kontruksi peran panglima laot lhok menuju tatakelola kawasan konservasi perairan daerah berbasis...

Download Kontruksi Peran Panglima Laot Lhok Menuju Tatakelola Kawasan Konservasi Perairan Daerah Berbasis Sosial-Ekologi Sistem

Post on 10-Jul-2015

377 views

Category:

Environment

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • [36]

    BAGIAN DUA

    Panglima Laot dapat memainkan perannya dalam membangun tatakelola yang baik untuk menjaga keseimbangan antara kegiatan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan ekosistem secara berkelanjutan.

    Konstruksi Peran Panglima Laot Lhok Menuju Tatakelola Kawasan Konservasi Perairan Daerah Berbasis Sosial-Ekologi Sistem

    [Zulhamsyah Imran dan Masahiro Yamao]

    Selama tahun 2007 hingga tahun 2012 tidak ada satupun Qanun Kabupaten Aceh Besar yang dihasilkan berkaitan dengan sektor kelautan dan perikanan.

    Dukungan Regulasi dalam Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Aceh Besar

    [Muhammad Insa Ansari]

    Pembangunan di sektor kelautan dan perikanan, tidak boleh dipandang sebagai cara untuk menghilangkan kemiskinan dan pengangguran. Namun, lebih dari itu karena sektor kelautan dan perikanan merupakan basis perekonomian nasional.

    Pengelolaan Wilayah Pesisir Aceh Menuju Perikanan dan Kelautan yang Berkelanjutan

    [Sitti Zubaidah]

    Agar sumberdaya laut tetap lestari atau berkelanjutan (sustainable), negara (pemerintah) juga harus mengawasi alat tangkap nelayan yang diketahui tidak ramah lingkungan.

    Pengelolaan Perikanan Aceh dalam Perspektif Islam: Menuju Perikanan Aceh yang Mandiri dan Lestari

    [Hafinuddin bin Hasaruddin]

  • [37]

    4

    Konstruksi Peran Panglima Laot Lhok Menuju Tatakelola Kawasan

    Konservasi Perairan Daerah Berbasis Sosial-Ekologi Sistem

    [Zulhamsyah Imran dan Masahiro Yamao]

    Pendahuluan

    Perairan laut Aceh1 berkontribusi positif terhadap produksi

    perikanan laut nasional dalam satu dekade terakhir. Namun, dalam

    kurun waktu 2003-2011, kontribusi perikanan tangkap Aceh cenderung

    menurun. Menurut catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan

    (2012), sekitar 135.040 ton atau 3,08% dari produksi perikanan laut

    Indonesia berasal dari Aceh pada 2003, kontribusi tersebut menurun ke

    2,73% pada 2011. Fluktuasi produksi nampak sekali dalam kurun

    waktu 2003-2011; terutama 2004, 2005, 2008, dan 2010 dengan

    pertumbuhan produksi -22,92%, -20.76%, -0.41%, dan -8.72% secara

    berurutan (Hasil Analisis, 2014).

    Kondisi produksi perikanan Aceh tidak terlepas dati status

    sumberdaya ikan pada Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 571 dan

    572 yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Disinyalir bahwa WPP

    571 dan 5722 masuk dalam kategori baik dan sedang, ditinjau dari

    komposisi sumberdaya ikan (Kepmen Menteri Kelautan dan Perikanan

    Nomor 45 Tahun 2011). Namun disebutkan dalam Kepmen tersebut

    bahwa beberapa jenis ikan pelagis dan demersal telah mengalami

    1 Untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya perikanan, perairan laut

    Indonesia dibagi menjadi 11 wilayah pengelolaan perikanan (WPP) (Surat Keputusan Menteri Keluatan dan Perikanan Nomor 45/MEN/2011). Perairan laut Aceh terletak pada WPP 571 (Selat Malaka) dan 572 (Samudera Hindia).

    2 Mencakup perairan Selat Malaka di pantai timur dan Samudera HIndia di Pantai Barat Aceh

  • [38]

    tangkap lebih (overfishing). Sebagai contoh, Imran dan Yamao (2014)

    melaporkan bahwa sumberdaya teri sebagai salah satu jenis ikan pelagis

    kecil sudah mengalami overfishing sejak sebelum tsunami dan terus

    memburuk kondisinya dalam kurung waktu 2007-2012 di Teluk Krueng

    Raya yang terletak pada WPP 571.

    Hal yang sama juga dialami ekosistem pesisir, terutama terumbu

    karang dan mangrove yang terus terdegradasi dalam kurun waktu

    tersebut. Aceh memiliki luas terumbu karang mencapai 152,34 km2

    berdasarkan data citra satelit tahun 2000-2002 (Aceh Ocean Coral,

    2012). Namun masih sedikit penelitian untuk memastikan bagaimana

    kondisi ekosistem terumbu karang tersebut. Lembaga Ilmu Pengetahun

    Indonesia melaporkan bahwa ada kecenderungan terjadinya degradasi

    kondisi terumbu karang di Aceh, baik disebabkan secara alami maupun

    karena faktor aktivitas manusia (anthropogenik). Gempa dan tsunami

    24 Desember 2004 semakin memperparah kerusakan eksositem ini

    yang tersebar di seluruh wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Aceh.

    Hasil survei Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh (2009) menunjukkan

    bahwa persentase tutupan karang keras hanya berkisar 0-25%.

    Sementara pendataan 2008-2010 terhadap 91 total lokasi yang di

    survey, menunjukkan bahwa hanya 14 lokasi tergolong dalam kondisi

    baik (Aceh Ocean Coral, 2012).

    Ekosistem mangrove pun mengalami degradasi dari waktu ke

    waktu. Hanya tersisa 105.260 ha setelah tsunami dan bertambah

    menjadi 422.703 ha setelah adanya rehabilitasi dan rekontruksi, namun

    160.876 ha dalam kondisi rusak berat (Badan Pengelolaan Daerah

    Aliran Sungai Krueng Aceh, 2007). Selain disebabkan oleh tsunami,

    penyebab utama kerusakan ekosistem mangrove adalah konversi

    menjadi lahan tambak dan pemanfaatan kayunya untuk berbagai

    peruntukkan.

    Fluktuasinya sumberdaya ikan dan rusaknya ekosistem utama

    pesisir merupakan ancaman bagi keberlanjutan mata pencaharian

    nelayan dan sekaligus mengingatkan akan arti pentingnya konservasi

    perairan dimasa mendatang. Berbagai produk kebijakan dan peraturan

    perundang-undangan pemerintah Indonesia telah memberikan koridor

    untuk konservasi sumberdaya alam dan ekosistem di wilayah pesisir

    dan laut. Bahkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah

  • [39]

    mengeluarkan beberapa peraturan menteri dan pedoman tentang

    kawasan konservasi perairan. Dari semua itu, hal yang menarik disimak

    adalah terbukanya peluang pelibatan kelembagaan traditional atau

    nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) dalam pengelolaan kawasan

    konservasi perairan tersebut.

    Aceh sebagai daerah otonom memiliki posisi tawar yang kuat

    dan melalui UU Nomor 11/2006 telah diberikan kewenangan secara

    khusus untuk mengelola kawasan konservasi perairan. UU ini

    memberikan ruang kepada Pemerintah Aceh untuk pelibatan

    kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan yang sudah lama

    eksis, yaitu Panglima Laot, khususunya pada tingkat lhok.

    Secara luas telah diketahui bahwa Panglima Laot Lhok (PLL)

    memiliki peran dan fungsi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan

    dan nelayan dalam batas-batas pengelolaan tertentu3. Sebagaimana

    diketahui bahwa peran sosial, budaya dan politik sudah banyak

    dikontribusikan oleh lembaga ini. Namun peran konservasi secara

    gamblang sangat jarang mengemuka, walaupun peran ini juga melekat

    pada PLL. Sebagai contoh, PLL Kruang Raya (2012) menyebutkan

    bahwa peran lembaga ini terkait dengan konservasi diantaranya

    mengingatkan para nelayan untuk tidak memotong pohon mangrove

    dan merusak terumbu karang. Peran ini dilakukan karena mereka sadar

    akan fungsi kedua ekosistem ini terhadap kelestarian sumberdaya ikan.

    Namun bila dikaji lebih jauh, peran konservasi terhadap kedua

    ekosistem ini dan sumberdaya alam yang berasosiasi di dalamnya masih

    belum berjalan dengan optimal.

    Memang sudah banyak upaya pengelolaan sumberdaya ikan

    sebagai sumberdaya milik bersama (common property resources, CPRs)

    dan kawasan konservasi perairan melalui kelembagaan formal baik

    dengan membentuk WPP atau badan/kelembagaan konservasi seperti

    taman nasional laut. Bahkan unit-unit dalam skala kecil seperti unit

    pengelolaan teknis Kawasan Konservasi Laut Daerah pun sudah mulai

    dibentuk di beberapa daerah di Indonesia. Namun yang menarik

    3 Umumnya batas-batas pengelolaan PLL adalah satu hamparan ekosistem

    (ecosystem boundaries) tertentu seperti muara, teluk, atau pantai); dan kebanyakan wilayah administrasinya berhimpitan dengan batasan administrasi kemukiman yang terdiri dari beberapa desa.

  • [40]

    dicermati adalah keterlibatan kelembagaan lokal seperti awig-awig di

    Nusa Tenggara Barat dan sasi di Ambon yang tetap mampu menjadi

    kelestarian sumberdaya ikan dan ekosistemnya. Belajar dari kedua

    kelembagaan tradisional ini, maka tidak salah jika mengharapkan PLL

    berbuat lebih banyak untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan

    dan ekosistem pesisir Aceh di masa yang akan datang.

    Beranjak dari kondisi dan fakta-fakta di atas, maka tulisan ini

    secara umum akan menguraikan suatu tinjauan terhadap perlu tidaknya

    membangun konstruksi tata kelola PLL dalam kegiatan konservasi

    perairan daerah (KKPD). Lebih khusus bertujuan: (1) identifikasi peran

    panglima laot terhadap konservasi sumberdaya perairan, dan (2)

    integrasi pelibatan panglima laot lhok dalam pengelolaan kawasan

    konservasi laut daerah.

    Tinjauan Peran Panglima Lhok dalam Konservasi

    PLL4 memliki peran-peran strategis dalam pengelolaan kegiatan

    perikanan tangkap di Aceh. Tak dapat dipungkiri bahwa peran lembaga

    tradisional ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan hiruk pikuk

    kondisi sosial-budaya-politik serta isu industrilisasi dan modernisasi

    perikanan. Namum sebagai entitas dan keterwakilan masyarakat

    nelayan, lembaga ini masih tetap eksis dan bertahan lebih dari 400

    tahun. Lembaga tradisional ini memeliki peran sosial untuk mengelola

    sejumlah nelayan dalam satu batasan social-ekologi. Peran social yang

    dominan adalah pengaturan hubungan antara manusia dengan sang

    pencipta dan hubungan manusia dengan manusia. Peran-peran lain

    yang menonjol adalah pengaturan atau