laporan penelitian - usm

of 68 /68
i LAPORAN PENELITIAN ASPEK HUKUM KONTRAK BAGI HASIL (PRODUCTION SHARING CONTRACT) DALAM KAITANNYA DENGAN INVESTASI PERTAMBANGAN MIGAS Oleh : 1. Dewi Tuti Muryati, S.H., M.H. NIS 06557003801003 (Ketua Tim Pengusul) 2. Dr. Bambang Sadono, S.H., M.H. NIS 06557003801022 (Anggota Tim Pengusul) 3. Doddy Kridasaksana, S.H., M.Hum. NIS 06557003801021 (Anggota Tim Pengusul) Proyek Penelitian ini dibiayai oleh Universitas Semarang dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Dosen Universitas Semarang Nomor : 420/USM.H8/L/2012 YAYASAN ALUMNI UNIVERSITAS DIPONEGORO FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEMARANG 2013

Author: others

Post on 16-Oct-2021

0 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

DALAM KAITANNYA DENGAN INVESTASI PERTAMBANGAN MIGAS
Oleh : 1. Dewi Tuti Muryati, S.H., M.H.
NIS 06557003801003 (Ketua Tim Pengusul) 2. Dr. Bambang Sadono, S.H., M.H.
NIS 06557003801022 (Anggota Tim Pengusul) 3. Doddy Kridasaksana, S.H., M.Hum.
NIS 06557003801021 (Anggota Tim Pengusul)
Proyek Penelitian ini dibiayai oleh Universitas Semarang dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Dosen Universitas Semarang Nomor :
420/USM.H8/L/2012
UNIVERSITAS SEMARANG 2013
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN PENELITIAN
1. a. Judul Penelitian : Aspek Hukum Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) dalam Kaitannya dengan Investasi
Pertambangan Migas b. Bidang Ilmu : Ilmu Hukum 2. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Dewi Tuti Muryati, SH. M.H. b. Jenis Kelamin : Perempuan c. NIS : 06557003801003 d. Disiplin Ilmu : Hukum e. Pangkat/Golongan : Penata/IIIc f. Jabatan : Lektor g. Fakultas/ Jurusan : Hukum/ Ilmu Hukum h. Alamat : Jl. Soekarno-Hatta, Tlogosari Semarang i. Telpon/Faks/E-mail : (024) 6702757; [email protected] j. Alamat Rumah : Jl. Gombel Permai XV/456 Semarang k. Telpon/Faks/E-mail : 081805824489
3. Lama Penelitian : 3 (tiga) bulan 4. Jumlah Anggota Peneliti : 2 orang a. Nama Anggota I : Dr. Bambang Sadono, SH.MH. b. Nama Anggota II : Doddy Kridasaksana, SH.,MHum. 5. Jumlah biaya yang diusulkan : Rp. 2.500.000,- 6. Sumber Biaya : Universitas Semarang
Semarang, Pebruari 2013
Mengetahui : Dekan Fakultas Hukum, Ketua Tim Peneliti,
B. Rini Heryanti, SH. M.H. Dewi Tuti Muryati, SH. M.H. NIS : 06557003801005 NIS : 06557003801003
Mengetahui, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Dr. Wyati Saddewisasi, SE.Msi. NIS : 06557000504065
iii
HALAMAN PENGESAHAN REVIEWER
1. (a) Judul Penelitian : Aspek Hukum Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) dalam Kaitannya dengan Investasi Pertambangan Migas
(b) Bidang Ilmu : Ilmu Hukum 1. Ketua Peneliti
(a) Nama : Dewi Tuti Muryati, SH. M.H. (b) Jenis Kelamin : Perempuan (c) NIS : 06557003801003 (d) Pangkat/ Gol. : Penata/ III-C (e) Jabatan Fungsional : Lektor (f) Fakultas/ Jurusan : Hukum/ Ilmu Hukum (g) Perguruan Tinggi : Universitas Semarang
3. Susunan Tim Peneliti Anggota : 2 (dua) orang
4. Lama Penelitian : 3 (tiga) bulan
Telah diperbaiki sesuai dengan hasil review dalam seminar hasil penelitian pada tanggal 12 Pebruari 2013
Semarang, Pebruari 2013
Prof Abdullah Kelib,S.H. Dewi Tuti Muryati, SH.MH. NIS. 06557003801027 NIS. 06557003801003
Reviewer II,
iv
Judul : Aspek Hukum Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing
Contract) dalam Kaitannya dengan Investasi Petambangan
Migas.
2. Dr. Bambang Sadono,SH.MH. (Anggota Peneliti)
3. Doddy Kridasaksana, SH.,MHum. (Anggota Peneliti)
Unit : Fakultas Hukum
mestinya.
Nama : 1. Dewi Tuti Muryati, S.H., M.H.
2. Dr. Bambang Sadono, S.H., M.H.
3. Doddy Kridasaksana, S.H., M.Hum.
menyatakan bahwa :
Penelitian yang kami lakukan dengan judul : “Aspek Hukum Kontrak Bagi
Hasil (Production Sharing Contract) dalam Kaitannya dengan Investasi
Pertambangan Migas” , adalah karya yang tidak pernah diajukan untuk
kepentingan penelitian Dosen, dan sepanjang pengetahuan kami juga tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain,
kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar
pustaka. Kami bertanggung jawab sepenuhnya terhadap orisinalitas isi penelitian
ini.
vi
RINGKASAN
Minyak dan gas bumi (migas) merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan yang dikuasai oleh negara serta merupakan komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dan mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional sehingga harus dikelola secara maksimal untuk memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Salah satu sistem kontrak yang dipergunakan dalam pertambangan migas adalah Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract), yaitu kerjasama antara badan pelaksana dengan badan usaha atau badan usaha tetap untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di bidang minyak dan gas bumi dengan prinsip bagi hasil.
Penelitian ini mengkaji mengenai perkembangan pengaturan kegiatan usaha pertambangan minyak dan gas bumi di Indonesia, menganalisis prosedur terjadinya kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract) pada pertambangan minyak dan gas bumi serta mengkaji mekanisme penyelesaian sengketa dalam bidang pertambangan minyak dan gas bumi dengan sistem kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract).
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif atau penelitian kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan dari buku, makalah, jurnal, internet, peraturan perundang-undangan dan hasil tulisan ilmiah lainnya yang erat kaitannya dengan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) pada kegiatan usaha pertambangan minyak dan gas bumi. Dengan demikian penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek hukum Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) dalam kaitannya dengan investasi pertambangan minyak dan gas bumi.
Bahwa pengaturan kegiatan usaha pertambangan minyak dan gas bumi di Indoensia mengalami beberapa kali perubahan sejak penjajahan Belanda sampai sekarang yang terakhir dengan dialihkannya BP Migas kepada SKSP Migas berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2012 tentang Pengalihan Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, yang kemudian diikuti penerbitan Keputusan Menteri ESDM Nomor 3135 Th. 2012 tentang Pengalihan Tugas, Fungsi dan Organisasi dalam Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 3135 Tahun 2012.
Adapun pengaturan dan prosedur Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) sudah ditentukan sepihak oleh pemerintah, dalam hal ini adalah badan pelaksana yaitu kementerian terkait dan para pihaknya adalah pemerintah dengan badan usaha atau bentuk usaha tetap dan untuk penyelesaian sengketa dalam Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) tidak diatur secara rinci dalam UU No. 22 Th. 2001 maupun dalam PP No. 35 Th. 2004 tetapi didasarkan pada kesepakatan para pihak yang dituangkan dalam kontrak.
Di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dan PP No. 35 Th. 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, tidak ditemukan pasal yang mengatur tentang penyelesaian sengketa apabila terjadi sengketa anatar BP Migas dengan badan usaha dan/atau bentuk
vii
usaha tetap terhadap substansi kontrak bagi hasil (production sharing contract). Dalam prakteknya klausula penyelesaian sengketa dituangkan dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract) atas dasar kesepakatan para pihak. Berdasarkan UU No. 22 Th. 2001, para pihak di dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract), adalah BP Migas dengan badan usaha dan/ atau bentuk usaha tetap. Apabila terjadi sengketa antara BP Migas dengan badan usaha, maka hukum yang digunakan adalah hukum Indonesia karena kedua belah pihak merupakan badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan mereka tunduk kepada hukum Indonesia.
Akan tetapi, apabila terjadi sengketa antara bentuk usaha tetap dengan BP Migas, para pihak menggunakan aturan dalam International Chamber of Commerce (ICC) karena bentuk usaha tetap merupakan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia (dalam kontrak terdapat unsur asing). Dari mekanisme penyelesaian sengketa yang digunakan oleh para pihak dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract) untuk kegiatan usaha pertambangan minyak dan gas bumi, yaitu konsultasi dan arbitrase maka dapat diketahui bahwa mekanisme penyelesaian sengketa tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Teori lex loci contractus lebih sesuai apabila digunakan untuk menyelesaikan sengketa antara BP Migas dengan Bentuk Usaha Tetap.
viii
SUMMARY
Oil and earth gas constituting strategic natural resources is not renewable that henpecked by state and constitutes vital's trade goods that gain control multitude life intention and has essential role in national economics so has to be brought off by ala maximaling to give prosperity and people welfare. One of contract system that is used in mining oil and earth gas is Production Sharing Contract , which is collaboration among warms up executor by warm up effort or effort body make a abode to do exploration and exploitation activity at oil area and earth gas with production sharing principle.
This research analyzing hits business activity arrangement developing oil mining and earth gas at Indonesian, analyzing procedures its happening Production Sharing Contract on oil mining and earth gas and analyzing is dispute working out mechanism in oil mining area and earth gas with system Production Sharing Contract.
Observational method that is utilized is observational jurisdictional normatif or bibliography research, which is with gather materials of books, therefore, journal, Internet, legislation regulation and another scientific writing result one hand in glove bearing it by Production Sharing Contract on oil mining business activity and earth gas. This observational thus is subject to be know law aspect Production Sharing Contract in its bearing with oil mining investment and earth gas.
That mining business activity arrangement oil and earth gas at Indoensia experiences several times change since Dutch colonization thus far the latest with be shifted BP Migas to SKSP Migas bases Number President regulation 95 Years 2012 about Task Performing Shifts and Upstream business activity Functions Oil and Earth Gases, are next to be followed Minister decision publication ESDM Number 3135 Yr. 2012 about Task Shifts, Function and Organization in Upstream business activity Performing Oil and Earth Gas and ESDM'S Minister decision Number 3135 Years 2012.
There is arrangement even and Production Sharing Contract was determined unilateral by commanding, in this case is warm up executor which is ministry concerning and its the parties is commanding with effort body or effort form makes a abode and for dispute working out in Production Sharing Contract unsystematized rinci's ala in UU No. 22 Yr. 2001 and also deep PP No. 35 Yr. 2004 but are gone upon on the parties deal that is poured in contract.
In Number Law 22 Years 2001 about Oil and Earth Gas and PP No. 35 Yr. 2004 about Oil Upstream business activities and Earth Gases, undiscovered section which manage about dispute working out if amang BP Migas's dispute happening by warms up effort and / or effort form make a abode for substansi to production sharing contract. In practice it defines a clause dispute working out be poured in production sharing contract on a basic the parties deal. Base UU No. 22 Yr. 2001, the parties in production sharing contract, is BP Migas by warms up effort and / or effort form make a abode. If dispute happening among BP Migas by warms up effort, therefore law which is utilized is jurisdictional Indonesian because both of cleft party to constitute found legal body to the law Indonesia and they subject to sentence Indonesia.
ix
But then, if dispute happening among shaped effort makes a abode with BP Migas, the parties utilizes order in International Chamber of Commerce (ICC) since effort form makes a abode to constitute operating intern firm at Indonesia (in contract exists intern element). Of dispute working out mechanism that utilized by the parties in contracts production sharing( production sharing contract ) for oil mining business activity and earth gas, which is consultation and arbitrage therefore gets to be known that that dispute working out mechanism refers on Number Law 30 Years 1999 about Arbitrage and dispute Working Out Alternatives. Lex loci contractus theory more appropriate if is utilized to solve dispute among BP Migas by Forms Regular Effort.
x
berkenan melimpahkan rahmatNya sehingga penelitian ini dapat selesai
dengan baik dan tepat waktu. Laporan hasil penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat bagi para pembaca guna menambah wacana mengenai Aspek
Hukum Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) dalam Kaitannya
dengan Investasi Pertambangan.
dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung, maka
pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. H. Pahlawansjah Harahap, SE. ME., Rektor Universitas
Semarang yang telah berkenanmemberikan kepercayaan kepada
peneliti untuk melakukan penelitian.
Pengabdian Masyarakat Universitas Semarang yang telah menyeleksi
dan menerima usulan penelitian ini.
3. B. Rini Heryanti, SH. MH., Dekan Fakultas Hukum Universitas
Semarang yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan
kepada peneliti untuk melakukan penelitian.
4. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah
mendukung selesainya penelitian ini.
Seiring doa dan terima kasih, semoga amal Bapak/ Ibu deberkati oleh
Allah SWT. Peneliti sadar bahwa kesempurnaan belum sepenuhnya
terwujud dalam penelitian ini, oleh karena itu kritik dan saran sangat
penulis harapkan dari semua pihak.
Semarang, Pebruari 2013
LEMBAR PENGESAHAN REVIEWER …………………………. iii
DOKUMENTASI UPT PERPUSTAKAAN ................................. ..... iv
1. Penguasaan Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi ……………………………………………… 6
4. Penyelesaian Sengketa ………………………….. 13
1. Metode Pendekatan ............................................. 18
2. Spesifikasi Penelitian ........................................... 18
xii
5. Analisis Data ....................................................... 20
A. Perkembangan Pengaturan Kegiatan Usaha
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi ................. 21
B. Prosedur Terjadinya Kontrak Bagi Hasil
(Production Sharing Contract) ........................... 30
Sharing Contract) dalam Kegiatan Industri
Minyak dan Gas Bumi .................................... 30
b. Ketentuan Penyusunan Kontrak Bagi Hasil
(Production Sharing Contract) dalam Kegiatan
Usaha Minyak dan Gas Bumi ......................... 35
C. Mekanisme Penyelesaian Sengketa dalam Bidang
Pertambangan Migas dengan Sistem Kontrak Bagi
Hasil (Production Sharing Contract) ................... 42
BAB V PENUTUP ........................................................................ 47
BAB I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
berkembang seperti Indonesia adalah diperuntukkan bagi pengembangan usaha
dan menggali potensi menjadi kekuatan ekonomi riil dengan memanfaatkan
potensi-potensi modal, skill atau managerial, dan teknologi yang dibawa serta
para investor asing untuk akselerasi pembangunan ekonomi negara berkembang
sepanjang tidak mengakibatkan ketergantungan yang terus-menerus serta tidak
merugikan kepentingan nasional. 1
Jujur harus diakui bahwa sampai saat ini, Indonesia masih memerlukan
adanya transfer of technology dan transfer of skill yang hanya dapat dicapai
melalui masuknya modal asing ke Indonesia. Keadaan ini diakui sepenuhnya oleh
pemerintah, sehingga dalam PROPENAS memberikan arahan bahwa
pembangunan nasional harus dilaksanakan berdasarkan asas kemandirian, yaitu
diusahakan dari kamampuan sendiri. Sumber dana dari luar negeri yang masih
diperlukan merupakan pelengkap dengan prinsip peningkatan kemandirian dalam
pelaksanaan pembangunan dan mencegah keterikatan serta campur tangan asing. 2
Dengan diijinkannya modal asing masuk ke Indonesia, maka selain
bersifat komplementer terhadap faktor-faktor produksi dalam negeri, penanaman
modal asing harus diarahkan menurut bidang-bidang yang telah ditetapkan
prioritasnya oleh pemerintah. Prioritas yang telah ditetapkan itu antara lain untuk
sektor-sektor : 3
1. Usaha yang membutuhkan modal swasta yang sangat besar dan/ atau teknologi tinggi;
2. Usaha-usaha yang mengelola bahan baku menjadi bahan jadi; 3. Usaha pendirian industri besar; 4. Usaha yang sifatnya menciptakan lapangan kerja; 5. Usaha yang menunjang peningkatan penerimaan negara;
1 Rosyidah Rakhmawati, Hukum Penanaman Modal di Indonesia dalam Menghadapi Era Global, (Malang : Bayumedia, Publising, 2003), hlm. 8. 2 Jusri Djamal, Aspek-Aspek Hukum Masalah Penanaman Modal, (Jakarta : BKPM, 1981), hlm. 2. 3 Sumantoro, Aspek-Aspek Pengembangan Dunia Usaha Indonesia, (Bandung : Bina Cipta, 1977), hlm. 18.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 2
6. Usaha yang menjunjung penghematan devisa; 7. Usaha yang menunjang penyebaran pembangunan daerah.
Untuk menunjang penanaman modal di Indonesia maka pemerintah harus
menciptakan iklim investasi yang baik. Penanaman modal merupakan instrumen
penting bagi pembangunan nasional dan diharapkan dapat menciptakan kepastian
berusaha bagi para penanam modal dalam dan luar negeri untuk meningkatkan
dan melanjutkan komitmennya berinvestasi di Indonesia.4 Partisipasi masyarakat
dan aparatur pemerintah sangat diperlukan dalam menarik investor yaitu dengan
cara menciptakan iklim yang kondusif untuk menanamkan modalnya.
Pertambangan merupakan salah satu bidang dalam investasi yang diatur
dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 setelah amandemen
yang isinya menyebutkan : “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat”.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan galian (tambang) yang
meliputi emas, perak, tembaga, minyak, gas bumi, batubara, dan lain-lain. Bahan
galian tersebut dikuasai oleh negara. Menurut Bagir Manan, pengertian dikuasai
oleh negara atau Hak Penguasaan Negara (HPN) adalah sebagai berikut :5
1. Penguasaan semacam pemilikan negara, artinya negara melalui pemerintah adalah satu-satunya pemegang wewenang untuk menentukan hak, wewenang atasnya termasuk disini bumi, air, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya;
2. Mengatur dan mengawasi penggunaan dan pemanfaatannya; 3. Penyertaan modal dan dalam bentuk perusahaan negara untuk usaha-usaha
tertentu.
melaksanakan sendiri dan/ atau menunjuk kontraktor apabila diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan
sendiri oleh instansi pemerintah. Apabila usaha pertambangan dilaksanakan oleh
kontraktor, maka kedudukan pemerintah adalah memberikan izin kepada
kontraktor yang bersangkutan. Izin yang diberikan oleh pemerintah berupa kuasa
4 www.scribd.com, Arbitrase sebagai Penyelesaian Sengketa dalam Penanaman Modal Asing, diakses tanggal 3 September 2012. 5 Abrar Saleng, Hukum Pertambangan, (Yogyakarta : UII Press, 2004), hlm. 18.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 3
pertambangan, kontrak karya, perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batubara, dan Kontrak Bagi Hasil (production sharing contract). 6
Dalam bidang pertambangan minyak dan gas bumi, sistem kontrak yang
digunakan adalah Kontrak Bagi Hasil (production sharing contract). Menurut
sejarahnya, ada tiga sistem kontrak yang pernah berlaku pada pertambangan
minyak dan gas bumi, yaitu sistem konsesi, perjanjian karya, dan kontrak bagi
hasil (production sharing contract).7
1. Sistem konsesi berlaku pada zaman Pemerintah Hindia Belanda, dari tahun 1910 sampai dengan tahun 1960. Hak-hak yang dinikmati pemegang konsesi adalah kuasa pertambangan dan hak atas tanah.
2. Perjanjian karya mulai berlaku pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1963. Dalam sistem ini, perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi hanya diberi hak kuasa pertambangan saja, tidak meliputi hak atas tanah. Demikian pula sebaliknya, pemegang hak atas tanah wajib mengizinkan pemegang kuasa pertambangan untuk melaksanakan tugas yang bersangkutan dengan tanah miliknya dengan menerima ganti kerugian.
3. Kontrak Bagi Hasil (production sharing contract) mulai berlaku tahun 1964 sampai sekarang. Prinsip yang diatur dalam kontrak ini adalah pembagian hasil minyak dan gas bumi antara badan pelaksana dengan badan usaha atau bentuk usaha tetap sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Dengan keluarnya Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2012 tentang Pengalihan Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, maka tugas dan fungsi BPMigas beralih kepada Satuan Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKSPK) yang bertanggung jawab kepada Menteri ESDM.
Dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract) dimungkinkan
timbul perselisihan antara BPMigas yang telah digantikan oleh Satuan Kerja
Sementara Pelaksana Kegiatan dengan kontraktor dalam hal kontraktor tidak
dapat melaksanakan prestasinya dengan baik sesuai dengan substansi kontrak bagi
hasil (production sharing contract) yang dibuat oleh para pihak. Di dalam
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi tidak
ditemukan pasal yang mengatur tentang penyelesaian sengketa, jika terjadi
sengketa antara Badan Pelaksana yang telah digantikan oleh Satuan Kerja
Sementara Pelaksana Kegiatan dengan Badan Usaha terhadap substansi kontrak
6 H. Salim HS., Hukum Pertambangan di Indonesia, Revisi III, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 1-2. 7 Ibid, hlm. 4-5.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 4
bagi hasil (production sharing contract). Pada umumnya penyelesaian sengketa
telah ditentukan dan dituangkan dalam kontrak bagi hasil (production sharing
contract) yang dibuat oleh para pihak.
Keberadaan perusahaan tambang di Indonesia kini banyak dipersoalkan
oleh berbagai kalangan. Hal tersebut disebabkan keberadaan perusahaan tambang
itu telah menimbulkan dampak negatif di dalam pengusahaan bahan galian.
Dampak negatif dari keberadaan perusahaan tambang meliputi : 8
1. Rusaknya hutan yang berada di daerah lingkar tambang; 2. Tercemarnya laut; 3. Terjangkitnya penyakit bagi masyarakat yang bermukim di daerah lingkar
tambang; 4. Konflik antara masyarakat lingkar tambang dengan perusahaan tambang.
Walaupun keberadaan perusahaan tambang menimbulkan dampak negatif,
namun keberadaan perusahaan tambang juga memberikan dampak positif dalam
pembangunan nasional. Dampak positif dari keberadaan perusahaan tambang
adalah :9
3. Menampung tenaga kerja;
yang bermukim di lingkar tambang.
Oleh karena itu, kontrak bagi hasil (production sharing contract) yang
dibuat dalam rangka investasi pertambangan tetap harus dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam rangka memberikan
nilai tambah bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.10
8 Ibid, hlm. 5-6 9 Ibid, hlm. 6. 10 Menimbang huruf (a) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 5
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka perlu dilakukan suatu kajian
terhadap Aspek Hukum Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract)
Dalam Kaitannya Dengan Investasi Pertambangan Migas. Berdasarkan uraian
sebelumnya, maka dapat dikemukakan permasalahan yang akan dikaji dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah perkembangan pengaturan kegiatan usaha pertambangan migas
di Indonesia ?
contract) pada pertambangan migas ?
migas dengan sistem kontrak bagi hasil (production sharing contract) ?
3. Tujuan Penelitian
tentang aspek hukum kontrak bagi hasil (production sharing contract) dalam
kaitannya dengan investasi pertambangan migas, sedangkan secara khusus tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis perkembangan pengaturan kegiatan usaha pertambangan
migas di Indonesia;
2. Untuk mengetahui prosedur terjadinya kontrak bagi hasil (production sharing
contract) pada pertambangan migas; dan
3. Untuk mengetahui mekanisme penyelesaian sengketa dalam bidang
pertambangan migas dengan sistem kontrak bagi hasil (production sharing
contract).
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Minyak dan gas bumi dikuasai oleh negara. Tujuan penguasaan oleh
negara adalah agar kekayaan nasional tersebut dapat dimanfaatkan untuk sebesar-
besarnya kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Hal ini sesuai dengan ketentuan
dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) setelah
amandemen yang menegaskan bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi
negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
Demikian pula bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat.
Mengingat minyak dan gas bumi merupakan sumber daya alam strategis
tak terbarukan yang dikuasai negara dan merupakan komoditas vital yang
memegang peranan penting dalam penyediaan bahan baku industri, pemenuhan
kebutuhan energi di dalam negeri, dan penghasil devisa negara yang penting,
maka pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin agar dapat
dimanfaatkan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Dengan
demikian, baik perseorangan, masyarakat maupun pelaku usaha, sekalipun
memiliki hak atas sebidang tanah di permukaan, tidak mempunyai hak menguasai
ataupun memiliki minyak dan gas bumi yang terkandung di bawahnya.
Dalam konteks hak menguasai negara bidang pertambangan minyak dan
gas bumi sebagaimana dimaksud Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945
setelah amandeman, tidak ada ketentuan dalam perundang-undangan, baik
Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan
Gas Bumi, maupun Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001, yang menjelaskan
tentang pengertian dan ruang lingkup maksud hak menguasai negara. Pengertian
hak menguasai negara ditemukan dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA),
memberikan makna “hak menguasai dari negara”, yaitu wewenang untuk :11
11 Bagir Manan, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, (Yogyakarta : Pusat Studi Hukum Fak. Hukum UII, 2002), hlm. 231.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 7
a. Mengatur dan menyelenggarakan perubahan, penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa;
b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa;
c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum mengenai bumi, air, dan ruang angkasa.
Rumusan hak menguasai negara yang lebih mencerminkan kedaulatan
negara atas penguasaan bahan-bahan tambang, menurut Nandang Sudrajat
minimal harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :12
a. Unsur pengendalian negara terhadap arah, kebijakan, dan peruntukan atau pemanfaatannya;
b. Unsur pengaturan negara; c. Unsur otoritas negara; d. Unsur perlindungan negara.
Dengan demikian perumusan makna hak menguasai negara atas bahan
tambang yang terdapat dalam wilayah hukum Indonesia adalah :
“Hak dan kewenangan negara dalam mengendalikan, mengatur, dan mengambil manfaat dan hasil atas pengelolaan dan pengusahaan bahan tambang yang dalam pelaksanaannya harus lebih mengutamakan kebutuhan dan kepentingan nasional, dalam rangka menjaga stabilitas pertahanan, keamanan, dan ketahanan ekonomi negara yang didistribusikan secara adil dan proporsional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.13
Penguasaan oleh negara diselenggarakan oleh pemerintah sebagai
pemegang kuasa pertambangan. Kuasa pertambangan adalah wewenang yang
diberikan negara kepada pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan eksplorasi
dan eksploitasi.14
b. Menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan minyak dan gas bumi;dan
c. Menentukan tempat wilayah kerja.
Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk :
12 Nandang Sudrajat, Teori dan Praktik Pertambangan Indonesia Menurut Hukum, (Jakarta : Pustaka Yustisia, 2010), hlm. 23-24. 13 Ibid, hlm. 25. 14 Ibid, hlm. 284.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 8
a. Menghasilkan minyak dan gas bumi;
b. Menentukan tempat wilayah kerja, yang terdiri dari :
1) Pengeboran dan penyelesaian sumur;
2) Pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan;
3) Pemisahan dan pemurnian minyak dan gas bumi di lapangan serta kegiatan
lain yang mendukungnya.
Istilah minyak bumi berasal dari terjemahan bahasa Inggris, yaitu crude
oil, sedangkan istilah gas bumi berasal dari terjemahan bahasa Inggris, yaitu
natural gas. Pengertian minyak bumi kita temukan dalam Pasal 3 huruf i The
Petrolium Tax Code, 1997 negara India dengan rumusan sebagai berikut :
“Petroleum” means crude oil existing in its natural conditian i.e. all kinds of hydrocarbons and bitumens, both in solid and in liquid form, in their natural state or obtained from Natural Gas by condensation or extraction, including distillate and condensate (when commingled with the heavier hydrocarbons and delevered as ablend at the delivery point) but excluding Natural Gas”.
Petroleum berarti minyak mentah yang keberadaannya dalam bentuk
kondisi alami, seperti semua jenis hidrokarbon, bitumen, keduanya baik dalam
bentuk padat dan cair, yang diperoleh dengan cara kondensasi (pengembunan)
atau digali, termasuk di dalamnya dengan cara distilasi (sulingan/ saringan) dan
kondensasi (bilamana berkaitan dengan hidrokarbon yang sangat berat yang
direktori sebagai bentuk campuran), tetapi tidak termasuk gas alam.
Dalam definisi ini, tidak hanya menjelaskan tentang pengertian petroleum,
tetapi juga tentang bentuknya, jenisnya dan cara memperolehnya. Petroleum
dalam definisi ini dikonstruksikan sebagai minyak mentah berbentuk benda padat
dan cair berupa hidrokarbon dan bitumen, cara memperolehnya dapat dengan
kondensasi (pengembunan), digali, dan disuling. Lebih lanjut untuk memahami
pengertian minyak bumi lebih lengkap dapat dibaca dalam Pasal 1 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 sebagai berikut :
“Minyak bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa cair atau padat,
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 9
termasuk aspal, lilin mineral atau ozokerit, dan bitumen yang diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk batu bara atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha minyak dan gas bumi”
Lebih lanjut pengertian gas bumi terdapat dalam Pasal 3 huruf g The
Petroleum Tax Code, 1997 negara India, dengan rumusan sebagai berikut :
“Natural gas means wet gas, dry gas, all other gaseous hydrocarbons, and all substances contained therein, including sulphur, carbon dioxide, nitrogen and helium, which are produced from oil or gas wells, excluding liquid hydrocarbons that are condensed or extractedfrom gas and are liquid at normal temperature and pressure coditions, but including the residue gas remaining after the condensation or extraction of liquid hydrocarbons from gas”.
Gas alam berarti gas cair, gas kering, dan gas-gas hidrokarbon lainnya dan
seluruh senyawa yang terdapat di dalamnya, termasuk belerang, karbondioksida,
nitrogen dan helium yang diproduksi dari sumur minyak atau sumur gas, tidak
termasuk hidrokarbon cair, yang dikondensasi atau diekstrak dari gas dan
dicairkan pada suhu normal dan kondisi tekanan, tetapi termasuk residu gas yang
tersisa setelah proses kondensasi atau diekstraksi hidrokarbon cair dari gas.
Dengan demikian pasal 3 huruf g tersebut memberikan pengertian gas alam secara
luas, yang meliputi unsur-unsur gas alam dan proses produksinya yang dilakukan
dengan kondensasi dan ekstrak.
Lebih lanjut, pengertian gas bumi juga dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 sebagai berikut :
“gas bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari proses penambangan minyak dan gas bumi”.
Dengan demikian unsur utama minyak dan gas bumi adalah hidrokarbon,
yang berupa senyawa-senyawa organik di mana setiap molekulnya hanya
mempunyai unsur karbon dan hidrogen saja. Karbon adalah unsur bukan logam
yang banyak terdapat di alam, sedangkan hidrogen adalah gas tak berwarna, tak
berbau, tak ada rasanya, menyesakkan, tetapi tidak bersifat racun, dijumpai di
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 10
alam dalam senyawa dengan oksigen. 15 Lebih lanjut, hidrokarbon dapat
digolongkan menjadi lima macam, yaitu : 16(a) parafin; (b) naften; (c) aromat; (d)
monoolefin; (e) diolefin
Dengan kata lain, bahwa minyak dan gas bumi sebagian besar terdiri dari
campuran karbon dan hidrogen sehingga disebut dengan hidrokarbon yang
terbentuk melalui siklus alami dan dimulai dengan sedimentasi sisa-sisa tumbuhan
dan hewan yang terperangkap selama jutaan tahun yang umumnya terjadi jauh di
bawah dasar lautan dan menjadi minyak dan gas akibat pengaruh kombinasi
antara tekanan dan temperatur yang dalam kerak bumi akhirnya berkumpul
membentuk resevoir-reservoir minyak dan gas bumi.
3. Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract)
Kontrak (contract, contracten) disebut juga perjanjian. Namun menurut
Subekti, pengertian kontrak lebih sempit dari perjanjian karena kontrak
mensyaratkan bentuknya selalu tertulis, sedangkan perjanjian bentuknya selain
tertulis dapat dilakukan secara lisan. Oleh karena itu, hukum kontrak merupakan
spesies dari hukum perjanjian.
Pada dasarnya, kontrak kerja sama di bidang pertambangan minyak dan
gas bumi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : 17
a. Kontrak bagi hasil (production sharing contract); b. Bentuk kerja sama lainnya;
Di dalam praktiknya, bentuk kerja sama lain antara Pertamina dengan
perusahaan swasta dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu :
1) Perjanjian karya, yaitu suatu kerja sama antara Pertamina dan perusahaan swasta pemegang konsesi dalam rangka eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi;
2) Technical assistance contract (perjanjian bantuan teknik), yaitu kerja sama antara Pertamina dan perusahaan swasta dalam rangka merehabilitasi sumur-sumur atau lapangan minyak yang ditinggalkan dalam kuasa pertambangan Pertamina;
15 Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989, hlm. 305dan 391. 16 Harjono A, Teknologi Minyak Bumi, (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2001), hlm. 12-15. 17 H. Salim HS, Ibid, hlm. 316-317
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 11
3) Enhanced oil recovery contract (EOR), yaitu suatu kerja sama antara Pertamina dan perusahaan swasta dalam rangka meningkatkan produksi minyak pada sumur dan lapangan minyak yang masih dioperasikan Pertamina dan sudah mengalami penurunan produksi dengan menggunakan teknologi tinggi meliputi usaha secondary dan tertiary recovery;
4) Kontrak operasi bersama (KOB), yaitu kerja sama antara Pertamina dan perusahaan swasta dalam rangka eksplorasi dan eksploitasi panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik.
Disamping itu, masih ada kerja sama lainnya yaitu kerja sama di bidang
minyak dan gas hilir. Kerja sama ini dilakukan antara Pertamina dengan
perusahaan swasta. Objek kerja sama di bidang hilir adalah usaha pemurnian dan
pengolahan minyak dan gas bumi. Kontrak bagi hasil (production sharing
contract) merupakan kontrak yang utama. Sementara itu, kontrak lainnya
merupakan pengembangan dari kontrak bagi hasil (production sharing contract).
Kontrak bagi hasil merupakan terjemahan dari istilah production sharing
contract (PSC). Istilah kontrak bagi hasil (production sharing contract)
ditemukan dalam Pasal 12 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang
Pertamina Jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1974 tentang Perubahan Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Pertamina. Sementara itu, dalam Pasal 1
angka 19 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi,
istilah yang digunakan adalah dalam bentuk kontrak kerja sama. Kontrak kerja
sama ini dapat dilakukan dalam bentuk kontrak bagi hasil atau bentuk kerja sama
lainnya.
Pasal 1 angka 19 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001, tidak khusus
menjelaskan pengertian kontrak bagi hasil (production sharing contract), tetapi
difokuskan pada konsep teoritis kerja sama di bidang minyak dan gas bumi yang
dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu kontrak bagi hasil (production sharing
contract) dan kontrak-kontrak lainnya. Pengertian kontrak bagi hasil (production
sharing contract) dapat ditemukan dalam Pasal 1 angka (1) PP Nomor 35 Tahun
1994 tentang Syarat-syarat dan Pedoman Kerja Sama Kontrak Bagi Hasil Minyak
dan Gas Bumi. Kontrak bagi hasil (production sharing contract) adalah :
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 12
“kerja sama antara Pertamina dan kontraktor untuk melaksanakan usaha
eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi berdasarkan prinsip
pembagian hasil produksi”
Kontrak bagi hasil (production sharing contract) merupakan perjanjian
bagi hasil di bidang minyak dan gas bumi. Para pihaknya adalah Pertamina dan
kontraktor. Sementara itu, dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 para
pihaknya adalah Badan Pelaksana Migas yang telah digantikan oleh Satuan Kerja
Sementara Pelaksana Kegiatan dengan badan usaha atau bentuk usaha tetap.
Dengan demikian, definisi ini perlu dilengkapi dan disempurnakan, bahwa
kontrak bagi hasil (production sharing contract) adalah :18
“perjanjian atau kontrak yang dibuat antara badan pelaksana (telah digantikan oleh Satuan Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan) dengan badan usaha dan atau bentuk usaha tetap untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di bidang minyak dan gas bumi dengan prinsip bagi hasil”.
Unsur-unsur yang tercantum dalam definisi ini adalah :
a. Adanya perjanjian atau kontrak;
b. Adanya subjek hukum, yaitu badan pelaksana (telah digantikan oleh Satuan
Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan) dengan badan usaha atau bentuk usaha
tetap;
c. Adanya objek, yaitu eksplorasi minyak dan gas bumi, di mana eksplorasi
bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk
menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan minyak dan gas bumi di
wilayah kerja yang ditentukan, sedangkan eksploitasi bertujuan untuk
menghasilkan minyak dan gas bumi;
d. Kegiatan di bidang minyak dan gas bumi; dan
e. Adanya prinsip bagi hasil.
Prinsip bagi hasil merupakan prinsip yang mengatur pembagian hasil yang
diperoleh dari eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi antara badan
pelaksana dengan badan usaha dan atau badan usaha tetap. Pembagian hasil ini
18 Ibid, hlm. 305.
dirundingkan antara kedua belah pihak dan biasanya dituangkan dalam kontrak
bagi hasil (production sharing contract).
4. Penyelesaian Sengketa
terhadap sesuatu yang bernilai.19
Menurut Ronny Hanitijo, sengketa atau konflik adalah situasi (keadaan) di
mana dua atau lebih pihak-pihak memperjuangkan tujuan mereka masing-masing
yang tidak dapat dipersatukan dan dimana tiap-tiap pihak mencoba meyakinkan
pihak lain mengenai kebenaran masing-masing.20 Menurut Candra Irawan,
sengketa adalah perselisihan atau perbedaan pendapat (persepsi) yang terjadi
antara dua orang atau lebih karena adanya pertentangan kepentingan yang
berdampak pada terganggunya pencapaian tujuan yang diinginkan oleh para
pihak.21
unsur-unsur sebagai berikut :
a. Dalam sengketa selalu melibatkan dua pihak atau lebih;
b. Pihak yang satu menghendaki pihak yang lain untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu;
c. Pihak lain yang diminta untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu itu menolak
untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Sengketa atau konflik muncul apabila ada tuntutan atau permintaan dari
satu pihak sedangkan pihak yang lain menolak tuntutan atau permintaan tersebut.
Tuntutan atau permintaan ini didasarkan adanya hak-hak tertentu. Jika diantara
para pihak tidak ada tuntutan atau permintaan maka tidak akan pernah lahir
19 M. Lawrence Friedman, American Law Introduction, (Jakarta : Tata Nusa, 2001), diterjemahkan oleh Wisnu Basuki, tanpa halaman. 20 Ronny Hanitijo Soemitro, dalam Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Pengadilan & di Luar Pengadilan, (Jakarta : Rajawali Press, 2004) hlm. 2. 21 Candra Irawan, Aspek Hukum dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan (Alternative Dispute Resolution) di Indonesia, (Bandung : Mandar Maju, 2010), hlm. 2.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 14
sengketa atau konflik. Dengan demikian, adanya suatu tuntutan merupakan hal
pokok dalam suatu sengketa atau konflik.
Pola penyelesaian sengketa adalah suatu bentuk atau kerangka untuk
mengakhiri suatu pertikaian atau sengketa yang terjadi antara para pihak. Pola
penyelesaian sengketa dapat dibagi dua macam, yaitu (1) melalui pengadilan; dan
(2) melalui luar pengadilan (arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa atau
Alternative Dispute Resolution/ ADR).
Penyelesaian sengketa melalui pengadilan (litigasi) adalah suatu pola
penyelesaian sengketa yang terjadi antara para pihak yang bersengketa, di mana
dalam penyelesaian sengketa itu diselesaikan oleh pengadilan. Putusannya bersifat
mengikat. Penggunaan sistem litigasi mempunyai keuntungan dan kekurangan
dalam penyelesaian suatu sengketa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
litigasi tidak hanya menyelesaikan sengketa, tetapi lebih dari itu juga, menjamin
suatu bentuk ketertiban umum, yang tertuang dalam undang-undang secara
eksplisit maupun implisit. Disatu sisi sistem litigasi dirasakan kurang efisien baik
dari segi waktu maupun biaya, disamping itu tidak mengupayakan untuk
memperbaiki atau memulihkan hubungan para pihak yang bersengketa dan tidak
cocok untuk sengketa yang bersifat polisentris yaitu sengketa yang melibatkan
banyak pihak, banyak persoalan. Namun demikian dengan adanya Undang-
Undang Kapailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yakni Undang-
Undang Nomor 37 Tahun 2004 dengan kehadiran Pengadilan Niaga, merupakan
media untuk penyelesaian sengketa litigasi bagi para investor yang dirasa lebih
efektif. 22
penyelesaian sengketa /ADR) adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di
luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara
tertulis oleh para pihak yang bersengketa, dan lembaga penyelesaian sengketa atau
beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di
luar pengadilan dengan cara arbitrase, konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi,
22 Anna Rokhmatussa’dyah & Suratman, Hukum Investasi & Pasar Modal, (Jakarta : Sinar Grafika, 2011) hlm. 79.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 15
atau penilaian ahli (Pasal 1 angka 1 dan 10 Undang-Undang Nomor 30 Tahun
1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa).
Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman
Modal, khususnya Pasal 32 diatur mengenai penyelesaian sengketa. Dalam
ketentuan tersebut diuraikan cara penyelesaian sengketa yang digunakan apabila
terjadi sengketa di bidang penanaman modal antara pemerintah dengan penanam
modal. Para pihak terlebih dahulu menyelesaikan sengketa melalui musyawarah
dan mufakat, apabila tidak dicapai kesepakatan dapat ditempuh jalur arbitrase atau
alternatif penyelesaian sengketa/ ADR dan upaya terakhir diselesaikan melalui
pengadilan. Dalam hal sengketa antara Pemerintah dengan penanam modal asing,
para pihak akan menyelesaikan sengketa melalui arbitrase internasional.
Secara umum penyelesaian sengketa di bidang penanaman modal dapat
dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
a. Penyelesaian melalui pengadilan;
c. Penyelesaian melalui cara-cara penyelesaian sengketa alternatif (Alternative
Dispute Resolution).
tampaknya merupakan pilihan yang semakin populer, mengingat cara
penyelesaian melalui arbitrase dipandang relatif lebih praktis, cepat dan murah,
serta tertutup. Cara penyelesaian melalui lembaga arbitrase ini dapat dilakukan
baik melalui arbitrase nasional (BANI) dengan ad hoc maupun institusional dan
arbitrase asing, seperti ICSID (International Center for Settlement of Investment
Disputes) maupun ICC (International Chamber of Commerce). Indonesia sendiri
telah meratifikasi New York Convention on Recognition and Enforcement of
Foreign Arbitral Award of 1958. 23
23 Ida Bagus Rachmadi Supancana, Kerangka Hukum & Kebijakan Investasi Langsung di Indonesia, ( Jakarta : Ghalia Indonesia, 2006), hlm. 87.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 16
5. Investasi (Penanaman Modal)
merupakan istilah yang dikenal dalam kegiatan bisnis sehari-hari maupun dalam
bahasa perundang-undangan. Namun pada dasarnya kedua istilah tersebut
mempunyai pengertian yang sama, sehingga kadangkala digunakan secara
interchangeable.25
Investasi memiliki pengertian yang lebih luas karena dapat mencakup baik
investasi langsung (direct investment) maupun investasi tidak langsung (fortofolio
investment), sedangkan penanaman modal lebih memiliki konotasi kepada
investasi langsung.26
Secara umum investasi atau penanaman modal dapat diartikan sebagai
suatu kegiatan yang dilakukan baik oleh orang pribadi (natural person) maupun
badan hukum (juridical person) dalam upaya untuk meningkatkan dan/ atau
mempertahankan nilai modalnya, baik yang berbentuk uang tunai (cash money),
peralatan (equipment), aset tidak bergerak, hak atas kekayaan intelektual, maupun
keahlian.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik unsur-unsur terpenting dari
kegiatan investasi atau penanaman modal, yaitu :27
a. Adanya motif untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan nilai modalnya;
b. Bahwa “modal” tersebut tidak hanya mencakup hal-hal yang bersifat kasat mata dan dapat diraba (tangible), tetapi juga mencakup sesuatu yang bersifat tidak kasat mata dan tidak dapat diraba (intangible). Intangible mencakup keahlian, pengetahuan jaringan, dan sebagainya yang dalam berbagai kontrak kerja sama (joint venture agreement) biasanya disebut valuable services.
Sementara itu, dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2007 tentang Penanaman Modal disebutkan bahwa penanaman modal diartikan
24 Hasan Shadily, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, (Jakarta : PT Gramedia, 1992), hlm. 330. 25 Ida Bagus Rachmadi Supancana, Kerangka Hukum & Kebijakan Investasi Langsung di Indonesia,(Jakarta : Ghalia Indonesia, 2006), hlm. 1. 26 Dhaniswara K. Haryono, Hukum Penanaman Modal, Tinjauan terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 10. 27 Ida Bagus Rachmadi Supancana, op cit, hlm. 2.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 17
sebagai segala bentuk kegiatan penanaman modal, baik oleh penanam modal
dalam negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah
negara Republik Indonesia. Modal dibutuhkan untuk mengelola sumber daya alam
(natural resource) dan potensi ekonomi (economic potencial) yang berada di
bawah otoritas negara. Adanya pengelolaan secara optimal terhadap sumber daya
alam dan potensi ekonomi yang ada, diharapkan ada nilai tambah tidak saja bagi
negara akan tetapi juga bagi masyarakat pada umumnya.
Investasi di bidang pertambangan minyak dan gas bumi dilakukan baik
oleh badan usaha dan/ atau bentuk usaha tetap dalam negeri maupun asing
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun yang dimaksud
dengan badan usaha adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang
menjalankan jenis usaha bersifat tetap, terus-menerus didirikan sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta bekerja dan berkedudukan dalam wilayah
negara kesatuan RI. Sedangkan bentuk usaha tetap adalah badan usaha yang
didirikan dan berbadan hukum di luar wilayah negara kesatuan Republik
Indonesia yang melakukan kegiatan di wilayah negara kesatuan Republik
Indonesia dan wajib mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Republik Indonesia. 28
Nasional (Multi National Corporation), dan mempunyai jaringan bisnis yang
cukup kuat di berbagai negara. Bagi Indonesia, adanya aliran dana dari investor
asing tersebut dapat memberikan manfaat yang cukup luas berupa penyerapan
tenaga kerja, menciptakan demand bagi produk dalam negeri sebagai bahan baku,
menambah devisa apalagi yang berorientasi ekspor, menambah penghasilan
negara dari sektor pajak, adanya alih teknologi maupun alih pengetahuan. 29
28 H. Salim HS, Ibid, hlm. 338. 29 Sentosa Sembiring, Hukum Investasi, (Bandung : Nuansa Aulia, 2007), hlm. 23.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 18
BAB III. METODE PENELITIAN
Penelitian (research) dapat berarti pencarian kembali yang bernilai
edukatif, yang berawal dari ketidaktahuan dan berakhir pada keraguan dan tahap
selanjutnya berangkat dari keraguan dan berakhir pada suatu hipotesis yaitu
jawaban yang dianggap benar sampai dapat dibuktikan sebaliknya.30 Demikian
pula penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisis
dan konstruksi, yang ditujukan untuk mengungkapkan kebenaran secara
metodologis, sistematis dan konsisten, sebagai sarana pokok dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.31
Metodologi berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu yaitu suatu
cara untuk menemukan jawaban akan sesuatu hal yang sudah tersusun dalam
langkah-langkah tertentu yang sistematis berdasarkan suatu sistem.32
1. Metode Pendekatan
penelitian terhadap data sekunder, sehingga metode pendekatan yang digunakan
adalah metode yuridis normatif. Pendekatan yuridis normatif dilakukan dengan
menginventarisasi peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kontrak bagi hasil
(production sharing contract) dalam pertambangan minyak dan gas bumi,
sehingga ditemukan landasan hukum yang jelas dalam meletakkan persoalan ini
pada perspektif hukum pertambangan.
keadaan atau gejala yang diteliti.33 Spesifikasi deskriptif analitis dalam penelitian
ini karena diharapkan mampu memecahkan masalah dengan cara memaparkan
30 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 19. 31 Ibid, hlm. 27. 32 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), (Jakarta : Rajawali Press, 2003), hlm. 1. 33 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cetakan III, (Jakarta : UI Press, 1986), hlm. 10.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 19
keadaan objek penelitian yang sedang diteliti apa adanya berdasarkan fakta-fakta
yang diperoleh pada saat penelitian dilakukan.34
3. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Data ini merupakan hasil olahan/ tulisan/ penelitian pihak lain. Data sekunder
dalam penelitian ini berupa peraturan-peraturan hukum yang terkait dengan
kontrak bagi hasil (production sharing contract), tulisan ilmiah/ hasil-hasil
penelitian, dll. Data sekunder di bidang hukum meliputi :
a. Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang isinya mempunyai
kekuatan mengikat kepada masyarakat. Bahan hukum primer dalam penelitian
ini antara lain Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 setelah
amandemen, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang Nomor
22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Undang-Undang Nomor 30 Tahun
1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 1974 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1971 tentang Pertamina, Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1994 tentang
Syarat-syarat dan Pedoman Kerja Sama Kontrak Bagi Hasil Minyak dan Gas
bumi, Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha
Hulu Minyak dan Gas Bumi, Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2012
tentang Pengalihan Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kegiatan Usaha Hulu
Minyak dan Gas Bumi, Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Republik Indonesia Nomor 3135 K/08/MEM/2012 tentang Pengalihan Tugas,
Fungsi dan Organisasi dalam Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan
Gas Bumi.
b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang isinya menjelaskan mengenai
bahan hukum primer, yakni hasil karya para ahli hukum berupa buku-buku,
pendapat para sarjana, makalah, artikel, jurnal ilmiah yang berhubungan
dengan kontrak bagi hasil (production sharing contract).
34 Hadari Nawawi, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 1992), hlm. 42.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 20
c. Bahan hukum tersier atau bahan penunjang, yaitu bahan hukum yang
memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer
dan/ atau bahan hukum sekunder yakni, kamus hukum, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, kamus bahasa Inggris, ensiklopedi, Black Law Dictionary.
4. Teknik Pengumpulan Data
pengumpulan data yang dipergunakan adalah studi kepustakaan (library
research), kajian dokumen, dan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang terkait
dengan kontrak bagi hasil (production sharing contract).
5. Analisis Data
yaitu data yang diperoleh kemudian disusun secara sistematis dan selanjutnya
dianalisis secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas
dan hasilnya dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. Metode kualitatif
dilakukan guna mendapatkan data yang bersifat deskriptif analitis, yaitu data-data
yang akan diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 21
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. PERKEMBANGAN PENGATURAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI DI INDONESIA
Pertambangan minyak dan gas bumi sejak dahulu telah menjadi perhatian
penting bahkan sebelum kemerdekaan. Hal ini dipicu juga oleh perkembangan
revolusi industri yang merubah wajah dunia menjadi sangat haus minyak dan gas
bumi sebagai penopang mesin-mesin industri. Selama puluhan tahun
perekonomian Indonesia ditopang dari hasil pengerukan minyak dan gas bumi.
Minyak dan gas bumi merupakan komoditas strategis yang menjadi salah satu
andalan pendapatan bagi Indonesia. Sampai saat ini, masyarakat Indonesia sangat
tergantung kepada migas, tidak hanya karena migas dibutuhkan oleh sektor
industri, tetapi migas juga banyak dipergunakan untuk keperluan rumah tangga,
transportasi baik darat, laut maupun udara. Posisi penting pertambangan minyak
dan gas bumi terlihat pada pengaturannya yang dilakukan secara terpisah dari
pertambangan umumnya yaitu dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001
tentang Minyak dan Gas Bumi.
Minyak bumi mulai dikenal oleh bangsa Indonesia pada abad pertengahan.
Penemuan sumber minyak yang pertama di Indonesia terjadi pada tahun 1883 oleh
seorang Belanda bernama A.G. Zeijlker di lapangan minyak Telaga Tiga dan
Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan. Penemuan ini kemudian disusul oleh
penemuan lain yaitu di Pangkalan Brandan dan Telaga Tunggal. Selanjutnya,
menjelang akhir abad ke-19 terdapat beberapa perusahaan asing yang beroperasi
di Indonesia. Pada tahun 1935, untuk mengeksplorasi minyak bumi di daerah Irian
Jaya dibentuk perusahaan gabungan antara B.P.M., N.P.P.M., dan N.K.P.M. yang
bernama N.N.G.P.M. (Nederlandsche Nieum Guinea Petroleum Mij) dengan hak
eksplorasi selama 25 tahun.
Konsepsi dasar pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi di
Indonesia adalah Pasal 33 ayat 2 dan ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 setelah
amandemen yang merumuskan bahwa “Cabang-cabang produksi yang penting
bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak serta kekayaan bumi,
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 22
air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Kedua ayat ini
menegaskan “penguasaan oleh negara” dan “penggunaannya untuk sebesar-
besar kemakmuran rakyat“ terhadap sumber daya alam dan cabang-cabang
produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang
banyak. Rumusan tersebut menegaskan kewenangan negara, yang selanjutnya
dirumuskan dalam Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Pokok-pokok Agraria, yang meliputi :
2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang- orang dengan bumi, air dan ruang angkasa.
3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang- orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
Lebih lanjut dirumuskan dalam Pasal 2 ayat 3 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1960 bahwa “Wewenang yang bersumber pada Hak Menguasai dari
Negara sebagaimana dirumuskan dalam ayat 2 pasal ini digunakan untuk
mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam arti kebangsaan, kesejahteraan
dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia yang merdeka,
berdaulat, adil dan makmur”. Penguasaan negara atas sumber daya minyak dan
gas bumi kembali ditegaskan dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun
2001, bahwa minyak dan gas bumi merupakan sumber daya alam strategis tak
terbarukan yang terkandung di dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia
dan merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara.
Penguasaan oleh negara terhadap sumber daya alam bertujuan untuk
menciptakan Ketahanan Nasional di bidang energi (National Energy Security) di
Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan sasaran utama penyediaan dan
pedistribusian energi di dalam negeri. Pemerintah berkewajiban menyediakan dan
mendistribusikan energi ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketahanan Nasional di bidang energi menuntut kemampuan pemerintah untuk
melakukan pengelolaan energi, dengan memperhatikan prinsip keadilan,
kemandirian, berkelanjutan, serta berwawasan lingkungan. Walaupun negara
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 23
memiliki kekuasaan mutlak untuk melakukan konsep penguasaan terhadap
pengelolaan dan penguasaan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 33 UUD 1945, tetapi kenyataannya hal tersebut tidak dapat dijalankan (non
executable), sehingga perlu ada pihak yang dikuasakan untuk menjalankan
kewenangan tersebut, dalam arti diatur dan diselenggarakan oleh pihak-pihak
yang diberi wewenang oleh negara dan bertindak untuk dan atas nama negara
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pihak yang diberi kewenangan oleh negara dan bertindak untuk dan atas
nama negara dalam menjalankan pengelolaan dan pengusahaan minyak dan gas
bumi, melakukan kegiatan yang holistik di bidang minyak dan gas bumi, meliputi
kegiatan pengelolaan dan pengusahaan pengolahan, pemurnian, pengangkutan,
pendistribusian, penyimpanan dan pemasaran, atau dengan kata lain melakukan
kegiatan hulu dan hilir minyak dan gas bumi.
Dalam pengusahaan pertambangan, pada mulanya dilakukan dengan
sistem konsesi yang kemudian tidak digunakan lagi karena dinilai memberikan
hak yang terlalu luas dan terlalu kuat bagi pemegang konsesi, sehingga diganti
dengan Kuasa Pertambangan. Oleh karena itu, dalam perkembangannya
pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi kemudian dilakukan oleh
Negara dan dilaksanakan hanya oleh Perusahaan Negara. Hal ini tertuang didalam
Undang-Undang Nomor 37 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan sebagai
pengganti “Indische Mijn Wet” dan Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960
tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi.
Selanjutnya pengelolaan minyak dan gas bumi Indonesia berada di bawah
Kementerian Keuangan dengan kewenangan menunjuk kontraktor untuk
melaksanakan pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan oleh
perusahaan negara. Konsekuensinya semua pemegang konsesi pertambangan
minyak dan gas bumi yaitu Shell, Stanvac dan Caltex pada saat itu beralih
menjadi Kontraktor Perusahaan Negara.
bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Prp. Tahun 1960 tentang
Perusahaan Negara dan Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960, NV Niam
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 24
(kepemilikan Pemerintah dan Shell) diubah menjadi PT PERMINDO yang
kemudian menjadi Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Indonesia (PT
PERTAMIN) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1961. Menyusul
PT TMSU di Sumatera Utara juga diubah menjadi PT Perusahaan Minyak
Nasional (PT PERMINA), yang kemudian menjadi PN PERMINA.
Pada pertengahan tahun 1960-an seluruh aset perminyakan dan gas bumi
yang sudah terikat Kontrak Karya dikuasai oleh Negara yang pengelolaannya
dilakukan melalui perusahaan negara yaitu PN PERTAMIN, PN PERMINA, dan
PN PERMIGAN. Selanjutnya PN PERTAMIN dan PN PERMINA menjadi PN
PERTAMINA atas dasar Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1968 yang
kemudian berubah menjadi PERTAMINA berdasarkan Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara,
sebagai satu-satunya perusahaan negara pemegang Kuasa Pertambangan di
Indonesia yang mengamanatkan bahwa pengusahaan pertambangan minyak dan
gas bumi hanya dilaksanakan oleh perusahaan negara.
Maksud didirikannya Pertamina adalah untuk meningkatkan produktivitas,
efektivitas dan efisiensi operasi perminyakan nasional. Pertamina menjalankan
perannya sebagai real player yang baik dalam industri minyak dan gas bumi
secara nasional dan internasional. Pemberlakuan kontrak bagi hasil mengalami
pertumbuhan pesat karena beberapa faktor yaitu : 35
1. Intensitasnya hubungan dengan para kontraktor;
2. Sifat hubungan dengan para kontraktor;
3. Kerjasama dengan orang asing yang menghasilkan teknologi mutakhir;
4. Kepercayaan kontraktor asing untuk menanamkan modalnya di
Indonesia dengan cara penandatanganan kontrak bagi hasil.
Pertamina sebagai “Integrated State Oil Company” mendapatkan tugas
sebagai pelaksana pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi. Pertamina
juga mendapatkan Kuasa Pertambangan yang meliputi eksplorasi, eksploitasi,
pemurnian dan pengolahan, pengangkutan serta penjualan. Dengan dibentuknya
35 Rudi M. Simamora, Hukum Minyak dan Gas Bumi, (Jakarta : Djambatan, 2000), hlm. 32.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 25
perusahaan negara tersebut dimaksudkan untuk memberikan fleksibilitas dan
optimalisasi pengusahaan minyak dan gas bumi yang merupakan pilihan teknis
dan strategis, baik dari segi hukum maupun ekonomis komersial.
Selanjutnya pengusahaan industri pertambangan minyak dan gas bumi
nasional dijalankan dengan konsep monopoli, artinya Pertamina sebagai
pemegang kuasa pertambangan minyak dan gas bumi memegang kendali atas
semua kegiatan usaha minyak dan gas bumi mulai dari hulu (eksplorasi dan
produksi) sampai hilir (pemasaran). Apabila Pertamina ingin bekerjasama dengan
pihak lain, pihak lain tersebut tetap harus berstatus sebagi kontraktor Pertamina,
bukan sebagai pemilik bersama (co-owner) dari perusahaan yang dibentuk. Selain
itu juga harus memenuhi syarat tertentu dan berlaku setelah disetujui oleh
Presiden untuk kemudian diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.
Syarat-syarat dalam kerjasama tersebut harus diusahakan syarat yang paling
menguntungkan negara.
Pada tanggal 23 Nopember 2001 disahkan Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, karena Undang-Undang Nomor 44
Prp. Tahun 1960 dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan usaha
pertambangan minyak dan gas bumi dalam taraf nasional maupun internasional.
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi tersebut, maka berdasarkan ketentuan penutup dirumuskan bahwa
peraturan perundang-undangan di bawah ini dinyatakan tidak berlaku lagi, yaitu :
1. Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi;
2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1962 tentang Penetapan PERPU Nomor 2 Tahun 1962 tentang Kewajiban Perusahaan Minyak Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri;
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara, berikut segala perubahannya, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1974;
Adapun segala peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun
1960 dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 dinyatakan tetap berlaku
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 26
sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan peraturan baru
berdasarkan UU No. 22 Th. 2001.
Pertimbangan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001
tersebut adalah sebagai berikut : 36
1. Pembangunan nasional harus diarahkan kepada terwujudnya kesejahteraan rakyat dengan melakukan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
2. Minyak dan gas bumi merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan yang dikuasai oleh negara serta merupakan komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak dan mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional sehingga pengelolaannya harus dapat secara maksimal memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
3. Kegiatan usaha minyak dan gas bumi mempunyai peranan penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional yang meningkat dan berkelanjutan.
4. Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1962 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Kewajiban Perusahaan Minyak memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan usaha pertambangan minyak dan gas bumi.
5. Dengan tetap mempertimbangan perkembangan nasional maupun internasional, dibutuhkan perubahan peraturan perundang-undangan tentang pertambangan minyak dan gas bumi yang dapat menciptakan kegiatan usaha minyak dan gas bumi yang mandiri, andal transparan, berdaya saing, efisien, dan berwawasan pelestarian lingkungan, serta mendorong perkembangan potensi dan peranan nasional.
6. Berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam angka, 1, 2, 3, 4, dan 5 tersebut serta untuk memberikan landasan hukum bagi langkah-langkah pembaruan dan penataan atas penyelenggaraan pengusahaan minyak dan gas bumi, maka perlu membentuk Undang- Undang tentang Minyak dan Gas Bumi.
Adapun tujuan penyusunan Undang-Undang ini adalah : (1) terlaksana
dan terkendalinya minyak dan gas bumi sebagai sumber daya alam dan sumber
daya pembangunan yang bersifat strategis dan vital; (2) mendukung dan
36 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi , hal menimbang.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 27
menumbuhkembangkan kemampuan nasional untuk lebih mampu bersaing; (3)
meningkatnya pendapatan negara dan memberikan kontribusi yang sebesar-
besarnya bagi perekonomian nasional, mengembangkan dan memperkuat industri
dan perdagangan Indonesia; dan (4) menciptakan lapangan kerja, memperbaiki
lingkungan, meningkatnya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Perubahan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi banyak dipandang
sebagai liberalisasi sektor migas di Indonesia, sedangkan amandemen Undang-
Undang Minyak dan Gas Bumi merupakan paket kebijakan yang harus dilakukan
oleh Indonesia sebagai syarat untuk mendapatkan bantuan dari IMF guna
menghadapi krisis finansial tahun 1998.
Dampak dari penerapan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi adalah
aset Pertamina jauh berkurang dari asalnya. Selain itu proses bisnis minyak dan
gas bumi sangat berbelit dan menimbulkan ongkos produksi minyak dan gas bumi
di Indonesia semakin mahal dan berakibat pada naiknya harga jual kepada
masyarakat. Dampak yang lain adalah terbentuknya badan pengelola minyak dan
gas bumi yaitu Badan Pengelola Migas (BP Migas), sebagaimana dirumuskan
dalam Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 bahwa
penguasaan oleh negara tersebut diselenggarakan oleh pemerintah sebagai
pemegang kuasa pertambangan dengan membentuk Badan Pengelola Migas yang
kemudian mengambil alih kendali dan menyingkirkan Pertamina sebagai
pemegang kuasa bisnis minyak dan gas bumi yang notabene adalah National Oil
Company di Indonesia. Ketentuan pembentukan Badan Pelaksana Migas diatur
kemudian dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2002 tentang Badan
Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. 37
Badan pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan
pengendalian kegiatan usaha hulu di bidang minyak dan gas bumi. Kedudukan
badan pelaksana merupakan badan hukum milik negara. Badan hukum milik
negara mempunyai status sebagai subjek hukum milik negara dan juga merupakan
37 Salim HS, Hukum Pertambangan, Opcit, hlm. 245.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 28
subjek Hukum Perdata dan merupakan institusi yang tidak mencari keuntungan
serta dikelola secara profesional. 38
Fungsi badan pelaksana ini adalah melakukan pengawasan terhadap
kegiatan usaha hulu agar pengambilan sumber daya alam minyak dan gas bumi
milik Negara dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi
Negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 44 ayat (2) Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 10 Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu
Minyak dan Gas Bumi). Lebih lanjut BP Migas tersebut sebagai pembina dan
pengawas Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) di dalam menjalankan kegiatan
eksplorasi, eksploitasi dan pemasaran migas Indonesia.
Adapun untuk melaksanakan kegiatan hilir minyak dan gas bumi,
pemerintah mebentuk Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas)
yang dirumuskan dalam Pasal 1 angka 24, Pasal 8 ayat (4), Pasal 46 sampai
dengan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi. Badan pengatur adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan
pengaturan dan pengawasan terhadap penyediaan dan pendistribusian bahan bakar
minyak dan gas bumi. 39
Setelah kurang lebih sebelas tahun Undang-Undang Nomor 22 Tahun
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi berkiprah mengatur mengenai pengelolaan
sumber daya alam minyak dan gas bumi yang notabene adalah dikuasai oleh
negara, dan beroperasinya BP Migas sebagai tangan panjang pemerintah dalam
melaksanakan tugasnya selama kurang lebih sepuluh tahun, pada tanggal 13
Nopember 2012, Mahkamah Konstitusi membuat putusan yakni membubarkan
Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi.
Melalui putusan Nomor 36/PUU-X/2012 yang dibacakan Ketua Majelis
Hakim Mahkamah Konstitusi, menyatakan pasal-pasal yang mengatur tugas dan
fungsi BP Migas seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001
tentang Minyak dan Gas Bumi bertentangan dengan Pasal 33 UUD 1945.
38 Ibid, hlm. 245. 39 Ibid, hlm. 247.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 29
Selanjutnya, fungsi dan tugas BP Migas dilaksanakan pemerintah cq.
Kementerian terkait, sampai ada undang-undang baru yang mengaturnya. Atas
putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, pada tanggal 13 Nopember 2012,
Presiden Republik Indonesia menandatangani Peraturan Presiden Nomor 95
Tahun 2012 tentang Pengalihan Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kegiatan Usaha
Hulu Minyak dan Gas Bumi yang intinya pengalihan BP Migas ke Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM).
Sebagaimana diketahui dalam Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2012
tersebut ada tiga poin penting, yaitu :
1. Seluruh tugas BP Migas dialihkan ke Kementerian ESDM;
2. Semua kontrak kerja sama yang telah ditandatangani BP Migas tetap
berlaku sampai berakhirnya masa kontrak tersebut;
3. Seluruh proses pengelolaan yang dijalankan BP Migas dilanjutkan
Kementerian ESDM.
Dengan dibubarkannya BP Migas, posisi negara justru menjadi lebih berat,
karena pihak yang mendapat limpahan kontrak adalah Negara, bukan Badan
Hukum Milik Negara (BUMN). Bila nantinya ada sengketa, maka setiap sengketa
harus dicermati secara sungguh-sungguh, karena jika pemerintah merupakan
pihak yang kalah berarti kekalahan negara. Mengingat tanggung jawab negara
dalam posisinya sekarang adalah tidak terbatas, maka aset yang dimiliki negara
akan terekspos dalam upaya untuk membayar ganti rugi (jika negara dinyatakan
kalah dalam arbitrase). Lain halnya bila negara hanya pemegang saham di suatu
perseroan terbatas atau BUMN, dalam hal ini tanggung jawab hanya terbatas pada
saham yang dimiliki oleh negara atau aset yang dimiliki negara pada sebuah
perusahaan. 40
tentang pengalihan Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Kegiatan Usaha Hulu Minyak
dan Gas Bumi, Menteri ESDM menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor
3135 Tahun 2012 tentang Pengalihan Tugas, Fungsi dan Organisasi dalam
40 Hikmahanto, “Diminta Bersiap Diri Hadapi Gugatan” (Suara Merdeka, 19 Nopember 2012), hlm. 10.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 30
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, diikuti dengan
terbitnya Keputusan Menteri ESDM Nomor 3136 Tahun 2012. Sesuai aturan
menteri tersebut, pemerintah membentuk Satuan Kerja Sementara Pelaksana
(SKSP) Migas sebagai pengganti sementara BP Migas sampai terbitnya undang-
undang baru. Menteri ESDM sekaligus menjabat Kepala SKSP Migas.
Pembentukan SKSP Migas merupakan upaya cepat pemerintah agar seluruh
kegiatan migas mulai eksplorasi, produksi, hingga jasa penunjang berjalan normal
pasca pembubaran BP Migas.
1. Pengaturan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) dalam Kegiatan Industri Minyak dan Gas Bumi
Kegiatan usaha minyak dan gas bumi dibagi menjadi dua macam, yaitu
kegiatan usaha hulu dan kegiatan usaha hilir (Pasal 5 Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi). Kegiatan usaha hulu diatur dalam
Pasal 1 angka 7, Pasal 5 sampai dengan Pasal 6, dan Pasal 9 sampai dengan Pasal
22 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
Kegiatan usaha hulu adalah kegiatan usaha yang berintikan atau bertumpu pada
kegiatan usaha eksplorasi dan eksploitasi.
Kegiatan usaha hulu dilaksanakan dan dikendalikan melalui Kontrak Kerja
Sama (KKS). Kontrak kerja sama adalah kontrak bagi hasil atau bentuk kontrak
kerja sama lain dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang lebih
menguntungkan negara dan hasilnya dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Menurut Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Kontrak Kerja Sama tersebut paling sedikit
memuat persyaratan sebagai berikut :
a. Kepemilikan sumber daya alam tetap di tangan pemerintah sampai pada titik penyerahan;
b. Pengendalian manajemen operasi berada pada Badan Pelaksana yang telah digantikan oleh Satuan Kerja Sementara Pelaksana (SKSP) Migas;
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 31
c. Modal dan risiko seluruhnya ditanggung Badan Usaha atau Bentuk Usaha tetap;
Berdasarkan Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001
tentang Minyak dan Gas Bumi, kegiatan usaha hulu dapat dilaksanakan oleh :
a. Badan Usaha Milik Negara;
b. Badan Usaha Milik Daerah;
c. Koperasi, usaha kecil; dan
d. Badan usaha swasta.
Kegiatan usaha dibidang minyak dan gas bumi didasarkan pada kontrak
bagi hasil (production sharing contract). Adapun tujuan penuangan kewajiban-
kewajiban dalam persyaratan kontrak adalah untuk mempermudah pengendalian
kegiatan usaha hulu dan didasarkan juga peraturan perundang-undangan lainnya.
Setiap kontrak kerja sama yang telah ditandatangani kedua belah pihak, salinan
kontraknya dikirimkan kepada DPR RI, khususnya pada komisi yang membidangi
minyak dan gas bumi.
utama, yaitu : 41
1. Manajemen ada di tangan negara (perusahaan negara). Negara ikut serta dan mengawasi jalannya operasi pertambangan minyak dan gas bumi secara aktif dengan tetap memberikan kewenangan kepada kontraktor untuk bertindak sebagai operator dan menjalankan operasi di bawah pengawasannya. Negara terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan operasional yang biasanya dijalankan dengan mekanisme persetujuan (approval);
2. Penggantian biaya operasi (operating cost recovery). Kontraktor mempunyai kewajiban untuk menalangi terlebih dahulu biaya operasi yang diperlukan, yang kemudian diganti kembali dari hasil penjualan atau dengan mengambil bagian dari minyak dan gas bumi yang dihasilkan. Besaran penggantian biaya operasi ini tidak harus selalu penggantian penuh (full recovery), bisa saja hanya sebagian tergantung dari hasil negosiasi;
3. Pembagian hasil produksi (production split).Pembagian hasil produksi setelah dikurangi biaya operasi dan kewajiban lainnya merupakan keuntungan yang diperoleh oleh kontraktor dan pemasukan dari sisi
41 blogspot.com/2012, 31 Oktober 2012.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 32
negara. Besaran pembagian hasil produksi ini berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor;
4. Pajak (tax). Pengenaan pajak dikenakan atas kegiatan operasi kontraktor, besarannya dikaitkan dengan besarnya pembagian hasil produksi antara negara dengan kontraktor. Prinsipnya adalah semakin besar bagian negara maka pajak penghasilan yang dikenakan atas kontraktor akan semakin kecil;
5. Kepemilikan aset ada pada negara (perusahaan negara); 6. Umumnya semua peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan operasi
menjadi milik perusahaan negara segera setelah dibeli atau setelah didepresiasi. Ketentuan ini mengecualikan peralatan yang disewa karena kepemilikannya memang tidak pernah beralih kepada kontraktor.
Kontrak bagi hasil (production sharing contract) berbentuk tertulis dan
berupa akta di bawah tangan, yaitu dibuat antara Badan Pelaksana Migas yang
telah digantikan oleh Satuan Kerja Sementara Pelaksana (SKSP) Migas dengan
badan usaha dan/atau bentuk usaha tetap. Adapun salah satu tugas yang paling
penting dari badan pelaksana (dalam hal ini telah digantikan oleh SKSP Migas)
sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi jo Pasal 11 Peraturan Pemerintah
Nomor 42 Tahun 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak
dan Gas Bumi adalah penandatanganan kontrak bagi hasil (production sharing
contract), karena dengan penandatanganan kontrak itu akan menimbulkan hak dan
kewajiban para pihak. 42
menjalankan jenis usaha bersifat tetap, terus-menerus didirikan sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta bekerja dan berkedudukan dalam wilayah
negara kesatuan RI. Dengan demikian badan usaha yang bergerak dalam kegiatan
minyak dan gas bumi harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Berbentuk badan hukum;
c. Didirikan sesuai dengan peraturan yang berlaku; dan
d. Bekerja dan berkedudukan dalam wilayah negara kesatuan RI.
42 Salim HS, op. cit., hlm. 337-338.
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 33
Bentuk usaha tetap adalah badan usaha yang didirikan dan berbadan
hukum di luar wilayah negara kesatuan RI yang melakukan kegiatan di wilayah
negara kesatuan RI dan wajib mematuhi peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Republik Indonesia.
sharing contract) dalam kegiatan usaha minyak dan gas bumi berdasarkan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 adalah Badan Pelaksana Migas dengan
badan usaha atau bentuk usaha tetap. Dengan adanya pengaturan baru mengenai
pengalihan tugas dan fungsi Badan Pelaksana Migas yaitu Peraturan Presiden
Nomor 95 Tahun 2012 tentang Pengalihan Pelaksana Tugas dan Fungsi Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 3135
Tahun 2012 tentang Pengalihan Tugas, Fungsi dan Organisasi dalam Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi maka para pihak dalam kontrak bagi
hasil (production sharing contract) adalah pemerintah dalam hal ini diwakili oleh
SKSP Migas dengan badan usaha atau bentuk usaha tetap sebagai kontraktornya.
Para pihak dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract)
mempunyai kedudukan yang sejajar dalam menentukan bentuk dan substansi
kontrak sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1338 KUH Perdata. Namun dalam
kenyataannya, bentuk dan isi kontrak bagi hasil (production sharing contract)
telah ditentukan dan disiapkan oleh salah satu pihak. Kontrak bagi hasil
(production sharing contract) yang kini digunakan dalam bidang pertambangan
minyak dan gas bumi telah dibakukan secara sepihak oleh Pertamina yang
digantikan oleh Badan Pelaksana Migas dan kemudian beralih kepada SKSP
Migas. Dengan demikian badan usaha atau bentuk usaha tetap tidak mempunyai
kekuatan tawar-menawar dalam menentukan isi kontrak, sehingga asas kebebasan
berkontrak yang tercantum dalam Pasal 1338 KUH Perdata tidak mempunyai arti
bagi kontraktor, karena hak-haknya dibatasi oleh pemerintah dalam hal ini adalah
SKSP Migas.
Objek yang dapat diperjanjikan dalam kontrak bagi hasil (production
sharing contract) berdasarkan Pasal 5 ayat (1), Pasal 6 (1) dan Pasal 11 (1)
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bumi adalah
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 34
khusus kegiatan usaha hulu dalam pertambangan minyak dan gas bumi, yang
meliputi eksplorasi dan eksploitasi.
Berdasarkan Pasal 1 ayat (8) dan (9) UU No. 22 Th. 2001 yang dimaksud
dengan eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi
mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan
minyak dan gas bumi di wilayah kerja yang ditentukan. Sedangkan yang
dimaksud eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
menghasilkan minyak dan gas bumi dari wilayah kerja yang ditentukan, yang
terdiri atas pengeboran dan penyelesaian sumur, pembangunan sarana
pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian
minyak dan gas bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya.
Berkaitan dengan adanya kesepakatan dalam kontrak bagi hasil
(production sharing contract) tersebut maka pengaturan hak dan kewajiban para
pihak adalah sebagai berikut :
a. Bagi badan usaha dan/ atau bentuk usaha tetap yang melaksanakan
kegiatan usaha hulu, berkewajiban untuk (1) membayar penerimaan
negara yang berupa pajak yang meliputi pajak-pajak, bea masuk dan
pungutan lain atas impor dan cukai, pajak daerah dan retribusi daerah;
(2) membayar penerimaan negara bukan pajak yang meliputi bagian
negara, pungutan negara yang berupa iuran tetap, iuran eksplorasi dan
eksploitasi, serta bonus (Pasal 31 UU No. 22 Th. 2001). Sedangkan
hak badan usaha dan/atau bentuk usaha tetap yang melaksanakan
kegiatan usaha adalah mendapatkan bagian keuntungan dari hasil
produksi setelah dikurangi bagian negara.
b. Bagi Badan Pelaksana Migas yang telah dialihkan kepada SKSP Migas
berkewajiban untuk (1) bertanggung jawab terhadap manajemen
operasional; (2) membantu dan memperlancar pelaksanaan program
kerja kontraktor; (3) membebaskan kontraktor dari pajak-pajak lain;
(4) tidak diperkenankan untuk menyampaikan kepada pihak ketiga
semua data asli dari operasi pengeboran minyak; (5) menyetujui
penggunaan aset oleh pihak ketiga dengan syarat harus ada izin tertulis
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 35
dari kontraktor. Adapun haknya adalah (1) menerima hasil produksi
minyak dan gas bumi, sesuai yang ditetapkan dalam kontrak; (2)
menerima pajak pendapatan dan pajak akhir tahun dari kontraktor.
Dalam hal pembagian hasil kegiatan usaha di bidang minyak dan gas
bumi, UU No. 22 Tahun 2001 tidak mengatur secara khusus tentang komposisi
pembagian hasil antara BP Migas, sekarang adalah SKSP Migas dengan badan
usaha dan/ atau bentuk usaha tetap. Mengacu pada Pasal 66 ayat (2) UU No. 22
Th. 2001, dirumuskan bahwa segala peraturan pelaksanaan UU No. 44 Prp. Th.
1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi dan UU No. 8 Th. 1971
tentang Pertamina masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan atau
belum diganti dengan peraturan baru berdasarkan UU No. 22 Th. 2001.
Salah satu peraturan pelaksanaannya adalah Peraturan Pemerintah Nomor
35 Tahun 1994 tentang Syarat-syarat dan Pedoman Kerja Sama Kontrak Bagi
Hasil Minyak dan Gas Bumi. Pasal 16 PP No. 35 Th. 1994 ditentukan bahwa yang
menetapkan pembagian hasil adalah Menteri Pertambangan dan Energi.
Penentuan bagi hasil minyak dan gas bumi jika mengacu pada kontrak bagi hasil
generasi ke III adalah sebagai berikut :
a. Minyak : 85% untuk BP Migas sekarang SKSP Migas; 15% untuk
badan usaha dan/ atau badan usaha tetap;
b. Gas : 70% untuk BP Migas sekarang SKSP Migas; 30% untuk
badan usaha dan/ atau badan usaha tetap.
Lebih lanjut dalam Pasal 22 UU No. 22 Th. 2001 ditentukan bahwa badan usaha
dan/ atau bentuk usaha tetap berkewajiban untuk menyerahkan paling banyak
25% bagiannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
2. Ketentuan Penyusunan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) dalam Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi
Kontrak bagi hasil (production sharing contract) dibuat dalam bentuk
tertulis dan merupakan kontrak baku, karena format dan isi telah ditetapkan secara
sepihak yaitu antara pemerintah yang diwakili oleh BP Migas yang telah dialihkan
kepada SKSP Migas dengan badan usaha dan/ atau bentuk usaha tetap. Dalam
di-upload oleh Perpustakaan Universitas Semarang 36
Pasal 11 ayat (3) UU No. 22 Th. 2001, substansi yang harus dimuat dalam kontrak
bagi hasil (production sharing contract) yang merupakan ketentuan-ketentuan
pokok adalah sebagai berikut :
a. Penerimaan negara; b. Wilayah kerja dan pengembaliannya; c. Kewajiban pengeluaran dana; d. Perpindahan kepemilikan hasil produksi atas minyak dan gas bumi; e. Jangka waktu dan kondisi perpanjangan kontrak; f. Penyelesaian perselisihan; g. Kewajiban pemasokan minyak bumi dan/atau gas bumi untuk kebutuhan
dalam negeri; h. Berakhirnya kontrak; i. Kewajiban pasca operasi pertambangan; j. Keselamatan dan kesehatan kerja; k. Pengelolaan lingkungan hidup; l. Pengalihan dan kewajiban; m. Pelaporan yang diperlukan; n. Rencana pengembangan lapangan o. Pengutamaan pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri; p. Pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat
a