laporan fenomena dasar -

Download Laporan Fenomena Dasar -

Post on 26-Oct-2015

1.289 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN AWALPRAKTIKUM FENOMENA DASAR MESIN

DEFLEKSI

Oleh :

NAMA: RENHARD NIPTRO GNIM: 1007113735KELOMPOK: 20

LABORATORIUM KONTRUKSI DAN PERANCANGANJURUSAN TEKNIK MESINFAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAUOKTOBER, 2013

iKATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum Fenomena Dasar dengan judul DEFLEKSI ini dengan tepat pada waktunya. Tak lupa pula shalawat serta salam mahabbah kita hadiahkan kepada junjungan kita kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai pembawa risalah Allah terakhir dan penyempurna seluruh risalah-Nya.Penulis untuk menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berjasa memberikan motivasi dalam rangka menyelesaikan laporan ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:1. Bapak Muftil, ST.,MT, dan Bapak Nazaruddin, ST.,MT selaku dosen pembimbing mata kuliah Fenomena Dasar Mesin bidang konstruksi.2. Bang Afrian selaku Asisten Dosen yang telah banyak memberikan masukan dan bimbingan selama praktikum hingga dalam penyelesaian laporan ini.3. Juga kepada teman-teman satu kelompok yang saling memberi dukungan dan motivasi.Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan laporan ini, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Pekanbaru, Oktober 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTARiDAFTAR ISIiiDAFTAR GAMBARiiiDAFTAR TABELiivBAB I PENDAHULUAN11.1 LATAR BELAKANG11.2 TUJUAN11.2 MANFAAT1BAB II TINJUAN PUSTAKA22.1 TEORI DASAR22.1.1 Pengertian22.1.2 Hal - Hal Yang Mempengaruhi Defleksi32.1.3 Jenis - Jenis Tumpuan42.1.4 Jenis - Jenis Pembebanan52.1.5 Jenis - Jenis Batang62.1.5 Metode Perhitungan Defleksi92.2 APLIKASI15BAB III METODOLOGI173.1 PERALATAN173.2 PROSEDUR PRAKTIKUM203.2 ASUMSI - ASUMSI20BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN214.1 DATA214.2 PERHITUNGAN224.3. PEMBAHASAN27BAB V KESIMPULAN DAN SARAN285.1 KESIMPULAN285.2 SARAN28DAFTAR PUSTAKA29LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. (a) Balok sebelum terjadi deformasi, (b) Balok dalam konfigurasi terdeformasi2Gambar 2. Sketsa Tumpuan Engsel4Gambar 3. Tumpuan Rol5Gambar 4. Tumpuan Jepit5Gambar 5. Pembebanan Terpusat6Gambar 6. Pembebanan Terbagi Merata6Gambar 7. Pembebanan Bervariasi Uniform6Gambar 8. Batang Tumpuan Sederhana7Gambar 9. Batang Kartilever7Gambar 10. Batang Overhang7Gambar 11. Batang Menerus7Gambar 12. Defleksi Aksial8Gambar 13. Defleksi Kantilever8Gambar 14. Defleksi Lateral Secara Tegak Lurus Penampang9Gambar 15. Defleksi Karena Adanya Momen Puntir9Gambar 16. Metode Integrasi Ganda10Gambar 17. Sketsa Metode Luas Momen12Gambar 18. Metode Superposisi14Gambar 19. Alat Ukur Defleksi17Gambar 20. Batang Uji17Gambar 21. Beban18Gambar 22. Mistar18Gambar 23. Jangka Sorong18Gambar 24. Dial Indikator19Gambar 25. Jepit19Gambar 26. Engsel19Gambar 27. Roll20

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Data Pengujian Tumpuan Jepit dan Rol Dengan Beban Ditengah21Tabel 2. Data Pengujian Tumpuan Jepit dan Rol Dengan Beban Diujung21Tabel 3. Data Pengujian Tumpuan Engsel dan Rol Dengan Beban Ditengah21

iv

BAB IPENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANGSesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia begitu juga ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan. Disertai dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif. Sama halnya dengan perkembangan teknologi dibidang konstruksi. Salah satu contoh penerapan ilmu konstruksi dalam dunia industry dan juga dapat kita lihat dalam kehiduoan sehari-hari yaitu, defleksi yang merupakan pengaplikasian pada jembatan misalnya.Salah satu persoalan yang sangat penting diperhatikan dalam perencanaan-perencanaan tersebut adalah perhitungan defleksi/lendutan dan tegangan pada elemen-elemen ketika mengalami suatu pembebanan. Hal ini sangat penting terutama dari segi kekuatan (strength) dan kekakuan (stiffness), dimana pada batang horizontal yang diberi beban secara lateral akan mengalami defleksi. Defleksi dan tegangan yang terjadi pada elemen-elemen yang mengalami pembebanan harus pada suatu batas yang diijinkan, karena jika melewati batas yang diijinkan, maka akan terjadi kerusakan pada elemen-elemen tersebut ataupun pada elemen-elemen lainnya.

1.2 TUJUAN 1. Mengetahui fenomena defleksi pada batang prismatic.2. Membuktikan kebenaran rumus-rumus defleksi teoritis dengan hasil percobaan.

1.2 MANFAAT1. Praktikan diharapkan dapat memperdalam pemahaman tentang fenomena-fenomena yang terjadi pada defleksi.2. Praktikan diaharapkan mampu menerapkan ilmu yang didapat pada praktikum defleksi ke dunia kerja nantinya apabila diperlukan.3. Dapat menghitung dan membandingkan hasil pengukuran defleksi.BAB II TINJUAN PUSTAKA

2.1 TEORI DASAR2.1.1 PengertianDefleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya pembebanan vertical yang diberikan pada balok atau batang. Deformasi pada balok secara sangat mudah dapat dijelaskan berdasarkan defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva elastis dari balok. Gambar 1 (a) memperlihatkan balok pada posisi awal sebelum terjadi deformasi dan Gambar 1 (b) adalah balok dalam konfigurasi terdeformasi yang diasumsikan akibat aksi pembebanan.

Gambar 1. (a) Balok sebelum terjadi deformasi, (b) Balok dalam konfigurasi terdeformasiDefleksi juga merupakan perubahan bentuk pada balok dalam arah sumbu y akibat adanya pembebanan dalam arah vertical. Pada semua konstruksi teknik, bagian-bagian pelengkap suatu bangunan haruslah diberi ukuran-ukuran fisik tertentu yang yang harus diukur dengan tepat agar dapat menahan gaya-gaya yang akan dibebankan kepadanya.Kemampuan untuk menentukan beban maksimum yang dapat diterima oleh suatu konstruksi adalah penting. Dalam aplikasi keteknikan, kebutuhan tersebut haruslah disesuaikan dengan pertimbangan ekonomis dan pertimbangan teknis, seperti kekuatan (strength), kekakuan (stiffines), dan kestabilan (stability). Pemilihan atau desain suatu batang sangat bergantung pada segi teknik di atas yaitu kekuatan, kekakuan dan kestabilan. Pada kriteria kekuatan, desain beam haruslah cukup kuat untuk menahan gaya geser dan momen lentur, sedangkan pada kriteria kekakuan, desain haruslah cukup kaku untuk menahan defleksi yang terjadi agar batang tidak melendut melebihi batas yang telah diizinkan. Suatu batang jika mengalami pembebanan lateral, baik itu beban terpusat maupun beban terbagi rata, maka batang tersebut mengalami defleksi. Suatu batang kontinu yang ditumpu pada bagian pangkalnya akan melendut jika diberi suatu pembebanan. Deformasi dapat dijelaskan berdasarkan defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi.

2.1.2 Hal - Hal Yang Mempengaruhi Defleksi1. Kekakuan batangSemakin kaku suatu batang maka defleksi batang yang akan terjadi pada batang akan semakin kecil.2. Besarnya kecil gaya yang diberikanBesar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar beban yang dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin kecil.3. Jenis tumpuan yang diberikanJumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar dari tumpuan jepit.4. Jenis beban yang terjadi pada batangBeban terdistribusi merata dengan beban titik,keduanya memiliki kurva defleksi yang berbeda-beda. Pada beban terdistribusi merata slope yang terjadi pada bagian batang yang paling dekat lebih besar dari slope titik. Ini karena sepanjang batang mengalami beban sedangkan pada beban titik hanya terjadi pada beban titik tertentu saja (Binsar Hariandja, 1996).Salah satu faktor yang sangat menentukan besarnya defleksi pada batang yang dibebani adalah jenis tumpuan yang digunakan.

2.1.3 Jenis - Jenis Tumpuan1. Tumpuan EngselTumpuan engsel merupakan tumpuan yang dapat menahan gaya horizontal maupun gaya vertikal yang bekerja padanya. Tumpuan yang berpasak mampu melawan gaya yang bekerja dalam setiap arah dari bidang. Jadi pada umumnya reaksi pada suatu tumpuan seperti ini mempunyai dua komponen yang satu dalam arah horizontal dan yang lainnya dalam arah vertikal. Tidak seperti pada perbandingan tumpuan rol atau penghubung, maka perbandingan antara komponen-komponen reaksi pada tumpuan yang terpasak tidaklah tetap. Untuk menentukan kedua komponen ini, dua buah komponen statika harus digunakan.

Gambar 2. Sketsa Tumpuan Engsel

2. Tumpuan RolRol merupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi vertical. Alat ini mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang spesifik. Penghubung yang terlihat pada gambar dibawah ini dapat melawan gaya hanya dalam arah AB rol. Pada gambar dibawah hanya dapat melawan beban vertical. Sedang rol-rol hanya dapat melawan suatu tegak lurus pada bidang cp.

Gambar 3. Tumpuan Rol

3. Tumpuan Jepit Jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertikal, gaya reaksi horizontal dan momen akibat jepitan dua penampang. Tumpuan jepit ini mampu melawan gaya dalam setiap arah dan juga mampu melawan suaut kopel atau momen. Secara fisik,tumpuan ini diperoleh dengan membangun sebuah balok ke dalam suatu dinding batu bata. Mengecornya ke dalam beton atau mengelas ke dalam bangunan utama. Suatu komponen gaya dan sebuah momen.