laporan kasus anak ( asma bronkhial)

Download LAPORAN KASUS Anak ( Asma Bronkhial)

Post on 14-Oct-2015

108 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

asma bronchial

TRANSCRIPT

LAPORAN KASUS

Identitas pasien : Ruang perawatan: Anggreak Nama : An. Nindhi Widya Astuti Jenis Kelamin : Perempuan Umur: 7 Tahun Alamat : Susukan Giritirto Purwosari Anak Ke: 1 Dari 2 Bersaudara

AnamnesisAnamnesis didapatkan dari auto dan alloanamnesis. Alloanamnesis dilakukan terhadap ibu pasien pada tanggal 2 Maret 2014 pukul 20.00.

Keluhan Utama Sesak napas

Riwayat Penyakit Sekarang : Dua hari SMRS, Ibu OS mengeluhkan anaknya batuk berdahak berwarna putih kental, tidak bercampur darah, dan sulit untuk dikeluarkan, sehingga saat tidur berbunyi banyak lendir. Batuk ini muncul tiba-tiba , setelah aktivitas/berlari, batuk dirasakan lebih sering pada malam hari, hingga menyebabkan nyeri seperti kram,sesak disertai dengan bunyi mengi , sesak baru pertama kali muncul , pasien tidak berobatsebelumnya .

Riwayat Penyakit Dahulu (RPD):TB paru (-)Asma (-)Dermatitis atopik (-)Rhinitis (-)Konjungtivitis (-)

Riwayat Pengobatan : Belum pernah dirawat inap di RS sebelumnya Belum pernah pengobatan jangka panjang.

Riwayat Penyakit Keluarga ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupakakek pasienRiwayat KehamilanPemeliharaan Prenatal Periksa di : praktek bidan Penyakit kehamilan : - Obat-obatan yang sering diminum: vitamin

Riwayat Kelahiran : Lahir di : rumah sakit bersalin di tolong oleh : bidan Berapa bulan dalam kandungan : 9 bulan Jenis partus : spontanPemeliharaan postnatal Periksa di : bidan Keluarga berencana : yaRiwayat Alergi : Alergi obat (-), alergi cuaca (-), alergi seafood (-), alergi coklat, kacang, susu sapi (-), alegi debu (+), alergi bulu (-)Riwayat Psikososial : Ayah perokok (+)Rumah jendela (-)Kamar banyak boneka (-)

Pertumbuhan dan perkembangan anak : Berat badan lahir : 2800gram Panjang badan lahir : ibu lupa Miring: ibu lupa Tengkurap: ibu lupa Tersenyum: ibu lupa Duduk: ibu lupa Gigi keluar: ibu lupa Merangkak: ibu lupa Berdiri : 1 tahun Berjalan: 1 tahun Berbicara dua suku kata: 1,5 tahun Masuk TK: 5,5 tahun Masuk SD: 6,5 tahun

Riwayat Makan Minum anak : ASI : 0 hari Dihentikan : 1,5 tahun Susu sapi/buatan: iya Jenis susu buatan : - Tim saring : 6 bulan Makanan padat dan lauknya : ibu lupa

Riwayat Imunisasi :ImunisasiUsia Saat Imunisasi

IIIIIIIV

BCG 1 bulan//////////////////////

Polio 1 bulan2 bulan3 bulan4 bulan

Campak 9 bulan////////////////////////

DPT 2 bulan3 bulan4 bulan///////

Hepatitis B 2 bulan3 bulan4 bulan///////

Pasien imunisasi lengkapPemeriksaan FisikDilakukan pada tanggal : 2 maret 2014 (pukul 20.00 wib)Antropometri Berat badan: 16 kg Panjang Badan: 130 cm

Tanda Vital Nadi : 104x/menit (reguler, isi cukup, kuat angkat) Frekuensi napas: 56x/menit Suhu aksiler: 36,4C

Keadaan Umum Kesan sakit: sakit sedang Kesadaran: compos mentis Status Gizi : gizi kurang

Rumus BehrmanBB ideal = (umur dalam tahun x 7)-5 : 2 = 29Status gizi= BB sekarang/BB ideal x 100% = = 14/29 x 100%= 48,2%

STATUS GENERALISKepala Bentuk: Normocephal Rambut: Hitam dan tidak rontok Mata: Konjungtiva anemis (-/-), skelra ikterik (-/-) Hidung: Konka hiperemis (-/-), keluar sekret (-/-), nafas cuping hidung (+/+) Telinga: Keluar sekret (-/-) Mulut: Pharynk hiperemis (-), bibir anemis (-/-), bibir sianosis (+/+)Leher Kelenjar tiroid : Pembesaran (-) Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran kelenjar getah beningThorax Inspeksi: Dinding dada simetris, retraksi sela iga (+) Palpasi: Vocal fremitus kiri dan kanan sama Perkusi: Sonor dikedua lapang paru, batas paru-hepar ICS 5 Auskultasi: Bunyi napas, wheezing (+/+) , ronkhi (-/-)Jantung Inspeksi: Ictus cordis terlihat Palpasi: Ictus cordis teraba di linea midsternal sinistra intercostal 5 midclavicularis sinistra Perkusi: Jantung dalam batas normal Aukultasi: Bunyi jantung 1&2 murni, tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)Abdomen Inspeksi: Dinding perut simetris, distensi (-), massa (-), bekas operasi (-), Auskultasi: Bising usus (+), 8 x/menit Palpasi: Epigastrium : Nyeri tekan (-)Hati: Tidak teraba pembesaran Limpa : Tidak teraba pembesaran Ginjal : Balotement (-), nyeri ketok (-) Perkusi: Timpani pada keempat kuadran abdomen

Extremitas Superior : Akral hangat, RCT 15% dari nilai sebelum uji provokasi dan setelah diberi bronkodilator nilai normal akan tercapai lagi. Bila PEFR dan FEV1 sudah rendah dan setelah diberi bronkodilator naik > 15% yang berarti hiperreaktivitas bronkus positif dan uji provokasi tidak perlu dilakukan. ru yang penting pada asma adalah PEFR,FEV1PVCFEV1/FVCulut. Toraks membungkuk ke depan dan lebih bulat serta b Foto rontgen toraksTampak corakan paru yang meningkat. Atelektasis juga sering ditemukan. Hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik. Rontgen foto sinus paranasalis perlu juga bila asmanya sulit dikontrol. Pemeriksaan darah eosinofil dan uji tuberkulinPemeriksaan eosinofil dalam darah, sekret hidung dan dahak dapat menunjang diagnosis asma. Dalam sputum dapat ditemukan kristal Charcot-Leyden dan spiral Curshman. Bila ada infeksi mungkin akan didapatkan leukositosis polimormonuklear. Uji kulit alergi dan imunologi1. Komponen alergi pada asma dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan uji kulit atau pengukuran IgE spesifik serum.2. Uji kulit adalah cara utama untuk mendignosis status alergi/atopi, umumnya dilakukan dengan prick test. Alergen yang digunakan adalah alergen yang banyak didapat di daerahnya. Walaupun uji kulit merupakan cara yang tepat untuk diagnosis atopi, dapat juga mendapatkan hasil positif palsu maupun negative palsu. Sehingga konfirmasi terhadap pajanan alergen yang relevan dan hubungannya dengan gejala klinik harus selalu dilakukan. Untuk menentukan hal itu, sebenarnya ada pemeriksaan yang lebih tepat, yaitu uji provokasi bronkus dengan alergen yang bersangkutan. Reaksi uji kulit alergi dapat ditekan dengan pemberian antihistamin3. Pemeriksaan IgE spesifik dapat memperkuat diagnosis dan menentukan penatalaksaannya. Pengukuran IgE spesifik dilakukan pada keadaan uji kulit tidak dapat dilakukan (antara lain dermatophagoism, dermatitis/kelainan kulit pada lengan tempat uji kulit dan lain-lain). Pemeriksaan kadar IgE total tidak mempunyai nilai dalam diagnosis alergi/atopi.

Diagnosis banding asma : Penyakit paru kronik yang berhubungan dengan bronkiektasis dan fibrosis kistik. Kelainan trakea dan bronkus misalnya laringotrakeomalasia dan stenosis bronkus. Tuberkulosis paru ditandai dengan batuk berdahak selama kurang lebih 2 minggu disertai dengan keringat malam, demam dan penurunan BB. Bronkitis kronik. Bronkitis kronik ditandai dengan batuk kronik yang mengeluarkan sputum 3 bulan dalam setahun untuk sedikitnya 2 tahun. Penyebab batuk kronik seperti tuberkulosis, bronkitis atau keganasan harus disingkarkan dahulu. Gejala utama batuk disertai sputum biasanya didapatkan pada pasien berumur > 35 tahun dan perokok berat. Gejalanya dimulai dengan batuk pagi hari, lama-kelamaan disertai mengi dan menurunnya kemampuan kegiatan jasmani.pada stadium lanjut dapat ditemukan sianosis dan tanda-tanda kor pulmonal. Tidak ditemukan eosinofilia, suhu biasanya tinggi dan tidak herediter. Asma kardial. Dispnea paroksismal terutama malam hari dan biasanya didapatkan tanda-tanda kelainan jantung.

KlasifikasiAsma dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat penyakit dan pola keterbatasan aliran udara. Klasifikasi berdasarkan berat penyakit penting bagi pengobatan dan perencanaan penatalaksanaan jangka panjang, semakin berat asma semakin tinggi tingkat pengobatan.Tabel klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinisDerajat asmaGejalaGejala malamFaal paru

Intermitten Bulanan Gejala < 1x/minggu Tanpa gejala diluar serangan Serangan singkat 2x/bulan APE 80% VEP1 80% nilai prediksi APE 80% nilai terbaik Variabilitas APE < 20%

Persisten ringan Mingguan Gejala > 1x/minggu tetapi < 1x/hari Serangan dpt mengganggu aktivitas dan tidur> 2x/bulan APE > 80% VEP1 80% nilai prediksi APE 80% nilai terbaik Variabilitas APE 20-30%

Persisten sedang Harian Gejala setiap hari Serangan mengganggu aktivitas dan tidur membutuhkan bronkodilator setiap hari> 1x/minggu APE 60-80% VEP1 60-80% nilai prediksi APE 60-80% nilai terbaik Variabilitas APE > 30%

Persisten berat Kontinua Gejala terus menerus Sering kambuh Aktivitas fisik terbatasSering APE 60% VEp1 60% nilai prediksi 60% nilai terbaik Variabilitas APE > 30%

Pada umumnya penderita sudah dalam pengobatan, dan pengobatan yang telah berlangsung seringkali tidak adekuat. Pengobatan akan mengubah gambaran klinis bahkan faal paru, oleh karena itu penilaian berat asma pada penderita dalam pengobatan juga harus mempertimbangkan pengobatan itu sendiri.Tabel klasifikasi derajat berat asma pada penderita dalam pengobatanTahapan pengobatan yang digunakan saat penilaianGejala dan faal paru dalam pengobatanTahap I intermitenTahap 2 persisten sedangTahap 3 persisten sedang

Tahap I : intermitten Gejala < 1x/minggu Serangan singkat Gejala malam < 2x/bulan Faal paru normal di luar seranganIntermitenPersisten ringanPersisten sedang

Tahap II : persisten ringan Gejala > 1x/minggu, tetapi < 1x/hari, gejala malam > 2x/bulan, tetapi < 1x/minggu Faal paru normal diluar seranganPersisten ringanPersisten sedangPersisten berat

Tahap III : persisten sedang Gejala setiap hari, serangan mempengaruhi aktivitas dan tidur Gejala malam > 1x/minggu 60% < VEP1 < 80% nilai prediksi 60% < APE < 80% nilai terbaikPersisten sedangPersisten beratPersisten berat

Tahap IV : persisten berat Gejala terus menerus, serangan sering, gejala malam sering VEP1 60% nilai prediksi atau APE 60% nilai terbaikPersisten beratPersisten beratPersisten berat

PengobatanTujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan mempetahankan