Laporan Praktikum Farmakologi II

Download Laporan Praktikum Farmakologi II

Post on 04-Jan-2016

398 views

Category:

Documents

1 download

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGIOBAT ANTITUBERKULOSIS DAN OBAT ANTI ASMA

Asisten:Nur Huda Satria Kusuma Kelompok IIG1A009002AULIA DYAH FEBRIANTI

G1A009012NOVIA MANTARI

G1A009022ROSTIKAWATY AZIZAH

G1A009032YULITA SWANDANI AZIZ

G1A009042KINANTHI CAHYANING U.

G1A009101FAIDH HUSNAN

G1A009111ARGO MULYO

G1A009121UNGGUL ANUGRAH PEKERTI

G1A009127HAFIDH RIZA PERDANA

G1A009131HERIYANTO EDY I.

G1A009136KHAFIZATI AMALINA FR

BLOK RESPIRASIFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATANJURUSAN PENDIDIKAN DOKTERUNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMANPURWOKERTO

2011LEMBAR PENGESAHAN

Oleh :Kelompok IIG1A009002AULIA DYAH FEBRIANTI

G1A009012NOVIA MANTARI

G1A009022ROSTIKAWATY AZIZAH

G1A009032YULITA SWANDANI AZIZ

G1A009042KINANTHI CAHYANING U.

G1A009101FAIDH HUSNAN

G1A009111ARGO MULYO

G1A009121UNGGUL ANUGRAH PEKERTI

G1A009127HAFIDH RIZA PERDANA

G1A009131HERIYANTO EDY I.

G1A009136KHAFIZATI AMALINA FR

disusun untuk memenuhi persyaratanmengikuti ujian praktikum Farmakologi Blok RespirasiJurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu KesehatanUniversitas Jenderal SoedirmanPurwokerto

diterima dan disahkanPurwokerto, April 2011Asisten,

Nur Huda Satria KusumaNIM. ..............

BAB IPENDAHULUANI. Judul PraktikumObat Tuberkulosis dan Obat Anti AsmaII. Tanggal PraktikumRabu, 20 April 2011III. Tujuan Praktikuma. Tujuan UmumMahasiswa mampu menjelaskan macam-macam obat antituberkulosis dan obat anti asmab. Tujuan Instruksional Khusus1. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme kerja obat antituberkulosis. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam bentuk sediaan obat antituberkulosis.3. Mahasiswa mampu menerapkan prinsip pengobatan tuberkulosis.4. Mahasiswa mengetahui efek samping obat antituberkulosis.5. Mahasiswa mampu menjelaskan mekanisme kerja obat antiasma.6. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam bentuk sediaan obat antiasma. 7. Mahasiswa mampu menerapkan prinsip pengobatan asma.8. Mahasiswa mampu menerapkan prinsip pengobatan status asmatikus.9. Mahasiswa mengetahui efek samping obat antiasma.10. Mahasiswa mampu membuat peresepan untuk obat antituberkulosis dan obat antiasma.IV. Binatang / Responden PercobaanTidak ada

V. Definisia. OATObat anti tuberkulosis (OAT) merupakan suatu obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit tuberkulosis. Tujuan pemberian obat anti tuberkulosis adalah untuk menyembuhkan pasien TB, mencegah kematian atau bahaya lanjutan, mencegah kekambuhan, dan mencegah penularan tuberkulosis terhadap orang lain (FK UNSRI, 2007).b. OAT KDTTablet OAT - KDT terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien (Depkes RI, 2007).Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 4 macam OAT yaitu rifampisin 150 mg, isoniasid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan etambutol 275 mg. Rekomendasi WHO tahun 1999 kombinasi dosis tetap diberikan berdasarkan berat badan untuk dewasa dan dosis anak. Pada saat ini Kombinasi Dosis Tetap yang ada di Indonesia hanya terdapat RHZE dan RH (Soepandi, 2009).c. OAT KombipakAdalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT (Depkes RI, 2007).d. BakterisidMemiliki kemampuan membunuh bakteri. Jadi dalam keadaan ini bakteri mulai berkurang bahkan sampai habis. Mekanismenya bisa bekerja pada bakteri yang sedang tumbuh dan pada bakteri yang sedang dalam fase istirahat (FK UNSRI, 2009)e. BakteriostatikMenghambat atau menghentikan pertumbuhan bakteri, dalam keadaan ini bakteri jumlahnya tetap dan tidak bisa berkembang biak lagi. Sehingga bakteri ini mampu mengurangi penyebaran infeksi ke seluruh tubuh (FK UNSRI, 2009).VI. Dasar Teoria. Komponen Obat1) OATTerdiri dari obat lini pertama dan obat lini keduaObat lini pertama1. Lini pertama : a. Rifampisin (R)b. INH (H)c. Pirazinamid (Z) d. Etambutol (E)e. Streptomisin (S) (Setiabudi, Riyanto dkk. 2007)2. Lini kedua : a. suntikan ( kanamisin, kapreomisin, amikasin )b. fuorokuinolon (siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin)c. tionamid ( etionamid, protionamid )d. sikloserine. paraaminosalisilat (Setiabudi, Riyanto dkk. 2007)Panduan OAT yang digunakan di Indonesia WHO dan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease)a) Kategori I:1. 2HRZE/4H3R3 2. 2HRZE/4HR 3. 2HRZE/6HE Kategori tersebut untuk pasien dengan kasus:1. TB Paru BTA (+) kasus baru 2. TB Paru BTA (-), R (+) lesi luas / sakit berat 3. TB ekstra paru (Depkes RI, 2007)b) Kategori II:1. 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 2. 2HRZES/HRZE/5HRE (Depkes RI, 2007)Kategori tersebut untuk pasien dengan kasus pasien BTA (+) yang telah diobati sebelumnya: 1. Pasien kambuh 2. Pasien gagal 3. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default) (Depkes RI, 2007)c) Kategori III:1. 2HRZ/4H3R3 2. 2HRZ/4HR 3. 2HRZ/6HE Kategori tersebut untuk pasien dengan kasus:1. Penderita baru BTA (-), Ro (+) sakit ringan 2. TB ekstra paru sakit ringan (KGB, pleuritis unilateral, kulit, tulang, sendi, kelenjar adrenal ) (DEPKES RI, 2007)d) Panduan OAT yang digunakan oleh Program NasionalPenanggulangan TB di Indonesia: 1. Kategori 1 : 2HRZE/4(HR)3. 2. Kategori 2 : 2HRZES/(HRZE)/5(HR)3E3 Panduan OAT Sisipan : HRZE OAT Anak : 2HRZ/4HR2) Obat AsmaTerdiri dari:1. Simpatomimetika Terdiri dari:1) 2 agonis: salbutamol, prokaterol,albuterol, metoproterenol, terbutaline, salmeterol 2) 1 agonis: epinephrine, ephedrine, isoproterenol 2. Derivat xanthine (theofilin dan aminofilin)3. Kortikosteroid (prednisone, dexamethasone, prednisolone, cortisone, triamcinolone, metilprednisolone)4. Biskromones: kromolyn, ketotifen. 5. Antikolinergik (ipratropium bromide, oxytropium bromide, tiotropium bromide) (Depkes RI, 2009).Obat asma terdiri dari golongan pengontrol dan pelega1. Golongan obat pengontrol (anti inflamasi)a. Steroid inhalasi (flutikason propionate, budesonide)b. Antileukotrien (zafirlukast)c. Kortikosteroid sistemik (metilprednisolone, prednisolone)d. 2 agonis kerja lama (prokaterol,formoterol,salmeterol)e. Kombinasi steroid dan 2 agonis kerja lama (flutikason + salmeterol, budesonide+ formoterol) (DEPKES RI, 2009)2. Golongan obat pelega (bronkodilator)a. 2 agonis kerja cepat (salbutamol, terbutalin, prokaterol, fenoterol)b. antikolinergik (ipratropium bromide, oxytropium bromide, tiotropium bromide)c. Derivat xanthine (theofilin dan aminofilin)d. Kortikosteroid sistemik (metilprednisolone, prednisone) (Depkes RI, 2009).b. Penjelasan obat OAT & Anti AsmaObat OAT yang dijelaskan disini adalah obat OAT lini pertama, yaitu INH, Rifampisin, Etambutol, Pirazinamid, dan Streptomisin. Sementara obat asma yang dijelaskan adalah fenoterol dan aminofilin.1. Isoniazida) Bentuk sediaan obatBentuk sediaan isoniazid adalah tablet dan sirup. Dalam bentuk tablet 50, 100, 300 dan 400 mg sedangkan pada sediaan sirup 10mg/mL. Dalam tablet kadang-kadang telah ditambahkan vit B6. Isoniazid biasanya diberikan dalam dosis tunggal per orang tiap hari. Dosis biasa 5 mg/kgBB, maksimum 300 mg/hari. Untuk TB berat dapat diberikan 10 mg/kgB, maksimumnya 600 mg/hari. Anak dibawah 4 tahun dosisnya 10 mg/kgBB/hari. Isoniazid juga dapat diberikan secara intermiten 2 kali seminggu dengan dosis 15 mg/kgBB/hari. b) Farmakokinetika. AbsorbsiIsoniazid mudah diabsorbsi pada pemberian oral maupun parenteral. Kadar puncak dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian oral (Istiantoro,2009).b. Metabolisme Di hati, isoniazid mengalami asetilasi dan pada manusia kecepatan metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor genetik. Pada pasien yang tergolong asetilator cepat, kadar isoniazid dalam sirkulasi berkisar antara 30-50% kadar pasien dengan asetilator lambat. Masa paruhnya pada keseluruhan populasi antara 1-4 jam. Masa paruh rata-rata pada asetilator cepat hampir 70 menit, dan pada asetilator lambat antara 2-5 jam. Masa paruh akan memanjang bila terjadi insufisiensi hati (Istiantoro,2009).c. Distribusi Isoniazid mudah berdifusi ke dalam sel dan semua cairan tubuh. Obat terdapat dengan kadar yang cukup dalam cairan pleura dan cairan asites. Kadar dalam cairan serebrospinal pada radang selaput otak kira-kira sama dengan kadar dalam cairan plasma. Isoniazid mudah mencapai material kaseosa. Kadar obat ini mulanya lebih tinggi dalam plasma dan otot daripada dalam jaringan yang terinfeksi, tetapi kemudian obat tertinggal lama di jaringan yang terinfeksi dalam jumlah yang lebih dari cukup sebagai bakteriostatik (Istiantoro,2009).d. Ekskresi 75-95% diekskresi melalui urin dalam waktu 24 jam dan hampir seluruhnya dalam bentuk metabolit (Istiantoro,2009).a) Ekskresi utama : asetil isoniazid dan asam isonikotinat.b) Sejumlah kecil : isonikotinil glisin dan isonikotilin hidrazon.c) Jumlah sangat kecil : N-metil isoniazid.c) FarmakodinamikIsoniazid bersifat bakterisid dan menghambat sintesis asam mikolat yang merupakan komponens penting dalam dinding sel mikobakteri. Isoniazid yang merupakan pr diaktivasi oleh KatG, peroksidase katalase mikobakteri. Bentuk aktif dari isoniazid akan membentuk komplek kovalen dengan protein pembawa-asil atau acyl carrier protein (AcpM) dan KasA (beta-ketoacyl carrier protein synthetase) yang akan memberikan efek letal dengan cara menyekat sintesis asam mikolat. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan menurunkan jumlah lemak yang terekstrasi oleh methanol dari mikobakterium (Chambers, Henry F., 2002).Efek bakterisid hanya terlihat pada kuman yang sedang tumbuh aktif. Mikroorganisme yang istirahat akan mulai membelah lagi jika pengobatan dihentikan.Mekanisme resistensi isoniazid berhubungan dengan kegagalan obat mencapai kuman, ekspresi berlebihan gen inhA, mutasi atau delesi enzim KatG, ekspresi berlebihan gen jefA (Rv2459) pada bakteri. Resistensi isoniazid berhubungan dengan peningkatan kematian pasien pada tuberculosis meningitis. Produksi berlebihan dari gen inhA menimbulkan resistensi isoniazid tingkat rendah dan resistensi silang terhadap etionamida. Mutan katG menimbulkan resistensi isoniazid tingkat tinggi dan seringkali tidak menimbulkan resistensi silang dengan etionamida (Chambers, Henry F., 2002).Mutan yang resisten obat biasanya dijumpai dalam populasi mikobakterium yang rentan kira-kira sebanyak 1 basil dalam 106. Karena lesi tuberkulosa serinhgkali mengandung basil tuberkel lebih dari 108, mutan yang resisten dengan mudah akan terseklesi (bertahan hidup) ketika isoniazid atau obat lain digunakan sebagai obat tunggal. Probabilitas satu basil yang resisten terhadap kedua obat adalah 1 dalam 106x106 atau 1 dalam 1012. Jadi setidaknya dua agen aktif (atau lebih pada beberapa kasus) harus digunakan dalam pengobatan tb aktif untuk mencegah resistensi (Chambers, Henry F., 2002).d) IndikasiIndikasi isoniazid yaitu untuk penyakit karena infeksi m. Tuberkulosis, dan bersifat bakterisid.e) Kontra indikasiKontraindikasinya antara lain sakit hepar karena terapi isoniazid sebelumnya, penyakit liver akut, dan hipersensitivitasf) Interaksi obatDapat meningkatkan kadar di jaringan dengan asam p-aminosalisilat meningkatkan reiko keruaskan hati dengan rifampicin, toksisitas meningkat dengan disulfiram. piridoxin meurunkan efek INH, INH juga dapat meningkatkan efek dari fenitoin, menghambat metabolisme primidone dan meurunkan toleransi alkohol.Isoniazid dapat meningkatkan kadar/efek amiodaron, ampfetamin, benzodiazepin, beta-blocker, calcium channel blocker, citalopram, deksmedetomidin, antidepresan trisiklik, trimetadon, venlafaxin. Menurunkan efek: efek/kadar isoniazid diturunkan oleh garam aluminium atau antasida. Isoniasid dapat menurunkan efek/kadar subsrat prodrug CYP2D6 (seperti kodein, hidrokodone, oksikodon, tramadol)Interaksi dengan makanan, INH harus digunakan satu jam sebelum atau dua jam sesudah makan pada keadaan lambung kosong; peningkatan asupan makanan yang mengandung folat, niasin, magnesium. Tidak diperlukan pembatasan makanan yang mengandung tyramin.g) Efek samping obata) Neuritis perifer Adalah efek samping yang paling sering timbul karena efisiensi piridoksin yang relative. Ini disebabkan karena suatu kompetisi INH dengan piridoksal fosfat untuk enzim apotriptofanase. Sebagian besar reaksi toksik diperbaiki dengan penambahan piridoksin. (catatan : INH dapat mencapai konsentrasi dalam air susu ibu yang cukup tinggi untuk menyebabkan suatu defisiensi piridoksin pada bayi kecuali si ibu diberikan vitamin tersebut)b) Hepatitis dan Hepatotoksisitas Idiosinkrasi Hepatitis yang kemungkinan fatal adalah efek samping INH yang paling berat. Telah disarankan bahwa ini disebabkan oleh suatu metabolit toksik monoasetilhidrazin ynag terbentuk selam metabolism INH. Kejadian meningkat pada penderita-penderita dengan bertambahnya usia, juga pada penderita-penderita yang mendapatkan rifampisin atau diantara mereka yang minum alkohol setiap hari.c) Efek Samping LainnyaAbnormalitas mental, kejang-kejang pada penderita yang mudah kejang dan neuritis optikus telah dilaporkan. Reaksi-eaksi hipersensitivitas seperti ruam dan demam.(Dinkes, 2. Rifampisina) Bentuk sediaan obatRifampisin di Indonesia terdapat dalam kapsul 150 mg dan 300 mg. Selain itu terdapat pula tablet 450 mg dan 600 mg serta suspensi yang mengandung 100 mg/5 mL rifampisin. Obat ini biasanya diberikan sehari sekali sebaiknya 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Dosis untuk orang dewasa dengan berat badan kurang dari 50 kg ialah 400 mg/hari dan untuk berat badan lebih dari 50 kg ialah 60 mg/hari. Untuk anak-anak dosisnya 10-20 mg/kgB/hari dengan dosisi maksimum 600 mg/hari

b) Farmakokinetika. AbsorbsiRifampisin diserap dalam saluran cerna. Pemberian rifampisin per oral menghasilkan kadar puncak dalam plasma setelah 2-4 jam. Dosis tunggal sebesar 600 mg menghasilkan kadar sekitar 7 g/ml. Setelah diserap dalam saluran cerna, obat ini cepat dieksresi melalui empedu dan kemudian mengalami sirkulasi enterohepatik. Penyerapannya dihambat oleh adanya makanan, sehingga dalam waktu 6 jam hampir semua obat yang berada dalam empedu berbetuk diasetil rifampisin, yang menyebabkan aktivitas antibakteri penuh (Istiantoro,2009).b. MetabolismeRifampisin menyebabkan induksi metabolisme. Sehingga, walaupun bioavailabilitasnya tinggi, eliminasinya meningkat pada pemberian berulang. Masa paruh rifampisin bervariasi antara 1,5-5 jam dan akan memanjang bila ada kelainan fungsi hepar. Pada pemberian berulang masa paruh ini memendek sampai kira-kira 40% dalam waktu 14 hari. Pada pasien asetilator lambat masa paruh memendek bila rifampisin diberikan bersama isoniazid (Istiantoro,2009).c. DistribusiSekitar 75% rifampisin terikat pada protein plasma. Obat ini berdifusi baik ke berbagai jaringan termasuk ke cairan otak. Luasnya distribusi ini tercermin dari warna merah pada urine, tinja, sputum, air mata dan keringat pasien (Istiantoro,2009).d. Ekskresi Ekskresi melalui urine mencapai 30%, setengahnya merupakan rifampisin utuh sehingga pasien gangguan fungsi ginjal tidak perlu penyesuaian dosis. Obat ini juga dieliminasi lewat ASI (Istiantoro,2009).c) FarmakodinamikRifampisin mempunyai aktivitas tinggi terhadap mycobakterium termasuk M. Tuberculosis dan M. Leprae. Obat tersebut juga sangat aktif terhadap Staphylococcus aures, coagulase-negative staphylococci, Listeria monocytogenes, Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae beberapa bakteri lain (Hartigan, 1990).Rifampisin juga dilaporkan menunjukkan efek imunosupresif yang terhlihat pada hewan coba tapi mungkin tidak berpengaruh klinis pada manusia. Rifampisin bersifat bakterisid dengan cara menghambat sintesis asam nukleat dengan menghambat DNA-dependent RNA polymers pada sub-unit serta mencegah inisiasi transkripsi RNA bukan perpanjangan rantai (Hartigan, 1990).Resistensi timbul akibat salah satu dari beberapa kemungkinan mutasi titik pada rpoB, gen untuk sub unit RNA polimerase. Mutasi ini menyebabkan berkurangnya ikatan rifampisin pada RNA polimerase. RNA polimerase manusia tidak megikat rifampisin dan tidak dihambat olehnya. Obat ini cepat mempenetrasi sebagian besar jaringan dan ke dalam sel fagositik. Rifampisin dapat membunuh organisme intrasel dan organisme yang terkuestrasi dalam abses dan jaringan paru (Chambers, Henry F., 2002).d) Indikasi obatIndikasi dari obat rifampisin antara lain:a. Pengobatan TB, b. kombinasi dengan antituberkulosis lain, c. Pengobatan Leprad. Kombinasi dengan obat lepra laine. Penyakit hatif. Kerusakan ginjale) KontraindikasiKontraindikasi dari Rifampisin antara lain:a. Hipersensitivitasb. Ikterusf) Interaksi obatEfek menurun dengan pemberian bersama-sama dnegan kortoksteroid, anti koagulan kumarin, digitoxin, metadon, kontrasepsi oral, tolbutamide.Rifampisin dapat meningkatkan efek terapeutik clopidogrel, penggunaan bersama dengan isoniazid pyrazinamide atau protease inhibitor (amprenavir saquinavir/ritonavir) dapat meningkatkan resiko hepatotoksisitas; antibiotika makrolida dapat meningkatkan kadar/toksisitas rifampin.Rifampisin dapat menurunkan efek/kadar obat-obat berikut: asetaminofen, alfentanil, amiodaron,angiotensin II receptor blocker (irbesartan dan losartan), 5-HT3 antagonis, antifungi imidazol, aprepitant, barbiturat, benzodiazepin (dimetabolisme melalui oksidasi), beta blocker, buspiron, calsium channel blocker, kloramfenikol, kortikosteroid, siklosporin; substrat CYP1A2, 2A6, 2B6, 2C8/9, 2C19 DAN 3A4 (contoh : aminofilin, amiodaron, bupropion, fluoksetin, fluvoksamin, ifosfamid, methsuksimid, mirtazapin, nateglinid, pioglitazon, promethazin, inhibitor pompa proton, ropinirol, rosiglitazon, selegilin, sertralin, teofilin, venlafaxin dan zafirlukast; dapson, disopiramid, kontrasepsi estrogen dan progestin, feksofenadin, flukonazol, asam fusidat, HMG-CoA reductase inhibitor, metadon, morfin, fenitoin, propafenon, inhibitor protease, quinidin, repaglinid, inhibitor reverse transkriptase (non-nucleoside), sulfonilurea, takrolimus, tamoksifen, terbinafin, tocainide, antidepresan trisiklik, warfarin,zaleplon, zidovudin, zolpidem. Efek rifampisin diturunkan oleh inducer CYP2A6, 2C8/9, dan 3A4 (seperti : aminoglutethimide, barbiturat, karbamazepin, nafcillin, nevirapin dan fenitoin)Makanan menurunkan absorbsi; konsentrasi rifampin dapat diturunkan jika digunakan bersama dengan makanan.g) Efek Samping ObatRifampisin terdistribusi luas ke cairan tubuh serta dapat menembus sawar darah otak. Luasnya distribusi rifampisin tercermin dari timbulnya warna oranye kemerahan yang tidak berbahaya pada urin, keringat, air mata dan lensa mata. Efek samping lain yang sering terjadi termasuk kulit kemerahan, trombositopenia, nefritis dan gangguan fungsi hati. Rifampisin juga dapat menyebabkan proteinuria rantai ringan serta flu like syndrom dan anemia pada pemberian kurang dari 2 x seminggu (Katzung, 2002).3. Pirazinamida) Bentuk sediaan obatPirazinamid terdapat dalam bentuk tablet 250 mg dan 500 mg. Dosis oral ialah 20-35 mg/kgBB sehari (maksimum 3 gram).b) Farmakokinetika. AbsorbsiPirazinamid mudah diserap di usus. Dosis 1 gram menghasilkan kadar plasma sekitar 45 g/mL pada 2 jam setelah pemberian obat (Istiantoro,2009).b. MetabolismePirazinamid di dalam tubuh dihidrolisis oleh enzim piramidase menjadi asam pirazinoat. Asam pirazinoat yang aktif kemudian mengalami hidroksilasi menjadi asam hidropirazinoat yang merupakan metabolit utama. Masa paruh eliminasi obat ini adalah 10-16 jam (Istiantoro,2009).c. DistribusiTersebar luas ke seluruh tubuh (Istiantoro,2009).d. Ekskresi Ekskresinya terutama melalui filtrasi glomerolus (Istiantoro,2009).c) FarmakodinamikPirazinamid merupakan kerabat nikotinamid, stabil, dan sedikit larut dalam air. Obat ini tidak aktif dalam pH netral, tetapi pada pH 5,5 obat ini menghambat basil tuberkel dan beberapa mikobakterium lain pada kadar sekitar 20 mcg/mL. Pirazinamid diambil oleh makrofag dan memunculkan aktivitasnya terhadap mikobakterium yang tinggal dalam lingkungan lisosom yang bersifat asamPirazinamid diubah menjadi asam pirazinoat-bentuk aktif obat ini-oleh pirazinamidase mikobakterium, yang dikode oleh pncA. Target dan mekanisme kerja obat tersebut tidak diketahui. Resistensi dapat disebabkan oleh gangguan ambilan pirazinamid atau mutasi pada pncA yang mengganggu konversi pirazinamid menjadi bentuk aktifnya (Chambers, Henry F., 2002).d) Indikasi ObatTuberkulosis, dalam kombinasi dengan obat lain. Infeksi M. Leprae. Profilaksis meningitis meningococcal dan infeksi haemophilus influenzae. Brucellosis, penyakit legionnaires, endocarditis dan infeksi staphylococcus yang berat dalam kombinasi dengan obat lain (Dinkes, 2010).e) Kontra indikasia. Porfiria.b. Hipersensitivitas terhadap rifampisin atau komponen lain yang terdapat dalam sediaan; penggunaan bersama amprenavir, saquinafir/rotonavir (kemungkinan dengan proease inhibitor), jaundice (penyakit kuning).( Dinkes, 2010)c. Kehamilan, d. kerusakan hati f) Interaksi obatDengan acetest dan test urin ketostik untuk keton, probenezid, sulfin pirazon, allopurinol, dan anti diabetik oral. Selain itu, kombinasi terapi dengan rifampin dan pirazinamid berhubungan dengan reaksi hepatotoksik yang fatal dan berat.g) Efek Samping ObatHepatotoksisitas termasuk demam, anoreksia, hepatomegali, splenomegali, jaundice, gagal hati; mual, muntah,kemerahan, disuria, atralgia, anemia sideroblastik.4. Etambutola) Bentuk sediaan obatEtambutol terdapat dalam bentuk tablet 250 mg dan 500 mg. Dosis biasanya 15 mg/kgBB, diberikan sekali sehari. Obat ini juga dapat dalam sediaan yang telah dicampur dengan isoniazid bentuk sediaan tetap. b) Farmakokinetika. AbsorbsiPada pemberian oral sekitar 75-80% etambutol diserap dari saluran cerna. Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2-4 jam setelah pemberian (Istiantoro,2009).b. Metabolisme Dosis tunggal 15 mg/kgBB menghasilkan kadar dalam plasma sekitar 5g/mL pada 2-4 jam. Masa paruh eliminasinya 3-4 jam. Kadar etambutol dalam eritrosit 1-2 kali kadar dalam plasma. Oleh karena itu, eritrosit dapat berperan sebagai depot etambutol yang kemudian melepaskan sedikit demi sedikit ke dalam plasma (Istiantoro,2009).c. Distribusi Etambutol tidak dapat menembus sawar darah otak, tetapi pada meningitis tuberkulosa dapat ditemukan kadar terapi dalam cairan otak (Istiantoro,2009).d. EkskresiDalam waktu 24 jam, 50% etambutol yang diberikan diekskresikan dalam bentuk asal melalui urin, 10% sebagai metabolit, berupa derivate aldehid dan asam karboksilat (Istiantoro,2009).c) FarmakodinamikEtambutol merupakan obat antituberkulosis, yang berperan dalam menghambat arabinosil transferase mikobakterium yang dikode oleh operon embCAB sehingga reaksi polimerasi biosintesis dari arabinogalactan dan arabinomanan terhambat, selain itu juga karena menghambat Decaprenil - R aktivitas arabinosa. Etambutol memiliki efek bakteriostatik baik pada bakteri tuberkulosis yang sensitif dan bakteri tuberculosis resisten, serta pada mycobacterium non-typical photochromogene (Chambers, Henry F., 2002).Obat ini tidak bereaksi pada jamur, virus, dan bakteri lainnya. Tidak ada resistensi silang terhadap obat-obatan anti-tuberkulosis lainnya yang terdaftar sejauh ini. Dalam pengobatan bersamaan dengan isoniazid dapat mengurangi risiko pengembangan resistensi. Aktivitas anti-mikroba nya terbukti pada sel yang berproliferasi, karena hal ini dapat mengganggu fungsi sel polyamines (spermidine dan spermine). Struktur polyamines ini juga merupakan kompleks ion bivalen yang berpartisipasi dalam biosintesis dan stabilisasi DNA (Sopharma, 2008).d) IndikasiPenderita Tuberculosis (TBC)e) Kontraindikasia. Neuritis optik (peradangan pada saraf mata)b. Gangguan ginjal beratc. Kehamilan d. Anak di bawah 5 tahun (Sopharma, 2008).f) Interaksi obatDapat menurunkan khasiat urikosuri, terutama pemakaian bersama isoniazid, dan piridoxin. antasid yang mengandung AL.Absorbsi menurun jika digunakan bersama alumunium hidroksida. Hindari penggunaan bersama dengan antasida yang mengandung alumunium, beri jarak minimal 4 jam dari pemberian etambutolDapat digunakan bersama dengan makanan karena absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan, dapat menyebabkan iritasi lambung.g) Efek Samping ObatNeuritis optik, buta warna merah/hijau , neuritis perifer, ruam (jarang terjadi) , pruritus, urtikaria dan trombositopenia.5. Streptomisina) Bentuk sediaan obatUntuk suntikan tersedia bentuk bubuk kering dalam vial yang mengandung 1 atau 5 g zat. Kadar larutan tergantung dari cara pemberian yang direncanakan; dan cara penyuntikan tergantung dari jenis dan lokasi infeksi. Suntikan IM merupakan cara yang paling sering diberikan. Dosis total sehari berkisar 1-2 g (15-25 mg/kg BB); 500 mg - 1 g disuntikkan setiap 12 jam. Untuk infeksi berat dosis harian dapat mencapai 2-4 g dibagi dalam 2-4 kali pemberian. Dosis untuk anak ialah 20-30 mg/kgBB sehari, dibagi untuk dua kali penyuntikkan.b) Farmakokinetika. AbsorbsiStreptomisin diserap di tempat-tempat suntikan, kemudian hampir seluruhnya berada dalam plasma. Hanya sedikit sekali yang berada di eritrosit (Istiantoro,2009).b. DistribusiStreptomisin menyebar ke seluruh cairan ekstrasel. Kira-kira sepertiga streptomisin yang berada dalam plasma, terikat protein plasma (Istiantoro,2009).c. MetabolismeMasa paruh obat ini pada orang dewasa normal antara 2-3 jam, dan sangat memanjang pada gagal ginjal. Ototoksisitas lebih sering terjadi pada pasien yang fungsi ginjalnya terganggu (Istiantoro,2009).d. EkskresiStreptomisin diekskresi melalui filtrasi glomerolus. Kira-kira 50-60% dosis streptomisin yang diberikan secara parenteral diekskresi dalam bentuk utuh dalam waktu 24 jam pertama. Sebagian besar jumlah ini diekskresi dalam waktu 12 jam (Istiantoro,2009).c) FarmakodinamikDosis dewasa normal adalah 1g/hari (15 mg/kg/hari). Jika bersihan kreatinin kurang dari 30 mL/menit atau pasien menjalani hemodialisis, dosisnyua menjadi 15 mg/kg dua atau tiga kali seminggu. Kebanyakan basil tuberkel dihambat oleh strsptomisin dengan kadar sebesar 1-10 mcg/ml in vitro (Chambers, Henry F., 2002).Obat streptomisin in vitro bersifat bakteriosid dan bakteriostatik terhadap bakteri tuberculosis. Kadar serendah 0,4 mikro gram/ mL sudah dapat menghambat pertumbuhan kuman. Mikrobakterium atipik fotokromatogen, skotokromatogen, nokromatogen, dan spesies yang tumbuh cepat tidak peka terhadap streptomisin.Semua populasi besar basil tuberkel mengandung beberapa mutan yang resisten terhadap streptomisin. Rata-rata, 1 dalam 108 basil tuberkel diperkirakan menjadi resisten terhadap streptomisin pada kadar 10-100 mcg/mL. Resistensi terjadi akibat mutisi titik pada gen rpsL yang mengode rRNA ribosomal 16S, yang mengubah lokasi oengkatan ribosomal (Chambers, Henry F., 2002).Penetrasi strreptomisin kedalam sel buruk, dan obat ini aktif terutama pada basil tuberkel ekstrasel. Sterptomisin melintasi sawar darah otak dan mencapai kadar terapeutik bila meninges meradang (Chambers, Henry F., 2002).d) IndikasiPasien TB paru dengan fungsi ginjal normal.e) KontraindikasiIbu hamil, pasien usia lanjut, orang dewasa yang memiliki ukuran tubuh kecil, dan pasien dengan gangguan fungsi ginjal.f) Interaksi obatInteraksi dapat terjadi dengan obat penghambat neuromuscular berupa potensial penghambatan. Selain itu interaksi juga terjadi dengan obat lain yang juga bersifat ototoksik. Dan yang bersifat nefrotoksik.g) Efek Samping obatReaksi hipersensitivitas seperti pusing, demam, dan sebagainya, parestesi di muka, rasa kesemutan di tangan, ganguan keseimbangan serta gangguan pendengaran dapat terjadi pada pasien. Ada risiko syok.6. Fenoterola) Bentuk sediaan obatInhaler dosis terukur 200 g/hirupan x 200 hirupan x 10 mLb) Farmakokinetik.Fenoterol adalah obat golongan 2-Agonis. Yang termasuk golongan 2-Agonis adalah proterenol, salbutamol, terbutalin, fenoterol, formoterol, prokaterol, salmeterol, pirbuterol, bitolterol, isoetarin, dan ritodrin (Setiawati, 2009).Selain efektif pada pemberian oral, juga diabsorbsi dengan baik dan cepat pada pemberian sebagai aerosol. Obat-obat ini bukan katekolamin, maka resisten terhadap COMT, kecuali isoetarin yang merupakan katekolamin. Terbutalin merupakan satu-satunya 2-Agonis yang mempunyai sediaan parenteral untuk pengobatan darurat status asmatikus. Formoterol dan Salmeterol mempunyai masa kerja yang panjang (> 12 jam) sehingga disebut long-acting 2-Agonis (LABA) (Setiawati, 2009).c) FarmakodinamikObat simpatomimetika merupakan obat yang memiliki aksi serupa dengan aktivitas saraf simpatis. Sistem saraf simpatis memegang peranan penting dalam emnentukan ukuran diameter bronkus. Ujung saraf simpatis yang menghasilkan norepinepherine, ephinepherine, isoprotenerol disebut adrenergic. Adrenergic memiliki dua reseptor dan (1 dan 2). Adrenergic menstimulasi reseptor 2 (pada kelenjar dan otot halus bronkus) sehingga terjadi bronkodilatasi. Mekanisme kerja obat simpatomimetika adalah melalui stimulus reseptor 2 pada bronkus menyebabkan aktivasi adenilsiklase. Enzim ini mengubah ATP (Adenosintrifosfat) menjadi cAMP (cyclic-adenosine-monophosphat) dengan pembebasan energi yang digunakan untuk proses dalam sel. Meningkatnya kadar cAMP dalam sel menghasilkan efek bronkodilatasi d) Indikasi obata. Digunakan untuk terapi simtomatik (hanya bersifat menghilangkan gejala, tidak menghilangkan/menyembuhkan penyebab utamanya) episode asma akut. b. Pencegahan asma yang dipicu oleh olah raga. c. Terapi simtomatik asma bronkhial & kondisi lain yang disertai dengan penyempitan saluran pernafasan yang bersifat reversibel seperti bronkhitis obstruktif kronis.e) KontraindikasiPenggunaan 2 agonis sebagai bronkodilator harus hati-hati pada pasien dengan hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung kongestif, hipertiroid atau diabetes. Juga dapat menyebabkan kardiomiopati obstruktif hipertrofik, takhiaritmia.f) Interaksi obatHipersensitif terhadap benzodiazepin, glaukoma sudut sempit akut, miastenia gravis, insufisiensi paru akut, psikosis obsesif kronik dan fobia, juga pada anak dan bayi prematur.g) Efek Samping obatGemetar halus otot rangka & gugup, takhikardia (tidak terlalu sering), pusing, berdebar atau sakit kepala. Kasus yang sangat jarang : iritasi lokal atau reaksi alergi; batuk, bronkhokonstriksi paradoksikal (sangat jarang). Hipokalemia yang berpotensi menjadi serius dapat terjadi dari terapi 2-agonis.7. Aminofilina) Bentuk sediaan obatSediaan obat ini adalah tablet dan ampul. Sediaan tablet yaitu 225 mg dan 350 mg, sedangkan pada sediaan parenteral 24mg/ml dalam 10ml. Pada sediaan oral yaitu tablet harus di simpan pada suhu ruang 20C-25C, terlindung cahaya dan lembab. Sedangkan pada sediaan parenteral disimpan pada suhu 15C-30C, terlindung dari cahaya. b) FarmakokinetikAminofilin dan teofilin adalah obat yang termasuk ke dalam golongan metilxantin.a. AbsorbsiMetilxantin cepat diabsorbsi setelah pemberian oral, rectal, atau parenteral. Sediaan bentuk cair atau tablet tidak bersalut akan diabsorbsi secara cepat dan lengkap (Louisa, 2009).b. DistribusiMetilxantin didistribusikan ke seluruh tubuh, melewati plasenta dan masuk ke air susu ibu. Volume distribusi kafein dan teofilin ialah antara 400 dan 600 mL/kg. Pada bayi premature nilai ini lebih tinggi (Louisa, 2009).c. Metabolisme Waktu paruh plasma kafein antara 3-7 jam, nilai ini akan menjadi 2 kali lipat pada wanita hamil tua atau wanita yang menggunakan pil kontrasepsi jangka panjang. Sedangkan waktu paruh plasma teofilin pada orang dewasa 8-9 jam dan pada anak muda kira-kira 3,5 jam (Louisa, 2009).d. EkskresiEliminasi metilxantin terutama melalui metabolisme dalam hati. Sebagian besar diekskresi bersama urin dalam bentuk asam metilurat atau metilxantin. Kurang dari 20% teofilin dan 5% kafein akan ditemukan di urin dalam bentuk utuh (Louisa, 2009).c) FarmakodinamikBeberapa mekanisme telah diajukan utnuk menjelaskan kerja metilxantin, tidak ada yang ditetapkan sebagai mekanisme kerja pasti metilxantin. Secara in vitro, konsentrasi tinggi berbagai metilxantin tersebut dapat menghambat famili enzim fosfodiesterase. Karena fosfodiesterse menghidrolisis siklik nukleotida, penghambatan ini menghasilkan konsentrasi cAMP, dan pada beberapa jaringan, konsentrasi cGMP, intra sel yang lebih tinggi. cAMP bertanggung jawab untuk berbagai fungsi sel, seperti perangsangan fungdi jantung, relaksasi otot polos, penurunan aktivitas imun dan inflamasi sel-sel tertentu, dan lainya (Chambers, Henry F., 2002).Isoenzyme P450 CYP1A2, CYP2E1, CYP3A3 dengan pasien lebih dari 1 tahun, 90% metabolisme terjadi di hati. Metabolit aktif: 3-methylxanthine. Caffeine (tidak ditemukan pada pasien dewasa, diduga dapat terakumulasi pada neonatus dan dapat menyebabkan efek farmakologi)d) Indikasia. Asmab. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)e) KontraindikasiHipersensitivitas terhadap teofilin dan ethylendiaminef) Interaksi obata. Obat-obat yang dapat meningkatkan kadar teofilin :propanolol, allopurinol (>600 mg/day), Erythromycin, Cimetifin, Troleandomycin, Ciprofloxacin (golongan Quinolon yang lain, kontrasepsi oral, Beta-blocker, Calcium Channel Blocker, Kortikosteroid, Disulfiram, Efedrin, Vaksin influenza, Interferon, Makrolida, Mexilitine, Thiabendazole, Hormon Thyroid, Carbamazepine, Isonazid, Loop diuretics.b. Obat lain yang dapat menghambat Cytochrome P450 1A2, seperti : Amiodaron, Fluxosamine, Ketonazole, Antibiotik Quinolon.c. Dengan makanan :1) Menghindari konsumsi kafein yang berlebihan.2) Menghindari diet protein dan karbohidrat yang berlebihan.3) Batasi konsumsi charcoal-broiled foods.g) Efek Samping obatEfek samping yang sering terjadi : 1) Saluran cerna : diare, mual dan muntah; 2) Neurologi : pusing, sakit kepala, insomnia, dan tremor; 3) Renal : diuresis;VII. Alat dan Bahan1. Alata. Alat tulis b. Kertasc. Stopwatchd. Alat penanda waktu2. BahanSediaan obat antituberkulosis dan obat anti asmaVIII. Alur Praktikuma. Menyiapkan kertas dan alat tulis.b. Tiap pasang praktikan masuk berpasangan ke dalam laboratorium untuk menulis sediaan dan komposisi obat.c. Setiap stase disediakan waktu kurang lebih satu menit untuk menulis sediaan dan komposisi obat yang tersedia dalam stase tersebut

BAB IIISII. Hasil PraktikumDalam praktikum, ada beberapa obat yang ditempatkan dalam tiap stase.1. OAT KDT Kategori 1 Fase Awala. Komponen : Rifampisin (R) 150 mg / Isoniazid (H) 75 mg / Pirazinamid (Z) 400 mg / Ethambutol (E) 275 mg,b. Sediaan: Tablet (warna merah)2. OAT KDT Kategori 1 Fase Lanjutana. Komponen: Rifampisin (R) 150 mg / Isoniazid 150 mg,b. Sediaan: Tablet (warna kuning)3. OAT KDT Kategori 2 Fase Awal dan Lanjutana. Komponen : Fase AwalFase Lanjutan

RHZE (4 KDT) 9 blister @ 28 tablet untuk 3 bulan RH (2 KDT) 7 blister @ 28 tablet untuk pemakaian 5 bulan

Streptomisin Inj. & API 60 vial spuit 5 mL, 56 buah, selama 2 bulanEthambutol 400 mg 7 blisterUntuk pemakain 5 bulan

4. OAT KDT Kategori 3 Fase Awala. Komponen : Rifampisin (R) 150 mg / Isoniazid (H) 75 mg / Pirazinamid (Z) 400 mg / Ethambutol Hidrochloride (E) 275 mgb. Sediaan : Tablet (warna merah)5. OAT KDT Kategori 3 Fase Lanjutana. Komponen: Rifampisin (R) 150 mg / Isoniazid (H) 150 mgb. Sediaan : Tablet (warna kuning)6. OAT Kombipak untuk Anak Fase Awala. Komponen: Isoniazid (H) 1 tablet @ 100 mg, Rifampisin (R) 2 kapsul @ 75 mg, Pirazinamid (Z) 2 tablet @ 200 mgb. Sediaan : Kapsul dan Tablet7. OAT Kombipak untuk Anak Fase Lanjutana. Komponen: Isoniazid (H) 1 tablet @ 100 mg, Rifampisin (R) 2 kapsul @ 75 mgb. Sediaan : Kapsul dan Tablet8. Aminofilin Inj.a. Komponen: Aminofilin 24 mgb. Sediaan : Ampul9. Metered Doses Inhaler (MDI)a. Komponen: Fenoterol Hydrobromide 100 mcg/semprot (Berotec 10 mL untuk 200 dosis terukur)b. Sediaan : Metered Doses Inhaler (MDI)II. PembahasanSetiap OAT untuk pemberiannya tergantung dari kategori pengobatan. Cara pemberiannya adalah sebagai berikut:a) Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:a. Pasien baru TB paru BTA positif.b. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positifc. Pasien TB ekstra paruPaduan OAT-KDT Kategori 1: 2(RHZE)/4(RH)3 (Depkes, 2009)Sediaan: 1. Rifampisin : 150 gram2. Isoniazid: 75 gram3. Pyrazinamid : 400 gram4. Streptomisin : 275 gramBerat Badan(kg)Tahap Insentif (RHZE) setiap hari selama 56 hariTiap Lanjutan RH 3x seminggu selama 16 minggu

30 372 tablet 4 KDT2 tablet 2 KDT

38 543 tablet 4 KDT3 tablet 2 KDT

55 704 tablet 4 KDT4 tablet 2 KDT

705 tablet 4 KDT5 tablet 2 KDT

b) Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:a. Pasien kambuhb. Pasien gagalc. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)Catatan:a. Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.b. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.c. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg).d. Penentuan dosis terapi kombinasi dosis tetap 4 obat berdasarkan rentang dosis yang telah ditentukan oleh WHO merupakan dosis yang efektif atau masih termasuk dalam batas dosis terapi dan non toksik. Pada kasus yang mendapat obat kombinasi dosis tetap tersebut, bila mengalami efek samping serius harus dirujuk ke rumah sakit / dokter spesialis paru / fasiliti yang mampu menanganinyaPaduan OAT-KDT Kategori 2: 2(RHZE)S/RHZE/5(RH)3E3 (Depkes, 2009)Berat Badan(Kg)Tahap Insentif tiap hari RHZE+STahap Lanjutan 3x seminggu RH+E

Selama 56 hariSelama 28 hariSelama 20 minggu

30 372 tab 4 KDT + 500 mg Streptomisin injeksi2 tab 4 KDT2 tab 2 KDT +2 tab Etambutol

38 543 tab 4 KDT + 750 mg Streptomisin injeksi3 tab 4 KDT3 tab 2 KDT +3 tab Etambutol

55 704 tab 4 KDT + 1000 mg Streptomisin injeksi4 tab 4 KDT4 tab 2 KDT +4 tab Etambutol

705 tab 4 KDT + 1000 mg Streptomisin injeksi5 tab 4 KDT5 tab 2 KDT +5 tab Etambutol

Paduan OAT-KDT sisipan: (RHZE) (Depkes, 2009)Berat Badan(kg)Tahap Instensif tiap hari selama 28 hari RHZE

30 372 tablet 4 KDT

38 543 tablet 4 KDT

55 704 tablet 4 KDT

705 tablet 4 KDT

c) Kategori Anak (2RHZ/ 4RH)Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.a. Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakitb. Anak dengan BB 15-19 kg dapat diberikan 3 tablet.c. Anak dengan BB 33 kg , dirujuk ke rumah sakit.d. Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelahe. OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum.

Paduan OAT Kombipak kategori 1: (Depkes, 2009)Tahap PengobatanLama PengobatanDosis per hari / kaliJumlah hari / kali menelan obat

Tablet Isoniazid @ 300 mgrKaplet Rifampisin @ 450 mgrTablet Pirazinamid @ 500 mgrTablet Etambutol @ 250 mgr

Intensif2 bulan113356

Lanjutan4 bulan21--48

Paduan OAT Kombipak kategori 2: (Depkes, 2009)Tahap PengobatanLama PengobatanTablet Isoniazid @ 300mgrKaplet Rifampisin @450 mgrTablet Pirazinamid @500 mgrEtambutolStreptomisin injeksiJumlah hari/kali menelan obat

Tablet @250 mgrTablet @400 mgr

Intensif (dosis harian)2 bulan1 bulan11113333--0,75 gr-5628

Lanjutan (dosis 3x seminggu)4 bulan21-12-60

Setiap pemberian obat asma, juga tergantung golongan apa yang diberikan. Cara pemberian golongan Xantin dan Beta-2 agonis adalah sebagai berikut:a. Dosis Pemberian Aminofilin (golongan Xantin)Untuk mengatasi episode spasme bronkus hebat dan status asmatikus, diberikan aminofilin IV dengan dosis muat 6 mg/kg BB, diberikan secara infus selama 20 40 menit. Bila tidak terjadi efek terapi dan tidak terdapat tanda intoksikasi maka dapat ditambah dosis 3 mg/kg BB dengan infus perlahan-lahan. Selanjutnya efek optimal dapat dipertahankan dengan pemberian infus aminofilin 0,5 mg/kg BB/jam untuk dewasa normal dan bukan perokok. Anak di bawah 12 tahu memerlukan dosis lebih tinggi yaitu 0,8 0,9 mg/kg BB/jam. (Louisa, 2009)b. Dosis fenoterol hidrobromidDosis lazim fenoterol inhalasi aerosol yaitu 200mcg (2 semprotan) 1-3 kali sehari. Diberikan dalam bentuk MDI (Meterde Dosis Inhalan). (Chumaeroh, 2007)Untuk penggunaan obat asma, ada yang melalui oral atau MDI. Yang digaris bawahi disini adalah penggunaan MDI. Penggunaan alat yang benar akan memberikan dosisi obat yang tepat ke jalan napas.1) Lepaskan penutup dari mouth path2) Lalu kocoklah inhaler, supaya obat merata campurannya3) Pegang inhaler, keluarkan napas maksimal tetapi perlahan4) Letakkan mouth piece dalam mulut dan rapatkan bibir anda5) Bersamaan dengan anda menarik napas,tekanlah inhaler sambil terus bernapas secara perlahan dan dalam6) Lepaskan mouth piece dari mulut anda.7) Tahan napas untuk 10 detik hitungan atau selama mungkin sebelum mengeluarkan napas perlahan-lahan8) Keluarkan napas perlahan-lahanIII. Jawaban Evaluasi1) Perbedaan OAT KDT dan Kombipaka. OAT KDTKetidakpatuhan pasien TB paru bisa saja disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah. Namun, tingkat pendidikan yang rendah tidak selalu memiliki pengaruh langsung pada kepatuhan pasien untuk mengonsumsi obat. Kepatuhan bisa saja meningkat bila pasien sudah percaya bahwa penyakitnya dapat disembuhkan oleh dokter atau dengan kata lain perlu adanya peningkatan hubungan dokter pasien. Oleh karena, itu dibuat sediaan obat baru yang berisi dua atau lebih OAT yang disebut dalam satu tablet dengan Kombinasi Dosis Tetap (KDT) (Soehardiman, Dicky, et al, 2008). Kemajuan dalam bidang farmakologi memungkinkan OAT dapat dikombinasi dalam satu KDT dengan tidak menurunkan bioavailabilitas obat tersebut. Pemantauan mutu KDT dapat dilakukan secara berkala untuk menjamin kualitas mutu obat seperti pada obat tunggal. World Health Organization (WHO) merekomendasikan penggunaan OAT KDT dalam strategi DOTS yang bertujuan meningkatkan mutu hasil pengobatan (Nurhayati Herman, et al, 2008). b. KombipakMerupakan kombinasi OAT dosis tetap yang berisi dua atau lebih OAT dalam dosis tertentu yang dikemas dalam satu paket yang seperti RH (Kombipak 3),RHZ (Kombipak 1),dan RHZE (Kombipak 2) Satu paket untuk satu penderita dengan satu masa pengobatan. Dosis OAT dapat diberikan sesuai dengan program pengobatan dari Departemen Kesehatan RI dalam bentuk kombipak yang diberikan sesuai dengan berat badan 33-50 kg. Paduan OAT yang dilaksanakan dengan strategi DOTS ini juga memiliki efektifitas yang tinggi dalam pengobatan tb paru Tetapi memiliki angka kesembuhan yang relatif lebih rendah (Soehardiman, Dicky, et al, 2008). Ketidakberhasilan tersebut diduga akibat kepatuhan yang rendah untuk berobat secara teratur dan jumlah obat yang diminum terlalu banyak sehingga dikembangkan teknik yang dapat menjamin kepatuhan pasien menelan obat yang disebut dengan DOTS (Nurhayati Herman, et al, 2008).No.PerbedaanOAT - KDTKombipak

1.KategoriKategori 1(2HRZE/4H3R3) TB Paru kambuh TB Paru gagal TB Paru lalai (D.O)

Kategori 2(2HRZES/HRZE/5H3R3E3) TB Paru kambuh TB Paru gagal TB Paru lalai (D.O)

Kategori 3(2HRZE/4H3R3) TB Paru BTA (-), R (+) lesi ringan / sakit ringan TB ekstra paru ringan

Kategori anak2(HRZ)/4(HR)Kategori anak diberikan kepada :Penderita TBC anak adalah penderita yang berusia 0-14 tahun

2.Fase a. Tahap intensif terdiri dari : (H) 1 tablet @150 mg(R) 1 tablet @75 mg(Z) 1 tablet @400 mg(E) 1 tablet 275 mgObat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZE).

b. Tahap lanjutanterdiri dari: (H) 1 tablet @150 mg (R) 1 tablet @150 mgdiberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3).a. Tahap awal(H) 1 tablet @100mg(R) 2 kapsul @75 mg(Z) 2 tablet @200mg

b. Tahap lanjutan(H) 1 tablet @100mg(R) 2 kapsul @75 mg

2) Keuntungan dan Kerugian OAT KDT dan OAT Kombipak OAT KDT

Kerugiankelebihan

a. memungkinkan terjadinya reaksi obat yg berlebihanb. Harga obat lebih mahalc. jika terjadi efek samping, tidak diketahui obat mana yang menyebabkan, sehingga diperlukan penggantian ke obat lepasd. Dapat terjadi kesalahan preskripsi obat, dosis sangat berlebihan (resiko toksisitas) atau kadar sub-inihibitor semua obat (resiko timbul resistensi).e. Petugas kesehatan dapat cenderung menghindarai DOT terapi, karena merasa yakin kepatuhan makan obat terjamin.f. Bioavailabilitas rifampisin rendah untuk beberapa FDC dapat terjadi terutama dalam kombinasi 3 atau 4 obat.g. Penggunaan FDC tidak menghilangkan kebiasaan makan lebih dari satu obat sehingga timbul toksistas (Yati, 2008). Jika terjadi efek samping, tidak diketahui obat mana yang menyebabkannya a. mudah cara pemberianb. pemberian obat lebih sederhanac. Mengurangi kesalahan dalam pembuatan resepd. Menurunkan risiko penggunaan obat tunggal yang salah yang dapat menimbulkan MDR (Multi Drug Resistence)e. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping.f. Meningkatkan kepatuhan pasien berobat karena jumlah obat yang diminum lebih sedikitg. Meningkatkan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penatalaksanaan tbh. Memungkinkan mengurangi supervisii. meningkatkan penerimaan penderita untuk menelan obatj. mudah menyesuaikan dosis obat dengan berat badan penderitak. Penatalaksanaan dan persediaan obat menjadi sederhana1. Dalam hal penghitungan jumlah obat2. Dalam hal pemesanan obat3. Distribusi stok obat4. Mengurangi risiko stok obat habis5. Yakin bahwa kualiti obat baikl. memudahkan akselerasi program DOTS secara lebih cepat mencapai targetm. Mengurangi angka resistensi obat1. Pasien menerima obat dengan regimen dan dosis yang benar2. Pemberian obat TB KDT (kombinasi dosis tetap), dapat mencegah penggunaan obat tunggal oleh pasien. (Soehardiman, Dicky, et al, 2008). (Kepmenkes, 2009).

KOMBIPAK

Kerugiankelebihan

a. memiliki angka kesembuhan yang relatif lebih rendahb. Kepatuhan dalam meminum obat berkurang karena jumlah tablet yang diberikan terlalu banyakc. Angka kekambuhan sedikit lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan KDT.d. Dapat meningkatkan penggunaan monoterapi sehingga penyalahgunaan dosis tunggal meningkat ( Soehardiman, 2007). Jika terjadi efek samping, tidak diketahui obat mana yang menyebabkannya a. Satu paket untuk satu penderita dengan satu masa pengobatanb. efektifitas yang tinggi dalam pengobatan tb paruc. pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDTd. Paduan Obat Anti TB (OAT) disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesaie. kombipak dikemas dalam bentuk paket perhari sehibgga kemungkinan lupa menelan salah satu obat sangat kecilf. dapat mendeteksi adanya obat yang tidak sesuai untuk per personalg. bioavailibility lebih stabil

3) Peresepan1. OAT-KDT kategori 1 fase awal

dr. Argo DOKTER UMUM SIP. 04/DU/JKT/2010 Jln. Taman Mini Telp. 085718919059

Jakarta, 18 April 2011 R/ OAT-KDT kategori 1 fase awal tab. No. XXI

Pro: UnggulUmur : 20 tahunAlamat : Jalan Bekasi Indah No 3

2. dr. HafidhDOKTER UMUMSIP. 04/DU/SBG/2010Jln. Subang Raya 2Telp. 0987684567Subang , 18 April 2011R/ OAT-KDT kategori 1 fase lanjutan tab. No. IX Pro: LiaUmur : 20 tahunAlamat : Jalan Martadireja 3OAT-KDT kategori 1 fase lanjutana.

3. OAT-KDT kategori 2 fase lanjutan

dr. FaidhDOKTER UMUMSIP. 04/DU/BDG/2010Jln. Soekarno HattaTelp. 085722088720Bandung , 18 April 2011R/ OAT-KDT kategori 2 fase lanjutan tab. No. IX Pro: HeriUmur : 20 tahunAlamat : Jalan Madura Sehat No56

OAT-KDT kategori 2 fase awal

4. Kategori 2 fase awal

dr. UnggulDOKTER UMUMSIP. 04/DU/BKS/2010Jln. Bekasi IndahTelp. 085885833357Bekasi , 18 April 2011R/ OAT-KDT kategori 2 fase awal tab. No. XXI R/ injeksi streptomisin ampul fl no I Pro: Argo Umur : 19 tahunAlamat : Jalan Taman Mini II

OAT-KDT kategori 3 fase awal

5. OAT KDT Kategori III Fase Awal

dr. HeriDOKTER UMUMSIP. 04/DU/MDR/2010Jln. Madura 2Telp. 085747049449Madura , 18April 2011R/ OAT-KDT kategori 3 fase awal tab. No. XXI Pro: HafidhUmur : 19 tahunAlamat : Jalan Subang Raya 3

OAT-KDT kategori 3 fase lanjutan

6. OAT Kategori III Fase Lanjutan

dr. NoviaDOKTER UMUMSIP. 04/DU/PTI/2010Jln. Pati MakmurTelp. 085641656006 Pati , 18 April 2011R/ OAT-KDT kategori 3 fase lanjutan tab. No. IX Pro: FaidhUmur : 19 tahunAlamat : Jalan Bandung Raya 2

OAT Kombipak Anak fase lanjutan

7. OAT Kombipak anak fase lanjutan

dr. Atik DOKTER UMUMSIP. 04/DU/CRB/2010Jln. Aksara tunakarya 21Telp. 085224954939Cirebon , 18 April 2011R/ OAT Kombipak Anak fase lanjutan tab. No. VII Pro: FitriUmur : 2 tahunAlamat : Jalan Banyumas 4

OAT Kombipak Anak fase awal8. OAT Kombipak anak fase awal

dr. LiaDOKTER UMUMSIP. 04/DU/BMS/2010Jln. SoedirmanTelp. 081391497486 Banyumas , 18 April 2011R/ OAT Kombipak Anak fase awal tab. No. VII Pro: LitaUmur : 2 tahunAlamat : Jalan Grendeng

aminophyline ampul

9. Aminofiline ampul

dr. FitriDOKTER UMUMSIP. 04/DU/BMS/2010Jln. SokarajaTelp. 085726105222 Banyumas , 18 April 2011R/ aminophyline ampul fl no I Pro: AtikUmur : 20 tahunAlamat : Jalan Cirebon Asri 2

10. dr. LitaDOKTER UMUMSIP. 04/DU/BMS/2010Jln. Pabuaran No 2Telp. 02815777963 Banyumas , 18 April 2011R/ Berotec inhaler fl no I Pro: KinantiUmur : 20 tahunAlamat : Jalan Baturaden PurwokertoMeterered dose inhaler (MDI)

KESIMPULAN

1. Obat anti tuberkulosis (OAT) merupakan suatu obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit tuberkulosis. 2. Tujuan pemberian obat anti tuberkulosis adalah untuk menyembuhkan pasien TB, mencegah kematian atau bahaya lanjutan, mencegah kekambuhan, dan mencegah penularan tuberkulosis terhadap orang lain3. Pemberian obat OAT dibagi berdasarkan kategori penyakitnya.4. OAT dibagi 2 jenis, OAT KDT dan OAT Kombipak.5. Obat Asma adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gejala asma. Dibagi dua jenis, obat pelega dan obat pengontrol.

DAFTAR PUSTAKABoushey, Homer A. 2002. Obat yang Digunakan Pada Asma dalam Farmakologi Dasar & Klinik. Jakarta: EGC.Chambers, Henry F. 2002. Obat Antimikobakterium dalam Farmakologi Dasar & Klinik. Jakarta: EGC.Chumaeroh, Siti. 2007. Drug Related Program pada Pengobatan Asma Bronkial di Instalasi Rawat Inap RSUD DR. Moewardi Surakarta Tahun 2007. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.Cornwall, Janet. 1997. Tuberculosis: A Clinical Problem of International Importance. The Lancet, Hal. 660.Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2. Jakarta: DEPKES RIDEPKES RI. 2009. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Jakarta : DEPKES RIDinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. 2006. Informasi obat anti tuberkulosis. Available from URL:http://www.diskes.jabarprov.go.id/index.php?mod=pubInformasiObat&idMenuKiri=45&idSelected=1&idObat=52&page=3Gale Group. 2008. Gale Encyclopedia of Medicine. The Gale Group, Inc. Hartigan, Kenneth. 1990. Rifampicin. Diakses pada 12 April 2011. Available at http://www.inchem.org/documents/pims/pharm/rifam.htmIstiantoro,Yati H.dan Rianto S. 2009. Tuberkulostatik dan Leprostatik. Farmakologi dan Terapi Edisi V. Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI.Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 364/MENKES/SK/V/2009 Tentang Penanggulangan Tuberkulosis (TB). Louisa, Melva dan Dewoto, Hedi R. 2009. Perangsang Susunan Saraf Pusat. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Teraupetik FK UI.Nurhayati Herman, Tjandra Yoga Aditama dan Mukhtar Iksan. 2008. Perbandingan Hasil Akhir Pengobatan Obat Anti Tuberculosis Kombinasi Dosis Tetap (KDT) Dengan Kombipak pada Pengobatan Tuberkulosis Paru Dengan Strategi DOTS di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, Pulogadung Dan Matraman, Jakarta Timur. Jurnal Respiratory, vol 28 no. 3PDPI. 2002. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta.Setiabudi, Riyanto dkk. 2007. Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI; Hal. 613-620.Setiawati, Arini. Gan, Sulistia. 2009. Obat Adregenik dalam Farmakologi dan Terapi Edisi V. Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Soehardiman, Dicky, Priyanti Z. Soepandi,dan M. Arifin Nawas. 2008. Perbandingan Hasil Akhir Pengobatan OAT Kombinasi Dosis Tetap (KDT) dengan Kombipak pada Pengobatan TB Paru Dengan Strategi DOTS di RS Persahabatan Jakarta. Jurnal Respiratory, vol 28 no.3 Supriyaningsih, Dewi Supriyaningsih. 2005. Perbedaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Kombipak Dan Fdc Terhadap Hasil Pengobatan Penderita Tb-Paru Bta Positif. Universitas Diponegoro. WHO. 2003. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. 3 rd edition. Geneva: WHO; Hal.28-35