kom keputusan02

Click here to load reader

Post on 07-Jun-2015

1.160 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

WALIKOTA PALANGKA RAYA KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 08 TAHUN 2002 TENTANG PENERANGAN JALAN UMUM DAN PAJAK PENGGUNAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa untuk menunjang peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah kota Palangka Raya dipandang perlu membuat Keputusan tentang Pedoman Pemberian Ijin Usaha Jasa Kontruksi Nasional di Daerah b. Bahwa, untuk melaksanakan sebagaimana dimaksud huruf a, diatas perlu ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah; 6. Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 16 Tahun 2000 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilyah Kota Palangka Raya Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA PALANGKA RAYA MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN IJIN USAHA JASA KONSTRUKSI NASIONAL BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: a. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa masyarakat sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Pemerintah Daerah adalah Walikota beserta perangkat Daerah otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; c. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; d. Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah adalah Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya; e. Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) adalah ijin untuk melakukan usaha di bidang Jasa Konstruksi sebagaimana Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya; f. Tarif biaya adalah besarnya biaya yang dipungut atas proses administrasi tiap-tiap ijin yang dikeluarkan; g. Registrasi adalah pendaftaran ulang Surat Ijin Jasa Konstruksi (IUJK); h. Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) dikeluarkan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya dengan atas nama Walikota; i. Lembaga adalah lembaga sebagaimana dimaksud Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang jasa konstruksi. BAB II SYARAT-SYARAT IJIN USAHA KONSTRUKSI Pasal 2 (1)Badan Usaha Nasional ayau Perorangan yang ingin memperoleh Ijin Usaha Jasa Konstruksi harus mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya. (2)Bagi Badan Usaha seperti pada ayat 1 (satu) diatas yang lulus Sertifikat dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi dengan Kualifikasi B, M1 dan M2. Mempunyai Kantor dengan ruang minimal 30 m2 kecuali kualifikasi K3, K2, dan K1 diberikan dispensasi untuk dapat menggunakan rumah tinggal dengan luas ruangan minimal 15 m2. (3)Bagi Badan Usaha Jasa Konstruksi (Konsultan) Kualifikasi K, M dan B wajib mempunyai Kantor Minimal 30 M2. BAB III NAMA OBJEK DAN SUBJEK Dengan nama Biaya Administrasi dan Registrasi Pemberian Ijin Usaha Konstruksi (IUJK) sebagai pembayaran atas diterbitkan Ijin Usaha Jasa Konstruksi kepada Badan usaha atau Perorangan untuk dapat melaksanakan kegiatan dibidang Usaha jasa konstruksi dan Konsultasi. Pasal 4

Objek Biaya Administrasi dan Registrasi meliputi Permohonan Ijin Usaha, memperpanjang Ijin Usaha dan Perubahan Data Perusahaan, Pembukuan Cabang Perwakilan Perusahaan dan Registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi. Pasal 5 Subjek Biaya Administrasi dan Badan Usaha atau Perorangan yang mendapat Ijin Usaha Jasa Konstruksi, Pengesahan Pembukuan Cabang/Perwakilan dan Registrasi Ulang Ijin Usaha Jasa Konstruksi. BAB IV BESAR PENGGUNAAN BIAYA ADMINISTRASI DAN REGISTRASI IJIN USAHA KONSTRUKSI (IUJK) Pemungutan biaya administrasi dan registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi rasa keadilan kepada masyarakat, dampak terhadap pengembangan kegiatan usaha, biaya penelitian dan blanko, biaya bimbingan dan pembinaan, biaya pengolahan data, biaya dokumentasi, biaya pengawasan/ pembinaan dan pelaporan. Pasal 7 Besarnya tariff biaya administrasi dan registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) sebagai berikut : a. Bidang Kontraktor (pemborong). Penerbitan IUJK baru, memperpanjang dan mengubah data dengan kualifikasi : - K3 = Rp. 500.000,- K2 = Rp. 600.000,- K1 = Rp. 750.000,- M2 = Rp. 2.000.000,- M1 = Rp. 3.000.000,- B = Rp. 5.000.000,b. Bidang Konsultasi (Konsultan) Penerbitan IUJK baru, memperpanjang dan mengubah data dengan Kualifikasi : - K = Rp. 500.000,- M = Rp. 750.000,- B = Rp. 1.000.000,c. Registrasi Badan Usaha Oemborongan (Kontraktor) / Konsultasi (Konsultan) : - K = Rp. 150.000,- M = Rp. 500.000,- B = Rp. 1.250.000,d. Registrasi IUJK Badan Usaha Perwakilan Bidang PEmborongan dan Konsultasi tidak melihat klas dengan biaya Rp. 1.000.000,BAB V TATA CARA PEMBAYARAN (1)Pembayaran tariff biaya termasuk denda sebagaimana Pasal 12 Poin (3) dilakukan ke Bendaharawan Penerimaan yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota palangka Raya. (2)Setiap akhir bulan bendaharawan penerima biaya administrasi dan registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) wajib menyetor ke Kas Daerah Kota Palangka Raya pada bank yang ditentukan dan membuat laporan pertanggungjawaban Penerimaan Keuangan pada Dinas

Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya sesuai ketentuan yang berlaku. Pasal 9 (1) Kepada instansi yang melanggarkan administrasi dan Registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) diberikan sebesar 10% (sepuluh persen) dan realisasi penerimaan pungutan yang disetor ke Kas Daerah guna menunjang penyelenggaraan administrasi ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK). (2)Pungutan uang penyelenggaraan administrasi dan registrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi sebagaimana tersebut ayat (1) pasal ini, diatur seperlunya oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya. BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 10 (1)Bagian badan usaha atau perorangan yang telah memiliki Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) sebelum keputusan ini berlaku tidak dikenakan Biaya Administrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi. (2)Setiap Badan Usaha atau Perorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, yang melakukan perubahan dikenakan biaya administrasi Ijin Usaha Jasa Konstruksi. Pasal 11 (1) Surat ijin Usaha Konstruksi Badan Usaha Perorangan yang diterbitkan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota palangka raya adalah berlaku selama 3 (tiga) tahun. (2) Setiap Badan Usaha atau perorangan yang memperoleh Ijin Usaha Jasa Konstruksi wajib melakukan registrasi ulang ke Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Palangka Raya pada setiap tahun. (3) Badan usaha atau Perorangan yang melakukan registrasi ulang Ijin Usaha Konstruksi dikenakan biaya sebagaimana diatur dalam pasal 7 huruf c. Pasal 12 (1) Apabila Badan Usaha atau Perorangan yang telah memiliki Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) melakukan Registrasi Ulang sekaligus mengadakan Perpanjangan atau Perubahan Data dikenakan biaya Registrasi sesuai Pasal 7 Poin a, b dan c. (2) Ijin Usaha Jasa Konstruksi Badan Usaha atau perorangan harus menyampaikan Permohonan Perpanjangan Perubahan data dan registrasi selambat-lambatanya 15 (lima belas) hari sebelum masa berlakunya. (3)Badan Usaha atau Perorangan yang mengajukan PErmohonan Perpanjangan, Perubahan Data dan registrasi Ulang setelah habis masa berlakunya seperti pada poin 2 diatas pasal ini, dikenakan sanksi denda sebesar Rp. 25.000,- untuk setiap-tiap hari

keterlambatan diatas Konstruksi (Kontraktor) a. Kualifikasi K = Rp. b. Kualifikasi M = Rp. c. Kualifikasi B = Rp.

1 (satu) bulan dan seterusnya baik Jasa maupun Jasa Konsultasi (Konsultan) : 750.000,1.050.000,1.250.000,Pasal 13

(1)Ijin Jasa Konstruksi Bdan Usaha Perorangan dapat diterbitkan setelah lulus registrasi kualifikasi pada Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Propinsi Kalimantan Tengah dengan melampirkan Surat Kelulusan. (2)Penulisan Bidang Pekerjaan pada Ijin Usaha Jasa Konstruksi sesuai dengan kelulusan registrasi LPJK dan sesuai dengan Surat Rekaman Kartu tenaga Teknik Perusahaan. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 14 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini akan diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota palangka Raya. Pasal 15 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar semua orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 01 Februari 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 01 Februari 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 01

WALIKOTA PALANGKA RAYA KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 11 TAHUN 2002 TENTANG PENETAPAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) BAHAN BAKAR MINYAK TANAH, PREMIUM DAN MINYAK SOLAR UNTUK BEBERAPA TEMPAT DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa, dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2002 tentang jual Eceran Bahan Minyak Dalam Negeri dan Surat Menteri Dalam Negeri republic Indonesia Nomor : 541/214/SJ tanggal 23 Januari 2002 perihal Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET)mMinyak tanah, Solar dan Premium untuk beberapa tempat di wilayah Kota Palangka Raya perlu disesuaikan dengan situasi kondisi setempat. c. Bahwa, untuk menyesuai harga eceran minyak sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 7. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 09 Tahun 2002 tentang Harga Jual Eceran bahan Bakar Minyak Dalam Negeri. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG PENETAPAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) BAHAN BAKAR MINYAK TANAH, PREMIUM DAN MINYAK SOLAR UNTUK BEBERAPA TEMPAT DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan: j. Bahan Bakar Minyak (BBM) adalah minyak tanah, premium dan minyak solar; k. Agen Minyak tanah (AMT) yaitu stasiun pengisian Bahan Bakar Minyak Tanah tang ditunjuk oleh Pemerintah dan PERTAMINA untuk disalurkan kepada rumah tangga dan usaha kecil melalui Pangkalan Minyak Tanah.

l. Agen Premium dan Minyak Solar yaitu stasiun pengisi bahan baker premium dan minyak solar untuk umum yang ditunjuk oleh Pemerintah dan PERTAMINA m. Pangkalan Minyak Tanah (PMT) adalah tempat melayani pembelian eceran Minyak Tanah untuk rumah tangga dan usaha kecil. n. Harga Eceran tertinggi (HET) Minyak tanah adalah harga jual eceran tertinggi Bahan Bakar Minyak tanah untuk keperluan rumah tangga dan usaha kecil. o. Yang dimaksud dengan usaha kecil adalah usaha kecil sebagaimana dimaksud didalam Undang-Undang Nomor 09 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Pasal 2 Harga Eceran Tertinngi (HET) Minyak tanah, Premium dan Minyak Solar ditetapkan sebagai berikut : (1)Harga Eceran tertinggi (HET) Minyak tana setiap liter pada Agen Minyak Tanah untuk Kecamatan Pahandut ditetapkan Rp. 820,(delapan ratus dua puluh rupiah) dan untuk Kecamatan Bukit Batu ditetapkan Rp. 850,- (delapan ratus lima puluh rupiah); (2)Harga Eceran Tertinggi (HET) premium setiap liter pada Agen Premium dan Minyak Tanah ditetapkan Rp. 1.725,- (seribu tujuh ratus dua puluh lima rupiah). (3)Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyak Solar setiap liter pada Agen Premium dan Minyak Solar ditetapkan Rp. 1.325,- (seribu tiga ratus dua puluh lima rupiah). (4)Harga Eceran tertinggi (HET) Minyak Tanah setiap liter pada Pangkalan minyak tanah ditetapkan Rp. 900,- (sembilan ratus rupiah), untuk Kecamatan Pahandut dan Rp. 950,- (Sembilan ratus lima puluh rupiah) untuk Kecamatan Bukit Batu. Pasal 3 Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyak Tanah, Premium dan Minyak Solar dengan perincian komponen penetapannya adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran I dan II Keputusan ini. Pasal 4 Pembinaan dan pengawasan terhadap penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET), penyaluran dan pengeceran Minyak tanah, Premium dan Minyak Solar dilakukan bersama antara Pemerintah Kota Palangka Raya dan instansi terkait lainnya dengan membentuk satuan tugas yang dikoordinir oleh DInas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kota Palangka Raya. Pasal 5 Apabila terjadi kelangkaan minyak tanah di Kota Palangka Raya, maka agen minyak tanah melakukan operasi pasar bekerja sama dengan PERTAMINA dengan koordinasi Pemerintah Kota. Pasal 6 Agen Minyak Tanah, Premium dan Minyak Solar dan Pangkalan Minyak tanah yang melakukan pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1), (2), (3) dan (4) Keputusan ini,

dikenakan sanksi sesuai undangan yang berlaku.

dengan

ketentuan

peraturan

perundang-

Pasal 7 Dengan berlakunya Keputusan ini, maka Keputusan Walikota Palangka raya Nomor : 89 Tahun 2001 tentang Penetapan harga Eceran Tertinggi (HET) Bahan Bakar Minyak Tanah, Solar dan Premium untuk beberapa tempat di Wilayah Kota Palangka raya dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 8 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini akan diatur kemudian oleh Walikota Palangka Raya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 9 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar semua orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 07 Februari 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 07 Februari 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 02

LAMPIRAN 1

: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR : 02 TAHUN 2002 TANGGAL : 7 FEBRUARI 2002

HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) MINYAK TANAH DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYAN o Lokasi Harga sesuai Kepres No 9 Tahun 2002 Setiap Liter (Rp) 3 600,600,Keuntungan Agen/Penyal ur Setiap Liter (Rp) 4 45,45,Ongkos Angkutan Melalui Alur Sungai Setiap Liter (Rp) 5 175,225,Harga Eceran Tertinggi Agen ke Pangkalan Setiap Liter (Rp) 6 820,870,Keuntunga n Pangkalan Setiap liter (Rp) 7 80,80,Harga Eceran Tertinggi Pangkalan Setiap Liter (Rp) 8 900,950,-

1 1 2

2 Kec. Pahandut Kec. Bukit Batu

No

Lokasi

Haga sesuai Kepres No 9 Tahun 2002 Setiap Liter (Rp.) Premium M. Solar 1.550,1.150,-

Ongkos Angkutan melalui Alur Sungai Setiap Liter (Rp) Premium M. Solar 175,175,-

Harga Eceran Tertinggi Pangkalan Setiap Liter (Rp.) Premium 1725,M. Solar 1.325,-

1

Kota Palangka Raya

WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 07 Februari 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 02

WALIKOTA PALANGKA RAYA KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 73 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) BENGKEL KERJA (WORKSHOP) PEEBAIKAN KENDARAAN DAN ALAT BERAT PADA DINAS PENGELOLAAN PASAR, KEBERSIHAN DAN PARKIR KOTA PALANGKA RAYA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa, sebagai pelaksanaan lebih lanjut Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 24 Tahun 2001 Pasal 5 dan 6 tentang Pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) tahun 2001 Dinas Pengelolaan Pasar, kebersihan dan Parkir dan untuk meningkatkan Pendapatan Asli daerah (PAD) dari sektor jasa bengkel dan perawatan kendaraan roda empat maupun berupa peralatan berat seperti tractor, excavator dan lain-lain, perlu dibentuk Unit Pelaksana Teknis bengkel Kerja (NET WORK SHOP) pada Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan parker Kota Palangka Raya. d. Bahwa, untuk pembentukan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 9. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 10. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 11.Peraturan Pemerintah RI Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); 12.Peraturan Pemerintah RI Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 165); 13.Peraturan Daerah kota palangka raya Nomor 24 Tahun 2001 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pengelolaan Pasar, kebersihan dan parker Kota Palangka Raya (Lembaran Daerah Kota Palangka Raya Tahun 2001 Nomor 24).

MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG PEMBENTUKAN UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) BENGKEL KERJA (WORK SHOP) PERBAIKAN KENDARAAN DAN ALAT BERAT PADA DINAS PENGELOLAAN PASAR, KEBERSIHAN DAN PARKIR KOTA PALANGKA RAYA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan: p. Pemerintah daerah adalah Pemerintah Kota Palangka Raya; q. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; r. Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Parkir adalah Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Parkir Kota Palangka Raya; s. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bengkel Kerja (Work Shop) adalah Unit pelaksana Teknis Bengkel Kerja (Work Shop) kota Palangka Raya BAB II KEDUDUKAN, TUGAS DAN FUNGSI Pasal 2 Harga Eceran Tertinngi (HET) Minyak tanah, Premium dan Minyak Solar ditetapkan sebagai berikut : (1)UPT Bengkel Kerja (Work Shop) adalah UPT yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Parkir Kota palangka Raya; (2)UPT Bengkel Kerja (Work Shop) dimaksud ayat (1) pasal ini, dipimpin oleh seorang Kepala Unit Pelaksana Teknis yang memiliki kualifikasi teknis. Pasal 3 UPT Bengkel Kerja (Work Shop) mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok dibidang pemeliharaan, perwatan, pengembangan, perbaikan dan pengadaan barang dan peralatan terhadap sarana dan prasarana milik Pemerintah Daerah Kota Palangka Raya, dan melayani masyarakat umum yang berminat, dan biaya kan diatur/ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya atas dasar persetujuan DPRD Kota Palangka Raya. Pasal 4 Untuk melaksanakan tugas-tugas pada Pasal 3 Keputusan ini, UPT engkel Kerja (Work Shop) Kota Palangka Raya mempunyai tugas : a. Melaksanakan Urusan Tata Usaha/Administrasi UPT Bengkel Kerja (Work Shop) Kota palangka Raya. b. Melaksanakan pemeliharaan, perwatan, pengembangan, perbaikan dan pengadaan barang dan peralatan terhadap sarana dan prasarana milik Pemerintah Daerah Kota palangka Raya c. Melaksanakan pemeliharaan, perawatan dan perbaikan terhadap peralatan berat milik Pemerintah Daerah

d. Melaksankaan, berminat.

menerima

order

dari

masyarakat

umum

yang

BAB III ORGANISASI Bagian Pertama SUSUNAN ORGANISASI Pasal 5 Susunan Organisasi UPT Bengkel Kerja (Work Shop) terdiri dari : a. Kepala UPT b. Urusan Bagian Tata Usaha dan Quality Control c. Urusan Seksi Bengkel Kerja (Work Shop) d. Urusan Seksi Operasional Peralatan Bengkel Kerja (Work Shop) Bagian Kedua SUB BAGIAN TATA USAHA Pasal 6 1. Urusan Tata Usaha dan Quality Control mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan Administrasi kepegawaian, keuangan dan umum ketertiban surat menyurat serta pelaporan. 2. Urusan Tata Usaha dan Quality Control dipimpin oleh seorang Kepala Urusan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala UPT. Pasal 7 Untuk melaksanakan tugas tersebut pada Pasal 6 keputusan ini, Urusan Tata Usaha dan Quality Control mempunyai fungsi : a. Menyusun dan merencanakan program serta langkah-langkah kegiatan pada urusan Tata Usaha serta menyediakan data/informasi yang sesuai dengan tugas pokok maupun fungsi UPT. b. MEnyelenggarakan administrasi perlengkapan dan inventarisasi barang yang berada di bawah pengelolaan UPT. c. Menyusun dan membuat laporan yang tertulis mengenai pemasukan dari pelaksanaan pekerjaan Bengkel Kerja (Work Shop) pada setiap akhir bulan yang bersangkutan. d. Memeriksa/mengoreksi dan mengevaluasi hasil kerja staf pelaksana yang berada di lingkungan/urusan pekerjaannya sesuai dengan petunjuk dan ketentuan yang berlaku, guna menghindari kesalahan dan kekliruan. e. Melaporkan semua pelaksanaan kegiatan UPT disertai saran atau pertimbangan baik secara lisan maupun tertulis untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut dari pimpinan. f. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan. Bagian Ketiga SEKSI BENGKEL KERJA (WORK SHOP) Pasal 8 1. Melaksanakan kegiatan dan bertanggung jawab atau kelancaran dan terselenggaranya aktivitas (work shop).

2. Seksi Bengkel Kerja (work shop) dipimpin oleh seorang Kepala Urusan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala UPT Bengkel Kerja (Work Shop) Kota palangka Raya. Pasal 9 Untuk melaksanakan tugas tersebut pada Pasal 8 keputusan ini, Urusan Seksi Bengkel (Work Shop) mempunyai fungsi : a. Melakukan pengumpulan, mengolah/menyusun dan merencanakan program serta langkah-langkah kegiatan ataupun teknis operasional pelaksanaan jenis penanganan dan pemeliharaan peralatan serta sarana dan prasarana dinas. b. Menyusun laporan / data-data yang telah dan akan dilaksanakan sesuai dengan bidang tugasnya. c. Menginventarisir semua komponen peralatan yang mengalami kerusakan sebelum dilakukan perbaikan. d. Menjaga keamanan dan pemeliharaan peralatan agar tetap dalam kondisi operasional dan siap dipakai. e. Mendistribusikan tugas kepada staf yang berada langsung dibawahnya sehingga tugas-tugas dapat dilaksanakan dengan baik. f. Melakukan koordinasi baik vertikal maupun horizontal guna kelancaran pelaksanaan tugas. g. Memeriksa/mengoreksi dan mengevaluasi hasil kerja pelaksana yang berada di lingkungan/urusan pekerjaannya sesuai dengan petunjuk dan ketentuan yang berlaku, guna menghindari kesalahan dan kekeliruan. h. Melaporkan semua pelaksanaan kegiatan, disertai saran atau pertimbangan baik secara lisan maupun tertulis untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut dari pimpinan. i. Melaksanakan tugas yang diberikan pimpinan. Bagian Keempat SEKSI OPERASIONAL PERALATAN Pasal 10 (1)Urusan Seksi Operasional peralatan mempunyai tugas pokok pemeliharaan dan perawatan terhadap peralatan milik Pemerintah Kota Palangka raya. (2)Urusan Seksi Operasional peralatan dipimpin oleh seorang kepala Urusan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala UPT. Pasal 11 Untuk melaksanakan tugas tersebut pasal 10 Keputusan ini, Seksi Operasional Peralatan mempunyai tugas : a. Menyusun dan membuat rencana kerja operasional peralatan yang berada di bawahnya, guna pencapaian target retribusi pemakaian alat berat. b. Melakukan/melaksanakan kegiatan operasional/operator peralatan. c. Mendistribusikan tugas kepada staf yang berada langsung dibawahnya sehingga tugas-tugas dapat dilaksanakan dengan baik. d. Melakukan koordinasi baik vertikal maupun horizontal guna kelancaran pelaksanaan tugas e. Memeriksa/mengoreksi dan mengevaluasi hasil kerja staf pelaksana yang berada dilingkungan/ urusan pekerjaanya sesuai dengan

petunjuk dan ketentuan yang berlaku, guna menghindari kesalahan dan kekeliruan. f. Melaporkan semua pelaksanaan kegiatan, disertai saran atau pertimbangan baik secara lisan maupun tertulis untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut dari pimpinan. g. Melaksanakan tugas yang diberikan pimpinan. BAB IV BAGAN ORGANISASI Pasal 12 (1)Bagan Organisasi UPT Pemeliharaan dan Perawatan Bengkel kerja (Work Shop) Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Parkir sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. (2)Lampiran tersebut pada ayat (1) pasal ini merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan keputusan ini. BAB V KEPEGAWAIAN Pasal 13 (1)Kepala UPT pemeliharaan dan Perawatan Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Parkir diangkat dan diberhenyikan oleh Walikota atas usul Kepala Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Parkir. (2)Urusan Tata Usaha, Urusan Seksi (Work Shop) dan Urusan Seksi Operasional Peralatan diangkat dan diberhentikan oleh Walikota atas usul Kepala Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Parkir. Pasal 14 (1)Pembinaan urusan kepegawaian UPT pemeliharaan dan perawatan (Work Shop) Dinas Pengelolaan Pasar, Kebersihan dan Parkir dilaksanakan oleh Walikota. (2)Pembinaan teknis dilakukan oleh instansi teknis. BAB VI TATA KERJA Pasal 15 (1)Kepala UPT Pemeliharaan dan Perawatan (work shop), Urusan Bagian Tata Usaha, Urusan Seksi (Work Shop), Urusan Operasional Peralatan dan Kelompok Jabatan Fungsional dalam melaksanakan tugasnya wajib menerapkan prinsip koordinasi dan kerjasama fungsional dengan cara sebaik-baiknya. (2)Kepala UPT Pemeliharaan dan Perbaikan Workshop berkewajiban memberi petunjuk, membina, membimbing dan mengawasi pekerjaan unsure-unsur pembantu dan pelaksana yang berada pada lingkup tugasnya. (3)Setiap pimpinan kesatuan organisasi dalam lingkup unit organisasi berkewajiban memimpin, mengadakan koordinasi bertanggung jawab mengadakan bimbingan, pembinaan dan petunjuk bagi pelaksanaan tugas menurut jabatan masing-masing. Pasal 16 (1)Setiap pimpinan pada lingkup UPT pemeliharaan dan Perawatan (Work Shop) wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk dan bertanggung

jawab kepada atasan masing-masing serta mengajukan laporan berkala tepat pada waktunya. (2)Setiapa laporan yang diterima dari bawahan wajib diolah dan dipergunakan sebagai bahan laporan lebih lanjut dan dijadikan bahan untuk memberikan petunjuk kepada bawahannya BAB VII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 17 Jenjang dan kepangkatan serta jenjang kepegawaian pada lingkup UPT Pemeliharaan dan Perawatan Dinas Pengelolaan Pasar, Kebesihan dan Parkir ditetapkan Walikota. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 18 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar semua orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 30 April 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 30 April 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 04

LAMPIRAN 1

: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR : 73 TAHUN 2002 TANGGAL : 30 APRIL 2002

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI UPT BENGKEL KERJA (WORK SHOP) KENDARAAN DAN ALAT BERAT PADA DINAS PENGELOLAAN PASAR, KEBERSIHAN DAN PARKIR PEMERINTAH KOTA PALANGKA RAYA KADIS

KEPALA UPT

URUSAN/QUALITY CONTROL

URUSAN WORK SHOP

URUSAN PERALATAN

WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 30 April 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 04

WALIKOTA PALANGKA RAYA KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 108 TAHUN 2002 TENTANG PENETAPAN SASARAN PRODUKSI PANGAN KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. bahwa, sesuai Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan, Pemenuhan Kebutuhan Pangan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah dan Masyarakat. e. bahwa, dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Kota Palangka Raya Tahun Anggaran 2002 perlu ditetapkan sasaran produksi pangan; f. bahwa, untuk menjamin tercapainya maksud huruf b, diatas, perlu ditetapkan dengan keputusan Walikota Palangka Raya. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 14. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman; 15. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian; 16. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan; 17. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 18. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia; 19. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah pusat dan Daerah; 20.Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Bank Umum dalam Rangka Pembiayaan Kredit Usaha Tani; 21.Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai daerah otonom; 22.Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan; 23.Keputusan Presiden Nomor 132 Tahun 2001 tentang Dewan Ketahanan Pangan; 24.Keputusan Menteri Pertanian Nomor 20/Kpts/OT.2310/10/1997 tentang Pedoman Usaha Kemitraan; :

25.Keputusan Menteri Pertanian Nomor 93/Kpts/OT.210/3/1997 tentang Pedoman Pembinaan Kelompok Tani Nelayan; 26.Keputusan Menteri Keuangan Nomor 487/KMK.107/1999 tentang penunjukan BUMN sebagai Koordinator Penyaluran Kredit Program; 27.Keputusan Menteri Pertanian/Ketua Badan Pengendali Bimas Nomor 997/Kpts/OT.210/9/1999 tentang Pedoman Penerapan Teknologi/Paket Teknologi Pertanian dalam pelaksanaan Program Bimas Intensifikasi; 28.Keputusan Menteri Pertanian Nomor 339/Kpts/OT.530/8/2000 tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan Skim Kredit Ketahanan Pangan; 29.Peraturan Daerah Kota Palangka RayaNomor 20 Tahun 2000 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pertanian Kota Palangka Raya. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG PENETAPAN SASARAN PRODUKSI PANGAN KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2002 Pasal 1 Sasaran Produksi Pangan di Kota Palangka Raya Tahun Anggaran 2002 terdiri dari : a. Sasaran Produksi Pangan Pertanian di Kecamatan Pahandut dan Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya; b. Sasaran Produksi Pangan Peternakan di Kecamatan Pahandut dan Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya; c. Sasaran Produksi Pangan Perikanan di Kecamatan Pahandut dan Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya; d. Sasaran Produksi Pangan Perkebunan di Kecamatan Pahandut dan Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya; Pasal 2 Ketentuan pokok penyelenggaraan Pencapaian Sasaran Produksi Pangan di Kota Palangka Raya Tahun Anggaran 2002 sebagaimana tercantum pada lampiran Keputusan ini. Pasal 3 Koordinasi Pelaksanaan Kebijaksanaan Pencapaian Sasaran Produksi pangan hendaknya berpedoman pada prosedur yang telah ditetapkan; Pasal 4 Tata cara dan tata laksana pencapaian sasaran produksi bagi masingmasing instansi teknis diatur lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Teknis yang bersangkutan; Pasal 5

Materi tata cara dan tata laksana Tugas Fungsional sebagaimana dictum KELIMA disesuaikan dengan ketentuan dan peraturan perundangundangan; Pasal 6 Camat selanjutnya merinci dan menjabarkan pencapaian sasaran produksi pangan serta menetapkan pedoman pelaksanaan pencapaian sasaran produksi pangan bagi kelurahan masing-masing; Pasal 7 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Keputusan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah kota Palangka Raya. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 20 Juni 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 20 Juni 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 05

LAMPIRAN: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 108 TAHUN 2002 TANGGAL 20 JUNI 2002 KETENTUAN POKOK PENYELENGGARAAN PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PANGAN PRODUKSI PANGAN KOTA PALANGKA RAYA TAHUN ANGGARAN 2002 (Periode Januari-Desember 2002) BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Pengertian Dalam Lampiran Keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan,

bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan dan minuman. 2. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, merata dengan harga terjangkau. 3. Koperasi Tani adalah badan usaha yang beranggotakan anggota kelompok tani yang bergerak di sektor pertanian dan tumbuh berdasarkan kesamaan aktivitas dan kepentingan ekonomi. 4. Kredit Ketahanan Pangan yang selanjutnya disebut KKP untuk sektor pertanian adalah kredit investasi dan atau modal kerja yang diberikan oleh Bank Pelaksana kepada petani, peternak, kelompok (tani dan peternak) dalam rangka pembiayaan intensifikasi padi, jagung, kedelai, ubi jalar, ubi kayu, peternak sapi potong, ayam buras, itik dan mina padi. 5. Bank pemberi kredit usaha tani selanjutnya disebut Bank, adalah Bank Umum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan yang telah diubah dengan UndangUndang Nomor 40 Tahun 1998. 6. Koperasi Primer yang selanjutnya disebut Koperasi adalah koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan orang-seorang, sebagaimana diatur oleh Undang-Undang Nomor 25 Tanhun 1992 tentang Perkoperasian. 7. Perluasan Areal Tanam (PAT) adalah upaya penambahan areal tanam, baik melalui peningkatan Indek Pertanaman (IP) dari IP 100 menjadi IP 200 dan IP 200 menjadi IP 300, pemanfaatan lahan potensial yang selama ini tidak diusahakan, maupun pemanfaatan lahan bukan baru. 8. Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI) adalah berbagai kegiatan yang dimaksudkan agar mampu mendorong petani/kelompok tani memperkuat kelembagaan dan atau kegiatan usaha lainnya sehingga dapat mendorong peningkatan produktivitas. 9. Rencana Definitif Kelompoktani (RDK) adalah rencana kerja usaha tani dari kelompok tani untuk satu periode tertentu, yang susunan melalui musyawarah anggota kelompok tani yang berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama dalam pengelolaan usaha tani seperti: sasaran areal tanam, pola tanam, gerakan-gerakan, jadwal kegiatan, pembagian tugas lain-lain. 10.Rencana Definitif Kebutuhan Kelompoktani (RDKK) adalah rencana kebutuhan kelompok tani untuk satu periode tertentu yang susunan berdasarkan musyawarah anggota kelompok tani, meliputi kebutuhan benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian serta kodal kerja, untuk mendukung pelaksanaan RDK yang dibutuhkan oleh petani serta yang merupakan pesanan kelompok tani kepada koperasi atau lembaga lain. 11.Tahun Anggaran yang selanjutnya disingkat TA adalah waktu tanam selama 1 (satu) tahun yang dimulai 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2002

Pasal 2 Pokok-Pokok Kebijaksanaan 1. Penyediaan pangan bagi masyarakat merupakan tugas bersama antara Pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, pencappaian sasaran produksi dan penyediaan pangan menjadi komitmen bersama yang perlu didukung sepenuhnya. 2. Pencapaian sasaran produksi pangan masyarakat dilaksanakan dengan mempertimbangkan kesesuaian dan daya dukung lahan, kondisi sosial ekonomi masyarakat petani dan daya saing produksi pangan. 3. Penetapan sasaran produksi pangan merupakan manifestasi program Dinas/Instansi terkait sesuai dengan tahapan yang ingin dicapai setiap tahun. 4. Untuk meningkatkan daya saing produk pangan dilakukan melalui upaya peningkatan produksi dan produktivitas, efisiensi, mutu kualitas dan promosi. 5. Dalam rangka pengembangan sumbar daya alam secara optimal, efisien dan berkelanjutan dilakukan dengan peningkatan mutu budidaya melalui peningkatan penerapan teknologi produksi dalam rangka pengembangan industri pangan masyarakat. 6. Sasaran produksi pangan disusun berdasarkan perencanaan dari Tingkat Desa, Kecamatan , Kabupaten, Propinsi dan Musyawarah Tingkat Nasional mempertimbangkan kepentingan ketahanan pangan nasional. 7. Untuk memenuhi kebutuhan pangan menuju ketahanan pangan nasional maupun daerah, diupayakan ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya aman, merata dengan harga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat di tingkat rumah tangga, ketahanan pangan tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat. 8. Untuk memantapkan ketahanan pangan nasional, diterapkan sistem pemantuan situasi produksi dan ketersediaan pangan melalui Sistem Ketersediaan Pangan dan Gizi (SKPG) sektor pertanian di Tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat. 9. Dalam rangka pencapaian sasaran produksi pangan pertanian di Kota Palangka Raya, dilaksanakan melalui Penambahan Areal Tanam (PAT) dan Peningkatan Mutu Intensifikasi (PMI), penjabaran operasional lebih lanjut sasaran PAT dan PMI TA. 2002 ditetapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Palangka Raya. 10.Dalam rangka pencapaian sasaran produksi pangan ternak di Kota Palangka Raya Tahun 2002 dilaksanakan melalui upaya peningkatan produksi daging dan telur. Operasional lebih lanjut di daerah ditetapkan oleh Dinas Pertanian Kota Palangka Raya melalui Subdin Pengembangan Peternakan. 11.Dalam rangka pencapaian sasaran produksi perikanan dilaksanakan melalui kegiatan penangkapan dan usaha budidaya. Operasional

kegiatan lebih lanjut di daerah akan diterbitkan petunjuk teknis oleh Dinas Pertanian Kota Palangka Raya melalui Subdin Pengembangan Perikanan. 12.Dalam rangka pencapaian sasaran produksi pangan perkebunan di Kota Palangka Raya dilaksanakan melalui upaya peningkatan produksi kelapa dan kelapa sawit Ta. 2002. Operasional kegiatan lebih lanjut di daerah akan ditetapkan oleh Dinas Pertanian Kota Palangka Raya melalui Subdin Pengembangan Perkebunan. Pasal 3 Lingkup Kegiatan Pencapaian sasaran produksi pangan di Kota Palangka Raya Tahun Anggaran 2002 diselenggarakan melalui kegiatan-kegiatan: 1. Gerakan operasional dari berbagai instansi terkait dalam Dewan Bimas Ketahanan Pangan berdasarkan Keputusan/Instruksi/Surat Edaran yang dikeluarkan. 2. Gerakan pembinaan, penerangan dan penyuluhan pertanian serta pelayanan kepada petani/kelompok tani oleh instansi terkait agar petani mengerti dan mengadopsi paket teknologi spesifik lokasi yang dianjurkan. 3. Pengadaan dan penyaluran saran produksi pertanian serta penyaluran dan pengembalian kredit yang dilakukan secara terkoordinasi oleh lembaga terkait sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya. 4. Pembinaan dalam kegiatan pra panen, pasca panen, pengolahan hasil, pemasaran hasil pangan dan distribusinya dilakukan oleh instansi terkait sesuai dengan tugas, fungsi dan tanggungjawabnya. 5. Pengendalian, pemantauan, pelaporan dan evaluasi pencapaian sasaran produksi pangan dilaksanakan pada berbagai tingkatan agar dapat berjalan sesuai dengan rencana dan petunjuk teknis. BAB II SASARAN Pasal 4 1. Guna meningkatkan produksi pangan dalam rangka pemantapan ketahanan pangan nasional, sasaran produksi pangan pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan di Kota Palangka Raya Tahun Anggaran 2002 (Periode Januari-Desember 2002) adalah sebagai berikut: a. Sasaran Produksi Pangan Pertanian sebesar: - Sasaran produksi Padi 440 ton GKG - Sasaran produksi Jagung 1.800 ton Pipilan Kering - Sasaran produksi Kedelai 110 ton Biji Kering - Sasaran produksi Ubi Kayu 330 ton Umbi Basah - Sasaran produksi Ubi Jalar 242 ton Umbi Basah - Sasaran produksi Kacang Tanah 118 ton Biji Kering

- Sasaran produksi Kacang Hijau Kering - Sasaran produksi Holtikultura: * Sayuran * Buah-buahan b. Sasaran Produksi Pangan Peternakan: - Sasaran produksi Daging - Sasaran produksi Telur c. Sasaran Produksi Pangan Perikanan - Sasaran produksi Hasil Penangkapan - Sasaran produksi Hasil Budidaya d. Sasaran Produksi Pangan Perkebunan - Sasaran produksi Kelapa - Sasaran produksi Ubi Jalar

2.795 ton 1.099 ton

ton

Biji

1.296.745 Kg 63.138 Kg 2.495 ton 2.250 ton 245 ton 49.070 butir - ton TBS

2. Rincian sasaran luas panen, produktivitas dan produksi pangan pertanian tercantum pada nomor 1, 1a, 1b, 1c, 1d, 1e, 1f, 1g, 1h, 1i, 1j, 1k dan 1l. 3. Rincian sasaran produksi pangan peternakan tercantum pada daftar nomor 2, 2a, 2b, 2c, 2d, 2e, 2f, 2g, 2h, 2i, 3, 3a, 3b, 3c, 3d, 3e, 3f, 3g, 3h, 3i, 4, 4a, 4b, 4c, 4d, 4e, dan 4f. 4. Rincian sasaran produksi pangan Perikanan tercantum pada daftar nomor 5 dan 6. 5. Rincian sasaran produksi pangan perkebunan sebagaimana daftar nomor 7. BAB III USAHA TANI Pasal 5 Pengelolaan Usaha Tani 1. Dalam upaya optimalisasi penggunaan lahan, indek pertamanan dioptimalkan melalui pengaturan pola tanam, jadwal tanam/tangkap yang tepat terutama bagi pemilihan komoditas, varietas dan musim. 2. Dalam rangka pengembangan wawasan agrobisnis dan sekaligus upaya peningkatan pendapatan petani, dilaksanakan melalui pendekatan rekayasa nilai tambah, baik kegiatan produksi pada on farm maupun kegiatan off farm secara efisien pada saat sebelum dan sesudah proses produksi pangan. 3. Untuk mewujudkan off farm uyang dinamis, diarahkan penumbuhan koperasi tani atau asosiasi kelompok tani yang selalu didampingi dan dibina berkelanjutan sampai dengan taraf mandiri oleh instansi yang terkait dalam penyelenggaraan program ketahanan pangan. Pasal 6 Pengendalian Organisme Pengganggu 1. Pada dasarnya perlindungan tanaman/hewan dan ikan dari organisme pengganggu menjadi tanggung jawab petani/peternak/pekebun dan nelayan di lahan usaha taninya sendiri. Dalam hal terjadi eksplosi dan atau serangan organisme pengganggu yang membahayakan dan

tidak dapat ditangani oleh petani/peternak/pekebun dan nelayan, maka pemerintah dapat membantu menanggulanginya. 2. Pengamatan dan pengendalian oragnisme pengganggu dilaksanakan oleh petani/peternak/pekebun dan nelayan dibantu oleh petugas Pengendalian Hama dan Penyakit (PHP) sehingga petani lebih mudah dalam mengantisipasi perkembangan organisme pengganggu di lahan usahanya 3. Dalam mengantisipasi secara dini akan timbulnya serangan organisme pengganggu di setiap wilayah, maka perlu diberdayakan regu-regu pengendalian hama penyakit tanaman (PHP) yang ada dan dibantu petugas lapangan. Dalam upaya pengendalian, agar tetap mengacu pada Konsep Pengendalian Hama Terapadu (PHT). 4. Pengendalian OPT yang sesuai dengan pelaksanaan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) harus memenuhi persyaratan aspek teknis, ekonomis, social budaya masyarakat dan ekologis, serta dilaksanakan dalam suatu kerjasama yang terpadu antar instansi terkait. 5. Pemnafaatan sumber daya ikan yang cenderung merusak keseimbangan ekosistem perlu dilakukan pencegahan melalui pengawasan, pemantauan dan pemasangan rambu-rambu larangan pada daerah rawan sumbaer daya ikan. Pasal 7 Panen, Pasca Panen dan Pemasaran 1. Untuk meningkatkan nilai tambah dan menekan kehilangan hasil, baik mutu maupun bobot dilaksanakan perlakuan panen dan pasca panen sesuai dengan teknologi yang dianjurkan. 2. Untuk memperpanjang daya simpan, meningkatkan nilai tambah bagi petani/peternak/pekebun dan nelayan serta meningkatkan mutu hasil pangan perlu dilakukan pengolahan hasil yang tepat. 3. Guna memperoleh jaminan pemasaran hasil dengan harga yang layak, dikembangkan pola kemitraan antara kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra. 4. Pengembangan pemasaran hasil harus dapat menjamin aspek kulitas, kuantitas dan kuntinuitas dengan harga yang layak. 5. Dalam upaya peningkatan produksi perikanan dan mempertahankan konsumsi 40 kg/capital/tahun, pengembangan penangkapan ikan terus digalakkan terutama pada daerah potensial. 6. Guna mempermudah pemasaran ikan hasil tangkapan dan budidaya perlu dikembangkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebagai pusat penampungan dan distribusi ikan. 7. Untuk menjamin daging yang sehat dan aman akan dikembangkan Rumah Potong Hewan (RPH) yang memenuhi persyaratan teknis dan memadai. 8. Dalam upaya meningkatkan produksi peternak perlu dikembangkan rumah potong dan ternak unggas.

BAB IV SARAN PRODUKSI DAN PERMODALAN Pasal 8 Pengairan 1. Seluruh areal atau daerah irigasi terjamin airnya baik irigasi teknis, setengah teknis dan irigasi sederhana (desa) di semua tipologi lahan baik tadah hujan, pasang surut maupun rawa lebak agar dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam usaha pengembangan pangan. 2. Pemanfaatan/penggunaan air irigasi bagi komoditi pangan secara bijaksana sehingga tidak mengganggu ketersediaan air bagi komoditi pangan prioritas spesifik lokasi. 3. Dalam rangka optimasi pemanfaatan air, terutama pada musim kemarau yang diperkirakan mengalami kekurangan pasok air agar dilakukan hal-hal sebagai berikut: a. Di setiap daerah irigasi agar menyusun pola tanaman yang sesuai dengan ketersediaan pasok air. b. Apabila pasok air mengalami penurunan, maka panitia irigasi berkewajiban menyusun jadwal giliran pembagian air, sehingga terpenuhi asas adil dan merata, dengan mengembangkan budaya hemat air. c. Panitia irigasi bersama-sama mengurus P3A berkewajiban memantau pelaksanaan rencana pola dan jadwal pergiliran pembagian air yang telah ditetapkan dan apabila terjadi hambatan supaya segera ditata ulang. d. Pemanfaatan air larian (running water), air hujan, air sungai melalui pengembangan pompanisasi. e. Pengelolaan sarana dan prasarana irigasi disesuaikan dengan pola tanaman sehingga air irigasi dapat dimanfaatkan secara optimal. Pasal 9 Benih 1. Penggunaan benih dalam rangka pencapaian sasaran produksi pangan sebagai berikut: a. Petani/peternak/pekebun dan nelayan diupayakan menggunakan benih/bibit unggul, khusus untuk padi, jagung, kedelai agar diupayakan menggunakan benih berlabel biru. b. Dalam rangka percepatan peningkatan produksi, dikembangkan penggunaan benih/bibit unggul yang direkomendasi sesuai dengan daerah pengembangannya. c. Untuk benih kelapa sawit menggunakan benih dan produsen yang telah ditentukan oleh Pemerintah sesuai Surat Persetujuan Penyaluran Benih Kelapa Sawit (SP2B-KS) oleh Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. b. d.Untuk benih kelapa dalam menggunakan benih unggul local yang berasal dari blok penghasil tinggi yang telah ditetapkan Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. 2. Guna memenuhi kebutuhan benih ikan, akan dikembangkan pasar benuh terapung sebagai pusat penampungan dan distribusi benih untuk keperluan nelayan.

3. Penggunaan benig/bibit dalam satu wilayah binaan penyuluh disesuaikan dengan rekomendasi teknologi anjuran spesifik lokasi. 4. sesuai dengan ketentuan yang berlaku, perencanaan produksi dan pemenuhan kebutuhan benih/bibit menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah. Pasal 10 Pupuk dan Pestisida 1. Pengadaan dan penyaluran pupuk dan pestisida secara umu dilakukan sesuai dengan mekanisme pasar. Dalam rangka mengantisipasi kelangkaan khususnya pupuk urea, pengadaan dan penyaluran pupuk urea hendaknya berpedoman kepada Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor: 93/MPP/Kep/3/2001 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Urea untuk sektor pertanian. 2. Selain pupuk urea, TSP/SP-36, ZA dan KCL, Petani/peternak/pekebun dan nelayan dapat menggunakan pupuk lainnya sesuai dengan rekomendasi teknologi setempat. 3. Pemerintah Propinsi danKabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya berkewajiban memantau dan mengawasi penyediaan dan penyaluran pupuk dan pestisida agar terjamin efektivitas sehingga memenuhi criteria 6 tepat yaitu: tepat jumlah, tepat waktu, tepat jenis, tepat mutu, tepat tempat dan tepat harga. Pasal 11 Permodalan 1. Petani/peternak/pekebun dan nelayan dapat memanfaatkan sumbersumber permodalan yang tersedia. 2. Bagi petani/peternak/pekebun dan nelayan yang membutuhkan tambahn modal dapat memanfaatkan fasilitas program melalui Ketahanan Pangan (KKP). Dalam rangka pemanfaatan KKP hendaknya berpedoman pada ketentuan sebagai berikut: a. Fasilitas KKP diberikan kepada petani/peternak/pekebun dan nelayan umtuk membiayai komoditi padi, kedelai dan jagung, ubi kayu, ubi jalar, intab, insapp, intik, budidaya/penangkapan ikan dan pengadaan pangan. b. KKP disalurkan oleh Bank-Bank Umum yang ditunjuk/disetujui Departemen Keuangan yaitu sebagai berikut: - PT. BRI sebagai koordinator bank pelaksana kredit program KKP. - Bank Umum lainnya sebagai pelaksana. c. KKP disalurkan bank kepada petani/peternak/pekebun dan nelayan yang bergabung dalam kelompok tani hamparan. d. Persyaratan dan ketentuan penyaluran KKP sebagaimana dimaksud pada ayat 2 di atas, ditetapkan oleh Departemen Keuangan. 3. KKP disalurkan oleh Bank Pelaksana dalam satu tahun penyediaan melalui koperasi yang besarnya didasarkan pada kebutuhan nyata petani/kelompok tani sesuai dengan RDKK.

4. Besarnya plaplond dana dan kebutuhan indikasi KKP/hektar untuk masing-masing komoditi ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5. Kebutuhan indikatif KKP/hektar merupakan pedoman maksimum pemberian kredit oleh bank pelaksana kepada petani/peternak/pekebun/nelayan. 6. Petani/peternak/nelayan/kelompok tani yang tidak memanfaatkan KKP dapat menggunakan sumber modal sendiri, tabungan kelompok tani atau kredit lainnya. BAB V DUKUNGAN KELEMBAGAAN Pasal 12 Kelompoktani 1. Kelompoktani diberdayakan dalam rangka menumbuhkan rasa kebersamaan, kemandirian dan kerjasama baik dalam kelompok maupun antar kelompoktani untuk melaksanakan 5 (lima) jurus kemampuan kelompoktani. 2. Agar kelompoktani mampu menerapkan teknologi yang dianjurkan secara penuh, mampu memecahkan masalah yang dihadapi serta mampu memanfaatkan peluang ekonomi, maka kelompoktani terus ditingkatkan dan diberdayakan kepada hal-hal berikut: a. Peningkatan kepemimpinan, pengembangan dinamika dan kemampuan kelompotani dalam perencanaan usaha dari bawah secara musyawarah melalui kegiatan perencanaan partisifatif. b. Peningkatan kemampuan menyusun RDK/RDKK dengan berpedoman pada hasil kesepakatan musyawarah kelompoktani. c. Peningkatan kemampuan mengurus kegiatan usaha tani termasuk kegiatan off farm secara mengusahakan kerjasama usaha tani. d. Peningkatan kemampuan kelompoktani dalam mengembangkan agrobisnis dan menjalin kemitraan dengan koperasidan perusahaan mitra berdasarkan hubungan kemitraan yang saling menguntungkan, membutuhkan dan menguatkan. e. Peningkatan kemampuan kelompoktani untuk membina anggotanya menjadi anggota koperasi dan menjadi tempat pelayanan koperasi (TPK). f. Peningkatan kemampuan kelompoktani untuk mengembangkan fungsi kelompok seperti tempat belajar, wahana usaha kelompok usaha. g. Penumbuhan kelompoktani menjadi koperasi usaha. h. Pemberdayaan kelompoktani untuk mewujudkan lumbung desa. Pasal 13 Koperasi 1. Koperasi sebagai wadah kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan diberdayakan untuk dapat: a. Meningkatkan dan memantapkan fungsi koperasi sebagai pelayanan sarana produksi, permodalan, pengolahan dan pemasaran hasil. b. Meningkatkan peranan koperasi dalam peningkatan skala usaha.

c. Meningkatkan kemampuan pengurus manajemen dan administrasi. Pasal 14 Kelembagaan Penyuluh

koperasi

dalam

aspek

1. Meningkatkan kinerja penyuluhan melalui peningkatan peran dan fungsi kelembagaan penyuluhan (BPP/BIPPK/BIPPKP)yang dilakukan sebagai berikut: a. Mempercepat pembenahan pengelolaan kelembagaan penyuluhan sesuai dengan fungsinya terutama dalam peningkatan sumber daya menusia dan alih teknologi pangan di tingkat lapangan. b. BPP/BIPPK/BIPPKP bertanggung jawab di bidang dukungan penyelenggaraan penyuluhan produksi pangan di tingkat kabupaten/kota dengan memperhatikan program dari dinas dan instansi terkait lainnya. c. BPP merupakan instansi/sarana BIPP/BIPPK/BIPPKP untuk menunjang penyelanggaraan penyuluhan pangan di tingkat kecamatan. Pengelolaan BPP dilakukan oleh koordinator penyuluh bersama-sama dengan kelompok tani nelayan. d. BPP difungsikan dalam upaya meningkatkan kinerja penyuluh, dengan menerapkan sistem pembinaan di wilayah kerjanya, serta memonitor pengembangan usaha tani. e. Menjadikan BPP sebagai pusat informasi tentang pangan serta sebagai instalasi/sarana kegiatan penyuluhan di tingkat kecamatan dan desa. 2. Peran dan fungsi dalam pencapaian sasaran produksi pangan meliputi: a. Meningkatkan partsipasi petani dalam setiap tahapan kegiatan (perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pemecahan masalah). b. Menumbuhkan dinamika dan kepemimpinan anggota kelompok tani melalui kegiatan musyawarah, diskusi dan penyusunan RDK dan RDKK. c. Membimbing kelompok tani dalam penyusunan RDKK dan bertanggung jawab atas kebenaran RDKK. d. Menyampaikan anjuran teknologi tepat guna kepada petani dan membina penerapannya dalam rangka peningkatan mutu intensifikasi. e. Membina dan mendorong berkembangnya organisasi dan kemampuan petani dalam mengamalkan 5 (lima) jurus kemampuan kelompok tani. f. Mendorong terwujudnya hubungan kemitraan usaha antara kelompok tani dengan koperasi, serta hubungan kemitraan usaha antara kelompok tani, koperasi dan perusahaan mitra. g. Membina pelaksanaan perakitan/rancang bangun usaha tani sesuai dengan kondisi setempat. h. Menyiapkan bahan penyusunan program penyuluhan (kabupaten/kota dan BPP) dan menyusun rencana kerja penyuluhan. i. Menyiapkan rencana kerja pada tingkat wilayah binaan penyuluh. BAB IV TATA LAKSANA Pasal 15 Tata Kerja di Kota Palangka Raya

1. Sasaran produksi pangan Tahun Anggaran 2002 yang ditetapkan dalam Keputusan Walikota agar dijabarkan lebih lanjut ke dalam Keputusan Camat. 2. Rencana indikatif yang tercantum dalam Keputusan Bupati Kabupaten/Kota agar dijabarkan lebih lanjut oleh Camat sampai ke tingkat lapangan. 3. Instansi terkait dalam wadah Dewan Bimas Ketahanan Pangan bertanggung jawab melakukan pengawasan melekat, sehingga setiap sub sistem Ketahanan Pangan dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. BAB VII DUKUNGAN ANGGARAN Pasal 16 Pembiayaan 1. Dukungan pembiayaan yang diperlukan dalam penyelenggaraan pencapaian sasaran produksi pangan di Kota Palangka Raya dibebankan pada Anggaran APBN dan APBD yang ada pada masingmasing instansi terkait. 2. Dukungan pembiayaan dimaksud pada angka 1 diarahkan untuk membiayai kegiatan perencanaan pelaksanaan, penggerakkan dan pengendalian sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. BAB VIII PENUTUP Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan ditetapkan kemudian oleh Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan berdasarkan musyawarah dengan anggota. Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 20 Juni 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 20 Juni 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 05

WALIKOTA PALANGKA RAYA KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 111 TAHUN 2002 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBERIAN IJIN PENELITIAN DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA WALIKOTA PALANGKA RAYA Menimbang a. Bahwa Kota Palangka Raya sebagai daerah otonomi memungkinkan sebagai lokasi atau objek kegiatan penelitian baik oleh perorangan maupun badan hukum. b. Bahwa sebagai kemungkinan menjadi lokasi atau objek penelitian akan membawa dampak kepada masyarakat lingkungan dan penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kota. c. Bahwa bidang Penelitian dan Pengembangan pada Badan Diklat Litbag Kota disamping mempunyai tugas pokok melakukan penelitian dan pengembangan juga melakukan pelayanan pemberian ijin penelitian bagi orang atau bafdan hukum yang melakukan penelitian di wilayah Kota Palangka Raya. d. Bahwa untuk pelaksanaan pelayanan dalam bentuk pemberian iji penelitian kepada orang atau badan hukum perlu membuat petunjuk teknis pemberian ijin penelitian di wilayah Kota Palangka Raya dengan Keputusan Walikota Palngka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kota Praja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2753); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3839); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewengan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3952); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah; 5. Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 12 Tahun 2000 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Diklat Litbang Kota Palangka Raya. MEMUTUSKAN Menetapkan: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBERIAN IJIN PENELITIAN DI WILAYAH KOTA PALANGKA RAYA

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah Otonom selanjutnya disebut Daerah adalah Kota Palangka Raya; 2. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 3. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 4. Badan Diklat Litbang adalah Badan Diklat Litbang Kota Palangka Raya; 5. Kepala Badan adalah Kepala Badan Diklat Litbang Kota Palangka Raya; 6. Kantor Kesbang adalah Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kota Palangka Raya; 7. Kepala Bidang adalah Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Diklat Litbang Kota Palangka Raya; 8. Peneliti adalah orang Indonesia dan orang asing atau Badan Hukum Indonesia dan Badan Hukum Asing yang melakukan kegiatan pengkajian, penelitian, survey, riset pengambilan foto dan pembuatan film dokumenter atau kegiatan sejenisnya; 9. Penelitian adalah rangkaian kegiatan orang atau Badan Hukum Indonesia dan Badan Hukum Asing yang melakukan kegiatan pengkajian, penelitian, survey, riset pengambilan foto dan pembuatan film dokumenter atau kegiatan sejenisnya; 10.Objek penelitian adalah sasaran yang dijadikan objek penelitian yang meliputi data, informasi, dokumen dan atau yang sejenis baik berupa fisik dan non fisik dari semua bentuk kehidupan yang ada di daerah Kota Palangka Raya. 11.Ijin adalah legalitas kepada orang melakukan penelitian di daerah. BAB II PERIJINAN Pasal 2 Setiap orang atau Badan Hukum yang melakukan penelitian di wilayah hukum Kota Palangka Raya wajib memperoleh ijin dari Walikota Pasal 3 Untuk memperoleh ijin sebagaimana Pasal 2 tersebut di atas orang atau badan hukum mengajukan permohonan kepada Walikota Up. Kepala Badan Diklat dan Litbang Kota Palangka Raya. Pasal 4 atau badan hukum untuk

Permohonan ijin sebagaimana maksud pasal 3 harus melampirkan dokumen antara lain: a. Proposal kegiatan yang berisi maksud dan tujuan penelitian, objek dan subjek penelitian serta manfaat penelitian. b. Surat Keterangan atau Rekomendasi dari badan yang menugaskan melakukan penelitian. c. Biodata peneliti. d. Jadwal lokasi penelitian. Pasal 5 Walikota berhak menolak memberi ijin penelitian sepanjang peneliti tidak melengkapi dokumen sebagaimana maksud pasal 4 BAB III RUANG LINGKUP TUGAS Pasal 6 Semua bentuk kegiatan penelitian seluruhnya yang menyangkut prosedur pemberian ijin penelitian dilaksanakan oleh Badan Diklet Litbang kecuali penelitian yang dilakukan oleh orang asing dan atau didampingi oleh orang asing, ijin penelitian dikeluarkan oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kota Palangka Raya. Pasal 7 Peneliti dalam pelaksanaan penelitian dapat didampingi oleh staf bidang penelitian dan atau instansi terkait. Khususnya penelitian yang menyangkut Pendapatan Asli Daerah, peneliti wajib didampingi oleh staf bidang Penelitian dan Pengembangan atas ijin Kepala Badan Diklat Litbang Kota Palangka Raya. Semua biaya yang menyangkut kegiatan penelitian tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab peneliti pendamping sebagaimana dimaksud pasal 7 dapat atas permintaan peneliti dan atau tugas Walikota. Pasal 8 Pendamping sebagaimana pasal 7 dapat atas permintaan peneliti dan atau tugas Walikota. BAB IV KETENTUAN PENUTUP Pasal 9 Dinas, Instansi, Lembaga yang belum ditetapkannya Keputusan ini mengolah dan atau menangani pemberian ijin penelitian agar menyerahkan pengelolaannya kepada Badan Diklat Litbang Kota Palangka Raya. Pasal 10 Selambatnya 1 (satu) bulan setelah tanggal Keputusan ini penyerahan pengelolaan sebagaimana maksud pasal 14 sudah dilaksanakan. Pasal 11 Hal yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur lebih lanjut oleh Walikota dan atau Kepala Badan Diklat dan Litbang Kota Palangka Raya.

Pasal 12 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Keputusan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 10 Juli 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 10 Juli 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 06

WALIKOTA PALANGKA RAYA KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 132 TAHUN 2002 TENTANG RETRIBUSI IJIN PENGUSAHAAN MINYAK DAN GAS BUMI WALIKOTA PALANGKA RAYA, Menimbang a. Bahwa Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 1454.K/30/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Tugas Pemerintahan di Bidang Minyak dan Gas Bumi, perlu tindak lanjut pengaturan Tata Perijinan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi. b. Bahwa untuk melaksanakan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara RI nomor 2070); 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kota Praja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2753); 3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1971 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2971); 4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara nomor 3839); 5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1974 tentang Pengawasan Pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi di Daerah Lepas Pantai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3031); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negaran RI Nomor 3952); 9. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 1454.K/30/MEM/2000 tentang Pedoman Teknis

Penyelenggaraan Tugas Pemerintah di bidang Minyak dan Gas Bumi MEMUTUSKAN: Menetapkan: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG RETRIBUSI IJIN PENGUSAHAAN MINYAK DAN GAS BUMI BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah Otonom selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat dalam Ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom lain sebagai Badan Eksekutif Daerah. 3. Walikota adalah Walikota Palangka Raya. 4. Dinas Pertambangan dan Energi adalah Dinas dan Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya. 5. Penyelenggaraan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi adalah kewenangan untuk melaksanakan kegiatan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi yang dilaksanakan oleh Perorangan atau Badan Usaha. 6. Ijin adalah kewenangan yang diberikan kepada Perorangan atau Badan Usaha untuk melaksanakan kegiatan tertentu di bidang Pengusaha Minyak dan Gas Bumi. 7. Persetujuan adalah pernyataan setuju yang diberikan secara tertulis kepada Perorangan atau Badan Usaha untuk melaksanakan kegiatan tertentu di bidang Pengusaha Minyak dan Gas Bumi. 8. Rekomendasi adalah keterangan yang diberikan kepada Perorangan atau Badan usaha sebagai syarat mendapatkan ijin. 9. Badan Usaha adalah setiap Badan Hukum yang menjalankan jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan didirikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bekerja, berkedudukan dalam wilayah Kota Palangka Raya. 10.Bentuk Usaha Tetap adalah usaha yang didirikan dan berbadan hokum dan melakukan kegiatan di Wilayah Kota Palangka Raya. 11.Perusahaan Jasa Penunjang adalah Perorangan atau badan usaha yang melakukan kegiatan usaha penunjang dibidang Minyak dan Gas Bumi. Ijin pembukuan Kantor Perwakilan Perusahaan di Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi.

12.Agen adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak dan atau Penyalur LPG (Liquid Petroleum Gas) yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah bersama Pertamina untuk menyalurkan Bahan Bakar minyak dan LPG dalam kapasitas tertentu kepada konsumen atau rumah atau usaha kecil melalui pangkalan. 13.Pangkalan adalah tempat atau lokasi yang telah ditentukan secara resmi oleh Pemerintah Daerah sebagai penumpukan dan penjualan Bahan Bakar minyak dan LPG dalam kapasitas tertentu kepada konsumen dan rumah tangga atau usaha kecil. BAB II PENATAAN PENYELENGGARAAN PENGUSAHAAN MINYAK DAN GAS BUMI YANG DAPAT DILAKUKAN OLEH PEMERINTAH DAERAH Pasal 2 1. Persetujuan Penggunaan Wilayah Kuasa Pertambangan dan Wilayah Kerja Kontraktor untuk kegiatan lain dalam kegiatan minyak dan gas bumi. 2. Rekomendasi prosedur penggunaan kawasan kepentingan kegiatan minyak dan gas bumi. hutan untuk

3. Ijin pendirian dan penggunaan gudang bahan peledak di derah operasi daratan dan di daerah operasi 12 (dua belas) laut. 4. Ijin pembukuan Kantor Perwakilan Perusahaan di Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi. 5. Rekomendasi lokasi pendirian kilang. 6. Ijin pendirian depot lokal. 7. Ijin pendirian Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU). 8. Ijin pemasaran jenis-jenis Bahan Bakar Khusus (BBK) untuk mesin 2 (dua) langkah. 9. Ijin pengumpulan dan penyaluran pelumas bekas. 10.Persetujuan Surat Keterangan Terdaftar Perusahaan Jasa Penunjang kecuali yang bergerak di bidang fabrikasi, konstruksi, manufaktur, konsultan dan teknologi tinggi. 11.Ijin pendirian agen. 12.Ijin pendirian pangkalan. BAB III TATA CARA PENGAJUAN PERMOHONAN PADA KEGIATAN HULU Pasal 3 Pemberian persetujuan penggunaan Wilayah Kuasa Pertambangan atau Wilayah Kerja Kontraktor untuk kegiatan lain sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Badan Usaha mengajukan permohonan penggunaan lahan kepada Walikota dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Minyak dan Gas

Bumi dan Gubernur Kalimanta Tengah dengan melampirkan sekurangkurangnya: a. Biodata perusahaan. b. Peta lokasi. c. Ijin lokasi. d. Data mengenai pemanfaatan lokasi e. Jaminan menaati ketentuan teknis. 2. Apabila diperlukan, Badan Usaha wajib melaksanakan presentase teknis. 3. Walikota memberikan persetujuan penggunaan Wilayah Kuasa Pertambangan atau Wilayah Kerja Kontraktor setelah mendapat rekomendasi Gubernur Kalimantan Tengah dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 4. Terhadap Badan Usaha yang telah mendapatkan persetujuan, wajib mengadakan perjanjian pemanfaatan lahan dengan pemegang Wilayah Kuasa Pertambangan atau Wilayah Kerja Kontraktor. 5. Badan Usaha wajib mentaati ketentuan mengenai keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, evaluasi dan pelaporan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 4 Pemberian rekomendasi penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan kegiatan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (2) dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Badan Usaha atau bentuk usaha tetap mengajukan permohonan kepada Walikota dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dan Gubernur Kalimantan Tengah dengan melampirkan sekurang-kurangnya: a. Biodata perusahaan b. Data mengenai titik koordinat daerah yang akan digunakan c. Data mengenai jenis kegiatan yang akan dilaksanakan d. Peta Wilayah Kuasa Pertambangan atau Wilayah Kerja Kontraktor 2. Atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Walikota melakukan penelitian administratif dan evaluasi. 3. Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi, Walikota memberikan rekomendasi kepada Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap untuk selanjutnya disampaikan kepada instansi berwenang guna mendapatkan ijin penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan kegiatan minyak dan gas bumi. Pasal 5 Pemberian ijin mendirikan dan menggunakan gudang atau kontainer tempat penyimpanan bahan peledak di daerah operasi daratan dan di daerah operasi 12 (dua belas) mil laut sebagaimana dimaksud dalam pasl 2 ayat (3), dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Badan Usaha atau Bentuk Tetap mengajukan permohonan ijin mendirikan dan menggunakan gudang atau kontainer tempat penyimpanan bahan peledak kepada Walikota dilengkapi sekurangkurangnya:

a. Gambar konstruksi gudang atau kontainer penyimpanan bahan peledak. b. Gambar tata letak gudang/kontainer penyimpanan bahan peledak. c. Peta situasi wilayah kerja. d. Jenis, berat serta ukran peti/box bahan peledak yang akan disimpan. e. Rekomendasi Gubernur Kalimantan Tengah. f. Rekomendasi Surat Pernyataan Tidak Kebertan dari Kapolda Kalimantan Tengah. 2. Atas permohonan dimaksud, administratif dan evaluasi. Walikota melakukan penelitian

3. Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi, Walikota memberikan ijin mendirikan dan menggunakan gudang atau kontainer penyimpanan bahan peledak di daerah operasional daratan dan di aderah operasi 12 (dua belas) mil laut. 4. Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap wajib mentaati ketentuan mengenai keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, standar teknis, evaluasi dan pelaporan sesuai perundang-undangan yang berlaku. Pasal 6 Pemberian ijin pembukaan Kantor Perwakilan Perusahaan Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (4) dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap mengajukan permohonan ijin pembukaan Kantor Perwakilan kepada Walikota disertai alasannya dengan melampirkan sekuarang-kurangnya: a. Surat Keterangan Terdaftar (Business Registration Certificate atau sejenis dari negara asal). b. Rekomendasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di negara asal yang berisi Nama dan Alamat Perusahaan, Nama Pemilik dan Dewan Direksi dan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. c. Surat Kuasa untuk Kepala Kantor Perwakilan dari Pimpinan Perusahaan Kantor Pusat d. Bagan Organisasi Kantor Pusat dan Kantor Perwakilan di Indonesia. e. Rencana kegiatan Kantor Perwakilan/Realisasi kegiatan di Indonesia (untuk perpanjangan) f. Rekomendasi dari Gubernur Kalimantan Tengah dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi. 2. Atas permohonan dimaksud, Walikota melakukan penelitian dan evaluasi. 3. Berdasarkan penelitian dan evaluasi, Walikota mengeluarkan ijin pembukaan Kantor Perwakilan. BAB IV TATA CARA PENGAJUAN PERMOHONAN PADA KEGIATAN HILIR Pasal 7 Pemberian Rekomendasi Lokasi Pendirian Kilang sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (5) dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Badan Usaha mengajukan permohonan Rekomendasi Lokasi Pendirian Kilang kepada Walikota dengan melampirkan sekurang-kurangnya: a. Biodata Perusahaan b. Peta lokasi c. Kapasitas produksi d. Penggunaan peralatan dan jumlah tenaga kerja 2. Atas permohonan dimaksud, Walikota melakukan penelitian dan evaluasi. 3. Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi, Walikota mengeluarkan Rekomendasi Lokasi Pendirian Kilang. 4. Badan Usaha wajib mentaati ketentuan keselamatan kerja, lindungan lingkungan, standar teknis evaluasi dan pelaporan sesuai peraturan/perudang-undangan yang berlaku. Pasal 8 Pemberian ijin mendirikan Depot Lokal sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (6) dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Badan Usaha mengajukan permohonan kepada Walikota dengan tembusan Gubernur Kalimantan Tengah dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dan melampirkan sekuarng-kurangnya: a. Biodata perusahaan b. Peta lokasi c. Data mengenai kapasitas penyimpanan. d. Data perkiraan penyaluran. e. Inventarisasi peralatan dan fasilitas yang digunakan. f. Rekomendasi dari Pertamina. 2. Atas permohonan dimaksud, administratif dan evaluasi. Walikota melakukan penelitian

3. Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi, Walikota mengeluarkan ijin mendirikan Depot Lokal. 4. Badan Usaha wajib mentaati ketentuan kesaelamatan kerja, perlindungan lingkungan, standar teknis, evaluasi dan pelaporan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 9 Pemberian ijin mendirikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (7) dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Badan Usaha mengajukan permohonan kepada Walikota dengan tembusan Gubernur Kalimantan Tengah dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dan melampirkan sekurang-kurangnya: a. Biodata perusahaan. b. Peta lokasi. c. Data mengenai kapasitas penyimpanan. d. Data perkiraan penyaluran. e. Inventarisasi peralatan dan fasilitas yang digunakan. f. Rekomendasi dari Pertamina.

2. Atas permohonan dimaksud, administratif dan evaluasi.

Walikota

melakukan

penelitian

3. Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi, Walikota mengeluarkan ijin mendirikan SPBU. 4. Badan Usaha wajib mentaati ketentuan mengenai keselamatan kerja, lindungan lingkungan, standar teknis, evaluasi dan pelopran sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 10 Pemberian ijin pemasaran Bahan Bakar Khusus yang merupakan bahan bakar untuk mesin 2 (dua) langkah sebgaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (8) dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Badan Usaha mengajukan permohonan ijin kepada Walikota dengan tembusan Gubernur Kalimantan Tengah dan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dan melampirkan sekurang-kurangnya: a. Biodata perusahaan. b. Peta lokasi. c. Surat Keterangan Domisili. d. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Surat Ijin Tempat Usaha (SITU). e. Surat Keterangan Wajib Daftar Perusahaan. 2. Apabila diperlukan, Badan Usaha wajib melakukan presentase teknis. 3. Atas permohonan dimaksud, administratif dan evaluasi. Walikota melakukan penelitian

4. Badan Usaha wajib mentaati ketentuan keselamatan kerja, lingkungan, standar teknis evaluasi dan pelaporan sesuai peraturan/perundang-undangan kesehatan kerja, keselamatan dan keamanan lingkungan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB V BIAYA ADMINISTRASI PERIJINAN Pasal 15 Pungutan Biaya Administrasi Perijinan dan biaya lain-lain yang sah terhadap perijinan sebagaimana pasal 3 sampai dengan pasal 14 keputusan ini meliputi biaya penelitian, perencanaan, pencetakan blanko, bimbingan dan pembinaan, pengolahan data, pengawasan dan pelaporan serta biaya dokumentasi. Pasal 16 Tarif biaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 sebagai berikut: a. Pemberian persetujuan penggunaan Wilayah kuasa Pertambangan atau Wilayah Kerja Kontraktor Rp. 250.000,b. Pemberian rekomendasi penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan kegiatan Minyak dan Gas Bumi Rp. 250.000,-

c. Pemberian ijin mendirikan dan menggunakan gudang atau kontainer penyimpanan bahan peledak Rp. 250.000,d. Pemberian ijin pembukaan Kantor Perwakilan Perusahaan-Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Rp. 350.000,e. Pemberian Rekomendasi Lokasi Pendirian Kilang Rp. 250.000,f. Pemberian ijin pendirian Depot Lokal Rp. 300.000,g. Pemberian ijin mendirikan SPBU dengan kapasitas penyimpanan sebagai berikut: - Di bawah 500 kilo liter Rp. 300.000,- Di atas 500 kilo liter Rp. 400.000,- Di atas 1000 kilo liter Rp. 500.000,h. Pemberian ijin pemasaran Bahan Bakar Khusus Rp. 150.000,i. Pemberian ijin pengumpulan dan penyaluran pelumas bekas Rp. 150.000,j. Pemberian Persetujuan Surat Keterangan Terdaftar Perusahaan Jasa Penunjang Rp. 100.000,k. Pemberian ijin mendirikan agen dengan kapasitas penyimpanan sebagai berikut: - Sampai dengan 500 kilo liter/bulan Rp. 200.000,- Di atas 500 kilo liter/bulan Rp. 350.000,- Di atas 1000 kilo liter/bulan Rp. 550.000,- Khusus gas LPJ di atas 1500 kg dalam tabungan LPJ Rp. 350.000,l. Pemberian ijin mendirikan pangkalan dengan kapasitas penyimpanan sebagai berikut: - Sampai dengan 15 kilo liter/bulan Rp. 50.000,- Di atas 15 kilo liter s.d 30 kilo liter/bulan Rp. 100.000,- Di atas 30 kilo liter/bulan Rp. 250.000,- Khusus gas LPJ s.d 1500 kg dalam tabungan LPJ Rp. 250.000,Pasal 17 (1)Penerimaan biaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 seluruhnya disetor ke Kas Daerah melalui bendaharawan penerima dalam waktu 1 x 24 jam. (2)Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini digunakan oleh Dinas yang bersangkutan untuk biaya operasional dalam rangka peningkatan sebesar 20% (dua puluh persen). BAB VI TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 18

(1) Pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 keputusan ini harus dilakukan sekaligus untuk 1 (satu) kali perijinan. (2) Pembayaran biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun dan berlaku untuk setiap perpanjangan ijin dalam tahun berikut. (3) Formulir/blanko perijinan dan formulir/blanko guna bahan penagihan biaya secara resmi dan sah sebagaiman dimaksud pada pasal 16, 17, dan 18 keputusan ini merupakan lampiran tak terpisahkan dari keputusan ini. BAB VII SANKSI ADMINISTRASI Pasal 19 Bagi Pengusaha yang tidak mengindahkan ketentuan dalam Keputusan Walikota ini dan ketentuan Harga Eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan akan dikenakan sanksi administrasi dengan membayar 5 % dari tariff yang telah ditentukan dan atau Pencabutan Ijin. BAB VIII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 20 (1) Pembinaan, pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi atau Pengusaha Elpiji di Wilayah Kota Palangka Raya dilaksanakan oleh Walikota Palangka Raya, Cq. Dinas Pertambangan dan Energi bersama-sama Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi. (2) Badan Usaha yang mendapat ijin, rekomendasi dan persetujuan berdasarkan Keputusan Walikota ini, wajib menyampaikan laporan secara berkala kepada Walikota Cq. Dinas Pertambangan dan Energi. BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 21 (1) Hal-hal teknis yang belum diatur dalam Keputusan ini akan diatur lebih lanjut oleh Walikota. (2) Terhadap perijinan atau rekomendasi atau persetujuan yang telah dikeluarkan sebelum ditetapkannya Keputusan Walikota ini dinyatakan tetap berlaku sampai dengan berakhirnya perijinan atau rekomendasi atau persetujuan tersebut dan pelaksanaannya sesuai dengan keputusan ini. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 22 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan keputusan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Palangka Raya.

Disahkan di palangka Raya Pada tanggal 24 September 2002 WALIKOTA PALANGKA RAYA Diundangkan di Palangka Raya Pada tanggal 30 September 2002 SEKRETARIS DAERAH KOTA PALANGKA RAYA,

SALUNDIK GOHONG

MARTOYO LEMBARAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2002 NOMOR : 16 Lampiran 2: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 132 TAHUN 2002 TANGGAL 24 SEPTEMBER 2002 Contoh: Permohonan Ijin Pendirian pangkalan BBM Nomor : Lampiran Palangka Raya Perihal : Permohonan Ijin Mendirikan Pangkalan Bahan Bakar Minyak (BBM) Dengan hormat, Yang bertanda tangan di bawah ini : - Nama : - Tempat/Tanggal Lahir (umur) - Pekerjaan : - Alamat Tempat Tinggal - Alamat Pangkalan : Palangka Raya, Kepada : Yth. Bapak di Palangka Raya

Walikota

: :

Dengan ini mengajukan permohonan untuk mendapatkan ijin mendirikan Pangkalan Penjualan Bahan Bakar Minyak (*Minyak tanah, Premium, Solar, Minyak pelumas) di wilayah Kota Palangka Raya. Adapun sebagai bahan pertimbangan Bapak, maka bersama ini kami sampaikan (dalam rangkap 2) sebagai berikut: 1. Biodata Pemohon + fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP). 2. Peta lokasi tempat pendirian Pangkalan yang disetujui oleh pihak bersangkutan, diketahui oleh RT/RW, Lurah dan Camat setempat. 3. Fotocopy Ijin Tempat Usaha (SITU). 4. Fotocopy Ijin Gangguan Usaha (HO). 5. Fotocopy Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). 6. Fotocopy Sertifikat/Surat Keterangan Tanah dilegalisir oleh yang berwenang. 7. Data kapasitas penyimpanan BBM dalam ukuran kilo liter (KL). 8. Daftar peralatan penunjang Pangkalan yang digunakan.

9. Rekomendasi Kelurahan setempat. 10.Rekomendasi Camat. 11.Surat Keterangan Identitas Pangkalan. 12.Fotocopy Ijin Domisili Badan Usaha, dilegalisir yang berwenang (bagi penguasa berbadan hukum) Demikian permohonan ini kami sampaikan, persetujuannya diucapkan terima kasih. atas perhatian serta

Hormat kami yang bermohon , Materai Rp.6.000,*)= Coret yang tidak perlu. Lampiran 3: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 132 TAHUN 2002 TANGGAL 24 SEPTEMBER 2002 Contoh: Surat Ijin Mendirikan Pangkalan BBM KOP WALIKOTA SURAT IJIN MENDIRIKAN PANGKALAN BAHAN BAKAR MINYAK NOMOR Berdasarkan Keputusan Walikota Palangka Raya Nomor: tentang Retribusi Ijin Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi. Kepada yang namanya tersebut di bawah ini : Nama : Pekerjaan : Nama Usaha/Perusahaan : Jenis Usaha : Alamat Usaha/Perusahaan : Tahun 2002

I. I. Dengan telah terpenuhinya persyaratan dari ketentuan yang berlaku, diberikan Ijin Mendirikan Pangkalan Bahan Bakar Minyak. II. Jenis Bahan Bakar Minyak yang dijual/disalurkan pada Pangkalan tersebut di atas adalah *) Minyak tanah, Premium, Solar, Minyak pelumas. III. Ketentuan-ketentuan yang harus ditaati pemegang ijin sebagai berikut: 1. Surat Ijin ini berlaku sejak tanggalsampai dengan tanggal dan dapat diperpanjang dengan permohonan baru apabila pendirian Pangkalan masih dilanjutkan dalam tahun berikutnya. 2. Pemegang Surat Ijin ini diwajibkan membayar Retribusi Ijin Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi sebelum Surat Ijin ini dikeluarkan dan bersedia mentaati ketentuan peraturan yang berlaku. 3. Pemegang Surat Ijin ini diwjibkan menjaga keselamatan lingkungan dari bahaya kebakaran dan lain-lain, keselamatan dan kesehatan kerja. 4. Pemegang Surat Ijin dilarang menjual BBM palsu atau memalsukan, dengan mencampur BBM dengan bahan lain yang mengurangi kadar keaslian BBM. 5. Ijin sewaktu-waktu dapat dicabut/dibatalkan apabila ternyata Pemegang Surat Ijin ini melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku. 6. Permohonan ijin dapat ditolak apabila:

a. Permohonan tidak dapat memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. b. Terhadap gugatan/keberatan dari pihak lain dengan alasanalasan yang sah. c. Tidak memenuhi ketentuan asas keadilan dan pemerataan. 7. Untuk memperpanjang berlakunya Surat Ijin ini, Pemegang Ijin diharuskan membuat permohonan baru kepada Walikota Palangka Raya selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sebelum berakhir masa berlakunya Surat Ijin ini. IV. Jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam pemberian Ijin Mendirikan Pangkalan Bahan Bakar Minyak (BBM) ini, maka akan dirubah dan diperbaiki sebagaimana mestinya. Dikeluarkan di Palangka Raya Pada tanggal WALIKOTA PALANGKA RAYA

WALIKOTA PALANGKA RAYA KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA NOMOR 171 TAHUN 2002 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 07 TAHUN 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG RETRIBUSI IJIN PENGUMPULAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU DAN HASIL PERKEBUNAN WALIKOTA PALANGKA RAYA, Menimbang a. Bahwa dalam rangka pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 07 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Palangka Raya Nomor 04 Tahun 2000 tentang Retribusi Ijin Pengumpulan Hasil Hutan Bukan Kayu dan Hasil Perkebunan. b. Bahwa untuk melaksanakan sebagaimana dimaksud huruf a, perlu ditetapkan dengan Keputusan Walikota Palangka Raya. :

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1965 tentang Pembentukan Kotapraja Palangka Raya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2753); 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419); 3. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685); 4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 3848); 6. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia pTahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4048);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Propinsi sebagai Daerah Otonomi; 8. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2000 tentang Retribusi Daerah; 9. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202); 10.Peraturan Daerah Nomor 04 Tahun 2000 tentang Retribusi Ijin Pengumpulan Hasil Hutan Bukan Kayu dan Hasil Perkebunan (Lembaran Daerah Kota Palngka Raya Tahun 2000 Nomor 04); sebagaimana diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 07 Tahun 2002 (Lembaran Daerah Kota Palangka Raya Tahun 2002 Nomor 07). MEMUTUSKAN Menetapkan: KEPUTUSAN WALIKOTA PALANGKA RAYA TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 07 TAHUN 2002 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG RETRIBUSI IJIN PENGUMPULAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU DAN HASIL PERKEBUNAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan ini dimaksud dengan: 1. Daerah Otonom selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam Ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 2. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah; 3. Walikota adalah Walikota Palangka Raya; 4. Pejabat adalah pegawai yang diberikan tugas tertentu di bidang retribusi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 5. Kas adalah Kas Daerah Pemerintah Kota Palangka Raya; 6. Badan adalah bentuk usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan anam dan bentuk apapun, Persekutuan, Perkumpulan, Firma, Kongsi, Koperasi, Yayasan atau bentuk usaha tetap serta badan usaha lainnya; 7. Retribusi Ijin Pengumpulan Hasil Hutan Bukan Kayu dan Hasil Perkebunan yang selanjutnya dapat disebut Retribusi adalah pembayaran kepada Pemerintah Daerah oleh orang pribadi atau badan umtuk mengumpulkan atau memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu dan Hasil Perkebunan;

8. Wajib Retribusi adalah badan yang menurut Peraturan Perundangundangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi; 9. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu tertentu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan ijin pengumpulan Hasil Hutan Bukan Kayu dan Perkebunan; 10.Surat Pendaftaran Objek Retribusi Daerah yang selanjutnya disngkat SPDORD adalah surat yang dipergunakan oleh wajib retribusi untuk melaporkan data objek retribusi dan wajib retribusi untuk melaporkan dasar perhitungan dan pembayaran retribusi yang terhutang menurut Peraturan Perundang-undangan Retribusi Daerah; 11.Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan retribusi yang terutang; 12.Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi lebih besar daripad retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang; 13.Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga atau denda; 14.Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan terhadap SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDLB yang dilanjutkan oleh wajib retribusi; 15.Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan keputusan pemenuhan kewajiban retribusi daerah berdasarkan Peraturan Perundang-