konsensus asma anak

Download Konsensus Asma Anak

Post on 09-Jul-2016

103 views

Category:

Documents

17 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

asma

TRANSCRIPT

  • Sari Pediatri, Vol. 2, No. 1, Juni 2000

    49

  • Topik Khusus Sari Pediatri, Vol. 2, No. 1, Juni 2000: 50 - 66

    Konsensus Nasional Asma Anak

    Unit Kerja Koordinasi Pulmonologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia

    Asma telah menjadi epidemi di seluruh dunia dengan kecenderungan meningkatnyaprevalens dan derajat penyakit asma. Untuk menanggulangi asma telah disusunberbagai panduan/konsensus, baik yang bertingkat nasional maupun internasional. DiIndonesia pada tahun 1994 UKK Pulmonologi IDAI telah mengeluarkan KonsensusNasional Asma Anak (KNAA) yang direvisi ulang pada bulan Desember 1998. Secaragaris besar KNAA terdiri dari dua bagian, bagian A tata laksana jangka panjang, danbagian B penanganan serangan asma. Batasan asma yang digunakan adalah mengiberulang dan/atau batuk persisten dalam keadaan asma adalah yang paling mungkin,sedangkan sebab lain yang lebih jarang telah disingkirkan. Secara klinis asma dibagimenjadi 3 derajat penyakit, yaitu asma episodik jarang (ringan), asma episodik sering(sedang), dan asma persisten (berat). Dari fungsinya obat asma ada dua kelompok, yaituobat pereda (reliever) yang digunakan untuk meredakan gejala/serangan asma bilatimbul, misalnya salbutamol dan teofilin. Obat pengendali (controller) atau obatprofilaksis adalah obat untuk mengendalikan/mencegah agar gejala/serangan asmatidak mudah timbul, misalnya kromolin dan budesonid. Obat pengendali diberikan padaasma episodik sering, dan terutama asma persisten. Perlu ditekankan bahwapenanggulangan asma tidak bisa semata mengandalkan obat, tapi yang tidak kalahpenting adalah penghindaran faktor pencetus. Serangan asma mencerminkan gagalnyatata laksana jangka panjang, atau adanya pajanan dengan faktor pencetus. Seranganasma dibagi menjadi 3 derajat, yaitu serangan ringan, sedang, dan berat. Beratnyaderajat serangan asma tidak selalu sesuai dengan derajat penyakit asmanya. Misalnyaasma episodik jarang (ringan) dapat saja mengalami serangan berat.

    1S aat ini di seluruh dunia tengah terjadi epidemi asma,yaitu peningkatan prevalens dan derajat asmaterutama pada anak-anak, baik di negara

    maju maupun negara berkembang. Di lain pihak, walaupunbanyak hal yang berkaitan dengan asma telah terungkapnamun ternyata hingga saat ini, secara keseluruhan asmamasih merupakan misteri. Penge-tahuan tentang patologi,patofisiologi, dan imunologi asma berkembang sangatpesat, khususnya untuk asma

    Unit Kerja Koordinasi Pulmonologi Ikatan Dokter Anak Indonesia

    Alamat Korespondensi:Pengurus Pusat IDAIGedung IDAI, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jl. Salemba 6, Jakarta 10430Telpon: (021) 3148610, Fax.: (021) 3913982 e-mail: saripediatri@idai.com

    pada orang dewasa dananak besar. Pada anakkecil dan bayi,mekanisme dasarperkembangan penyakitini masih belumdiketahui pasti. Lagipulabayi dan balita yangmengalami mengi saatterkena infeksi salurannapas akut, banyak yangtidak berkembangmenjadi asma saatdewasanya.

    Akibat ketidakjelasantadi, definisi asma padaanak sulit untukdirumuskan, sehinggauntuk menyusun diagnosis

    dan tata laksana yang bakujuga mengalami kesulitan.Akibat berikutnya adalahadanya under /overdiagnosis maupununder / overtreatment.Untuk mengatasi hal ituperlu adanya alurdiagnosis dan tata laksanaasma yang disepakatibersama. Secarainternasional untuk saat inipanduan penanganan asmayang banyak diikuti adalahGlobal Initiative forAsthma (GINA) yangdisusun oleh NationalLung, Heart, and BloodInstitute Amerika yangbekerjasama dengan

    50Sari Pediatri, Vol. 2, No. 1, Juni 2000

  • WHO, dan dipublikasikan pada bulan Januari 1995.GINA juga menyebutkan bahwa asma pada anaksulit didiagnosis. Prevalens asma anak di Indonesiauntuk kelompok usia sekolah lanjutan sudah ada,namun sayangnya belum ada data mengenaiunder / overdiagnosis maupununder/overtreatment.

    Untuk anak-anak, GINA tidak dapat sepenuhnyaditerapkan, sehingga Pediatric Asthma ConsensusGroup dalam pertemuan ketiganya pada bulan Maret1995 mengeluarkan suatu pernyataan tentangKonsensus Internasional III Penanggulangan AsmaAnak (se-lanjutnya disebut Konsensus Internasionalsaja) yang dipublikasikan pada tahun 1998.Konsensus adalah kesepakatan bersama bukan suatuSOP (standard operating procedure). Selain GINAdan Konsensus Internasional, banyak negara yangmempunyai konsensus nasional di negara masing-masing misalnya Konsensus Australia.

    Di Indonesia sudah ada Konsensus NasionalAsma Anak (KNAA) yang disusun oleh Unit KerjaKoordinasi (UKK) Pulmonologi IDAI pada bulanDesember 1994 di Jakarta dan ditetapkan dalamKONIKA (Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak)X di Bukitinggi pada bulan Juni 1996. Berhubungperkembangan yang ada sekarang ini, danberdasarkan pengalaman penggunaan-nya sampai saatini, maka rumusan Konsensus Nasional tersebutagaknya perlu ditinjau ulang. Pada acara SimposiumRespirologi Anak Masa Kini 11-12 Desember 1998 diBandung, materi Tinjauan Ulang ini telah disajikan.Selanjutnya pada pertemuan UKK Pulmonologi IDAI12-13 Desember 1998, materi ini mendapat masukandari peserta pertemuan dan telah disetujui bersama.

    A. Tatalaksana Jangka Panjang

    Definisi

    GINA mengeluarkan batasan asma yang lengkap, yangmenggambarkan konsep inflamasi sebagai dasarmekanisme terjadinya asma sebagai berikut. Asma ialahgangguan inflamasi kronik saluran napas denganbanyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil,dan limfosit T. Pada orang yang rentan, inflamasi inimenyebabkan episode mengi berulang, sesak napas,rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada malamatau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan denganpenyempitan jalan napas yang luas namun bervariasi,

    sebagian bersifat reversibel baik secara spontanmaupun dengan pengobatan. Inflamasi ini jugaberhubungan dengan hiperreaktivitas jalan napasterhadap berbagai rangsangan.1

    Batasan di atas memang sangat lengkap, namundalam penerapan klinis untuk anak tidak praktis.Agaknya karena itu para perumus KonsensusInternasional dalam pernyataan ketiganya tetapmenggunakan definisi lama yaitu: Mengi berulangdan/ atau batuk persisten dalam keadaan asmaadalah yang paling mungkin, sedangkan sebablain yang lebih jarang telah disingkirkan.Konsensus Nasional juga menggunakan batasanyang praktis ini dalam batasan operasionalnya.Sehubungan dengan kesulitan mendiagnosis asmapada anak kecil, dengan ber-tambahnya umur,khususnya di atas umur 3 tahun, diagnosis asmamenjadi lebih definitif. Bahkan untuk anak di atasumur 6 tahun definisi GINA dapat digunakan.2

    Diagnosis

    Berdasarkan definisi di atas, maka oleh para perumusKonsensus Internasional Penanggulangan Asma Anakdisusun suatu alur diagnosis asma pada anak (Bagan1). Publikasi Konsensus Internasional pertama3,kedua4, hingga pernyataan ketiga1 untuk diagnosisasma anak tetap menggunakan alur yang sama. Mengiberulang dan/atau batuk kronik berulang merupakantitik awal untuk menuju diagnosis. Termasuk yangperlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalahanak-anak yang hanya menunjukkan batuk sebagaisatu-satunya tanda, dan pada saat diperiksa tanda-tanda mengi, sesak, dan lain-lain sedang tidak timbul.

    Kelompok anak yang patut diduga asma adalahanak-anak yang menunjukkan batuk dan/atau mengiyang timbul secara episodik, cenderung pada malam /dini hari (nokturnal / morning dip), musiman, setelahaktivitas fisik, serta adanya riwayat asma dan atopipada pasien atau keluarganya.

    Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun)pemeriksaan faal paru sebaiknya dilakukan. Uji fungsiparu yang sederhana dengan peak flow meter, atauyang lebih lengkap dengan spirometer. Uji provokasibronkus dengan histamin, metakolin, gerak badan(exercise), udara kering dan dingin, atau dengan salinhipertonis, sangat menunjang diagnosis.6 Pemeriksaanini berguna untuk mendukung diagnosis asma anak

    51

    melalui 3 cara yaitu didapatkannya:5

    1 Variabilitas pada PFR atau FEV1 >15%. 2 Kenaikan >15% pada PFR atau FEV1 setelah

  • pemberian inhalasi bronkodilator. 3 Penurunan >15% pada PFR atau FEV1 setelah

    provokasi bronkus.

    Variabilitas adalah peningkatan dan penurunan hasilPFR dalam satu hari. Penilaian yang baik dapat dilakukanjika pemeriksaannya berlangsung >2 minggu. Penggunaanpeak flow meter walaupun mahal merupakan hal yangpenting dan perlu dibudayakan, karena selain untukmendukung diagnosis juga untuk mengetahui keberhasilantata laksana asma. Berhubung alat tersebut tidak selalu ada,maka Lembar Catatan Harian dapat digunakan sebagaialternatif karena mempunyai korelasi yang baik dengan faalparu. Lembar Catatan Harian dapat digunakan dengan atautanpa pemeriksaan PFR.5

    Jika gejala dan tanda asmanya jelas, serta responsterhadap pengobatan baik sekali maka tidak perlupemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Bila responsterhadap obat asma tidak baik maka perlu dinilaidahulu apakah dosisnya sudah adekuat, cara danwaktu pemberiannya sudah benar, serta ketaatanpasien baik, sebelum melanjutkan pengobatan denganobat yang lebih poten. Bila semua aspek tersebutsudah baik dan benar maka perlu dipikirkankemungkinan bukan asma.6

    Pasien dengan batuk produktif, infeksi salurannapas berulang, gejala respiratorik sejak masaneonatus, muntah dan tersedak, gagal tumbuh, ataukelainan fokal paru, perlu pe-meriksaan lebih lanjut.Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah fotoRontgen paru, uji fungsi paru, dan uji provokasi.Selain itu mungkin juga perlu diperiksa foto Rontgensinus paranaslis, uji keringat, uji imunologis, ujidefisiensi imun, peme