, dan sikap kelinci menjadi cemas, tonus otot sangat menurun, maka beberapa detik setelah penyuntikan nalorfin, maka kelinci akan pulih seperti semula; aktif, tonus otot baik, frekuensi nafas normal.</p> <p>2. Efek spesies difference morfinSelanjutnya untuk memperlihatkan adanya spesies difference pada morfin, kita menggunakan beberapa hewan coba yang akan memperlihatkan efek yang berlawanan dari kelinci yang mengalami depresi, beberapa jenis binatang seperti kucing, kuda, mencit dan tikus akan mengalami efek eksitasi.Efek muntah oleh morfin yang disebabkan rangsangan pada medulla oblongata dapat diperhatikan pada anjing, namun sudah tidak dilakukan lagi karena anjing tersebut akan sangat menderita.A. Tikus1. Ambil dan timbanglah berat badan tikus putih dan taruh dalam baskom plastic.2. Hitunglah dosis larutan morfin 4% yang akan diberikan sesuai berat badan tikus dengan menggunakan rumus perhitungan diatas.3. Laporkan hasil perhitungan dosis anda pada instruktur dan ambil larutan morfin 4% dalam semprit dengan jumlah yang tepat.4. Lakukan tindakan asepsis pada suntikan.5. Peganglah kuduk tikus dengan hati-hati, suntikan larutan morfin secara subkutan di daerah interskapula.Lakukan dengan baik sehingga seluruh larutan dalam semprit masuk ke dalam tubuh tikus dan tidak tercecer keluar.6. Biarkan tikus tetap dalam baskom plastic dan lakukan observasi sampai timbul sikap katatonik, tikus akan tetap bertahan pada sikap yang diberikan oleh anda, misalnya sikap duduk.Sikap katatonik disebabkan karena kekakuan otot tubuh tikus. B. Mencit1. Ambil dan timbanglah seekor mencit dengan menggunakan timbangan surat.2. Hitung dosis larutan morfin 4% seperti rumus diatas.3. Laporkan perhitungan dosis anda apada instructor dan mintalah larutan morfin 4% sebanyak dosis yang harus disuntikan 4. Lakukan tindakan asepsis pada daerah yang akan disuntik.5. Peganglah kuduk mencit dengan halus, suntikan larutan morfin secara subkutan pada daerah interskapula, perhatikan jangan sampai ada larutan morfin yang tidak masuk ke dalam tubuh tikus.6. Letakkan mencit dalam baskom plastic dan lakukan observasi sampai timbul efek rangsangan otot diafragma pelvis dan sfingter ani, yang akan terlihat sebagai efek Straub, yaitu ekor mencit menjadi tegang dan terangkat membentuk huruf S atau lurus ke atas.C. Kucing1. Hanya dilakukan dalam bentuk demonstrasi.2. Ambil dan timbang kucing.3. Hitung dosis larutan morfin yang harus diberikan.4. Lakuakan tindakan asepsis pada daerah yang akan disuntik.5. Suntikan larutan morfin 4% sesuai perhitungan dosis secara subkutan pada daerah interskapula.6. Masukan kucing ke dalam kandang dan lakukan observasi sampai terjadi efek eksitasi dimana kucing akan terlihat liar, pupilnya midriasis, keluar saliva dan gelisah.Lakukan obervasi dengan teliti dan catat hasilnya dengan tepat, dan bandingkan data anda dengan data dari kelompok lain.</p> <p>E. Dasar teori A. Morfin Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium. Opium yang berasal dari getah Papaver somniferum mengandung sekitar 20 jenis alkaloid diantaranya morfin, kodein, tebain dan papaverin. Opium atau candu adalah getah Papaver somniferum L yang telah dikeringkan. Alkaloid secara kimia dibagi dalam dua golongan :Golongan fenantren : Morfin dan kodeinGolongan benzilisokinolin : Noskapin dan papaverinFarmakodinamik Efek morfin pada susunan saraf pusat dan usus terutama ditimbulkan karena morfin bekerja sebagai agonis pada reseptor . Selain itu morfin juga mempunyai afinitas yang lebih lemah terhadap reseptor dan . 1. Susunan saraf pusat Narkosis Efek orfin terhadap SSP berupa analgesia dan narkosis. Analgesia oleh morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum pasien tidur seringkali analgesia terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosisi kecil (5-10mg) menimbulkan euforia pada pasien yang menderita nyeri, sedih dan gelisah. Sebaliknya pada orang normal pada dosis yang sama menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir, atau takut disertai mual dan muntah. Morfin juga menimbulkan rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berpikir, apatis, aktivitas motorik berkurang, ketajaman penglihtan berkurang, badan terasa panas, muka gatal, mulut terasa kering. Dosis terapi (15-20mg) morfin akan menyebabkan orang tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas lambat dan miosis. AnalgesiaEfek analgesia yang ditimbulkan dari opioid akibat kerja opioid pada reseptor . Reseptor dan dapat juga ikut berperan dalam menimbulkan analgesia terutama pada tingkat spinal. EksitasiMorfin dan opioid sering menimbulkan mual dan muntah, sedangkan delirium dan konvulsi lebih jarang timbul. Faktor yang dapat mengubah eksitasi morfin adalah idiosinkrasi dan tingkat eksitasi refleks (reflex excitatoty level) SSP. Pada wanita mengalami eksitasi oleh morfin, misalnya mual dan muntah yang mendahului depresi tetapi depresi dan delirium jarang timbul. Pada beberapa spesie efek eksitasi morfin jauh lebih jelas misalnya pada kucing dapat menimbulkan mania, midriasis, hipersalivasi dan hipertermia, konvulsi tonik, dan klonik yang dapat menimbulkan kematian. MiosisMorfin dan kebanyakan agonis opioid yang bekerja pada reseptor dan menyebabkan miosis. Miosis disebabkan oleh perangsangan pada segmen otonom inti saraf okulomotor. Miosis dapat dilawan oleh atropin dan skolopamin. Pada intoksikasi morfin, pin point pupil merupakan gejala yang khas. Morfin dalam dosis terapi mempertinggi daya akomodasi dan menurunkan tekanan intraokuler, baik pada orang normal maupun pasien glaucoma. Depresi napas Morfin menimbulkan depresi napas secara primer dan efek langsung terhadap pusat napas di batang otak. Pada dosis kecil sudah langsung menimbulkan depresi napas tanpa menyebabkan tidur atau kehilangan kesadaran. Mual dan muntahEfek emetik morfin terjadi berdasarkan stimulasi langsung pada emetic chemoreceptor trigger zone (CTZ) di area postrema medulla oblongata, bukan di stimulasi pusat emetic sendiri. Efek mual dan muntah akibat morfin diperkuat oleh stimulasi vestibuler, sebaliknya analgetik opioid sintetik meningkatkan sensitivitas vestibuler. </p> <p>2. Saluran cerna Morfin berefek langsung pada saluran cerna. Bukan melalui efeknya pada SSP. LambungMorfin menghambat sekresi HCI, tetapi efek ini lemah. Selanjutnya morfin menyebabkan pergerakan lambung berkurang, tonus bagian antrum meninggi dan motilitasnya berkurang sedangkan sfingter pilorus berkontraksi. Akibatnya pergerakan isi lambung ke duodenum diperlambat. Perlambatan ini disebabkan juga oleh peninggian tonus duodenum. Pemotongan saraf ekstrinsik lambung tidak mempengaruhi efek terhadap lambung ini. Pada manusia peninggian tonus otot polos lambung oleh morfin sedikit diperkecil oleh atropin. Usus HalusMorfin mengurangi sekresi empedu dan pankreas, dan memperlambat pencernaar makanan di usus halus. Pada manusia, morfin mengurangi kontraksi propulsif, meninggikan tonus dan spasme periodik usus halus. Efek morfin ini lebih jelas terlihat pada duodenum. Penerusan isi usus yang lambat disertai sempurnanya absorps air menyebabkan isi usus menjadi lebih pada: Tonus valvula ileosekalis juga meninggi. Atropin dosis besar tidak lengkap melawan efek morfin ini. Usus besarMorfin mengurangi atau menghilangkan gerakan propulsi usus besar, meninggikan tonus jan meyebabkan spasme usus besar; akibatnya penerusan isi kolon diperlambat dan tinja menjadi ebih keras. Daya persepsi korteks telah dipengaruhi morfin sehingga pasien tidak merasakan kebutuhan untuk defekasi. Walaupun tidak lengkap efek morfin pada kolon dapat diantagonis oleh stropin. Efek konstipasi kodein lebih lemah daripada morfin. Pecandu opioid terus menerus menderita periode konstipasi dan diare secara bergantian. Duktus KoledokusDosis terapi morfin, kodein: nidromorfinon dan metilhidromorfinon menimbulkan peninggian tekanan dalam duktus koledokus; zan efek ini dapat menetap selama 2 jam atau ebih. Keadaan ini sering disertai perasaan tidak enak di epigastrium sampai gejala kolik berat. Menghilangnya nyeri setelah pemberian morfin cada pasien kolik empedu disebabkan oleh efek sentral morfin, namun pada beberapa pasien justru mengalami eksaserbasi nyeri. Pada pemeriksaan radiografis terlihat konstriksi sfingter Oddi. Atropin menghilangkan sebagian spasme ini. Pemberian nalorfin, amilniltrit secara inhalasi, nitrogliserin sublingual dan aminofilin IV akan meniadakan spasme saluran empedu oleh morfin.3. Sistem kardiovaskular Pemberian morfin dosis terapi tidak mempengaruhi tekanan darah, frekuensi maupun irama denyut jantung. Perubahan yang terjadi adalah akibat efek depresi pada pusat vagus dan pusat vasomotor yang baru terjadi pada dosis toksik. Tekanan darah turun akibat hipoksia pada stadium akhir intoksikasi morfin. Hal ini terbukti dengan dilakukannya napas buatan atau jengan memberikan oksigen; tekanan darah naik meskipun depresi medula oblongata masih berlangsung.Morfin dan opioid lain menurunkan kemampuan sistem kardiovaskular untuk bereaksi terhadap perubahan sikap. Pasien mungkin mengalami hipotensi ortostatik dan dapat jatuh pingsan, terutama akibat vasodilatasi perifer yang terjadi berdasarkan efek langsung terhadap pembuluh darah kecil. Morfin dan opioid lain melepaskan histamin yang merupakan faktor penting dalam timbulnya hipotensi.Efek morfin terhadap miokard manusia tidak berarti; frekuensi jantung tidak dipengaruhi atau hanya menurun sedikit, sedangkan efek terhadap curah jantung tidak konstan. Gambaran elektrokardiogram tidak berubah.Morfin dan opioid lain harus digunakan dengan hati-hati pada keadaan hipovolemia karena mudah timbul hipotensi. Penggunaan opioid bersama derivat fenotiazin menyebabkan depresi napas dan hipotensi yang lebih besar. Morfin harus digunakan dengan sangat hati-hati pada pasien cor-pulmonale, sebab dapat menyebabkan kematian.4. Otot polos lainMorfin menimbulkan peninggian tonus, amplitudo serta kontraksi ureter dan kandung kemih. Efek ini dapat dihilangkan dengan pemberian 0,6 mg atropin subkutan. Hilangnya rasa nyeri pada kolik ginjal disebabkan oleh efek analgetik morfin. Peninggian tonus otot detrusor menimbulkan rasa ingin miksi, tetapi karena sfingter juga berkontraksi maka miksi sukar. Morfin dapat menimbulkan bronkokonstriksi, t...</p>