kopasan penting

Download kopasan penting

Post on 22-Oct-2015

15 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

i

POTENSI NANOPARTIKEL-MAGNETIK EKSTRAK DAUN SIRSAK SEBAGAI OBAT ANTIKANKER

Oleh:Nama: Rahmadi WijayaNIM: 0913015015

UNIVERSITAS MULAWARMAN2012

LEMBAR PENGESAHAN

POTENSI NANOPARTIKEL-MAGNETIK EKSTRAK DAUN SIRSAK SEBAGAI OBAT ANTIKANKER

KARYA TULIS ILMIAH

Oleh:Nama: Rahmadi WijayaNIM: 0913015015

Samarinda, 4 Mei 2012Mengetahui,

Pembantu Dekan IIIFakultas Farmasi UNMULHadi Kuncoro, S.Farm., Apt., M.FarmNIP. 198209012008121003Dosen PembimbingHadi Kuncoro, S.Farm., Apt., M.FarmNIP. 198209012008121003

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Swt. pemilik seluruh alam semesta. Tidak satupun kekurangan ada pada diri-Nya. Dia-lah Yang Maha Mengetahui, penggenggam seluruh ilmu pengetahuan. Hanya kepada-Nya saya meminta pertolongan dan hanya kepada-Nya saya menggantungkan harapan.Karya tulis ilmiah ini dapat selesai hanya atas izin Allah Swt. dalam tulisan ini saya membahas tentang penerapan nanoteknologi dalam penanganan kanker. Di luar Indonesia khususnya Amerika dan Eropa, penelitian dan pengambangan tentang nanoteknologi begitu intensif. Sedangkan Indonesia masih begitu santai dengan kondisinya sekarang. Terlena dengan perkataan Indonesia kaya akan bahan alam, menjadikan negara ini hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah yang dijual dengan harga murah ke luar negeri dan kemudian dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang mahal.Nanoteknologi dapat dimanfaatkan dalam pengobatan kanker karena dengan ukuran nanometer, obat akan lebih mudah masuk ke dalam sel kanker. Sehingga efek terapeutik akan lebih optimal. Dengan sedikit penambahan metode, sediaan obat dapat dibuat menjadi lebih selektif hanya menyerang sel kanker.Karya tulis ilmih yang berjudul Potensi Nanopartikel-Magnetik Ekstrak Daun Sirsak sebagai Obat Antikanker diharapkan dapat membuka wawasan pengetahuan tentang isu teknologi yang sedang berkembang di dunia. Saya mengetahui bahwa tulisan ini masih memilki banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya memohon kritik dan saran yang membangun agar terdapat perbaikan dikemudian hari.

Samarinda, 4 Mei 2012

Rahmadi Wijaya

DAFTAR ISI

Halaman Judul . iLembar Pengesahan .... iiKata Pengantar ... iiiDaftar Isi .. ivDaftar Gambar . vRingkasan viBab I. PendahuluanA. Latar Belakang 1B. Rumusan Masalah ... 2C. Tujuan Penulisan . 3D. Manfaat Penulisan ... 3Bab II. Telaah PustakaA. Kanker 4B. Tanaman Sirsak ...... 6C. Magnetit ................................... 8D. Teknologi Nanopartikel .. 12Bab III. Metode Penulisan ......................................................................... Bab IV. Analisis dan Sintesis . 17Bab V. Kesimpulan dan RekomendasiA. Kesimpulan 20B. Rekomendasi ........................................................................... 20Daftar Pustaka 21Biodata Penulis .. 23

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Tanaman Sirsak (Annona muricata L.) ................................... Gambar 2. Struktur kristal magnetit dan salah satu foto SEM partikel magnetit 10Gambar 2.2 Aktivitas nanopartikel terhadap sel kanker . 14Gambar 2.3 Skema pembuatan nanomaterial logamkoloid secara bottom up . 14

RINGKASAN

Penyakit kanker telah menjadi ancaman bagi kesehatan yang dapat menyebabkan kematian. Seiring dengan waktu, prevalensi penyakit ini ini terus meningkat. Pengobatan yang ada dianggap belum optimal dengan alasan memberikan efek samping yang begitu berbahaya akibat rendahnya selektivitas obat dan biaya pengobatan relatif mahal.Sel kanker dapat dihancurkan dengan senyawa-senyawa yang bersifat sitotoksik dan menurut penelitian terbaru bahwa sel kanker memilki kecenderungan menyerap zat besi sebagai katalisator melakukan pembelahan sel (metatasis).Senyawa-senyawa dari bahan alam menjadi pilihan alternatif untuk pengobatan kanker karena sifatnya yang lebih biokompatibel dan aman bagi tubuh. Daun sirsak (Annona muricata L.) terbukti mengandung senyawa acetogenins yang sangat bersifat sitotoksik (membunuh sel). Sedangkan di antara bahan-bahan anorganik, para peneliti mengungkap magnetit (Fe3O4) mampu menghasilkan resultan momen magnet secara simultan yang berasal dari batuan besi.Jadi, jika kedua bahan ini dapat disatukan menjadi suatu sediaan obat, maka akan diperoleh obat baru yang lebih selektif terhadap sel kanker dengan efek sitotoksik yang sangat kuat. Nanoteknologi akan membantu kinerja zat aktif (ekstrak daun sirsak dan magnetit) menjadi lebih efektif dan efisien karena ketika suatu material dibuat dalam ukuran nanometer, maka material tersebut akan memiliki sifat-sifat yang lebih baik dan berumur lebih panjang.Menjadi permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana membuat desain obat nanopartikel-magnetik ekstrak daun sirsak dan bagaimana mekanisme kerja dari sediaan obat tersebut.Sumber informasi atau data yang digunakan adalah informasi yang memenuhi kriteria, yakni terdapat data diri pengarang atau penyusun, alamat penanggung jawab, dan kehandalan. Informasi yang terkumpul dianalisa dengan metode deskriptif kualitatif untuk menerangkan nano teknologi dan metode analisis isi untuk menerangkan hubungan antara ekstrak daun sirsak, magnetit, dan nanoteknologi.Analisa dari telaah pustaka yang ada memberikan penjelasan bahwa ekstrak daun sirsak dibuat menjadi nanopartikel dengan pendekatan top down menggunakan alat Ball Mill dan magnetit dibuat dari batuan besi secara hidrotermal untuk menghasilkan nanopartikel. Untuk memperoleh hasil yang efektif dan efisien, maka obat dibuat dalam bentuk sedian parenteral-intravena untuk mengasilkan bioavaibilitas yang baik dan diberi pembawa polimer chitosan agar diperoleh sediaan lepas lambat.Rancangan desain obat seperti ini memiliki 5 keunggulan dalam bidang pengobatan kanker, yakni pertama, efek terapeutik yang optimal karena menggunakan ekstrak daun sirsak dan magnetit yang terbukti memiliki aktivitas sitotoksik yang kuat. Kedua, memberikan bioavaibilitas yang baik karena dalam bentuk sediaan parenteral-intravena dan obat dalam ukuran nanopartikel yang akan lebih cepat diabsorpsi. Ketiga, relatif aman karena menggunakan bahan-bahan yang alami. Keempat, pengobatan lebih selektif. Hanya sel kanker yang diserang untuk dimatikan karena hanya sel kanker yang memiliki kecenderungan mengabsorpsi zat besi (bersifat magnetik). Dan kelima, biaya lebih murah karena pelepasan obat dirancang secara perlahan menggunakan polimer chitosan sehingga frekuensi pemberiaan obat dapat dikurangi.Pemanfaatan nanoteknolgi di Indonesia dalam bidang pengobatan kanker akan memberikan kemajuan bagi bangsa ini dalam hal ilmu kesehatan, pengetahuan, dan ekonomi. Dengan demikian, nanoteknologi perlu segera dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Pengeluaran yang besar diawal untuk membiayai penelitian dan pengembangan nanoteknologi, tidak akan begitu berarti melihat manfaatnya di masa depan.

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangHampir 1 juta individu ditemukan menderita kanker setiap tahun, sekitar setengah diantaranya meninggal karena penyakit ini, sehingga merupakan salah satu ancaman yang utama terhadap kesehatan. Meskipun usaha pengobatan kanker secara intensif telah dilakukan, namun hingga kini belum ditemukan obat yang dapat mengatasi penyakit tersebut secara memuaskan. Hal ini disebabkan karena rendahnya selektifitas obat-obat antikanker yang digunakan ataupun patogenasi antikanker tersebut yang belum jelas (Yohana et al., 2005).Di seluruh dunia, hingga saat ini pengobatan alternatif kanker adalah operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi hormon atau imunoterapi, atau kombinasi di antara ke lima cara pengobatan tersebut tergantung pada jenis kanker dan stadiumnya saat dilakukan pengobatan. Penggunaan obat antikanker berupa kemoterapi umumnya tidak hanya satu obat yang diberikan melainkan beberapa kombinasi obat yang kerjanya saling melengkapi dalam membunuh sel-sel kanker. Obat antikanker yang dikombinasikan memiliki mekanisme aksi yang berbeda saat di dalam sel. Aksinya dapat meningkatkan pengerusakan terhadap sel kanker dan mungkin dapat menurunkan resiko perkembangan kanker yang resisten terhadap salah satu jenis obat. Namun, hal ini turut meningkatkan resiko efek samping yang merugikan bagi pasien.Meskipun usaha pengobatan kanker secara intensif telah dilakukan, namun hingga kini belum ditemukan obat yang dapat mengatasi penyakit tersebut secara memuaskan. Hal ini disebabkan karena rendahnya selektifitas obat-obat antikanker yang digunakan ataupun patogenasi antikanker tersebut yang belum jelas (Yohana et al., 2005; Subahar, 2004).Ada banyak bahan kimia yang sedang dikembangkan oleh para peneliti saat ini karena prospeknya untuk di gunakan sebagai obat antikanker. Fokus terbesar adalah penelitian terhadap senyawa-senyawa dari tumbuhan baik darat maupun tumbuhan laut yang bersifat aktif terhadap sel kanker. Senyawa-senyawa ini pada umumnya merupakan turunan flavanoid. (Ladelta, 2008). Selain itu para peneliti juga mempelajari material-material anorganik untuk diaplikasikan sebagai antikanker. Zat besi menjadi salah satu senyawa yang dilirik sebagai obat antikanker masa depan. Profesor Henry Lai dari Universitas Washington, AS, menyatakan bahwa sel-sel kanker memerlukan banyak zat besi untuk memperbanyak DNA, bila sel-sel kanker tersebut berkembang biak (Epochtimes, 2010). Hal ini membuka kesempatan bagi penelitan zat besi dalam pengobatan kanker.Tanaman sirsak (Annona muricata L.) terutama daunnya mengandung alkaloid, tanin, dan beberapa kandungan kimia lainnya termasuk annonaceous acetogenins. Annonaceous acetogenins merupakan senyawa yang memiliki potensi sitotoksik. Senyawa sitotoksik adalah senyawa yang dapat bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel kanker (Mardiana, 2011).Kemajuan teknologi di zaman sekarang, turut serta memajukan ilmu kesehatan dunia. Kini, para praktisi kesehatan tidak lagi berorientasikan pada penemuaan obat-obat baru, melainkan pada perbaikan sistem penghantaran obat yang s