konjungtivitis dry eye

Download Konjungtivitis Dry Eye

Post on 16-Apr-2016

124 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB II. 1. LAPISAN AIR MATAAir mata merupakan lapisan dan mempunyai struktur yang sangat kompleks sehingga lebih tepat bila disebut lapisan air mata (LAM). LAM adalah garis pertahanan kedua permukaan okular setelah palpebra. LAM adalah tiga lapisan struktur yang terdiri dari atas lapisan lipid, aquos dan mukous dari anterior ke posterior dan menutupi permukaan epitel kornea dan konjungtiva. Ada pendapat yang menyatakan bahwa LAM hanya dua lapisan yaitu lapisan lipid dan aquos. Lapisan mukous berdasarkan anatomi dan fisiologinya dianggap merupakan bagian dari kornea dan epitel konjungtiva tempat melekatnya secara erat. Dengan pemeriksaan laser inferometri pandangan ini berubah karena ternyata musin bisa saja berada pada seluruh lapisan sehingga ketiga lapisan tersebut merupakan suatu kesatuan LAM. Tebal keseluruhan LAM, termasuk lapisan mukous sekitar 7 (.1LAM mempunyai 4 fungsi utama yaitu fungsi optik, mekanik, nutrisi dan defensif.1Fungsi optik : LAM menjadikan permukaan refraksi yang lembut dan reguler, mengisi iregularitas pada permukaan kornea.Fungsi mekanik :

Melekat pada permukaan kornea dan konjungtiva bulbi serta konjungtiva palpebra menjadikannya permukaan yang basah dan terlubrikasi. Melalui kedipan, LAM mengeliminir debris dari permukaan okular. Dengan adanya gradien osmotik, air dapat bergerak antara kornea dan LAM.

Fungsi nutrisi :

Kornea yang avaskular mendapatkan oksigen dari LAM. LAM membawa nutrien seperti glukosa yang berasal dari pembuluh pembuluh darah di konjungtiva palpebra menuju kornea.

Fungsi defensif :

LAM menjadi pertahanan pertama terhadap infeksi permukaan okular melalui aksi antibakterial protein dan enzim yang terkandung di dalamnya, terutama lisozim.

Untuk menjada stabilitas LAM maka ada 2 aspek utama yang penting yakni aspek komposisi LAM dan aspek hidrodinamik LAM. Aspek komposisi LAM adalah lipid, akuos yang mengandung elektrolit, protein dan lapisan musin, sedangkan aspek hidrodinamik LAM adalah bagaimana menutup dan membukanya palpebra yang ada hubungannya dengan evaporasi dan penyebaran LAM yang terjadi pada refleks mengedip. Untuk mendapatkan permukaan okular yang sehat, Tseng dan kawan-kawan mengemukakan 5 konsep dasar yang saling berkaitan yakni:11. Adanya hubungan yang erat antara epitel permukaan okular dengan LAM preokular.2. Stabilitas LAM berkaitan dengan terjaganya kelenjar meibom yang menghasilkan lipid.3. Mekanisme proteksi dikontrol oleh integrasi neuroanatomik yang diperankan oleh saraf oftalmik dan saraf fasial.4. Adanya stem sel limbal yang normal.5. Epitel permukaan okular yang fungsinya dittopang oleh fibroblas stroma dan matriks.Kelima konsep tersebut merupakan kunci pertahanan permukaan okular yang mengaturnya dengan LAM berfungsi sebagai suatu unit yang terintegrasi. Dengan memperhatikan hubungan erat antara LAM dengan permukaan okular, maka kini terdapat pemahaman yang merupakan cakrawala baru mengenai patogenesis terjadinya dry eye. Pflugfelder, dkk memperkenalkan lacrimal function unit pada tahun 1998, yang meliputi permukaan okular ( kornea, konjungtiva, kelenjar meibom), kelenjar lakrimal utama dan aksesorius, dan jaringan saraf yang menghubungkannya secara keseluruhan sehingga bersatu menjadi suatu unit yang terintegrasi dan saling berhubungan satu sama lainnya. Lebih lanjut dikemukakan bahwa dry eye terjadi akibat disfungsi integrasi unit fungsi lakrimal dengan permukaan okular, disamping itu adanya inflamasi pada permukaan okular juga berperan dalam terjadinya dry eye. Jika terjadi disfungsi dari salah satu komponen unit fungsi lakrimal maka akan berpengaruh terhadap komposisi dan stabilitas dari LAM. Beberapa penelitian juga mengemukakan bahwa penyakit lakrimal berpengaruh pada permukaan okular dan sebaliknya gangguan permukaan okular mempengaruhi fungsi lakrimal.1

Gambar 1. Unit fungsi lakrimal (kepustakaan 1)I. 1. 1. Lapisan Lipid

Bagian anterior LAM sangat tipis (0,1 (m) dan mengandung lipid polar dan nonpolar yang disekresikan oleh glandula meibom. Lapisan ini disekresi secara primer oleh glandula meibom yang terdapat di palpebra superior dan inferior dan mengandung ester, triasil gliserol, sterol ester dan asam lemak. Terdapat sekitar 30-40 glandula meibom di palpebra superior dan 20-30 di palpebra inferior dengan bentuk yang lebih kecil. Tiap orificium glandula terbuka kearah kulit pada margin palpebra diantara grey line dan persambungan mukokutan. Fungsi utama dari lapisan lipid adalah untuk menjada stabilitas lapisan aquos yang ada dibawahnya dan mencegah penguapan yang berlebihan. Lapisan menjadi berkurang bila permukaan okular dibilas dengan larutan normal saline atau medikasi sehingga meningkatkan evaporasi menjadi 10x lipat. Infeksi minor glandula meibom, terutama oleh staphilococcus juga dapat menurunkan stabilitas LAM oleh karena perubahan kimiawi meibom, produk sekresi dari glandula tersebut. Selain itu terdapat pula fungsi lain dari lapisan lipid yaitu menjadikan permukaan okular terlubrikasi dan kontribusi terhadap permukaan optik yang dibentuk oleh LAM keseluruhan.1I. 1. 2. Lapisan Akuos

Lapisan akuos merupakan lapisan yang paling tebal dan terdiri dari 98-99% air dan juga komponen lainnya yaitu elektrolit, faktor pertumbuhan, sitokin, imunoglobulin, ion-ion terlarut serta protein. Ketebalan komponen akuos sekitar 7 (m. Lapisan akuos disekresikan oleh glandula lakrimal mayor dan aksesoris Krause dan Wolfring. Elektrolit dan molekul-molekul kecil berfungsi untuk mengatur aliran-aliran osmotik antara epitel kornea dan LAM, pH buffer air mata, serta berperan sebagai kofaktor enzim dalam mengontrol permeabilitas membran. Protein-protein tersebut memegang peranan penting dalam mempertahankan permukaan okular terhadap agen mikroba melalui sekresi lisozim, beta-lysin, lactoferrin, IgA, IgG, dan protein serum yang telah tersaring di asinus glandula lakrimal. Protein itu juga berperan pada viskositas air mata.1I. 1. 3. Lapisan Mukus

Permukaan epitel kornea adalah hidrofobik sedangkan lapisan adalah hidrofilik. Fungsi utamanya adalah menutupi permukaan epitel kornea dan mempunyai tebal sekitar 0,05 (. Mukus disekresi oleh sel goblet konjungtiva dan sebagian kecil oleh glandula lakrimal. Jumlah sel goblet rata-rata pada mata orang normal sekitar 8,8/mm2. Setelah kedipan mata, palpebra superior menyentuh kornea dan kembali memberi lapisan mukus yang baru. Jumlah mukus yang cukup merupakan salah satu syarat untuk stabilitas LAM. Lapisan ini mempunyai berat molekul 2000-4000kd dan sebagian besar terdiri atas glikoprotein yang terglikosilasi. Lapisan ini bersifat larut air dan berbentuk seperti gel sehingga berperan untuk menjadikan permukaan kornea hidrofilik. Musin juga menurunkan tegangan permukaan LAM. Perlekatan LAM dengan permukaan okular juga meningkat karena adanya mikrovili dan invaginasi membran epitel yang dibungkus oleh glikokalis.1

Gambar 2. Lapisan air mata (kepustakaan 1)

BAB III. 2. 1. PENDAHULUANMata kering adalah kondisi yang sangat umum terjadi, yang mempengaruhi sebagian besar orang pada tahap tertentu dalam kehidupan mereka. Hal ini juga kondisi mata yang paling umum yang dilihat oleh ophtalmologis.2Di masa lalu, pengobatan mata kering selalu paliatif, dalam bentuk pengganti air mata. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa mata kering tampaknya disebabkan oleh peradangan. Konsep ini telah menyebabkan pergeseran dalam pengobatannya. Meskipun demikian, pengobatan konvensional masih memainkan peranan yang penting.2 I. 2. 2. DEFINISIInternational Dry Eye Workshop 2007 mendefinisikan mata kering sebagai berikut: Mata kering adalah penyakit multifaktorial dari air mata dan permukaan mata, yang menghasilkan gejala ketidaknyamanan, gangguan visual, dan ketidakstabilan lapisan air mata, dengan potensi kerusakan pada permukaan mata. Hal ini disertai dengan peningkatan osmolaritas lapisan air mata, dan peradangan permukaan mata.2,3I. 2. 3. EPIDEMIOLOGI

Sub-komite dari International Dry Eye Workshop (2007) memeriksa data dari sejumlah studi kohort besar dan memberi perhatian khusus pada definisi yang digunakan dan kriteria yang digunakan, termasuk persyaratan untuk jumlah tertentu, frekuensi, dan intensitas gejala.4Di Amerika Serikat, dari Salisbury Eye Study menemukan 14,6% dari 2420 memiliki mata kering, dengan setidaknya 1 dari 6 gejala (kekeringan, berpasir, terbakar, kemerahan, krusta pada bulu mata, mata sulit dibuka di pagi hari).4Di Australia, dari Melbourne Visual Study menemukan 5,5% dari 926, dengan kriteria 1 dari 6 gejala yang dianggap berat, berupa ketidaknyamanan, benda asing, gatal, lakrimasi, kekeringan, fotofobia, tetapi yang tidak berkaitan dengan gejala yang disebabkan oleh hay fever.4Sementara di Asia, penelitian di Sumatera, Indonesia menemukan 27,5% dari 1058, memiliki setidaknya 1 dari 6 gejala, (kekeringan, rasa berpasir, terbakar, kemerahan, krusta pada bulu mata, mata sulit terbuka di pagi hari) yang terjadi sesekali maupun terus menerus.4I. 2. 4. ETIOLOGI Dekade terakhir telah membawa perbaikan yang signifikan dalam pemahaman tentang etiologi dan patogenesis KKS. Peran peradangan dalam KKS adalah salah satu faktor yang paling penting yang membantu dalam pemahaman dan pengobatan KKS. Temuan yang berkaitan dengan peradangan yang disertai dengan sekresi air mata yang berkurang dapat menyebabkan kerusakan permukaan okular. Usia yang lebih tua dan jenis kelamin perempuan (usia terutama perimenopause dan pascamenopause) merupakan faktor risiko terkenal dengan KKS. Studi menunjukkan bahwa hormon seks mempengaruhi kondisi permukaan okular melalui pengaruhnya terhadap sekresi air mata, fungsi kelenjar meibom, dan kepadatan sel goblet konjungtiva. Defisiensi androgen kronis dikaitkan dengan disfungsi kelenjar meibom. Wanita pasca menopause yang menggunakan terapi penggantian hormon (Hormone Replace Therapy-HRT) terutama estrogen, memiliki prevalensi lebih tinggi m